Minggu, 30 Juni 2019

Dari Gerbang Sumatera menuju Titik Nol Kilometer Sumatera : Transit Semalam di Bumi Sriwijaya Palembang


Orang yang pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tidak selalu berarti banyak uang, justru bisa jadi sedang menyiasati sedikit uangnya (Quote by Zulaikha)

Lebaran kedua yang harusnya masih asik-asiknya 'balas dendam' ngabisin ketupat opor ayam sama kacang bawang, harus rela kami (saya dan Tika) lalui dengan duduk manis kurang lebih 10 jam di Kereta Rajabasa dari Lampung menuju Palembang. Perjalanan ini dalam misi mengantarkan anak kesayangan Bapak Rois itu pulang ke rumahnya, karena doi udah ga balik lagi ke Malang (huwaaa sediiih). Selain itu, demi memenuhi bucket list Sumatera. Jadi saya mensiasati perjalanan ini biar lebih murah, dengan transit di Palembang kemudian terbang menuju Padang. Setelah dari Padang naik bus langsung menuju Medan. Lebih murah sama dengan (=) lebih banyak waktu terpakai dan tenaga terbuang. Mangatsss!


Dari pagi orang serumah udah pada sibuk. Mamak sedari subuh udah 'menghangatkan' dapur, nyiapin sarapan juga bekal untuk dibawa. Menjelang berangkat, Mak Mami dan Mbah Kakung datang ke rumah, melepas cucu kesayangannya yang mau menjelajahi Sumatera. Allah, terimakasih Kau berikan tempat kembali terbaik ini (baca: keluarga).

Diantar paman dengan mobilnya, kami menuju Stasiun Tanjungkarang. Jarak dari rumah saya di Desa Pemanggilan (Natar, Lampung Selatan) ke stasiun kurang lebih 30-45 menit perjalanan. Luruuus aja pokonya. InsyaAllah macet semakin berkurang seiring banyaknya flyover yang dibuat di Kota Bandarlampung. Aseek. Jadwal kereta kami dari Stasiun Tanjungkarang menuju Stasiun Kertapati tertera pukul 8.30 pagi. Sampai di stasiun langsung cetak tiket untuk boarding. Ngeliat saya sedikit kesibukan, seorang petugas mendekati, "Mbak kalo sudah punya aplikasi KAI Access ga perlu nyetak tiket lagi. Langsung aja tunjukkin hapenya ke petugas". Oalah gitu Pak, baiqlah.

Kami naik kereta ekonomi Rajabasa. Kereta ini sekilas mirip Matarmaja, gada bedanya. Kami langsung menuju ke kursi yang sudah kami pesan. Jadi sodara-sodara, demi kenyamanan dan demi bisa selonjorin kaki, saya pesan kursinya 4 untuk 2 orang. Lho kok bisa? Ya bisa ajalah. Caranya? Pinjam KTP orang, hehe. Harga tiket per orang murah banget, cuma 32K. Kalau mau perjalanan malam dengan kereta yang lebih nyaman, cuma sekitar 200K. Cobain geh!

Tidak seperti naik kereta di Pulau Jawa yang penuh dengan ke-hectic-an, perjalanan Lampung - Palembang ini terasa lebih 'santai'. Gatau ya. Mungkin efek dari ngelihat kebanyakan penumpang yang bawaannya juga ga banyak. Santai aja gitu kayak mau main ke mall. Ga banyak bawa kardus atau koper yang gede-gede. Kalo di Malang tuh, kayak cuma naik Kereta Penataran yang mau ke Blitar, Sidoarjo atau Surabaya. Sepenglihatan saya sih. Bismillah, siap membelah daratan Lampung menuju Sumatera Selatan. Berpuluh tahun jadi tetangga provinsi dan belum sekalipun pernah menginjakkan kaki di sana.


Saya sama Tika kerjaannya cuma : melek mata, ngobrol, makan, ngemil, tidur, repeat. Awal perjalanan masih excited. Lama kelamaan bosan juga karena yang dilihat sama, hutan dan kebon.  Berjam-jam yang diliat kalo ga sawit ya karet. Gitu terus mulai dari Lampung Utara sampe pinggiran Kota Pelambang. Sayangnya, kami berdua bukan tipe pembaca buku kalau lagi di perjalanan. Pusing soalnya. Padahal bisa ngabisin satu buku kalo perjalanannya berjam-jam kayak gini. Saya udah tanya-tanya sama yang pernah naik kereta ini, konon katanya walau di jadwal disebutkan sampainya jam 18.30, nyatanya baru jam 20.00 kereta berhenti di Kertapati. Yasudahlah. Pesawat kami menuju Padang terjadwal besok jam 6.40 pagi. Jadi cuma punya waktu dikitt banget di malam hari untuk keliling sekitaran kota. Bisa lebih banyak kalo rela ga tidur malam, huhu big no!

Jam 6 sore kurang dan masih terang, Alhamdulillah Kereta Rajabasa sampai di Kertapati. Wah, membuatku bahagiaa. Kayaknya gara-gara libur lebaran, kereta Babaranjang (Batu bara Rangkaian Panjang) yang selalu bikin telat, ga beroperasi, makanya lancarrr perjalanan kami. Alhamdulillah. Stasiunnya sepii. Saya sama Tika duduk-duduk santai di depannya sambil memikirkan transportasi menuju penginapan yang sudah kami pesan. Mau naik mobil online kok mahal kali. Saya kira stasiun ini berada di pusat kota dan akan mudah menemukan transportasi kemana-mana. Ternyata tidak. Akhirnya demi menghemat, masing-masing kami memesan ojek motor online. Terpaksa dah.


Kental sekali bahasa daerah di kota ini. Dapat pesan dari abang Grab, "dimano?". Whuaaa.

Saya dan Tika terpisah. Awalnya agak was-was juga nih misah kayak gini di kota orang, naik ojol sendiri-sendiri. Adikku... Udah mana abangnya masuk-masuk gang sempit gitu. Sempat terlintas pikiran jelek, jangan-jangan mau dibawa kemana. Naudzubillah. Eh Alhamdulillah ternyata abangnya motong jalan ngehindarin macet hehe. Jarak di Maps dengan keadaan sebenarnya, tambahin estimasi waktu 20-30 menit deh. Jadi kalo misal di Maps cuma berjarak 30 menit perjalanan, tambahin 20 menit lagi di real time-nya. Penginapan kami berada di Ilir Timur, yaitu di OYO 322 Maleo Residence. Kalo liat di Maps sih kayaknya deket, ternyata jauh jugak dari stasiun -_-

Review sedikit penginapannya ya. Harganya Rp 135.897 saya pesan di booking.com. Staf yang nyambut kami saat check-in kurang ramah abangnya (nilai plusnya abangnya bawain koper Tika yang beraat menuju kamar di lantai 2). Sepreinya kotor, macam ada bekas-bekas debu gitu. Ga steril lah pokonya. Wifi gak bisa dipake dan air panas ga hidup. Sayang sekali, pengalaman pertama pesan OYO, kesannya kurang baik. Agak mikir kalo mau pesan lagi di kemudian hari.

Setelah istirahat sebentar, kami memutuskan untuk keluar cari angin alias jalan-jalan keliling kota. Kalau nurutin capek ya capek bangettt (duduk berjam-jam di kereta). Tapi demi sebuah pengalaman (dan memang itu yang kami cari), kuylah kita ke landmark Kota Pempek. Kami langsung pesan Grab menuju Jembatan Ampera. Abang Grab menyarankan kami turun di pelataran (plaza) Benteng Kuto Besak agar lebih jelas kelihatan Jembatan Ampera-nya. Terus, di sana juga rame tempat kumpul orang-orang, semacam alun-alun lah. Dari artikel yang saya baca, awalnya tempat ini adalah pasar buah kumuh. Oleh pemerintah kemudian dipugar dan dijadikan semacam plaza. Ramai sekali malam itu. Sepertinya karena lebaran. Kami membeli satu porsi Mie Tek-tek khas Palembang. Ga terlalu kuat sih rasanya, masih enakan saya masak sendiri di kost wkwk. Mungkin karena beli sembarangan.

Mie tek-tek

Tugu Iwak Belido
Salah satu yang menarik perhatian kami di pelataran yang penuh sesak dengan orang-orang ini adalah sebuah tugu ikan yang berdiri gagah di pinggir Sungai Musi. Sesuai tebakan saya, itu adalah Ikan Belida atau Belido dalam bahasa lokal. Pas di Lampung saya suka makan kemplang yang dibuat dari ikan belida. Pempek khas Palembang yang terkenal seantero dunia itu kebanyakan dibuat pake ikan belida. Makanya, oleh pemerintah setempat ikan ini ditetapkan sebagai maskot fauna Sumatera Selatan. Mengingat keberadaannya yang semakin langka juga. Keep alive, ikan!

Berbagai macam aktifitas terjadi di pelataran BKB (Benteng Kuto Besak). Dari mulai orang jualan bermacam jenis makanan, minuman, baju dan sebagainya. Ada pengunjung yang nampaknya datang dari luar kota (terlihat dari gerak-geriknya yang selfi di semua tempat). Ada juga beberapa orang yang mancing di pinggiran sungai. Dari sini terlihat gagah berwarna merah Jembatan Ampera di kejauhan sana. Udah tau belum kepanjangan Ampera? Yup, Amanat Penderitaan Rakyat. Formal banget namanya ya wkwk.

Jembatan Ampera menghubungkan dua wilayah daratan di Palembang yaitu seberang ulu dan seberang ilir. Jembatan ini berdiri di atas Sungai Musi yang merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera. Awalnya jembatan ini bernama Jembatan Soekarno. Nama presiden RI pertama tersebut dipilih karena perjuangannya secara sungguh-sungguh dalam membantu mewujudkan keinginan rakyat Palembang untuk memiliki jembatan di atas Sungai Musi. Seiring pergolakan politik yang terjadi di tahun 60an dan gerakan anti-Soekarno mencuat, kemudian nama jembatan tersebut diganti menjadi Jembatan Ampera, wallahu alam.



Sebelum jarum jam bergerak ke angka 10, kami sudah siap-siap untuk kembali ke hotel. Ga ahsan muslimah di atas jam 10 malam masih di luar, hehe. Lagian besok kami harus bangun pagi sekali agar tidak ketinggalan pesawat. Sembari menunggu Grab datang, kami menuju Indomaret terdekat untuk cari minum dingin. Whiii panasnya ya Allah. Dari plaza BKB ini kita bisa berjalan kaki menuju beberapa ikon kota seperti Monumen Ampera dan Masjid Agung yang ada di seberangnya. Deket.


Sampai di penginapan langsung tepar. Sebelumnya tadi saya berpesan sama resepsionis akan check out sebelum subuh. Biar ga kesibukan besok pagi manggilin abangnya. Jam 3 lewat mamak miscalled. Khawatir anaknya ini kesiangan trus ketinggalan pesawat. Dari sebelum subuh kami sudah memesan Grab ke bandara. Alhamdulillah ada, walau ongkosnya lumayan mahal banget  (71K pakai OVO).

Palembang di kala subuh masih sepi. Mobil kami melintas cepat menuju bandara. Terlihat sepanjang jalan yang kami lalui jalur MRT yang menuju langsung ke bandara. Kalo menurut abang Grab semalam yang mengantar kami, MRT sebenernya belum terlalu dibutuhin sama masyarakat Palembang. Kalo kayak di ibukota okelah karena memang penduduknya padat pake banget! Tapi di sini, belum terlalu dimanfaatkan oleh penduduk lokal. Masyarakat masih lebih senang menggunakan kendaraan pribadi, transportasi online dan angkutan biasa. Gitu sih katanya.

Sesampainya di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II kami langsung menuju counter check-in yang ternyata belum buka. Kesubuhan nih kami sampenya. Ingat belum shalat subuh, kemudian nyari mushola dulu sebelum sarapan. Setelah itu menuju ruang tunggu. Karena masih di Palembang dan belum sempat mencicipi makanan khasnya yaitu pempek, gada salahnya sarapan ala penduduk lokal yaitu makan pempek. Hunting pempek di food court bandara, alhamdulillah nemu satu tempat yang udah buka yaitu Pempek Beringin. Lumayan lengkap yang dijual. Berbagai jenis pempek, ada juga otak-otak. Terbayarlah. Sayangnya mau pesan tekwan belum siap karena masih puagi. Mmm, enaknya ya Allah; saya beli pempek panggang, kulit, adaan dan otak-otak. Kerasa banget ikannya. Cuka atau cuko-nya kentaaal. Semoga ga mules nih pagi-pagi makan cuka.

Pempek Beringin di bandara

Walaupun panas dan agak ''kotor di beberapa titik, tapi saya ingin kembali lagi ke kota ini. InsyaAllah dengan waktu yang lebih santai dan eksplor tempat lebih banyak lagi. Juga mencicipi masakan khasnya tentu saja. Apalagi dapat info dari tetangga di kampung, perjalanan darat via tol dari Lampung ke Palembang sekarang cuma sekitar 3 jam aja! MasyaAllah tabarakallah. Semakin dekat dan terjangkau. Semoga pembangunan infrastruktur di Indonesia Engkau berkahi ya Allah, memudahkan rakyat untuk bersilaturahim, berbakti kepada orang tua. Amiiin. Hampir jam 7 pagi dan kami sudah duduk manis di atas pesawat ATR Citilink yang akan membawa kami menuju kota tempat salah satu masakan paling enak di dunia (rendang atau randang) berasal. Padang we're coming...!

Sabtu, 29 Juni 2019

Dari Gerbang Sumatera menuju Titik Nol Kilometer Sumatera : Prolog


Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tidak ada daya dan upaya melainkan atas kehendak-Nya...

Kalau dengar kata "Sumatera" apa yang ada di benak kalian? Hutan luas menghampar? Jejeran perkebunan sawit yang ga abis-abis diliat? Begal rampok dan sebagainya? Masakan yang khas dan kaya rempah? Bus ALS? Setelah beberapa tahun belakangan begitu 'penasaran' dengan Timur Indonesia, saatnya kembali ke pulau sendiri. Perjalanan menuju Sumatera ini merupakan salah satu perjalanan impian. Analoginya gini, kamu udah main ke tetangga kamu yang beda kecamatan tapi rumah tetangga samping kanan kiri sendiri belum pernah didatangi. Khan kebangetan.

Perjalanan yang saya dan Tika lakukan tentu saja bukan hanya sekedar memuaskan hasrat 'wanderer' atau menjelajah, lebih dari itu semoga ada banyak hikmah dan pengetahuan baru yang bisa diambil dan dibagikan kepada orang lain serta bekal cerita untuk anak dan cucu nantinya. Selain itu, tiap perjalanan ini juga insyaAllah (diniatkan) membawa misi mulia: menjadi JENDELA bagi teman dan orang sekitar yang mungkin saja punya rizqi untuk mengelilingi bumi Allah, tapi ga punya waktu. Bisa jadi waktunya ada, tapi uangnya ga mencukupi. Apalah lagi yang ga punya waktu, uang juga ga punya, melase...


Memang Allah itu selalu kasih yang terbaik untuk hamba-Nya. Memutar otak antara: mudik ke Lampung, antar Tika pulang ke Langkat (Sumatera Utara), janjian ke Sabang sama Indah. Uangnya dari mana? Waktunya emang cukup? Bolos kerja tah? Banyak hal berkecamuk. Hingga akhirnya Allah putuskan yang terbaik. Rabu, 29 Mei 2019, perjalanan panjang itu dimulai. Lampung (gerbang Sumatera) adalah tujuan pertama kami. Time to pulkaaam! Saya dan Tika memulainya dari Stasiun Malang. Semakin sedikit uang yang kami keluarkan, maka semakin jauh jarak yang bisa kami tempuh *prinsip ngeteng. Perjalanan dari Malang menuju Jakarta naik kereta Matarmaja selama kurang lebih 16 jam kami lalui. Alhamdulillah selama dalam perjalanan di kereta, dapat makanan ringan dan nasi untuk berbuka dan sahur. Mantap KAI!


Tepat sehari setelahnya, di jam yang telah dijadwalkan, Kereta Matarmaja sampai di Stasiun Pasar Senen. Sebelum melanjutkan perjalanan, mampir dulu dah ke toiletnya (cuci muka, sikat gigi dan sebagainya) yang ada di dalam stasiun. Ada mushola kecil juga tepat di sampingnya. Bisa shalat dhuha sekalian istirahat sebentar. Dari Stasiun Pasar Senen, kami memesan Grab ke arah Tol Kebon Jeruk untuk mencari bus menuju Merak. Bayar Grab 15K. Kemudian kami diturunkan di pinggir jalan yang dilintasi bus yang akan masuk ke Tol Merak. Ga sampai nunggu setengah jam, bus yang kami tunggu lewat. Segera saja dengan barang bawaan yang buanyak dan berat kami masuk. Per orang bayar 33K. Satu kursi lagi saya bayar untuk menaruh barang bawaan. Fiuh. Panas-panas, puasa-puasa.

Hari itu saya puasa dan ga mungkin dong minum obat anti mabuk. Bismillah. Minta doa sama mamak. "Doain sehat sampe rumah mak". Sampai di Pelabuhan Merak masih jam 1-an siang lewat. Wuih lumayan cepet nih. Biasanya mau maghrib baru sampe Merak. Niatnya mau nyobain naik kapal via dermaga eksekutif. Antrian mobil sudah mengular di depannya. Puanjaaang sekali. Pas mau masuk, oleh petugas kami diminta menunggu sampai jam setengah 4 sore, karena padat. Yaaah, maleslah. Langsung aja jalan menuju dermaga biasa. Bayar per orang 15K. Kalo eksekutif 50K per orang. Jomplang khan bedanya. Tapi kalo via dermaga eksekutif lebih cepet sampe.

Segera saja dengan susah payah melewati jembatan penyeberangan naik ke kapal yang siap berlayar m,engarungi lautan Selat Sunda. Perjalanan dengan kapal laut ini biasanya memakan waktu sekitar 3-4 jam. Saya sama Tika tiduran aja di ruang lesehan. Tebar-tebar pesona sama balita. Menjelang sore kapal merapat ke Pelabuhan Bakauheni. Kami jalan kaki dengan bawaan yang bikin tangan memerah, langsung menuju terminal pelabuhan. Saatnya bersiap menghadapi calo-calo ngotot yang 'nyebelin bangettt', uh. Entah kenapa kalo ketemu calo di terminal Pelabuhan Bakauheni ini ga bisa kalem. Emosi aja bawaannya. Ampuni hamba ya Allah. Saya sudah memprospek Tika untuk tetap diam gausah jawab kalo ditanya dan ngikutin saya aja. Pokonya jangan keliatan bingung, tetap cool dan pasang muka sangar.

Saya mendekat pada salah satu bis yang ngetem dan bertanya pada kernetnya apakah bus lewat tol atau tidak lalu dijawab tidak ada bus yang lewat tol. Lho. 2 atau 3 hari sebelumnya saya liat di IG ada bus Puspa yang lewat tol. Qadarullah, ada shelter bus yang mengangkut penumpang menuju dermaga eksekutif. Kata bapak sopirnya bus Puspa yang lewat tol mangkalnya di dermaga eksekutif. Langsung kami naik shelter bus itu ke dermaga eksekutif. Alhamdulillah. Menunggu sekitar 2 jam, barulah bus kami berangkat. Ga apa deh nunggu lama, yang penting busnya nyaman, dan insyaAllah sampainya cepat karena via tol. Harga tiket bus ini ga jauh beda sama bus biasa yang ga lewat tol, paling selisih cuma 4 atau 5 ribu. Bus Puspa yang kami naiki ini harga tiketnya 40K dan bus biasa yang ga lewat tol sekitar 35-an. Bus kami keluar di pintu tol Kota Baru. Tujuan akhirnya adalah Terminal Rajabasa. Alhamdulillah, menjelang jam 9 malam sampai di rumah. 24 jam lebih di perjalanan. Apa kabar badan?

Ada banyak tempat yang ingin dikunjungi di kampung halaman dan rindu akan makanan dan jajanan yang meminta dipenuhi. Apalah daya. Cuma 6 hari di rumah dan harus lanjut perjalanan lagi. Banyak hal yang harus lebih diprioritaskan, salah satunya adalah bersilaturahim ke keluarga. Dari sekian bucket list yang udah dibikin kemudian gagal, Alhamdulillah ada satu yang kesampean. Walau sempat dilarang mamak bapak karena ngeri begal, hiyyy, jadi juga ngajak pasukan motoran ke sana. Mau tau ceritanya, cekidot di bawah!

Main ke Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur

Selama merantau ke Jawa dan mendatangi beberapa tempat, kalo misal saya ditanya asal dari mana terus saya jawab Lampung, pasti kata selanjutnya yang meluncur adalah... Gajah! Ga selalu sih, tapi sering. Sebagai tempat pertama di Indonesia yang memiliki sekolah gajah dan pusat pelatihan gajah, wajar jika Lampung identik dengan gajah. Rata-rata batik Lampung juga memiliki motif khas gajah. Momen pulang kampung tahun 2019 ini saya manfaatkan salah satunya untuk mengobati kerinduan pada gajah-gajah di Way Kambas. Dulu sekali saat masih kecil saya ingat pernah dua atau tiga kali kesana bersama keluarga besar. 

Pasukan kali ini: Saya, Tika, adik saya Ulfa, Adzkia dan Lana (sepupu) dan kawannya Lana. Total 6 orang dengan 3 motor. Dari pagi setelah sahur kami bersiap. Harapannya biar berangkat pagi ga kepanasan dan pulang sore ga kemaleman. Taman Nasional Way Kambas terletak di wilayah Lampung Timur. Sekitar 3 jam perjalanan deh menuju kesana kalo dari Bandarlampung. Alhamdulillah medan jalan menuju kesana sudah oke. Untuk menuju Metro, kami lewat jalan alternatif via Labuhan Dalam. Enaknya lewat jalan alternatif ini selain sepi kendaraan besar, juga jalannya masih mulus. Setelah dari Metro, tinggal ngikutin jalan besar aja menuju Lampung Timur.

Dari Lampung Timur menuju TNWK-nya saya benar-benar buta arah. Kami terus saja istiqomah mengikuti arahan Mbak gugel Maps. Kok feeling ga bener nih. Hingga pada akhirnya tanya ke warga. Mamasnya bilang, "kalo kesini ke Eru, Mbak. Bukan PLG nya". Terus mamasnya juga bilang udah banyak yang disasarin kesitu sama Maps. Wadueh. Dengan baik hati, kami diberikan arahan untuk putar balik dan menuju Pasar Tridatu, itu patokannya. Ntar di sana tanya lagi deh. Baiqlah. Sebelum pergi mamasnya bilang ke saya sambil menunjuk tas kamera yang saya bawa, "kameranya kalo bisa disembunyikan, nanti diminta orang nakal". Ya Allah, ngerinya.

Dengan sedikit lelah dan hampir putus asa (bukan putus puasa lho ya) kami lanjut perjalanan lagi. Berbekal penjelasan dari mamas yang kami temui tadi sambil ngidupin Maps juga sih. Kurang lebih satu jam kemudian akhirnya nemu gerbang Taman Nasional Way Kambas. Wasting time satu jam brooo. Langsung saja menuju loket tiket. Satu motor 2 orang bayar 24K. Total 3 motor berarti harusnya 72K. Tapi sama bapaknya suruh bayar 2 motor aja, 48K. Satu motor lagi gratis. Alhamdulillah. Mungkin bapaknya kasian sama kami yang udah jauuuh jauh dari Bandarlampung. Sebelum lanjut masuk yang masih 9 kilometer lagi, kami beli pisang yang dijual penduduk di dekat loket tiket. Buah tangan untuk sodaranya Adzkia sama Ulfa hihi.



Jalanan masuk ke TN Way Kambas, sama seperti umumnya jalan masuk ke taman nasional lainnya, sepiii. Hanya hutan di sepanjang kanan dan kiri jalan yang menemani kami. Kami bertiga (driver) kebut-kebutan menikmati jalan. Pastikan bensin terisi full ya, pom jauuuh banget dari peradaban. Ga kebayang sih kalo misal motor macet atau ban bocor di jalanan ini. Naudzubillah.

Kurang lebih setengah jam kemudian kami memasuki kawasan Pusat Pelatihan Gajah Way Kambas. Sepi banget. Warung-warung tutup, hanya ada satu dua yang masih buka. Kami terus masuk membawa motor sampe ke area padang rumput. Celingak-celinguk nyari orang yang bisa ditanya. Akhirnya kembali lagi ke arah pintu masuk dan langsung tanya ke kantornya. Ada beberapa petugas yang ada di sana lagi abis pembagian THR, maklum udah mau lebaran. Mungkin para petugas itu membatin dalam hati, "Ini anak-anak lagi puasa udah mau lebaran ngapain sih pada ke Way Kambas?! Bukannya buat kue aja sana di rumah". Setelah bertanya dimana kami bisa interaksi dengan gajah, kemudian salah seorang petugas mengantar kami ke Rahmi, anak gajah yang sedang merumput tidak jauh dari situ.

Ini bukan Rahmi (doi di foto bawah yang sama pawang berbaju hijau)

Taman Nasional Way Kambas yang menempati wilayah dataran rendah seluas kurang lebih 130.000 hektar ini merupakan tempat hidup bagi ratusan flora dan beberapa fauna khas. Fyi, Taman Nasional Way Kambas merupakan salah satu taman nasional tertua di Indonesia. Beberapa hewan dilindungi yang ada di kawasan taman nasional ini selain gajah adalah tapir, harimau Sumatera dan badak Sumatera. Hutannya luasss banget! Kebayang juga sih gimana bisa ada perburuan liar. Ga mungkin khan petugas taman nasional yang jumlahnya terbatas itu bisa memonitor semua wilayahnya.

Kalau mau keliling TNWK dan (beruntung) ngeliat badak Sumatera, kita harus ikut safari jungle-nya yang tarifnya kurang lebih mencapai 1 juta. Tapi itu ga jaminan bisa ketemu si badak yang konon udah menuju kepunahan, guys. Badak Sumatera pemalu kayak aku. Doi lebih memilih menyendiri menghindari manusia *introvert.


Ke Way Kambas itu emang enaknya pas lagi high season yaitu liburan panjang atau akhir pekan. Kalo low season lempeng banget gini. Ditambah puasa dan mau lebaran. Bukan cuma gajah, petugasnya pun sepi lagi pada persiapan lebaran. Gada atraksi atau pertunjukan yang bisa dilihat. Tapi kalo misal pengen murni lihat kehidupan sehari-hari gajah di PLG ini; dari mulai mereka bangun tidur, terus mandi dan kemudian merumput ya gapapa sih datang pas musim sepi. Datang siang menjelang sore, kemudian menginap terus pagi-pagi lihat gajah dimandikan dan diberi makan oleh pawang. Pasti asique!

Fyi, dikutip dari AntaraNews Lampung, dalam satu hari gajah mengonsumsi sekitar 150 kg  makanan dan 180 liter air serta membutuhkan areal jelajah hingga 20 kilometer persegi per hari. Biji tanaman dalam kotoran mamalia besar ini akan tersebar ke seluruh areal hutan yang dilewatinya dan membantu proses regenerasi hutan alami. So, ada hikmah tersembunyi di balik kotoran gajah yang besar itu gaes, iyyuuuh.


Mumpung ke TNWK, kami sempatkan sekalian mengunjungi rumah sakit gajah pertama di Asia (dan mungkin satu-satunya). Rumah sakit ini dibangun atas kerjasama pemerintah dengan kebun binatang Australia. Tempatnya jangan kamu bayangin ada ruang kamar dan bangsal gitu. Yah sekilas semacam kandang. Rumah sakit ini diberi nama Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. Rubini Atmawidjaja. Siapakah beliau? Beliau merupakan salah satu 'pahlawan konservasi' di Indonesia. Nama beliau diabadikan karena dianggap sangat berjasa dalam hal pengembangan dan konservasi gajah.
 
Jangan salah bedain mana gajah mana pawangnya yak (perhatikan orang di lingkaran merah yang parno ketakutan)

Pawang gajah di sini sebutannya mahout (kalo petugas di TN Baluran namanya Ranger). Salah satu pawang yang menemani kami adalah Pak Marsono. Beliau sudah puluhan tahun menjadi mahout dan sudah menjinakkan beberapa gajah. Kami bertanya banyak hal tentang gajah dan TNWK. Beliau dengan sabar dan menahan kesal menjawab pertanyaan kami yang terkadang unfaedah dan uneducated wkwk. Saya selalu salut dan penuh respek pada seluruh pawang binatang di muka bumi ini. Mereka itu keren, memiliki sisi kelembutan dan ketegasan pada hewan. Bisa punya ikatan batin sama ciptaan Allah yang ga punya akal pikiran. That was so cool!

Gajah adalah hewan daratan terbesar di dunia. Yang paling besar (Gajah Afrika) bisa mencapai tinggi 3 meter dan berat antara 4000-7500 kilogram waowww! Menurut info yang saya baca, ada tiga jenis gajah yang ada di dunia (wallahu alam), yaitu gajah Afrika savana, gajah Afrika hutan dan gajah Asia. Bedain antara Gajah Afrika dengan Asia, bisa dari bentuk telinganya! Katanya kalo bentuk telinga Gajah Afrika menyerupai bentuk Benua Afrika. Dan bentuk telinga gajah Asia seperti bentuk negara India. Masya Allah!


Setelah foto-foto dan bercengkerama dengan Rahmi, kami berniat untuk rehat bentar. Pas lagi mau ngadem di bawah pohon, kami lihat seorang pawang yang membawa gajahnya ke dalam kolam untuk dimandikan. Waaah. Kami langsung lihat dari kejauhan. Dan benar sekali keputusan kami untuk lihat dari jauh karena gajah yang dimandikan itu usil, menyemburkan air ke arah pengunjung yang mendekat. Hihi. Ada satu kolam luas di area kandang gajah yang digunakan untuk para gajah itu mandi. Jadwal mandinya setiap pagi dan siang menjelang sore (2 kali sehari, kamu aja kalah wkwk). Menarik menyaksikan aktifitas para pawang memandikan gajah.

Tadi pas tanya sama petugas dibilang kalau mau naik gajah tunggang, nanti sehabis Zuhur. Sembari nunggu gajah yang mau ditunggangi yang masih keluyuran, kami shalat di mushola. Namanya apa tebak? Yak, Mushola Al-Fiil Sehabis shalat kami golek-golek aja didinginnya keramik mushola sambil bayangin panjangnya perjalanan pulang nanti. Fiuh. Ngajakin anak kelas 6 SD pergi jauh pas puasa emang penuh tantangan. Apalagi pakai motor, apalagi anaknya ga tahan capek dan laper. Adzkia udah ngincer air keran di tempa wudhu mushola yang seger bangettt. Biarlah, biar dia belajar bahwa hidup ga selalu seperti yang kita mau. Harus ada tantangan wkwk!

Dari mushola kami menuju tempat naik gajah tunggang. Lha gajahnya kemana yak? kosong. Ada satu bangunan tangga untuk naik ke punggung gajah. Kurang lebih 1 meter tingginya. Kami bertanya pada petugas bisa naik gajah atau enggak. Lha gajahnya belum ada gitu. Kata bapaknya bisa, tapi nunggu gajahnya pulang dulu. Entah lagi kelayapan di hutan sebelah mana. Abis itu mandi terus lanjut makan. Nunggu lamaaa banget! Akhirnya datang juga yang ditunggu-tunggu. Biaya naik gajah tunggang per orang 20K. Jarak tempuhnya deket banget cuma sekitar 100 meter. Kalo mau lebih jauh lagi bayarnya per orang 150K (safari). Adzkia teriak-teriak heboh di atas gajah tunggang. Yaelah, masa' gajah takut sama gajah (lho!).


Perhatiin foto di atas. Gading gajahnya dipotong? Yak, benar sekali. Sebenarnya kenapa dipotong itu untuk kebaikan gajah sendiri, gajah lainnya dan manusia. Gading gajah banyak diburu untuk sekedar prestise (orang macam apa yang meletakkan gengsi pada bagian tubuh makhluk ciptaan Allah yang imut macam gajah *tear). Kalo gajah Sumatera yang termasuk jenis gajah Asia, yang tumbuh gadingnya yang jantan aja, betina enggak. Beda dengan gajah Afrika yang baik betina maupun jantannya punya gading. Allah menganugerahkan gading pada gajah untuk pertahanan diri. Seekor gajah bisa melukai gajah lainnya dengan gading panjang yang dimilikinya. Selain itu digunakan untuk menggali lubang dan berbagai kebutuhan hidup gajah yang lainnya.


Ukuran gajah Asia ini lebih kecil dibanding gajah Afrika. Tapi sekecil-kecilnya gajah ya tetap aja besar untuk manusia. Besarnya hewan ini Allah ciptakan sangat bermanfaat untuk manusia, sama halnya seperti kuda, sapi, kerbau dan sejenisnya (pas abis Tsunami Aceh 2004 lalu gajah digunakan untuk membantu mengevakuasi dan memindahkan benda-benda berat di Banda Aceh).

Teringat kisah gajah zaman sebelum Rasulullah lahir, yang 'dikerahkan' seorang Gubernur Yaman kala itu, Abrahah, untuk menghancurkan ka'bah. Kuasa Allah, gajah-gajah yang dikendarai oleh tentara Abrahah terduduk diam ketika sudah hampir mencapai Ka'bah. Diam tak bergeming. Ketika diarahkan ke Yaman, kembali pulang, mereka bangkit kembali. Begitu seterusnya hingga Allah utus Ababil untuk menghancurkan tentara bergajah. Masya Allah ya, hewan yang tidak punya akal pikiran seperti itu saja enggan memaksiati Allah. Fitrahnya semua hewan berdzikir mengagungkan keesaan Allah. Jangan sampe kita kalah sama gajah, cuy.


Demi menghindari kesorean, jam 2 siang kami sudah siap untuk pulang. Bismillah, semoga perjalanan pulang ga nyasar kayak berangkat tadi. Jalanan besar di Lampung Timur sepiii banget. Wajarlah kayak gini rawan begal. Rumah dan warung pinggir jalan jarang ada. Kebanyakan kebon. Ngikutin terus jalan yang diarahkan oleh Maps, sampai pada satu titik saya mencoba improvisasi. Kayaknya lewat jalan ini lebih cepet deh. Lha ternyata jalanan kampung rusak yang kami lewati. Udah mana sepi. Benar-benar tepok jidat. Mauk cepet malah blusukan ga tau dimana. Hadeeh. Alhamdulillah menjelang buka puasa udah sampe di rumah. Adzkia langsung balas dendam ngabisin bergelas-gelas es kelapa muda sama Thai Tea.

Berkunjung ke TNWK itu susah-susah gampang. Ada beberapa alternatif transportasi dimulai dari Pelabuhan Bakauheni atau Kota Bandarlampung. Saran saya kalau mau berkunjung kesini bawa kendaraan pribadi deh, karena kalo naik angkutan umum ribettt. Ada penginapan yang bisa disewa tapi lebih baik konfirmasi dulu ke pihak TNWK. Untuk info lebih banyak tentang Taman Nasional Way Kambas bisa langsung visit web resminya di Waykambas.org.

Selamat berkunjung ke Way Kambas! Doakan gajah-gajah di sana sehat selaluuu...!


Senin, 20 Mei 2019

Rasanya Baru Kemarin


Rasanya baru kemarin,
Ia meminta saya mengizinkannya untuk berhari raya di kampung halaman saya. Kami bukanlah teman dekat. Hanya sebatas teman baik yang tiap pekan dipertemukan dalam sebuah kelompok mengaji. Jujur awalnya saya agak canggung, "akan diapakan nanti ketika ia di rumah". Ah, biarlah. Biar mengalir. Ini keputusan yang 'Allah ikut andil di dalamnya', sepertinya. Bisa saja saya beralasan ini itu, apapun yang membuatnya tidak jadi berlebaran di rumah saya. Tapi saya tidak melakukan itu. Nah!

Rasanya baru kemarin,
Sesekali saat pertemuan pekanan, saya tanyakan langkah selanjutnya setelah sidang dan kemudian wisuda, dengan sangat bahagia ia katakan, pulaaang! Saya tahu, sudah semenjak pertama menginjakkan kaki di tanah rantaunya ini (Kota Malang) ia tak pernah pulang ke kampungnya. Ah, betapa rindunya ia pada keluarganya, pada kampung halamannya. Wajar saja ia begitu bersemangat untuk pulang. Ibarat kata, only God can stop her.

Rasanya baru kemarin,
Saya membelikannya tiket kereta, pulang bersama menuju kampung halaman saya. Qadarullah, keberangkatannya harus tertunda, tidak jadi berbarengan dalam satu perjalanan, karena jadwal sidang tesisnya mundur (2 atau 3 hari setelah jadwal pulang yang kami rencanakan). Sempat berpikir, mungkinkah ini cara Allah 'akan membatalkan' perjalanannya ke Lampung. Jiwa saya yang kadang introvert sejujurnya sulit untuk 'membiarkan orang asing' berkeliaran di hati saya. Kamu harus seseorang yang spesial jika ingin masuk ke dalam hidup saya lebih dalam (kenal keluarga, main dan menginap di rumah, dan sebagainya).

Rasanya baru kemarin,
Walau sendiri, ia memutuskan tetap ke Lampung. Saya memandunya lewat hape, mulai saat turun dari kereta api di Stasiun Pasar Senen. Jalan panjang menuju Lampung ia lalui (naik ojek, naik bus ke Merak, kemudian menyeberang naik kapal laut, dan naik bus lagi setelahnya menuju Bandarlampung). Saya sempat khawatir karena nomornya tiba-tiba mati, ternyata sengaja ia matikan agar nanti masih bisa menghubungi. Beberapa kali ibu saya mengingatkan untuk menanyakan, sudah sampai mana temannya?

Rasanya baru kemarin,
Siang hari di pasar menemani ibu berbelanja kemudian menerima pesannya, sudah sampai Merak. Wah, kok cepat?! Biasanya kalau saya, maghrib baru sampai di Merak. Berarti tidak lama lagi ia akan sampai. Sedikit lega sejujurnya. Mengingat perjalanan panjangnya dan ia hanya sendiri. Alhamdulillah ya Allah.

Rasanya baru kemarin,
Pukul 7 malam. Saya menerima pesannya. Ia mengabarkan sudah sampai di titik berhenti yang saya arahkan. Dengan semangat, menjemputnya di depan gerbang belakang Unila. Sambil masih terkejut, kok udah sampe cepet banget! Saya memboncengnya sambil sesekali menanyakan perjalanannya. Ada rasa senang ketika ia datang, pada akhirnya sampai di kota saya.

Rasanya baru kemarin,
Membiarkannya istirahat setelah perjalanan jauhnya (bahkan ia masih memakai kostum saat sidangnya). Saya menyuruhnya tidur di kamar saya, sendiri. Demi menjaga ke-jaim-an, saya rela tidur di ruang belakang ditemani nyamuk-nyamuk ganas. Ya Allah gini amat yak.

Rasanya baru kemarin,
Keesokan harinya, mendengarkannya bercerita tentang sidang dan segala macam proses ia menyusun tesisnya. Di titik itu, mulai tumbuh 'sesuatu'. Saya tekun mendengarkan dan membiarkannya bercerita. Bukankah komunikasi adalah koentji?

Rasanya baru kemarin,
Mengajaknya keluar keliling kota pada H-1 lebaran. Sesuatu yang anti-mainstream memang, mau lebaran malah ke pantai. Sengaja, biar ga ramai. Saya membawanya menuju Pantai Klara dan Sari Ringgung. Sebagai tuan rumah yang baik tentu harus menjamu tamunya, bukan? Jamuan saya tentu saja adalah alam yang tersaji indah di bumi Lampung Ruwa Jurai. Qadarullah, ia pun penikmat alam. Ayok aja, kalau diajak keluar. Satu kecocokan.


Rasanya baru kemarin,
Berbuka dan sahur bersama di rumah. Mempersilahkannya mencicipi masakan mamak. Masakan rumahan. Senang ketika ia bisa menikmatinya. Ia pernah bercerita, punya masalah dengan 'makan'. Perutnya tidak membiarkannya untuk makan banyak. 

Rasanya baru kemarin,
Walau dengan penuh canggung, akhirnya saya tidur sekamar dengannya. Itupun karena disuruh ibu saya dan serangan nyamuk luar biasa di ruang tengah. Ngalah deh.

Rasanya baru kemarin,
Hari raya tiba dan saya membiarkannya di rumah sendirian, karena kami sekeluarga pergi berkeliling silaturahim ke tetangga. Biarkan dia quality time, menelpon keluarganya yang pasti rindu akan kehadirannya di rumah saat hari raya. Tidak lama ia sendiri, hanya setengah hari. Setelah itu saya mengajaknya silaturahim ke Pesawaran.

Rasanya baru kemarin,
Melihatnya dengan penuh iba, lemah tak berdaya karena sakit. Bisa jadi karena saya yang terlalu memporsir tenaganya, mengajaknya main kemudian pulangnya hujan-hujanan dan kemudian makan mpek-mpek yang cukanya (kemungkinan) melemahkannya. Saya sempat diomeli ibu, karena terus-terusan mengajaknya main sampai ia sakit. Aduh. Merasa bersalah.

Rasanya baru kemarin,
Karena kondisinya yang semakin melemah dan tidak membaik, saya memintanya untuk pergi berobat. Iapun mau. Padahal tak pernah mau sebelumnya, katanya. Harus mau. Ini salah satu bentuk tanggungjawab saya karena secara tidak langsung saya yang membuatnya sakit. Huhuhu.

Rasanya baru kemarin,
Melihat episode sakitnya: Memboncengnya dengan motor menuju klinik Kosasih untuk berobat. Saya sempat takut kalau-kalau ia tidak kuat naik motor. Ambruk di jalan. Iba hati saya rasanya melihatnya begitu lemah bersandar pada tembok. Sendirian. Saya hanya menungguinya dari jauh. Tidak peka. Dalam kondisi yang sangat lemah begitupun masih harus mengurus dirinya sendiri. Selagi menungguinya, saya sempatkan mampir ke toko depan klinik membelikannya 3 buah susu beruang (yang hanya diminum satu, kemudian malah dihabiskan bapak). Sebentuk perhatian kecil yang saya harap bisa sedikit meredakan sakitnya. Ternyata ia tidak suka minum susu.

Rasanya baru kemarin,
Liburan berakhir dan kami menuju kota rantau kembali. Ia tidak langsung pulang ke Malang, masih akan menghabiskan liburannya di Jakarta dan Bekasi. Ada sedikit cemas dalam hati saya ketika kami berpisah di Stasiun Pasar Senen. Entahlah, seperti akan melepas seorang adik yang sudah lama kamu sayangi dan kamu jaga. Allah berikan rasa semacam itu

Rasanya baru kemarin,
Syawal mendekatkan dan mengikat simpul-simpul kasih sayang di hati kita.

Rasanya baru kemarin,
Tak terasa kalau itu sudah 2 tahun yang lalu. Juni 2017. 

Kamis, 09 Mei 2019

Gagal Pulang ke Malang Gara-gara Salah Beli Tiket Bus (Cerita Perjalanan Nusa Penida Hari ke-4)


Susah buat ga bangun siang kalo lagi traveling. Apalagi kegiatan eksplorasi 2 hari kemarin yang bikin sendi-sendi kesakitan (tapi ada sendi yang lebih menyakitkan, sendi-rian! hyaaa). Hari ketiga di Nusa Penida dan jadwal kami hari ini adalah pulaaang! Rencana mau naik fast boat yang jam 9 pagi. Nyantai aja gausah pagi-pagi banget. Saya sudah bilang ke Bu Siti akan pulang hari ini dan naik fast boat yang jam 9. Kemudian beliau memesankan tiket untuk kami berdua. Nanti sampai di loket tiketnya, langsung aja bilang atas nama Bu Siti gitu.

Kami membayar sejumlah uang, 300K untuk penginapan dua malam, dan 150K untuk sewa motor selama 2 hari. Biaya kerusakan motor yang kemarin kejadian pas menuju Broken Beach tidak ditagih, Alhamdulillah. Bu Siti terbaek dahhh. Kalo butuh penginapan murah dan nyaman, langsung aja hubungin Bu Siti yaaak. Ini nomornya 0878-6109-8228. Ga cuma penginapan, tapi bisa sewa mobil, motor, paket trip dan sebagainya.

Crystal Bay Beach, Tempat Sunset-an Terbaik di Nusa Penida


Masih kerasa getar-getar kelelahan setelah menempuh perjalanan dari Kelingking dan Broken Beach tadi. Sekitar jam 3 sore sampai di penginapan, langsung rebahan sambil merem ayam (?). Kurang lebih jam setengah 5 sore kami keluar lagi dari penginapan, mencari penutup liburan terbaik, yaitu menyaksikan matahari tenggelam di Nusa Penida. Ada beberapa pilihan tempat dan yang paling aman untuk dua orang embak bermotor matic yang menginap di dekat Pelabuhan Toyapakeh adalah Crystal Bay Beach. Sebenarnya kalo mau lebih aman lagi untuk kami berdua lihat matahari tenggelam ya di depan Losmen Tenang, penginapan kami. Ibaratnya sambil ngesot aja sampe. Tapi, demi pengalaman yang lebih utuh, cari yang sedikit lebih jauh deh hehe.
 
Kalo mau tauk jam berapa matahari tenggelam di Nusa Penida, bisa langsung ketik "sunset Nusa Penida" di Google. Setelah itu akan muncul waktu matahari tenggelamnya. Tertulis, jam 18.14 WITA. Baiklah. Perjalanan dari Toyapakeh menuju Crystal Bay Beach lancar jaya tanpa hambatan. Jalanan sudah oke ga kayak ke Broken Beach. Tapi tetap hati-hati ya, di beberapa titik kami lewati turunan yang sangat tajam. Subhanallah subhanallah. Dan sangat sepiii. Jadi sebelum kesini penuhi dulu bensin kendaraan kamu. Ga kebayang kalo keabisan bensin di sini hiyyy. Daerahnya sepi banget!

30 menit perjalanan, kami sampai di pantainya. Langsung saja parkir motor di sembarang tempat. Ga ada tiket masuknya, yes! Saya dan Tika langsung nyari tempat enak untuk nungguin matahari tenggelam. Crystal Bay Beach sudah ramai, dipenuhi bule-bule yang berjemur, baik di pasir langsung ataupun di bawah payung-payung yang disewakan.

Kami mengeluarkan amunisi yang sudah sengaja disiapkan untuk menyambut momen ini. Sederhana saja, sebuah tripod untuk merekam momen matahari tenggelam di ufuk barat sana. Waktu yang pas datang ke pantai ini memang saat senja kayak gini. Kalo pagi atau siang hari, ya kayak pantai pada umumnya.

Jam 5 sore lebih sedikit, perlahan matahari mulai turun. Saya sama Tika cuma duduk aja di pinggir pantai pakai alas seadanya (baca: sandal). Sesekali Tika lari-larian main air di pantai. Gue sih ogah basah wkwkw. Pantai emang tempat yang lebih ramah pada manusia dibanding gunung ya. Tua muda, balita, kakek nenek, semua orang bisa menikmati pantai tanpa butuh usaha yang keras. Begitu sampai, turun dari kendaraan, udah deh tinggal lari ke pepasirannya.



Detik berganti menit, menit berjalan mengiringi sang matahari yang lelah (?) hari itu, kembali ke peraduannya. Dari langit biru kemudian berubah menjadi oranye, lalu jingga menyala. Masya Allah. Tidak ada ciptaan-Mu yang tidak indah, ya Rabb. Tidak ada ciptaan-Mu yang tidak membuat kami terkagum takjub menyaksikannya. Alhamdulillah sore itu Allah berikan sunset yang bikin bibir tak henti merapal syukur. Kalo di Dieng dulu liat golden sunrise, nah yang ini golden sunset-nya. Amazing!

Beberapa menit setelah matahari benar-benar tenggelam, kami langsung bergegas pulang. Seremmm jalanan yang bakal kami lewatin. Entah sebenarnya apa yang kami takuti? Setankah atau orang jahat? InsyaAllah Nusa Penida aman dari kejahatan manusia. Lalu berarti? Hiyyy.

Pas pulang, ada barengan 1 mobil dan 2 motor. Saya ngebut ngikutin di belakang. Tentu saja ga lupa sambil baca dzikir sore keras-keras. Kondisi jalannya gelap, ga berpenerang (gada lampu jalan). Kalo kata orang tua jaman dulu khan, waktu maghrib adalah saatnya setan-setan keluar. Terlepas itu bener atau engga, emang ngeri sih jalanan pulang dari Crystal Bay ke Toyapakeh. Biasanya khan kalo di kebanyakan kota di Indonesia, kita lihat tuh bapak-bapak rapi pake sarung menuju ke masjid. Lah ini ga ada sama sekaliii. Ini yang bikin tambah parno.


"Apa yang spesial dari sunset kali ini?", tanya saya pada Tika.

"Kita bener-bener ngikutin momennya. Biasanya khan sibuk fotolah, inilah itulah", jawab Tika.

Sebelum pulang ke penginapan, kami mencari sesuap nasi untuk makan malam. Kalo kata Pak Rohani kemarin, kalo mau cari makanan halalan thoyyiban ya di sekitar Pelabuhan Toyapakeh aja. Di luar area itu, ada sih mungkin satu dua warung, tapi syusyah dan meragukan. Memang, pusat perkampungan muslim di Nusa Penida ada di sekitaran pelabuhan. Kalo mau cari makanan halal ya di sini tempatnya. Ada satu masjid di perkampungan muslim ini (dan satu-satunya masjid yang ada di Nusa Penida). Saat sedang mencari makan, melihat para bapak dan pemuda yang keluar setelah shalat berjamaah. Masya Allah. Menentramkan mata dan hati. "Allah tidak akan menghancurkan bumi-Nya selama masih ada yang menyembahNya. Masih ada hamba-hamba yang ingat pada-Nya, bersujud pada-Nya".

Kami menemukan gerobak jualan Nasi Rames ga jauh dari Pasar Toyapakeh. Yang buat kami yakin untuk beli di situ adalah ibunya yang jualan pake jilbab dan bapaknya pake peci wkwk sesederhana itu. Sampai di penginapan kami makan dengan lahapnya. Nikmat banget seporsi nasi dengan lauk seadanya; sayur jantung pisang, mie, tempe kering dan perkedel. Oiya sebenarnya di samping Losmen Tenang ada warung makan muslim, tapi mayan mahal harganya. Lebih baik hunting keluar sambil liat-liat kehidupan malam di dekat pelabuhan dan pasar Toyapakeh.

Rabu, 08 Mei 2019

Gemetaran Turun ke Kelingking Beach dan Hampir Nyerah menuju Broken Beach Nusa Penida


Nusa Penida hari kedua. Kami bangun dan bersiap lebih pagi. Hari ini tujuan kami ke sebelah barat Nusa Penida yaitu Kelingking Beach, Broken Beach dan Angel Billabong. Oiya perjalanan kami kali ini hanya berbekal Maps dan tanya penduduk sekitar saja. Kalo kamu one day trip ke Nusa Penida dan ga pengen ribet, lebih baik sewa tour guide deh. Dari mulai turun ke pelabuhan, udah banyak banget jasa trip yang bisa disewa untuk nganter ke destinasi andalan Nusa Penida. Para guide ini paham medan dan bisa mengira-ngira, mau kemana dulu? Berapa lama berada di satu spot biar ga ditinggal kapal nyebrang ke Sanur, dan sebagainya. Karena saya dan Tika punya waktu yang lumayan cukup, kami berbekal Map saja (biarin deh nyasar-nyasar selama aman mah, asal ga ketemu hewan buas atau orang jahat aja).

Baca di banyak artikel, destinasi di sebelah baratnya Nusa Penida lebih dekat dan tidak memakan waktu lama untuk mencapainya. Jaraknya sih kalo liat di Maps lebih dekat jika dibandingkan tujuan kami kemarin (Pantai Atuh dan rumah pohon). Sejam kurang. Sebelum pergi, kami tanya sama Bu Siti, enaknya kemana dulu. Kata Bu Siti ke Broken Beach dulu, karena dari parkiran ga jauh udah sampe tempatnya. Sementara kalo di Kelingking, mesti turun ke bawah. (Lha kok ga nurut Bu Siti, malah akhirnya kami ke Kelingking dulu).

Bismillah, memulai pagi dengan bahagia. Jalanan dan daerah yang kami lewati sepi. Pagi-pagi udah parno aja. Nuansanya agak ngeri gimana gitu (rasain sendiri deh). Kami langsung baca zikir pagi kuat-kuat. Takut ada hawa aneh merasuk. Naudzubillah. Jalanan dari Toyapakeh menuju Kelingking sudah oke, beraspal halus. Hanya di beberapa titik yang masih jelek but it's okay ga sampe bikin mood jadi jelek juga. Oiya harus hati-hati bawa motor di Nusa Penida ya. Rata-rata jalannya menikung. Sepi pulak. Jadi kalo misalnya ngebut, kudu was-was takutnya tiba-tiba ada  apa gitu dari arah yang berbeda. Dan jalanan utamanya itu tidaklah lebar, sodara-sodara. Untuk papasan 2 mobil aja susah, satunya kudu ngalah.


Berbekal insting dan ngikutin penunjuk jalan, Alhamdulillah sampai juga di Kelingking Beach (nama lain dari Kelingking Beach adalah Pantai Karang Dawa). Gimana ya, ga sepakat kalo dibilang deket, tapi ya ga jauh banget jugak. Entahlah. Kami membayar 5K per orang. Masih pagi nih, masih sepi. Baru ada satu mobil parkir dan beberapa motor. Oiya hampir di semua tempat wisata di Nusa Penida gada parkir, kita cuma harus bayar uang masuk aja (yang itupun tergolong murah). Parkir motornya suka hati, wess. Ada kebon kosong nganggur, ya taruh aja. InsyaALLAH AMAN. Bahkan sekali kami lihat, ada pengendara bule yang markir motor dengan kunci masih terpasang (ga gitu juga kalik).


Fasilitas di Kelingking Beach sudah lebih baik jika dibandingkan 2 tempat yang kami datangi kemarin. Ada banyak warung (tapi mahal-mahal kayaknya, soalnya menunya ditulis dalam bahasa Inggris hehe). Ada juga beberapa toilet umum. Bayar kamar mandi sama kayak bayar tiket masuk, 5K -_- 

Jalan dari parkiran sampai ke spot Kelingking Beach ga sampe 5 menit. Masih sepi, asik. Baru ada beberapa rombongan bule dan wisatawan nusantara. Dan eng ing eng! Akhirnya liat dengan mata kepala sendiri kepala Tyrex eh landmark khas Kelingking yaitu pulau karang memanjang yang menyerupai kelingking (?). Lebih sepakat kalo dibilang Tyrex Beach sih. Perasaan saya doang atau gimana, diliat dari sudut manapun gada mirip-miripnya sama kelingking.

Entah darimana asalnya, ada beberapa monyet di sekitar sini. Kami langsung awas dengan barang bawaan (padahal ga bawa apa-apa juga). Ga lucu khan kalo tiba-tiba tas kami diambil terus dibawa sama doi entah kemana. Tapi mereka ucul kok, jangan dijahatin yaaa.



Jadi sebenarnya, kalo kami benar-benar mau ke Kelingking Beach-nya, kami harus turun ke bawah. Ada jalan setapak menurun yang harus dilalui. Antara penasaran dan takut, saya ajak Tika turun. Mungkin untuk bule-bule yang kakinya jenjang dan bawaannya enteng banget itu sih ringan-ringan aja turun ke bawah. Tidak dengan kami yang pake gamis dan rok. Tapi gamasalah banget sih pake rok, hanya harus lebih berhati-hati lagi (takut rok belakang keinjek orang trus kejengkang, huwaa tidaak).

Dengan hati-hati (baca: merayap-rayap) kami turun. Satu demi satu kaki menjejak pijakan yang bikin dag dig dug (takut licin dan kepleset). Hingga pada akhirnya, belum ada separuh perjalanan, saya putuskan untuk menyerah dan kembali lagi ke atas. Antara serem dan capek. Kebanyakan memang bule semua yang turun. Yang bikin tambah grogi turun ke bawah itu karena ditungguin orang yang mau turun jugak. Jalurnya cuma bisa dilewatin satu atau 2 orang. Dinding pembatasnya masih kayu. Jadi ya, harus hati-hati banget. Demi keamanan dan efisiensi waktu, foto-foto di atasnya ajadeh. 


Naik kembali ke atas, rasanya exhausted banget. Duh ya Allah, panaaas! Segera saja kami melipir ke salah satu warung yang ada di atas. Kami pesan kelapa muda. Segerrr banget airnya. Dan kesegaran ini harus kami bayar seharga 25K per buah. Muahalnya. Di Labuan Bajo aja yang udah berlipat-lipat harganya 20K. Saran, bawa makanan ringan dan minuman sendiri kalo ga pengen jajan mahal di sini. Ada sepasang bule Jerman yang tampaknya memperhatikan kami berdua (kayaknya sih Tika yang lebih diperhatiin dengan outfitnya wkwk). Entah apa yang ada di benak mereka melihat kami. Tika melempar senyum dan mereka membalas, ciyeeh (balas-balasan senyum).

Sodara se-keturunan Adam yang terpisah benua dan samudera. Masya Allah. Allah menciptakan kita berbeda; mereka mancung Tika eh kita pesek; Mereka berkulit putih, kita sawo kematengan; Mereka tinggi-tinggii, kita Alhamdulillah cukup tingginya.



Setelah cukup mengademkan kepala dengan es degan, kami melanjutkan eksplorasi lagi. Mau menuju ke tempat awal datang tadi, tapi kondisinya udah rame banget. Akhirnya kami menuju sisi lain Pantai Kelingking. Waktu lagi nyari spot yang pas buat foto, liat bule cowok sendirian manjat-manjat pohon buat naruh kamera. Abis itu bulenya turun terus pose-pose keren gitu. Wih, totalitas! Kami berdua sampe tertegun ngeliatin bule itu.

Can you see it? Jalur tangga menuju ke bawah

Memang Kelingking Beach indah luar biasa. Tapi satu yang harus diperhatikan: Keselamatan. Menurut saya keamanan seperti misalnya pagar pembatas permanen perlu dibuat, begitu juga dengan anak tangga untuk turun ke bawah. Masih bahaya banget. Jatuh ya jatuh. Kalo bawa anak-anak kesini, harus dipegang erat-erat (kayak balon aja). Semoga hal ini bisa diperhatikan pemerintah kedepannya (ayo dong jangan yang di Pulau Bali aja yang terus-terusan diperhatiin).

Dari Kelingking, kami lanjut ke Broken Beach dan Angel Billabong. Dua tempat ini berada di lokasi yang sama. Penunjuk jalan menuju 2 tempat ini cukup jelas. Lagian ya, jalan di Nusa Penida ini enggak serumit jalanan menuju hati kamu eaaak. Tapi tetep harus diperhatiin juga sih kalo pas ada cabang-cabang yang mbingungin. Tanya penduduk sekitar deh, best solution. Kalo biasanya kita temuin tempat-tempat makan atau cottage di sekitaran tempat wisata, maka di Nusa Penida bisa kita temui hampir di semua tempat. Di daerah sepi yang kebon doang, ada. Di tengah-tengah perkampungan, juga ada. Dimana-mana deh.

Ga berapa lama kemudian, ketemu deh sama jalanan jelek yang terkenal seantero travel blog. Sejelek apa jalannya sih? Bayangin aja, di jalanan kampung gitu bisa macet. Mobil yang bawa tamu banyak banget. Jalanannya berbatu dan bergelombang terus ga terlalu lebar, jadi deh kalo misal papasan harus ada yang ngalah. Saya agak parno baca review di blognya para travel blogger tentang perjalanan menuju Broken Beach. Ada yang jatuh sampe lecet-lecet, ban motor bocor dan lain-lain. Lah kejadian! Pas lagi macet, posisi kami persis berada di belakang mobil. Lalu kemudian mobilnya mundur, ditabraklah motor kami. Bagian sayap depan pecah. Ya Allah. Langsung kebayang wajah Bu Siti dan berapa banyak nanti kami harus ganti kerusakan ini.

Kalo kamu pernah main ke pantai Malang Selatan sebelum dibuat JLS, nah separah itu deh jalanan menuju Broken Beach. Bebatuan kasar, tanjakan dan turunan tajam lalu ditambah padatnya mobil yang ngelewatin jalanan ini. Tangan saya sampe kaku nahan rem. Belum lagi kena sengatan matahari (tangan kaki dan kepala yang ga pake helm). Complicated pokonya!

Tengah hari bolong kami sampai juga di Broken Beach. Berdua dan satu motor, kami membayar sebesar 11K. Begitu masuk  dan memarkirkan motor, kami langsung istighfar sebanyak-banyaknya. Ya Allah. Bekal minum yang kami bawa semakin menipis. Sungguh sebuah perjuangan. Kadang mikir juga sih, yang nyuruh untuk blusuk-blusuk sampe ke pedalaman Nusa Penida gitu sapa? Ga ada. Jadi inget pernah baca buku karangan Ust. Salim A. Fillah yang isinya kurang lebih gini...

Tidaklah seorang muslim berpayah-payah dalam melakukan perjalanan kecuali untuk ke-3 tempat. Kemana rupanya? Arab Saudi dimana terdapat Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, kemudian Palestina (Masjidil Aqsha).

"Janganlah kalian menempuh perjalanan jauh kecuali menuju ke 3 masjid: masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjid Al Haram dan Masjid Al Aqsha". (HR Bukhari dan Muslim).

"Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik daripada 1000 shalat di tempat lain, kecuali di Masjidil Haram. Shalat di Masjid Al Haram lebih baik daripada 100.000 shalat di tempat lain" (HR Ibnu Majah).

Apa kabar saya, yang malah cita-cita keluar negeri untuk first time-nya Nepal atau Maldives? Huhu. Kalo kata Tika, "niatin aja dulu Mbaaak. Emang sih mahal, tapi khan kalo yang buat maen kemana itu yang katanya lebih murah, kalo dikumpulin ya cukup juga". Iyadeeh iyaaa.

It's only about PRIORITY (!) 



Siang itu kondisi laut di sekitar Angel Billabong lagi ganas-ganasnya. Ombaknya cihuy banget. Angel Billabong yang identik dengan kolam renang alaminya (semacam infinity pool) di bebatuan karang, tidak terlihat. Diserbu bertubi-tubi sama ombak. Biasanya sih pengunjung bisa renang dan mengambang di atasnya. Kemarin itu para pengunjung yang datang hanya berada di sekitarnya saja, tidak berani masuk ke kolamnya. Dan memang terlarang sih kalo pas ombak lagi gede kayak gitu. Pernah ada yang keseret ombak dan hilang soalnya. Saya tidak lama di sini, langsung ajak Tika menuju Broken Beach.




Dari Angel Billabong menuju Broken Beach hanya sekitar 5 menit jalan kaki menyusuri jalan setapak yang sudah dipaving. Dibandingin para bule, mungkin kami berdua kelihatan sumuk banget outfit-nya (gamis dan jilbab panjang, belum lagi bawaan tas). Satu hal sih yang kurang prepare; Harusnya kami bawa topi dan kacamata hitam! Serius, bukan cuma untuk gaya-gayaan dan biar kelihatan ketce di foto (itusih bonus), tapi beneran deh berguna banget untuk menghalau panas matahari di Nusa Penida. Tanah di sini khan kering tandus gimana gitu ya, pepohonan juga ga terlalu menaungi. Pokoknya panas aja deh hawanya!


Kembali lagi mempertemukan antara apa yang kami lihat sliwar-sliwer di medsos sama kenyataannya langsung. Broken Beach di depan mata. Masya Allah. Siang hari panas gitu, bukannya semakin sepi malah tambah rame bule yang datang. Saya sama Tika cuma ngadem aja di bale-bale depan warung. Lelah. Sambil memperhatikan tiap bule yang datang. Berbagai rupa. Ada yang pakaian nyantai ala bule barat, ada yang pake hitam-hitam tertutup rapat dari Timur Tengah. Juga memperhatikan tiap guide yang menemani para bule. Mereka keren.

Minta tolong fotoin abang-abang naik pohon
Sudut lain Broken Beach

Saya akui, kurang maksimal ngambil foto di Broken Beach. Pas udah pulang dan lihat hasil tangkapan kamera, "yah cuma segini doang". Sedikit menyesal sih, tapi semoga Allah kasih rizqi untuk kesini lagi, amiiin. Jujur emang kemaren itu panas bangettt. Udahlah capek bawa motor dengan medannya yang bikin istighfar, sampe tempatnya masih harus panas-panasan lagi jalan ke satu spot kemudian ke spot yang lain. Tenaga sisa-sisaan, jadi ya gitu deh. Liat batang pohon nganggur dikit pengen didudukin aja bawaannya.

Satu hal yang benar-benar saya perhatikan saat di Nusa Penida adalah keberadaan guide. Tiap pengunjung bule didampingi oleh seorang guide (entah ya mereka ini warga lokal Nusa Penida atau dari Bali). Lewat mereka inilah secara langsung maupun ga langsung, kepuasan pengunjung ditentukan. Asik banget kalo ketemu yang ga komersil dan tahu mauknya para turis itu (misal, kalo mereka pengennya bawa motor sendiri untuk eksplor ya jangan dipaksa untuk sewa mobil). Pas di Kelingking tadi liat guide yang bisa bahasa Inggris, Jepang dan Mandarin. Orangnya humble banget kayaknya, pembawaannya luwes (memperhatikan dari jauh aja, ga kenalan).

Siang menuju sore, kami memutuskan untuk pulang ke Toyapakeh. Ngeri lah kalo sore-sore pulang lewatin jalanan jelek gitu. So, buat kamu yang mau datangin tempat wisata di baratnya Nusa Penida, bisa milih: Kalo mau capek-capek duluan, menuju Broken Beach dan Angel Billabong, sampe berdarah-darah deh ibaratnya bawa motor. Nah abis itu baru nyantai ke Kelingking. Atau kalo mau kayak kami juga gapapa, capek di akhir. Sampe penginapan tinggal tepar par par!