Selasa, 23 April 2019

Cerita Perjalanan Malang - Nusa Penida Murah dan Hemat


Tanpa sadar, gaya traveling kita 'hanya' mengikut dari satu pejalan lalu pejalan lainnya. Banyak orang pergi kesana, kita juga ingin kesana. Tanpa viral di media sosial, akankah tergerak hati kita untuk pergi ke suatu tempat?

Akhirnya menjejak pulau yang ingin saya datangi dari 2 tahunan lalu. Rasa mual masih mendera. Serasa dikocok-kocok perut ini. Perjalanan fast boat Maruti Express dari Pelabuhan Sanur ke Nusa Penida yang memakan waktu sekitar 45 menit perjalanan, sukses membuat saya dan Tika mabok alias teler alias tak berdaya menghadapi kenyataan *lebay (Alhamdulillah ga sampai huek-huek). Jangan dibayangkan perjalanan dengan fast boat akan seindah di layar kaca; Sepasang kekasih ala-ala Di Caprio dan Kate Winslet, pake baju hawai plus kacamata hitam, bermesraan diterpa angin laut PLAK! Yang ada, nyebut aja sepanjang perjalanan. Belum lagi tangan sampe sakit pegangan ke kursi. Allah, cobaan macam apa ini? Keasyikan mengikuti alur kapal, saya jadi ngantuk kemudian lelap. Kalo ga karena efek Dramamine yang kami minum tadi, mungkin sudah benar-benar keluar isi perut.
***

Perjalanan ke Nusa Penida kali ini masih bersama Tika Sari anaknya Pak Rois (makasih ya udah mantepin pergi ke sini, kalo ga, rencana hanya jadi rencana). Kami berangkat dari kosan Arrifah setelah menunaikan hak pilih alias nyoblos di tanggal 17 April 2019. Jam 3 sore lebih dikit, setelah shalat ashar kami menuju garasi bus Midas di Batu. Kenapa pilih Midas? Jawaban dari budget traveler tentu saja karena murah. Hidup murah! Ya. setelah survei, harga bus ini paling murah dibanding moda penyedia perjalanan Malang - Bali lainnya, hanya 170K. Harga segitu sudah dapat snack dan 1 kali makan.

Awalnya, ada beberapa alternatif yang sudah saya siapkan untuk perjalanan ke Bali kali ini. Mutus-mutus alias ngeteng bisa murah banget, rutenya: Naik kereta Malang - Banyuwangi (62K), terus naik kapal laut di Pelabuhan Ketapang - Gilimanuk (6,5K), dilanjut naik bus kecil ke Terminal Ubung (30-40K). Murah, khan? Tapi banyak bahayanya kalo dilihat dari sudut pandang cewek. Sampe pelabuhan tengah malam, terus jalan kaki ke terminal nyari-nyari bus yang belum pasti adanya. Udah deh, cari yang aman aja naik bus langsung.

Sampai di garasi Batu, bus sudah siap untuk berangkat. Kami naik, eh busnya gerak (berarti tinggal nunggu kami aja). Langsung duduk di kursi yang sudah kami pesan. Kesan pertama, rada panas. AC mana AC? Busnya agak tua untuk tidak dibilang 'ga bagus lagi'. Kaca depan bus retak seperti bekas terkena lemparan batu, entahlah. Tivi di atas kemudi sopir hanya menyisakan jejak bekas dudukannya saja, tivinya sudah ndak ada lagi. Kursinya mayanlah reclining seat. Satu hal yang paling bikin ga nyaman adalah pendingin udaranya, keciiil banget. Gerah kali kurasa. Kalo kata pepatah Jawa: ono rupo, ono rego. Jangan berharap dapat fasilitas yang ena-ena kalo bayarnya aja murah -_-

Kurang lebih jam 4 sore, bus bergerak meninggalkan Kota Batu. Penumpang sudah lebih dari setengah yang menempati bangku. Saya kira bus ini akan langsung melaju menuju Bali. Ternyata masih menjemput beberapa penumpang di beberapa titik. Dan tidak kuduga, masih ke Terminal Arjosari! Oh my... Cukup lama kami ngetem di terminal. Menjelang maghrib, baru bus berangkat. 

Gelisah, kegerahan di dalam bus. Tika udah ga sadarkan diri dari mulai berangkat tadi. Udah mimpi sampe kemana entah. Saya sesekali tertidur kemudian bangun lagi. Masuk Pasuruan, ternyata bus masuk jalan tol. Saya katrook sendiri! Apa cuma saya di muka bumi ini yang baru tau kalo ada jalan tol dari Pasuruan menuju Banyuwangi (ada 2 ruas tol yaitu Paspro dan Probowangi). Ya Allah, asiik. Bakalan cepat deh perjalanan ini. Saya yang pernah road trip pake motor ke Banyuwangi, tau dikitlah gimana ramenya jalur Malang - Pasuruan - Probolinggo sampe Banyuwangi. Ternyata di Probolinggo bus keluar tol karena nantinya akan berhenti di rumah makan di daerah Pasir Putih Situbondo.

Hampir masuk Situbondo, akhirnya ngalamin liat PLTU Paiton yang bagus banget lampu-lampunya kalo malam hari. Sampai di rumah makan, kami langsung antri untuk mengambil jatah makan. Tika gamau makan (bukan pelaku diet, tapi takut mabok). Dari rumah, kami sengaja bawa wadah nasi. Jadi, jatah makan Tika bisa dimasukin ke wadah nasi untuk sarapan kami besok pagi, pinter khan? Heuhue. Menunya sederhana saja: nasi dengan sayur sop, lauk ikan goreng plus sambal kering tempe dan segelas teh panas. 

Sejam kemudian bis memasuki Pelabuhan Ketapang Banyuwangi untuk menyeberang ke Gilimanuk. Saya mengajak Tika keluar menuju dek. Semenjak kejadian kapal terbakar di Merak dulu, penumpang bus dihimbau untuk tidak berada dalam kendaraan saat kapal berlayar. Jarak antara Pelabuhan Ketapang dengan Gilimanuk sesungguhnya tidaklah jauh (bahkan keliatan dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya). Jam 00.15 wib atau kalau masuk wilayah Bali otomatis maju satu jam berarti jam 1 lewat, kapal merapat. Dari Gilimanuk menuju Terminal Mengwi masih akan panjang perjalanannya, sekitar 3 jam. Saya terlelap lagi.

Fyi, mulai tahun 2017 lalu, semua bus AKAP diharuskan untuk berhenti di Mengwi (Tabanan), tidak lagi di Ubung (Denpasar). Niat pemda bagus sih, cuma agak menyulitkan bagi traveler yang sebagian besar tujuannya ke Denpasar. Sebelumnya saya sudah tanya ke kondektur bus apakah boleh turun di garasi Midas di Denpasar, jawabannya ndak bisa karena nanti di Mengwi akan ada pemeriksaan. Baiklah, sebelumnya memang sudah saya antisipasi. Cari info sana sini karena agak 'ngeri' baca cerita di beberapa blog tentang pengalaman mereka di Terminal Mengwi. Jadi kalo mau ke Denpasar bisa naik Grab, dengan catatan pesannya jauh di luar stasiun dan ongkosnya lumayan diatas 50K (mobil), atau naik angkutan Sarbagita yang mulai beroperasi pukul 7 pagi dengan biaya hanya 7K saja.

Jam 3 subuh bus kami masuk ke Terminal Mengwi. Saya membangunkan Tika. Orang-orang banyak turun tapi ada beberapa penumpang yang tetap di bus namun 'sembunyi' dalam artian menuju belakang bus biar ga keliatan pas pemeriksaan. Saya masih plonga plongo ngumpulin nyawa. Pak sopir agak ngegas ngomong ke saya, "sampeyan tiduran aja, Mbak". Ternyata bapaknya baik, mau membawa kami ke Denpasar. Tapi saya terlalu polos, bukannya agak tiduran (biar ga keliatan petugas), malah tongol-tongol aja kepalanya wkwk. Alhamdulillah, satu yang kami khawatirkan tidak terjadi. Jadilah kami ikut bus Midas sampai garasinya di Denpasar.

Kota Denpasar di jam 4 pagi ternyata sudah ramai. Kendaraan banyak berlalu lalang di jalanan. Sampai garasi Midas, Tika shalat subuh. Ada toilet umum dan mushola kecil yang bisa kita pakai. Mau mandi juga bisa. Tapi saya terlalu malas pagi itu, bahkan untuk nyentuh air buat cuci muka. Udah agak terang, kami pesan Grab. Jaraknya agak jauh tapi kami cuma bayar 9K (promo OVO). Awal naik mobilnya, agak serem (bapaknya kami kira orang aseli Bali). Bapaknya diem aja lagi. Ga lama di perjalanan bapaknya muter lagu kayak shalawat gitu, terus Maher Zain. Eh. Abis itu mulai cair deh, bapaknya nanya-nanya. Ternyata beliau aseli Banyuwangi. Kami bercerita panjang lebar sampai akhirnya tiba di Sanur. Bapaknya menawarkan untuk berhenti di Pantai Matahari Terbit. Ashiaaap! Saya sama Tika kegirangan turun dari mobil bergegas menuju pinggir pantai. Kami sudah kesini tahun 2017 lalu and that was amazing! Hampir jam 6 pagi tapi mataharinya belum muncul. Kami sedikit merileks-kan badan, memperhatikan beberapa orang yang ada di situ, tidak ramai hanya beberapa. Jam 6 lewat, yang ditunggu kemudian muncul.


Ini kedua kalinya berada di Pantai Matahari Terbit. MasyaAllah. Senang banget. Datang ke tempat yang sama dengan orang yang sama, namun dengan feel berbeda. Ini adalah salah satu pantai dengan sunrise terbaekkk. Allah kasih kesempatan untuk kesini lagi dengan orang yang dulu kudzalimi wkwkw! 


Puas menikmati detik demi detik matahari naik. Setelah itu kami sarapan dengan bekal yang kami bawa di pinggir pantai. Setelah itu sekitar jam 7 pagi kami berjalan kaki menuju Pelabuhan Sanur untuk beli tiket nyebrang. Awalnya mau dipesankan dulu sama Bu Siti, pemilik Homestay Tenang yang kami booking penginapannya di Nusa Penida. Tapi karena saya kurang yakin (takut kesiangan sampai di Sanur), akhirnya belum jadi dipesankan.

Pagi itu Pelabuhan Sanur sudah dipenuhi penduduk lokal dan wisatawan yang akan menyeberang. Rame. Mungkin karena jadwal paling pagi. Saya menuju loket Maruti Express, sesuai arahan Bu Siti kemudian langsung memesan untuk 2 orang. Biaya yang harus kami bayar sebesar 150K. Setelah itu kami menunggu di ruang tunggu yang sudah disediakan. Ada banyak fast boat tersedia untuk menyeberang ke Nusa Penida, Lembongan atau Ceningan. Jadwal penyeberangan paling pagi jam 7.30. Ga sampai setengah jam, petugas mengarahkan kami untuk naik ke kapal. Basah hiks, langsung naik dari pantai ga lewat dermaga.

Beachwalk Sanur menuju loket-loket penyedia jasa penyeberangan ke Nusa Penida

Penumpang menunggu fast boat
Saya memilih tempat duduk nomor dua dari depan. Di depan kami sepasang bule yang sudah berumur (masih romantis aja oma opa). Tika nih begitu mesin kapal hidup dan siap jalan, otomatis langsung merem matanya, bisa gitu ya? Suara-suara riuh penumpang kalah sama mesin kapal. Saya mencoba sok tegar lihat ke arah luar. Ombaknya lumayan besar. But it's okay, udah teruji nyalinya pas perjalanan perahu menuju Pulau Padar waktu itu *sombong.

Alhamdulillah perjalanan 'mengerikan' naik fast boat berakhir. Yeay sampe! Langsung membuka mata lebar-lebar menyaksikan biru dan jernihnya air laut di Pelabuhan Toyapakeh. Masih oleng, Bu Siti menghubungi saya mengabarkan akan ada yang menjemput kami. Baru keluar dari dermaga, ada seorang mamas yang menghampiri kami. "Bu Siti Losmen Tenang?" Iyaa. Langsung saja kami mengikuti dari belakang. Losmen Tenang yang sudah saya booking dari lama ini letaknya ga jauh dari Pelabuhan Toyapakeh (e dibaca kayak di kata elang). Saya baca beberapa tulisan tentang penginapan murah, Losmen Tenang punya Bu Siti ini banyak direkomendasikan. Ada beberapa pilihan kamar. Kami pilih yang harga 150K dengan fasilitas kipas dan kamar mandi dalam. Bu Siti juga menyediakan motor untuk disewa. Perhari 75K dengan bensin full. Kalo mau hubungi Bu Siti bisa langsung WA ke nomor beliau langsung 087861098228. InsyaAllah fast respon!

Sampai di Losmen Tenang, kami langsung menenangkan diri. Masih kerasa guncangan dan goyangan kapal. Ya Allah. Masih jam 10 pagi dan kasur terasa sangat indah.

Selasa, 16 April 2019

Jalan-jalan ke Ciwidey (2) : Keasyikan di Kawah Putih


EKSPEKTASI: Besok jam setengah 7 pagi kita berangkat dari penginapan ya. Ke Bukit Jamur dulu. Semakin pagi semakin eksotis ada kabut-kabutnya gitu. Abis itu baru ke Kawah Putih. Siap!

REALITA: Jam 6 pagi. Ada yang masih selimutan di atas kasur. Ada yang nyebar barang-barang ke segala penjuru kamar. Ada yang sibuk ini itu -_-

Kata Rasulullah, kalo mau kenal mengenali karakter teman lebih mendalam, salah satu caranya adalah dengan bepergian bersama. Saya bersama bocah-bocah inimah gausah diragukan lagi. Ade, Irul, Nita, udah tau bangetlah karakter masing-masing. Hampir 2 tahun tinggal serumah, bahkan ada yang lebih (Nita). Muka bangun tidur mereka gimana, muka kalo lagi sebel bete dan lain sebagainya. Kalo udah komitmen untuk berteman, ya harus terima segala macam sifat baik buruk, cocok ga cocok, nyebelin, jengkelin dan rupa-rupa sifat lainnya. Penerimaan terbaik atas semua sifat yang dimiliki oleh teman kita adalah, bersabar. Nah, saat melakukan traveling bersama inilah salah satu momen kesabaran kamu atas sifat teman, akan diuji. Pass or not?
***

Bangun pagi di udara dingin Ciwidey itu butuh perjuangan. Beberapa saat setelah adzan subuh, saya baru kebangun. Setelah itu, saya membangunkan Nita. Ade dan Irul lagi ga shalat. Selesai shalat, saya menyiapkan kamera dan lain-lain untuk menyambut mentari pagi di Ciwidey. Rencana sih mau bikin time lapse pake hape, eh cuacanya kurang cerah. Belum rizqi.

Karena sudah kesiangan dan jatah kami di Ciwidey hanya sampai jam 12 siang, kami harus merelakan rencana ke Bukit Jamur. Berarti tujuan hari ini hanya ke Kawah Putih saja. Sekitar jam setengah 8 pagi kami baru keluar dari penginapan. Menghirup udara khas dataran tinggi Ciwidey yang sudah tercampur dengan asap kendaraan yang berlalu lalang. Jangan bayangkan daerah ini seperti Dataran Tinggi Dieng yang masih kental nuansa perdesaannya (lebih mirip Batu). Apalagi daerah ini merupakan jalur utama menuju tempat-tempat wisata yang sudah terkenal seperti Ranca Upas, Kawah Putih, Situ Patenggang, Glamping Lake Side dan sebagainya. Ciwidey bakal padat banget kalo musim liburan tiba.

Asyik menikmati udara dingin dan hutan hijau di jalur menuju Kawah Putih, ga nyadar udah sampe parkiran aja. Cuma setengah jam lho dari penginapan kami. Masih pagi masih sepii. Kayaknya kami pengunjung bermotor pertama atau kedua di hari itu. Perasaan masih sepi, eh kok udah ada banyak angkot, pikir saya.


Area parkir Kawah Putih luas sekali. Bisa sampai puluhan bis parkir di sini. Selain itu, ada banyak warung makan dan oleh-oleh khas Ciwidey dan Bandung. Kalo pas kesana puagi dan belum sempat sarapan, bisa tuh mampir dulu di warung yang ada di situ. Oiya bisa juga sekalian beli makanan dan minuman ringan untuk dibawa naik ke Kawah Putih karena di atas sana tidak ada warung jualan lagi.

Kami langsung menuju ke loket tiket. Tampaknya belum buka. Ada beberapa orang yang sedang menunggu. Ga sampai 15 menit, seorang petugas masuk ke pos tiket. Kami langsung mengantri. Harga tiket yang harus dibayar per orang : Tiket masuk 25K, naik ontang-anting 18K, biaya penitipan helm 5K (helm harus dititipin, gaboleh enggak) dan parkir motor 5K. Hampir 50K per orang. Mantaaap (elus-elus dompet).


Setelah membayar tiket untuk 4 orang, kami menuju jalur antrian naik ontang-anting. Cara naik ontang-anting sama kayak naik bus di Taman Safari. Pengunjung mengantri di lajur yang sudah disediakan. Ada satu ontang-anting yang sudah terparkir. Ketika penuh, maka ontang-anting di belakangnya maju untuk mengangkut penumpang selanjutnya.

Pengunjung yang membawa mobil pribadi punya pilihan untuk naik ontang-anting or not ke atasnya. Konsekuensinya, bayarnya lebih mahal. Menurut artikel yang saya baca, per mobil harus membayar 150K untuk parkir di dekat kawah. Hm, mending naik ontang-anting sekalian deh. Buat pengalaman juga sih sekalian ngebantu perekonomian masyarakat lokal yang mencari nafkah lewat ontang-anting ini. Yekan?

Ontang-anting yang artinya mondar-mandir (kalo bahasa Jawa-nya, kulu kilir wkwk)
Perjalanan menggunakan ontang-anting dari parkiran masuk hingga ke kawah memakan waktu sekitar 15 menit (5 kilometer). Treknya lumayan sih, tapi ga ngeri-ngeri amat. Jalannya sudah diaspal tapi bergejolak. Alhamdulillah ontang-anting ini semacam angkot yang udah dimodif. Kalo naik angkot biasa, udah mabok kali. Ontang-anting yang membuat kami sampai terpontang-panting. Wkwk.




Ada beberapa fasilitas yang tersedia di area parkir atas, tapi tidak selengkap di bawah. Pagi itu ketika sampai, ada banyak mobil pribadi terparkir di sana. Kayaknya lagi ada acara lembaga atau perusahaan.

Kami bergegas turun dari ontang-anting. Bocah-bocah langsung jalan duluan meninggalkan saya. Saya berhenti di depan peta situasi area Kawah Putih. Membaca situasi dan kemungkinan tempat yang bisa didatangi. Menurut saya, kalo pengen jadi traveler atau pengunjung yang melek informasi, penting untuk kita membaca peta atau petunjuk yang biasanya diletakkan di dekat pintu masuk. Kelihatannya sepele, tapi berguna banget lho. Selain mendapat gambaran tempat wisata secara umum, kamu juga bisa nambah pengetahuan yang mungkin bisa kamu bagikan untuk orang yang memerlukan. Yay or nay?



Dari tempat pemberhentian ontang-anting ke lokasi Kawah Putih cuma sekitar 5 menit berjalan kaki, tapi bisa setengah jam kalo dikit-dikit cekrek! Mulai dari situ, banyak yang menawarkan masker. Karena kami sudah bawa masker sendiri, aman (ternyata pas sampai di bawah dekat dengan kawah, ga masalah ga pake masker). Tapi untuk yang punya gangguan kesehatan, tidak ada salahnya memakai masker demi keselamatan. Untuk lansia atau yang gak sanggup dekat-dekat langsung sama kawahnya (takutnya kumat bengek atau asmanya dan lain-lain) bisa menuju area pandang yang disediakan untuk lansia.


Papan himbauan yang harus dibaca baik-baik oleh pengunjung
Kawasan wisata Kawah Putih mulai dibuka untuk umum pada tahun 1987 (setahun sebelum saya lahir ke dunia, woohoo). Pastinya ada beberapa pertimbangan dari mulai lokasi ini ditemukan sampai baru berpuluh tahun kemudian dibuka untuk umum. Yang utama pastinya, alasan keselamatan. Kalo kamu udah pernah main ke Kawah Ijen di Banyuwangi, ya bisa dibilang Kawah Putih ini 'adeknya' deh.

Kalo mau lihat Kawah Putih dari atas, tempat yang harus kita tuju adalah Sunan Ibu. Karena waktu kami terbatas saat itu, ya udah deh main di dekat danau kawahnya aja. Tempatnya memang eksotis bin mistis, ya. Banyak pohon-pohon mati di sekitarnya yang malah jadi daya tarik tersendiri. Oiya menurut sumber yang saya baca, dulunya Kawah Putih ini pernah dijadikan tempat penambangan belerang. Gatau deh ya, sampai saat ini masih beroperasi apa enggak penambangannya. Hari itu sih saya ga lihat sama sekali ada aktifitas penambangan. Wallahu 'alam.



Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pengunjung dihimbau untuk berada di sekitaran kawah selama 15 menit saja, tidak berlama-lama. Lah kami? Malah lesehan di pinggir danau sambil makan bekal nasi yang kami bawa (piknik wanna be). Bahkan abis makan, cuci tangannya di danau kawah (setelah itu seharian tangan bau belerang ga ilang-ilang wkwk).


Kawasan Kawah Putih yang kini sangat ramai oleh pengunjung ini pernah punya cerita mistis lho...
Bayangin deh misalnya gini : Ada sebuah sumur di dekat rumah kamu yang katanya orang 'angker'. Kenapa dibilang angker? Karena tiap ada yang berusaha untuk ngegali sumur itu, ga lama kemudian orangnya meninggal. Duh, lelembut macam apa yang bersemayam dan gasuka sama penggali sumur. Ternyata oh ternyata, penyebabnya adalah kandungan gas monoksida yang ada di dasar sumur!

Gitu juga cerita Kawah Putih ini, gaes. Awalnya orang-orang pada parno. Tiap ada burung yang melintas di atas area Kawah Putih yang merupakan bekas letusan Gunung Patuha, mati semua. Nih mesti ada apa-apanya nih, pikir penduduk setempat. Pikiran parno itu berlangsung terus sampai akhirnya ada seorang ahli iklim asal Jerman yang meneliti kawasan tersebut. Kemudian, jreng jreng! Taulah kalo sebabnya adalah kandungan belerang yang berada di danau kawah bekas letusan Gunung Patuha.

Betapa tingginya posisi 'ilmu' dalam agama kita. Ilmu sebelum amal. Dengan ilmu, Allah angkat derajat kita lebih tinggi. Hal-hal yang dianggap mistis, tabu dan lain-lain jika dibalut dengan ilmu pengetahuan, maka akan terang perihalnya, jelas sejelasnya. Perhatikan lagi sekitar, masih ada ga keyakinan 'syubhat' semacam itu yang kita percaya? Tidak ada peristiwa sekecil apapun di dunia ini bahkan daun yang disapu sama seorang nenek di halamannya, melainkan Allah tahu, melainkan sudah tertulis di lauhul mahfudz.

Berilmu itu keren, kawan!


Nita yang sabarnya ga ketulungan. Dia yang bawa makanan dari rumah (Banjarnegara). Dia yang bawa makanan ke Kawah Putih di tasnya. Dia juga yang nyiapin makanan sampe benar-benar terhidang di depan kami. Luarrr biasa.


Hari itu Kawah Putih sedang cerah-cerahnya. Perpaduan antara langit biru dengan tebing-tebing hijau dan warna tosca danau membuat kami ingin berlama-lama rasanya. Tapi sayangnya, kami harus segera pulang. Jam 11 kurang kami sudah berada di penginapan lagi. Saatnya beres-beres karena jam 12 harus check-out dari penginapan. Perjalanan siang hari  dari Ciwidey menuju Bandung sungguh membuat dua driver andalanque, Ade dan Irul, mengantuk. Saya ngeri juga nih dibonceng sama orang ngantuk. Ketar-ketir di belakang. Ya Allah berikanlah Irul kesabaran dan kesadaran. Jangan sampe terlena. Apalagi jalurnya lumayan berkelok-kelok. Bisa tambah ngantuk. Sebelum kesadaran Ade dan Irul benar-benar hilang, kami mampir rehat di Indomaret daerah Soreang. Beli minuman kopi, biar melek.

Perjalanan dari daerah Soreang menuju Bandung kota sempat terhambat di daerah pusat kain gitu (lupak apa nama daerahnya). Muacet parahhh. Maju selangkah, berhenti, maju lagi berhenti lagi, gitu terus sampe Syahrini sama Reino Barack sah (eh, bukannya udah ya?!). Target kami, sebelum maghrib sudah harus sampai di Lembang. Soalnya, jalanan menuju NFBS Lembang serem cuy! Lewat hutan-hutan gada lampu gitu.

Menjelang Ashar kami sampai di daerah Dago. Sebelum cus ke Lembang, mampir untuk shalat dan rehat dulu di Masjid Salman ITB yang tersohor seantero nusantara (whoahaha). Di depan masjid, ada banyak pedagang makanan dan minuman ringan. Yuk kita jajan. Sambil nunggu waktu shalat, Irul meet up sama senior organisasi di Malang yang lanjut studi di ITB. Qadarullah, ternyata sore itu akan diadakan kajian dengan narasumber Kang Arif Rahman Lubis, kenal ga?

Maksud hati pengen ikut kajian sampe selesai, apa daya jam sudah menunjukkan pukul 4 lewat. Kami segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan kembali menuju Lembang. Jalur Dago - Lembang lumayan curam. Kita akan melalui beberapa tanjakan yang bikin deg-degan. Tapi memang lebih cepet sih. Alhamdulillah, kurang lebih setengah jam kemudian kami sampai di asrama NFBS. Irul, Nita, Ade udah gasabar mau ketemu dua bocah shalih shalihah (eh, apa mau ketemu kasur yak?).

Masjid Salman ITB

Senin, 01 April 2019

Main ke Pulau Kalangan, Tetangganya Pulau Pahawang di Lampung


Perjalanan ini dilakukan awal tahun 2018 lalu bersama Tika anaknya Pak Rois. Di akhir tahun 2017 ada beberapa tanggal merah dan kesempatan untuk bolos. Cuslah ke Lampung (padahal lebaran Juli 2017 Tika udah ke rumah dan menghabiskan waktu kurang lebih 10 hari, betah ya?). Sebenarnya ga ada niatan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan, tapi demi lihat gambar-gambarnya yang "kok sayang" kalo ga di-share ke publik, baikqlah kita abadikan dalam tulisan.

Perjalanan dari Malang ke Lampung kali ini kami lakukan dengan irit. Irit artinya, naik kereta dulu ke Jakarta kemudian mutus-mutus naik bus ke Merak, lanjut nyebrang naik kapal menuju Bakauheni kemudian naik bus lagi sampai ke Bandarlampung. Murah cuy! Tapi ya harus tahan jelek di jalan. 500 ribu udah bisa pulang - pergi dari Malang ke Lampung. Mantap khan. Berangkat dari Malang sore, sampe Lampung bisa malam hari, keesokan harinya lagi. Pastikan stamina kamu fit!
Galau nungguin kapal yang akan membawa kamu menyebrang pulang atau galau nungguin yang akan menggenapkan separuh agamamu? Uhuk

Kalau qadarullah naik kapal di Merak pas sore hari, insyaAllah berkesempatan untuk menikmati senja di Selat Sunda. Se-amazing ini warnanya!

Mungkin tidak banyak yang notice kalo Lampung punya pantai-pantai yang ketje baday, ga kalah sama pantai di Lombok atau timurnya Indonesia. Deretan wisata pantai di Lampung tersebar di berbagai wilayah antara lain di Lampung Barat (Krui), Lampung bagian selatan dan Bandarlampung. Ga jauh dari pusat Kota Bandarlampung (sekitar 30 menit) segera kita jumpai deretan pantai dengan ciri khasnya berpasir putih dan sangat aman untuk dibuat berenang dan berolahraga air.

Momen pulkam tahun 2018 itu, selain untuk menjenguk ponakan baru, juga kesempatan untuk ngajakin Tika ke Pahawang (yang sebelumnya belum terlaksana). Pucuk dicinta ulam tiba, keluarga paman saya (Pak Yani) ada rencana untuk kesana juga. Wah mantaplah barengan. Lagian kalo pergi sama keluarga, semuanya pasti well prepared (terutama untuk urusan perut, ini yang paling penting hehe). Jadilah saya berangkat ke Pahawang bersama keluarga besar paman. Kabar baiknya, kami tidak perlu mengelurkan uang sepeser pun untuk menyewa perahu karena pemilik perahu yang akan mengantarkan kami ke Pahawang adalah jamaah haji Pak Yani. Gratis yeyyy!
Jika sudah memasuki kawasan wisata pantai bahari Kabupaten Pesawaran, berhenti di pinggir jalan aja udah bisa nemu pantai keren dan free entry alias gada tiket masuknya.


Baca juga: Pengalaman pertama kali ke Pulau Pahawang

Paket trip ke Pulau Pahawang meliputi island hoping ke beberapa tempat yaitu Pulau Pahawang Besar, Pahawang Kecil, Pulau Kelagian Lunik, Tanjung Putus dan Pulau Mahitam. Untuk spot snorkeling yang paling fenomenal adalah Pulau Pahawang Besar. Disana, dengan kedalaman tidak sampai 1 meter kita udah bisa bercanda sama ikan badut atau nemo dan berbagai jenis ikan yang cantik-cantik.

Harga sewa perahu menuju Pulau Pahawang bervariasi, tergantung tawar-menawar dan starting point keberangkatan. Pertama kali ke Pahawang, saya dapat sewa perahu seharga 350K plus sewa alat snorkeling 50K (untuk 4 orang). Lumayan murah, dengan catatan itu bukan musim liburan dan berangkatnya dari Dermaga Ketapang. Kalo mau berangkat dari Pantai Sari Ringgung atau pantai di sekitarnya bisa, cuma mahal banget (bisa hampir satu jutaan sewa kapalnya).

Rombongan berangkat menuju Pahawang. Mulai dari sini sudah mulai rempong, campur baur suara mesin kapal, anak-anak dan emak-emak. Seru!


Alhamdulillah hari itu Allah berikan cuaca cerah sekali. Perjalanan dari starting point yaitu Kecamatan Punduh Pidada memakan waktu kurang lebih 20-30 menit menuju Pahawang Besar. Disana kami hanya mampir sebentar kemudian meneruskan perjalanan menuju Pahawang Kecil. Ada sebuah cottage di Pahawang Kecil milik warga Prancis yang tertutup untuk umum. Hmm. Kami berhenti di sisi lain Pahawang Kecil. Karena akhir pekan, pengunjung yang datang lumayan banyak. Selain bisa berenang di airnya yang sejernih kristal, kita juga bisa main beberapa olahraga air seperti banana boat dan donut.

Pulau Pahawang Kecil dari kejauhan dan sebuah cottage milik orang Perancis yang ga boleh sembarangan didatangi. Miris ya, jadi tamu di pulau sendiri. Bahkan kita ga bebas bertamu kesana

Suasana keceriaan pengunjung di Pulau Pahawang Kecil di hari libur. Banyak sekali pengunjung yang datang untuk melakukan macam-macam aktifitas air

Rombongan yang nyobain 'donat'. Mirip permainan banana boat. Tika deg-degan parah karena ga ada pengaman sama sekali hanya mengandalkan pegangan tangan

Setelah puas bermain beberapa permainan air, kami melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini menuju Pulau Kalangan untuk muas-muasin berenang. Tempatnya enak, sepiii. Pak Yani dan keluarga sudah beberapa kali ke pulau itu. Itupun karena punya kenalan orang lokal. Kalo ga, mana tau ada pulau secantik itu di perairan Teluk Lampung. Tidak sampai setengah jam kami sampai. Saya cuma bisa ternganga,
Masya Allah. Indah banget.

Tika langsung senang kegirangan ketemu pantai sesepi dan sejernih itu airnya

Suka ngiri sama keberanian ala bocah-bocah. Tampak dua bocah berenang ke tengah hanya berbekal pelampung seadanya, barengan pulak. But, don't try this at other chance yak. Mereka emang anak-anak laut, udah jadi makanan sehari-hari yang begituan

 Tika main bola bareng bocah-bocah

Sepinya pantai ini tak sesepi hatiku yang menanti kehadiranmu hweks!

Pak Yani membeli cumi-cumi langsung dari nelayan yang sedang melaut di sekitar Pulau Kalangan. Sedikit mahal, setara deh sama usaha nelayan untuk memancing cumi-cumi itu. Langsung dibakar dan rasanya nyammmi, manis! Gurih. Gada bandingannya.

Salah satu pantai terbaik yang pernah saya datangi. Mau main air, mau santai aja di pinggirannya, mau berenang, mau apa aja bebas

Gini nih kalo punya bibi yang doyan foto -_- Satu spot bisa beberapa kali minta fotoin. Bahkan dari rumah udah bawa baju ganti dan beberapa properti (payung sama topi wkwk terniyaaat)

Motoin Tika dari bolongan karang. Tidak banyak karang yang ada di sini, hanya beberapa. Tapi yang sedikit itu bisa jadi properti foto yang menarik

 The Happiness of childhood


Tips kalo mau ke Pulau Kalangan: Pulau ini adalah pulau tak berpenghuni yang berada di perairan Teluk Lampung. Belum banyak orang tahu dan menjadikan pulau ini sebagai destinasi ketika mengunjungi Pulau Pahawang. Nah kalo mau kesini, langsung request aja sama bapak pemilik perahu untuk diantar kemari (syukur-syukur bapaknya tahu). Ohiya, karena ini pulau yang masih perawan dan jarang orang datangi, binatang lautnya juga masih banyak dan patut diwaspadai. Usahakan pakai alas kaki pas main-main di pantainya.

Dalam satu hari (dari pagi sampai sore) insyaAllah sudah cukup waktu untuk mengeksplor pulau-pulau cantik yang ada di perairan Teluk Lampung. Walau cuma seharian, dijamin bakal bikin kamu ketagihan untuk datang lagi dan lagi. Ga percaya? Mari buktikan! 

Selamat mengeskplor dan tetap jaga kebersihan ya.