Senin, 04 Januari 2021

Cantiknya Pulau Pisang di Pesisir Barat dan Perjuangan Menuju Kesana

 
Apa-apaan ini kok bawa-bawa perjuangan kek zaman penjajahan aja? Iya, untuk rombongan 7 orang cewek semua; yang bisa bawa mobil cuma seorang (dan belio-nya pun ati-ati banget dan khawatiran) butuh perjuangan untuk kami bisa sampai ke Pulau Pisang di Krui yang memakan perjalanan kurang lebih 6-7 jam dari Bandarlampung dengan medan yang gabisa dibilang 'biasa'. Fiuh *tariknapas
 
Wacana pergi ke Krui terlontar kurang lebih beberapa bulan yang lalu pas pergi main ke Pantai Gigi Hiu yang ada di Tanggamus (apa pas ke Pantai Sebalang ya? ๐Ÿ˜ถ). Pengin ngetrip bareng yang rada jauhan dikit dan nginep. Terpilihlah Krui yang ada di Pesisir Barat sana dengan pantai-pantai indahnya. Hari berganti bulan, mulailah merencanakan. Dari yang mulai naik motor kesana lah, naik travel langsung sampe tempat, naik bus dan sewa mobil. Semua opsi tersebut masih sebatas di angan sampai bulan Desember tiba dan saya pulang ke Lampung.
 
 
Perkiraan tanggal pergi udah didapat. Kami berencana pergi pas cuti bersama dan liburan Natal yaitu tanggal 24 - 26 Desember 2020. Sampai seminggu sebelum hari H, masih maju mundur antara jadi atau ga (ini kok adem ayem santuy gajelas kabar ๐Ÿ˜ถ). Macem-macem sebabnya; Nunggu kepastian si Ade jadi silaturrahim ke Lampung atau enggak (mau sekalian ajak Ade ke Krui, biar ngerasain feel the truly Lampung -udah jauh-jauh dari Jakarta soalnya *heleh), personel yang fix ikut berapa orang, dan yang paling penting adalah Mbak Putri yakin bisa bawa mobil ke sana atau ga (karena opsi sewa mobil adalah yang paling mungkin and seems like the best choice).

3 atau 4 hari sebelum tanggal yang ditentuin, saya minta Ulfa untuk bikin grup WA Trip Krui. Mulailah rada jelas dan terang rencana trip kami. Ade juga Alhamdulillah jadi ke Lampung. Yosh! Mobil sewaan sebenarnya Ulfa udah cari jauh-jauh hari; tapi sampe hari H belum juga fix. Akhirnya Kamis pagi dicarikan lagi sama pakde, Alhamdulillah dapat. Harganya sama sih, 350K per hari.

Perjuangan Berangkat dari Rumah ke Sumberjaya Lampung Barat
Kamis tanggal 24 Desember adalah hari yang kami sepakati untuk berangkat. Meeting point di rumah saya di daerah Natar, Lampung Selatan. Personel yang fix ikut 7 orang: Saya, Ulfa (adik), Adzkia (adik sepupu), Ade, 3 orang temannya Ulfa (yang pada akhirnya jadi teman saya juga -karena traveling): Mbak Putri, Siska dan Al (ga pake El dan Dul). Kami berencana berangkat selepas Zuhur biar sampai di Sumberjaya, Lampung Barat (tempat kami akan menginap) tidak kemalaman. Mbak Putri sebagai driver kami baru datang siang itu. Test drive sebentar muter gang karena doi udah lama ga nyetir. Masih agak awkward bawa mobilnya karena ini pertama kalinya bawa mobil 'besar'. Bismillah. Diiringi doa keselamatan dari orang tua kami masing-masing di rumah dan sedikit kecemasan, kami berangkat. Masuk entrance tol paling dekat dari rumah yaitu Gerbang Tol Natar. Pastikan saldo e-toll cukup ya.
 
 
Mobil kami melaju di atas Tol Sumatera yang merupakan jalan tol terpanjang di Indonesia. Jalan bebas hambatan sepanjang 2000-an kilometer (entar kalo udah jadi) ini dikabarkan rampung tahun 2024 di semua ruas (dengan izin Allah). Nantinya akan menghubungkan Lampung yang merupakan gerbang Sumatera dengan Aceh yang merupakan provinsi paling barat di Indonesia. Asiq khan?! Tapi jangan lupa siapin kocek yang dalam juga ya karena masuk tol pastinya ga gratis.

 
Kami keluar di Gerbang Tol Terbanggi Besar, bayar e-toll 35K. Jujur dengan adanya ruas tol Bandarlampung - Terbanggi Besar ini menyingkat perjalanan dari yang normalnya bisa 2-2,5 jam (bisa lebih kalo macet) jadi cuma sejam aja. Ke Palembang pun bisa cuma 3 jam dari Bandarlampung (padahal kalo naik kereta dari jam 9 pagi sampe jam 6 sore). Cepet khan?!

Perjalanan dilanjutkan; Masuk Lampung Tengah kemudian Lampung Utara. Bisa dikatakan siang itu kendaraan tidak terlalu ramai. Hanya sesekali harus menyalip truk besar. Yang agak lucu pas sebelum masuk Lampung Utara, ada pengaspalan jalan. Jalan ditutup satu arah. Tiba-tiba Mbak Putri mengarahkan mobilnya ke jalan yang sedang diaspal itu. LHO LHO! Panik campur ngakaklah kami semobil. Untung aja ga dikejar petugas perbaikan jalan ๐Ÿ˜œ๐Ÿ‘ป

Pas masuk Kotabumi (ibukota Kabupaten Lampung Utara) ada sedikit drama lagi pas di lampu merah. Jadi ketika lampunya udah hijau mobil kami belum (bisa) jalan. Di belakang kami, mobil truk udah membunyikan klakson aja mengisyaratkan kami untuk jalan. PANIC ATTACK! Santai... Santai... Akhirnya bisa jalan normal lagi. Alhamdulillah bapak sopir truknya mengerti kalau kami adalah wanita *karenawanitaingindimengerti
 
Masuk Bukit Kemuning, udara udah mulai dingin. Kemudian melewati jalanan perbukitan yang berkelok hampir masuk Sumberjaya (Lampung Barat). Sekira pukul 17.30 akhirnya sampai juga di rumah mak nenek-nya Adzkia. Total perjalanan kurang lebih 5 jam. Alhamdulillah. Mbak Putri begitu sampe langsung rebahan ngelurusin otot-otot dan pikiran yang tegang. Kami penumpang juga sebenarnya ga kalah tegangnya wkwk. Tapi ada hikmahnya banget pas berangkat tadi Mbak Putri bawa mobilnya masih belum santuy, jadinya kami semua penumpang terjaga dan banyak-banyak doa๐Ÿ˜† Tiap nyalip atau lewat samping jurang dikit udah komat-kamit aja dalam hati wkwk.

 
Malam itu setelah selesai shalat dan bersih-bersih diri, kami bersiap untuk dinner. Menu makan malam kami adalah ramen ala-ala. Cocok banget di udara dinginnya Sumberjaya. Makanan udah terhidang tapi nunggu Adzkia, Mbak Putri sama si Ade yang ke Al**mart ga balik-balik lama bettt (padahal kayaknya deket -plangnya keliatan dari depan rumah, tapi ternyata jauh hampir 1 kilometer wkwkw sabar ya kena prank plang). Merekapun sampai di rumah dengan napas yang terengah-engah karena jalan jauh wkwk. Mari kita makaaan!


Perjuangan Melewati Jalanan Berkelok Lintas Liwa - Krui
Jumat (25/12/2020). Dari sebelum Subuh kami sudah bangun; Shalat, mandi bahkan sarapan (apa sahur ya?). Sengaja mengagendakan berangkat setelah shalat subuh biar di jalan nanti ga terlalu ramai. Udara paginya juga pasti menyegarkan. Bismillah, next destination: Krui, Pesisir Barat. Jaraknya kalo dilihat dari Maps sekira 3 jam perjalanan. Putar dzikir pagi biar berkah dan dilindungi perjalanan kami.
 
Jalan lintas Liwa - Krui 'terkenal' dengan kelok-keloknya. Terakhir saya lewat jalan ini kalo ga salah pas zaman kuliah (10 tahunan yang lalu). Dan bisa ditebak kalo saya mesti mabook๐Ÿ˜ฃ๐Ÿ˜ต๐Ÿ˜ซ. Jadi saya duduk depan di trip kali ini selain diamanahi untuk nemani Mbak Putri, tujuan lainnya adalah biar ga mabok. Selain berkelok-kelok, jalur ini juga indah pemandangan kiri kanannya. Rumah-rumah tradisional berjejer diselingi perkebunan kopi di perbukitan. (Kasian sih sebenernya liat Mbak Putri berjibaku dengan jalanan berkelok, dengan membawa penumpang yang 'sehat-sehat' seperti kami๐Ÿ‘ป, tapi apalah daya yang bisa kami bantu hanya doa).
 

Perjalanan diselingi percakapan yang kadang kebanyakan receh. 
 
Saya: "Ga kebayang gimana maboknya kalo naik travel lewat jalan ini. Bisa-bisa keluar sak usus-ususnya".

Siska: "Sebelum pergi makan usus ayam dulu; Beneran keluar usus-ususnya tu kalo kekgitu"

Al: "Jadi kangen usus bakar"

Kemudian obrolan berlanjut ke bagian jorok-jorok (usus yang kurang bersih sebelum dimasak dll), berujung ke Adzkia yang dengerin di belakang jadi mabok.
 
Namanya juga rombongan emak-emak ya, bawaannya pengen ke kamar mandi aja. Mampirlah kami di salah satu masjid pinggir jalan di daerah Kenali, Lampung Barat. Padahal yang bilang mau ke kamar mandi satu orang; tapi teteup pas brenti, ke kamar mandi semua -_- Sambil nunggu yang berhajat di kamar mandi, kami foto-foto di jalanan sepi dan depan rumah tradisional penduduk. Epic!
 
 
Sedikit info tentang rumah adat Lampung; Namanya Nuwo Sesat (bukan aliran sesat ya). Nuwo artinya 'rumah' dan Sesat artinya 'adat'. Seperti kebanyakan rumah adat di Pulau Sumatera, rumah adat Nuwo Sesat ini berbentuk rumah panggung. Tau khan alasannya kenapa dibuat panggung? Yup, rimbanya Sumatera zaman dahulu kala memungkinkan lalu lalangnya binatang buas macam Harimau dan kawan-kawannya, jadi dibuat panggung deh rumahnya. Biar lebih aman gituuu.
 
 
Lanjooot perjalanan lagi. Ga lama kemudian mobil kami memasuki Kota Liwa, yang merupakan ibukota Kabupaten Lampung Barat. Another kota dingin yang menarik hati. Fell in love with this city๐Ÿ’˜. Dengan iklimnya yang sejuk, kota ini cocok banget jadi tempat tumbuhnya kopi terbaik Lampung. Dengan semua potensi alam dan kearifan lokal adat budaya-nya, kota ini bisa banget dikembangin kayak misal Waerebo di NTT sana, Sembalun di Lombok atau Dieng Plateau di Wonosobo Jateng dan sebagainya.

Ga lama setelah melintasi Kota Liwa, mobil kami mulai masuk jalur di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Dilansir dari tnbbs.org, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan adalah kawasan pelestarian alam dan benteng terakhir hutan hujan tropis di Provinsi Lampung yang memiliki potensi sumber daya alam hayati dan non hayati yang cukup tinggi serta ekosistem lengkap mulai dari ekosistem pantai, hutan hujan dataran rendah sampai hutan hujan pegunungan
 
Pelan-pelan saja melewati jalur TNBBS karena kelokannya juga puluhan dan siapa tahu kami bisa ketemu salah satu satwa liar. Benar saja, 3 ekor monyet ganteng sedang bertengger di atas kabel PLN. Yang di dalam mobil berisik banget kayak ketemu oppa Korea๐Ÿ˜’ TNBBS merupakan habitat bagi beberapa satwa liar kayak Badak Sumatera, Harimau Sumatera, ratusan jenis unggas dan fauna lainnya. Oiya Danau Suoh masuk TNBBS juga. TNBBS ini bagian dari Provinsi Lampung (Lampung Barat, Pesisir Barat dan Tanggamus) dan Bengkulu (Kabupaten Kaur), terbentang luas hampir 350 ribuan hektar. Setelah kurang lebih satu jam melewati jalur berkelok TNBBS akhirnya ketemu gapura selamat datang di Pesisir Barat. Alhamdulillah berakhir sudah kelokan yang bikin mabook ini.


 
Mau ngapain aja di Krui? Sebenarnya malam sebelum berangkat baru nyusun itinerary. Masih ngeraba-raba mau ngapain aja di sana dan kemana. Ada 2 opsi: Main-main santai di pantainya kayak Tanjung Setia atau Labuhan Jukung. Atau kedua, menyeberang ke Pulau Pisang. Sebenarnya udah lama saya mengincar pulau ini gara-gara baca beberapa artikel indahnya Pulau Pisang di blog yang saya ikuti.

Perjuangan Terombang-ambing di Atas Kapal Menyeberang ke Pulau Pisang
Belum ada jam 10 pagi dan kami sudah sampai di Krui. Langsung cusss ke Dermaga Kuala Stabas untuk lihat situasi dan kondisi penyeberangan ke Pulau Pisang (cuaca, ombak dan biaya nyebrang). Kalo misal ga memungkinkan ya gausah ke Pulau Pisang. Baru sampai langsung dihampiri seorang bapak yang menawarkan untuk menyeberang. Kalau untuk menyeberang ke Pulau Pisang saja tarifnya 30K per orang, tapi harus menginap karena penyeberangan ke Kuala Stabasnya baru besok ada lagi. Kalau mau pulang by request berarti kami harus sewa kapal yang biayanya 700K. Galaulah karena kami ga menganggarkan khusus untuk menyeberang. Setelah melalui tawar-menawar yang alot akhirnya kami sepakat di harga 600K.


 
Sebelum berangkat semua barang bawaan kami diminta sama bapak perahunya untuk dibungkus terpal agar tidak basah saat berlayar nanti. Selain kami bertujuh, ada 3 orang penumpang lagi yang menyeberang. Awalnya tadi kami udah hampir gajadi nyebrang; tapi pas udah mau balik diajak ngobrol sama seorang ibu warung yang bilang kalau cuaca hari itu cerah banget (jadinya sayang kalo ga nyebrang). Yawes deh bismillah. Kami naik perahu, siap mengarungi Samudera Hindia untuk mencapai Pulau Pisang.
 
 
Siang itu kami menyeberang dengan bahagia. Langitnya biru cerah tapi panasnya ga terlalu menyengat. Alhamdulillah. Seperti biasa, penyeberangan diisi dengan guyonan-guyonan retjeh ala Siska dkk. Dari mulai berisik sampe pada akhirnya merenung masing-masing (ada yang tidur juga). Lama penyeberangan dari Kuala Stabas kurang lebih 45 menit.
 
 
Oiya selain via Dermaga Kuala Stabas, kita juga bisa menyeberang via dermaga yang ada di Pantai Tembakak. Lama penyeberangannya cuma 15 menit lho (tergantung kondisi cuaca dan ombak). Tapi kalo menurut abang yang saya tanya di IG, agak ngeri kalo nyebrang dari sini. Entahlah. Mungkin lebih kecil kapalnya dan besar ombaknya. Jarak dari kota ke Pantai Tembakak kurang lebih 45 menit.

Saatnya Santai Sejenak Menikmati Indahnya Pulau Pisang
Dari atas perahu yang bergoyang ga santai karena ombak, kami bisa lihat Pulau Pisang semakin mendekat. Wah pasirnya putih. Udah ga sabar jejeburan di pantainya. Kyaaa! Kapal yang membawa kami berlabuh di pinggiran pantai (ga ada dermaganya). Langsung kami lompat dari perahu ke pantai. Udah deh langsung berhamburan masing-masing dengan gadget di tangan.

'WELCOME TO THE SCENIC BANANA ISLAND ๐ŸŒ๐ŸŒ๐ŸŒ'

 
Begitu mendarat langsung pada sibuk sendiri demi konten wkwkw

 
 
Pulau Pisang indahnya natural dan maksimal banget. Masya Allah. Tiap sudutnya punya daya tarik tersendiri untuk diabadikan. Ada dermaga yang udah ga terpakai lagi tapi foto-able; Ada view pantai dilatarbelakangi gunung (apa namanya ya?); Belum lagi jejeran pohon kelapa pinggir pantai berpadu dengan biru tosca-nya lautan. Walau ombaknya lumayan besar, tapi insyaAllah pantainya aman untuk dipakai berenang dan main air (asal jangan ke tengah-tengah).




 
Pulau Pisang merupakan salah satu kecamatan yang ada di Pesisir Barat. Kalau punya waktu lebih lama lagi (menginap), kita bisa puas eksplor Pulau Pisang karena pulau ini ga cuma punya pantai yang cantik tapi juga kaya akan adat budaya. Ada bangunan sekolah lama (kayak punya Laskar Pelangi) peninggalan zaman penjajahan di tengah pulau. Ada juga menara pandang yang bisa kita naiki untuk melihat ke seluruh pulau. Belum lagi menyaksikan langsung kehidupan penduduk lokal yang jumlahnya kurang lebih 5000 jiwa ini. Oia ada banyak rumah penduduk yang disulap menjadi homestay yang bisa kita sewa jika menginap di sini. Kalau mau mengelilingi pulau bisa dilakukan dengan mengendarai motor atau berjalan kaki (sampe gempor).
 

Yang keliatan puas banget main air siang itu adalah 3 musketeers: Siska (kakak pertama), Ade (Kakak kedua) dan si bungsu Adzkia. Ade emang udah ngincer banget pantai yang ga ada karangnya yang pasir langsung (terakhir di Jogja kemarin dapatnya pantai berkarang yang ga muasin buat main air). Saya sama Ulfa juga basah-basahan, tapi masih bisa menahan diri (alias takut, di pinggiran aja). Mbak Putri sama si Al anti basah basah club; Cukup sandal dan bawahnya aja yang kena air.


Perjuangan Pulang dari Krui ke Sumberjaya
Kami sadar diri; Walau Pulau Pisang seindah itu dan kayaknya sayang banget kalo ditinggalin, kami harus segera menyudahi main dan siap-siap balik ke Krui (satu kalimat yang pas siang itu, "ninggalin pas lagi sayang-sayangnya", eaaak). Mbak Putri agak khawatir bawa mobil kalo misal kesorean (apalagi pas ngelewatin jalur TNBBS hiyyy). Jam 12 kami udah mentas. Nunggu bapaknya buat nganter kami balik ke Kuala Stabas. Janjiannya sih jam 1 siang. Alhamdulillah bapaknya tepat waktu; kami langsung naik perahu menuju pulang. Penyeberangan pulang hanya kami saja bertujuh (ditambah bapak perahu dan asistennya dan beberapa ekor ikan tangkapan nelayan). Ombak masih sama kayak pas pergi tadi, tapi panasnya lebih menyengat. Sekira jam 2 siang kami mendarat di dermaga Kuala Stabas.

Sebelum pulang, mampir makan siang menjelang sore dulu di RM Pondok Kuring. Jadi setelah cari informasi di internet, rumah makan ini paling banyak direkomendasiin kalo pas ke Krui. Di saat kami datang lagi ramai tempatnya. Karena kondisi kami yang belum bilas dan ganti baju dari Pulau Pisang tadi, minta izin deh ke toiletnya. Sama pemiliknya malah disuruh pake salah satu kamar penginapan mereka yang ada kamar mandi di dalamnya (uwuw baik banget๐Ÿ˜ญ).

Siang itu kami pesan beberapa menu untuk bertujuh: Sate Iwa Tuhuk atau Blue Marlin yang khas Krui banget, gurita olahan, sup kepala ikan dan batagor ikan. Semuanya masakannya enak! Kuat banget rasa ikannya. Bumbunya pun pas di lidah. Yang kudu banget dicoba adalah Sate Iwa Tuhuknya. Per porsi isi 10 tusuk dihargai 25K. Dagingnya ga kayak daging ikan pada umumnya; Lebih tebal (kayak daging ayam). Bikin kenyang.


 
Setelah kenyang makan dan menjamak shalat Zuhur dan Ashar, kami siap untuk kembali pulang ke Sumberjaya. Bismillah. Agak was-was karena udah hampir sore. Saya bilang ke driver kami, "bismillah. InsyaAllah yang bakal buat kita balik dengan selamat sampe tujuan, itu Allah". Jalur TNBBS kami lewati dengan aman tanpa kendala apapun, begitu pula ketika masuk Kota Liwa dan seterusnya (malah dikasih bonus pelangi double dan sunset indah di jalan). Bahkan masih sempat mampir ke Rest Area Sumberjaya untuk beli minuman panas dan beberapa kudapan. Kurang lebih jam 8 malam sampai di rumah mak nenek. Alhamdulillah tsuma Alhamdulillah. Malam itu semuanya tidur cepat karena kelelahan (dan bahagia, insya Allah).

Perjuangan Kembali Pulang ke Rumah
Pagi ini kami bangun lebih santai. Kalo sesuai rencana sih pengennya liat sunrise berkabut di Rest Area Sumberjaya yang jaraknya cuma beberapa kilometer dari tempat kami menginap. Tapi sopirnya kayaknya kelelahan jadi ga tega aja mau minta kesana. Cek Google Maps wisata terdekat, ada air terjun, ga sampai 10 KM jaraknya, tapi kayaknya akses masuk ke tempatnya ga bagus, yaudah deh. Diem di rumah aja sambil beberes persiapan pulang. Kecuali Ulfa dan Mbak Putri, kami sempat jalan-jalan kecil sekitaran rumah mak nenek (main di bukit belakang dan sungai kecil).
 
Setelah memastikan semua udah siap, kurang lebih jam 10 kami perjalanan pulang. Sopir Medan kami lebih lihai nih pas pulang. Alhamdulillah biidznillah. Udah lebih enak banget bawa mobilnya (atau karena bawaan nyeri makanya buru-buru biar cepet sampe? wkwk). Kami cuma mampir sekali di Islamic Center Kotabumi untuk shalat dan makan siang. (ada yang udah gasabar mau cepet sampe rumah karena kucingnya ngilang๐Ÿ‘ป).
 
Pas pulang saya tanya rombongan, "Lebih bahagia mana? Pas berangkat apa pas pulang?". "Dua-duanya", jawab mereka kompak. Pas pergi bahagia, karena mau refreshing, pergi ke tempat baru. Pas pulang juga bahagia, karena mau ketemu keluarga, bisa rebahan melepas lelah. Sepakat deh.
 

Alhamdulillahiladzi bi ni'matihi tathimushalihaat. Ba'da Ashar mobil kami sudah terparkir di depan rumah. Sungguh hanya karena kebaikan dan pertolongan dari Allah trip ini lancar tanpa kurang suatu apa. Gada mobil yang lecet-lecet, kami pun sehat selamat.

Rincian Pengeluaran
Untuk trip ke Krui Pulau Pisang 3D2N kemarin kami iuran per orang Rp 400.000. Iuran segitu belum termasuk sewa perahu ke Pulau Pisang. Jadinya kami nambah Rp 100.000 lagi udah buat sekalian makan di RM Pondok Kuring di Krui. Biaya penginapan Rp 0 alias gratis karena kami menginap 2 malam di Sumberjaya di rumah keluarga Adzkia.
- Sewa mobil 3 hari (per harinya Rp 350.000) : Rp 1.050.000
- Keluar gerbang tol Terbanggi Besar : Rp 35.000
- Sewa perahu di Dermaga Kuala Stabas : Rp 600.000
- Makan siang di RM Pondok Kuring 7 orang : Rp 240.000
- Isi bensin di Liwa : Rp 200.000
- Istirahat di Rest Area Sumberjaya (ngopi dll 7 orang) : Rp 100.000
- Isi bensin lagi di Kotabumi : Rp 100.000
- Keluar gerbang tol Natar : Rp 35.000

Rabu, 30 September 2020

Seberapa Dalam Kamu Kenal? : Bu'e (Faizah) yang Baik Hati


Judulnya gitu amat? Iya, ga nemu judul lain yang pas selain judul di atas. Sebaik itu memang orangnya, untuk saya. Selasa seminggu lalu, Bue pulang ke Madiun; Pulang yang ga balik lagi; Pulang yang udah bawa semua barang-barangnya dan hanya meninggalkan kenangan untuk kami yang tersisa di Malang. Srooot๐Ÿ˜ท

***
Suatu hari ketika saya lagi menikmati hari-hari pandemi di rumah (Lampung), ada pesan WA masuk. Dari Bue, "Mbaaa. Kurindu Mba Juleee". Kami memang sudah hampir 2 bulanan ndak ketemu. Wkwk.
Saya suka Bue jujur akan perasaannya ke saya. Saya suka siapapun yang jujur akan perasaannya ke saya.
 
***
Awal jumpa dengan Bue... (oke baiklah nama sebenarnya adalah Faizah. Saya lupa kapan tepatnya saya manggil doi dengan sebutan Bue, tapi itu udah lumayan lama sih. Gara-gara ikutan Ade, seingat saya). Awal jumpa dengan Bue ga terlalu jauh beda kayak ketemu Ade, akhir tahun 2013-an. Bue, Ade dkk datang ke Malang jadi mahasiswa baru, saya jadi pegawai baru (di kampus yang sama). Bisa dibilang kedatangan kami ke Malang hampir bersamaan. Ohiya masih tentang Bue dan Ade; Kalo Ade adalah adik kontrakan yang populer versi heboh; Bue ini populer versi kalem. Gitusih menurut saya awal-awal dulu.

Saya agak lupa kapan tepatnya kami mulai berinteraksi; Mungkin karena saya orangnya pemalu๐Ÿ™ˆ dan bukan tipe pemulai pembicaraan, jadi kurang dikenal di kalangan adik-adik kontrakan 2013. Mereka pastinya lebih mengenal Ratih, sahabat saya, mbaknya mereka. Tahun demi tahun dilewati, kami berbeda kontrakan, hingga akhirnya tahun 2017 Bue masuk ke Kontrakan Ar-Rifah. Sebenarnya sebelum satu kontrakan, ada beberapa momen yang kami sempat bertemu sekilas lalu. Kesan awal tentang Bue adalah orangnya 'ibu-able'; kebalikan Ade banget yang 'adik-able'.
 

Bue adalah orang yang selalu bisa diandalkan (biidznillah). Tahun 2018 lalu saat seorang sahabat baik saya pindah dari Malang ke Bandung, Bue yang bisa kami andalkan untuk mengirim barang-barangnya yang masih tertinggal di Malang. Semua dikerjakannya dengan sangat baik, masya Allah. Untuk hal-hal seperti, kirim paket enaknya pake apa dan di mana tempatnya ya? Kalo beli ini di mana ya? Atau pertanyaan-pertanyaan lainnya seputar daily-life maka saya tahu harus bertanya ke siapa haha. Persoalan di kontrakan semacam belum bayar listrik, galon habis, sapu dan alat pel butuh untuk ganti baru, Bue-lah orangnya yang akan melakukannya ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜†

Bue begitu baik pada saya. Ada banyak momen yang tentunya gabisa saya sebutkan satu-satu kebaikan yang udah diberikan ke saya (tapi Allah Maha Tahu dan malaikat-Nya mencatat). Ketika saya pulang lembur, Bue akan dengan baik hati menyisihkan makanan untuk saya. Simple but deep. Saya sangat menghargai sekecil apapun kebaikan yang orang lain lakukan untuk saya, yang Bue lakukan untuk saya. Kadang hati saya bertanya-tanya, mengapa dia begitu baik pada saya? Apakah akan seperti itu juga perlakuannya jika bukan saya? Entah ya, hanya Allah dan Bue yang tahu.
 
 
Bue itu kebalikan saya banget; Kalo saya gapernah terlalu memperhatikan hal-hal kecil dan detail, Bue do that. Bue akan menghidupkan lampu di atas kompor ketika saya masak (dan mesti lupa untuk nyalainnya); Bue yang akan selalu memastikan bak kamar mandi terisi air. Bue yang seringnya membenahi banyak hal di kontrakan; memastikan pintu depan dikunci ketika malam menjelang tidur, membeli saringan air harga 3K di Sardo agar air untuk mandi kami tidak kotor, membeli barang ini itu yang "memudahkan" dan "terlihat lebih rapi". Bue melakukan hal-hal yang kayaknya ga mungkin akan saya lakukan (atas inisiatif sendiri). Bue adalah orang sangat penuh dengan perhitungan; Apa-apa yang akan dilakukannya, sesederhana menjemur pakaian saja, akan sangat diperhitungkan. Really appreciate it!

***
Beberapa waktu terakhir ini sebelum Bue pulkam, kami banyak menghabiskan waktu bersama. Kami sempat ke Blitar (with Himmah) dan ada satu waktu kami makan steak berdua di Alun-alun Batu (di momen ini kami benar-benar deep-talk, setelah sekian lamanya bertemu dan bersama). Kami juga melakukan perjalanan ke Madiun bersama (dengan motor masing-masing biar kerasa feel touring-nya wkwk). Salah satu momen yang sangat saya syukuri adalah bisa sekalian silaturahim ke rumah Bue di Boyolali pas ke Madiun kemarin. Bahagia aja bisa melihat langsung orang tua dan saudara-saudaranya; merasakan bagaimana rasanya "menjadi Bue di rumah".
 
 Madiun - Tawangmangu - Boyolali

Bue adalah teman bicara yang baik; Teman bertukar pikiran atau untuk menambah pengetahuan. Kalo kami ngobrol lebih banyak nyambung dibanding ga nyambungnya wkwk. Kalo lagi bertiga sama Himmah, maka Bue yang akan jadi penafsir antara saya dengan Himmah yang kadang ga ketemu apa yang diomongin๐Ÿ˜ Kadang juga jadi teman nge-joke yang retjeh banget deh.
 
Ketika Bue ga ada, satu dari banyak hal yang akan saya rindukan adalah masakannya. Dari awal Bue masuk ke Kontrakan Ar-Rifah dan mulai menjalankan piket masak, saya selalu suka masakannya. Beberapa kali saya cerita ke 2 orang teman baik saya betapa saya ngefans masakan buatan Bue; always klop di lidah apapun masakannya, masya Allah. Kalo Bue masak tuh selalu niat (bukan berarti yang lainnya ga niat lho ya); Masakannya ga hanya enak di lidah tapi juga rapi, well-cooked; Kadang sebelum mulai masak konsul dulu sama umiknya di Boyolali sana.
 
Mangut lele terakhir  yang spesial dibuatkan untuk saya beberapa jam sebelum Bue pulang kampung
 
Waktu-waktu yang kami lewati tidaklah selalu 'baik'. Ada saatnya kami 'hanya diam' untuk berapa saat bahkan bisa beberapa hari. That's my fault, i know. Itu salah saya untuk ga jadi dewasa di hadapannya. Bisa dibilang, Bue yang paling banyak dan sering kena 'badmood' saya dibanding semua adik-adik di Kontrakan Ar-Rifah wkwkw, maafkan daku Bue๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™‰
 
***
Awalnya saya tidak terlalu notice, tapi semakin intens interaksi, semakin bisa saya rasakan kalau Bue itu sedikit moody (atau banyak ya? wkwk). Jujur kalo dia sedang dilanda mood yang kurang baik, saya lebih suka untuk menghindarinya. Bukan apa-apa, buat saya Bue adalah orang yang helpful, menyenangkan dll, jadi saya gamau 'menghadapinya' ketika Bue tidak sedang berada di kondisi yang selama ini saya kenal. So sorry...

***
Ada beberapa waktu saya kesal atau jengkel ke Bue; Entah Bue bisa merasakan ini atau ndak. Tapi saya akui, saya yang lebih sering membuatnya kesal; atas ketidakpekaan saya, atas ke-gamau tau-an saya, ketidak-dewasaan saya, dan masih banyak lagi. Maafkan ya Buk... Mungkin kalau suatu hari Bue mau membicarakannya, akan saya klarifikasi semua perbuatan tidak menyenangkan yang pernah saya lakukan ke Bue, wkwkw.

Kadang saya merasa kalau kami ga akan bisa disatukan. Dua orang yang moody ini akan sulit untuk menghabiskan waktu bersama. Dua orang yang punya sifat kayak saya yang begini dengan Bue yang begitu akan susah kliknya. Tapi yah lagi-lagi Allah Yang Maha Mempersatukan Hati.

***
Saya akui, untuk bisa jadi seorang mbak buat Bue, masih sangat (sangat) jauh. Gimana saya mau jadi mbak untuknya kalo dia yang lebih banyak 'membenarkan' saya? Di hadapan Bue, saya lebih nyaman menjadikannya 'partner' dibanding seorang 'adik', seperti adik-adik lainnya.

***
Dengan segala yang Allah titipkan padanya (kedalaman pikir, kepekaan, kepatuhan, dan masih banyak lagi masya Allah tabarakallah) Bue adalah orang yang akan banyak memberikan kebermanfaatan bagi keluarga, teman dan sahabat, orang-orang dan masyarakat di sekitarnya. I do believe that.

***
Pada akhirnya, orang-orang yang datang pada kehidupan kita itu hanya membawa 2 hal; kebahagiaan maupun kesedihan; kesenangan atau sesuatu yang menyakitkan. Pilihan ada di tangan kita, hal seperti apa yang mau kita jadikan ingatan dari seseorang, hal-hal baik ataukah buruknya?. Untuk Bue, tentu saja saya hanya akan mengingat hal-hal baik yang dengan izin Allah, ia lakukan dan berikan untuk saya.
 
***
Malam itu, di hari dimana Bue pulang ke Madiun, saya mengirim pesan padanya, "Ayo doa ke Allah, semoga ukhuwwah ini berkekalan sampai ke surga-Nya". Baik-baik selalu di manapun Bue berada; Selalu dalam lindungan, rahmat dan kasih sayang Allah. Bue tahu, Allah sebaik tempat kita menitipkan ๐Ÿ’•

Makan steak di WSS Alun-alun Batu; A simple gift to celebrate sidang skripsinya

Rabu, 29 Juli 2020

Tangkahan Ecotourism : Hidden Gem di Kabupaten Langkat Sumatera Utara


Pertama kali tahu tentang Tangkahan, itu dari Tika (tahun 2017). Waktu itu Tika bilang gini, "nanti kalo Mbak main ke rumah Tika, Tika ajakin ke Tangkahan". Menurut Tika, kampungnya gapunya tempat wisata yang worthed it. Jadi satu-satunya tempat yang sekiranya 'pantas' untuk ngebawa teman jauh kesana ya Tangkahan itu. Bahkan ketika Tika menjelaskan tentang Tangkahan, it just like..."tempat biasa, sungai-sungai gitu; kita bisa mandi di sana". Itu aja. Terus coba deh nyari tempatnya lewat tagar di Instagram, eh kayaknya tempatnya ga 'sebiasa' yang Tika ceritain deh. Inimah bagus ๐Ÿ‘€ Kemudian setelah benar-benar ngikuti beberapa akun pariwisata Sumatera Utara, apalagi setelah liat banyak bule yang datang ke tempat itu sambil mandiin gajah, whoaaa surga tersembunyi! (di Thailand ada paket wisata yang salah satu itinerary-nya mandiin gajah gitu - Elephant Jungle Sanctuary Chiang Mai). Lalu belum lama ini juga Mas Rangga-nya Cinta (Niko Saputra) syuting di sana.

Pas Tika mau walimatul 'urs Agustus 2019 kemarin, Alhamdulillah Allah kasih kesempatan untuk bisa ke Sumatera Utara lagi (sebelumnya Juni juga kesana dalam rangka Trip Sumatera, tapi belum sempat ke Tangkahan). Awalnya saya pengen banget ke Danau Toba; udah matang banget rencananya (sewa motor, penginapan dan sebagainya), yah calon pengantin gamau dong; takut kenapa-kenapa. Baiklah manut. Mungkin karena Tika kasihan sama saya yang ga kemana-mana, akhirnya diajak deh ke Tangkahan. Tika akad hari Minggu, kami ke Tangkahan H-3 (hari Rabu, wkwk).



Setelah melalui jalanan aspal yang halus (tapi banyak ranjaunya -kotoran sapi), kemudian jalanan berbatu yang bikin jiwa badan kami tergoncang, kemudian jalanan tanah di perkebunan sawit yang amat luas, sampailah kami di pintu masuk Tangkahan. Total perjalanan dari rumah Tika di daerah Tanjung Putus, Padang Tualang sampai ke tempatnya sekitar 2 jam perjalanan motor. Oiya kalo berkunjung ke Tangkahan, pastikan kendaraan fit dan isi penuh bensin. Daerah yang kita lalui adalah perkebunan sawit yang semakin menjauh dari peradaban. Bisa gawat kalo kenapa-kenapa.

Oiya saat berangkat tadi saya dan Tika duluan pergi. Walau Tika udah pernah ke Tangkahan sebelumnya, tapi saya gamau berharap terlalu tinggi kalo dia akan ingat perjalanan menuju kesana ๐Ÿ˜‘ Kami menyetel Maps. Pas udah mau sampai tempatnya, baru kemudian Yogi dan Sutri (adik dan sepupu Tika) menyusul.


Tangkahan Ecotourism tepatnya berada di Namu Sialang, Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat. Jika ditempuh dari Kota Medan akan memakan waktu kurang lebih 3,5 jam. Jauh ya? Iyasih, tapi terbayar sama semua pengalaman yang bakal kita dapat di sana. Sampai di loket pintu masuk, kami bukan hanya disambut oleh petugas tetapi juga deretan durian yang dijajakan ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ membuatku bahagiaaa (!) Tanpa basa-basi saya langsung mendekati doi (baca: durian). "Itu durian asli Tangkahan, Mbak", kata bapak di loket tiketnya. Udah ga berpaling lagi pandangan saya dari buah berduri ini. Tanpa banyak mikir lagi, langsung hajaaar. Ya Allah, enaknya...๐Ÿ˜ฃ Durian Sumatera emang ga perlu diraguin rasanya.


Setelah sesi makan durian yang sangat memuaskan itu (harganya murah dan rasanya juara), kami segera membayar uang masuk (5K atau 10K ya per orang? Saya lupak wkwk). Parkiran sangat sepi; Sepertinya pengunjung hari itu hanya kami dan satu mobil berisi 2 orang bule dan seorang pemandunya. Kami segera bersiap untuk menjelajahi hutan luas di depan sana (ngebayangin ketemu gajah, badak, rusa, kuda nil, harimau, haish!).

Nampak di kejauhan jembatan gantung yang epik sekali; tidak sepanjang yang ada di Sukabumi (Situ Gantung) tapi cukup seru. Di bawahnya terdapat aliran sungai yang sangat lebar dengan beberapa bule yang sedang menikmati river tubing. Wah udah ga sabar nih. Jom!




Setelah menyeberang jembatan gantung, kami sedikit trekking melewati rerimbunan hijau menuju pinggiran sungai yang enak dibuat santai sambil mandi-mandian. Ada satu tempat yang nampaknya pas banget dengan yang kami cari; tapi kami harus menyeberangi sungai. Untung aja dangkal; Belum apa-apa dari bawah sampai lutut sudah basah pakaian kami. Airnya segar sekali masyaAllah! Kontras sama cuaca di Langkat yang panasss.



Ekowisata Tangkahan merupakan wilayah hutan lindung seluas belasan ribu hektar yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser. Karena sangat luas, tentu saja kaya akan flora dan fauna khas. Karena niat kesana kemarin itu cuma mau liat gajah mandi, jadinya datang seadanya aja (dengan kantong seadanya juga hehe). Kalo mau, kami bisa menyewa jasa pemandu setempat untuk menjelajahi hutan. Pasti bakalan seru banget sih (okay insyaAllah next kalo kesini lagi).

Demi melihat air jernih dan dangkal di hadapan, saya yang awalnya gada niatan mau mandi, ga tahan liat airnya yang jernih banget (sampe tosca gitu warnanya). Nyebur deh walau ga bawa baju salin. Musim kemarau menurut saya adalah waktu yang tepat untuk main air di sini karena kalo udah mulai musim hujan air sungainya bakalan membludak dan keruh.



Saat berangkat tadi, saya sudah menghilangkan jauh-jauh keinginan untuk bisa melihat gajah mandi. Waktu gajah mandi biasanya kalo ga pagi ya sore hari. Karena kami berangkat siang (sampai di sana waktu Zuhur), yaudah deh. Lagi enak-enak santai di pinggiran sungai, tiba-tiba ada seorang pawang menggiring 2 ekor gajah ke arah kami. Whoaaa๐Ÿ˜ Jujur saya seneng banget.

Melihat langsung gajah mandi dari dekat menjadi sensasi tersendiri. Kita juga boleh memberi makan si gajah lucu. Kami diberikan kesempatan oleh bapak pawang memberikan kulit durian yang tadi kami bawa. Sebahagia ini bisa ketemu gajah (katakanlah) di hutan langsung; Yah walaupun ada pawangnya.


Kenapa ya gajah pake mandi segala? Ayam, kambing, sapi yang jadi santapan manusia aja ga perlu pernah mandi. Ternyata, Allah mengilhamkan gajah mandi untuk mendinginkan badannya. Kebayang gasih kulit gajah yang keras kaku itu terus-terusan terpapar sinar matahari? Nah kalo musim kemarau dan ga ada air, gajah mendinginkan badannya dengan menggunakan debu. Pintarnya gajah; Debu disemprotkan ke seluruh tubuhnya guna melindungi kulitnya dari sinar matahari juga dari gigitan serangga. Wallahu 'alam. Gitu sih kalo yang saya baca di internet.


Setelah melihat gajah mandi, kami ketemu gajah lagi ๐Ÿ˜ Kali ini gajahnya sedang membawa rombongan bule untuk jungle tracking; mengelilingi hutan dengan menunggang gajah. Ini adalah salah satu paket wisata yang ditawarkan di Tangkahan. Pengunjung bakal dibawa masuk ke hutan, mengenal lebih dalam flora dan fauna yang ada di dalamnya. Bukan hanya itu saja; Pengunjung juga akan dibawa ke tempat-tempat indah tersembunyi seperti air terjun yang ada di hutan Tangkahan. It must be sooo fun!

Kalo liat di Instagramnya @tangkahanecotourismofficial, ada banyak hal seru yang bisa kita cobain di Tangkahan. Selain jungle tracking, ada juga river tubing dan paket family camping. Selain itu pengunjung juga bisa menginap di cottages yang disediakan. Ih seru lah pokonya! Pantes aja walau banyak wisatawan dalam negeri yang belum familiar sama tempat ini, tapi wisatawan mancanegara yang datang cukup banyak.



Setelah puas main air dan ketemu gajah, saatnya pulang. Kami gamau pulang terlalu sore karena bakal serem di jalan nanti, hiyyy. Overall, tepat banget kalo Tangkahan ini disebut surga tersembunyi di Sumatera Utara. Dengan segala keseruan dan pengalaman yang bakal kita dapat di sana, Ekowisata Tangkahan menjadi tempat wajib kunjung setelah Danau Toba. Biidznillah, pokoknya harus kesini lagi. "Nanti kalo kita udah sama-sama berkeluarga, punya anak, kita family camping yaaa di sini", pesan saya ke Tika. Pokonya Tangkahan ini adalah tempat dimana saya ga banyak berekspektasi, tapi sama Allah dikasih di luar ekspektasi. Alhamdulillahiladzi bi ni'matihi tathimushalihaaat.