Jumat, 30 April 2021

Wisata Berwawasan Lingkungan di Ekowisata Hutan Mangrove (Bakau) Desa Gebang Pesawaran Lampung


Ekowisata atau ekoturisme merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek permberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan (Wikipedia).
 
Lokasi dan Cara Menuju Ke Ekowisata Mangrove Desa Gebang
Ekowisata Hutan Mangrove Petengoran terletak di Desa Gebang Kecamatan Padangcermin Kabupaten Pesawaran. Tempat ini adalah satu dari puluhan tempat wisata bahari yang ada di sepanjang Teluk Lampung yang masuk wilayah Kabupaten Pesawaran. Belum lama ini saya lihat fotonya di salah satu akun pariwisata Lampung. "Aih asik nih kayaknya kesana", pikir saya. Jadilah di Hari Sabtu (24/04/2021) sehabis Shalat Subuh saya bersama adik, sepupu dan bibi pergi kesana. Jarak dari rumah saya di daerah Natar (pinggiran Bandarlampung) sampai ke tempatnya kurang lebih 45 menit. Karena belum tahu lokasi persisnya di mana (yang saya tahu hanya sekedar pantai ini satu arah dengan Pantai Dewi Mandapa) setelah melewati Pantai Sari Ringgung, saya melipir bertanya ke penduduk setempat. Oia kalo kamu masih bingung langsung setel aja di Google Maps "Hutan Mangrove Desa Gebang" dan tinggal ikuti arahannya (semoga ga disasarin). Masih cukup pagi ketika kami sampai di tempatnya. Jika datang lebih pagi lagi, tentu kami akan dapat menyaksikan momen matahari terbit yang kelihatannya sangat indah dari tempat ini. Jam 6 lewat saja masih kelihatan perfectly splendid! Saat kami datang hanya ada seorang bapak yang sedang duduk di sebuah saung di depan gapura bertuliskan "Mangrove Petengoran".


Berapa Uang Yang Harus Saya Keluarkan Untuk Menikmati Hutan Mangrove Desa Gebang?
Pada saat kami mau masuk, loket tiket belum buka (atau memang tidak dibuka?). Mungkin kami datang terlalu pagi. Kami asik foto sana-sini; sekitar setengah jam kemudian baru ada seorang bapak yang mendekati kami dan menanyakan apakah kami sudah membayar tiket masuk atau belum. Kami bilang belum karena tadi saat masuk tidak ada yang memintai. Akhirnya kami membayar Rp 60.000 per 4 orang (per orang Rp 15.000). Oia tempat wisata ini dikelola oleh badan usaha milik desa setempat (Desa Gebang).

Fasilitas Yang Ada di Ekowisata Mangrove Desa Gebang 
Menurut beberapa info yang saya baca di internet, wisata mangrove Petengoran (bukan peterongan, apalagi petimunan -apasi) ini baru dibuka untuk umum sekitar tahun 2019. Di masa pandemi tahun 2020 sempat ditutup namun saat ini sudah mulai dibuka kembali (tentunya dengan menerapkan prokes seperti tersedianya tempat cuci tangan dan poster himbauan yang dipasang di pintu masuk).

Poster himbauan untuk menerapkan protokol kesehatan yang ada di pintu masuk

Sekilas mengenai hutan mangrove yang ditaruh di salah satu pondok

Berdasarkan papan informasi wisata yang saya lihat di samping pintu masuk, di ekowisata mangrove ini terdapat 2 jalur track yang bisa pengunjung susuri sambil menikmati view pantai yang sangat amat tenang (hampir tidak berombak). Juga ada banyak pondokan yang bisa dimanfaatkan untuk sekedar bersantai sambil bersantap bersama keluarga. Selain itu, ada semacam kafe atau tempat makan (tapi tutup karena ramadan nampaknya). Fasilitas lainnya adalah toilet di dekat pintu masuk dan mushola yang bisa kita temukan di jalur track sebelah kanan.
 

Apa Aja Yang Bisa Dilakukan? 
Selain belajar sekilas tentang hutan mangrove (bakau), pengunjung bisa menikmati tempat ini yang sangat tenang, alami dan indah. Selain itu, berjalan santai di jalur trek sambil menghirup udara segar hutan mangrove. Bayangkan pagi atau sore hari jogging di trek ini bakalan seru banget pastinya. Tempatnya juga fotogenik. Ada banyak spot untuk mencipta tangkapan kamera yang instagramable.

Starting point jalur track kanan

Bisa jadi spot foto yang kece

Semacam kafe yang belum (tidak?) buka

Track memutar logo 'love' (dilihat dari atas) dengan tulisan besar 'Ekowisata Mangrove'

Salah satu shelter untuk pengunjung ngadem

Inisih berasa kayak bukan di Indonesia; the view is so stunning!

Air laut yang tenaaang banget; bikin tenang hati yang liat

Ujung track sebelah kanan
 
Banyak banget spot foto bagus yang sayang untuk dilewatin

Jembatan aestetis
 
Setelah sampai di ujung trek kanan, kami beranjak menyusuri jalur trek sebelah kiri. Nyari trek yang masuk membelah hutan bakau. Ketemu! Adem dan sejuk berada di situ karena sinar matahari terhalang pepohonan plus udara yang kaya oksigen. Dibanding trek sebelah kanan, ada lebih banyak pondokan di sisi ini (tapi kalo masih pagi lumayan panas karena terkena sinar matahari langsung dari sebelah timur).
 
Starting point track sebelah kiri

Pondokan yang bisa pengunjung manfaatkan

Tanaman bakau yang masih pada bocil

Trek yang masuk membelah hutan bakau; adem
 
Kelakuan; masih pagi udah tepar

Arigatou!
Kesan dan Saran
Sampai jam 8 lewat, kami masih jadi pengunjung satu-satunya. Enak banget sih; sampai gatau harus gaya apa lagi dalam jepretan kamera. Karena ga tahan sama panasnya matahari (jam 8 pagi udah kayak jam 1 siang) bersiaplah kami untuk pulang. Overall, hutan mangrove Desa Gebang adalah tempat yang asik banget buat refreshing. Tempatnya bersih; kotak sampah di mana-mana. View-nya juarak (berkali-kali kami bilang kalo viewnya luar negeri banget). Tipe tempat wisata yang bisa didatangi lagi dan lagi.
Saran: Karena tempat ini merupakan ekowisata, perbanyak poster atau semacamnya yang berkaitan dengan tanaman mangrove atau bakau di titik tertentu sehingga pengunjung yang datang selain bisa berwisata juga teredukasi.
 
Mampir ke Muncak Teropong Laut Pesawaran
Mumpung masih pagi, kami memutuskan untuk pergi ke satu tempat wisata lagi yang searah jalan pulang yaitu Muncak Teropong Laut yang berada di daerah Lempasing. Dari jalan utama kami masih harus masuk gang dan menanjak naik. Jalanannya di beberapa titik lumayan jelek parah. 15 menit kemudian sampai di tempatnya. Kami membayar per orang Rp 11.000 (sudah termasuk parkir). Beberapa tahun lalu tempat ini sempat begitu viral. Ini adalah kunjungan pertama saya ke tempat ini. Seperti halnya di hutan magrove tadi, kami jadi satu-satunya pengunjung di pagi itu. Sepiii.



 
View dari Muncak Teropong Laut (Teluk Lampung) gajauh beda kayak pas saya foto di Desa Mantar Sumbawa Barat dengan view Selat Alas-nya. Sejujurnya kalo dikelola dengan kreatif dan inovatif, pariwisata alam di Lampung ga kalah sama tempat apik lainnya di Indonesia (karena kita punya modal kekayaan alam yang indah). Berhubung matahari sudah semakin tinggi, kami memutuskan untuk pulang. Selamat kehausan di jalan. Siapa yang nyuruh puasa-puasa ngeluyur? ๐Ÿ˜ต๐Ÿ˜ต๐Ÿ˜ต

Senin, 19 April 2021

Cerita Tahun 2020: Kilas Balik 1 Tahun

Tahun 2020 penuh cerita. Hampir tidak berasa. Kayak tau-tau udah berlalu gitu aja. Liat meme di Instagram gini, "tahun 2020 isinya cuma  2 bulan aja (Januari sama Februari); yang selanjutnya latihan akhir zaman". Bener apa betul? Seumur-umur ga pernah kebayang kalau bakal melewati masa pandemi kayak gini. Inget dulu ngalamin krisis moneter tahun 1998 tapi ga terlalu kerasa banget dampaknya (for me, as personal). Paling kerasanya harga telur yang sebelumnya 1 butir 500 terus jadi 2000 (kalo ga salah inget ya ehe) dan jajanan di warung yang harganya tak lagi sama.
 
Garis besar tahun 2020 adalah tentang: nominal dan kurva pasien positif covid-16 yang terus-terusan naik, kebiasaan baru yang terus digaungkan everytime everywhere yaitu pakai masker, sering cuci tangan dan jaga jarak. Tagar semacam #dirumahaja, #kangenmain, #rindutraveling, #adaptasikebiasaanbaru berseliweran di linimasa media sosial.

Untuk beberapa kebiasaan baru kayak #Mencuci tangan - Saya memang rada jijique-an orangnya. Kalo lagi masak di dapur, bisa sepuluh kali lebih cuci tangan. Abis kupas bawang, cuci tangan. Abis metikin sayur, cuci tangan. Bahkan abis pegang lap atau gagang berminyak, cuci tangan. #Memakai masker - ini mah udah biasa sih kalau tiap traveling pasti pake masker -soalnya panas-panasan blusukan dll. Dan #Menjaga jarak -ini lebih saya suka lagi (introvert mode on).

Kalo dipikir-pikir masya Allah tahun 2019 kemarin, Allah kasih rizqi ke Nusa Penida, Palembang, Sumatera Barat, Sumatera Utara (2 kali), Sabang (Aceh), ke Bandung (2 kali), Madiun, ke Dieng Wonosobo juga Jogja. Terus gimana masa pandemi tahun 2020? Apa sebanyak itu juga pergi ke tempat-tempat baru? Apa aja yang saya alami atau dapati ketika tetap bepergian di masa pandemi? Bagaimana tahun 2020 berjalan untuk saya pribadi? Oke silakan disimak sedikit kilas balik tahun kemarin ๐Ÿ’ช
 
- JANUARI -
Awal tahun yang bahagia. Alhamdulillah wa masya Allah. Sebelumnya (akhir 2019) Allah kasih kesempatan pergi bareng Syifa, ketemu Ade sama Nita di Dieng dan liburan bareng Ratih dan keluarga di Jogja (ceritanya di sini). Allah juga kasih kesempatan main ke beberapa deret pantai di Malang Selatan. Tau khan kalo Malang punya pantai yang keren-keren yang ga kalah sama pantai lainnya di belahan Indonesia? Masih berdua dengan Syifa, di suatu hari di Bulan Januari, kami mencari makna yang terserak di deretan pepantai Balekambang (halah). Ada beberapa pantai tersembunyi yang masih belum terjamah di sana (ada Pantai Jembatan Panjang, Pulau Ismoyo, Pulau Hanoman, Pantai Dali Putih dan Tanjung Sirap yang fenomenal).
 
Pantai Dali Putih di jejeran Pantai Balekambang, Malang Selatan

Pertengahan Januari, beberapa adik kontrakan kembali ke Malang (karena tahun ajaran baru bakalan dimulai). Kami merencanakan untuk muncak. Gunung apa yang akan kami naiki? Ada beberapa opsi; pilihan akhirnya jatuh pada Gunung Penanggungan yang ada di Mojokerto. Bisa dibilang gunung ini adalah Little Semeru. Buat saya, kalau jadi pergi, ini muncak yang ketiga kalinya. Kali pertama dan kedua di Gunung Panderman di Kota Batu dan itu pun ga nginap. So, kali ini bakalan jadi pengalaman yang seru banget.
 

Banyak banget cerita seru di pendakian kali ini. Yang bakalan paling keinget adalah summit ke puncak nyeker alias ga pakai sandal apalagi sepatu. Jadi setelah semalaman ngecamp di Puncak Bayangan, besoknya kami naik ke puncak. Lhaaa baru aja melangkah belum ada seperempat perjalanan, sandal gunung kesayangan yang udah nemenin langkah kaki saya selama 7 tahun, putus. Alhasil meringis-ringis napakin jalur ke puncak yang lumayan berbatu dan batunya tajam-tajam hanya dengan bermodalkan alas kaos kaki (!). But Alhamdulillah biidznillah we did it, walau jadi rombongan yang terakhir sendiri sampai di atas (cerita selengkapnya just click here)
 
- FEBRUARI -
Ga banyak keluar atau main di bulan ini. Satu perjalanan yang agak jauh adalah pergi ke Desa Medowo di Kecamatan Kandangan Kabupaten Kediri (kurang lebih 2 jam perjalanan dari Kota Malang) bersama beberapa adik kontrakan (Himmah, Sheny dan Sukma). Desa ini tiap tahunnya menyelenggarakan acara "Dhahar Durian". Jadi dalam acara tersebut dibuatlah beberapa tumpeng berukuran besar (ribuan buah durian disusun sedemikian rupa menjadi bentuk tumpeng) kemudian dibagikan secara cuma-cuma (i love cuma-cuma) kepada warga yang datang. Durian hasil panen di Desa Medowo yang dijadikan tumpeng berjumlah tahun diselenggarakan acara tersebut (tahun kemarin jumlah buah duriannya sebanyak 2020 buah). Kalo misal keabisan jatah tumpeng durian, kita bisa membeli durian berbagai macam rasa, harga dan kualitas yang dijajakan di depan rumah-rumah warga. Asik banget sih; Selain berburu durian, warga yang datang juga bisa membeli hasil bumi lainnya dari Desa Medowo seperti salak dan manggis serta susu sapi murni dan olahan lainnya di bazaar desa. Acara yang buat saya pribadi kudu masuk list to visit tahunan.

 
- MARET -
Maret 2020; Secara resmi pemerintah mengumumkan terjadinya kasus positif covid-19 pertama di Indonesia. Tanggal 17 Maret Perpustakaan UIN Maliki Malang tempat saya ngumpulin cuan buat jalan-jalan mulai menerapkan kerja di rumah atau Work from Home (WFH). Kuliah jadi daring. Kampus ditutup untuk segala macam kegiatan. Kontrakan mulai sepi. Adik-adik pulang ke kampungnya masing-masing. Sesekali saya ajak Syifa (yang belum pulkam) main ke Cangar untuk ngilangin bosan. Walaupun blusukan di kebun penduduk, tapi tetep sambil nyimak materi di hape. Main rasa belajar, judulnya. Pada bulan ini dimulailah segala macam drama rapat via Zoom, G-Meet; Distribusi kerjaan via WA grup dan apapun yang berbau onlen.

 
- APRIL -
Yang tertinggal di kontrakan cuma segelintir. Bahkan dari tanggal 5 cuma tinggal saya sama Syifa. Syifa masih nunggu instruksi dari orang tuanya, apakah pulang atau tetap di Malang. Orangtuanya benar-benar khawatir dengan Covid-19. Saya? Nunggu Syifa pulang apa enggak. Kalo Syifa pulang, saya juga (ga mungkin sendirian krik krik di kontrakan). Kalo Syifa ga pulang, saya tetep pulang tapi nanti udah mepet mau lebaran (cuti bersama). Keputusan akhir, kita berdua pulang. Kontrakan kosong. Tanggal 12 April kami meninggalkan Malang. Saya Malang - Lampung transit Jakarta. Syifa Malang - Padang transit Jakarta. Pas transit di Jakarta (bandara Soetta) kerasa banget suasana pandemi-nya. Bandara yang biasanya always sibuk dan crowded itu sepiii banget. Banyak flight yang cancel. Bahkan tangga berjalan di stasiun KA Layang dimatikan saking sepinya gada orang (walhasil saya ngos-ngosan parah naikin anak tangga yang jumlahnya puluhan). Sampe di Bandara Radin Inten Lampung, ada beberapa aturan baru yang harus dipatuhi pendatang kayak ngisi kartu kewaspadaan dari KKP dan sebagainya. Intinya untuk informasi tracing kalo-kalo naudzubillah ada yang terkonfirmasi positif covid-19. But overall, home sweet home.
 

- MEI -
Terakhir ngerasain awal puasa di rumah kalo ga salah tahun 2012; jauh sebelum negara api menyerang. Akhirnya tahun 2020 ini bisa ngerasain puasa pertama bareng keluarga di rumah. Alhamdulillah. Menikmati hari-hari di rumah. Kalo orang-orang pada punya hobi baru: masak dan berkebun. Saya sih cuma menikmati masa "ga ngapa-ngapain" di rumah. Ngapain masak? Ada mamak ratu di dapur. Berkebun? Bapak udah sukses banget dengan segala tanam-tanamannya di kebun depan rumah. Punya waktu yang banyak untuk ngelaksanain to do list ramadan yang udah dibikin bagus banget. Puasa dan ramadan paling beda. Gak ada buka puasa bareng (yeay); gada tarawih di masjid. Tapi namanya di kampung, tetap aja ada yang meramaikan masjid (bapak-bapak). Bulan Mei full kerja di rumah sambil menikmati 'dinamika rumah' yang sebenarnya (biasanya pulkam paling lama cuma 2 minggu; itupun kebanyakan main ke luarnya).

 
- JUNI -
This month is all about: main di pantai-pantai keren yang Lampung punya. Setelah lebaran udah harus masuk kantor lagi yang berarti balik ke Malang, tapi regulasi perjalanan masih diperketat. Harga tiket pesawat melangit. Izin deh sama atasan untuk bisa lanjut WFH. Alhamdulillah izin didapat. Udah mulai agak gabut, ngerencanain pergi ke salah satu tempat 'menantang' di Kabupaten Tanggamus yaitu Pantai Gigi Hiu. Baca kisah menegangkannya here

 Gigi Hiu Squad - Mbak Putri, Ulfa, Siska dan Nafis

Akhir bulan; detik-detik menjelang kepulangan ke Malang. Ada satu pantai di Lampung yang lagi viral karena mirip Pantai Walakiri di Sumba. Sunsetnya juarak banget. Kudu kesana dong. Namanya Pantai Sebalang. Berkendara kurang lebih 45 menit dari Bandarlampung udah bisa sampe tempatnya. Awalnya pantai ini sepi dan lumayan rawan kalo malam. Gara-gara viral di internet kemudian mulailah berbondong-bondong orang kemari. Jangan harap bisa foto tanpa photoboom di akhir pekan. Walau bisa dibilang KW-nya pantai di Sumba, Sebalang ini beneran keren dan very recommended to visit.


Masih bisa haha hihi di Pantai Sebalang, padahal besok paginya rencana terbang ke Malang dengan jadwal pesawat yang masih belum jelas (puluhan kali ngehubungin call center untuk ngurus penerbangan yang delay tapi ga nyambung-nyambung)
 
Momen matahari terbenam di Pantai Sebalang yang magical banget masyaAllah
 
- JULI -
Menunaikan janji pada atasan untuk balik ke Malang, kembali ngantor, kembali menghadapi kenyataan. Bismillah. Drama banget pas mau balik. Jadi rencana pulang tanggal 1 Juli. Satu hari sebelumnya, seperti yang udah saya ceritain di atas, masih sempet-sempetnya sunset-an ke Pantai Sebalang. Padahal tiket pesawat belum jelas tuh. Sehabis Subuh, berdua dengan Mbak Atun (yang juga mau balik ke Madiun tapi naik pesawat ke Malang dulu) kami ke bandara untuk mencari kejelasan tiket. Belum mandi. Sampai di CS maskapai, ternyata kami berangkat pagi itu juga. Buru-buru pulang, beresin ini itu (fifty-fifty pulang hari itu atau besoknya jadi belum siap 100 persen). Sarapan pun ga sempat. Begitu sampe rumah, langsung set set set! Pengalaman pertama naik pesawat ga mandi wkwkwkw! Pesawat kami transit di Jakarta dan baru besoknya lagi ke Malang dan itu pun via Bandara Halim Perdanakusumah. Kami menginap semalam di rumah kakak sepupu saya di Jakarta Selatan. Lagi corona di mana-mana gitu malah stay di Jakarta. Pasrah ae lah.

Tanggal 2 Juli sampe di Kota Malang, di kontrakan tercinta. Cuma ada Himmah dan Bue. Bue lagi sibuk ngelarin skripsinya. Saatnya mewujudkan beberapa hal yang udah lama dipengenin; antara lain mancing (!). Modal joran dan kail dikasih sama rekan kantor, jadilah di satu akhir pekan saya bersama Himmah pergi ke salah satu spot memancing di Kabupaten Malang yaitu di Waduk Karangkates. (Kuy cerita lengkapnya klik aja)

 Salah satu spot memancing di Waduk Karangkates

Walaupun udah mulai masuk kerja, berangkat ke kantor, tapi perpustakaan masih ditutup alias belum buka layanan. Jadi lebih santai dan ngerasa banyak waktu. Ada waktu buat ngerealisasiin satu lagi keinginan; udah lama pengen ikut kalo misal Himmah (adik kontrakan) pergi ke tempat KKM-nya (desa tempat produksi @omahkripikmbote). Time is coming. Ajakan itu akhirnya datang juga. Bertepatan sama saya yang udah kangen banget suasana desa. So, bakal menikmati banget insya Allah. Pulang dari Desa Tamansari di kaki Gunung Semeru, mampir sekalian ke Coban Ciblungan yang ada di Ampelgading. Airnya seger banget buat mandi, rek.

Nyobain motor trail yang biasa dibawa ke kebon

 Air Terjun (Coban) Ciblungan di Ampelgading, Kabupaten Malang

- AGUSTUS -
Ada beberapa tanggal merah. Bisa deh diambil buat trip tipis-tipis. Salah satunya menunaikan keinginan untuk bawa motor sendiri ke Madiun. Pas Bue mau pulang kampung, ngikut dong. Gayung bersambut, semesta mendukung. Kami bawa motor masing-masing. Sampai di Madiun, kami berencana untuk liburan ke Tawangmangu. Pas lagi di sana, Bue diminta untuk pulang ke rumahnya di Boyolali; Hanya dalam kurun waktu ga sampai satu jam, dengan persiapan seadanya, bismillah ngikut Bue ke Boyolali langsung dari Tawangmangu. Perdana bawa motor lintas Jatim - Jateng. Masya Allah biidznillah.

 Wefie di salah satu landmark Kota Boyolali, yeay we did it!

Agustus akhir. Sebelum Bue pulang ke Madiun untuk selama lama lamanya (?), kami punya satu agenda bersama yang kudu ditunaikan yaitu camping ke salah satu pantai yang ada di Malang Selatan. Dari sekian banyaknya pantai, kami pilih Pantai Parangdowo yang lumayan memenuhi syarat untuk jadi tempat camping menyenangkan (fasilitas lengkap, loket masuk ga jauh dari jalan raya cuma sepelemparan batu, dan tempatnya tenang ga ramai orang) dan di sana juga ada karang pembatas jadinya bisa mandi di laut dengan aman, juga ada bukit yang bisa didaki buat liat view pantai dari ketinggian.

Menyambut pagi di pinggiran Pantai Parangdowo Malang Selatan

- OKTOBER -
Pas ke Madiun lanjut Boyolali di Bulan Agustus, sempet ngajakin Bue untuk ke Jogja by motor. Kuylah gaskan di Bulan November, kata saya. Nah di Bulan Oktober ini sempat mau liburan bareng Ade ke Lembang tempat Rateh. Udah cari-cari hotel di Bandung dll. Gara-gara si coro, dan lingkungan boarding school Ratih agak ketat, kami urungkan ke Lembang. Bali sempat jadi pilihan. Akhirnya mentok di Jogja. Hubungin Bue deh sapa tau bisa nih digabung tripnya. Ade dan Bue oke. Tanggal berangkat udah didapat; qadarullah kok di hari yang harusnya mau izin, gabisa karena akreditasi perpustakaan gabisa ditinggal. Rencananya berangkat Rabu siang atau sore ke Madiun dulu, nginap semalam, baru Kamisnya lanjut ke Jogja ternyata ga berjalan mulus. Bismillah Kamis ba'da Subuh berangkat dari Malang ke Madiun. Sampe Madiun jam 9.00 pagi. Rehat bentar tempat sodara di sana. Ba'da Zuhur lanjut perjalanan Madiun - Jogja. Ashar masih rehat di Tawangmangu makan tempe mendoan ditemani teh anget. Abis Isya biidznillah udah sampe Jogja. Ketemuan sama si Ade. Kami menginap 2 malam di salah satu hotel murah dan angker di Kota Jogja. Kemudian 2 malam lagi menginap di rumah salah seorang kenalan saya di Wonosari, Gunungkidul. Dalam waktu 4 hari 4 malam ada banyak tempat yang kami datangi antara lain Tugu Jogja, Hutan Pinus Mangunan, Kebun Bunga Amarilis dan beberapa pantai di Gunungkidul. Walau capek dirasa, buat saya ini salah satu perjalanan paling memorable banget (kebayang gasih motoran sehari Malang - Jogja?!). Selengkapnya baca di siniii
 
 Tugu Jogja - Kebun Bunga Amarilis - Depan Kampus UGM

- NOVEMBER -
Saya ini memang gabisa kalo ga pergi ke tempat baru. Mulailah otak wanderlust saya merencanakan sesuatu. Mau nantang diri untuk traveling sendirian dan menginap. Saya pilih Mojokerto kemudian menginap di daerah Pacet. Jaraknya ga jauh, kurang lebih 1,5 jam perjalanan dari kosan. Pacet ini merupakan tetangga Kota Batu. Jadi abis ngelewatin jalanan hutan via Cangar udah sampe. Sebelum ke penginapan, eksplor beberapa tempat di daerah Trowulan yang terkenal dengan peninggalan kerajaan Majapahit. Sorenya check-in penginapan. Ternyata ada trouble, sodara-sodara. Jadi pesanan kamar saya di salah satu aplikasi ga masuk. Karena udah exhausted, udah sore juga dan bingung mo kemana, akhirnya tetap ambil penginapan di situ (bisa pesan langsung tanpa aplikasi). Kamarnya? Serem. Macam losmen di film-film horor Indonesia. Agak keder juga sih awalnya; tapi bismillah deh gapapa daripada pulang lagi ke Malang ga lucu dong. Alhamdulillah, nyatanya bisa tidur nyenyak juga malam itu (ditemani murattal Al-Mulk dan beberapa surat). Paginya sehabis shalat Subuh, masih gelap, siap-siap pergi ke Ranu Manduro. Sampe sana masih sepiii banget (rame domba dan kawanannya aja). Lanjut ke Kampung Organik Brenjonk yang ada di daerah Trawas. Jam 10-an balik ke penginapan kemudian siap-siap pulang. Alhamdulillah ba'da Zuhur udah di Malang lagi. Walau banyak drama-nya, asik sih solo-traveling. Jadi ketagihan #eh.

[..Kejadian konyol pas "salah kamar". Jadi walaupun capek dan penginapan ga di tengah-tengah kota banget, saya tetap keluar untuk cari sesuap nasi dan cemilan. Pas balik, udah mana sekitaran kamar sepi banget; udah pengen masuk kamar aja pokoknya. Hawanya seremmm. Lha, kok susah amat ini gembok kamar gabisa dibuka?! Saya sampe ke lobi minta tolong penjaga dan bilang kalo kuncinya rusak gabisa buat buka kamar saya. Kata petugas yang jaga, itu kuncinya udeh bener. Mamasnya sampe ngikut. Ternyata saya salah buka gembok kamar KWKWKWK! perasaan kamar saya bukan di pojokan deh. Hadeeeh malu banget. Gimana kalo ternyata kamar yang dari tadi saya coba buka ada penghuni di dalamnya?! Ga kebayang...๐Ÿ˜œ]

Pagi-pagi buta udah keluar dari penginapan di daerah Pacet menuju Ngoro (kurang lebih sejam perjalanan) demi bisa foto tanpa bocor di Ranu Manduro

- DESEMBER -
Sejak tahu kalo cuti bersama liburan diganti ke libur di Bulan Desember, saya merencanakan untuk pulang ke Lampung lagi. Rencana awal mau pulang pertengahan bulan, qadarullah kampus WFH lagi dari awal  bulan. Akhirnya tiket pesawat ke Lampung di-refund. Malah ngide untuk menunaikan rindu dulu ke Lembang sana. Jadilah perjalanannya be like: naik kereta ke Bandung kemudian lanjut lagi naik KA Bandung - Jakarta. Lihat harga tiket pesawat yang ga jauh beda sama harga tiket bus, akhirnya naik pesawat dari Jakarta ke Lampung. Karena rumah Ade dekat bandara, mampir nginap semalam di sana terus lanjut paginya baru ke bandara.

 Perjalanan KA Malang - Bandung; setelah setahun lamanya ga naik kereta (terakhir Desember 2019)

Menjelang Desember akhir, setelah rencana beberapa tahun yang lalu ga jadi-jadi, Alhamdulillah akhirnya si Ade bisa nepatin janjinya untuk silaturahim ke Lampung. Kedatangan Ade ini bertepatan dengan rencana trip ke Krui, Pesisir Barat (salah satu kabupaten yang ada di Lampung). Cerita lengkapnya baca di sini

Krui - Pulau Pisang Trip Squad!

Kalo liat lagi kilas balik di atas agak amazed juga; walau pandemi Allah masih kasih kesempatan untuk mengunjungi tempat baru dan merasakan pengalaman-pengalaman baru. Semuanya saya syukuri; tapi kalo disuruh milih satu, yang paling bikin bahagia adalah bisa lama di rumah.
 
Tahun 2020 membawa banyak cerita dan hikmah. Ada bahagia; ada kecewa; ada hati yang sakit; ada hati yang tersembuhkan; Ada pengalaman baru yang didapat; Ada hal-hal lama yang ga akan terulang lagi. Ada yang diluaskan pintu rizqinya, ada yang ditahan dulu untuk sementara; ada yang sama aja. Ada yang kehilangan keluarganya; Ada yang gabisa ketemu keluarganya sampai 2 purnama; Ada yang malah bisa kumpul lama. Ada yang masih tetap bisa bepergian; ada yang memilih untuk di rumah saja. Ada yang abis buku berjudul-judul selama #dirumahaja, ada yang tamat drama/series berpuluh-puluh. Ada yang enjoy kuliah atau pembelajaran dengan Zoom, Google Meet dll; ada juga yang stress (aku termasuk).
 
Mau apapun itu yang terjadi, sebagai seorang muslim, satu hadits ini bisa banget dijadiin pegangan... "Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, "Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapat kesenangan maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan maka ia bersabar. Itupun baik baginya". (HR. Muslim No 2999)

Alhamdulillahiladzi bi ni'matihi tathimushalihaaat. Alhamdulillah ala kulli hal. Semoga apapun yang terjadi di tahun 2020 bisa membawakan hikmah untuk diri.
Love you, zindagi ๐Ÿ’™

Jumat, 16 April 2021

Trip Yogyakarta Murah dan Hemat (with Bue & Ade) Bagian 1

"De dimana sekarang? Kita baru masuk Jogja. Mau nge-Maps ke hotel". Jam 19.15 malam pas udah masuk pinggiran Jogja (daerah Lanud Adi Soecipto) saya mengirim pesan ke Ade. Sekira 15 menit kemudian baru ada balasan,

"Aku juga belum ke hotel Mba. Aku lagi makan nasi goreng kambing nih di pinggir jalan. 5 menit dari hotel".

Pantes aja balesnya ga gercep, lagi nikmatin nasgor kambing tho ๐Ÿ˜‘ dasar bocah itu...

"Mba jauh ga kesini? Kalo deket aku tungguin aja. Mbak kesini dulu aja. Enak banget nasi gorengnya"

Bue udah butuh ke kamar mandi sebenarnya; Perjalanan 6 jam Madiun - Jogja yang baru saja kami lakukan nano-nano banget rasanya. Saya suruh Bue untuk check-in hotel duluan, doi ndak mau (wajar sih setelah mendengar cerita saya dan Ade yang udah liat review hotel kami ini wkwk). Yawes deh kita susulin Ade. Nge-maps sebentar, yang dicari lagi asik makan nasi goreng kambing di atas lesehan trotoar Kota Jogja. Ahlan wa sahlan, Jogjaaa! Siang tadi kami sama-sama berpacu menuju kota sejuta rindu ini; Saya dan Bue berpacu di darat (naik motor) dari Madiun, sementara Ade berpacu di udara (pesawat) dari Jakarta. Alhamdulillah kamis malam ini udah bisa ngumpul๐Ÿ˜˜

***

Alarm yang saya setel berbunyi. Hari ini Kamis 29 Oktober 2020 jam 3.45 am. Segera saja saya mandi dan bersiap-siap. Kegiatan akreditasi perpustakaan yang berlangsung selama 2 hari kemarin (di hari libur dan cuti bersama) mau gak mau membuat saya merubah sedikit rencana perjalanan Malang - Madiun - Yogyakarta by motor yang akan saya lakukan. Biidznillah. Awalnya mau berangkat Rabu siang atau sorean kemudian menginap semalam di Madiun, tapi ternyata selesai akreditasi hari pertama jam 9 malam. Ga mungkin.

PERJALANAN CEPAT MALANG - MADIUN
Jam 5 pagi saya memanaskan mesin motor kemudian berpamitan dengan adik kontrakan. Perjalanan pagi begitu mengasyikkan. Tak henti saya berucap syukur atas cuaca cerah pagi itu. Gunung Arjuno, Pegunungan Putri Tidur, bahkan Gunung Semeru nampak menyapa di kejauhan sana. Perjalanan berkelok-kelok dari Pujon menuju Kandangan (Kediri) yang biasanya lama menjadi lebih cepat karena jalanan lengang belum ramai kendaraan.
 
Pare Kampung Inggris terlewati. Biasanya Bue atau Irul (adik kost yang rumahnya di Madiun) rehat di sini karena posisinya yang berada di tengah. Saya merasa masih belum capek saat itu jadi lanjut saja (sambil membayangkan dibuatkan sarapan di rumah saudara yang ada di Madiun wkwkw). Sempat berhenti sebentar-sebentar untuk foto; Alhamdulillah jam 9 pagi udah sampai di rumah mbak sepupu saya di Madiun (Caruban).
 

MADIUN - TAWANGMANGU - SOLO - YOGYAKARTA 
Ada satu lagi tempat dingin yang masuk favorit saya yaitu Tawangmangu. Perjalanan ke Jogja kali ini kami lewat Tawangmangu; membuat saya excited. Gapapa cuma lewat doang udah seneng kok; udah relieved sama pemandangan dan udara yang didapat. Zuhur ketemuan sama Bue, mampir shalat dulu di Masjid dekat Alun-alun Madiun. Pas udah mau berangkat agak khawatir liat langit, kayak mendung gitu, semoga ga hujan ya Allah. Mulai masuk Magetan, ga hujan tapi juga ga panas. Sejuk deh. Masuk Tawangmangu kami rehat sebentar, melipir mampir ke salah satu warung. Bue pesan jeruk panas dan tempe mendoan, saya teh panas aja. 
 

 
Udah ngumpul tenaga, kami lanjutkan perjalanan. Mulai turun dari Tawangmangu, masuk ke Karangpandan kemudian Karanganyar. Masuk daerah Palur ga lama kemudian Solo. Sampai di Kota Solo menjelang Maghrib. Bue keliatan berputar-putar, entah kebingungan gatau jalan, entah emang lagi ngingat-ngingat jalan (Bue SMP di Solo). Saya manut aja di belakangnya. Akhirnya ketemu jalan lintas Solo - Jogja. Sudah beberapa kali saya melintasi jalan ini (dengan bus). "Aku kalo dari Solo ke Jogja gatau jalannya Mbak", kata Bue. "Wes kita ngikutin jalan lintas ini luruuus aja ga belok-belok", kata saya sok tau. Lalu berakhirlah perjalanan panjang hari itu itu di sebuah lesehan trotoar bersama sepiring nasi goreng kambing dan Ade.
 
KEMANA AJA SELAMA DI JOGJA?
Tujuan kami selama di Jogja adalah campuran dari tempat-tempat yang saya, Ade dan Bue ingin datangi. Sebelum hari H saya sengaja menanyai mereka satu-satu agar semuanya bahagia dengan perjalanan kali ini. Bue sih manut aja mau dibawa kemana (tapi doi sempat request pengen ke hutan pinus gara-gara keluarganya abis dari hutan pinus di Jogja). Ade lebih ke tempat-tempat yang lagi hits (ulasannya bagus di medsos) dan tempat yang bikin kenyang๐Ÿ˜ Saya ngikut aja keinginan mereka. So, kemana aja selama 3 hari full di Jogja? Yok ikutin yoook.
 
Numpang Mampir Foto di Salah Satu Kampus Terbaik Indonesia, UGM
Jumat menjelang siang, 30 Oktober 2020. Begitu keluar dari hotel, kami langsung menyetel Maps menuju destinasi pertama di Kota Jogja. Qadarullah, ternyata rute menuju kesana melewati kampus UGM. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, kami berhenti sebentar di depan gerbangnya. Kenapa ga masuk sekalian? Waktu yang terbatas membuat kami ga bisa berlama-lama untuk muterin kampus. Sekali dua kali cekrek, lanjuuut lagi!
 
 
Nyobain Es Krim Aneka Rasa di Tempo Gelato
Momen ke Jogja kali ini bertepatan dengan mudiknya Mbak Putri (kenalan di Lampung) ke kampung halamannya di Jogja. Saya sengaja mengatur waktu untuk sekalian ketemuan. Mbak Putri mengusulkan untuk ketemu di Tempo Gelato. Katanya doi udah kangen banget sama es krim kemanginya (hah?). Saya tanya Bue dan Ade apa mau kesana atau enggak, mereka setuju aja. Okedeh cusss. Jumat siang keluar dari hotel kami yang sangat nyaman langsung menuju Tempo Gelato. Ternyata tempatnya rame dan lumayan terkenal; ada beberapa cabangnya (saya aja yang katrook gatau). Biasanya sih saya ga terlalu yang gimana gitu sama tempat-tempat semacam ini (apasih). Karena penasaran sama rekomendasinya Mbak Putri, akhirnya saya pesan gelato rasa kemangi. Eh aneh rasanya; tapi aneh yang bikin penasaran. Enak juga sih kek makan lalapan malahan wkwkw. Selain gelato, yang enak lainnya di sini adalah: air putihnya. Entah ya seger banget gitu mengobati eneg. Next kalo ke Jogja kayaknya bakalan ke Tempo Gelato lagi deh (walau harganya lumayan untuk kantong). Recommended!
 


Makan Masakan Khas Jogja Gudeg Yu Narni
Awal sampai di Tempo Gelato, langsung shock liat antriannya yang mengular. Kami yang keluar dari hotel agak siangan dan belum sarapan langsung memutuskan cari makan dulu sebelum masuk situ. Jalan kaki sekira 1 kiloan nemu deh tempat makan gudeg. Yang pesan Bue sama Ade aja, saya ogah. Kebayang manisnya gudeg๐Ÿ˜ซ Kalo liat dari piring mereka yang bersih tak bersisa, keknya Gudeg Yu Narni ini enaque. Silakan dicoba ya kalo ke Jogjaaa. Satu porsi nasi gudeg plus lauknya ga sampai 20K harganya.


Makan Mie Gacoan Dekat Kampus UNY
Selain janjian dengan Mbak Putri, kami sekalian ketemuan dengan Amel, teman angkatan Bue dan Ade dan adik kontrakan saya di Malang dulu. Ngobrol ngalor-ngidul plus mandorin Ade sama Bue untuk ngerjain tugas kantor saya yang terpaksa 'kebawa' di perjalanan kali ini (hadeh). Keasikan ngobrol ditambah hujan yang turun deras banget, baru keluar dari Tempo Gelato sehabis Ashar. Di itinerary yang kami bikin, Ade pengen nyobain Mie Gacoan (saya dan Bue sih udah puas banget dengan segala macam diskonnya di Malang). Oke baiqlah kita kesana. Enaknya Mie Gacoan tuh, harganya pas untuk kantong mahasiswa. Udah si itu aja wkwk. Tapi rasanya juga enak ga mengecewakan; selain itu bisa beli aneka dimsum dan minumannya yang variatif.

 
Pesan Angkringan Kopi Joss Lik Man Gara-gara Kelaparan Malam-malam
Seharian tadi kalo diingat-ingat, saya belum ada makan nasi sama sekali. Rencananya malam ini mau hunting angkringan di sekitaran kota. Tapi gara-gara keteledoran saya lupa bawa oleh-oleh dari Malang pas ketemuan sama Mbak Putri di Tempo Gelato tadi, jadinya sehabis maghrib kami ke rumahnya (di Jalan Kaliurang arah kampus UII). Perjalanan pulang dari sana hujan deras mengguyur. Udah capek, kehujanan jugak, saya ga tega untuk ngajak 2 bocah ini untuk nyari angkringan. Akhirnya beli nasi goreng dekat hotel. Cuma beli satu bungkus karena Bue dan Ade udah kenyang (katanya). Entah porsinya yang kurang banyak atau memang saya yang masih kelaperan, saya minta Ade untuk buka aplikasi onlen, pesan makan lagi, udah hampir jam 10 malam padahal (ya gimana dong masih laper akutu). Hampir 30 menit lamanya pilih-pilih jadinya pesan di Angkringan Kopi Joss Lik Man. Kita random ajasih ga cari tau mana angkringan di Jogja. Pas pesanan sampe dan nyicipin makan nasi terinya, wuaaah ini enak banget! Ga salah inimah. Murah pulak. (ternyata Angkringan Kopi Jos Lik Man ini memang terkenal, sodara-sodara).

 
Pagi Hari di Tugu Jogja dan Sarapan Sop Ayam di Alun-alun Keraton
Hari Sabtunya kami bersiap-siap dari pagi hari. Semalam di sela menemani saya yang asik makan nasi goreng, Bue dan Ade bikin rencana untuk hari itu. Karena waktunya mepet dan masih ada tempat yang mau didatangi sebelum kami pergi meninggalkan kota menuju Gunung Kidul (Wonosari), mereka menyusun itinerary se-efisien mungkin. Saya manut aja. Jadilah, paginya menyempatkan ke landmark Jogja yaitu Tugu Jogja. Saat kami datang, ternyata Tugu Jogja sedang dalam proses renovasi. Lumayan ruwet sih. Kami ga lama-lama; setelah itu keliling sebentar untuk cari sarapan. Pilihan jatuh pada sop ayam pinggir jalan depan Alun-alun keraton. Mayan lah sambil makan sambil liatin lalu lalang delman, becak, sepeda dll. Setelah itu segera balik ke hotel untu beberes dan ngelanjutin ke destinasi berikutnya.
 
 

Penasaran sama Bleger di Mamahke Jogja Taman Sari
Pulang dari sarapan di Alun-alun Keraton langsung ke hotel. Beberes dan gantian mandi; Karena ada beberapa tempat yang mau kami datangi hari ini, kami komitmen dengan jadwal yang udah dibuat semalam. Tujuan pertama setelah check-out hotel adalah menuju outlet Mamahke Jogja punyanya artis yang itu tuh. Saya sih ga noticed kalo bukan karena bocah-bocah ini. Gimana rasanya, enak ga? Karena saya pecinta makanan 'ga sehat' kayak burger dan kawan-kawannya, ya enak-enak ajasih. Satu burger Bleger dihargai 30K. Outlet Mamahke Jogja letaknya di dekat Taman Sari. Jadi bisa sekalian mampir tuh kalo sempat.



Kuliner Legendaris Mangut Lele Mbah Marto
Tujuan selanjutnya setelah dari Mamahke Jogja adalah tempat request-an saya yaitu Mangut Lele Mbah Marto. Sebagai pecinta lele garis keras, menjadi keharusan buat saya nyobain segala macam olahan lele yang khas di daerah yang saya datangi. Dari kota menuju tempat ini tidak terlalu sulit; ikutin aja petunjuk Google Maps. Sampe di lokasi udah hampir siang, panas menyengat. Masuk ke tempatnya lebih panas lagi. Ada yang nyeletuk, panasnya kayak di neraka hoaaa. Mangut Lele Mbah Marto ini termasuk kuliner legend di Jogja. Kalo liat di poto-poto yang dipajang di dinding batanya yang sederhana, banyak pesohor yang udah nyicipin mangut lele di sini. Tanpa berlama-lama, langsung menuju pawon (baca: dapur -Jawa) untuk memilih langsung lauk dan menu. Ada beberapa jenis sayur dan lauk; yang jadi primadona tentu saja mangut lelenya yang pedasss. Satu porsinya dihargai 25K. Rasanya? Pedas membahana! Kayak diserang sama puluhan cabe rawit. Rasanya juga homey atau kerumah-rumahan. Saya pribadi sih sukak dan akan kesini lagi kalo misal ada rizqi ke Jogja.
 

 
Dari warung makan Mangut Lele Mbah Marto yang ada di Bantul, kami melanjutkan perjalanan menuju Wonosari (Gunungkidul). Selain untuk menemui seorang mbak baik hati kenalan saya, juga untuk mengunjungi beberapa wisata di sana yang ga kalah pesonanya sama wisata di Kota Jogja. Apa aja itu? ...bersambung ke bagian 2 insyaAllah.