Rabu, 29 Juli 2020

Tangkahan Ecotourism : Hidden Gem di Kabupaten Langkat Sumatera Utara


Pertama kali tahu tentang Tangkahan, itu dari Tika (tahun 2017). Waktu itu Tika bilang gini, "nanti kalo Mbak main ke rumah Tika, Tika ajakin ke Tangkahan". Menurut Tika, kampungnya gapunya tempat wisata yang worthed it. Jadi satu-satunya tempat yang sekiranya 'pantas' untuk ngebawa teman jauh kesana ya Tangkahan itu. Bahkan ketika Tika menjelaskan tentang Tangkahan, it just like..."tempat biasa, sungai-sungai gitu; kita bisa mandi di sana". Itu aja. Terus coba deh nyari tempatnya lewat tagar di Instagram, eh kayaknya tempatnya ga 'sebiasa' yang Tika ceritain deh. Inimah bagus πŸ‘€ Kemudian setelah benar-benar ngikuti beberapa akun pariwisata Sumatera Utara, apalagi setelah liat banyak bule yang datang ke tempat itu sambil mandiin gajah, whoaaa surga tersembunyi! (di Thailand ada paket wisata yang salah satu itinerary-nya mandiin gajah gitu - Elephant Jungle Sanctuary Chiang Mai). Lalu belum lama ini juga Mas Rangga-nya Cinta (Niko Saputra) syuting di sana.

Pas Tika mau walimatul 'urs Agustus 2019 kemarin, Alhamdulillah Allah kasih kesempatan untuk bisa ke Sumatera Utara lagi (sebelumnya Juni juga kesana dalam rangka Trip Sumatera, tapi belum sempat ke Tangkahan). Awalnya saya pengen banget ke Danau Toba; udah matang banget rencananya (sewa motor, penginapan dan sebagainya), yah calon pengantin gamau dong; takut kenapa-kenapa. Baiklah manut. Mungkin karena Tika kasihan sama saya yang ga kemana-mana, akhirnya diajak deh ke Tangkahan. Tika akad hari Minggu, kami ke Tangkahan H-3 (hari Rabu, wkwk).



Setelah melalui jalanan aspal yang halus (tapi banyak ranjaunya -kotoran sapi), kemudian jalanan berbatu yang bikin jiwa badan kami tergoncang, kemudian jalanan tanah di perkebunan sawit yang amat luas, sampailah kami di pintu masuk Tangkahan. Total perjalanan dari rumah Tika di daerah Tanjung Putus, Padang Tualang sampai ke tempatnya sekitar 2 jam perjalanan motor. Oiya kalo berkunjung ke Tangkahan, pastikan kendaraan fit dan isi penuh bensin. Daerah yang kita lalui adalah perkebunan sawit yang semakin menjauh dari peradaban. Bisa gawat kalo kenapa-kenapa.

Oiya saat berangkat tadi saya dan Tika duluan pergi. Walau Tika udah pernah ke Tangkahan sebelumnya, tapi saya gamau berharap terlalu tinggi kalo dia akan ingat perjalanan menuju kesana πŸ˜‘ Kami menyetel Maps. Pas udah mau sampai tempatnya, baru kemudian Yogi dan Sutri (adik dan sepupu Tika) menyusul.


Tangkahan Ecotourism tepatnya berada di Namu Sialang, Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat. Jika ditempuh dari Kota Medan akan memakan waktu kurang lebih 3,5 jam. Jauh ya? Iyasih, tapi terbayar sama semua pengalaman yang bakal kita dapat di sana. Sampai di loket pintu masuk, kami bukan hanya disambut oleh petugas tetapi juga deretan durian yang dijajakan 😍😍😍 membuatku bahagiaaa (!) Tanpa basa-basi saya langsung mendekati doi (baca: durian). "Itu durian asli Tangkahan, Mbak", kata bapak di loket tiketnya. Udah ga berpaling lagi pandangan saya dari buah berduri ini. Tanpa banyak mikir lagi, langsung hajaaar. Ya Allah, enaknya...😣 Durian Sumatera emang ga perlu diraguin rasanya.


Setelah sesi makan durian yang sangat memuaskan itu (harganya murah dan rasanya juara), kami segera membayar uang masuk (5K atau 10K ya per orang? Saya lupak wkwk). Parkiran sangat sepi; Sepertinya pengunjung hari itu hanya kami dan satu mobil berisi 2 orang bule dan seorang pemandunya. Kami segera bersiap untuk menjelajahi hutan luas di depan sana (ngebayangin ketemu gajah, badak, rusa, kuda nil, harimau, haish!).

Nampak di kejauhan jembatan gantung yang epik sekali; tidak sepanjang yang ada di Sukabumi (Situ Gantung) tapi cukup seru. Di bawahnya terdapat aliran sungai yang sangat lebar dengan beberapa bule yang sedang menikmati river tubing. Wah udah ga sabar nih. Jom!




Setelah menyeberang jembatan gantung, kami sedikit trekking melewati rerimbunan hijau menuju pinggiran sungai yang enak dibuat santai sambil mandi-mandian. Ada satu tempat yang nampaknya pas banget dengan yang kami cari; tapi kami harus menyeberangi sungai. Untung aja dangkal; Belum apa-apa dari bawah sampai lutut sudah basah pakaian kami. Airnya segar sekali masyaAllah! Kontras sama cuaca di Langkat yang panasss.



Ekowisata Tangkahan merupakan wilayah hutan lindung seluas belasan ribu hektar yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser. Karena sangat luas, tentu saja kaya akan flora dan fauna khas. Karena niat kesana kemarin itu cuma mau liat gajah mandi, jadinya datang seadanya aja (dengan kantong seadanya juga hehe). Kalo mau, kami bisa menyewa jasa pemandu setempat untuk menjelajahi hutan. Pasti bakalan seru banget sih (okay insyaAllah next kalo kesini lagi).

Demi melihat air jernih dan dangkal di hadapan, saya yang awalnya gada niatan mau mandi, ga tahan liat airnya yang jernih banget (sampe tosca gitu warnanya). Nyebur deh walau ga bawa baju salin. Musim kemarau menurut saya adalah waktu yang tepat untuk main air di sini karena kalo udah mulai musim hujan air sungainya bakalan membludak dan keruh.



Saat berangkat tadi, saya sudah menghilangkan jauh-jauh keinginan untuk bisa melihat gajah mandi. Waktu gajah mandi biasanya kalo ga pagi ya sore hari. Karena kami berangkat siang (sampai di sana waktu Zuhur), yaudah deh. Lagi enak-enak santai di pinggiran sungai, tiba-tiba ada seorang pawang menggiring 2 ekor gajah ke arah kami. Whoaaa😍 Jujur saya seneng banget.

Melihat langsung gajah mandi dari dekat menjadi sensasi tersendiri. Kita juga boleh memberi makan si gajah lucu. Kami diberikan kesempatan oleh bapak pawang memberikan kulit durian yang tadi kami bawa. Sebahagia ini bisa ketemu gajah (katakanlah) di hutan langsung; Yah walaupun ada pawangnya.


Kenapa ya gajah pake mandi segala? Ayam, kambing, sapi yang jadi santapan manusia aja ga perlu pernah mandi. Ternyata, Allah mengilhamkan gajah mandi untuk mendinginkan badannya. Kebayang gasih kulit gajah yang keras kaku itu terus-terusan terpapar sinar matahari? Nah kalo musim kemarau dan ga ada air, gajah mendinginkan badannya dengan menggunakan debu. Pintarnya gajah; Debu disemprotkan ke seluruh tubuhnya guna melindungi kulitnya dari sinar matahari juga dari gigitan serangga. Wallahu 'alam. Gitu sih kalo yang saya baca di internet.


Setelah melihat gajah mandi, kami ketemu gajah lagi 🐘 Kali ini gajahnya sedang membawa rombongan bule untuk jungle tracking; mengelilingi hutan dengan menunggang gajah. Ini adalah salah satu paket wisata yang ditawarkan di Tangkahan. Pengunjung bakal dibawa masuk ke hutan, mengenal lebih dalam flora dan fauna yang ada di dalamnya. Bukan hanya itu saja; Pengunjung juga akan dibawa ke tempat-tempat indah tersembunyi seperti air terjun yang ada di hutan Tangkahan. It must be sooo fun!

Kalo liat di Instagramnya @tangkahanecotourismofficial, ada banyak hal seru yang bisa kita cobain di Tangkahan. Selain jungle tracking, ada juga river tubing dan paket family camping. Selain itu pengunjung juga bisa menginap di cottages yang disediakan. Ih seru lah pokonya! Pantes aja walau banyak wisatawan dalam negeri yang belum familiar sama tempat ini, tapi wisatawan mancanegara yang datang cukup banyak.



Setelah puas main air dan ketemu gajah, saatnya pulang. Kami gamau pulang terlalu sore karena bakal serem di jalan nanti, hiyyy. Overall, tepat banget kalo Tangkahan ini disebut surga tersembunyi di Sumatera Utara. Dengan segala keseruan dan pengalaman yang bakal kita dapat di sana, Ekowisata Tangkahan menjadi tempat wajib kunjung setelah Danau Toba. Biidznillah, pokoknya harus kesini lagi. "Nanti kalo kita udah sama-sama berkeluarga, punya anak, kita family camping yaaa di sini", pesan saya ke Tika. Pokonya Tangkahan ini adalah tempat dimana saya ga banyak berekspektasi, tapi sama Allah dikasih di luar ekspektasi. Alhamdulillahiladzi bi ni'matihi tathimushalihaaat.

Kamis, 23 Juli 2020

Pengalaman Pertama Memancing di Waduk Karangkates (Waduk Ir. Sutami) Sumberpucung Kabupaten Malang


Dengan semangat saya membawa motor. Baru beberapa meter melaju dari kontrakan Rifah, segera tersadar ada hal sangat penting yang ketinggalan, "eh Him pancingnya yaopo ga dibawa?!". Alhamdulillah langsung diingetin Allah kalo jorannya belum dibawa 😁 Gak lucu dong kalo pas sampe sana baru nyadarnya.

Selain membaca dan bersepeda, hobi masa kecil saya yang lainnya adalah memancing (sounds masculine, right? ehe). Sabtu pagi (17/07/2020), saya bersama Himmah melaju motor dengan bahagia menuju Sumberpucung (perbatasan Malang dengan Blitar) untuk mewujudkan niatan saya memancing di Waduk Karangkates. Alat pancing aman; modal dikasih sama rekan kantor (matur suwun Pak Dji). Karena belum bawa umpan, saya berencana untuk beli di pinggir jalan yang kami lewati nanti. Sebelumnya saya sempat tanya pada bapak-bapak di kantor, kalo mau mancing gitu pakannya apa. Beli lumut, katanya. Baiklah. Alhamdulillah saat perjalanan berangkat, ada beberapa lapak pinggir jalan yang jual lumut. Bukan hanya lumut, tapi juga umpan lainnya seperti cacing fosfor, pelet, bahkan ada kail dan perlengkapan memancing lainnya. Lengkap.

Beli pakan di pinggir jalan

Kami membeli umpan berupa lumut (5K) dan cacing fosfor (5). Apa bedanya cacing fosfor dengan cacing biasa yang sering kita cari di tanah-tanah di sekitar kita? Entahlah wkwk. Lanjut lagi perjalanan. Di atas motor saya bilang gini ke Himmah, "Hari-hari yang kita jalani saat ini, pengalaman yang kita kumpulkan, adalah bahan cerita di masa depan". -Quote of the day.

"Himm, kok kita ga bawa wadah untuk ikannya (kalo dapet)?", tiba-tiba saya kepikiran. Dari awal aja udah pesimis gini wkwk. Perjalanan Malang menuju Sumberpucung kami lalui dengan lancar. Jalanan tidak terlalu ramai. Keputusan berangkat pagi nampaknya tepat. Oiya, Waduk Karangkates itu luas sekali. Ada banyak spot yang bisa dipilih oleh pemancing. Perjalanan kali ini kami menyetel Google Map menuju tempat bernama Jurang Toleh.

Petani menuju ke ladang

Dari jalanan lintas Malang - Blitar kemudian kami masuk gang. View khas pedesaan; Indah sekali. Persawahan dan perkebunan kami lewati. Kami sampai di tempatnya sekitar jam 7.15 WIB. Total perjalanan satu jam. Ga jauh, khan. Saya parkir motor di depan sebuah warung. Masih pagi. Sambil meregangkan otot setelah membawa motor, kemudian saya sedikit berkeliling melihat sekitar. Ada satu dua orang pemancing yang sudah stay di tempatnya.

Sebagai seorang yang baru pertama kali datang memancing ke tempat ini, saya mencoba untuk bertanya-tanya pada yang bisa ditanyai (yaopo?). Mendekati salah seorang angler (pemancing). "Pak dari kapan di sini?" tanya saya. "Maghrib kemarin Mbak" bapaknya membalas. Huwawww 😦. Nyali kami langsung ciut melihat hasil pancingan bapaknya yang ga terlalu banyak (ga sampai belasan, seukuran telapak tangan). Beliau yang dari kemarin sore, dengan alat memancing yang bisa dibilang pro, dari semalam saja baru dapat segitu. Apalah kami...

Tidak jauh dari situ, terdapat dermaga penyeberangan sederhana (sangat sederhana malah). Nampak sepasang suami istri beserta anaknya mendorong gerobak berisi karung untuk diseberangkan. Belum ada kapal yang datang. Mereka tampak menunggu.

Dermaga Penyeberangan Jurang Toleh

Dari tempat pertama kali kami datang, kami pindah sekitar beberapa ratus meter. Mencari tempat yang ga banyak bapak-bapaknya, yang lebih tenang. Saya memarkirkan motor di sebuah tempat yang seperti tempat wisata. Ada tulisan dilarang parkir di situ, tetapi saya lihat ada sebuah motor yang parkir. Ngikut ah. Di tempat ini ada beberapa spot foto dan gubuk untuk beristirahat. Usut punya usut, ternyata ini adalah wisata Jurang Toleh yang saya sempat ingin kesini beberapa bulan lalu. Nampak tidak terawat. Informasi dari seorang warga, tempat wisata ini akan direnovasi, makanya kelihatan tidak terawat. Mungkin setelah pandemi Covid-19 nanti akan mulai dibenahi kembali. Wallahu 'alam.

Salah satu spot foto di Wisata Jurang Toleh

Kami menuju pinggiran waduk. Oke fix Him, kita mancing di sini. Oiya, Jika ingin  memancing di lapak ada tempatnya sendiri, bayar 5K. Tempatnya enak, macam kolam pemancingan yang ada tempat berteduhnya itu. Letaknya di dekat dermaga yang pertama kami datangi tadi. Sebagai seorang yang berjiwa petualang (baca: blusukan) saya lebih memilih untuk mencari spot pinggir waduk.

Sebelum mulai memancing, saya menuju satu gubuk untuk shalat Dhuha. Kalo main gini, list to do yang harus dilakuin adalah: Baca zikir pagi petang plus Dhuha. Ga boleh tinggal (!) Sementara saya shalat, Himmah sibuk merakit joran; memasang senar, memasukkan kail ke senar dan sebagainya. Setelah saya selesai, gantian Himmah shalat. Sekitar jam 7.30 kami start memancing, Ganbatte! konsen dengan joran masing-masing. Diam; sabar; 30 menit kemudian seekor ikan kecil mungil berwarna oranye mendekati kail (mata pancing) Himmah. Kena deh kamu!

Hasil pancingan pertama

Kami lebih banyak diam dan fokus dengan joran masing-masing. Beberapa kali umpan kami ditarik; ternyata ikan-ikan kecil yang "mengerjai" kami. Sebagai konsekuensinya, mereka harus berakhir di kantong bekas mie instan yang Himmah pungut di sekitar situ 😌 Memancing di waduk yang besar dan lebar begini ternyata sangat menantang. Walau banyak ikannya, tapi tetap aja kemungkinan untuk umpan kita didekati ikan, sangat kecil (jiwa pesimisku meronta-ronta 😩) Apalagi kalo umpannya apa adanya kayak punya kami. Jangan bandingkan memancing di waduk dengan di kolam pemancingan. Beda banget pastinya. Analoginya kayak kamu nyari ayam di peternakan sama nyari ayam di hutan *bayangin sendiri deh.



Bergantian kami mendapatkan ikan (kecil). Sensasi ketika umpan ditarik kemudian pelampung masuk ke air memang ga ada duanya. Puas banget ketika diangkat kemudian ada ikan lemah tak berdaya yang kena mata pancing 😐 Lagi asik mancing, ada seorang bapak melewati kami. Saya bilang ke beliau, "Pak ikannya kecil-kecil ya di sini?". "Umpannya apa Mbak?", si bapak nanya. "Cacing, Pak". "Oalah ya pantes. Paling yang mau lohan sama nila. Tapi biasanya nilanya kalah sama lohan". Saya mengangguk-angguk tanda mengerti. Rada takjub juga ternyata ada ikan lohan di sini.

Qadarullah, tidak berapa lama saya dapat lohan. motifnya cantik masyaAllah. Persis seperti yang ada di akuarium ikan hias itu.

Dari awal memancing tadi kami belum mencoba umpan lumut. Saya cuma mikir, ini kekmana caranya lumut bisa jadi umpan? Nyangkutin ke mata pancingnya gimana? Dikasih tahu sama bapak yang mancing di sebelah spot kami, kalo mau mancing pake lumut harus dengan kail khusus (yang mata pancingnya 3). Jadi bukan kail biasa. Oalah... Ga berguna dong kalo gitu lumut yang kami beli tadi. Akhirnya saya berikan ke si bapak.


Waduk Karangkates punya banyak sekali spot memancing. Tinggal pilih. Mungkin suatu hari kalau Allah kasih kesempatan untuk memancing di sini lagi, saya akan mencari spot yang berbeda. Waduk ini juga indah. Pilihan tepat untuk mengajak keluarga ke sini. Bisa mancing sekalian rekreasi. Di tengah waduk terdapat banyak keramba tempat nelayan membudidayakan ikan air tawar. Menjadi pemandangan indah tersendiri. Pengen rasanya pergi ke keramba itu kemudian melihat bagaimana mereka memelihara ikan-ikan yang ada di sana 😷


Satu ikan kecil yang didapat Himmah menjadi penutup memancing kami hari itu. Jam 11 siang kami memutuskan untuk pulang. Total 13 ikan kami dapat dengan ukuran yang paling besar setengah telapak tangan. Kalo dibandingin sama beli ikan di pasar, ga ada apa-apanya banget. Tapi seru aja deh. Memancing melatih diri untuk sabar. Kata Allah gini... "Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" (Surah Al-Kahfi ayat 68). Yah itung-itung aja belajar mengamalkan ayat itu dengan memancing di waduk luas yang entah ada berapa dan apa saja jenis ikannya 😢

Saat pulang kami melewati ladang milik penduduk dan kebun sawi yang sedang berbunga. Bunganya warna kuning. Masya Allah indahnya. Gaboleh dilewatin inimah. Jadi inget beberapa film Jepang yang saya nonton yang punya latar beginian. Langitnya juga sangat cerah, dihiasi awan bergerombol.



MAMPIR MANDI DI PEMANDIAN SUMBER JERUK
Saya dan Himmah dari rumah sengaja berangkat pagi sekali dan tidak mandi 😁 Rencananya setelah mancing kami mau mandi di Pemandian Sumber Jeruk yang berada di daerah Gondanglegi, beberapa ratus meter sebelum Sumber Maron. Jarak dari tempat kami memancing menuju Sumber Jeruk tidak jauh, kurang lebih setengah jam. Masuk waktu Zuhur, kami memutuskan untuk shalat terlebih dahulu di masjid pinggir jalan (seberang jalan sebelum gang masuk Sumber Maron). 

Ketika sampai di tempatnya, nampak palang kayu menghalangi jalan masuk ke pemandian. Ada tulisan sedang ada perbaikan dan untuk sementara pemandiannya ditutup. Tapi dari tempat kami memarkirkan motor kelihatan ramai anak-anak yang sedang mandi. Sepertinya masih bisa tetap mandi deh. Kami masuk saja akhirnya.



Jadi sebenarnya, tidak ada masalah dengan pemandiannya. Ada beberapa tukang yang sedang bekerja memperbaiki saluran di situ dan bahan bakunya seperti semen dan lain-lain diluncurkan dari atas menuju bawah (seperti flying fox). Karena khawatir jatuh kemudian menimpa yang datang mandi di situ, makanya ditutup untuk sementara. Kami memilih tempat untuk mandi yang agak aman, jadi ga masalah. Airnya segar sekali. Malang emang juara kalo soal sumber pemandian alami.

Jika dibandingkan dengan Sumber Maron, tempat ini sangatlah sepi. Terdapat satu kolam besar yang airnya berwarna tosca saking jernihnya (tapi kurang aman untuk mandi apalagi buat yang gabisa renang) dan satu kolam dangkal. Tidak ada biaya masuk ke tempat ini, gratisss. Oiya untuk kamar mandi ganti dan warung jajanan tidak tersedia, jadi niatkan kesini hanya untuk mandi saja yes.



Malang menghadapi era New Normal; Walau yang terkonfirmasi positif Covid-19 semakin bertambah tapi kalo pemerintah setempat udah memutuskan begitu, kita bisa apa? Boleh kok pergi berwisata asal tetap jaga jarak, pake masker dan rajin cuci tangan atau pakai hand sanitizer. Kalo saya sih, untuk lebih amannya, pilih tempat wisata yang anti-mainstream yang ga ramai, atau pilih waktu yang kira-kira ga banyak orang kesitu juga; memancing di Waduk Karangkates dan mandi di Sumber Jeruk ini salah satu contohnya 😍

Selamat berlibur bersama keluarga tercinta... Stay health!

Sabtu, 27 Juni 2020

(Gratis) Masuk Pantai Klara 2 di Lampung saat Pandemi Covid-19


Yang membuat semua berubah bukan cuma serangan Negara Api (ala Avatar) tapi juga si kecil mungil bernama Corona yang Allah kirimkan pada manusia untuk membuktikan bahwa manusia itu lemah tiada berdaya; pada virus yang bahkan harus dilihat dengan berapa ribu kali perbesaran dengan menggunakan mikroskop, kita 'tunduk'. Memakai masker, menggunakan hand sanitizer, menjaga jarak dan sering mencuci tangan menjadi suatu gaya hidup baru karena si kecil Corona. Semua lini kehidupan terdampak (!) Salah satunya adalah dunia pariwisata. Himbauan pemerintah untuk #dirumahaja membuat hampir seluruh tempat wisata ditutup untuk umum. Mungkin ini waktunya bagi alam untuk beristirahat; Sejenak menepi dari hiruk-pikuk yang dibuat manusia.

Pagi itu saya berencana main ke pantai di pinggiran Bandarlampung (daerah Pesawaran). Untuk pantai yang terkenal semacam Pantai Mutun dan Sari Ringgung memang ditutup, tapi saya tidak neko-neko, hanya ingin melihat pantai dari tepian jalan saja. Kami berangkat saat matahari belum terbit; harapannya bisa dapat sunrise. Jarak dari rumah ke pantai di pinggiran Teluk Lampung ga jauh, cuma sekitar 30-45 menit udah sampai.

Pagi itu matahari tertutup awan. Harapan untuk mendapat momen sunrise sirna sudah. It's okay. Awalnya kami (saya, Adzkia, Ulfa dan Mbak Putri) hanya duduk-duduk di pinggir pantai tepi jalan; Saya lihat ke arah Pantai Klara 2 sepertinya sangat sepi tidak ada orang sama sekali. Kami mengarahkan motor ke Pantai Klara 2. Loket tiket tutup; pintu masuk ditutup. Kendaraan ga bisa masuk, tapi pengemudinya bisa. Akhirnya kami parkirkan motor di depan loket tiket kemudian berjalan beberapa ratus meter menuju pantai. Rizqi nih; nemu pantai bagus, sepi dan ga ada penjaganya. Gubuk-gubuk yang berderet di pinggir pantai nampak tidak terurus; menandakan sudah lama tidak didatangi pengunjung. Kami langsung menuju Dermaga Pelangi.



Pantai Klara 2 memang indah. Lautnya yang tenang (hampir tanpa ombak), pinggiran pantai dengan air laut yang jernih, terumbu karang dengan ikan-ikannya, pendopo di atas laut, dermaga cinta yang foto-able, sangat pas untuk kamu yang ingin menghabiskan waktu di sini. Diantara deretan pantai yang ada di Teluk Lampung, pantai ini merupakan salah satu favorit saya (dengan catatan: kalo lagi ga rame).

Berikut adalah beberapa spot yang menarik...

Menyambut matahari terbit atau menyaksikan matahari terbenam dari pondok ini nampaknya pilihan yang tepat

Karena simetris adalah koentji wkwk

Sendirian aja, neng

Dermaga kayu instagramable yang nampak indah dilihat dari sisi pantai maupun daratan

Bawah laut dengan ratusan ikan bisa dilihat langsung tanpa menyelam

JUMP!

Ulfa dan Mbak Putri
Di samping Pantai Klara 2, terdapat Pantai Klara 1 (sebelahnya pas). Entah mereka ini masih sodaraan atau udah beda emak bapak (?). Kenapa ga jadi satu aja gitu, ya. Menurut saya, Pantai Klara 1 lebih ramai didatangi pengunjung. Sebabnya mungkin karena lebih banyak spot untuk foto di pantai ini. Silahkan dipilih deh lebih suka yang mana; Sama-sama bagus insyaAllah.



Semenjak terjadinya pandemi Covid-19 dan kita gabisa leluasa keluar rumah kayak sebelumnya, hal-hal sederhana semacam bisa naik motor keliling kota untuk sekedar jajan menjadi sesuatu yang sangat dirindukan dan menjadi suatu bentuk 'kemewahan' baru. Apalah lagi bisa mandi-mandian dan main pasir di pantai, susah payah nenteng keril naik gunung, antri di spot wisata dan sebagainya. Doa kuy sama Allah, semoga setelah semua ini berlalu, ketika Allah hadirkan kembali hal-hal yang selama beberapa bulan ini 'di-keep', kita bisa menjadi pribadi yang lebih banyak bersyukur (dan bersabar, pastinya). Wallahu 'alam. 

Sabtu, 13 Juni 2020

Perjalanan ke Pantai Gigi Hiu Tanggamus : Trip Paling Bikin Banyak Nyebut, Yakin Mau Kesana Lagi?!


SUBHANALLAH... SUBHANALLAH... SUBHANALLAH! Dzikir yang dianjurkan ketika berada di jalan menurun itu semakin banyak dan kencang saya lafazkan. Turunannya curam amat dan ga habis-habis ya Allah😠 (saya mulai panik). Yang bikin tambah parno adalah kata-kata Ulfa sebelum berangkat tadi, "Ini remnya ga terlalu pakem lho". OH NOOO!
***

Traveling di kala pandemi corona gini, emang boleh? Boleh aja menurut saya; ASALKAN... Yang pertama dan utama, minta perlindungan dan keselamatan ke Allah (jadi sebelum pergi tuh doa dulu yang banyak ke Allah). Terus bekali diri dengan masker, hand sanitizer, tissue basah, alat perlindungan diri yang lengkap deh. Kemudian yang ga kalah penting, pilih tempat yang memang buka (mulai tanggal 6 Juni beberapa tempat wisata di Lampung sudah mulai dibuka untuk umum guna menyambut era kewarasan baru eh new normal). 

Hampir 2 bulan di rumah (belum bisa balik ke Malang karena Covid-19), keknya butuh keluar sebentar memanjakan mata; biar ga lupa kalo Allah ciptakan tempat-tempat indah di bumi Indonesia (Lampung, khususnya). Saya memutuskan untuk pergi ke Pantai Gigi Hiu yang ada di Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus. Udah dari 2 tahunan yang lalu pengen kesini, tapi masih bingung untuk eksekusi karena kok kayaknya "susah". Baca di banyak artikel blog, Gigi Hiu adalah pantai untuk kamu yang berjiwa petualang dan ga cengeng. Ga semua orang bisa mendatangi tempat ini (kecuali nenek-nenek nekattt). Apa iya? Mari kita buktikan.
Minggu pagi (7 Juni 2020) - Saya dan Ulfa berangkat dari rumah sekitar jam setengah 6 pagi. Bekal yang udah disiapkan mamak (bahkan dari kemarin) siap mensponsori makan kami hari ini. Walau di tengah wabah Corona, saya tetap memutuskan untuk berangkat pagi karena saat itu hari minggu, ada kemungkinan akan ramai didatangi orang-orang (apalagi selama masa pandemi, Pantai Gigi Hiu tetap buka). Tujuan pertama kami ke kampus Darul Fattah di Gang Kopi Gedung Meneng untuk ketemuan dengan Nafisah dan Siska. Setelah berkumpul, lanjut menuju daerah gubernuran menjemput satu anggota rombongan lagi, Mbak Putri. Ketiganya adalah teman Ulfa (yey aku gapunya temen 😭).

Sekitar jam 7 pagi, fix kami berangkat dari Bandarlampung. Ulfa membonceng Mbak Putri; Siska dengan Nafisah dan saya dengan bayangan saya sendiri, lupakan -_- Ada beberapa jalur menuju Pantai Gigi Hiu di Kelumbayan Tanggamus. Bisa rute Kiluan atau lewat Padangcermin. Kami lewat Padangcermin. Keduanya sama aja sih; Yang satu tidak lebih baik dari yang lain.

Jalanan yang kami lewati bervariasi treknya; mulai dari aspal halus mulus sampai dengan jalan berbatu yang bikin seluruh badan tergoncang. Masuk Kabupaten Tanggamus, jalanan mulai meliuk didominasi tanjakan dan turunan. Hutan dan perbukitan hijau menemani perjalanan kami. Menyejukkan mata 😎

Jalanan membelah perbukitan

Beberapa hari menjelang pergi, Ulfa sempat "berisik" ngomongin soal jalan turunan yang katanya ekstrem banget. Saya sih biasa aja; bukan mau sombong, tapi saya ga terbiasa membuat diri khawatir dengan sesuatu yang belum benar-benar saya hadapi. Qadarullah pas ngalamin langsung ternyata... Huwahaha! 😡😡😡 Baru kali itu secemas itu (!) Mulut saya komat-kamit melafazkan zikir Subhanallah. Jalanan yang menurun tajam ditambah rem yang ga terlalu pakem adalah perpaduan yang sempurna untuk membuat saya panik. Boro-boro memperhatikan anggota rombongan yang lain. Udah khusyu sendiri merhatiin jalan.

Turunan 'maut'

Menjelang berakhirnya turunan maut itu, rem Siska sempat blong. Wadueh gimana ini? Rencananya setelah sampai di bawah, nyari bengkel terdekat untuk memperbaiki. Qadarullah sebelum nemu bengkel, remnya udah berfungsi lagi. Alhamdulillah.

Jalanan mulus terakhir sebelum ketemu trek tanah dan bebatuan

Setelah melalui jalanan yang naik turun, hutan sepi, perbukitan, akhirnya ketemu pinggiran laut juga (timbullah harapan bahwa tempat yang kami tuju tidak jauh lagi). Kami kira ini adalah akhir dari penderitaan, siapa sangka ternyata gerbang awal dari penderitaan yang lain wkwkwk! Ngaso dulu sambil ngelurusin kaki; sambil foto-foto dong pastinya. Keindahan pantai pinggir jalan ini terlalu sayang untuk dilewatkan. MasyaAllah.




Di perjalanan aja udah indah; Tapi walaupun begitu indah dan menarik hati untuk disinggahi, kami tetap harus beranjak pergi karena kami tahu dan sadar itu bukan tujuan kami. Sama aja kayak hidup; Kalo akhirat (surganya Allah) yang jadi tujuan, (seharusnya) ga terlena dengan dunia yang cuma tempat singgah sementara, dan ga lebih berharga dari sayap nyamuk ini... Uhuk! Kesambet apa?



Kalo lihat Maps sih kata Mbak Putri tinggal beberapa kilo lagi jarak kami ke Gigi Hiu. Yeay! Semangat lagi melanjutkan perjalanan. Katanya treknya susah, mana? *belumNyadar. Setelah dari pantai tempat kami berhenti foto-foto itu, treknya mulai berbatu. Batunya lumayan cadas nih, siap merobek ban-ban yang tipis. Sedang konsentrasi penuh melewati jalanan berbatu, tiba-tiba Siska menghentikan motornya di tengah hutan sepi. Eh, kenapa kenapa?

"Ntar brenti dulu. Abang-abang yang naik motor itu bawa golok", kata Siska sedikit panik.

Lah, namanya aja di pelosok, di kebon. Wajarlah orang bawa golok (bisa jadi untuk mencari rumput dan sebagainya). Yang ga wajar tuh kalo bawa kamu ke KUA, eaaa -_- Setelah itu lanjut lagi menikmati bebatuan. Sesekali Ulfa dan Nafis turun dari boncengan motor karena medan yang dilalui cukup sulit dan mengerikan.


Semakin dekat ke tujuan, semakin sulit trek yang harus kami lewati. Ada satu mobil di belakang kami. Wah keren nih mobil, abis dari sini siap-siap diservis total huhu. Ga recommended banget bawa mobil ke sini (kecuali jeep hardtop). Jalanannya siap ngebuat yang ngelewatinnya istighfar. Mau balik lagi kok nanggung; Tapi kalo diterusin bikin klenger 😡😡😡 kudu piye??? Sanggupkah? Jalur menuju Pantai Gigi Hiu buat saya adalah campuran antara jalur: Ke Bromo via Tumpang dan Nongkojajar; Jalan pegunungan berbatu menuju Desa Mantar di Sumbawa Barat; Jalur menuju Angel Bilabong di Nusa Penida; Pokonya yang ga enak-enak nyampur semua dah jadi satu (bahkan sehari kemudian telapak tangan saya masih terasa kebas dan getir gara-gara nahan rem). Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kamu harus datang sendiri kesini untuk membuktikannya (dan merasakan penderitaan yang sama uwuw).

Setelah episode perjalanan yang bikin termehek-mehek itu sampai juga kami di Pantai Gigi Hiu. Akhirnya. Total perjalanan dari rumah tadi sampai di sini kira-kira 4 jam. Seorang bapak menyambut kami (untuk memintai uang masuk pastinya). Kami membayar 10K per orang.

Baca juga: Perjalanan Ga Disangka menuju Desa Mantar di Sumbawa Barat

Bahagia banget nemu plang merah di atas

"Abangnya mana Mbak?", tanya bapak penjaga yang keheranan melihat rombongan kami tanpa seorang cowok pun. Pertanyaan yang sering banget terlontar kalo lagi main.

"Masih disimpen Pak" (sama Allah di lauhul mahfudz). Enteng saja saya jawab.

Bukan mau sombong, hey kami cewek-cewek super, bisa melakukan segalanya tanpa pria. No no, ga seperti itu. Tapi sementara kami ingin main, dan Allah masih belum pertemukan dengan 'teman main separuh agama' itu, yaudah main aja dulu sama saudara di jalan Allah atau sisterfillah *eaaak.

Begitu sampai di pantainya, mencoba untuk meluruskan otot-otot dan persendian yang sempat tegang tadi. Sebentar saja sudah hilang lelahnya melihat pemandangan indah di depan sana, masya Allah tabarakallah. Sebelum mulai eksplor, isi tenaga dulu dengan bekal nasi lauk semur daging dan sayur kates (baca: pepaya muda); dengan buah pencuci mulut pepaya jeruk nipis *segernyaaa.



Selesai makan, kami langsung mengemasi bawaan kemudian berjalan menuju spot deretan bebatuan  karang runcing; tempat dimana asal penyebutan Gigi Hiu itu berasal. Saat menyusuri pinggiran pantai harus hati-hati melangkah karena cukup licin. Bebatuan di pinggiran pantai yang kami lewati menuju spot Gigi Hiu ini besar-besar; "Jo bawa pulang buat mamak, untuk ulekan". Yakali bawanya gimana -_- Kalo setiap orang yang datang punya pikiran kayak Ulfa begitu, dijamin lama-lama pantai itu gada batu-batuannya lagi *tepokjidat #SaveBatuUlekan



Saya tertinggal di belakang. Selain untuk mengambil foto artis-artis di depan, juga karena ngos-ngosan ga kuat. Fiuh, gini amat badan ga pernah diajakin olahraga. Beberapa menit berjalan menyusuri pinggiran pantai, sampai juga kami di spot Gigi Hiu. Orang setempat lebih mengenal pantai ini dengan sebutan Batu Layar. Masya Allah. Finally, we are here; Tempat yang viral beberapa tahun belakangan, berseliweran di akun-akun IG pariwisata Lampung. Tapi kok... *sedih😒


Sampah dan muda-mudi (belum halal) yang datang berpasangan adalah dua hal yang sangat mengganggu pemandangan di pantai ciptaan Allah yang sangat indah ini. Jadi mikir, jahatnya kita (manusia) sama alam yah; Kita nikmati keindahannya, hati kita terhibur karenanya; Tapi hanya untuk sekedar membuang sampah pada tempatnya atau membawa kembali sampah yang kita buat, susahnya bukan main?! O, Rabb ampuni kami... Harapan untuk pengelola (yang memintai kami uang ketika masuk), sediakan dong tempat sampah di sini. Dan untuk kamu yang datang dua-duaan sama pasangan yang belum halal, inget lho yang ketiga adalah syaithan πŸ‘ΉπŸ‘ΉπŸ‘Ή

Siang itu cuaca lumayan cerah. Alhamdulillah. Tanpa sinar matahari, tidak mungkin kita dapati lautan yang biru. Allah jadikan keduanya saling melengkapi, saling mengindahkan. Kami mulai sibuk mengabadikan momen ke dalam gadget masing-masing. "FOTOIN", adalah kata yang paling banyak terdengar di sini 😌 Ohiya satu hal yang perlu diperhatiin, jangan korbanin nyawa cuma demi dapetin foto ya. I mean, berhati-hati ketika berada di deretan karang ini. Ombak yang besar siap menerjang kapanpun. Belum lagi bebatuannya yang licin. Tidak ada penjaga atau alat keselamatan apapun yang disediakan. Jatuh ya jatuh, tenggelam ya tenggelam *naudzubillah.



Pantai Gigi Hiu adalah objek fotografi yang super keren. Tiap sudutnya indah untuk diabadikan. Coba deh datang saat sunrise maupun sunset, dijamin kamu bakal ternganga sama hasil foto yang didapetin (kalo cerah lho ya). Tempat ini merupakan surga bagi penghobi fotografi.



Sekitar satu jam kemudian kami memutuskan untuk pulang. "Kalo ngebayangin jalannya tadi rasanya gamau pulang, udahlah di sini aja". Yakaliii. Pantai Gigi Hiu adalah salah satu primadona wisata yang dimiliki oleh Lampung (Kabupaten Tanggamus khususnya); Semoga pemerintah daerah setempat beri'tikad untuk memperbaiki sarana dan prasarana (terutama jalanannya pak tolooong😭😭😭). Toh kalau dikelola dengan baik akan memberikan pemasukan untuk daerah setempat dan warga di sekitarnya.

Pas sampai di parkiran motor, saya speechless. Lha penuh amat yak motornya. Dari yang awal kami datang ga sampai sepuluh motor, kemudian 'beranak' jadi puluhan motor. Ada beberapa mobil juga yang terparkir. Ini membuktikan bahwa pandemi Covid-19 membuat orang-orang kekurangan piknik (!).


Saat akan menyalakan motor, tiba-tiba jantung saya serasa mau copot, deg! Starternya Mati. Gak bisa dinyalakan sama sekali. Dicoba beberapa kali tidak membuahkan hasil. Coba deh dinyalakan manual. Agak kesulitan karena kontur tanahnya berpasir. Ada beberapa remaja yang sedang duduk-duduk istirahat; baru datang. Mereka peka kemudian membantu kami. Yeay, motornya nyala kembali. Huhu terima kasih ya Allah.

Alhamdulillah, perjalanan pulang kami lalui dengan baik-baik saja. Masih dengan perjuangan yang sama; melewati jalanan tanah serta berbatu, licin, rawan selip dan tersungkur. Namun kali ini sudah lebih 'lihai', belajar dari pengalaman pas pergi tadi. Langit menunjukkan tanda-tanda akan hujan. "Plis ya Allah jangan ujan dulu pas lagi di sini", berdoa dalam hati. Alhamdulillah hujan turun pas udah sampe di desa terakhir sebelum jalanan yang parah. Kami berteduh di depan puskesmas (atau apa ya lupa).

Baca juga: Pertama kali ke Bromo Naik Motor

Saya yakin hari itu banyak sekali kebaikan yang Allah berikan dalam perjalanan kami; Contohnya: Rem Siska yang blong kemudian benar kembali. Motor saya yang gabisa distarter, kemudian tau-tau hidup lagi sebelum sempat dibawa ke bengkel. Ban kami tidak ada yang kempes atau bocor (bener-bener ga kebayang kalo bannya bocor di tengah hutan gitu ya Allah...😭😭😭). Saat perjalanan pulang, Allah menghindarkan kami dari kehujanan derasss. Pas hujan turun dengan derasnya, kami sedang berteduh di mushola pinggir jalan untuk menjamak shalat, kemudian saat makan bakso. Jadi cuma 'ketumpahan' gerimis-gerimis manja aja (ga sampai basah kuyup). Dan banyak kebaikan lainnya yang ga kejangkau sama hati dan pikiran kami; sehingga kami pulang selamat sampai rumah masing-masing tanpa kurang suatu apa (eh ada kurangnya sih, kurang main kemana lagi yaaa? Eaaa). Pergi saat gelap, pulang pas udah gelap. Jam setengah 7 malam sebelum Isya, kami sudah berada di rumah masing-masing. Alhamdulillahiladzi bi ni'matihi tathimushalihaaat.


Perjalanan sangat melelahkan, naik turun, becek, licin, menerjang hujan. Lelah kami terbayarkan oleh pantai yang sangat memesona. Keindahan pantai ini menjadi salah satu bukti tanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang patut kita syukuri dan renungi.. betapa kecil dan tidak berdayanya kami jika dihadapkan dengan ciptaanNya yang tidak mungkin bisa ditiru oleh siapapun... Semoga dari perjalanan ini kita mendapatkan hikmah dan energi positif untuk lebih dekat lagi dengan Allah dan ciptaanNya.. -Nafis

Perjalanan ke pantai Gigi Hiu kmren itu kalo diibaratkan kayak perjalanan hidup manusia didunia ya.. Buat ngedapetin atau mencapai sesuatu yg kita inginkan itu pasti lah ada cobaan dan rintangan. Dan setelah kita mencapai titik dimana kita merasa puas dan senang itu pun hanya sementara, akan ada lagi masalah dan cobaan hidup yg bakal kita hadapi. Tapi setidaknya terasa lebih ringan karena kita sudah pernah merasakan yg lebih berat. Intinya selalu bersyukur dan jangan mengeluh dalam setiap keadaan. *kokjadikekmarioteguh πŸ™ƒ -Mbak Putri Teguh *eaaak

Ati-ati kalo lewat jembatan, Bang Johan abis kesurupan -Ulfa 

Wee punya Nafis udah mewakili semuanya -Siska

***

Traveling berarti meluaskan tempat untuk mengingat-Nya. Biarlah bumi Allah yang pernah kita pijak menjadi saksi kita pernah melantunkan dzikir masyaAllah karena takjub akan keindahan alam ciptaan-Nya; Biarlah bumi Allah yang pernah kita lewati menjadi saksi kita pernah melantunkan dzikir Allahu Akbar dan Subhanallah ketika melewati jalanan menanjak dan menurunnya; Biarlah bumi Allah yang pernah kita datangi menjadi saksi kita pernah merasa begitu kecil tidak ada apa-apanya dibanding Ia dengan segala kehebatan-Nya mencipta langit bumi dan seluruh isinya... Allahu 'alam.


***