Kamis, 14 November 2019

Melalak ke Air Terjun Tumpaksewu di Lumajang Jawa Timur


Sambil bersandar pada pinggiran anak tangga, setengah mati saya mengatur napas agar stabil. Kata-kata Hanan tadi masih terngiang-ngiang, "usahakan napasnya stabil Mbak. Jangan diikutin ngos-ngosannya. Bernapas normal aja". Baiklah, Ibu Guru. I'll try. Satu, dua, tiga, tetap saja napas saya memburu dengan cepat. Hanan sudah tidak lagi terlihat, menghilang dari pandangan. Apa memang sesuatu yang indah, harus berdarah-darah dulu menggapainya?

Pelan tapi pasti, saya lanjutkan lagi menaiki anak tangga menuju ke atas. Yes, almost there! Akhirnya sampai atas juga. Perjalanan menuruni tebing bawah Air Terjun Tumpaksewu yang tingginya mencapai 120 meter dan kemudian naik lagi, akhirnya tuntas. Nan yang sampai atas duluan sudah ngadem dan meluruskan kaki di sebuah warung. Satu kalimat yang saya ucapkan begitu ketemu Nan, "mau mati rasanya Nan". Wkwkw. Selebay itu. Untuk mengapresiasi diri yang sudah berjuang ngos-ngosan naik turun anak tangga tadi, kami memesan 2 gelas es kelapa muda. Tidak sampai 5 menit sudah tandas. Perjalanan naik lebih cepat, hanya 30 menit. Tapi dengkul kaki rasanya kayak ada pait-paitnya gitu deh -_- Getir.

Segelas es degan segar seharga 2K saja
***

Bisa dibilang perjalanan ke Air Terjun Tumpaksewu kali ini adalah trip dadakan. Hanan (adik kontrakan Ar-Rifah jaman 2014 dulu) menghubungi saya mengajak main. Awalnya Nan ngajak ke Banyuwangi. Lha kok pas banget, pas lagi menggebu-gebu jiwa wanderlust dalam diri saya pengen main karena udah lama ga ngebolang. Qadarullah, tiket kereta Malang - BWI habis. Yaudah deh Nan, kita tetap main tapi yang dekat-dekat aja dulu. Banyuwangi insyaAllah nanti re-schedule lagi. Saya tawarkan ke Air Terjun Tumpaksewu. Kenapa? Karena dari sebulanan yang lalu pengen banget ke sini lagi setelah kunjungan pertama di tahun 2017 lalu.


Hari Sabtu (9/11/2019), kami berangkat jam 8.30 dari Kota Malang. Padahal awalnya saya yang ajak Nan untuk pergi pagi (jam 7-an) biar ga panas dan ga kesorean pulangnya. Tapi karena malam sebelumnya main ke Alun-alun Batu sampai larut malam, bangun siang dah wkwk (jangan ditiru, hanya untuk jomblo). Saya jemput Nan dulu di daerah Puncak Dieng Malang. Rencananya rute yang kami lewati adalah Kota Malang - Gadang - Bululawang - Dampit - Tirtoyudo - Ampelgading kemudian Lumajang. Oiya kali ini saya mengajak Nan untuk masuk via pintu Lumajang.

Kota Malang lagi panas banget. Santai saja saya mengendarai motor karena bawa istrinya orang (dan bawa diri sendiri yang masih jomblo hiyaaa). Jalanannya berkelok-kelok seperti jalan Malang - Kediri yang lewat Kasembon. Walau akhir pekan dan tanggal merah, Alhamdulillah tidak terlalu ramai. Di perjalanan saya bilang ke Nan, "Nan, main kita ini bisa bernilai ibadah lho kalo kita niatin untuk mentadabburi buminya Allah. Khan ada banyak tuh di ayat Qur'an disebutin berjalanlah kamu di muka bumi.. Lha kalo diem di rumah terus ga kemana-mana, ya ga liat alamnya Allah yang udah sempurna dan indah diciptakan sedemikian rupa ini dong".

Masuk daerah Tirtoyudo (Malang kabupaten), jalannya sudah dilebarkan dan baru diaspal lagi. Pas tahun 2017 lalu jalannya masih sempit. Lumayan mambantu banget sih pelebaran jalan ini. Asyik berkendara sambil ngobrol sana-sini, ternyata gapura selamat datang Air Terjun Tumpaksewu sudah tampak di depan mata. Alhamdulillah. Setengah jam lebih cepat dari prediksi awal. Padahal tadi saya perkirakan kami sampai pukul 11.30 karena berangkatnya lumayan siang.


Loket masuk menuju Air Terjun Tumpaksewu Lumajang berada di Desa Sidomulyo Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang. Kalo kamu berkendara di jalur lintas Malang - Lumajang bakal nemuin pintu masuk air terjun ini. Segera saja kami memarkirkan motor di tempat yang sudah disediakan. Sarana dan prasarana sudah lumayan lengkap. Ada warung makan, kamar mandi dan mushola tidak jauh dari situ. Saat kami datang, sudah lumayan banyak kendaraan yang parkir. Ayokla mumpung belum terlalu siang kita segera turun, Nan. Kami membayar tiket per orang 10K.

Menuju loket tiket
Perhatikan peta wisata ini kalo mau jadi traveler cerdas
Dari loket tiket, kami masih harus berjalan lagi kurang lebih 500 meter dengan trek menurun tajam untuk sampai di panorama view. Oiya dari parkiran, kita bisa milih mau lewat jalur yang ke panorama view atau trekking via Goa Tetes. Kami memilih langsung ke panorama view biar bisa liat air terjunnya dari ketinggian. Jalan kaki ke bawah melewati perkebunan salak pondoh milik warga.



Kalo males jalan dari parkiran, ada jasa ojek yang bisa antar jemput kita menuju panorama view. Tarif per orang 10K. Sebenarnya dekat sih, tapi mahalnya bukan karena jarak tapi medan yang ditempuh. Serem cuy. Sampai di panorama view cuma bisa melongo. Masya Allah bagusnya. View air terjun dari panorama view Lumajang lebih bagus menurut saya. Lebih luas jarak pandang kita.


Hari semakin panasss. Dari panorama view, kami melanjutkan perjalanan menuju bagian bawah air terjun. "Nan serius mau turun?". "Iya Mbak". Saya paham sekali dengan karakter adik satu ini, kalo bilang iya ya iya. Baiqlah mari kita lakukan dan kita taklukkan. Sejujurnya saya belum ada gambaran sama sekali medan yang akan dilalui menuju ke bawah. Ganbatte! *singsingkan lengan baju

Kearifan lokal
Ada aturan yang harus dipatuhi pengunjung jika ingin turun ke bawah, tidak boleh sembarangan. Aturan tersebut dibuat tentu saja demi keselamatan pengunjung. Apa saja itu? Cekidot foto di bawah... Kalo melanggar hal tersebut kemudian na'udzubillah terjadi apa-apa, ya monggo ditanggung sendiri yak.


Pintu awal (sebelah kanan) menuju kesengsaraan dengkul wkwkw
Belum ada jam 12 siang, tapi panasnya super menyengat. Bismillah. Dengan semangat kami turuni anak tangga. Trek awal masih berupa tanah menurun yang dibentuk sedemikian rupa menjadi anak tangga. Wajar sih, di ketinggian seperti ini akan susah membangun anak tangga permanen. Belum lagi longsor yang mengintai. Bersabar menapaki anak tangga menuju ke bawah. Agak bawah lagi, kemudian ketemu tangga dari besi. Selama trekking, saya lebih banyak berada di belakang Nan. Hanya untuk memastikan dia baik-baik saja (atau emang saya yang ga kuat untuk jalan di depan duluan wkwkw).

Baru awal turun masih belum permanen anak tangganya
Ini serem banget bawahnya jurang (!!!)
Anak tangga terbuat dari besi
Jujur saya akui treknya luar bi(n)asa! Ga kebayang kalo ke sini pas lagi musim hujan. Hampir sampai ke bawah, ada satu jalur greget banget yang harus kami lewati. Antara keren tapi kok bikin deg-degan banget. Bayangkan, aliran air! Kami harus melewatinya untuk turun ke bawah. Tampilan Nan shalihah banget macam mau ke mall atau kondangan. Bisakah kita? Yes, we did it! Basah semua deh kaos kaki dan rok kami.

Turun tangga ini dulu
Terus jalur licin ini
Kemudian kudu basah-basahan lewatin trek ini (!)
Setelah melewati trek aliran air maka gak lama dari itu sampailah kami di bawah tebing. Aselik keren banget sensasi berada di bawah. Ngerasa keciiil dan ga ada apa-apanya gitu di hamparan semesta, uhuk. Di bawah sini ada satu warung. Alhamdulillah. Saya beli air mineral. Kami masih harus berjalan beberapa meter lagi menuju loket tiket. Lho di bawah ada loket lagi? Iyap. Per orang harga tiketnya 10K.



Kami mempercepat langkah. Sudah ga sabar mau lihat air terjunnya dari bawah. Kata orang, ini Niagara-nya Indonesia. Dari jarak beberapa ratus meter kami sudah bisa merasakan tempias air. "Nan, udah mau sampe nih". Benar saja, dibalik tebing bisa kami lihat dengan jelas ribuan (atau jutaan ya?) volume air meluncur ke bawah dari ketinggian 120 meter di atas permukaan laut. Indah banget ya Allah...! Masya Allah tabarakallah. Ga sia-sia jadi jelek nurunin ratusan anak tangga tadi. Seketika lelah kami menguap. Kemudian asik sendiri mencari tempat terbaik menikmati luncuran air yang turun ke bawah ini.



Air Terjun Tumpaksewu bisa dibilang salah satu yang paling indah di Indonesia. Bentuknya unik, memanjang seperti tirai. Kalau pas lagi cerah, air terjun ini keren banget dengan bekgron Gunung Semeru di belakangnya. Pantes aja deh skor bintangnya 5 di Tripadvisor. Ga seperti pantai yang kita bisa main-main air atau pasir di tempatnya, menikmati air terjun cukup dengan memandanginya dari kejauhan. Atau bisa juga dengan "menikmati" trek berdarah-darah menuju ke sana huhu.


Tidak berlama-lama karena Nan kebelet pipis, sementara di bawah situ gada toilet sama sekali, kami segera beranjak.

"Mau ke Goa Tetes kah?", tanya saya ke Nan

"Ayok Mbak".

"Yaudah ayoklah sekalian udah termehek-mehek kita sampe bawah sini. Daripada ntar penasaran".

Kami jalan lagi menuju Goa Tetes. Ga sampai 500 meter ketemu satu loket tiket (lagi!). Satu orang harus membayar 10K. Setelah melewati loket tiket, tempat yang pertama kali kami temui adalah Tebing Nirwana. Uh kerennya ga terungkap dengan kata-kata. It just amazing!



Tebing Nirwana
Kami sangat menikmati berada di Tebing Nirwana. Piknik bawa makanan sambil mandi-mandian bakalan seru banget deh di sini. Jam menunjukkan sekitar pukul 2 siang. Menuju Goa Tetes ternyata masih harus naik tangga lagi ke atas. Hayati ga sanggup, Bang. Udah deh pulang aja yuk. Nan juga kayaknya udah exhausted. Udah susah senyum wkwkw.



Telaga Biru yang ga biru-biru amat hari itu
Kami naik ke atas lewat jalur pas berangkat tadi. Sungguh-sungguh menyiksa kaki. Hanan sudah tidak kelihatan lagi. Saya cuma bisa ngos-ngosan sendiri. Lah, susah-susah kayak gini siapa yang suruh cari? Tapi gapapa deh selama menyenangkan hati. (Hiyaaa berhasil bikin tulisan akhiran i semua wkwkw!)

Thanks to minuman coklat yang udah kasih sedikit stamina
Alhamdulillah. Seneng deh Allah kasih kesempatan ke sini lagi di musim yang berbeda. Agustus 2017 lalu berkunjung pas musim hujan. Nuansanya berkabut gimana gitu. Keren! Kali ini (November 2019) masih musim kemarau dan panas cerah. Gunung Semerunya kelihatan masyaAllah. Pas baru sampe atas tadi, selesai trekking melewati ratusan anak tangga, abis mengalami episode kecapekan parah, exhausted, rasanya ga mau lagi deh turun-turun ke bawah kalo ke sini. Tapi pas sampe rumah nih, udah tidur udah istirahat, rasanya gasabar mau ajakin adik-adik Ar-Rifah kesini wkwk. Kuingin melihat mereka sengsara *seringai jahat

"Saya nih tipe yang ga masalah datang ke suatu destinasi wisata berkali-kali. Bahkan dengan orang yang sama. Karena pasti Allah kasih feel yang beda di tiap kunjungan itu".

"Iya Mbak, Nan juga".

Setelah sekian lama, baru ini bisa traveling lagi sama Nan. Saya pikir sudah ga akan mungkin, karena dia sudah menikah. Alhamdulillah masih Allah kasih kesempatan. Berjalan bersama adik satu ini rasanya santuy. Kami tidak perlu banyak bicara, namun saling mengerti. Nan bisa mengikuti alur saya dengan baik, begitupun saya mencoba untuk mengikuti inginnya. Alhamdulillahiladzi bini matihi tathimushalihaat. Semoga kapan-kapan bisa Q-time gini lagi yah (bareng suami Nan juga gapapa hehe).


Sampai di parkiran dekat loket tiket, kami menuju mushola terlebih dahulu untuk menjamak shalat Zuhur dengan Ashar. Ya Allah gini banget mau ketemu menghadap Allah, kotor semua bajunya wkwkw. Jam 4 sore kami memulai perjalanan pulang. Alhamdulillah jalanan tidak terlalu ramai. Tapi tetap saja, truk-truk pengangkut pasir dari aliran lahar dingin Semeru kami temui tiap beberapa kilometer sekali. Sekitar jam 6 sore kami sampai dengan sehat selamat sentosa di Kota Malang. Masih belum terlalu malam dan dari pagi kami belum makan nasi sama sekali, saya mengajak Nan makan dulu sebelum berpisah.

"Nan mau makan apa? Saya yang traktir yok".

"Nan manut".

Akhirnya satu porsi sate kambing dan gule Bang Saleh menjadi penutup perjalanan kami yang lelah (tetapi lebih banyak bahagianya) malam itu.
***

Sabtu, 28 September 2019

Impian di Masa Depan


Menurut kamu, seberapa penting seorang wanita memiliki impian?
Kita pahami bersama bahwa kelak ketika menjadi seorang istri, diri kita, ketaatan kita, sepenuhnya milik suami. Dalam sebuah hadits disebutkan, "Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan ramadan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya: 'masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang engkau mau'." (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin 'Auf radhiyallahu 'anhu dan dinyatakan Hasan oleh Syaikh Al-Albany). Nah, logikanya nih ya, kalo dengan ngelakuin beberapa hal di atas kita udah bisa milih pintu surga, terus ngapain kita 'capek-capek' nyari kegiatan yang lain?

Saya sempat bertanya pada seorang teman yang belum lama ini menikah, boleh (atau bisa)-kah seorang istri mempunyai mimpi-mimpi yang ingin dicapai? Gini jawabannya (panjang bett dah):

[sebagai permulaan... Memiliki dan mencapai impian adalah hak setiap manusia terlepas dari jenis kelamin, usia, agama, ras, dan status dalam masyarakat. Merupakan bagian hak "hidup" dalam HAM. Bayangkan, menjalani hari selaras dengan yang diimpikan setelah berusaha mencapainya, hidup terasa "hidup"!

Jadi jawabannya, pendapat saya, tentu saja boleh dan bisa! Tapi ada tapinya...

Tidak hanya dari faktor internal diri kita (motivasi, kemampuan, kesempatan) namun juga faktor eksternal yang tidak mungkin dikesampingkan. Sebagai wanita yang sudah menikah tentu saja: suami. Kalau sudah punya anak ya, makin panjang dan dalam lagi.

Bagaimana suami memberikan istri keleluasaan, kesempatan, kepercayaan, dukungan moril dan materiil. Menyadari bahwa sang istri selain menjadi seorang 'istri' adalah sosok individu yang berhak dan butuh untuk berkembang, mengaktualisasikan impian, hobi, kemampuan dan ilmunya. Batasannya adalah nilai-nilai dalam Islam. Apa tujuan dan bagaimana cara istri mencapai impian. Lalu bagaimana suami tetap memberikan pengarahan tidak serta-merta dibiarkan begitu saja. Bagaimanapun, suami tetaplah pemimpin keluarga. This is unpopular opinion out there- among millennials- but i'm in].

Kalau menurut pendapat saya pribadi, amatlah penting seorang wanita (yang kelak akan menikah) untuk memiliki impian atau sesuatu yang ingin dicapai atau digapai. Tentunya hal itu dapat menjadi motivasi dalam menjalani hari-hari yang dilewati. Allah saja menyiapkan surga untuk manusia jadikan cita-cita tertingginya, bukan?! So, rasanya ga salah dan ga masalah kalo kita juga memiliki impian, sebut saja "impian duniawi". Asal cita-cita atau impian itu kita niatkan untuk mencari ridho Allah dan masih di jalan-Nya, kenapa tidak? Kalo kata adik-adik Ar-Rifah, "kita gapernah tau lewat amalan mana kita masuk surga, mbak. Jangan-jangan ibadah yang disebutin di hadits tuh masih kurang untuk kita lakuin sebagai syarat masuk surganya Allah". Kompak mereka menjawab bahwa seorang wanita pun perlu untuk memiliki impian atau hal-hal yang ingin dicapai.

Mau seperti apa peranmu? InsyaAllah selama itu kamu niatkan untuk mencapai ridhonya Allah dan atas izin dari suami, lakukanlah! Dalam Al-Quran dan lewat kisah-kisah yang disabdakan oleh Rasulullah, Allah berikan semua contoh keteladanan. Mau sehebat ibunda Khadijah yang mengukir peradaban dari dalam rumah? Menjadi istri dan ibu terbaik bagi Rasulullah SAW dan anak-anaknya. Bahkan Allah kirimkan salam dan menyediakan sebuah istana di surga untuk beliau. Atau seperti Aisyah yang berkontribusi di luar rumah dan berkat kepandaian yang Allah karuniakan padanya maka sampailah pada kita hadits-hadits Rasulullah SAW. Atau seperti Fathimah Al-Fihriyyah, wanita muslim pendiri universitas tertua di dunia, Al-Qarawiyyin? Atau sehebat Ratu Balqis dalam memimpin sebuah negeri yang besar? Dan masih banyak lagi contoh lainnya jika kita ga malas untuk mencari tahu dan mengkaji.

Pernah baca pepatah ini, "If you shoot the moon, you may hit the stars". Jika kamu membidik bulan, setidaknya (kalau bidikanmu meleset) akan mengenai bintang. Sederhananya, misalkan kamu mencita-citakan bisa lanjut kuliah S2 di UK atau Norway, setidaknya kalau Allah belum memberikan rizqi ke sana, bisa jadi Allah memberikan rizqi S2 di Malaysia atau Thailand. Masih sejurus. Begitupun impian-impian yang saya tuliskan di bawah ini, semoga bisa menjadi semacam peta atau arahan dan pengingat ketika langkah sudah mulai keluar dari jalurnya. Atau menjadi semacam oase ketika diri sudah mulai lelah berjalan.

Jangka pendek (1 sampai 2 tahun ke depan)
Membaktikan diri sepenuhnya pada suami. I think it's enough. Bismillah. Tiada daya dan upaya melainkan atas izin-Nya.

Jangka menengah (5 tahun ke depan)
Melanjutkan sekolah. Selalu saya tekankan, bahwa belajar adalah bentuk penghargaan pada diri sendiri. Selain itu, untuk saya belajar adalah sebentuk rasa syukur yang atas karunia akal pikiran yang sudah Allah berikan. Hal terbaik yang bisa saya lakukan dalam rangka mensyukuri betapa hebatnya Allah ciptakan otak manusia. Dan mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Dalam Al-Quran jelas disebutkan bahwa tidak sama antara orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui. Yang harus ditekankan, belajar di sini bukan hanya dalam rangka memenuhi hasrat pribadi, rasa haus akan ilmu namun belajar itu sendiri harus memberikan kemanfaatan pada orang lain. Jadikan ilmumu untuk membuat orang lain menjadi ingat dan dekat dengan penciptanya.

Membuat artikel ilmiah dan dimuat di jurnal nasional. Saya memiliki seorang senior di kantor yang seringkali tulisan ilmiahnya menang lomba tingkat nasional atau dimuat di jurnal-jurnal perpustakaan (dalam dan luar negeri). Apa hikmah yang bisa saya ambil? Beliau selalu menggunakan waktu yang tersedia untuk berpikir dan mengkaji (dibanding scrolling media sosial atau nonton film unfaedah). Janganlah waktu yang kamu miliki terbuang melainkan ada kemanfaatan yang bisa kamu ciptakan di situ. Untuk saya, membuat artikel ilmiah sebanyak-banyaknya akan menjadi pilihan yang tepat. Bismillah.

Membuat artikel ilmiah dan dimuat di jurnal internasional. Keinginan ini bukan semata tentang prestise atau ambisi semata, melainkan agar bisa memberikan kemanfaatan yang lebih banyak dan lebih luas. Muslimah berkontribusi untuk dunia, amiiin.

Menulis buku tentang traveling dan library science. Kalau kata Ali bin Abi Thalib, ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Salah satu cara untuk meraup manfaat sebanyak-banyaknya dari 'sedikit' ilmu yang kita miliki adalah menyebarkannya lewat tulisan kemudian membukukannya. Tulisan kita akan mendapatkan pembacanya sendiri. Jadi gaperlu takut atau khawatir ga kebaca atau dibaca orang lain. Bismillah, semoga apa yang kita tulis akan Allah catat sebagai salah satu amal jariyah yaitu "ilmu yang bermanfaat".

Memiliki saluran pribadi (media sosial) untuk menyebarkan sedikit ilmu yang Allah titipkan. Saya akui, saya bukan seseorang yang pandai berbicara di depan umum. Namun meski begitu tidak ada alasan untuk tidak "berdakwah". Bukankan tiap-tiap kita Allah bebankan, Allah berikan tugas untuk menjadi seorang dai? Salah satu cara yang saya pilih adalah melalui dunia maya (virtual). Apa yang ingin saya lakukan? Saya ingin menggunakan media seperti Youtube atau Instagram dan website, dirancang dan dibuat sedemikian rupa sebagai sarana untuk mengedukasi oranglain. Dalam bidang apa? Tentunya yang saya mengerti, misal traveling (wa bil khusus halal tourism) dan dunia literasi. Sharing is caring. Berbagi itu peduli.

Pergi ke Nepal dan Maldives. Yang satu ikon pantai paling indah di dunia (Maldives), satunya lagi ikon dataran tinggi paling indah di dunia (Nepal). Biarlah ini terlihat dan terkesan "duniawi", tapi sesungguhnya saya memiliki misi pribadi untuk bisa berada di dua tempat tersebut. Bukan hanya sekedar memenuhi hasrat wanderlust, hasrat menjelajah, tapi menjalankan tugas sebagai seorang pejalan muslim: 'mengislamkan' bumi Allah di tempat di mana dia pijak. Di Nepal, saya ingin melantunkan zikir di tiap tangga menuju puncak Annapurna Base Camp. Sama halnya dengan di Maldives, yang sebenarnya adalah negara Islam, tapi kebanyakan yang datang adalah para turis yang auratnya kemana-mana.

Hafal 5 juz Al-Quran. Apalah arti hari-hari yang kita lewati tanpa membersamai Quran? Ngerasa kebangetan banget deh kalo belum memaksa diri untuk mulai menghafal Quran. Memangnya mau, nanti kalo pas shalat berjamaah sama anak-anak yang dibaca surah Al-Ikhlas mulu?! Malu dong, Ibu Pembangun Peradaban.


Jangka panjang (10 tahun ke depan)
Memiliki travel agen wisata halal. Salah satu passion yang saya miliki adalah di bidang tourism atau pariwisata. Bagaimana caranya mengemas sesuatu hal yang kita sukai menjadi sebentuk ibadah yang kita persembahkan pada Sang Rabbul Izzati? Buat saya, menjalankan dan mengembangkan bisnis wisata halal adalah jawabannya. Saya tidak hanya ingin memfasilitasi oranglain untuk berwisata, lebih dari itu, menyediakan dan memberikan akses kemudahan untuk beribadah bagi para traveler. Misal, dengan memasukkan Shalat Dhuha ke dalam itinerary yang disusun atau berwisata saat bulan Ramadan tanpa khawatir kehilangan kesempatan untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya. Saat ini bisnis wisata halal sudah mulai berkembang dan dalam beberapa tahun mendatang akan terus berkembang. Insya Allah, prospek yang baik.

Memiliki photo book hasil tangkapan kamera sendiri. Syukur-syukur bisa menyelenggarakan mini pameran foto-foto yang berhasil saya abadikan dari awal memiliki kamera sampai dengan saat ini. Amiiin.

Menyantuni anak yatim. Tak perlu berpanjang lebar, cukup hadits Rasulullah SAW ini menjadi penguat, dari Sahl bin Sa'ad radhiallahu 'anhu dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini ", kemudian beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau SAW, serta agak merenggangkan keduanya". (HR. Bukhari)


Note:
InsyaAllah tulisan tentang impian ini masih to be continue alias berlanjut

Senin, 16 September 2019

Cerita Perjalanan Malang - Madiun Naik Motor (Bagian 2)


Buat saya, semua tempat baru yang saya datangi itu menarik (atau setidaknya punya sisi menarik). Walau kota ini tidak punya pantai, atau tempat wisata wah seperti di Malang, tapi saya suka kota ini (dan semua kota wkwkw). Apa yang saya suka dari Madiun? Pertama, kotanya tenang. Tipikal "kota baik-baik" dengan penduduknya yang damai. Kedua, makananya enak-enak dan murah. I like murah!  Ketiga, walau cuacanya panas tapi udaranya adem. Mungkin pengaruh dari banyaknya sawah. Entahlah.

Hari ke-2 di Kota Brem, Madiun. Pagi ini agak santuy di rumah Bue. Dikasih sarapan sama tetangga depan rumah Bue, nasi gegok. Simple saja nasi kukus berbungkus daun, dengan lauk irisan ayam dan bumbu urap pedas. Setelah saya baca-baca, nasi gegok ini khasnya Trenggalek, bukan Madiun. Saya juga dibuatin bue seduhan minuman herbal yang semalam kami beli di alun-alun. Enaknya hidup.

Minuman herbal *entah apa namanya
Nasi Gegok
Setelah mandi, saya siap-siap menuju rumah saudara sepupu yang ada di daerah Caruban. Saya pergi sendiri saja kali ini, tidak ditemani Bue. It's okay i am strong enough. Jarak dari Madiun kota ke Caruban kurang lebih 30-40 menit. Jalan yang pernah saya lalui bersama Tika Sari anaknya Pak Rois *baper. Hiks. Kalo siang gini jalanan lintas Madiun sepiii. Sesekali ada bus Mbak Mira atau Mbak Eka yang tiba-tiba nyalip (karena Mira Eka sama kayak senior, selalu benaar).

Sudah hampir dekat rumah saudara, saya agak lupa tepatnya rumahnya yang mana. Aduuh. Celingak-celinguk. Qadarullah, mbak sepupu saya jalan pulang dari warung. Alhamdulillah.
"Kowe ngopo koyo wong ilang?"
"Aku lupa rumahmu yang mana wkwk".

Madiun Kota Sawah
Setelah melepas rindu dengan keluarga (Mba Atun dan keluarga, Pakde Rino dan Mak Ini) perbaikan gizi deh dimasakkin enak-enak. Rindu masakan rumaaah, huwaaa. Niatan saya bertemu memang hanya untuk silaturahim saja, tidak neko-neko atau mengajak pergi kemana. Sehabis Isya kami keluar menuju Taman Kota Caruban. Malam itu sedang diadakan Festival Jaranan atau Kuda Lumping. Sebenarnya, 'nontonin setan' hiyyy. Rada seram juga. Sambil ngeliat sambil banyakin istighfar. Dulu zaman saya kecil di kampung sering banget lihat jaranan di acara khitanan tetangga sekitar kampung. Sekarang udah gede gini, nontonnya dengan perspektif yang berbeda. Jadi ga nyaman gitu. Ga berlama-lama nonton, karena ruame banget juga penontonnya. Kami beli sate tahu dan beberapa jajanan ringan lainnya kemudian pulang.

Serem ih (zoom-in deh matanya ke atas)
Gerobak jualan sate tahu

Day 3
Saya adalah penganut paham bahwa sunset itu indah dimanapun adanya. Ga harus di pantai atau di puncak gunung. Jadilah sehabis shalat subuh di hari terakhir di Madiun, saya keluar menuju sawah yang ga jauh dari rumah saudara saya, untuk melihat matahari terbit. Awalnya mau ngajak krucils, eh mereka masih pada nyenyak tidur. Giliran dibangunin malah narik selimut lagi. Baiklah, pergi sendirian. Krik krik krik. Saya berhenti di pematang sawah. Matahari masih belum mau muncul. Hanya semburat keemasan yang nampak di ufuk timur. Satu dua petani melintas mengayuh sepeda menuju sawah garapannya. Saya lafazkan zikir pagi sembari menunggu. Agak awkward juga kalo pas ada petani yang lewat, terus diliatin. Ngapain mbak sendirian di pinggir sawah pagi-pagi? Jomblo ya? wkwkw. Biarin deh.

Berikut momen yang berhasil saya abadikan. Masya Allah tabarakallah.

 Sepanjang mata memandang hanya hijau persawahan yang dilihat. Hijaunya diperindah dengan gubuk kecil tempat petani sekedar melepas lelah sejenak.

 Beberapa saat sebelum matahari terbit

Dan matahari pun muncul kemudian sinarnya menerangi seluruh penjuru.

Such a magical moment! Ngeliat petani mengayuh sepedanya, menuju ke "tempat kerjanya" di alam, mengusahakan nafkah halal untuk keluarganya. Masya Allah tabarakallah. 

Pulang dari sawah, krucils udah pada ngilang. Ternyata mereka nyariin saya ke sawah -_- Rasanya baru sebentar, sudah harus siap-siap ke rumah Bue lagi. Belum ingin pergi rasanya. Siapalah yang tak ingin berlama-lama berkumpul bersama keluarga? Kali terakhir menikmati masakan bude. Saya menghabiskan lele 3 ekor, wkwk doyan apa ngefans? Lagi-lagi, perbaikan gizi.

Jadi anak shalih, shalihah ya kids
Setelah berpamitan dan dibekali buanyak sekali bawaan, saya melaju menuju Kota Madiun. Ssst, belum mandi. Rencana nanti mandinya tempet Bue aja, ehe. Karena kali ini lewat jalan belakang, bukan jalan utama seperti saat berangkat kemarin, saya diantar oleh Mbak Atun dan suaminya sampai di dekat rumah Bue. Biar ga nyasar. Ternyata jalannya lurus saja dan lebih dekat.

Sampai rumah Bue, kami menunggu Irul dan Amaliya Rahmatin alias Nona Langit yang qadarullah lagi silaturahim ke Madiun. Sekalian deh meet up. Ada beberapa destinasi yang rencananya akan kami kunjungi sebelum saya dan Bue kembali ke Malang siang (atau sore) nanti. Setelah Irul dan Liya datang, kami langsung memacu motor menuju tempat pertama yaitu Taman Trembesi yang letaknya di dalam kota. Let's go!


Jarak dari rumah Bue ke Taman Trembesi ternyata oh ternyata, deket banget! Saking deketnya sampe saya takjub, loh kok tau-tau udah sampe?! Tidak langsung masuk, kami masih menunggu satu orang lagi (Hana). Sekilas lihat, tempat ini mirip dengan tempat wisata Djawatan yang ada di Benculuk, Banyuwangi yang sedang hits. Cuma mungkin bedanya di Taman Trembesi pepohonannya tidak sebanyak seperti yang ada di Djawatan. Pohonnya besar, kokoh dan rindang. Bikin adem. Minta jodoh yang laksana pohon Trembesi ini rek, wkwk. Tidak lama kemudian Hana datang dan tanpa menunggu lama kami segera masuk untuk mulai menjelajah tempat ini.



Taman Trembesi terletak di Jalan Rimbakaya, Kartoharjo, Kota Madiun. InsyaAllah ga sulit dicari karena jalanan di kota ga terlalu sulit dihafal kok *shombhong. Taman Trembesi sebenarnya merupakan tempat penyimpanan kayu milik KPH Madiun. Luas areanya mencapai 4,5 hektar dan hanya sekitar 70 persen yang digunakan sebagai tempat penyimpanan. Maka dari itu, daripada nganggur ga menghasilkan, lebih baik dijadikan tempat wisata. Tentunya dengan ditambah dengan beberapa fasilitas dan spot selfie.

Harga tiketnya murah banget cuma 6K per orang
Nona Langit yang lagi berada di atas pohon
Saya menikmati berada di sini. Benar-benar harta karun "oksigen" di tengah kota. Tidak hanya bersantai menikmati udara di antara pepohonan trembesi, pengunjung juga bisa menikmati kuliner di cafe yang tersedia. Untuk menguji adrenalin, bisa menjajal ATV disewakan. Pagi itu ada beberapa rombongan yang datang. Santai saja, menggelar tikar di bawah pepohonan rindang sambil makan bersama keluarga. Yang belum berkeluarga mana suaranya? wkwk.





Pengalaman pertama kali seumur hidup untuk saya naik ATV. Di kafe dekat pintu masuk tadi kami sudah tanya, satu orang bayar 25K dan hanya 3 kali putaran. Kurang sreg sama medannya yang luasnya cuma selebar lapangan voli. Kami masuk lagi cari persewaan yang di dalam, dapat harga 30K untuk 2 kali putaran. Area jelajahnya lebih panjang dan lebih menantang. Hitungannya per ATV, bukan per orang (jadi 30K dibagi 2 orang). Kami pilih yang di dalam.

Bue dan Irul (yang biasa bawa motor gigi) di depan. Saya dan Liya asik aja dibonceng di belakang. Seru banget masya Allah. Sebenarnya track yang kami lewati basic banget, tapi seheboh itu. Yah namanya aja cewek, ga seru kalo ga teriak-teriak heboh. Harus nyobain ini ya kalo ke Taman Trembesi.


Ada ustadzah naik-naik kayak begini ya Allah *tepok jidat

Dari Taman Trembesi, kami lanjut ke tujuan berikutnya yaitu makan Pentol Corah. Pada kunjungan saya yang pertama tahun 2017 lalu saya sudah kemari. Rasanya memang bikin nagih. Pedasnya itu lho yang ngangenin. Uhuk. Ga sampai setengah jam kami sampai di tempatnya. Ada banyak rumah yang berjualan pentol corah di depannya. Kami menuju salah satu rumah yang ternyata tempat yang sama saat pertama kali saya datang 2 tahun lalu.




Satu piring sedang pentol corah dihargai hanya 5K. Murah khan. Pentolnya berbentuk irisan kotak, bukan bulat seperti pada umumnya. Rasanya biasa saja sebenarnya, tidak kuat dagingnya (bahkan kayak ga berbahan dasar daging deh cuma tepung aja). Yang bikin mantap membara adalah saos pedasnya. Huuham! Selain pentol ada juga ceker crispy. Favorit saya nih karena empuk banget, setulang-tulangnya bisa dimakan (kayaknya sih dipresto). Makan pentol corah pedas paling nikmat ditemani segelas es murah meriah (ada banyak pilihan).

Katanya, jangan ngaku udah ke Madiun kalo belum makan pentol corah. Sepakat?


"Mbak, masih mau es tebu?", Bue menawarkan.
"Mauk". Cepat sekali saya jawab wkwkw.

Es tebu seger banget murah cuma 2,5K
Kurang lebih jam 3 sore, perjalanan pulang menuju Malang dimulai. Sebelumnya isi bensin terlebih dahulu di daerah Saradan. Bue rada gelisah bawa motor (efek kecapekan kali ya, nonstop). Berkali-kali doi kehilangan konsentrasi sehingga motor kami masuk ke lubang-lubang jalanan (saya sengsara di belakang wkwk). Masuk Nganjuk, saya gantian yang bawa motor. Ritmenya jadi sedikit melambat karena gabisa akutuh bawa motor ngebut-ngebut, hwek (bilang aja gabisa nyalip mobil). Jadilah bawa motor ditemani angin sepoi-sepoi. Alhamdulillah saya ga ngantukan. Harusnya kami mengejar waktu karena mau mampir dulu ke tempat wisata baru di Kediri. Alhamdulillah sampai di tempatnya masih buka. Ada sekitar sejam kuranglah untuk keliling sebentar.

Jam 17.30 kami lanjutkan perjalanan lagi. Hari sudah mulai gelap. Awalnya saya yang mau bawa motor sampai daerah Kandangan (Kediri), tapi Bue meminta untuk bawa lagi. Jalur yang cukup menantang dari mulai Kasembon sampai Kota Batu. Siang aja menantang, apalagi malam hari. Sepanjang jalan saya lebih banyak memejamkan mata (bukan tidur lho ya, saking parnonya sama kepadatan jalan) dan banyak-banyak istighfar. Belum lagi kondisi jalan yang begitu gelap tanpa lampu jalan. Ga berani nengok ke belakang, hiyyy. Alhamdulillah sekitar jam 9 malam sampai di kontrakan Ar-Rifah terrindukan (kasurnya). Harusnya bisa lebih cepat, tapi tadi di Batu mampir dulu beli Burger Buto.

Kalau kondisi lancar, perjalanan Malang - Madiun dapat ditempuh sekitar 4,5 jam dengan mengendarai motor. Rute yang kami lewati: Kota Malang - Kota Batu - Pujon - Ngantang - Kasembon - Kandangan (Kediri) - Pare - Papar - Nganjuk - Saradan (Madiun Kabupaten) - Caruban - Kota Madiun. Pulang ke Malang, kami melalui rute yang sama. Selama perjalanan pulang pergi (plus keliling di kotanya) isi bensin full tank sebanyak 3 kali. Alhamdulillah ga ada drama pecah ban atau motor macet dan lain-lain.

Tips berkendara motor dari Malang ke Madiun : (1) Numero uno dan yang paling penting, bulatkan tekad teguhkan niat dan minta keselamatan sama Allah, Maha Pelindung, (2) Pastikan motor dalam kondisi fit, diservis dulu sebelum pergi lebih baik, (3) Perhatikan waktu keberangkatan, kalau bisa pilih di jam-jam yang kira-kira jalanan ga dipenuhi sama bus-bus lintas dan truk besar, (4) Istighfar sepanjang perjalanan dan berhati-hati dalam berkendara, dan (5) Mampir tempat makan atau masjid sekiranya diri sudah gabisa diajak kompromi dan konsentrasi lagi.

Sora di depan rumah Bue