Rabu, 30 September 2020

Seberapa Dalam Kamu Kenal? : Bu'e (Faizah) yang Baik Hati


Judulnya gitu amat? Iya, ga nemu judul lain yang pas selain judul di atas. Sebaik itu memang orangnya, untuk saya. Selasa seminggu lalu, Bue pulang ke Madiun; Pulang yang ga balik lagi; Pulang yang udah bawa semua barang-barangnya dan hanya meninggalkan kenangan untuk kami yang tersisa di Malang. Srooot😷

***
Suatu hari ketika saya lagi menikmati hari-hari pandemi di rumah (Lampung), ada pesan WA masuk. Dari Bue, "Mbaaa. Kurindu Mba Juleee". Kami memang sudah hampir 2 bulanan ndak ketemu. Wkwk.
Saya suka Bue jujur akan perasaannya ke saya. Saya suka siapapun yang jujur akan perasaannya ke saya.
 
***
Awal jumpa dengan Bue... (oke baiklah nama sebenarnya adalah Faizah. Saya lupa kapan tepatnya saya manggil doi dengan sebutan Bue, tapi itu udah lumayan lama sih. Gara-gara ikutan Ade, seingat saya). Awal jumpa dengan Bue ga terlalu jauh beda kayak ketemu Ade, akhir tahun 2013-an. Bue, Ade dkk datang ke Malang jadi mahasiswa baru, saya jadi pegawai baru (di kampus yang sama). Bisa dibilang kedatangan kami ke Malang hampir bersamaan. Ohiya masih tentang Bue dan Ade; Kalo Ade adalah adik kontrakan yang populer versi heboh; Bue ini populer versi kalem. Gitusih menurut saya awal-awal dulu.

Saya agak lupa kapan tepatnya kami mulai berinteraksi; Mungkin karena saya orangnya pemaluπŸ™ˆ dan bukan tipe pemulai pembicaraan, jadi kurang dikenal di kalangan adik-adik kontrakan 2013. Mereka pastinya lebih mengenal Ratih, sahabat saya, mbaknya mereka. Tahun demi tahun dilewati, kami berbeda kontrakan, hingga akhirnya tahun 2017 Bue masuk ke Kontrakan Ar-Rifah. Sebenarnya sebelum satu kontrakan, ada beberapa momen yang kami sempat bertemu sekilas lalu. Kesan awal tentang Bue adalah orangnya 'ibu-able'; kebalikan Ade banget yang 'adik-able'.
 

Bue adalah orang yang selalu bisa diandalkan (biidznillah). Tahun 2018 lalu saat seorang sahabat baik saya pindah dari Malang ke Bandung, Bue yang bisa kami andalkan untuk mengirim barang-barangnya yang masih tertinggal di Malang. Semua dikerjakannya dengan sangat baik, masya Allah. Untuk hal-hal seperti, kirim paket enaknya pake apa dan di mana tempatnya ya? Kalo beli ini di mana ya? Atau pertanyaan-pertanyaan lainnya seputar daily-life maka saya tahu harus bertanya ke siapa haha. Persoalan di kontrakan semacam belum bayar listrik, galon habis, sapu dan alat pel butuh untuk ganti baru, Bue-lah orangnya yang akan melakukannya πŸ˜…πŸ˜†

Bue begitu baik pada saya. Ada banyak momen yang tentunya gabisa saya sebutkan satu-satu kebaikan yang udah diberikan ke saya (tapi Allah Maha Tahu dan malaikat-Nya mencatat). Ketika saya pulang lembur, Bue akan dengan baik hati menyisihkan makanan untuk saya. Simple but deep. Saya sangat menghargai sekecil apapun kebaikan yang orang lain lakukan untuk saya, yang Bue lakukan untuk saya. Kadang hati saya bertanya-tanya, mengapa dia begitu baik pada saya? Apakah akan seperti itu juga perlakuannya jika bukan saya? Entah ya, hanya Allah dan Bue yang tahu.
 
 
Bue itu kebalikan saya banget; Kalo saya gapernah terlalu memperhatikan hal-hal kecil dan detail, Bue do that. Bue akan menghidupkan lampu di atas kompor ketika saya masak (dan mesti lupa untuk nyalainnya); Bue yang akan selalu memastikan bak kamar mandi terisi air. Bue yang seringnya membenahi banyak hal di kontrakan; memastikan pintu depan dikunci ketika malam menjelang tidur, membeli saringan air harga 3K di Sardo agar air untuk mandi kami tidak kotor, membeli barang ini itu yang "memudahkan" dan "terlihat lebih rapi". Bue melakukan hal-hal yang kayaknya ga mungkin akan saya lakukan (atas inisiatif sendiri). Bue adalah orang sangat penuh dengan perhitungan; Apa-apa yang akan dilakukannya, sesederhana menjemur pakaian saja, akan sangat diperhitungkan. Really appreciate it!

***
Beberapa waktu terakhir ini sebelum Bue pulkam, kami banyak menghabiskan waktu bersama. Kami sempat ke Blitar (with Himmah) dan ada satu waktu kami makan steak berdua di Alun-alun Batu (di momen ini kami benar-benar deep-talk, setelah sekian lamanya bertemu dan bersama). Kami juga melakukan perjalanan ke Madiun bersama (dengan motor masing-masing biar kerasa feel touring-nya wkwk). Salah satu momen yang sangat saya syukuri adalah bisa sekalian silaturahim ke rumah Bue di Boyolali pas ke Madiun kemarin. Bahagia aja bisa melihat langsung orang tua dan saudara-saudaranya; merasakan bagaimana rasanya "menjadi Bue di rumah".
 
 Madiun - Tawangmangu - Boyolali

Bue adalah teman bicara yang baik; Teman bertukar pikiran atau untuk menambah pengetahuan. Kalo kami ngobrol lebih banyak nyambung dibanding ga nyambungnya wkwk. Kalo lagi bertiga sama Himmah, maka Bue yang akan jadi penafsir antara saya dengan Himmah yang kadang ga ketemu apa yang diomongin😁 Kadang juga jadi teman nge-joke yang retjeh banget deh.
 
Ketika Bue ga ada, satu dari banyak hal yang akan saya rindukan adalah masakannya. Dari awal Bue masuk ke Kontrakan Ar-Rifah dan mulai menjalankan piket masak, saya selalu suka masakannya. Beberapa kali saya cerita ke 2 orang teman baik saya betapa saya ngefans masakan buatan Bue; always klop di lidah apapun masakannya, masya Allah. Kalo Bue masak tuh selalu niat (bukan berarti yang lainnya ga niat lho ya); Masakannya ga hanya enak di lidah tapi juga rapi, well-cooked; Kadang sebelum mulai masak konsul dulu sama umiknya di Boyolali sana.
 
Mangut lele terakhir  yang spesial dibuatkan untuk saya beberapa jam sebelum Bue pulang kampung
 
Waktu-waktu yang kami lewati tidaklah selalu 'baik'. Ada saatnya kami 'hanya diam' untuk berapa saat bahkan bisa beberapa hari. That's my fault, i know. Itu salah saya untuk ga jadi dewasa di hadapannya. Bisa dibilang, Bue yang paling banyak dan sering kena 'badmood' saya dibanding semua adik-adik di Kontrakan Ar-Rifah wkwkw, maafkan daku BueπŸ™ˆπŸ™‰
 
***
Awalnya saya tidak terlalu notice, tapi semakin intens interaksi, semakin bisa saya rasakan kalau Bue itu sedikit moody (atau banyak ya? wkwk). Jujur kalo dia sedang dilanda mood yang kurang baik, saya lebih suka untuk menghindarinya. Bukan apa-apa, buat saya Bue adalah orang yang helpful, menyenangkan dll, jadi saya gamau 'menghadapinya' ketika Bue tidak sedang berada di kondisi yang selama ini saya kenal. So sorry...

***
Ada beberapa waktu saya kesal atau jengkel ke Bue; Entah Bue bisa merasakan ini atau ndak. Tapi saya akui, saya yang lebih sering membuatnya kesal; atas ketidakpekaan saya, atas ke-gamau tau-an saya, ketidak-dewasaan saya, dan masih banyak lagi. Maafkan ya Buk... Mungkin kalau suatu hari Bue mau membicarakannya, akan saya klarifikasi semua perbuatan tidak menyenangkan yang pernah saya lakukan ke Bue, wkwkw.

Kadang saya merasa kalau kami ga akan bisa disatukan. Dua orang yang moody ini akan sulit untuk menghabiskan waktu bersama. Dua orang yang punya sifat kayak saya yang begini dengan Bue yang begitu akan susah kliknya. Tapi yah lagi-lagi Allah Yang Maha Mempersatukan Hati.

***
Saya akui, untuk bisa jadi seorang mbak buat Bue, masih sangat (sangat) jauh. Gimana saya mau jadi mbak untuknya kalo dia yang lebih banyak 'membenarkan' saya? Di hadapan Bue, saya lebih nyaman menjadikannya 'partner' dibanding seorang 'adik', seperti adik-adik lainnya.

***
Dengan segala yang Allah titipkan padanya (kedalaman pikir, kepekaan, kepatuhan, dan masih banyak lagi masya Allah tabarakallah) Bue adalah orang yang akan banyak memberikan kebermanfaatan bagi keluarga, teman dan sahabat, orang-orang dan masyarakat di sekitarnya. I do believe that.

***
Pada akhirnya, orang-orang yang datang pada kehidupan kita itu hanya membawa 2 hal; kebahagiaan maupun kesedihan; kesenangan atau sesuatu yang menyakitkan. Pilihan ada di tangan kita, hal seperti apa yang mau kita jadikan ingatan dari seseorang, hal-hal baik ataukah buruknya?. Untuk Bue, tentu saja saya hanya akan mengingat hal-hal baik yang dengan izin Allah, ia lakukan dan berikan untuk saya.
 
***
Malam itu, di hari dimana Bue pulang ke Madiun, saya mengirim pesan padanya, "Ayo doa ke Allah, semoga ukhuwwah ini berkekalan sampai ke surga-Nya". Baik-baik selalu di manapun Bue berada; Selalu dalam lindungan, rahmat dan kasih sayang Allah. Bue tahu, Allah sebaik tempat kita menitipkan πŸ’•

Makan steak di WSS Alun-alun Batu; A simple gift to celebrate sidang skripsinya

Rabu, 29 Juli 2020

Tangkahan Ecotourism : Hidden Gem di Kabupaten Langkat Sumatera Utara


Pertama kali tahu tentang Tangkahan, itu dari Tika (tahun 2017). Waktu itu Tika bilang gini, "nanti kalo Mbak main ke rumah Tika, Tika ajakin ke Tangkahan". Menurut Tika, kampungnya gapunya tempat wisata yang worthed it. Jadi satu-satunya tempat yang sekiranya 'pantas' untuk ngebawa teman jauh kesana ya Tangkahan itu. Bahkan ketika Tika menjelaskan tentang Tangkahan, it just like..."tempat biasa, sungai-sungai gitu; kita bisa mandi di sana". Itu aja. Terus coba deh nyari tempatnya lewat tagar di Instagram, eh kayaknya tempatnya ga 'sebiasa' yang Tika ceritain deh. Inimah bagus πŸ‘€ Kemudian setelah benar-benar ngikuti beberapa akun pariwisata Sumatera Utara, apalagi setelah liat banyak bule yang datang ke tempat itu sambil mandiin gajah, whoaaa surga tersembunyi! (di Thailand ada paket wisata yang salah satu itinerary-nya mandiin gajah gitu - Elephant Jungle Sanctuary Chiang Mai). Lalu belum lama ini juga Mas Rangga-nya Cinta (Niko Saputra) syuting di sana.

Pas Tika mau walimatul 'urs Agustus 2019 kemarin, Alhamdulillah Allah kasih kesempatan untuk bisa ke Sumatera Utara lagi (sebelumnya Juni juga kesana dalam rangka Trip Sumatera, tapi belum sempat ke Tangkahan). Awalnya saya pengen banget ke Danau Toba; udah matang banget rencananya (sewa motor, penginapan dan sebagainya), yah calon pengantin gamau dong; takut kenapa-kenapa. Baiklah manut. Mungkin karena Tika kasihan sama saya yang ga kemana-mana, akhirnya diajak deh ke Tangkahan. Tika akad hari Minggu, kami ke Tangkahan H-3 (hari Rabu, wkwk).



Setelah melalui jalanan aspal yang halus (tapi banyak ranjaunya -kotoran sapi), kemudian jalanan berbatu yang bikin jiwa badan kami tergoncang, kemudian jalanan tanah di perkebunan sawit yang amat luas, sampailah kami di pintu masuk Tangkahan. Total perjalanan dari rumah Tika di daerah Tanjung Putus, Padang Tualang sampai ke tempatnya sekitar 2 jam perjalanan motor. Oiya kalo berkunjung ke Tangkahan, pastikan kendaraan fit dan isi penuh bensin. Daerah yang kita lalui adalah perkebunan sawit yang semakin menjauh dari peradaban. Bisa gawat kalo kenapa-kenapa.

Oiya saat berangkat tadi saya dan Tika duluan pergi. Walau Tika udah pernah ke Tangkahan sebelumnya, tapi saya gamau berharap terlalu tinggi kalo dia akan ingat perjalanan menuju kesana πŸ˜‘ Kami menyetel Maps. Pas udah mau sampai tempatnya, baru kemudian Yogi dan Sutri (adik dan sepupu Tika) menyusul.


Tangkahan Ecotourism tepatnya berada di Namu Sialang, Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat. Jika ditempuh dari Kota Medan akan memakan waktu kurang lebih 3,5 jam. Jauh ya? Iyasih, tapi terbayar sama semua pengalaman yang bakal kita dapat di sana. Sampai di loket pintu masuk, kami bukan hanya disambut oleh petugas tetapi juga deretan durian yang dijajakan 😍😍😍 membuatku bahagiaaa (!) Tanpa basa-basi saya langsung mendekati doi (baca: durian). "Itu durian asli Tangkahan, Mbak", kata bapak di loket tiketnya. Udah ga berpaling lagi pandangan saya dari buah berduri ini. Tanpa banyak mikir lagi, langsung hajaaar. Ya Allah, enaknya...😣 Durian Sumatera emang ga perlu diraguin rasanya.


Setelah sesi makan durian yang sangat memuaskan itu (harganya murah dan rasanya juara), kami segera membayar uang masuk (5K atau 10K ya per orang? Saya lupak wkwk). Parkiran sangat sepi; Sepertinya pengunjung hari itu hanya kami dan satu mobil berisi 2 orang bule dan seorang pemandunya. Kami segera bersiap untuk menjelajahi hutan luas di depan sana (ngebayangin ketemu gajah, badak, rusa, kuda nil, harimau, haish!).

Nampak di kejauhan jembatan gantung yang epik sekali; tidak sepanjang yang ada di Sukabumi (Situ Gantung) tapi cukup seru. Di bawahnya terdapat aliran sungai yang sangat lebar dengan beberapa bule yang sedang menikmati river tubing. Wah udah ga sabar nih. Jom!




Setelah menyeberang jembatan gantung, kami sedikit trekking melewati rerimbunan hijau menuju pinggiran sungai yang enak dibuat santai sambil mandi-mandian. Ada satu tempat yang nampaknya pas banget dengan yang kami cari; tapi kami harus menyeberangi sungai. Untung aja dangkal; Belum apa-apa dari bawah sampai lutut sudah basah pakaian kami. Airnya segar sekali masyaAllah! Kontras sama cuaca di Langkat yang panasss.



Ekowisata Tangkahan merupakan wilayah hutan lindung seluas belasan ribu hektar yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser. Karena sangat luas, tentu saja kaya akan flora dan fauna khas. Karena niat kesana kemarin itu cuma mau liat gajah mandi, jadinya datang seadanya aja (dengan kantong seadanya juga hehe). Kalo mau, kami bisa menyewa jasa pemandu setempat untuk menjelajahi hutan. Pasti bakalan seru banget sih (okay insyaAllah next kalo kesini lagi).

Demi melihat air jernih dan dangkal di hadapan, saya yang awalnya gada niatan mau mandi, ga tahan liat airnya yang jernih banget (sampe tosca gitu warnanya). Nyebur deh walau ga bawa baju salin. Musim kemarau menurut saya adalah waktu yang tepat untuk main air di sini karena kalo udah mulai musim hujan air sungainya bakalan membludak dan keruh.



Saat berangkat tadi, saya sudah menghilangkan jauh-jauh keinginan untuk bisa melihat gajah mandi. Waktu gajah mandi biasanya kalo ga pagi ya sore hari. Karena kami berangkat siang (sampai di sana waktu Zuhur), yaudah deh. Lagi enak-enak santai di pinggiran sungai, tiba-tiba ada seorang pawang menggiring 2 ekor gajah ke arah kami. Whoaaa😍 Jujur saya seneng banget.

Melihat langsung gajah mandi dari dekat menjadi sensasi tersendiri. Kita juga boleh memberi makan si gajah lucu. Kami diberikan kesempatan oleh bapak pawang memberikan kulit durian yang tadi kami bawa. Sebahagia ini bisa ketemu gajah (katakanlah) di hutan langsung; Yah walaupun ada pawangnya.


Kenapa ya gajah pake mandi segala? Ayam, kambing, sapi yang jadi santapan manusia aja ga perlu pernah mandi. Ternyata, Allah mengilhamkan gajah mandi untuk mendinginkan badannya. Kebayang gasih kulit gajah yang keras kaku itu terus-terusan terpapar sinar matahari? Nah kalo musim kemarau dan ga ada air, gajah mendinginkan badannya dengan menggunakan debu. Pintarnya gajah; Debu disemprotkan ke seluruh tubuhnya guna melindungi kulitnya dari sinar matahari juga dari gigitan serangga. Wallahu 'alam. Gitu sih kalo yang saya baca di internet.


Setelah melihat gajah mandi, kami ketemu gajah lagi 🐘 Kali ini gajahnya sedang membawa rombongan bule untuk jungle tracking; mengelilingi hutan dengan menunggang gajah. Ini adalah salah satu paket wisata yang ditawarkan di Tangkahan. Pengunjung bakal dibawa masuk ke hutan, mengenal lebih dalam flora dan fauna yang ada di dalamnya. Bukan hanya itu saja; Pengunjung juga akan dibawa ke tempat-tempat indah tersembunyi seperti air terjun yang ada di hutan Tangkahan. It must be sooo fun!

Kalo liat di Instagramnya @tangkahanecotourismofficial, ada banyak hal seru yang bisa kita cobain di Tangkahan. Selain jungle tracking, ada juga river tubing dan paket family camping. Selain itu pengunjung juga bisa menginap di cottages yang disediakan. Ih seru lah pokonya! Pantes aja walau banyak wisatawan dalam negeri yang belum familiar sama tempat ini, tapi wisatawan mancanegara yang datang cukup banyak.



Setelah puas main air dan ketemu gajah, saatnya pulang. Kami gamau pulang terlalu sore karena bakal serem di jalan nanti, hiyyy. Overall, tepat banget kalo Tangkahan ini disebut surga tersembunyi di Sumatera Utara. Dengan segala keseruan dan pengalaman yang bakal kita dapat di sana, Ekowisata Tangkahan menjadi tempat wajib kunjung setelah Danau Toba. Biidznillah, pokoknya harus kesini lagi. "Nanti kalo kita udah sama-sama berkeluarga, punya anak, kita family camping yaaa di sini", pesan saya ke Tika. Pokonya Tangkahan ini adalah tempat dimana saya ga banyak berekspektasi, tapi sama Allah dikasih di luar ekspektasi. Alhamdulillahiladzi bi ni'matihi tathimushalihaaat.

Kamis, 23 Juli 2020

Pengalaman Pertama Memancing di Waduk Karangkates (Waduk Ir. Sutami) Sumberpucung Kabupaten Malang


Dengan semangat saya membawa motor. Baru beberapa meter melaju dari kontrakan Rifah, segera tersadar ada hal sangat penting yang ketinggalan, "eh Him pancingnya yaopo ga dibawa?!". Alhamdulillah langsung diingetin Allah kalo jorannya belum dibawa 😁 Gak lucu dong kalo pas sampe sana baru nyadarnya.

Selain membaca dan bersepeda, hobi masa kecil saya yang lainnya adalah memancing (sounds masculine, right? ehe). Sabtu pagi (17/07/2020), saya bersama Himmah melaju motor dengan bahagia menuju Sumberpucung (perbatasan Malang dengan Blitar) untuk mewujudkan niatan saya memancing di Waduk Karangkates. Alat pancing aman; modal dikasih sama rekan kantor (matur suwun Pak Dji). Karena belum bawa umpan, saya berencana untuk beli di pinggir jalan yang kami lewati nanti. Sebelumnya saya sempat tanya pada bapak-bapak di kantor, kalo mau mancing gitu pakannya apa. Beli lumut, katanya. Baiklah. Alhamdulillah saat perjalanan berangkat, ada beberapa lapak pinggir jalan yang jual lumut. Bukan hanya lumut, tapi juga umpan lainnya seperti cacing fosfor, pelet, bahkan ada kail dan perlengkapan memancing lainnya. Lengkap.

Beli pakan di pinggir jalan

Kami membeli umpan berupa lumut (5K) dan cacing fosfor (5). Apa bedanya cacing fosfor dengan cacing biasa yang sering kita cari di tanah-tanah di sekitar kita? Entahlah wkwk. Lanjut lagi perjalanan. Di atas motor saya bilang gini ke Himmah, "Hari-hari yang kita jalani saat ini, pengalaman yang kita kumpulkan, adalah bahan cerita di masa depan". -Quote of the day.

"Himm, kok kita ga bawa wadah untuk ikannya (kalo dapet)?", tiba-tiba saya kepikiran. Dari awal aja udah pesimis gini wkwk. Perjalanan Malang menuju Sumberpucung kami lalui dengan lancar. Jalanan tidak terlalu ramai. Keputusan berangkat pagi nampaknya tepat. Oiya, Waduk Karangkates itu luas sekali. Ada banyak spot yang bisa dipilih oleh pemancing. Perjalanan kali ini kami menyetel Google Map menuju tempat bernama Jurang Toleh.

Petani menuju ke ladang

Dari jalanan lintas Malang - Blitar kemudian kami masuk gang. View khas pedesaan; Indah sekali. Persawahan dan perkebunan kami lewati. Kami sampai di tempatnya sekitar jam 7.15 WIB. Total perjalanan satu jam. Ga jauh, khan. Saya parkir motor di depan sebuah warung. Masih pagi. Sambil meregangkan otot setelah membawa motor, kemudian saya sedikit berkeliling melihat sekitar. Ada satu dua orang pemancing yang sudah stay di tempatnya.

Sebagai seorang yang baru pertama kali datang memancing ke tempat ini, saya mencoba untuk bertanya-tanya pada yang bisa ditanyai (yaopo?). Mendekati salah seorang angler (pemancing). "Pak dari kapan di sini?" tanya saya. "Maghrib kemarin Mbak" bapaknya membalas. Huwawww 😦. Nyali kami langsung ciut melihat hasil pancingan bapaknya yang ga terlalu banyak (ga sampai belasan, seukuran telapak tangan). Beliau yang dari kemarin sore, dengan alat memancing yang bisa dibilang pro, dari semalam saja baru dapat segitu. Apalah kami...

Tidak jauh dari situ, terdapat dermaga penyeberangan sederhana (sangat sederhana malah). Nampak sepasang suami istri beserta anaknya mendorong gerobak berisi karung untuk diseberangkan. Belum ada kapal yang datang. Mereka tampak menunggu.

Dermaga Penyeberangan Jurang Toleh

Dari tempat pertama kali kami datang, kami pindah sekitar beberapa ratus meter. Mencari tempat yang ga banyak bapak-bapaknya, yang lebih tenang. Saya memarkirkan motor di sebuah tempat yang seperti tempat wisata. Ada tulisan dilarang parkir di situ, tetapi saya lihat ada sebuah motor yang parkir. Ngikut ah. Di tempat ini ada beberapa spot foto dan gubuk untuk beristirahat. Usut punya usut, ternyata ini adalah wisata Jurang Toleh yang saya sempat ingin kesini beberapa bulan lalu. Nampak tidak terawat. Informasi dari seorang warga, tempat wisata ini akan direnovasi, makanya kelihatan tidak terawat. Mungkin setelah pandemi Covid-19 nanti akan mulai dibenahi kembali. Wallahu 'alam.

Salah satu spot foto di Wisata Jurang Toleh

Kami menuju pinggiran waduk. Oke fix Him, kita mancing di sini. Oiya, Jika ingin  memancing di lapak ada tempatnya sendiri, bayar 5K. Tempatnya enak, macam kolam pemancingan yang ada tempat berteduhnya itu. Letaknya di dekat dermaga yang pertama kami datangi tadi. Sebagai seorang yang berjiwa petualang (baca: blusukan) saya lebih memilih untuk mencari spot pinggir waduk.

Sebelum mulai memancing, saya menuju satu gubuk untuk shalat Dhuha. Kalo main gini, list to do yang harus dilakuin adalah: Baca zikir pagi petang plus Dhuha. Ga boleh tinggal (!) Sementara saya shalat, Himmah sibuk merakit joran; memasang senar, memasukkan kail ke senar dan sebagainya. Setelah saya selesai, gantian Himmah shalat. Sekitar jam 7.30 kami start memancing, Ganbatte! konsen dengan joran masing-masing. Diam; sabar; 30 menit kemudian seekor ikan kecil mungil berwarna oranye mendekati kail (mata pancing) Himmah. Kena deh kamu!

Hasil pancingan pertama

Kami lebih banyak diam dan fokus dengan joran masing-masing. Beberapa kali umpan kami ditarik; ternyata ikan-ikan kecil yang "mengerjai" kami. Sebagai konsekuensinya, mereka harus berakhir di kantong bekas mie instan yang Himmah pungut di sekitar situ 😌 Memancing di waduk yang besar dan lebar begini ternyata sangat menantang. Walau banyak ikannya, tapi tetap aja kemungkinan untuk umpan kita didekati ikan, sangat kecil (jiwa pesimisku meronta-ronta 😩) Apalagi kalo umpannya apa adanya kayak punya kami. Jangan bandingkan memancing di waduk dengan di kolam pemancingan. Beda banget pastinya. Analoginya kayak kamu nyari ayam di peternakan sama nyari ayam di hutan *bayangin sendiri deh.



Bergantian kami mendapatkan ikan (kecil). Sensasi ketika umpan ditarik kemudian pelampung masuk ke air memang ga ada duanya. Puas banget ketika diangkat kemudian ada ikan lemah tak berdaya yang kena mata pancing 😐 Lagi asik mancing, ada seorang bapak melewati kami. Saya bilang ke beliau, "Pak ikannya kecil-kecil ya di sini?". "Umpannya apa Mbak?", si bapak nanya. "Cacing, Pak". "Oalah ya pantes. Paling yang mau lohan sama nila. Tapi biasanya nilanya kalah sama lohan". Saya mengangguk-angguk tanda mengerti. Rada takjub juga ternyata ada ikan lohan di sini.

Qadarullah, tidak berapa lama saya dapat lohan. motifnya cantik masyaAllah. Persis seperti yang ada di akuarium ikan hias itu.

Dari awal memancing tadi kami belum mencoba umpan lumut. Saya cuma mikir, ini kekmana caranya lumut bisa jadi umpan? Nyangkutin ke mata pancingnya gimana? Dikasih tahu sama bapak yang mancing di sebelah spot kami, kalo mau mancing pake lumut harus dengan kail khusus (yang mata pancingnya 3). Jadi bukan kail biasa. Oalah... Ga berguna dong kalo gitu lumut yang kami beli tadi. Akhirnya saya berikan ke si bapak.


Waduk Karangkates punya banyak sekali spot memancing. Tinggal pilih. Mungkin suatu hari kalau Allah kasih kesempatan untuk memancing di sini lagi, saya akan mencari spot yang berbeda. Waduk ini juga indah. Pilihan tepat untuk mengajak keluarga ke sini. Bisa mancing sekalian rekreasi. Di tengah waduk terdapat banyak keramba tempat nelayan membudidayakan ikan air tawar. Menjadi pemandangan indah tersendiri. Pengen rasanya pergi ke keramba itu kemudian melihat bagaimana mereka memelihara ikan-ikan yang ada di sana 😷


Satu ikan kecil yang didapat Himmah menjadi penutup memancing kami hari itu. Jam 11 siang kami memutuskan untuk pulang. Total 13 ikan kami dapat dengan ukuran yang paling besar setengah telapak tangan. Kalo dibandingin sama beli ikan di pasar, ga ada apa-apanya banget. Tapi seru aja deh. Memancing melatih diri untuk sabar. Kata Allah gini... "Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" (Surah Al-Kahfi ayat 68). Yah itung-itung aja belajar mengamalkan ayat itu dengan memancing di waduk luas yang entah ada berapa dan apa saja jenis ikannya 😢

Saat pulang kami melewati ladang milik penduduk dan kebun sawi yang sedang berbunga. Bunganya warna kuning. Masya Allah indahnya. Gaboleh dilewatin inimah. Jadi inget beberapa film Jepang yang saya nonton yang punya latar beginian. Langitnya juga sangat cerah, dihiasi awan bergerombol.



MAMPIR MANDI DI PEMANDIAN SUMBER JERUK
Saya dan Himmah dari rumah sengaja berangkat pagi sekali dan tidak mandi 😁 Rencananya setelah mancing kami mau mandi di Pemandian Sumber Jeruk yang berada di daerah Gondanglegi, beberapa ratus meter sebelum Sumber Maron. Jarak dari tempat kami memancing menuju Sumber Jeruk tidak jauh, kurang lebih setengah jam. Masuk waktu Zuhur, kami memutuskan untuk shalat terlebih dahulu di masjid pinggir jalan (seberang jalan sebelum gang masuk Sumber Maron). 

Ketika sampai di tempatnya, nampak palang kayu menghalangi jalan masuk ke pemandian. Ada tulisan sedang ada perbaikan dan untuk sementara pemandiannya ditutup. Tapi dari tempat kami memarkirkan motor kelihatan ramai anak-anak yang sedang mandi. Sepertinya masih bisa tetap mandi deh. Kami masuk saja akhirnya.



Jadi sebenarnya, tidak ada masalah dengan pemandiannya. Ada beberapa tukang yang sedang bekerja memperbaiki saluran di situ dan bahan bakunya seperti semen dan lain-lain diluncurkan dari atas menuju bawah (seperti flying fox). Karena khawatir jatuh kemudian menimpa yang datang mandi di situ, makanya ditutup untuk sementara. Kami memilih tempat untuk mandi yang agak aman, jadi ga masalah. Airnya segar sekali. Malang emang juara kalo soal sumber pemandian alami.

Jika dibandingkan dengan Sumber Maron, tempat ini sangatlah sepi. Terdapat satu kolam besar yang airnya berwarna tosca saking jernihnya (tapi kurang aman untuk mandi apalagi buat yang gabisa renang) dan satu kolam dangkal. Tidak ada biaya masuk ke tempat ini, gratisss. Oiya untuk kamar mandi ganti dan warung jajanan tidak tersedia, jadi niatkan kesini hanya untuk mandi saja yes.



Malang menghadapi era New Normal; Walau yang terkonfirmasi positif Covid-19 semakin bertambah tapi kalo pemerintah setempat udah memutuskan begitu, kita bisa apa? Boleh kok pergi berwisata asal tetap jaga jarak, pake masker dan rajin cuci tangan atau pakai hand sanitizer. Kalo saya sih, untuk lebih amannya, pilih tempat wisata yang anti-mainstream yang ga ramai, atau pilih waktu yang kira-kira ga banyak orang kesitu juga; memancing di Waduk Karangkates dan mandi di Sumber Jeruk ini salah satu contohnya 😍

Selamat berlibur bersama keluarga tercinta... Stay health!

Sabtu, 27 Juni 2020

(Gratis) Masuk Pantai Klara 2 di Lampung saat Pandemi Covid-19


Yang membuat semua berubah bukan cuma serangan Negara Api (ala Avatar) tapi juga si kecil mungil bernama Corona yang Allah kirimkan pada manusia untuk membuktikan bahwa manusia itu lemah tiada berdaya; pada virus yang bahkan harus dilihat dengan berapa ribu kali perbesaran dengan menggunakan mikroskop, kita 'tunduk'. Memakai masker, menggunakan hand sanitizer, menjaga jarak dan sering mencuci tangan menjadi suatu gaya hidup baru karena si kecil Corona. Semua lini kehidupan terdampak (!) Salah satunya adalah dunia pariwisata. Himbauan pemerintah untuk #dirumahaja membuat hampir seluruh tempat wisata ditutup untuk umum. Mungkin ini waktunya bagi alam untuk beristirahat; Sejenak menepi dari hiruk-pikuk yang dibuat manusia.

Pagi itu saya berencana main ke pantai di pinggiran Bandarlampung (daerah Pesawaran). Untuk pantai yang terkenal semacam Pantai Mutun dan Sari Ringgung memang ditutup, tapi saya tidak neko-neko, hanya ingin melihat pantai dari tepian jalan saja. Kami berangkat saat matahari belum terbit; harapannya bisa dapat sunrise. Jarak dari rumah ke pantai di pinggiran Teluk Lampung ga jauh, cuma sekitar 30-45 menit udah sampai.

Pagi itu matahari tertutup awan. Harapan untuk mendapat momen sunrise sirna sudah. It's okay. Awalnya kami (saya, Adzkia, Ulfa dan Mbak Putri) hanya duduk-duduk di pinggir pantai tepi jalan; Saya lihat ke arah Pantai Klara 2 sepertinya sangat sepi tidak ada orang sama sekali. Kami mengarahkan motor ke Pantai Klara 2. Loket tiket tutup; pintu masuk ditutup. Kendaraan ga bisa masuk, tapi pengemudinya bisa. Akhirnya kami parkirkan motor di depan loket tiket kemudian berjalan beberapa ratus meter menuju pantai. Rizqi nih; nemu pantai bagus, sepi dan ga ada penjaganya. Gubuk-gubuk yang berderet di pinggir pantai nampak tidak terurus; menandakan sudah lama tidak didatangi pengunjung. Kami langsung menuju Dermaga Pelangi.



Pantai Klara 2 memang indah. Lautnya yang tenang (hampir tanpa ombak), pinggiran pantai dengan air laut yang jernih, terumbu karang dengan ikan-ikannya, pendopo di atas laut, dermaga cinta yang foto-able, sangat pas untuk kamu yang ingin menghabiskan waktu di sini. Diantara deretan pantai yang ada di Teluk Lampung, pantai ini merupakan salah satu favorit saya (dengan catatan: kalo lagi ga rame).

Berikut adalah beberapa spot yang menarik...

Menyambut matahari terbit atau menyaksikan matahari terbenam dari pondok ini nampaknya pilihan yang tepat

Karena simetris adalah koentji wkwk

Sendirian aja, neng

Dermaga kayu instagramable yang nampak indah dilihat dari sisi pantai maupun daratan

Bawah laut dengan ratusan ikan bisa dilihat langsung tanpa menyelam

JUMP!

Ulfa dan Mbak Putri
Di samping Pantai Klara 2, terdapat Pantai Klara 1 (sebelahnya pas). Entah mereka ini masih sodaraan atau udah beda emak bapak (?). Kenapa ga jadi satu aja gitu, ya. Menurut saya, Pantai Klara 1 lebih ramai didatangi pengunjung. Sebabnya mungkin karena lebih banyak spot untuk foto di pantai ini. Silahkan dipilih deh lebih suka yang mana; Sama-sama bagus insyaAllah.



Semenjak terjadinya pandemi Covid-19 dan kita gabisa leluasa keluar rumah kayak sebelumnya, hal-hal sederhana semacam bisa naik motor keliling kota untuk sekedar jajan menjadi sesuatu yang sangat dirindukan dan menjadi suatu bentuk 'kemewahan' baru. Apalah lagi bisa mandi-mandian dan main pasir di pantai, susah payah nenteng keril naik gunung, antri di spot wisata dan sebagainya. Doa kuy sama Allah, semoga setelah semua ini berlalu, ketika Allah hadirkan kembali hal-hal yang selama beberapa bulan ini 'di-keep', kita bisa menjadi pribadi yang lebih banyak bersyukur (dan bersabar, pastinya). Wallahu 'alam.