Selasa, 19 Mei 2020

10 Hari Terakhir Ramadan: (Kerennya) Ngapain Aja?

al-Imam Ibnu Jauzy rahimahullah berkata:
"Seekor kuda pacu jika sudah berada mendekati garis finish, dia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan, karena itu, jangan sampai kuda lebih cerdas darimu. Sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya. Karena itu, ketika kamu termasuk orang yang tidak baik dalam penyambutan, semoga kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan (penutupan)".

Maha Baik Allah; Diturunkannya al-Quran yang mulia (dari lauhul mahfudz di langit ke tujuh ke langit dunia) pada manusia yang mulia (Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) dibawa oleh malaikat yang mulia (Malaikat Jibril) di malam yang mulia yang lebih baik dari seribu bulan (malam Lailatur Qadr) untuk memuliakan manusia (baca: kita, ummat Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam). 

Malam Lailatul Qadr untuk kita sebagai ummat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ummat akhir zaman, merupakan 'bonus berlipat'. Kenapa gitu? Iya, kalo kita ibadah (shalat, tilawah, zikir dan sebagainya) di malam itu, nilainya or pahalanya sama kayak ngelakuin ibadah selama 1000  bulan (kurleb 83 tahun 4 bulan). Jika mematok jatah usia kita  pada usia Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang 63 tahun, maka amalan kita jika dibandingkan dengan umat terdahulu, sangat jauh (Nabi Nuh berusia 950 tahun, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail seratusan tahun, wallahu 'alam). So, dengan Lailatul Qadr, Allah jadikan amalan kita (ummat Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) yang usianya 'hanya' puluhan tahun ini bisa menyaingi amalan umat-umat terdahulu yang usianya lebih panjang (ratusan tahun).

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, berkata: "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam biasa ketika memasuki 10 ramadan terakhir beliau kencangkan ikat pinggang (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya (keluarganya) untuk beribadah". (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).

Dari hadits shahih di atas, bisa disimpulkan kalo udah masuk 10 hari terakhir ramadan, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan 3 aktifitas utama yaitu: (1) Mengencangkan ikat pinggang (kalimat permisalan untuk bersungguh-sungguh, bermujahadah, ada juga ulama yang berpendapat 'tidak mendatangi istrinya' wallahu 'alam; (2) Menghidupkan malam dengan beribadah, Rasulullah pada hari-hari biasanya menjalani malamnya dengan tidur terlebih dahulu kemudian bangun untuk beribadah, tapi tidak ketika memasuki sepuluh malam terakhir ramadan. Beliau benar-benar menjauhi segala macam bentuk kenikmatan dunia (keluarga, makanan, dan sebagainya) dan fokus menghidupkan malam, tanpa tidur; (3) Membangunkan istrinya, keluarganya untuk beribadah, bahkan di kajian yang saya tonton, dianjurkan untuk membangunkan semua anggoa keluarga tanpa terkecuali (anak-anak pun turut dibangunkan) wallahu 'alam.

Biasanya kalo udah masuk 10 terakhir ramadan, jujurly, saya sendiri ngerasa agak kendor ibadahnya. Manusiawi sih, yang bosen lah, yang terdistraksi pernak-pernik menyambut lebaran, yang ngerasa kayak "yeay bentar lagi selesai puasanya, gada lagi shalat teraweh 11 rakaat yang bikin capek, ngantuk, bla bla bla..." Astaghfirullah *Istighfar di pojokan. Biar sepuluh hari terakhir, yang merupakan hari-hari penentuan ini bisa kita maksimalin dengan sebaik-baiknya, mengusahakan semampu yang kita bisa, saya akan bagi beberapa tips menyambutnya yang dirangkum dari berbagai sumber. Here we go (!)
  • Meluruskan niat. Hadits arbain pertama, semua amalan tergantung pada niatnya. So, lurusin dan benerin niatnya menghidupkan sepuluh malam terakhir untuk apa? Nyari malam Lailatul Qadr untuk apa? Jawab dalam hati masing-masing (ya)
  • Bersungguh-sungguh dan berusaha keras untuk memperoleh malam Lailatul Qadr. Jangan pesimis dengan berpikir, "ah yaudahlah kalo dapet syukur, ga dapet berarti belum rizqi". Jangan sampe niatan nyari malam Lailatul Qadr kalah sama niatan berburu tiket pesawat murah tengah malam. Niat yang benar, insyaAllah akan menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang ingin kita capai dengan sungguh-sungguh
  • Menyediakan waktu dan tempat khusus untuk beribadah. Di masa pandemi Covid-19 ini ga memungkinkan untuk i'tikaf di masjid. It doesn't matter, kita bisa sediakan tempat khusus di kamar atau ruangan keluarga untuk menghidupkan malam. Singkirkan segala macam hal-hal dan benda-benda yang bisa mengganggu kita untuk beribadah
  • Memperlakukan setiap malam sebagai malam Lailatul Qadr. Kita disuruh untuk mencari malam Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil 10 hari terakhir ramadan (bisa di malam 21, 23, 25, 27 dan 29). Sama Allah ga dikasih tahu waktu pastinya biar kita menghidupkan malam-malam terakhir tersebut, memperlakukannya sama
  • Meningkatkan interaksi dengan al-Qur'an. Perbanyak tilawah, baca artinya, baca tafsir, menghafal, lihat kajian tentang al-Qur'an, dan sebagainya (lihat surah al-Baqarah 185)
  • Memperbanyak istighfar dan permohonan ampun atas dosa-dosa yang telah lalu (dan akan datang). Setiap detik yang kita lewati, rasa-rasanya ga terlepas dari melakukan dosa; So, mohon ampunan sama Allah atas dosa-dosa yang kita perbuat. Biarkan airmata yang mengalir karena menyesali dosa-dosa menjadi saksi di akhirat nanti
  • Melafalkan doa spesial sebanyak-banyaknya. Apa doanya? ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ’ANNII (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 3850. Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih) sumber: Rumaysho.com
  • Memperbanyak zikir dan membuat daftar doa sebanyak-banyaknya. Ada banyak pilihan zikir yang bisa kita lafazkan; Subhanallah, alhamdulillah, laa ilaha illlallah, laa hawla wa la quwwata illa billah, subhanalallahi wa bihamdihi subhanallahil adhiiim; Sediain satu buku kecil untuk nulis daftar doa yang mau kamu panjatin; untuk diri sendiri, orang tua, saudara kandung, keluarga besar, sahabat, teman-teman, pemimpin dan sebagainya. Feel free to ask; as many as you can say
  • Meningkatkan shadaqah. Disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah seseorang yang sangat dermawan, dan kedermawanannya meningkat ketika bulan ramadan. Kita bisa menyisihkan rizqi untuk memberi makan orang berbuka puasa di malam ganjil, memberikan hadiah untuk orang-orang tercinta, menyumbang untuk pembangunan masjid atau yayasan Quran dan sebagainya. Kalo di bulan ramadan ini shadaqah kita dilipatgandakan pahalanya, nah saat malam Lailatul Qadr dilipat-lipatgandakan lagi (double strike!)
Ketika ketika dihadapkan, diberikan kesempatan untuk bertemu kembali pada 10 malam terakhir di bulan ramadan, berarti satu kesempatan lagi Allah beri untuk memohonkan ampun atas dosa-dosa yang kita buat, untuk memohon pengabulan atas doa-doa yang kita panjatkan. Teringat perkataan seorang shalafus shalih ketika menghabiskan malam sepuluh ramadan terakhirnya untuk beribadah, "rasa takutku pada (neraka) jahannam menghilangkan rasa kantukku". Wallahu 'alam bishawwab. Kuy jangan kasih kendooor!

Kamis, 07 Mei 2020

#ReadingExperience: Sejarah Hidup Muhammad (Sirah Nabawiyah)


Judul buku: Sejarah Hidup Muhammad: Sirah Nabawiyah
Judul asli: Ar-Rahiq al-Makhtum Bahtsun fi as-Sirah an-Nabawiyah 'ala Shahibina afdhal as-Shalat wal-Salam
Penerjemah: Rahmat
Penerbit: Robbani Press
Tahun terbit: 1998
Cetakan ke: 1
Tebal buku: xxxvi + 748 halaman
ISBN: 9799078237
Harga buku: -

Hari itu adalah hari yang sangat bersejarah. Suara tahmid menggema di rumah-rumah. Sebagai ungkapan rasa gembira, anak-anak Kaum Anshar mengalunkan bait-bait syair berikut: "Bulan purnama telah bersinar menerangi kami dari Tsaniyyat Wada'; Kita wajib bersyukur atas kedatangan seorang da'i yang menyeru kepada Allah; Wahai (Nabi) yang diutus kepada kami engkau datang membawa perkara yang ditaati... (hlm. 236)

Sebelum masuk ramadan tahun ini saya menyusun beberapa list to do, salah satunya adalah membaca buku. Belakangan ini selera buku saya sedikit berubah ke buku-buku tebal karya ulama salaf (buku terjemahan). Jadilah saya masukkan beberapa buku 'tebal' dalam reading list, salah satunya Sirah Nabawiyah. Ngerasa malu aja gitu, bertahun-tahun interaksi sama sirah (di kontrakan ada jadwal taklim materi sirah tiap hari Jumat), tapi cuma sampe halaman itu-itu ajah ga move up. Pemahaman sirahnya ga utuh, saya akui. Kalo dipersen, ga sampai 10 persen! *Parahnya. Sementara 6 novel Dan Brown yang tebalnya 600an halaman udah tamat semua 😳😳😳 (sungguh daku harus mengasihani diriku sendiri).

Qadarullah, awal puasa berhalangan untuk ikut puasa. Saya fokuskan untuk membaca sirah. Awalnya target sehari 10 lembar. Tapi (kok) semakin dibaca semakin menarik. Buat saya, feel-nya sama kayak baca novel kesukaan saya. Iya, biasanya saya baca buku-buku rujukan karya ulama salaf tuh lemot banget alias per bab dan kondisional; dibaca acak sesuai tema yang lagi dipengenin. Tidak dengan baca sirah kali ini; Karena ceritanya yang runut, jadi buat saya penasaran, abis ini apa ya? abis ini ngapain atau kenapa ya? Walau di bab pertama sempat dibuat pusing dengan nama-nama kabilah dan penguasa jazirah Arab sebelum masa diutusnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tapi kemudian bisa mengikuti alurnya. Tinggalkan yang tidak dimengerti, ikuti aja alurnya gausah dipaksain, just let it flow. Itusih...

Sebelum mulai sedikit cerita pengalaman saya baca sirah, kita harus ngerti dan paham dulu, kenapa sih harus membaca sirah, kenapa harus mempelajari, tertarik dan memahaminya? Dalam sebuah kajiannya di channel Yutup Free Qur'an Education yang berjudul "Why Study Seerah?", Dr. Yasir Qadhi memaparkan beberapa alasannya, antara lain:
  • Allah memerintahkan kita untuk mengenal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Di dalam al-Qur'an, ada 50 ayat lebih yang memerintahkan kita untuk mengambil pribadi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai contoh. Salah satunya ada di Surah Al-Ahzab ayat 21.
  • Mempelajari sirah adalah cara pertama untuk meningkatkan rasa cinta kita kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Gada cara yang lebih efektif dan lebih powerful untuk meningkatkan cinta kita kepada beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam selain dengan mempelajari kehidupannya. Selain itu, untuk menunjukkan kecintaan kita pada beliau. Fitrahnya, jika kamu benar-benar mencintai seseorang maka kamu akan mempelajari orang tersebut; ingin mengetahui lebih banyak tentangnya (that's a sign of love).
  • Memahami sirah membantu kita juga untuk memahami al-Qur'an. al-Qur'an merupakan mukjizat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang kompleks, menyeluruh dan mendalam. Kitab mulia ini akan sulit dipahami tanpa konteks. Dengan mempelajari sirah, kita bisa menggali kisah-kisah yang ada di dalam al-Qur'an. Without seerah, the Qur'an is out of context; And without context, you'll never appreciate the Qur'an.
  • Kisah-kisah dalam Sirah Nabawiyah membangkitkan harapan, semangat dan optimisme. Terutama di tengah-tengah Islamofobia atau persekusi atau ketidakadilan yang kita alami, kalo kita mau refleksi dari kisah awal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama para sahabat pada masa awal mendakwahkan Islam, betapa menderitanya mereka, apa yang kita alami saat ini belum ada apa-apanya. Lihat Surah al-Furqan : 32
  • Sirah itu sendiri merupakan mukjizat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Keseluruhan kisah hidup Rasulullah SAW merupakan bukti bahwa beliau adalah rasul Allah; seseorang yang Allah utus. Bagaimana bisa, dari seorang penggembala kambing yang tidak bisa baca tulis, dari sebuah negeri yang tidak beradab, bangsa yang barbar, tidak berpendidikan, menjadi seorang yang mampu merubah sebuah bangsa dengan generasi terbaik di muka bumi, kemudian menyebarkan ajarannya ke seluruh penjuru dunia. Mukjizat al-Quran yang beliau bawa; keindahan isinya, pesan-pesan yang terkandung di dalamnya, semua itu bukti bahwa beliau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Ada beberapa ulama yang menulis tentang sirah nabi. Yang pertama kali melakukannya adalah Ibnu Ishaq, ulama sekaligus sejarawan muslim kelahiran Madinah yang memiliki nama asli Muhammad bin Ishaq bin Yasar (85H - 151H). Kemudian ada juga Abu Muhammad 'Abdul Malik bin Hisyam atau lebih dikenal dengan Ibnu Hisyam. Beliau melakukan perbaikan pada biografi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang ditulis oleh Ibnu Ishaq. Selain kedua ulama ini, masih ada beberapa ulama lainnya yang menulis kisah perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam (sirah nabi).

Sirah yang saya baca yang memiliki judul asli "Ar-Rahiq al-Makhtum Bahtsun fi as-Sirah an-Nabawiyah 'ala Shahibina afdhal as-Shalat wal-Salam" ini merupakan karangan ulama India Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfury. Karya yang beliau susun ini adalah pemenang pertama penulisan Sirah Nabawiyah yang diselenggarakan oleh Rabithah 'Alam Islam Islami di Pakistan pada tahun 1396 H. Gak perlu diragukan lagi kontennya yah (apalah kita ini yang cuma sebutir debu di hadapan para ulama-ulama itu) karena pastinya udah melewati penilaian dari semua sisi oleh para dewan juri dari seluruh dunia yang berkompeten di bidangnya.

Sudah lumayan lama sejak terakhir kali adrenalin saya terpacu ketika membaca novel Dan Brown berjudul Inferno; Kisah perjalanan Rasulullah dan beberapa peperangan yang dilakukannya lebih seru lagi, bikin ikutan berdebar (!). Belum lama nangis baca novel tentang kucing Nana di Traveling Cat Chronicles; Kisah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam sirah ini lebih membuat saya menangis lagi (!). Masya Allah.

Setelah membacanya sampai tuntas ini, banyak sekali kesadaran dan pengetahuan baru yang saya dapatkanBahwa Perang Badar adalah perang pertama yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama kaum mukmin (Muhajirin dan Anshar) melawan kaum musyrik Mekkah, dan Perang Tabuk adalah perang terakhir yang beliau ikut berperang di dalamnya. Bahwa Rasulullah merasakan penderitaan yang amat sangat selama 10 tahun sejak kenabian, di kota kelahirannya Mekkah; Beliau mengalami persekusi, penindasan, pemboikotan dan bermacam-macam gangguan lainnya dari Abu Jahal dkk. Bahwa beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian hijrah dan diterima dengan sangat baik dan dimuliakan oleh penduduk Madinah (Kaum Anshar).

Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah komandan perang terbaik, paling hebat di dunia. Ga ada bandingannya! Beliau mengangkat derajat peperangan ke tempatnya yang lebih tinggi; bukan sekedar bunuh membunuh, merampas, merusak, tapi ada sesuatu (nilai-nilai) yang diperjuangkan; Beliau meletakkan dasar hukum peperangan yang sangat manusiawi, Declaration of Human Right punya PBB gada apa-apanya. Mungkin selama ini kita (saya) terlalu dilenakan sama kisah-kisah kepahlawanan fiksi film Hollywood (Avenger dll.) atau pangeran-pangeran 'cantik' Kerajaan Joseon lewat drakor, sehingga lupa kalau kita ummat Islam punya sosok, punya teladan nyata yang jauh lebih keren.

Beliau adalah seseorang yang sangat mau mendengarkan orang lain, sahabat-sahabatnya... 
"Wahai Rasulullah, jika Allah memerintahkan hal ini kepada Anda, maka kami akan patuh dan taat. Namun jika ini merupakan sesuatu yang Anda buat untuk kami, maka kami tidak akan membutuhkan hal ini". Rasulullah menjawab, "Sesungguhnya itu hanya sesuatu yang aku buat untuk kalian..." (hlm. 444-445)

"Wahai Rasulullah, apakah tempat ini merupakan tempat yang ditetapkan oleh Allah, ataukah sekedar pendapat dalam strategi peperangan?" "Ini adalah sekedar pendapat". Kemudian sahabat tersebut menjelaskan bahwa tempat itu dekat dengan benteng musuh. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, "pendapat yang kamu kemukakan itu sungguh tepat". (hlm. 548-549)

Betapa hormatnya para sahabat terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Penghormatan dan pemuliaan terhadap manusia terbaik yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala...
"Urwah kemudian memperhatikan sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu Alaihi wa Sallam dan sikap mereka dengan beliau, lalu kembali kepada teman-temannya seraya berkata kepada mereka, 'wahai kaumku, demi Allah, aku pernah diutus kepada raja, kaisar, Kisra dan Najasyi. Tetapi aku belum pernah melihat seorang raja diagungkan oleh sahabat-sahabatnya seperti pengagungan sahabat-sahabat Muhammad kepada Muhammad. Demi Allah, tidaklah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meludah kecuali ludah itu jatuh ke telapak tangan seseorang di antara mereka, lalu mengusapkannya ke wajah dan kulit mereka. Apabila dia (Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam) memerintahkan sesuatu kepada mereka, mereka berebut untuk melakukannya. Apabila dia berwudhu', mereka berebut seperti orang yang hendak bertengkar untuk mendapatkan sisa air wudhu'nya. Apabila mereka berbicara di hadapannya, mereka berbicara dengan menundukkan kepala, merendahkan suara demi menghormatinya..." (hlm. 495-496)

"Wahai Rasulullah, laksanakanlah apa yang telah diberitahukan Allah kepada Anda, kami tetap bersama Anda. Demi Allah, kami tidak akan mengatakan kepada Anda perkataan yang pernah diucapkan Bani Israel kepada Musa, yaitu 'pergilah engkau bersama Rabbmu dan berperanglah, kami tetap duduk di sini.' Tetapi, yang kami katakan kepada Anda adalah, 'pergilah engkau bersama Rabbmu dan berperanglah, kami ikut bersama Anda"... (hlm. 285)

Beliau adalah seseorang yang sangat peka hatinya, halus budi pekertinya, tahu menempatkan diri dan menempatkan orang lain. Ada satu kisah di bawah ini yang buat saya meneteskan air mata membacanya; Tentang pembagian rampasan perang atau ghanimah Perang Hunain. Saat itu Rasulullah membagi-bagikan ghanimah yang cukup banyak untuk penduduk Mekkah yang baru masuk Islam dan tidak memberikan sedikitpun pada Kaum Anshar. Manusiawi, Kaum Anshar sedikit 'cemburu' dan sebagian ada yang berpikir tidak-tidak.

"Demi Allah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bertemu dengan kaumnya sendiri (hlm. 639). Sa'd bin Ubadah (mewakili Kaum Anshar) melaporkan pada Rasulullah. Rasulullah bertanya, "dimana posisimu dalam hal ini, wahai Sa'd?" Sa'd menjawab, "aku termasuk salah seorang dari kaumku". "Kumpulkan kaummu di lapangan ini, aku akan berbicara dengan mereka", perintah beliau.

Beliau berkata di hadapan Kaum Anshar,
"Wahai orang-orang Anshar, aku telah mendengar perkataan kalian dan di dalam diri kalian ada perasaan jengkel terhadap diriku. Bukankah ketika aku datang kalian masih dalam keadaan sesat, kemudian Allah memberikan hidayah kepada kalian? Bukankah ketika itu kalian masih menderita, kemudian Allah mencukupi kalian? Bukankah ketika itu kalian masih saling bermusuhan, kemudian Allah mempersatukan hati kalian?"

Mereka menjawab, "Benar, Allah dan rasul-Nya lebih banyak karunianya". Beliau masih bertanya, "wahai Kaum Anshar, kenapa kalian tidak menanggapi perkataanku?", "Kami harus menanggapi bagaimana, wahai Rasulullah?" Segala karunia bagi Allah dan rasul-Nya.

Beliau melanjutkan,
"Demi Allah, jika kalian mau tentu dapat mengatakan yang sebenarnya: 'Engkau datang kepada kami sebagai orang yang didustakan, kemudian kami membenarkanmu. Engkau datang sebagai orang yang dihinakan, kemudian kami membelamu. Engkau datang sebagai seorang yang diusir, kemudian kami melindungimu. Engkau datang sebagai orang yang menderita, kemudian kami menyantunimu'. Wahai Kaum Anshar, apakah kalian merasa jengkel karena tidak menerima sejumput sampah keduniaan yang tidak ada artinya? Padahal, dengan sampah itu, aku hendak menjinakkan suatu kaum yang baru saja masuk Islam, sedangkan kalian sudah tidak diragukan lagi keislamannya. Wahai Kaum Anshar, apakah kalian tidak puas melihat orang lain pulang membawa kambing dan onta, sedangkan kalian pulang membawa Rasul Allah? Demi Allah, apa yang kalian bawa pulang itu lebih baik daripada apa yang mereka bawa. Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, niscaya aku menjadi salah seorang dari Anshar. Seandainya orang lain berjalan di lereng gunung dan Kaum Anshar juga berjalan di lereng gunung yang lain, aku pasti turut berjalan di lereng gunung yang ditempuh Kaum Anshar. Ya Allah, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Kaum Anshar, kepada anak-anak Kaum Anshar, dan kepada cucu-cucu Kaum Anshar".

Mendengar ucapan Nabi SAW tersebut, Kaum Anshar menangis hingga jenggot mereka basah karena air mata. Mereka kemudian menjawab, "Kami rela mendapatkan Rasul Allah sebagai pembagian dan jatah kami". (hlm. 640-641)

Ada juga kisah yang membuat saya tertarik, ketika Rasulullah meminta pendapat Umar ra. dan Abu Bakar ra. soal tawanan perang. Saat itu mereka berdua menyampaikan pendapatnya kemudian Rasulullah SAW memilih pendapat Abu Bakar ra. Ternyata yang lebih tepat adalah pendapat Umar ra. Saat Umar ra. menemui Rasulullah SAW dan Abu Bakar ra., Umar mendapati beliau berdua menangis,
"Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku, mengapa Anda dan sahabat Anda itu menangis? Jika ada alasan untuk menangis aku akan turut menangis; dan jika tidak ada alasan untuk menangis aku akan berusaha untuk menangis karena Anda berdua menangis" (hlm. 319)

Pantas saja kalau disebutkan bahwa generasi sahabat di zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah generasi terbaik. Mereka radhiyallahu anhuma adalah orang-orang terbaik yang tidak hanya kokoh keimanan dan ketauhidannya, tapi luas pula ilmunya, dan hebat di medan perang. Seperti kata pepatah, "rahib di malam hari, singa yang buas di siang hari". Selama ini saya mengenal Ali ra. karena kepintarannya. Ternyata beliau ra. bukan hanya pintar, tetapi juga ksatria di medan peperangan. Dalam Perang Khaibar dikisahkan, "Wahai Rasulullah, aku akan memerangi mereka sampai mereka sama seperti kita" (hlm. 550). Ali kemudian memukul kepala Marhab dan membunuhnya, dan kemenangan pun berada di tangannya.

Di bagian akhir buku dijelaskan sedikit tentang istri-istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kenapa beliau menikahi siapa, semua ada penjelasannya. Kalau orang-orang yang suka mengatakan perkataan bathil tentang Rasulullah SAW itu mau membuka hati dan pikirannya, tidak ada celah sedikitpun untuk menghina Rasulullah perihal pernikahannya dengan para ummul mukminin. ..."Di antara tradisi bangsa Arab adalah menghormati hubungan perbesanan. Menurut mereka, menjalin hubungan perbesanan merupakan suatu pintu untuk mendekatkan hubungan antar berbagai suku. Mereka memandang bahwa memusuhi keluarga besan merupakan suatu aib. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menikahi beberapa wanita (ummahatul mukminin) bertujuan mengikis permusuhan berbagai kabilah terhadap Islam..." (hlm. 724) dan beberapa alasan lainnya (mentransfer keadaan rumah tangga Rasulullah, mendidik para wanita lainnya, serta menghapus tradisi jahiliyyah).

Agama Islam yang kita anut saat ini, saat dimana kita bisa menjalankannya dengan sangat nyaman tanpa gangguan sedikit pun, awal mula dakwahnya sungguh berdarah-darah. Mungkin kalau kita mau sedikit merenungi bagaimana menderitanya Rasulullah dulu ketika awal mendakwahkan Islam, kita ga bakal seenak hati menjalankan agama ini; pilih-pilih mana yang kita suka, mana yang ga cocok sama kita. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ga pernah istirahat, mulai dari awal menerima wahyu sampai wafatnya (duh beneran berkaca-kaca kalo ingat ini😭😭😭) "Maka, beliau pun bangkit dan terus bangkit lebih dari dua puluh tahun, memikul beban amanat besar di bumi ini, seluruh beban kemanusiaan, seluruh beban aqidah, beban perjuangan dan jihad di berbagai medan...(hlm. 694)

Teringat suatu kajian yang saya tonton di Merciful Servant, dibawakan dengan sangat apik dan menarik oleh Sheikh Khalid Yasin (barakallahu fiiik), tentang "Who is The Greatest Man in All History". Beliau menyampaikan, ada seorang sejarawan barat kontemporer, Michael Hart, menyusun tentang 100 orang paling berpengaruh di dunia. Ia mengumpulkan para sejarawan lainnya untuk mengumpulkan tokoh-tokohnya dan membagi ke dalam 32 kategori. And guess what? Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam unggul di semua kategori sehingga Michael Hart menempatkan beliau SAW di posisi paling atas. Ia berkata, "saya seorang christian, harusnya saya memilih Jesus Christ. Tapi tidak. Kenapa? Karena Jesus bukan seorang ayah, Muhammad iya. Jesus bukan seorang suami, Muhammad iya. Jesus bukan seorang pedagang, Muhammad iya. Jesus bukan seorang panglima perang, Muhammad iya. Dan Jesus bukan seorang pemimpin (negara), Muhammad iya".

Okay then, review singkat dan acak-acakan ini mungkin cuma bisa menggambarkan secuil dari ribuan hikmah yang terkandung dalam kisah kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang dirangkum dalam Sirah Nabawiyyah karya Syaikh Mubarakfury. Ada begitu banyak kisah mulai dari masalah politik, militer, rumahtangga, kepemimpinan, ekspedisi, dan sebagainya yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Saran saya, untuk mendapatkan untaian mutiara hikmahnya, selamilah sendiri samudra luasnya. Allah akan asup oksigen sebanyak-banyaknya kok kalo kita benar-benar meniatkan diri untuk menyelaminya, insya Allah. Seperti yang Dr Yasir Qadhi sebutkan di atas, salah satu tanda cinta adalah ingin mengetahui lebih banyak tentang orang yang kita cintai. Jadi? Sudah seberapa banyak kita (ingin) tahu tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam? Let's prove our love to our beloved πŸ’˜

[...Saya baru beli buku kisah para nabi, Adik saya membuka-buka isinya kemudian bertanya, "ini gada kisah tentang Nabi Muhammad?". Saya jawab, "Ga mungkin lah kalo Nabi Muhammad ga ada". "Lah ini, cuma sampe Nabi Isa aja". Saya baru tersadar...(Yah iya jugak ya, ga mungkin kayaknya kalo kisah Rasulullah digabung sama kisah nabi dan rasul yang lain. Bakal setebal apa tuh buku?!]... Wallahu 'alam bishawwab.

Senin, 04 Mei 2020

Saya dan Cerita tentang Kucing


According to Islamic tradition, Muezza (or MuΚΏizza; Arabic: Ω…ΨΉΨ²Ψ©‎) was Muhammad's favorite cat. Muhammad awoke one day to the sounds of the adhan. Preparing to attend prayer, he began to dress himself; however, he soon discovered his cat Muezza sleeping on the sleeve of his prayer robe. Rather than wake her, he used a pair of scissors to cut the sleeve off, leaving the cat undisturbed. Another story is, upon returning from the mosque, Muhammad received a bow from Muezza. He then smiled and gently stroked his beloved cat three times... (Wikipedia)

Satu cerita tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kucing di atas belumlah cukup membuka hati saya untuk peduli pada makhluk ciptaan Allah bernama kucing (Turki: Kedi). Hidup beberapa tahun berdampingan dengan beberapa orang yang cinta kucing pun, belum mampu membuat saya jatuh cinta ke kucing seperti jatuh cintanya saya ke ikan atau hewan lainnya. Hampir tiap hari melihat kucing juga tidak membuat saya lantas jadi ngefans atau gereget pada hewan yang konon sangat bersih dan higienis itu.
***

"Seumur hidup adalah waktu yang kita pergunakan untuk mengenal diri sendiri". Percaya ga dengan kalimat itu? Iya; Kalo kamu menyimpulkan bahwa apa-apa yang kamu sukai atau tidak sukai, hobi yang kamu jalani saat ini, itu bakal begitu aja sampe kita meninggal nanti, kayaknya kurang tepat deh. Nyatanya, seiring berjalan waktu, perubahan lingkungan sekitar, orang-orang terdekat, semuanya masih bisa berubah atau semakin bertambah. (Saya lebih lebih suka kalo menyebutnya bertambah, sih). Contohnya: saya. Saya yang dulunya anti banget sama kucing, sekarang suka meleleh liat kucing rebahan doang aja.

Saya dan kucing
Gak banyak hal yang bisa saya ceritakan tentang hubungan saya dan kucing. Semuanya biasa saja alias flat (untuk tidak dibilang masa bodo malah cenderung jijik). Saya gasuka ada bulu kucing menempel di baju atau di barang saya manapun (kasur dll.). Saya juga ga suka deket atau dideketin kucing. Paling anti banget sama bau pipis kucing; bener-bener bikin mood jelek. Bisa jadi relationship seperti itu dengan kucing karena ibu di rumah. Iya, bisa dibilang my mom versus cats. Mamak galak banget sama kucing; Pokonya semua kucing selalu salah di mata mamak 😠 (mungkin karena kucing yang 'nyasar' masuk rumah nakal-nakal suka nyuri makanan). Hal yang menarik tentang kucing buat saya cuma satu: video-video lucunya. Kalo lagi gabut alias ga ngapa-ngapain saya suka nonton video lucu kucing dan liat meme-nya.

Lalu kerja hijrah ke Malang; di Malang tinggal di kontrakan yang jadi tempat lalu lalang kucing. Ada yang sekedar singgah, ada yang menetap. Di kontrakan inilah saya mulai mengenal 'memperlakukan kucing dengan baik' yang dilakukan oleh bocah kontrakan. Ada banyak sekali kucing yang datang ke kontrakan Rifah. Semua berakhir dengan nasib yang sama: dibuang. Sejujurnya saya adalah orang yang punya peranan besar dalam pembuangan kucing-kucing di Rifah. Iya, karena saya khan biasa aja ke kucing, cenderung tega, makanya santuy aja kalo suruh buang *astaghfirullah. Dari puluhan kucing di Rifah, ada satu yang spesial (buat anak-anak, bukan buat saya), namanya Mar'ah.

Ar-Rifah's Truly Cat Named Mar'ah
Tidaklah afdhol membahas tentang kucing di kontrakan Rifah sebelum menceritakan tentang Mar'ah. Nama lengkapnya Mar'atus Shalihah. Nama ini diberikan oleh Zahra Annisa, salah satu penghuni kontrakan Rifah tahun 2014. Hanya sedikit itulah yang bisa saya ceritakan tentang Mar'ah. Saya gatau Mar'ah berasal dari mana; kesukaannya apa; hobinya ngapain; Saya benar-benar gada feel apapun sama Mar'ah, walau bertahun-tahun terlewati bersamanya. Saya cari foto Mar'ah di folder kontrakan pun ga ada sama sekali (parah saya ya).

Lady Mar'ah

Ada satu bocah yang sayangnya kebangetan sama Mar'ah. Qonita Wardatul Jannah namanya (sampai-sampai dijuluki Nita Ummu Mar'ah). Saya dulu kalo ngeledek dan ngusilin Nita, cukup saya 'kerjai' Mar'ah. Nita yang bakalan teriak-teriak merajuk. Menyakiti Mar'ah sama dengan menyakiti Nita wkwkw. Kalo lagi makan di luar, Nita selalu telaten membereskan bekas tulang-tulang, dibungkus rapi kemudian dibawa pulang untuk Mar'ah. Pokonya Nita yang mencurahkan kasih sayang yang banyak banget untuk Mar'ah (dengan izin Allah).

Mar'ah memang dicintai banyak orang. Terakhir kemarin ada beberapa adik yang DM saya di IG menanyakan kabar Mar'ah. Dia ini dulu suka curhat sama Mar'ah. Seingat saya, Mar'ah dibuang tahun 2017 lalu. Kenapa pada akhirnya Mar'ah dibuang? Karena dia tidak henti-hentinya bereproduksi alias beranak (jadi kayak zaman jahiliyyah gitu ya ehe) dan udah tinggal sedikit banget yang masih sayang sama Mar'ah. Maaf ya Mar'ah, semoga kamu baik-baik aja dimanapun kamu berada... (masih hidup atau sudah di surganya Allah).

A Lady Cat Named Orenji; Oren; Miss Ginger
Siang itu (10 Desember 2019) hampir jam 1 siang. Saya berniat kembali ke kantor setelah rehat siang di kontrakan. Tidak ada seorangpun di rumah (kuliah dan urusan lain-lain) saat itu. Pas mau keluar, tiba-tiba dari arah belakang muncul sesosok makhluk berwarna oren. Galak. Saya bilang ke kucing itu, "Heee kamu yang nyasar sendiri masuk sini, kok kamu yang galak?!". Saya foto kucing itu kemudian saya kirim ke grup WA kontrakan. Beberapa hari berlalu, kucing itu ga kunjung pergi. Dikasihlah nama sama Syifa; Orenji.

Pertama kali saya ketemu Oren

Saat itu Oren ga sendiri; Ada satu kucing belang (hitam putih) yang juga datang ke kontrakan. Hilang satu tumbuh seribu. Dari awal saya lebih cenderung ke Oren sih, mungkin karena si hitam putih ini ga sebersih Oren. Doi cenderung gembel dan rada jorok ehehe. Akhir tahun, tibalah waktunya bocah-bocah liburan pulang ke kampung halaman. Saya dan beberapa bocah gapulang; tapi saya dan Syifa udah punya rencana untuk ke Jogja. Saya pesan ke Sukma untuk ngurusin Oren biar ga pergi. Saya sama Syifa udah pasrah sih; Gamau terlalu berharap (takut sakit) kalo Oren ga bakalan pergi. Alhamdulillah ditinggal seminggu liburan ke Jogja, Oren tetap tinggal di kontrakan uwuwu...



Oren adalah kucing yang independen; Ga suka manja-manjaan sama hooman. Tipe kucing yang jual mahal. Cemburuan, gasuka diduain. Galak! 😼 Pemilih; Walau udah dibelikan makanan kucing yang mahal sekalipun, kalo doi bosen yaudah gabakal dimakan. Pernah juga dibelikan ikan tongkol atau bandeng (saya lupa), ga dimakan sama Oren. Ya Allah ini kucing yak, kita yang hooman aja makannya cuma tempe -_- Oren juga tipe kucing adventurous, petualang. Tau-tau ngilang main kemana. Walapun betina, naluri berburunya juga oke; Beberapa kali kami 'dihadiahi' tikus.


Kontrakan menjadi "hidup" gara-gara Oren. Dari subuh buta Oren menemani kami, rebahan sambil dengarin ta'lim pagi. Oren yang buat Fafa teriak-teriak kalo dia masuk ke kamar dalam kondisi gembel. Oren yang bikin Sukma marah-marah karena masuk kamar, tidur di kasurnya atau mencuri makanannya. Oren yang buat kami harus teriak heboh menyelamatkan piring sebelum makan karena dia mau ikutan nimbrung. Ada satu aibnya Oren yang parah banget yaitu doi suka kentuuut! Baru tahu kalo kucing juga kentut kayak manusia. Kentutnya bauk banget. Busuk! Misal kita lagi asik ngobrol di ruang tengah, terus Oren datang kemudian rebahan. Tauk-tauk kecium bau ga enak, bubar deh kita! Ya itu tuh si Oren gabisa menahan kentutnya. Saya udah puas jadi korban keganasan kentutnya; Lagi asik ngeblog di kamar ditemenin Oren yang rebahan; tiba-tiba bau busuk menyerang hidung 😠😠😠 Biasanya saya usir sebentar (biar baunya ilang) kemudian dia baru boleh masuk lagi.


Ada satu kejadian yang memorable banget sama Oren. Hari itu pukul 08.00 lewat sedikit. Saya bersiap-siap untuk berangkat ke kantor (tidak menyadari ada sesuatu berwarna oren masuk ke kamar; antara sadar dan tidak sih; saya tahu sesuatu oren itu masuk tapi setelah itu teralihkan oleh banyak hal lainnya). Kemudian saya berangkat kerja, menutup pintu kamar rapat-rapat. Biasanya tiap istirahat siang saya pulang, tapi hari itu tidak karena ada suatu keperluan. Menjelang sore bocah-bocah WA saya mengabarkan si Oren yang ga kelihatan dari pagi. Mereka khawatir kalo Oren 'minggat' (karena sehari sebelumnya kami membuang kekasihnya, si Bonny). Dicari kemana-mana hasilnya nihil, Oren ga ada. "Mbak, Oren ilang. Gada dari tadi pagi". Saat itu saya udah menyiapkan hati yang lapang; Yaudah deh, ikhlaaas. Sedih beneran tapi. Sampai rumah, buka pintu kamar agak sedikit curiga, kok kayak ada yang masuk (sedikit acak-acakan). Lalu dengan heboh bocah-bocah mengatakan kalo Oren ternyata ada di kamar saya kekunci seharian huahahaha! (beberapa saat sebelum saya pulang, mereka menyadari keberadaan Oren dari suaranya). Saya ga sengaja menguncinya pas tadi pagi berangkat kerja ehe. Semenjak peristiwa itu, saya jadi sadar betapa sayangnya saya sama Oren 😒

Suka banget sama foto ini

Oren membuat hari-hari saya berubah; Ada sesuatu yang saya rindukan ketika pulang dari kantor. Ada penghilang penat pengusir lelah hanya dengan melihatnya rebahan. Ada yang membuat saya tergelak dengan tingkah tidak dibuat-buatnya. Saya sampai rela merelakan jatah jajan saya untuk membelikan makanan dan cemilan untuknya. Oren juga kucing yang foto-able banget. Setiap gerak-geriknya bagus dan lucu untuk diabadikan. Saya suka menyebutnya Lady Cat karena gayanya yang kadang mirip nyonya-nyonya besar; Elegan.

Sebuah rumah persembahan dari bocah-bocah Rifah untuk Oren dan anaknya

Oren kucing yang mandiri; Lahirannya saja tidak menyusahkan orang. Malam itu jam 2, dia masih tidur sama Eka di kamar. Kemudian menjelang subuh kami shalat, terdengar suara bayi kucing. Oren lahiraaan! Dia pintar memilih tempat terbaik untuk proses persalinannya; lemari di ruang tengah wkwk. Anak-anak Rifah berisik ketika dia mulai berkeliling dan menggotong anak-anaknya. Fafa cerita, "aku tadi marah-marah sama Orenji gara-gara dia bawa anaknya ke kamarku". Huhu. Eka sayang sekali dengan Oren (saya tahu yang lainnya juga sayang; dengan cara yang berbeda). Waktu itu sebelum pulang ke Cilacap, hampir tiap hari Eka keluar membelikan ikan untuk Oren (Gembul juga dapat jatah). Saat yang lain masih asik di kamar, pagi-pagi Eka udah sibuk di dapur menyiapkan makanan mereka. MasyaAllah Eka, meleleh akutu. Belum lama, Oren sempat terganggu pencernaannya. Gara-gara itu poop-nya ga terkontrol alias sembarangan di dalam rumah. Hebohlah satu kontrakan. Akhirnya demi kebaikan bersama, dia diisolasi di luar rumah. Sempat hampir seminggu gaboleh masuk wkwk.  

Pencarian saya (akan kucing) berhenti di Oren. Buat saya, Oren adalah jawaban dari Allah atas keinginan saya punya kucing di kontrakan. Jadi sebulan 2 bulan sebelumnya saya sibuk kesana kemari mencari kucing untuk dipelihara (karena kalo mau beli, hukumnya dalam Islam masih belum jelas dan saya ragu). Pak Ji (rekan kantor) sampai ikutan sibuk mencarikan; Nyari di sekitaran UIN, minta ke mahasiswa yang part time di perpustakaan dan sebagainya. Lah tau-tau, gada hujan gada angin, ada kucing marble cantik berwarna oren 'nyasar' masuk ke kontrakan Rifah abis tu ga pergi-pergi lagi. Gitu juga kali yah nanti jodoh kita 😹 Dicari kemana-mana ga ketemu, tapi datang sendiri dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta'ala , uhuy.

Malam itu sebelum pulang kampung (dengan mata yang sembab habis nangis di kamar mandi grojoook!) saya bilang ke Syifa, "Yang bikin sedih banget sebenernya tuh si Oren. Gimana dia udah buat Rifah ini bener-bener hidup (berisik). Berat banget rasanya mau ninggalin Oren :(".

A Lovely Lazy Fat Cat Named Gembul; Thanos; Mr Collin
Suatu hari Syifa mengumumkan (meminta izin) di grup WA kontrakan bahwa ada temannya yang mau menitipkan kucingnya di kontrakan ar-Rifah. Tidak lama dititipkannya, hanya 7-8 hari. Saya cenderung cuek saat itu; tidak menanggapi. Kalo anak-anak yang lain setuju, yasudah silahkan. Keacuhan saya sebenarnya berawal dari sedikit kekhawatiran kalo Oren akan tersaingi (atau malah tersingkirkan). Saya khan tipe setia, ehem, cukup satu aja yang ada di hati saya, jangan banyak-banyak wkwk. Akhirnya semua setuju dan pada hari yang ditentukan, di suatu sore tanggal 13 Maret 2020, datanglah kucing itu ke Rifah. Saya biasa aja, ga excited atau apa. Syifa dan Eka heboh karena kucingnya gedeee (Syifa ngefans banget sama kucing besar). Saya ikutan lihat, eh iya besar jugak, batin saya. Nurut dan kalem. Mulailah saya sedikit tertarik, dikit aja jangan banyak-banyak, nanti Oren cemburu. Oh nooo! 

Karena pas tanya Syifa belum ada namanya, iseng saja saya bilang ke anak-anak, "panggil aja Thanos" (gara-gara liat ukurannya yang besar dan perawakannya yang gagah). Mulailah mereka memanggil dengan nama itu. Entah kenapa saya lebih suka memanggilnya Gembul. Lebih lovely, kalo menurut saya ehe. Kalo si Kenia beda lagi; gara-gara suaranya yang feminin, doi manggilnya ditambah "a" jadinya Thanosa 😹😹😹 (ada-ada ajah).

Hari pertama Gembul datang; malamnya rebahan di kasur saya nemani Syifa muraja'ah

Semenjak Gembul datang, kondisi kontrakan tak lagi sama. Gimana caranya Oren sama Gembul ga bertatap muka deh, karena si Oren pasti ngamuk; Udah beberapa bocah jadi korban kena cakaran dua makhluk ini kalo pas lagi hadap-hadapan (Oren yang menang, Gembul kalem). Datangnya Gembul saat itu bertepatan dengan Oren yang abis ngelahirin. Tampilannya Oren kucel banget; belum lagi sempat terganggu pencernaannya jadinya poop sembarangan. Jadilah untuk sementara si Gembul jadi primadona; Memenuhi sudut-sudut hati kosong yang belum sempat diisi oleh Oren, hiyaaa!


Gembul adalah kucing pertama yang benar-benar saya terima tidur di kamar dan menghilangkan rasa insecure saya tidur sama kucing. Sebelumnya saya tidak pernah mau tidur sama kucing; Syifa beberapa kali nyuruh kemudian saya jawab, "Gamau, nanti gini nanti gitu...". Iya, saya takut aja pas lagi tidur terus wajah saya dicakar; kucingnya ngompol di kasur lah, saya diduduki kemudian sesak napas kemudian ah sudahlah. Se-parno itu pikiran saya. Gembul gabisa kalem tidur di kamar anak-anak Rifah yang lain. Di kamar Bue dan Syifa, bikin rusuh sampe Bue gabisa tidur; terus gangguin Bue shalat juga. Di kamar Eka, sama aja. Sukma ngomel-ngomel karena Gembul naikin laptopnya (duh Mbul, kamu itu gede lho!). Kalo di kamar Kenia sama Fafa, kerjaannya ngeliatin ke atas aja. Fafa sama Ken malah takut sendiri, dikiranya Gembul melihat sesuatu dari alam lain, hiyyy. Hanya di kamar saya Gembul tidur kalem; dari jam 10 malam sampai subuh ga bergerak di tempat dia tidur. Sesekali bangun, pindah ke tempat yang lebih nyaman (hangat).


Beberapa kali saya bilang ke Syifa, "Syif bilangin teman Syifa, Gembul buat saya aja ya saya bawa ke Lampung". Sejatuh cinta itu saya sama Gembul. Beberapa malam berturut-turut Gembul membawakan saya kecoa ke dalam kamar. Ya Allah Mbuuul! Kata Syifa (baca dimana gitu), tanda sayangnya kucing ke hooman adalah membawakan hewan buruan. Gapapa deh, kalo masih kecoa mah (asal jangan ular aja kamu bawa masuk ke kamar, Mbul). Walhasil beberapa kali nyuci sprei dan ngepel kamar hampir tiap hari gara-gara jijique bau bekas kecoa mainannya Gembul.


Pernah suatu hari Gembul pipis di kasur saya; Dibanding marah, saya malah lebih ngerasa bersalah. Gembul bukan tipe kucing yang pipis sembarangan. Doi udah kebelet gitu dan ga saya keluar-keluarin dari kamar; Jadinya ngucur deh di kasur, huhu. 

Tiada hari tanpa tidur; kayaknya adalah motto hidup si Gembul. Bisa banget untuknya, dari pagi sampe malam kerjaannya cuma tiduuur ajah. Sibuk nyari kemana, ternyata tidur di kamar Eka. Heboh dikira dia ngeluyur ga pulang-pulang, ternyata tidur di depan balkon tetangga (sambil memandang kucing yang dia taksir). Dia punya banyak sekali gaya tidur yang bikin meleleh siapapun yang melihatnya. Gaya khasnya adalah rebahan dengan ngangkat keempat kakinya sambil nempel di pintu.

Rak (tempat tidur) favorit Gembul di kamar saya

Bisa gitu ya tidurnya (ga habis pikir)

Setiap malam Gembul tidur di kamar, setiap itu pula bikin saya meleleh dan tambah sayang masyaAllah. Pernah suatu malam, saya tidur di kasur dan sebelum tidur saya siapkan bantal dan selimut di samping kasur (sengaja nyiapin untuk Gembul siapa tahu kedinginan mau tidur di tempat yang hangat). Saat itu Gembul udah tidur duluan di lantai, mepet pintu. Tengah malam saya terbangun, lihat Gembul udah tidur di tempat yang udah saya sediakan. Huhu gumushhh! (lihat penampakannya pada foto di bawah).


Saya juga mengenalkan Gembul pada dua anak buah di Lembang sana, "Ajo punya kucing raksasa Neen, Naan". Hanan dan Haneen kalo nelpon langsung nanya, "Saksak mana?" (raksasa, maksudnya). Esy juga jatuh cinta habis-habisan sama Gembul sampe punya panggilannya sendiri, Mr Collin.

Sebelum pulang kampung kemarin, Allah ungkap satu kebenaran yang buat hati saya lega. Apa itu? Ternyata Gembul adalah kucing yang hilang. Jadi sepertinya, temannya Dani (teman Syifa) entah ga sengaja atau apa nemuin Gembul di jalan. Gembul emang nurutan banget sih, jadi dibawalah sama temannya Dani kemudian dikasihkan ke Dani (karena si Dani emang lagi nyari kucing untuk di rumahnya). Kemudian, untuk sementara karena Dani masih di pondok, Gembul dititipin dulu ke Syifa. Rumit ya? Udah deh gausah dipikirin. Jadi malam minggu sebelum kami pulkam, Dani sama temannya berniat untuk mengembalikan Gembul ke pemilik aslinya. Ah akhirnya, sedih banget aja mikirin pemilik asli Gembul keilangan dia. InsyaAllah Gembul bakalan hidup senang sehat bahagia dengan pemiliknya. Malam itu pas nyerahin Gembul untuk dikembalikan ke pemiliknya, Syifa nangis wkwkw! Padahal doi bilang, "aku mah udah biasa aja, karena dari awal kan emang udah tau Gembul cuma dititipin aja". Nyatanya, huhu hahaha! (termasuk yang nulis ini juga ikutan 😿)

GembulXOren
Pertama kali mempertemukan Oren dengan Gembul, hasilnya adalah keributan. Sepertinya Oren gamau ada yang bakal menggeser kenyamanannya di Rifah. Udah mau 3 minggu bersama, mereka belum juga bisa akur. Oren gabisa kalem kalo didekatin Gembul. Gembul juga kurang greget caranya dekatin Oren, terlalu selow wkwkw. Pada akhirnya, sampai Gembul mau dikembalikan ke pemilik aslinya, Oren belum juga tertaklukkan. Yaudah deh mau gimana lagi. Apa-apa yang dipaksakan itu hasilnya ga baik, apalagi cinta, uhuk! πŸ™ˆ

True definition of kucing-kucingan

Jarak paling dekat Oren sama Gembul dalam kondisi kalem

Oren yang ngebuat sikap saya berubah ke kucing; Oren yang bikin saya mulai menyayangi dan jatuh cinta pada makhluk berbulu itu; Gembul yang buat saya merasakan feeling sebagai pemilik kucing; Manjanya; Sikap malasnya. Kalian berdua telah memenangkan hati saya  dengan cara kalian masing-masing uhuhu πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜

[...Kalau ngebahas awal mula saya bisa jatuh cinta dengan kucing, ga bisa dilepasin dari seseorang yang bersama saya di foto paling atas. Seseorang itu; menunjukkan pada saya secara utuh bagaimana sayangnya dalam memperlakukan kucing. Yang khawatir berlebihan; Yang merelakan sekujur badannya dicakar ketika memandikan kucing; Yang memasrahkan hidungnya mencium aroma tidak sedap dari poop, pipis dan huek-nya kucing; Yang menetes airmatanya...].

Gatau ya, apa saya udah pantas dibilang pecinta kucing atau cat lover, saya sih ngerasa belum pantas, masih sangat jauh dari sebutan itu. Apapun itu, kini pandangan saya udah beda kalo lihat kucing, udah berubah ga jijique kayak dulu lagi haha. Setidaknya Allah udah masukkan rasa kasih sayang di hati saya pada makhluk ciptaan-Nya yang tak henti melantunkan tasbih pada-Nya ini. Allah lembutkan hati saya dengan menyayangi mereka. Dari dulu, sebelum ketemu Oren dan Gembul, saya selalu berpikiran bahwa orang yang ngomong sama kucing (hewan) itu aneh; Dalam hati kalo ngeliat yang begitu saya selalu berucap, "Alhamdulillah saya masih cukup waras, masih cukup normal untuk ga ngomong sama kucing". Dan kini kumelakukannya Ya Allah 😭😭😭