Minggu, 25 Agustus 2019

Dari Gerbang Sumatera menuju Titik Nol Kilometer Sumatera : Setengah Hari di Kota Padang Bisa Kemana dan Ngapain Aja?


Sebagai orang Jawa yang lahir di Sumatera, lidah saya sudah sangat terbiasa dengan masakan pedas nan kaya rempah. Favorit saya sejak dulu adalah Masakan Padang. Sampai sempat berseloroh, "nanti cari suami orang Padang lah, biar dimasakin enak teroos tiap hari". Loh. Ada ikatan magis dengan provinsi ini. Jam Gadang, Danau Maninjau, Danau Singkarak, Kota Padang Panjang, surau, rasa-rasanya sudah sangat familiar saya kenal lewat buku-buku cerita yang saya baca semenjak dari sekolah dulu. Tidak salah kalau saya bilang, saya jatuh cinta dengan provinsi ini bahkan sebelum mendatanginya. Maka sangatlah tepat, di salah satu rencana perjalanan Sumatera di awal Syawal 1440 kemarin, saya masukkan pula Kota Padang sebagai tempat transit. Yah gapapa deh walau hanya sebentar, yang penting udah ngerasain Randang sama Sate Padang langsung dari tempat asalnya, uhuy. Alhamdulillah.

Jumat (7/06/2019), pesawat kecil berjenis ATR yang membawa saya dan Tika dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin Palembang menuju Bandara Internasional Minangkabau mendarat dengan mulus sesuai jadwal. Alhamdulillah. Belum ada jam 9 pagi kami sudah berada di bawah langit Sumatera Barat. So excited! Nike, seorang teman baik yang tinggal di Padang (dan akan kami datangi) menyarankan untuk naik kereta menuju kota. Murah. Harga tiket per orang cuma 10K dengan jarak perjalanan tidak sampai 1 jam. Kalau naik transportasi onlen ongkosnya bisa berkali lipat.

Dari tempat pengambilan bagasi kami langsung menuju pintu keluar. Sebelumnya, tanya dulu sama mbak yang jaga stand tourism information yang ada di dalam bandara, dimana bisa naik kereta ke arah Kota Padang. Masih ada waktu sekitar 45 menit sebelum shuttle bus datang dan membawa ke stasiun bandara. Kami duduk santai sambil ngemil, update status dan ga ngapa-ngapain. Shuttle bus datang dan kami langsung naik. Lah! Ternyata stasiunnya ga jauh bro. Jalan kaki 15-20 menit aja nyampe. Lumayan tuh buat bakar lemak. Tapi kalo bawaan kamu banyak dan ribet, ya gapapa sih naik shuttle bus aja. Sedikit berlari, kami menuju loket tiket. Ga sampai 10 menit lagi kereta udah mau berangkat. Fiuuh, Alhamdulillah masih rizqi naik kereta. Kalo ga, mungkin kami harus nyewa taksi atau Gocar, atau nunggu keberangkatan kereta selanjutnya.


Masih ngos-ngosan, kami langsung pilih kursi yang paling pojok, biar bisa ngawasin dan enak naruh koper dan bawaan. Di tiket yang kita dapat tidak tertera nomor kursi jadi bebas aja mau duduk di mana. Kereta Api Minangkabau Ekspress yang baru beroperasi Mei 2018 ini melayani keberangkatan dari dan ke Stasiun BIM 5 kali dalam sehari. Interior dalam keretanya masih bagus, bersih, menawan dan mewah. Yaiyalah baru setahun. Keberangkatan pertama dari BIM pukul 7.40 WIB dan terakhir pukul 17.55 WIB.

Maaf ditutupin (wajah lagi menahan sesuatu)
Tempat yang kami tuju adalah rumah Nike di daerah Kuranji, Kota Padang. Nike sekeluarga masih berlebaran di Payakumbuh dan baru pulang hari itu. Walhasil doi mengutus adiknya, Tia, untuk menyambut kami. MasyaAllah. Best laah. Sampai di rumah Nike saya langsung mandi (karena pas subuh di Palembang tadi terlalu malas, sodara-sodara). Sekitar jam setengah 1 siang kami keluar menuju kota dengan motor yang dipinjamkan oleh Tia. Belum juga setengah jalan, saya teringat kalo tidak bawa kamera. Terlalu bersemangat. Akhirnya balik lagi! Apalah arti perjalanan kami tanpa kamera. Tujuan pertama adalah Masjid Raya Sumatera Barat woohoo. Deket dari rumah Nike, sekitar setengah jam deh. Ga lama kami sampai di depannya. Wah, macet. Kendaraan padat merayap; Ada yang mau keluar abis Jumatan, ada yang mau masuk. Kami nyempil diantaranya cari celah. Setelah itu langsung memarkirkan motor.

Pertama liat Masjid Raya Sumatera Barat di media sosial, saya langsung doa sama Allah, "Ya Allah semoga bisa kesini". Mewah banget ga sih. Kemewahan yang dibalut dengan kemegahan adat budaya. Ah entahlah, kata-kata saya rasanya ga cukup menggambarkan kekaguman sama rumah Allah yang satu ini.Masjid ini adalah perwujudan yang pas banget untuk falsafah hidup orang Minang, "adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah".


Lihat menaranya? Jadi, masyarakat di Kota Padang dilarang untuk membuat gedung atau bangunan yang melebihi tinggi menara tersebut. Apa sebabnya? Karena sebagai daerah pesisir yang rawan gempa juga tsunami, ada aturan tertentu yang harus dipatuhi ketika akan membangun gedung-gedung tinggi. Intinya untuk kemaslahatan bersama sih.


Menurut  informasi yang saya baca, pembangunan masjid ini memakan dana hingga ratusan milyar lho. Maklum saja, bangunan ini memang dirancang sebaik-baiknya (sampe dibikin kontes desain) dan dibuat tahan gempa. Awalnya, Pemerintah Arab Saudi memberikan bantuan dana sebesar 500 Milyar namun saat terjadinya gempa berkekuatan 7,6 SR yang memporakporandakan sebagian besar wilayah Kota Padang tahun 2009 lalu pada akhirnya dana dialihkan untuk rehabilitasi pasca gempa. Peletakkan batu pertama yang menandai dimulainya pembangunan masjid ini dilakukan pada tahun 2007 dan baru pada awal tahun 2019 kemarin akhirnya selesai dan siap dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan ummat.


Kami udah ga sabar untuk masuk ke dalamnya. MasyaAllah. Indah di dalam dan di luar. Cuma bisa ternganga. Kami shalat jamak qashar Zuhur dengan Ashar. Sengaja meniatkan shalat di sini biar datang ga cuma foto-foto doang. Masjid ini ga cuma keren dilihat dari luar, tapi berada di dalamnya pun bikin betah. Yang bikin nambah betah adalah karpet tebal dan empuk yang merupakan bantuan dari pemerintah Turki. Bawaannya pengen tidur ajah.


Sebenarnya masih ingin berlama-lama di masjid ini. Siapa sih yang ga nyaman berada di rumah Allah? Setan kalik. Tapi karena waktu kami terbatas dan masih ada tempat lain yang ingin kami datangi, oke bye. InsyaAllah semoga ada rizqi kesini lagi (atau melangsungkan akad nikah di sini who knows? *aminkan keras-keras). Dari masjid raya kami melanjutkan ke destinasi selanjutnya yaitu Kedai Es Durian Ganti Nan Lamo.

Karena berada di tengah kota, lumayan pusing juga nyari tempatnya. Tika saya minta buka Maps apa, eh nyampenya kemana -_- Akhirnya setel ulang dan Alhamdulillah ternyata tempatnya ga jauh dari situ. Kami parkir motor dan nampak sudah sangat ramai orang yang datang. Akhirnya oleh salah seorang pelayan, kami diajak ke toko satunya. Kurang lebih beberapa ratus meter dari situ. Jalan kaki.


Saya pesan satu porsi es durian. Tika penasaran sama es tebak lalu memesan itu (padahal saya sih yang nyuruh hehe). Dan satu porsi sate Padang untuk menetralkan rasa. Buat saya pecinta duren garis keras yang ga terlalu suka durian diolah, rasanya okelah. Es tebak yang Tika pesan, biasa sih macam es campur yang bisa kita temuin di mana-mana. Untuk tiga pesanan kami tersebut, tidak sampai 100K. Bolehlah nyicipin kalo lagi di Kota Padang, gaes.


Setelah kenyang menyantap kudapan es durian dan sate Padang tadi, kami langsung menuju Pantai Taplau. Tau ga kepanjangan dari Taplau? Yup, Tapi Lauik atau Tepi Laut. Pantai ini lumayan panjang, membentang dari daerah Purus hingga muara Batang Arau (Wikipedia). Kerennya, pada tahun 2015 kawasan pantai ini masuk 10 besar kawasan bebas sampah di Kota Padang. Bersih, rapi. Tersedia trotoar untuk pejalan kaki.


Ya Allah, ramenyalah pantai ini. Bukan pantai 'gue banget' lah pokoknya. Airnya juga ga biru-biru banget, malah agak keruh. Maklumlah namanya juga pantai pinggir kota yang berbatasan langsung dengan samudera. Pantai ini punya sangat banyak alasan untuk dikunjungi banyak orang, salah satu dan salah duanya adalah karena letaknya tidak jauh dari kota dan begitu banyak orang berjualan di sini. Mulai dari gerobak-gerobak dan lapak makanan sampai restoran yang lumayan besar. Bisa dibilang, salah satu tempat terbaik untuk dihabiskan bersama keluarga, di Kota Padang.


Dari awal datang, mata saya sudah berburu jajanan apa saja yang akan saya cicipi. Woohoo! Penjual yang ada sama banyaknya dengan pengunjung yang datang. Dari mulai makanan berat sampe makanan yang paling ringan, semua ada. Mari berburu makanan enak dan saatnya menghambur-hamburkan uang hahaha! *dilirik Tika. Kami mendekat ke salah satu lapak kecil. Duduk di atas kursi plastik menghadap lautan sambil minum es kelapa muda.

Langkitang
Karupuak Mie
Pensi

Beberapa jajanan yang kami cicipi: (1) Langkitang, adalah makanan yang menguji kehebatan kamu dalam menyedot! Wkwkw. Tika abis banyak nih keren. Langkitang adalah jenis molusca (hewan bertubuh lunak) dari kelas Gastropoda (hewan yang menggunakan perut sebagai alat geraknya). Langkitang diolah dengan dengan cara dimasak gulai pedas. Mantap pokonya. Sampai detik menulis ini saya masih keingat rasanya *emotNgiler. Kemudian (2) Pensi, hewan molusca juga tapi dari bangsa kerang-kerangan (pasti familiar). Dagingnya kecil banget! Sejujurnya saya kurang puas makan ini. Kayak ga kerasa gitu soalnya dikit banget. Cara masaknya ditumis biasa, ga pedas. Jadi menurut saya kurang nendang. Baik pensi maupun langkitang, mengandung protein yang cukup banyak lho. Murah meriah saja dijual, 5K per porsi. Yang tidak ketinggalan kami cicipi adalah Kerupuk Mie. Kapan lagi makan kerupuk (kalo saya nyebutnya sih opak) disiram pake mie dan semacam bumbu sate Padang. Aaaah enak semuaaa!

Hari beranjak sore. Cuacanya lumayan cerah. Apa kita sekalian liat sunset ya, pikir saya. Tidak ada tanda-tanda sunset akan menarik (misalnya kayak yang di Crystal Bay Beach Nusa Penida). Yasudahlah, kita tunggu aja. Siapa tahu alam berbaik hati menampakkan dirinya yang cantik sore ini, halah. Benar saja, masya Allah. Ada banyak kejutan yang akan Allah kasih untuk siapapun yang sabar menunggu. Uhuk. Kami yang sabar menunggu matahari tenggelam, Allah berikan momen langit jingga oranye yang keren banget di ufuk barat sana. Kamu yang sabar menunggu apapun itu dari Allah, yakinlah sebaik-baik menunggu adalah menunggu apa yang datang dari Allah, apa yang Allah janjikan. Asique...



Setelah pose foto di atas, Tika basah bajunya sebagian kena ombak wkwkwk! Antara kasihan dan hasrat untuk menertawakan. Mo gimana lagi, no pain no gain. Foto yang bagus kadang butuh perjuangan untuk dapetinnya. Gitu juga hidup; Kehidupan yang 'enak' butuh berdarah-darah dulu perjuangan di awalnya. *curhat colongan. Tika suka banget sunset di sini. Realitanya sungguh melebihi ekspektasi. Alhamdulillah. Masya Allah.

Ada banyak bahagia di sepanjang pesisir pantai ini, sore ini. Alhamdulillah, bahagia kami termasuk salah satunya. Apa yang lebih baik dari menghabiskan waktu bersama keluarga?

Setelah matahari paripurna terbenam di ufuk barat sana, kami siap-siap pulang. Whaaa macettt. Harusnya kami lewat jalan saat berangkat tadi, malah ngikut Maps (yang kalo diliat lebih dekat sih jaraknya sebenarnya). Macetnya parah. Ribuan orang yang tumpah ruah di sepanjang pesisir Pantai Taplau ditambah padatnya kendaraan orang-orang yang mau pulang memadati jalanan. Setengah jam lebih berjibaku dalam kemacetan akhirnya kami berhasil lolos. Sebelum pulang ke rumah Nike, cari-cari Sate Padang lagi dong. Niatnya mau sekalian beli martabak Kubang Hayuda yang terkenal itu, tapi gatau tempatnya dan udah males mau nyari. Yaudah.

Dalam waktu setengah hari di Kota Padang kami berkesempatan mengunjungi ikon Sumatera Barat: Masjid Raya. Mencicipi makanan khas dan legendaris: Es Durian Ganti nan Lamo ditemani seporsi Sate Padang. Kemudian mengakhiri hari: Menyaksikan senja yang sangat indah di tepian Pantai Taplau dan jajan aneka makanan khas seperti Langkitang dan Karupuak Mie. So, saatnya masukkin Kota Padang ke daftar kunjung kamu selanjutnya yak!

Ya Allah, boleh minta kesini lagi khan?

2 komentar:

  1. Done 😁😁😁

    Kapan ke mana?

    BalasHapus
  2. Di sini aku lihat versi ramainya pantai ahahhaha
    Pun pas sore hari aku lewat juga ramai banget :-D

    BalasHapus