Senin, 20 Januari 2020

Ketika Dua Orang Introver Menikmati Pantai (Cerita Perjalanan ke Pantai Malang Selatan dan Kutipan Buku Mendengar Nyanyian Sunyi)


Untuk seorang penghobi traveling sepertiku, yang butuh men-charge energi dengan 'menyerapnya' dari alam, sebulan atau 2 bulan tidak pergi ke pantai itu rasanya seperti handphone yang hampir kehabisan baterai. Iya aku tahu, tidak seharusnya kita meletakkan ketenangan hati dan menambah energi pada hal-hal yang sifatnya duniawi, tapi bukankah alam adalah termasuk ayat-Nya; tanda kebesaran-Nya yang bisa kita jadikan sarana untuk mentadabburi kekuasaan-Nya? Jadi, tidak masalah bukan merasa rindu pada alam?! Ehe.

Mungkin tidak banyak yang paham kalau aku ini seorang yang sungkan-an. Sudah begitu, pemilih. Perpaduan yang pas untuk membuat sebuah rencana hanya ada dalam angan saja. Rencananya aku ingin pergi ke pantai, mengajak seseorang (saja). Padahal kalau aku mau asal pergi saja dan dengan siapa saja, insyaAllah rencana tersebut bakal segera terwujud (biidznillah). Okay, i am give up on my travel plan. Kumenyerah pada keinginan itu. Jadilah itu hanya tertuang di status media sosial saja, di sebuah story yang kuunggah di WhatsApp, "Kangen laut, tauk!"

Hingga ada yang "menangkap" pesan itu.

"Mbak ayok ke pantai". Sebuah ajakan yang biasa. Tapi aku merasa seperti memperoleh 'undangan' spesial. Entahlah, mungkin aku yang berlebihan. Jujur saja, sempat terbersit keinginanku untuk mengajaknya memang. Namun kuurungkan karena ada kalanya aku tidak siap terhadap penolakan. Aku sangat pemikir; sampai-sampai setiap sebelum mengajaknya (kemana) aku selalu berpikir panjang terlebih dahulu. Aku aneh ya?

Terlalu banyak berpikir sebelum berbicara akhirnya membuatku berada dalam kondisi ragu-ragu. Aku selalu terdiam lama di persimpangan pertanyaan: apakah mengungkapkannya atau diam. Jika kuutarakan, aku harus siap dengan resiko dihantui penyesalan sampai bertahun-tahun lamanya. Tapi, jika aku diam, aku tak akan pernah tahu... (hal. 26)

Rencana dibuat; Waktu ditentukan. Kukirimkan sebuah pesan bernada berani dan memperjuangkan, "Kalau jadi pergi, mau pergi berdua aja". (Ya, sedang ingin berdua saja. Entahlah. Bagiku, beramai-ramai itu menyenangkan, berdua itu menenangkan. Kupikir saat itu aku membutuhkan ketenangan). Terlalu banyak rasa sungkan dalam hidupmu akan membuat hidupmu tidak asik, lho. Percayai kata-kataku. Jadi, aku memperjuangkan apa yang aku inginkan. Kukirimkan pesan itu (setelah berkali-kali berpikir). Kutekan rasa sungkan sampai-sampai perutku sakit memikirkannya. Just like a butterfly in your tummy, maybe? Or a dragon! haha.

Jangan berteman untuk sekadar menjauhi kesendirian. Kesendirianmu mungkin berganti menjadi berduaan, bertigaan atau lebih. Tapi, jarak yang terlalu jauh dengan diri sendiri akan membuatmu merasa sepi. Bertemanlah dengan mereka yang saat dengannya kau tak merasa menghabiskan energimu dengan percuma. Berkawanlah dengan mereka yang membuatmu merasa tak kesepian, saat di dalam lingkaran maupun ketika jarak memisahkan. Bertemanlah dengan mereka yang tak membuatmu menjadi sosok lain, hanya demi sebuah penerimaan... (hal. 5-6)

Ada banyak cara untuk membuat sebuah perjalanan menjadi tidak biasa dan layak diingat-ingat. Aku mengajaknya pergi di waktu fajar, sebelum subuh. Sebelum pergi, masih banyak waktu tersedia untuk menengadahkan tangan memohon pinta di sepertiga malam-Nya. Traveling jangan sampai melalaikan hak-hak Allah. Rencananya, kami akan shalat subuh di masjid yang kami lewati dalam perjalanan nanti. Oh ya, kuberitahu salah satu alasan kenapa aku mengajaknya pergi sepagi mungkin; Allah bagikan keberkahan di waktu pagi. Entah nanti perjalanan ini akan menjadi seperti apa, membosankan? melelahkan? Atau menyenangkan dan menenangkan? Suka-suka Allah mengaturnya, asal diliputi keberkahan. It doesn't matter. Ah, kuakui masih sering lalai dan melewatkannya #waktupagi.
 
Perjalanan pagi selalu menyenangkan; Belum banyak asap kendaraan yang kita hirup, jalanan bebas terbentang untuk dilewati, dan tak perlu khawatir soal sengatan matahari yang akan membuat telapak tanganmu menjadi semakin hitam porong. Asyik saja kami berkendara sembari berkutat dengan pikiran masing-masing, menyelesaikan dzikir pagi yang belum tuntas atau sesekali mengobrol memecah suasana.

Sampai kemudian, "ayam ayam ayam!!!"

Obrolan tentang film Final Destination tadi kembali terngiang tatkala seekor ayam hampir membuat motor kami oleng; caranya Allah mengembalikan konsentrasi yang perlahan berkurang seiring lengangnya jalanan yang kami lewati.

Mentari terbit mengantarkan perjalanan kami menuju selatan Malang. Tak perlu berhenti kemudian memandangi, ia sudah beranjak ke tempatnya sesuai arahan pencipta-Nya. Anggun. Pukul 6 pagi, kami sampai di pantai yang kami (saya) tuju. Rekor pergi ke pantai (dan pergi main) terpagi sepanjang sejarah. Bahkan loket tiket belum dibuka dan itu berarti kami masuk tanpa perlu membayar. Alhamdulillahiladzi bini'matihi tathimushalihaaat. Sebuah pondok di pinggiran Pantai Regent (pantai pertama yang akan kita temui pertama kali dari loket tiket) menjadi tempat yang tepat untuk sarapan. Bekal nasi goreng dengan lauk telur setengah matang yang ia masak pagi-pagi buta, cukup membuat hati meleleh. Kau tahu, aku adalah orang yang paling tidak bisa tidak terharu jika diperlakukan dengan baik, salah satunya soal makanan. Ibuku di rumah terbiasa melakukan itu padaku; Aku akan melakukan itu pada orang yang kusayang; Dan aku akan menyayangi orang yang memperlakukanku seperti itu. Rumit ya? Hehehe.

"Itu jatah Mbak. Dihabiskan ya"

"Sejujurnya saya ga terlalu ingin makan", ucapku sambil menyendokkan nasi goreng ke mulut. Dia pergi ke pinggir pantai sebentar, kemudian kembali lagi mendapati wadah bekal sudah kosong. Walau bilang tidak terlalu ingin makan, pada akhirnya aku memutuskan untuk menghabiskannya. Hehe. Untukku, masakan paling enak selain masakan mamak di rumah adalah masakan yang (sengaja) dibuatkan untukku.


Lepas menghabiskan sarapan, kami melanjutkan perjalanan kembali. Hari itu kuputuskan untuk mengajaknya ke deretan pantai yang ada di kompleks Pantai Balekambang (berkendara kurang lebih 2 jam perjalanan dari Kota Malang). Kami benar-benar berniat untuk mandi (tas kami yang besar oleh baju salin cukup menjadi bukti betapa hari itu kami bukan hanya ingin memandangi pantai saja). Ada beberapa deret pantai (sangat) sepi di sana, agaknya menjadi tempat yang tepat untuk mengasingkan dan mengasinkan diri.
***

Kecenderungannya untuk menjauhi keramaian, kesukaannya pada keheningan, dan kesederhanaannya dalam memaknai kebahagiaan, adalah tiga hal yang seringkali dianggap sebagai kelemahan introver. Namun, pada saat yang sama, ketiganya justru adalah kekuatannya untuk menghadapi dunia yang penuh dengan kegelisahan-kegelisahan ini. Misalnya, sikap menjauh dari keramaian, menghindari 'neon god' dan menyukai keheningan, akan mencegah area prefontal korteks di otak dari kepadatan informasi. Itu bisa membuat pikiran lebih tenang... (hal. 112)

Kami singgah sebentar saja di Pulau Ismoyo, landmark khas Pantai Balekambang dengan sebuah pura yang berdiri di atasnya. Sepagi itu, bisa kubilang pantainya sudah mulai ramai. Aku mengajaknya beranjak; "perjalanan kita belum berhenti, masih akan kesana lagi". Ayo. Langkah kaki membawa kami ke Pantai Jembatan Panjang yang bersebelahan dengan Pantai Balekambang. Untuk masuk kesini, pengunjung harus membayar lagi tiket sebesar 10K per orang.

Sepi. Hanya ada satu dua orang di pantai ini. Sudah kuduga. Tidak terlalu lama kami berada di sini karena (aku tahu) perjalanan masih akan terus sampai di sebuah tanjung yang indah di ujung sana. Mengabadikan momen dan keindahan alam ke dalam memori gadget; Melihat dan menjelajah sekitar; Mengelilingi Pulau Hanoman memecah rasa penasaran; Adalah beberapa hal yang kami lakukan di Pantai Jembatan Panjang ini.


Kembali aku mengajaknya berjalan. Kau tahu, ini menyenangkan berjalan bersama dengan mereka yang muda; mereka yang masih punya banyak cadangan energi. Aku merasa tertular energi mereka, that's why aku lebih (cenderung) menyukai bepergian dengan yang lebih muda dari usiaku.

Tujuan kali ini cukup menguras tenaga karena kami harus menyusuri hutan, menaiki bukit yang sebenarnya tidak terlalu tinggi dan mengatur napas sebaik-baiknya. Ada harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang pantas diperjuangkan, bukan? Dan inilah Tanjung Sirap di depan mata. Tersembunyi jauh dari pandangan manusia. MasyaAllah.


Sudah cukup waktu untuk memacu adrenalin. Kami beranjak dari Tanjung Sirap. Saatnya melemaskan otot dan pikiran dengan memilih satu pantai yang nyaman untuk rebahan dan mandi tentu saja (!). Kami menemukan pantai yang amat tenang antara Tanjung Sirap dan Jembatan Panjang kemudian memutuskan untuk berhenti di situ. Awalnya kami berniat untuk main air; Ombak yang tak henti bergulung di Pantai Dali Putih ini meyurutkan niatan kami. Akhirnya apa yang kami lakukan? hanya tidur-tiduran, naik pohon, mencari biota laut, dan berkontemplasi.

Bagaimana dua orang introver menghabiskan waktunya berdua di pantai? Yah di pantai inilah jawabannya. Kami punya dunia sendiri di kepala kami. Kami asik berada di dalamnya. Sesekali kami keluar dari dunia itu dan saling berinteraksi. Ada ruang hening yang tercipta, tapi aku tidak mempermasalahkannya. Entah dengannya.

Kukatakan padanya, "kalo mau nilai temen tu setia apa ga, coba deh, mau ga dia nungguin kita tidur dan dia ga ikut tidur jugak. Bener-bener nungguin pokonya".

:) 


"Jangan menghabiskan waktu untuk menyakiti dirimu sendiri dengan berharap terlalu tinggi". Dengan sisa-sisa kesadaran, aku meninggalkan keinginanku untuk dipahami. Karena, aku sadar bahwa hati manusia adalah sesuatu yang terlalu rumit untuk dipahami seutuhnya. Aku tak melanjutkan harapan tinggiku karena sadar bahwa ia yang terbang terlalu tinggi adalah yang paling sakit saat jatuh... (hal. 101)

Aku tidur, mencoba memejamkan mata. Tempat dan waktu yang pas untuk mengistirahatkan diri dari segala hiruk pikuk dunia dan beberapa hal yang sempat hampir menumbangkan diri beberapa saat lalu. Sepi. Hanya ada kami berdua dan ombak bergulung tak henti. Alih-alih tertidur, aku malah terbangun karena membayangkan tsunami (suara ombak ini mengingatkanku pada Tsunami Aceh 2004 lalu). Ia menungguiku. Lalu gantian. Ia merebahkan dirinya, tanpa alas langsung di atas pasir. Aku duduk di salah satu dahan pohon besar. Menungguinya tidur. Diam saja. Mengumpulkan kerang. Memikirkan banyak hal.

Aku memutuskan tali-tali yang sering mengikatku pada sebuah tuntutan egosentris. Aku tak lagi berharap ada seseorang yang mau menyelami dalam dan dinginnya palung laut dalam diriku. Aku mulai menganggap bahwa itu adalah keinginan yang terlalu tinggi... (hal. 102)

Ia bangun kemudian bersiap untuk menunaikan shalat. Mengingat Allah (baca: shalat) di alamnya yang terbentang luas. Ada sensasi tersendiri. Walau merasa kebingungan menentukan arah kiblat awalnya. Kemudian mengira-ngira dengan melihat matahari; Mengasah insting terhadap alam.

Biarkan Tuhan mengajarkan pelajaran ini kepadaku, "menuntut lebih sedikit daripada yang aku bisa, memberi lebih banyak daripada seharusnya"... (hal. 102)


2 jam lebih kami menghabiskan waktu di situ. Dari Pantai Dali Putih, kami kembali lagi ke arah Pantai Jembatan Panjang. "Kali ini yang jadi motivasi terbesar balik kesana adalah es kelapa muda", ucapku sambil ngos-ngosan. Siapa yang bisa menolak kelezatan daging kelapa muda dan segar airnya di tengah udara panas pantai?! 

Perjalanan bersamanya (selalu) kumanfaatkan untuk sekadar mengobrol. Mendengar untuk memahami; bukan hanya untuk menjawab rasa keingintahuan yang ada di hati. Aku adalah seorang INFJ-A yang Alhamdulillah Allah karuniakan "kesabaran" dalam mendengarkan kisah orang lain. 

Awalnya, mungkin kau mengira ia pendiam, sampai kau mendengarnya berkata-kata. Kau takkan tahu betapa sibuk isi kepala si pendiam itu jika kau tak pernah melihat caranya berbicara. Beri ia kesempatan untuk menerjemahkan pikiran-pikiran yang berjejalan di dalam kepalanya, meski kadang ia tampak seperti berbicara dengan dirinya sendiri. Beri ia waktu untuk menjelaskan, meski sesekali ia mengatakan kosakata yang sulit kau pahami.

Aku menyukai menyelami pikirannya. Aku banyak bertanya padanya tentang hidupnya. Ada yang akan dengan semangat ia jawab. Ada yang pertanyaan itu tak siap ia jawab. Ah, maaf. Aku suka melampaui batas. Jika sudah begitu, aku lebih baik diam. Ketika aku banyak bertanya padanya, sesungguhnya itu seperti aku sedang membaca dan memahami sebuah buku. Karena sejatinya, setiap orang yang kita temui layaknya sebuah buku yang Allah berikan pada kita. Entah bagaimana dan dengan cara apa kita akan mengambil hikmah dan pelajaran dari buku tersebut, it's up to us.

Biarkan ia meralat, mengingat-ingat, sampai ia mengatakan apa yang benar-benar ia maksud. Biarkan tembok pemisah yang ia miliki luruh oleh derasnya aliran ceritanya. Biarkan ia membuka dirinya padamu; pelan tapi pasti... (hal. 12)


Kita tidak tahu drama macam apa yang akan terjadi jika kita sudah saling mengenal; saat kita membuka tabir yang menutupi wajah tulen kita; saat segala citra yang kita desain sedemikian rupa itu larut ditelan obrolan-obrolan nan akrab... (hal. 37)

Sesampainya di Pantai Jembatan Panjang, kami pilih satu warung untuk menikmati kelapa muda. Masya Allah. Mendapat nikmat di saat yang tepat, apa yang lebih baik dari itu?! Setelah menghabiskan 2 buah kelapa muda, kami kembali ke niatan awal yaitu berenang di pantai. Segala puji hanya milik Allah, pemilik segala jenis cuaca; cerah berangin badai mendung. Siang itu hari milik kami. Cuacanya begitu bersahabat. Menghabiskan waktu berendam di air laut selama berjam-jam jadi tak terasa. MasyaaAllah. "Udah puas belum main airnya?", kutanyakan padanya demi mengingati telapak tangan yang sudah mulai keriput keasinan. Dari sorot matanya saja aku bisa membaca kalau ia masih ingin berendam lebih lama lagi. "Yaa, baiklah. Lanjutkan". Dua air asin yang punya efek menyembuhkan: air laut dan air mata. Eh ada satu lagi, air keringat (baca: saat membakar lemak-lemak jahat di tubuh).


Dan kita sedikit demi sedikit menguliti aib kita sendiri; luka hati, masa lalu, dan masalah-masalah kita. Lalu, kita mulai berterusterang soal ketakutan terbesar kita, kesepian yang kita jalani, dan kecemasan-kecemasan tentang masa depan yang terus-menerus menggantung di pintu hati kita... (hal. 37)

Seberapa siap menghadapi sebuah perpisahan? Sambil menemaninya berenang, kuutarakan tanya padanya (juga pada diriku sendiri sebenarnya). Yah, introver adalah seorang pemikir ulung. Akhir-akhir ini banyak hal yang kupikirkan. Entah pengaruh bacaan, keadaan atau usia yang sudah merangkak menjauhi angka 20-an. Ehe. Bagiku, saat sedang pergi keluar seperti inilah saat yang tepat untuk membuat sebuah obrolan yang dalam.

Hingga tiba waktunya; yang tersisa untuk kita pandang hanyalah dua sosok manusia yang rapuh. Dan di detik itu, kita merasa bagai tengah memandang cermin. Merasa sekawan. Merasa senasib. Aku dan kau tak ada beda; sama-sama tengah bergelut dengan konflik dalam diri kita masing-masing, sama-sama memiliki badai di kepala dan hati, dan sama-sama ingin terlihat baik-baik saja... (hal. 37)


Kukira hari itu kami akan pulang cepat; bayangkan saja pergi sebelum subuh dari rumah?! Nyatanya, menjelang sore baru kami beranjak pulang. Perjalanan yang ringan; hanya ada dua kepala; tak perlu banyak kompromi. Kepala yang satu pengatur, kepala yang satu lagi penurut. Cocok. 2 jam perjalanan kami lalui sampai di Kota Malang. Masih ada sedikit tenaga tersisa untuk menunaikan hak perut yang terakhir diisi pagi jam 6 tadi.

Perjalanan hari itu, apa yang kami dapat, selain fisik yang lelah dan wajah yang terbakar? Untuknya, aku tak tahu karena kami tak membahasnya. Untukku pribadi, aku merasa menghabiskan satu hari itu dengan orang yang tepat. That's it. Segala puji hanya milik Allah yang dengan ni'mat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Jika ada yang tetap di sisimu setelah mengenalmu, mengenal masalahmu, masa lalumu, dan kebiasaan burukmu, yang demikian itu yang boleh dipersilakan untuk memasuki istana hatimu. Untuk memulai penjelajahan asing dan baru bersama-sama sebagai dua manusia biasa dan nyata, bukan sebagai dua malaikat yang maya... (hal. 37)

***
 Judul buku: Mendengar Nyanyian Sunyi: Catatan penjelajahan ke ruang pikir introver
Penulis: Urfa Qurrota Ainy
Penerbit: CV. Halaman Indonesia
Tahun terbit: 2019
Tebal buku: xxiv + 179 hal.
ISBN: 9786020848495
Harga: Rp 65.000

***

Rabu, 15 Januari 2020

Tentang Mamak dan Bapak


Se-tidak sempurna-nya orang tua kita (yang kita pikir), mereka adalah dua orang terbaik di dunia yang Allah berikan pada hidup kita. Tidak ada bandingannya. Seiring berlalunya waktu, semakin bertambah usia, semakin terasa besarnya rasa kasih dan sayang yang Allah limpahkan melalui dua sosok hebat tersebut. Apalagi ketika jauh dari rumah (merantau). Mamak dan bapak adalah orang tua hebat. Melalui tangan hangat mereka berdua, besarlah kami ketiga anaknya dalam bingkai kemandirian. Tak cukup waktu untuk menceritakan nilai-nilai kebaikan yang mereka ajarkan dan contohkan pada kami, anak-anaknya.

Mamak… Adalah wanita paling hebat di hidup saya. Menyayangi tanpa banyak berkata, adalah ciri khas mamak. Beliau adalah sosok yang cerdas, tegas, dan cepat dalam mengambil inisiatif. Ada jutaan puisi dan lagu yang dicipta untuk sesosok mulia bernama ibu, tapi itu tak pernah sama. Kita tak pernah kehabisan kata untuk mengungkap cinta pada seseorang yang pada telapak kakinya Allah letakkan surga.

Mamak mungkin tak seperti ibu-ibu lain yang selalu mengucap kata cinta dan sayang untuk anak-anaknya. Bukan ibu yang tiap pagi mengecup kening anaknya. Bukan ibu yang melakukan hal-hal "lembut" lainnya pada anaknya. Mamak biasa saja. Berkali-kali saya dan Mas Ipul atau Ulfa jadi juara kelas, beliau bukanlah orang yang bilang, "selamat ya nak, kamu hebat. Mamak bangga punya kamu". Bukan. Bahkan ketika saya wisuda diploma tahun 2012 lalu, saat saya dinobatkan menjadi Wisudawan Terbaik 1, mamak biasa saja. Tidak ada ucapan, tidak ada kata.

TAPI… Sungguh, saya tidak butuh semua yang saya tulis di atas barusan. Tanpa melakukan semua hal di atas, mamak sudah cukup untuk dikatakan sebagai "ibu terbaik di dunia". Dibalik "biasa saja-nya" mamak, saya tahu ada bahagia yang begitu membuncah di dadanya ketika mengetahui kami anak-anaknya menjadi juara kelas. Dibalik "biasa saja-nya", beliaulah orang yang paling bahagia ketika tiba waktunya anaknya mudik pulang ke kampung dan memasakkan kesukaan anaknya. Dibalik "biasa saja-nya" mamak, beliau adalah orang yang selalu mengecek pakaian saya ketika saya mudik ke rumah (ada yang bolong-bolong atau robek, kemudian tanpa bertanya langsung beliau jahit). Dibalik "biasa saja-nya" mamak, beliau adalah orang pertama yang memastikan semua baik-baik saja untuk anak dan keluarganya. masyaaAllah tabarakallah. Mudik ke kampung, menikmati semua masakan beliau, atau hanya sekedar mengantar belanja ke pasar, menjadi waktu-waktu yang selalu saya rindukan. 

Bapak… Adalah lelaki paling hebat di hidup saya. Bapak adalah seorang penyabar. Beliau selalu memberikan kebebasan untuk kami anak-anaknya melakukan atau memutuskan sesuatu yang kami inginkan (tentunya masih dalam koridor syar’i dan bertanggungjawab). Dibalik semua kekurangannya, saya tahu bapak selalu berusaha dan mengusahakan yang terbaik untuk anak-anaknya. Ada banyak momen bersama bapak yang akan selalu ingat seumur hidup. Saat beliau dengan motor tuanya yang asap knalpotnya seperti orang mau fogging DBD (hehe) mengantar saya ke kampus setiap hari. Saat masih sekolah dulu, ketika beliau mentraktir kami anaknya yang juara di kelas untuk makan bakso di pasar. Ketika beliau menyuruh kami tiap malam untuk membaca Surah Al-Mulk sebelum tidur dan perbanyak membaca Surah Luqman dan As-Sajdah. Bapak yang penyabar, bapak yang ga pernah menuntut, bapak yang selalu nrimo, bapak yang selalu lembut dan tak berkata kasar pada kami keluarganya, bapak yang sudah menjadi contoh dan teladan untuk anak-anaknya.

Selasa, 31 Desember 2019

Naik Motor ke Bromo : Berangkat Lewat Probolinggo, Pulang Lewat Tumpang Malang


Day 1 - Perjalanan dari Malang ke Probolinggo

Dari jauh saya memperhatikan bapak berbadan kekar yang sedang memereteli motor saya. "Dengan badan seatletis itu, kenapa si bapak ga jadi instruktur olahraga aja yak?", pikir saya. Sudah berbulan-bulan si Dimitri (baca: motor saya) ga 'dimanjain' pergi ke bengkel. Padahal udah dibawa ke Madiun, ke Lumajang dua kali, pokonya ga ada istirahatnya deh. Untuk perjalanan kali ini, mau ga mau harus diservis. It's gonna be a hard trip! Wew. Sebenarnya sebelum bepergian atau melakukan suatu perjalanan, ada yang lebih penting dari sekedar menservis motor atau kendaraan, apa itu? Minta diberikan keselamatan sama Allah. Jangan hanya mengandalkan usaha duniawi, hehe. Tapi itu khan salah satu bentuk ikhtiar? iyasih memang. Cuma kadang as a human, suka lebih mengandalkan usaha-usaha duniawi dan (parahnya) menyampingkan even melupakan ada Dzat Yang Maha Mengatur Segalanya agar hal-hal yang kita inginkan berjalan dengan semestinya. Wallahu 'alam.

Hari ini, Jumat (13 Desember 2019) waktunya mengeksekusi rencana untuk pergi ke Bromo. Hah, Bromo lagi? Iyaaa, mumpung ada kesempatan bisa nebeng kakak saya dari Lampung yang lagi bawa peserta outbound-nya kesana. Kali ini saya bersama Syifa, salah seorang adik di kontrakan Ar-Rifah. Suatu hari di ruang tengah Syifa pernah bilang gini, "Mbak ayok ajakin Syifa ke Bromo". Naah, pucuk dicinta ulam tiba. Rencananya kami mau naik motor lewat Probolinggo (Sukapura) dan ketemu kakak saya di sana. Kenapa ga ikut rombongan kakak naik bus? Karena busnya sudah penuh, gabisa nyempil lagi.

Umumnya orang-orang pergi ke Bromo saat tengah malam kemudian paginya pulang. Karena saya bukan orang-orang pada umumnya, jadilah berangkat pagi kemudian sewa penginapan (agar bisa istirahat setelah berkendara jauh). Rencana awal mau pergi jam 10 pagi dari rumah. Eh ada yang pake adegan 'ketiduran' segala -_- Saya pun masih sibuk siap-siap kemudian isi bensin full di pom. Jadilah jam setengah 11 baru keluar. Pas mau berangkat lihat ada sesuatu yang tampaknya kurang beres di motor. Saya kira bensinnya bocor. Sebelum memulai perjalanan, sekalian mampir ke bengkel tadi pagi saya menservis motor.

"Pak ini kok netes-netes gitu ya bensinnya"

"Mbaknya abis isi bensin ya?"

"Iya Pak" 

Sambil senyum bapaknya bilang, "Mbak ini bukan bocor, ini memang aliran untuk bensin yang kepenuhan."

Wkwkwkw. Indahnya ilmu; Seperti cahaya yang menyinari kegelapan. Makanya dibilang di Al-Qur'an tidak sama antara orang yang mengetahui dan tidak mengetahui. Cmiiw!

(Sepanjang jalan saya senyum-senyum sendiri kalo ingat drama "bensin bocor" ini hehehe).

Bismillah, berangkat. Cuaca sudah cukup panas. Penuh konsentrasi saya membawa motor sembari sesekali mengobrol biar tetap terjaga. Perjalanan melintasi jalur Malang - Pasuruan kami lewati dengan lancar. Jalanan siang itu lumayan lengang. Semoga Syifa ga ngantuk di belakang. Sambil mengemudi, jangan lupa dzikirnya, "astaghfirullah"...(berkali-kali) agar Allah hindarkan dari marabahaya yang mengintai di tiap jengkal tanah yang kami lalui. Juga doa memasuki daerah baru... "Audzubi kalimatillahittammati min syarri maa khalaq".


Semua baik-baik saja sampai akhirnya masuk daerah Grati, Pasuruan. Tiba-tiba saya merasa ada yang tidak beres. Kok oleng gini motornya? Keberatan beban yang di belakang tah? hihi. Benar saja, ban belakang bocor saudara-saudara! Tidaaac! Dimitri mah gini kalo diajak main jauh, suka ngambekan -_- Alhamdulillah berhentinya pas di depan tambal ban. Eh, tapi kok tutup. Iyasih, hari Jumat. Bapaknya lagi Jumatan kayaknya. Saya bertanya ke warung sebelah tambal ban,

"Bu, itu tambal bannya tutup atau tutup sementara ya?"

"Masih Jumatan kayaknya orangnya, Mbak"

Baiklah Syif, kita tunggu dulu sebentar. Semakin ditunggu kok semakin galau. Ini kayaknya udah jam pulang Jumatan tapi bapaknya belum ada tanda-tanda mau buka. Saya datang lagi ke warung sebelah. Kali ini sambil membeli sebotol minum. Tanya lagi sama ibunya kemudian ibunya menelponkan. Eh ternyata si bapak masih ngurus KTP di kecamatan. Lama deh bakalan. Saya disarankan untuk ke tambal ban yang satunya lagi yang berjarak ga sampai 1 kilometer. Okay!


Selesai urusan tambal-menambal ban, kami lanjutkan perjalanan lagi. Dan ternyata, belum selesai ujian main hari itu. Kira-kira setengah jam kemudian, tiba-tiba motor yang saya kendarai melambat. Duh, alamat nih. Udah pernah gini soalnya. Khan, bener khan mati -_- Fiuuuh. Nah, berhentinya di depan tambal ban lagi nih. Etapi apa bisa bapaknya benerin motor yang macet ya? Entahlah coba aja tanya. Setelah dicoba untuk dihidupkan berkali-kali, tetap aja Dimitri ga hidup. WAAA. Bapaknya nyerah, kami diminta untuk membawa Dimitri ke bengkel di depan sana. Aduh si bapak mah ga peka. Di teriknya matahari, kami berdua mendorong motor (dulu pernah kejadian kayak gini terus ditolong seorang bapak dengan cara: saya naik motor si bapak, terus bapaknya ngedorong motor sampe nemu bengkel, huhu terharu). Udah capek-capek dorong, ternyata yang kami datangi adalah bengkel mobil. Allahu... Ya gimana yak. Walaupun mamas bengkelnya pengen nolong, ga bisa berbuat apa-apa karena bukan keahliannya. Akhirnya kami diminta untuk mendorong lagi ke bengkel motor yang berada beberapa ratus meter ke depan. Kasian Syifa, baru kali ini diajak main udah dibawa sengsara macam ini, hiks.

Lagi exhausted-nya ngedorong motor, ada seorang bapak yang naik motor bersama anaknya mendatangi kami. Kenapa Mbak motornya? Ayo saya bantu dorong. Huwaaa. MasyaAllah. Si bapak membantu mendorong motor sampai kami menemukan bengkel. Bahkan beliau menunggui saat motor sedang diperbaiki. Huhu terharu akutu. Barakallahu fiiik, Bapak. Semoga Allah berkahi kehidupan bapak sekeluarga.

Alhamdulillah, semoga dramanya sudah benar-benar berakhir sampai kami tiba di penginapan nanti. Jadi teringat balasan WA dari Syifa sehari sebelum berangkat, "Kalau mau senang2 kan harus payah2 dulu". Nah ini nih, terkadang Allah menguji kita dengan kata-kata yang kita ucapkan wkwk. Apapun itu, husnudzhan aja sama Allah kalo sesuatu yang sudah direncanakan ga berjalan sesuai dengan ingin kita; who knows hikmah apa yang terkandung dibalik apa-apa yang kami alami tadi. Siapa tahu dengan 'istirahat sejenak dorong motor' tadi, Allah menyelamatkan kami dari sesuatu yang membahayakan, kecelakaan misalnya. Wallahu 'alam. #Kuikhlas ya Allah.

Mulai masuk daerah Sukapura, Probolinggo. Jalur Sukapura merupakan jalur yang paling santai dan enak untuk dilalui kendaraan (baik roda dua maupun roda empat, bahkan bus) dibanding via Malang atau Pasuruan. Sepanjang kiri dan kanan view-nya benar-benar memanjakan mata. MasyaAllah tabarakallah. Tak henti mata dan hati terkagum atas indahnya bentang alam di depan mata berpadu dengan gerak tekun petani menghijaukan bumi-Nya. Jeep-jeep Bromo sudah mulai terlihat terparkir di depan rumah warga maupun di pinggir jalan.


"Syif, potoin jalannya ini Syif...", berisik saya berkali-kali meminta tolong Syifa untuk memfotokan view keren yang kami lewati


Berteduh sejenak

Gerimis kecil menemani perjalanan kami. Dasar saya yang kurang prepare, ga bawa jas hujan. Akhirnya kami berteduh sebentar. Itung-itung ngelurusin kaki deh. Syifa belum paham tujuan kami adalah ke penginapan. Nurut amat bocah ini yak. Agak reda gerimisnya, kami lanjut lagi. Sudah ga terlalu jauh si sebenarnya kalau di Maps mah. Sempat nyasar lalu tanya penduduk sekitar. Lokasi penginapan kami terletak setelah loket masuk, jadi kami harus membayar dulu. Totalnya 2 orang dan satu motor adalah 63K (kalo weekend 73K). Sampai di depan penginapan kondisinya sepi banget gada orang. Saya mencoba menghubungi nomor yang tertera di depan penginapan. 


Sambil nunggu bapak penjaga homestay, kami berjalan kurang lebih 100 meter dan melihat ke bawah. MasyaaAllah. Kabut doang sih. Ini kalo kabutnya udah tersibak, bakal bikin ternganga-nganga. Kalau di kampung, ini kayak danau Mbak. Iya tapi isinya bukan air, pasir. Lokasi penginapan kami sudah dekat sekali dengan kawasan TNBTS.


Bapaknya datang, tanpa menunggu lama kami langsung cek-in. Saya pesan penginapan ini via aplikasi, biayanya 152K per malam. Dilihat dari jaraknya yang cukup dekat dengan kawasan TNBTS, harganya termasuk murah. Sebelumnya saya coba cari, dapat harga 250K. Akan lebih murah kalau kita sewa satu homestay kemudian dibagi beberapa orang. Bisa per orang cuma bayar 100 atau 50K saja. Syaratnya ya itu, kudu rame-rame.


Review penginapan (OYO Pieter Homestay)... Internet oke. Air panas kamar mandi hidup, Alhamdulillah. Sprei bantal selimut bersih, walau ga wangi. Penginapannya dominan kayu, jadinya lumayan hangat. Ada heater untuk buat minuman panas. Kalo boleh jujur, dua kali nginap di OYO ngerasa ga puas. Handuknya bau apek, terus ga dapat amenities (padahal baru kali ini traveling sengaja ga bawa sabun dan lain-lain). For me, masih lebih memuaskan tetangga sebelah (baca: Reddoorz).

Kabut sore hari di depan penginapan

Sambil 'menikmati' kehebohan Syifa yang menelpon ke kampung, saya ketiduran. Dingin sekali sore itu. Suasananya benar-benar foggy alias berkabut. Menjelang maghrib kami keluar untuk cari sabun dan makan malam. Malam itu diisi dengan istirahat dan mengusahakan untuk tidak tidur terlalu malam agar bangunnya ga kesiangan. Sebelum tidur saya WA kakak terlebih dahulu untuk janjian besok pagi buta. Zzz. Selamat tidurrr!

Day 2 - Eksplore Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Jam 2 pagi alarm berbunyi. Mudah saja saya bangun (gini nih kalo lagi main, coba kalo bangun buat tahajjud -_-). Langsung siap-siap kemudian menghadap Allah terlebih dahulu. Syifa menyusul kemudian. Jam 3 kami sudah siap menunggu di depan hotel samping penginapan, janjian dengan rombongan kakak saya.


Ada sedikit miskomunikasi dengan sopir jeep yang akan membawa kami. Akhirnya kami menunggu di loket masuk. Selama menunggu, ada beberapa orang yang menawari kami jeep. Dengan sopan kami katakan kalau kami sudah punya rombongan. Sekitar setengah jam kemudian datang juga jeep yang kami tunggu. Kami langsung naik dan bergabung dengan 4 orang rombongan dari kakak saya yang sudah naik terlebih dahulu di Sukapura tadi. Bismillah. Kalau dari pintu masuk Sukapura, yang kami lewati terlebih dahulu adalah lautan pasir kemudian Gunung Bromo, lalu naik ke atas menuju Penanjakan.

Kami sampai di atas sekitar jam 4 lewat. Karena telat naiknya tadi, mobil jeep yang membawa kami tidak bisa sampai atas (Penanjakan) hanya sampai di Bukit Dingklik (bawahnya Bukit Cinta). Sebelumnya, kami shalat subuh dulu di warung terdekat lalu kemudian mendatangi kerumunan orang-orang yang sudah bersiap dengan segala gadget di tangan untuk mengabadikan momen. Sambil sedikit kedinginan, khusyuk menanti datangnya mentari pagi hari itu. Segores cahaya keemasan sudah mulai terlihat di ufuk timur, tanda akan datangnya si dia (baca: matahari) yang Allah perintahkan untuk menyinari dan menghangatkan bumi ini.

"Tujuh lapis langit bertasbih kepada-Nya, juga bumi dan segala yang ada di dalamnya, dan tidak ada sesuatu pun kecuali bertasbih memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak memahami tasbih mereka. Sungguh Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun" [QS Al-Isra 44)

Momen matahari terbit 


Bromo tuh gitu deh, selalu punya pesona untuk bikin yang datang berkali-kalipun ga bosan. Bromo selalu punya sajian alam yang berbeda di tiap kunjungan kita kesana. Ga salah kalo wisatawan dari penjuru dunia menempatkan Bromo sebagai salah satu destinasi andalan ketika mengunjungi negeri kita tercinta ini. Sehari sebelumnya saya WA mamak untuk izin,

"Mak aku mau ke Bromo sama Mas Ipul"

"Bromo terus, emang ga bosen?"

"Gada istilah bosen untuk main (ke Bromo) mah".

Wkwkw.
Dasar aku.

Melakukan perjalanan bersama; Bermuamalah; Bermalam bersama; Sudah cukupkah saling mengenal?

Syifa yang bahagia punya tukang foto atau saya yang bahagia punya model untuk difoto? Mungkin keduanya benar. Sebut saja Simbiosis Mutualisme. 

Say CHEESE!

Eh adek-adek emesh, gantian dong kaka juga mau poto nih

Lewat izin-Nya, alam selalu mampu menjadi obat bagi hati yang penat

Bawa pulang sampah dan kenangan baik-mu


Too good to be true, *lukisan alam masyaAllah tabarakallah

Setelah puas kehabisan gaya mengeksplor berbagai view cantik di atas Bukit Dingklik, kami turun kembali menuju depan warung dimana jeep kami subuh tadi diparkirkan. Jam 6 lewat rombongan bersiap untuk turun ke bawah. Setelah menyaksikan sunrise atau matahari terbit, ada beberapa spot yang bisa didatangi pengunjung, antara lain:

#Widodaren

So little time,
Try to understand that i'm
Trying to make a move just to stay in the game [Everybody's Changing - Keane]

Syahdu

Bahagia

#Gunung Bromo dan Pura Luhur Poten

Suku Tengger dengan ciri khas sarung yang dikalungkan di leher (untuk menghangatkan badan)

"Mbak, bahasa Suku Tengger tuh sama kayak bahasa Jawa gitu atau gimana?", tanya Syifa

Eh iya. Kok saya ga kepikiran selama ini.

Dikutip dari Wikipedia,
[Bahasa Tengger adalah bahasa yang digunakan Suku Tengger di kawasan pegunungan Bromo-Tengger-Semeru yang termasuk wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Secara linguistik, bahasa Tengger termasuk rumpun bahasa Jawa].

Nah tuh, terjawab sudah. Masih satu rumpun dengan Bahasa Jawa ternyata. Ga sama persis, tapi ya ga beda jauh. Ah itu deh pokonya heheh.

Syifa, Mamas berkuda dan Gunung Batok (ecieeh jaketnya matching)

Dear diriku, 
Terima kasih untuk selalu mensyukuri tiap butir ni'mat yang Allah karuniakan
di tiap detik napas yang Ia berikan

Pura Luhur Poten Bromo yang biasanya digunakan sebagai tempat ibadah Suku Tengger Hindu





#Bukit Teletubbies dan Padang Savana Hijau

Dementor mencari mangsa


I am flying without wing


DAY 2 - Pulang ke Malang via Tumpang Melewati Lautan Pasir

Bukit Teletubbies dan hamparan padang savana hijau menjadi destinasi terakhir rombongan kami. Hampir jam 9 pagi, rombongan memutuskan untuk kembali ke Sukapura. Kami tidak mampir ke Lautan Pasir atau yang dikenal juga dengan Pasir Berbisik (semenjak Dian Sastro main film di sini). Entah kenapa, dalam perjalanan pulang itu saya tiba-tiba berpikir untuk pulang ke Malang nanti via Tumpang. Mungkin trauma perjalanan berangkat kemarin lewat jalan lintas yang banyak drama-nya atau karena pagi itu rombongan tidak mampir ke lautan pasir. Yang jelas, saya tanya dulu ke Syifa,

"Pulangnya nanti mau ga lewat Lautan Pasir?"

"Syifa ikut Mbak aja. Kalo Mbak mau, Syifa oke".

Masih agak ragu. Saya masih ingat perjalanan tahun 2016 lalu melewati lautan pasir ini sampe berdarah-darah wkwkw lebay. Tapi saya lihat wajah Syifa lebih ke "mendukungnya" dibanding menolak. Baiqla, bismillah.

Sampai di loket tiket kami berpisah dengan rombongan jeep dan mengucapkan banyak terima kasih atas tumpangannya. Segera saja mengambil motor yang subuh tadi kami titipkan di depan loket. Alhamdulillah aman. Kami isi bensin dulu, turun ke Sukapura. Sepertinya dekat, ternyata pulang pergi hampir sejam juga (yaah, hilanglah kesempatan untuk tidur istirahat sebentar sebelum pulang). Sampai di penginapan, jam menunjukkan pukul 11 lewat. Saya suruh Syifa tidur sebentar, biar ga terantuk-antuk nanti saat di perjalanan pulang. Jam 12 kami shalat dulu sekalian dijama' sebelum akhirnya menuju pulang. Alhamdulillah siang itu tidak terlalu panas. Karena sudah akhir tahun dan mulai memasuki musim penghujan, lautan pasir Bromo ga terlalu berdebu parah.

Selfie dulu demi eksistensi diri


Baru beberapa meter mengarungi lautan pasir, motor kami sudah mulai oleng sana-sini. Oke oke. Tetap tenang, tetap cool. Jangan sampai emosi terpancing wkwk. Lama-kelamaan sudah bisa menemukan ritme berkendara di atas lautan pasir ini. Kaki saya terus menapak di atas hamparan pasir halus. Syifa entah seperti apa wajahnya di belakang saya bonceng. "Syifa santuy aja ya. Pokonya Syifa percaya aja sama saya". Uhuk. Tidak ada daya dan upaya melainkan atas izin-Nya.


Saya dan Dimitri

Sebenarnya lautan pasir yang kami lewati tidaklah terlalu panjang jaraknya, namun kesulitannya yang lumayan bikin otot-otot tegang. Fiuuuh. Lautan pasir inilah yang menciutkan nyali saya saat tahun 2016 lalu anak-anak Rifah (Ade, Nita, dkk.) mengajak touring ke Bromo naik motor. Saat itu saya mensyaratkan harus ada anggota rombongan yang laki-laki biar kalo terjadi apa-apa motor macet dan lain-lain, ada yang nolongin. Kali ini berdua saja dengan Syifa, modal Allah ajadeh. Alhamdulillah, ga sampai sejam kemudian sampai juga di Bukit Teletubbies yang artinya jalur lautan pasir sudah berakhir *elap keringet


Setelah melalui Lautan Pasir, gerimis tipis mengiringi perjalanan kami. Mulai sekarang membiasakan kalo pas lagi main (atau apapun kondisinya) gausah ngeluh sama cuaca yang Allah kasih. Aku ikhlas ya Allah cuaca apapun yang Engkau berikan, asal Kau ridho, asal Kau berkahi perjalanan ini, sehat selamat sampai ke rumah kembali. Amiiin. Walau gerimis, masih kami sempatkan untuk turun dari motor. Sayang banget pemandangan indah di depan sana untuk dilewatkaaan!

"Hidup bukanlah sekadar menjalani rutinitas-rutinitas harian sampai akhirnya bertemu ajal. Bukan pula tentang pencapaian-pencapaian dunia yang katanya menjadi syarat dan sumber kebahagiaan. Sebaliknya, hidup adalah tentang sebuah perjalanan: dari Allah, untuk Allah, dan menuju Allah sebagai tempat kita kembali pulang" [Heal Yourself, page 5]

"Pohon yang sendiri yang tak lagi sendiri"


Gerimis yang tidak deras ini tidak sampai membuat kami basah kuyup. Jadi tidak perlu turun memakai jas hujan (karena memang tidak bawa jugak wkwkw). Terus saja melaju membawa motor. Jalur Bromo via Tumpang ini tidak mudah tetapi indah. Buat saya, ini jalur favorit masuk ke TNBTS. Selain melewati jalur dengan view yang indah, kita juga akan melewati beberapa air terjun seperti Coban Pelangi dan Coban Bidadari. Kemudian Desa Wisata Ngadas dan Poncokusumo. Jangan lupa mampir!

Alhamdulillah, kurang lebih jam 4 sore sudah sampai di Kota Malang Kucinta. Untuk mengapresiasi diri yang udah berjuang melewati lautan pasir Bromo tadi dan tetap setroong dari perjalanan berangkat kemarin, saya bilang gini ke Syifa,

"Syif, nanti sampe Malang makan enak lah ya"

"Ya Mbak"

"Syifa mau makan apa?"

"Fa ngikut aja"

"Eleh. Kalo saya ajakin makan telor asin yaopo -_-" (Syifa gasuka telur asin)

Desa Wisata Ngadas



Segala puji hanya bagi Allah yang dengan ni'mat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna... Lelah dirasa, namun lebih banyak bahagia terasa. Sejauh apa perjalanan ditempuh, jika hati ridha dan bahagia, maka itu akan seperti dekat saja. Segala macam drama ban bocor, motor mati tiba-tiba, dorong motor di terik matahari, oleng melewati lautan pasir, pusing baca Gugel Maps, kedinginan parah di penginapan dan lain-lain, seketika sirna sudah. Yang tinggal hanya kenangan baik. Selepas shalat maghrib, Syifa bilang gini... "Aku masih kepikiran betapa bahagianya aku pas di Bromo tadi".

Barakallahu fiik :)