Senin, 20 Mei 2019

Rasanya Baru Kemarin


Rasanya baru kemarin,
Ia meminta saya mengizinkannya untuk berhari raya di kampung halaman saya. Kami bukanlah teman dekat. Hanya sebatas teman baik yang tiap pekan dipertemukan dalam sebuah kelompok mengaji. Jujur awalnya saya agak canggung, "akan diapakan nanti ketika ia di rumah". Ah, biarlah. Biar mengalir. Ini keputusan yang 'Allah ikut andil di dalamnya', sepertinya. Bisa saja saya beralasan ini itu, apapun yang membuatnya tidak jadi berlebaran di rumah saya. Tapi saya tidak melakukan itu. Nah!

Rasanya baru kemarin,
Sesekali saat pertemuan pekanan, saya tanyakan langkah selanjutnya setelah sidang dan kemudian wisuda, dengan sangat bahagia ia katakan, pulaaang! Saya tahu, sudah semenjak pertama menginjakkan kaki di tanah rantaunya ini (Kota Malang) ia tak pernah pulang ke kampungnya. Ah, betapa rindunya ia pada keluarganya, pada kampung halamannya. Wajar saja ia begitu bersemangat untuk pulang. Ibarat kata, only God can stop her.

Rasanya baru kemarin,
Saya membelikannya tiket kereta, pulang bersama menuju kampung halaman saya. Qadarullah, keberangkatannya harus tertunda, tidak jadi berbarengan dalam satu perjalanan, karena jadwal sidang tesisnya mundur (2 atau 3 hari setelah jadwal pulang yang kami rencanakan). Sempat berpikir, mungkinkah ini cara Allah 'akan membatalkan' perjalanannya ke Lampung. Jiwa saya yang kadang introvert sejujurnya sulit untuk 'membiarkan orang asing' berkeliaran di hati saya. Kamu harus seseorang yang spesial jika ingin masuk ke dalam hidup saya lebih dalam (kenal keluarga, main dan menginap di rumah, dan sebagainya).

Rasanya baru kemarin,
Walau sendiri, ia memutuskan tetap ke Lampung. Saya memandunya lewat hape, mulai saat turun dari kereta api di Stasiun Pasar Senen. Jalan panjang menuju Lampung ia lalui (naik ojek, naik bus ke Merak, kemudian menyeberang naik kapal laut, dan naik bus lagi setelahnya menuju Bandarlampung). Saya sempat khawatir karena nomornya tiba-tiba mati, ternyata sengaja ia matikan agar nanti masih bisa menghubungi. Beberapa kali ibu saya mengingatkan untuk menanyakan, sudah sampai mana temannya?

Rasanya baru kemarin,
Siang hari di pasar menemani ibu berbelanja kemudian menerima pesannya, sudah sampai Merak. Wah, kok cepat?! Biasanya kalau saya, maghrib baru sampai di Merak. Berarti tidak lama lagi ia akan sampai. Sedikit lega sejujurnya. Mengingat perjalanan panjangnya dan ia hanya sendiri. Alhamdulillah ya Allah.

Rasanya baru kemarin,
Pukul 7 malam. Saya menerima pesannya. Ia mengabarkan sudah sampai di titik berhenti yang saya arahkan. Dengan semangat, menjemputnya di depan gerbang belakang Unila. Sambil masih terkejut, kok udah sampe cepet banget! Saya memboncengnya sambil sesekali menanyakan perjalanannya. Ada rasa senang ketika ia datang, pada akhirnya sampai di kota saya.

Rasanya baru kemarin,
Membiarkannya istirahat setelah perjalanan jauhnya (bahkan ia masih memakai kostum saat sidangnya). Saya menyuruhnya tidur di kamar saya, sendiri. Demi menjaga ke-jaim-an, saya rela tidur di ruang belakang ditemani nyamuk-nyamuk ganas. Ya Allah gini amat yak.

Rasanya baru kemarin,
Keesokan harinya, mendengarkannya bercerita tentang sidang dan segala macam proses ia menyusun tesisnya. Di titik itu, mulai tumbuh 'sesuatu'. Saya tekun mendengarkan dan membiarkannya bercerita. Bukankah komunikasi adalah koentji?

Rasanya baru kemarin,
Mengajaknya keluar keliling kota pada H-1 lebaran. Sesuatu yang anti-mainstream memang, mau lebaran malah ke pantai. Sengaja, biar ga ramai. Saya membawanya menuju Pantai Klara dan Sari Ringgung. Sebagai tuan rumah yang baik tentu harus menjamu tamunya, bukan? Jamuan saya tentu saja adalah alam yang tersaji indah di bumi Lampung Ruwa Jurai. Qadarullah, ia pun penikmat alam. Ayok aja, kalau diajak keluar. Satu kecocokan.


Rasanya baru kemarin,
Berbuka dan sahur bersama di rumah. Mempersilahkannya mencicipi masakan mamak. Masakan rumahan. Senang ketika ia bisa menikmatinya. Ia pernah bercerita, punya masalah dengan 'makan'. Perutnya tidak membiarkannya untuk makan banyak. 

Rasanya baru kemarin,
Walau dengan penuh canggung, akhirnya saya tidur sekamar dengannya. Itupun karena disuruh ibu saya dan serangan nyamuk luar biasa di ruang tengah. Ngalah deh.

Rasanya baru kemarin,
Hari raya tiba dan saya membiarkannya di rumah sendirian, karena kami sekeluarga pergi berkeliling silaturahim ke tetangga. Biarkan dia quality time, menelpon keluarganya yang pasti rindu akan kehadirannya di rumah saat hari raya. Tidak lama ia sendiri, hanya setengah hari. Setelah itu saya mengajaknya silaturahim ke Pesawaran.

Rasanya baru kemarin,
Melihatnya dengan penuh iba, lemah tak berdaya karena sakit. Bisa jadi karena saya yang terlalu memporsir tenaganya, mengajaknya main kemudian pulangnya hujan-hujanan dan kemudian makan mpek-mpek yang cukanya (kemungkinan) melemahkannya. Saya sempat diomeli ibu, karena terus-terusan mengajaknya main sampai ia sakit. Aduh. Merasa bersalah.

Rasanya baru kemarin,
Karena kondisinya yang semakin melemah dan tidak membaik, saya memintanya untuk pergi berobat. Iapun mau. Padahal tak pernah mau sebelumnya, katanya. Harus mau. Ini salah satu bentuk tanggungjawab saya karena secara tidak langsung saya yang membuatnya sakit. Huhuhu.

Rasanya baru kemarin,
Melihat episode sakitnya: Memboncengnya dengan motor menuju klinik Kosasih untuk berobat. Saya sempat takut kalau-kalau ia tidak kuat naik motor. Ambruk di jalan. Iba hati saya rasanya melihatnya begitu lemah bersandar pada tembok. Sendirian. Saya hanya menungguinya dari jauh. Tidak peka. Dalam kondisi yang sangat lemah begitupun masih harus mengurus dirinya sendiri. Selagi menungguinya, saya sempatkan mampir ke toko depan klinik membelikannya 3 buah susu beruang (yang hanya diminum satu, kemudian malah dihabiskan bapak). Sebentuk perhatian kecil yang saya harap bisa sedikit meredakan sakitnya. Ternyata ia tidak suka minum susu.

Rasanya baru kemarin,
Liburan berakhir dan kami menuju kota rantau kembali. Ia tidak langsung pulang ke Malang, masih akan menghabiskan liburannya di Jakarta dan Bekasi. Ada sedikit cemas dalam hati saya ketika kami berpisah di Stasiun Pasar Senen. Entahlah, seperti akan melepas seorang adik yang sudah lama kamu sayangi dan kamu jaga. Allah berikan rasa semacam itu

Rasanya baru kemarin,
Syawal mendekatkan dan mengikat simpul-simpul kasih sayang di hati kita.

Rasanya baru kemarin,
Tak terasa kalau itu sudah 2 tahun yang lalu. Juni 2017. 

Kamis, 09 Mei 2019

Gagal Pulang ke Malang Gara-gara Salah Beli Tiket Bus (Cerita Perjalanan Nusa Penida Hari ke-4)


Susah buat ga bangun siang kalo lagi traveling. Apalagi kegiatan eksplorasi 2 hari kemarin yang bikin sendi-sendi kesakitan (tapi ada sendi yang lebih menyakitkan, sendi-rian! hyaaa). Hari ketiga di Nusa Penida dan jadwal kami hari ini adalah pulaaang! Rencana mau naik fast boat yang jam 9 pagi. Nyantai aja gausah pagi-pagi banget. Saya sudah bilang ke Bu Siti akan pulang hari ini dan naik fast boat yang jam 9. Kemudian beliau memesankan tiket untuk kami berdua. Nanti sampai di loket tiketnya, langsung aja bilang atas nama Bu Siti gitu.

Kami membayar sejumlah uang, 300K untuk penginapan dua malam, dan 150K untuk sewa motor selama 2 hari. Biaya kerusakan motor yang kemarin kejadian pas menuju Broken Beach tidak ditagih, Alhamdulillah. Bu Siti terbaek dahhh. Kalo butuh penginapan murah dan nyaman, langsung aja hubungin Bu Siti yaaak. Ini nomornya 0878-6109-8228. Ga cuma penginapan, tapi bisa sewa mobil, motor, paket trip dan sebagainya.

Crystal Bay Beach, Tempat Sunset-an Terbaik di Nusa Penida


Masih kerasa getar-getar kelelahan setelah menempuh perjalanan dari Kelingking dan Broken Beach tadi. Sekitar jam 3 sore sampai di penginapan, langsung rebahan sambil merem ayam (?). Kurang lebih jam setengah 5 sore kami keluar lagi dari penginapan, mencari penutup liburan terbaik, yaitu menyaksikan matahari tenggelam di Nusa Penida. Ada beberapa pilihan tempat dan yang paling aman untuk dua orang embak bermotor matic yang menginap di dekat Pelabuhan Toyapakeh adalah Crystal Bay Beach. Sebenarnya kalo mau lebih aman lagi untuk kami berdua lihat matahari tenggelam ya di depan Losmen Tenang, penginapan kami. Ibaratnya sambil ngesot aja sampe. Tapi, demi pengalaman yang lebih utuh, cari yang sedikit lebih jauh deh hehe.
 
Kalo mau tauk jam berapa matahari tenggelam di Nusa Penida, bisa langsung ketik "sunset Nusa Penida" di Google. Setelah itu akan muncul waktu matahari tenggelamnya. Tertulis, jam 18.14 WITA. Baiklah. Perjalanan dari Toyapakeh menuju Crystal Bay Beach lancar jaya tanpa hambatan. Jalanan sudah oke ga kayak ke Broken Beach. Tapi tetap hati-hati ya, di beberapa titik kami lewati turunan yang sangat tajam. Subhanallah subhanallah. Dan sangat sepiii. Jadi sebelum kesini penuhi dulu bensin kendaraan kamu. Ga kebayang kalo keabisan bensin di sini hiyyy. Daerahnya sepi banget!

30 menit perjalanan, kami sampai di pantainya. Langsung saja parkir motor di sembarang tempat. Ga ada tiket masuknya, yes! Saya dan Tika langsung nyari tempat enak untuk nungguin matahari tenggelam. Crystal Bay Beach sudah ramai, dipenuhi bule-bule yang berjemur, baik di pasir langsung ataupun di bawah payung-payung yang disewakan.

Kami mengeluarkan amunisi yang sudah sengaja disiapkan untuk menyambut momen ini. Sederhana saja, sebuah tripod untuk merekam momen matahari tenggelam di ufuk barat sana. Waktu yang pas datang ke pantai ini memang saat senja kayak gini. Kalo pagi atau siang hari, ya kayak pantai pada umumnya.

Jam 5 sore lebih sedikit, perlahan matahari mulai turun. Saya sama Tika cuma duduk aja di pinggir pantai pakai alas seadanya (baca: sandal). Sesekali Tika lari-larian main air di pantai. Gue sih ogah basah wkwkw. Pantai emang tempat yang lebih ramah pada manusia dibanding gunung ya. Tua muda, balita, kakek nenek, semua orang bisa menikmati pantai tanpa butuh usaha yang keras. Begitu sampai, turun dari kendaraan, udah deh tinggal lari ke pepasirannya.



Detik berganti menit, menit berjalan mengiringi sang matahari yang lelah (?) hari itu, kembali ke peraduannya. Dari langit biru kemudian berubah menjadi oranye, lalu jingga menyala. Masya Allah. Tidak ada ciptaan-Mu yang tidak indah, ya Rabb. Tidak ada ciptaan-Mu yang tidak membuat kami terkagum takjub menyaksikannya. Alhamdulillah sore itu Allah berikan sunset yang bikin bibir tak henti merapal syukur. Kalo di Dieng dulu liat golden sunrise, nah yang ini golden sunset-nya. Amazing!

Beberapa menit setelah matahari benar-benar tenggelam, kami langsung bergegas pulang. Seremmm jalanan yang bakal kami lewatin. Entah sebenarnya apa yang kami takuti? Setankah atau orang jahat? InsyaAllah Nusa Penida aman dari kejahatan manusia. Lalu berarti? Hiyyy.

Pas pulang, ada barengan 1 mobil dan 2 motor. Saya ngebut ngikutin di belakang. Tentu saja ga lupa sambil baca dzikir sore keras-keras. Kondisi jalannya gelap, ga berpenerang (gada lampu jalan). Kalo kata orang tua jaman dulu khan, waktu maghrib adalah saatnya setan-setan keluar. Terlepas itu bener atau engga, emang ngeri sih jalanan pulang dari Crystal Bay ke Toyapakeh. Biasanya khan kalo di kebanyakan kota di Indonesia, kita lihat tuh bapak-bapak rapi pake sarung menuju ke masjid. Lah ini ga ada sama sekaliii. Ini yang bikin tambah parno.


"Apa yang spesial dari sunset kali ini?", tanya saya pada Tika.

"Kita bener-bener ngikutin momennya. Biasanya khan sibuk fotolah, inilah itulah", jawab Tika.

Sebelum pulang ke penginapan, kami mencari sesuap nasi untuk makan malam. Kalo kata Pak Rohani kemarin, kalo mau cari makanan halalan thoyyiban ya di sekitar Pelabuhan Toyapakeh aja. Di luar area itu, ada sih mungkin satu dua warung, tapi syusyah dan meragukan. Memang, pusat perkampungan muslim di Nusa Penida ada di sekitaran pelabuhan. Kalo mau cari makanan halal ya di sini tempatnya. Ada satu masjid di perkampungan muslim ini (dan satu-satunya masjid yang ada di Nusa Penida). Saat sedang mencari makan, melihat para bapak dan pemuda yang keluar setelah shalat berjamaah. Masya Allah. Menentramkan mata dan hati. "Allah tidak akan menghancurkan bumi-Nya selama masih ada yang menyembahNya. Masih ada hamba-hamba yang ingat pada-Nya, bersujud pada-Nya".

Kami menemukan gerobak jualan Nasi Rames ga jauh dari Pasar Toyapakeh. Yang buat kami yakin untuk beli di situ adalah ibunya yang jualan pake jilbab dan bapaknya pake peci wkwk sesederhana itu. Sampai di penginapan kami makan dengan lahapnya. Nikmat banget seporsi nasi dengan lauk seadanya; sayur jantung pisang, mie, tempe kering dan perkedel. Oiya sebenarnya di samping Losmen Tenang ada warung makan muslim, tapi mayan mahal harganya. Lebih baik hunting keluar sambil liat-liat kehidupan malam di dekat pelabuhan dan pasar Toyapakeh.

Rabu, 08 Mei 2019

Gemetaran Turun ke Kelingking Beach dan Hampir Nyerah menuju Broken Beach Nusa Penida


Nusa Penida hari kedua. Kami bangun dan bersiap lebih pagi. Hari ini tujuan kami ke sebelah barat Nusa Penida yaitu Kelingking Beach, Broken Beach dan Angel Billabong. Oiya perjalanan kami kali ini hanya berbekal Maps dan tanya penduduk sekitar saja. Kalo kamu one day trip ke Nusa Penida dan ga pengen ribet, lebih baik sewa tour guide deh. Dari mulai turun ke pelabuhan, udah banyak banget jasa trip yang bisa disewa untuk nganter ke destinasi andalan Nusa Penida. Para guide ini paham medan dan bisa mengira-ngira, mau kemana dulu? Berapa lama berada di satu spot biar ga ditinggal kapal nyebrang ke Sanur, dan sebagainya. Karena saya dan Tika punya waktu yang lumayan cukup, kami berbekal Map saja (biarin deh nyasar-nyasar selama aman mah, asal ga ketemu hewan buas atau orang jahat aja).

Baca di banyak artikel, destinasi di sebelah baratnya Nusa Penida lebih dekat dan tidak memakan waktu lama untuk mencapainya. Jaraknya sih kalo liat di Maps lebih dekat jika dibandingkan tujuan kami kemarin (Pantai Atuh dan rumah pohon). Sejam kurang. Sebelum pergi, kami tanya sama Bu Siti, enaknya kemana dulu. Kata Bu Siti ke Broken Beach dulu, karena dari parkiran ga jauh udah sampe tempatnya. Sementara kalo di Kelingking, mesti turun ke bawah. (Lha kok ga nurut Bu Siti, malah akhirnya kami ke Kelingking dulu).

Bismillah, memulai pagi dengan bahagia. Jalanan dan daerah yang kami lewati sepi. Pagi-pagi udah parno aja. Nuansanya agak ngeri gimana gitu (rasain sendiri deh). Kami langsung baca zikir pagi kuat-kuat. Takut ada hawa aneh merasuk. Naudzubillah. Jalanan dari Toyapakeh menuju Kelingking sudah oke, beraspal halus. Hanya di beberapa titik yang masih jelek but it's okay ga sampe bikin mood jadi jelek juga. Oiya harus hati-hati bawa motor di Nusa Penida ya. Rata-rata jalannya menikung. Sepi pulak. Jadi kalo misalnya ngebut, kudu was-was takutnya tiba-tiba ada  apa gitu dari arah yang berbeda. Dan jalanan utamanya itu tidaklah lebar, sodara-sodara. Untuk papasan 2 mobil aja susah, satunya kudu ngalah.


Berbekal insting dan ngikutin penunjuk jalan, Alhamdulillah sampai juga di Kelingking Beach (nama lain dari Kelingking Beach adalah Pantai Karang Dawa). Gimana ya, ga sepakat kalo dibilang deket, tapi ya ga jauh banget jugak. Entahlah. Kami membayar 5K per orang. Masih pagi nih, masih sepi. Baru ada satu mobil parkir dan beberapa motor. Oiya hampir di semua tempat wisata di Nusa Penida gada parkir, kita cuma harus bayar uang masuk aja (yang itupun tergolong murah). Parkir motornya suka hati, wess. Ada kebon kosong nganggur, ya taruh aja. InsyaALLAH AMAN. Bahkan sekali kami lihat, ada pengendara bule yang markir motor dengan kunci masih terpasang (ga gitu juga kalik).


Fasilitas di Kelingking Beach sudah lebih baik jika dibandingkan 2 tempat yang kami datangi kemarin. Ada banyak warung (tapi mahal-mahal kayaknya, soalnya menunya ditulis dalam bahasa Inggris hehe). Ada juga beberapa toilet umum. Bayar kamar mandi sama kayak bayar tiket masuk, 5K -_- 

Jalan dari parkiran sampai ke spot Kelingking Beach ga sampe 5 menit. Masih sepi, asik. Baru ada beberapa rombongan bule dan wisatawan nusantara. Dan eng ing eng! Akhirnya liat dengan mata kepala sendiri kepala Tyrex eh landmark khas Kelingking yaitu pulau karang memanjang yang menyerupai kelingking (?). Lebih sepakat kalo dibilang Tyrex Beach sih. Perasaan saya doang atau gimana, diliat dari sudut manapun gada mirip-miripnya sama kelingking.

Entah darimana asalnya, ada beberapa monyet di sekitar sini. Kami langsung awas dengan barang bawaan (padahal ga bawa apa-apa juga). Ga lucu khan kalo tiba-tiba tas kami diambil terus dibawa sama doi entah kemana. Tapi mereka ucul kok, jangan dijahatin yaaa.



Jadi sebenarnya, kalo kami benar-benar mau ke Kelingking Beach-nya, kami harus turun ke bawah. Ada jalan setapak menurun yang harus dilalui. Antara penasaran dan takut, saya ajak Tika turun. Mungkin untuk bule-bule yang kakinya jenjang dan bawaannya enteng banget itu sih ringan-ringan aja turun ke bawah. Tidak dengan kami yang pake gamis dan rok. Tapi gamasalah banget sih pake rok, hanya harus lebih berhati-hati lagi (takut rok belakang keinjek orang trus kejengkang, huwaa tidaak).

Dengan hati-hati (baca: merayap-rayap) kami turun. Satu demi satu kaki menjejak pijakan yang bikin dag dig dug (takut licin dan kepleset). Hingga pada akhirnya, belum ada separuh perjalanan, saya putuskan untuk menyerah dan kembali lagi ke atas. Antara serem dan capek. Kebanyakan memang bule semua yang turun. Yang bikin tambah grogi turun ke bawah itu karena ditungguin orang yang mau turun jugak. Jalurnya cuma bisa dilewatin satu atau 2 orang. Dinding pembatasnya masih kayu. Jadi ya, harus hati-hati banget. Demi keamanan dan efisiensi waktu, foto-foto di atasnya ajadeh. 


Naik kembali ke atas, rasanya exhausted banget. Duh ya Allah, panaaas! Segera saja kami melipir ke salah satu warung yang ada di atas. Kami pesan kelapa muda. Segerrr banget airnya. Dan kesegaran ini harus kami bayar seharga 25K per buah. Muahalnya. Di Labuan Bajo aja yang udah berlipat-lipat harganya 20K. Saran, bawa makanan ringan dan minuman sendiri kalo ga pengen jajan mahal di sini. Ada sepasang bule Jerman yang tampaknya memperhatikan kami berdua (kayaknya sih Tika yang lebih diperhatiin dengan outfitnya wkwk). Entah apa yang ada di benak mereka melihat kami. Tika melempar senyum dan mereka membalas, ciyeeh (balas-balasan senyum).

Sodara se-keturunan Adam yang terpisah benua dan samudera. Masya Allah. Allah menciptakan kita berbeda; mereka mancung Tika eh kita pesek; Mereka berkulit putih, kita sawo kematengan; Mereka tinggi-tinggii, kita Alhamdulillah cukup tingginya.



Setelah cukup mengademkan kepala dengan es degan, kami melanjutkan eksplorasi lagi. Mau menuju ke tempat awal datang tadi, tapi kondisinya udah rame banget. Akhirnya kami menuju sisi lain Pantai Kelingking. Waktu lagi nyari spot yang pas buat foto, liat bule cowok sendirian manjat-manjat pohon buat naruh kamera. Abis itu bulenya turun terus pose-pose keren gitu. Wih, totalitas! Kami berdua sampe tertegun ngeliatin bule itu.

Can you see it? Jalur tangga menuju ke bawah

Memang Kelingking Beach indah luar biasa. Tapi satu yang harus diperhatikan: Keselamatan. Menurut saya keamanan seperti misalnya pagar pembatas permanen perlu dibuat, begitu juga dengan anak tangga untuk turun ke bawah. Masih bahaya banget. Jatuh ya jatuh. Kalo bawa anak-anak kesini, harus dipegang erat-erat (kayak balon aja). Semoga hal ini bisa diperhatikan pemerintah kedepannya (ayo dong jangan yang di Pulau Bali aja yang terus-terusan diperhatiin).

Dari Kelingking, kami lanjut ke Broken Beach dan Angel Billabong. Dua tempat ini berada di lokasi yang sama. Penunjuk jalan menuju 2 tempat ini cukup jelas. Lagian ya, jalan di Nusa Penida ini enggak serumit jalanan menuju hati kamu eaaak. Tapi tetep harus diperhatiin juga sih kalo pas ada cabang-cabang yang mbingungin. Tanya penduduk sekitar deh, best solution. Kalo biasanya kita temuin tempat-tempat makan atau cottage di sekitaran tempat wisata, maka di Nusa Penida bisa kita temui hampir di semua tempat. Di daerah sepi yang kebon doang, ada. Di tengah-tengah perkampungan, juga ada. Dimana-mana deh.

Ga berapa lama kemudian, ketemu deh sama jalanan jelek yang terkenal seantero travel blog. Sejelek apa jalannya sih? Bayangin aja, di jalanan kampung gitu bisa macet. Mobil yang bawa tamu banyak banget. Jalanannya berbatu dan bergelombang terus ga terlalu lebar, jadi deh kalo misal papasan harus ada yang ngalah. Saya agak parno baca review di blognya para travel blogger tentang perjalanan menuju Broken Beach. Ada yang jatuh sampe lecet-lecet, ban motor bocor dan lain-lain. Lah kejadian! Pas lagi macet, posisi kami persis berada di belakang mobil. Lalu kemudian mobilnya mundur, ditabraklah motor kami. Bagian sayap depan pecah. Ya Allah. Langsung kebayang wajah Bu Siti dan berapa banyak nanti kami harus ganti kerusakan ini.

Kalo kamu pernah main ke pantai Malang Selatan sebelum dibuat JLS, nah separah itu deh jalanan menuju Broken Beach. Bebatuan kasar, tanjakan dan turunan tajam lalu ditambah padatnya mobil yang ngelewatin jalanan ini. Tangan saya sampe kaku nahan rem. Belum lagi kena sengatan matahari (tangan kaki dan kepala yang ga pake helm). Complicated pokonya!

Tengah hari bolong kami sampai juga di Broken Beach. Berdua dan satu motor, kami membayar sebesar 11K. Begitu masuk  dan memarkirkan motor, kami langsung istighfar sebanyak-banyaknya. Ya Allah. Bekal minum yang kami bawa semakin menipis. Sungguh sebuah perjuangan. Kadang mikir juga sih, yang nyuruh untuk blusuk-blusuk sampe ke pedalaman Nusa Penida gitu sapa? Ga ada. Jadi inget pernah baca buku karangan Ust. Salim A. Fillah yang isinya kurang lebih gini...

Tidaklah seorang muslim berpayah-payah dalam melakukan perjalanan kecuali untuk ke-3 tempat. Kemana rupanya? Arab Saudi dimana terdapat Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, kemudian Palestina (Masjidil Aqsha).

"Janganlah kalian menempuh perjalanan jauh kecuali menuju ke 3 masjid: masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjid Al Haram dan Masjid Al Aqsha". (HR Bukhari dan Muslim).

"Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik daripada 1000 shalat di tempat lain, kecuali di Masjidil Haram. Shalat di Masjid Al Haram lebih baik daripada 100.000 shalat di tempat lain" (HR Ibnu Majah).

Apa kabar saya, yang malah cita-cita keluar negeri untuk first time-nya Nepal atau Maldives? Huhu. Kalo kata Tika, "niatin aja dulu Mbaaak. Emang sih mahal, tapi khan kalo yang buat maen kemana itu yang katanya lebih murah, kalo dikumpulin ya cukup juga". Iyadeeh iyaaa.

It's only about PRIORITY (!) 



Siang itu kondisi laut di sekitar Angel Billabong lagi ganas-ganasnya. Ombaknya cihuy banget. Angel Billabong yang identik dengan kolam renang alaminya (semacam infinity pool) di bebatuan karang, tidak terlihat. Diserbu bertubi-tubi sama ombak. Biasanya sih pengunjung bisa renang dan mengambang di atasnya. Kemarin itu para pengunjung yang datang hanya berada di sekitarnya saja, tidak berani masuk ke kolamnya. Dan memang terlarang sih kalo pas ombak lagi gede kayak gitu. Pernah ada yang keseret ombak dan hilang soalnya. Saya tidak lama di sini, langsung ajak Tika menuju Broken Beach.




Dari Angel Billabong menuju Broken Beach hanya sekitar 5 menit jalan kaki menyusuri jalan setapak yang sudah dipaving. Dibandingin para bule, mungkin kami berdua kelihatan sumuk banget outfit-nya (gamis dan jilbab panjang, belum lagi bawaan tas). Satu hal sih yang kurang prepare; Harusnya kami bawa topi dan kacamata hitam! Serius, bukan cuma untuk gaya-gayaan dan biar kelihatan ketce di foto (itusih bonus), tapi beneran deh berguna banget untuk menghalau panas matahari di Nusa Penida. Tanah di sini khan kering tandus gimana gitu ya, pepohonan juga ga terlalu menaungi. Pokoknya panas aja deh hawanya!


Kembali lagi mempertemukan antara apa yang kami lihat sliwar-sliwer di medsos sama kenyataannya langsung. Broken Beach di depan mata. Masya Allah. Siang hari panas gitu, bukannya semakin sepi malah tambah rame bule yang datang. Saya sama Tika cuma ngadem aja di bale-bale depan warung. Lelah. Sambil memperhatikan tiap bule yang datang. Berbagai rupa. Ada yang pakaian nyantai ala bule barat, ada yang pake hitam-hitam tertutup rapat dari Timur Tengah. Juga memperhatikan tiap guide yang menemani para bule. Mereka keren.

Minta tolong fotoin abang-abang naik pohon
Sudut lain Broken Beach

Saya akui, kurang maksimal ngambil foto di Broken Beach. Pas udah pulang dan lihat hasil tangkapan kamera, "yah cuma segini doang". Sedikit menyesal sih, tapi semoga Allah kasih rizqi untuk kesini lagi, amiiin. Jujur emang kemaren itu panas bangettt. Udahlah capek bawa motor dengan medannya yang bikin istighfar, sampe tempatnya masih harus panas-panasan lagi jalan ke satu spot kemudian ke spot yang lain. Tenaga sisa-sisaan, jadi ya gitu deh. Liat batang pohon nganggur dikit pengen didudukin aja bawaannya.

Satu hal yang benar-benar saya perhatikan saat di Nusa Penida adalah keberadaan guide. Tiap pengunjung bule didampingi oleh seorang guide (entah ya mereka ini warga lokal Nusa Penida atau dari Bali). Lewat mereka inilah secara langsung maupun ga langsung, kepuasan pengunjung ditentukan. Asik banget kalo ketemu yang ga komersil dan tahu mauknya para turis itu (misal, kalo mereka pengennya bawa motor sendiri untuk eksplor ya jangan dipaksa untuk sewa mobil). Pas di Kelingking tadi liat guide yang bisa bahasa Inggris, Jepang dan Mandarin. Orangnya humble banget kayaknya, pembawaannya luwes (memperhatikan dari jauh aja, ga kenalan).

Siang menuju sore, kami memutuskan untuk pulang ke Toyapakeh. Ngeri lah kalo sore-sore pulang lewatin jalanan jelek gitu. So, buat kamu yang mau datangin tempat wisata di baratnya Nusa Penida, bisa milih: Kalo mau capek-capek duluan, menuju Broken Beach dan Angel Billabong, sampe berdarah-darah deh ibaratnya bawa motor. Nah abis itu baru nyantai ke Kelingking. Atau kalo mau kayak kami juga gapapa, capek di akhir. Sampe penginapan tinggal tepar par par!

Senin, 29 April 2019

Panas-panasan ke Pantai Atuh dan Rumah Pohon Molenteng di Nusa Penida


Saya sempatkan mandi dan rehat sejenak sebelum memulai eksplorasi hari ini. Alhamdulillah dapat penginapan murah dan nyaman di Losmen Tenang milik Bu Siti. Letaknya persis berada di pinggiran pantai, cuma sepelemparan batu dari Pelabuhan Toyapakeh. Pagi itu matahari bersinar dengan cerahnya. Laut biru di depan sana udah bikin ga sabar untuk segera keluar. Perjalanan 45 menit naik fast boat yang mengoyak iman kami tadi, langsung sembuh digantikan rasa kagum atas penciptaan Allah di salah satu sudut bumi-Nya ini. MasyaAllah.

Sekitar 30 menit siap-siap dan bersih diri, kami langsung mengambil motor yang disewakan oleh Bu Siti, pemilik Losmen Tenang. Biaya sewanya 75K sudah dengan bensin full. Rencana hari ini adalah menuju bagian timur Nusa Penida yang jaraknya lebih jauh dari tempat kami menginap. Tujuan kami: Pantai Atuh dan Rumah Pohon Molenteng. Letak Losmen Tenang termasuk strategis. Keluar sudah langsung nemu ATM dan ga sampai 1 km sudah ada pom bensin. Kami membawa motor dengan bahagia menuju Pantai Atuh.

Rasa bahagia dan syukur bisa sampai di salah satu bucket list bertambah-tambah ketika melewati jalanan yang view-nya langsung ke laut. Jadi pengen lompat. Alhamdulillah. Ingatan saya langsung melayang ke pulau indah tetangganya Bali. Yup, Pulau Lombok. Berkendara di Nusa Penida mirip sekali dengan berkendara di jalur Mataram - Senggigi. Jalanannya sepi, halus mulus dengan view langsung ke laut lepas. Tak henti berucap "MasyaAllah" bibir ini tiap beranjak dari satu titik ke titik selanjutnya. Tugas pejalan muslim: Islamkan tiap sudut Bumi Allah dengan dzikrullah. Kalo liat di Maps, jarak dari losmen ke Pantai Atuh sekitar 1 jam lebih dikit. Di beberapa spot yang sayang banget kalo ga diabadikan, kami berhenti. Sesekali kami temui perkampungan, cottages, lalu hutan lalu lautan.

Gini nih jalanan menuju bagian timur Nusa Penida, jangan ga brenti!

Nusa Penida adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Wilayah kecamatan itu meliputi Nusa Penida, Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan. Ketiga nusa (pulau) itu merupakan tujuan wisata lainnya di Bali selain yang sudah kita ketahui selama ini (Kuta, Sanur, Bedugul dan sebagainya). Akses menuju 3 pulau ini sudah oke. Transportasi, baik fast boat maupun kapal pemerintah tersedia dari pagi sampai sore hari. Ada sekitar 4 pelabuhan yang ada di Nusa Penida.

Morfologi wilayah Nusa Penida adalah perbukitan kapur. Tidak ada sungai di pulau ini, jadi penduduk setempat memanfaatkan air hujan dan sumber mata air sebagai sumber air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tanahnya kering dengan kandungan kapur yang tinggi, makanya sebagian besar penduduk mencari nafkah dengan bekerja sebagai nelayan atau petani rumput laut maupun pedagang. Selain itu, tentu saja melalui pariwisata (menjadi guide, membuka cottages dan rumah makan, dan lain sebagainya). Sarana dan prasarana, sekolah maupun instansi kesehatan sudah mencapai wilayah ini. Bahkan jalan rayanya sudah beraspal hotmix (hanya di beberapa akses tempat wisata yang masih jelek). Mayoritas penduduk Nusa Penida adalah penduduk asli yang beragama Hindu. Ada ratusan pura yang bisa kita temui di wilayah ini. Penduduk yang beragama Islam terpusat di Kampung Toyapakeh (daerah sekitar pelabuhan).

Di perjalanan, kami melewati desa yang membudidayakan rumput laut. Rahman-Mu ya Rabb, pengasih kepada tiap makhluq di seluruh penjuru dunia, baik yang beriman maupun yang mengingkari. Hebatnya, walau diambil setiap hari setiap saat, tidak pernah habis ikan yang hidup di lautan. Belum lagi sumber-sumber kehidupan lainnya seperti rumput laut, barang tambang, mineral, dan berbagai kekayaan laut lainnya. Engkau yang menjaga keseimbangan alam ini dan Engkau pula yang memastikan dan menjamin rizqi tiap mahkluk-Mu.


Kami terus percaya pada Maps hingga akhirnya merasa ada yang salah. Maps mengarahkan kami melewati jalanan yang sepiii banget. Gada rumah atau apapun. Macam gada peradaban sama sekali. Dimana ini, maaak. Tika yang panikan dan parnoan mulai gelisah. Kalo ada apa-apa ga akan ada yang tau nih. Kegelisahan kami sedikit berkurang, ketika di satu titik di kejauhan kami melihat ada rumah atau pondok gitu (ga kelihatan jelas). Kami terus mengikuti jalan.


Sampai akhirnya, jalanan itu mencapai ujungnya dan mengantarkan kami ke suatu tempat yang kami gatau itu dimana. Masak iya ini Pantai Atuh? Kok sepi amat? Kok ga kayak yang ada di medsos? Kami langsung memarkirkan motor di dekat sebuah pohon. Sudah ada beberapa motor yang sepertinya nasib mereka sama seperti kami: dibawa muter-muter oleh Maps menuju tempat ini. Usut punya usut, Pantai Atuh ada di bawah sana. Kami hanya butuh menuruni tebing untuk sampai kesana.


Di tempat yang kami datangi yang entah apa namanya ini, lebih sepi. Hanya ada beberapa bule yang datang kemudian pergi (ga berlama-lama). Bule mah gitu ya, simple. Datang ke satu tempat, cekrek! Udah. Move to another spot. Bedain sama kita yang bisa berkali-kali dengan berbagai gaya ambil foto di satu tempat. Kita kita kita kita....! (Surya Paloh mode on).

Mata kami terpana pada keindahan di depan sana. Lautan luas yang berbatasan dengan tebing kapur mengingatkan saya pada pantai yang ada di Yunani atau Italia sana. Sejauh mata memandang, pulau ini sungguh masih perawan, belum banyak terjamah. Entahlah, 5 atau 10 tahun lagi sudah akan seperti apa wajah pulau ini.

Yang di bawah itu Pantai Atuh dan di atas bukit sebelah atas sono, puranya

Pantai Atuh zoom-in

Bingung menentukan apakah akan turun ke bawah sana atau memutar jauh menuju jalur masuk yang umumnya dilewati pengunjung untuk mencapai Pantai Atuh. Lelah kali kurasa. Saya teropong pake mata batin, kayaknya bakal banyak bule pada buka aurat di bawah sana. Udah deh gausah turun. Di atas sini aja biar ga dosa mata. Penting memang cari tahu lebih banyak akan tempat yang bakal kita datangi. Kenapa? Biar lebih efektif waktunya dan lebih efisien, apalagi kalo waktu kunjungnya terbatas.



Ada satu gubuk sederhana terbuat dari kayu dan bambu tempat berteduh. Tidak jauh dari situ, ada lapak penjual yang tidak terlalu besar yang menjajakan makanan ringan dan minuman dingin. Kami mendinginkan kepala dan pikiran di bawah gubuk. Sepanas apa siang itu? Saya mau makan coklat yang saya bawa di kantong, ternyata udah meleleh tuh coklatnya. Masih di dunia udah sepanas ini, apalagi di neraka ya Allah?!


Kami bertemu seorang guide yang membawa tamu dari Bandung. Sharing dan tanya-tanya sekilas tentang Nusa Penida, juga sedikit pengalaman beliau sebagai seorang pemandu wisata. Itulah bonus perjalanan, menurut saya. Ketemu orang, sharing tentang banyak hal, kemudian meluaskan pandangan, lalu mengambil hikmah. Alhamdulillah, pengalaman saya selama melakukan perjalanan, selalu Allah pertemukan dengan orang-orang baik, peduli dan ringan tangan. Berkat doa orang tua pastinya.


Kami bertemu dengan seorang bule cewek dan kemudian dia minta tolong untuk motoin. Cekrek, cekrek, cukup. Setelah mengucapkan terimakasih dan melanjutkan perjalanan, bule itu bilang, "this is better than Kelingking Beach". Uwoow. Kami berdua yang baru saja sampai dan belum ke Kelingking Beach jadi penasaran.

Pada akhirnya, kami memutuskan untuk pergi ke sisi lain Pantai Atuh (itu tuh yang di seberang sana). Tanya jalan menuju kesana sama bapak guide yang tadi ngobrol sama kami. Jaraknya sekitar 4 kilometer, memutar perbukitan. Penanda jalan menuju Pantai Atuh belum banyak. Sinyal juga mati idup. Kami berkali-kali bertanya pada warga. Dari mulai nanya ke bapak-bapak tukang di pinggir jalan, sampe mblusuk ke rumah warga dan ketemu nenek-nenek ga pake baju yang ga ngerti bahasa kami (malu sendiri liatnya wkwk).

Akhirnya, selangkah menuju bukit Pantai Atuh. Baru mau, antrian mobil udah banyak banget. Kami putar arah mengganti tujuan, langsung ke Rumah Pohon Molenteng. Katanya sih ga jauh. Perjalanan memakan waktu sekitar 15-20 menit. Kami langsung parkir motor, lalu membayar tiket masuk 5K per orang. Ternyata harus turun dulu baru ketemu rumah pohonnya. Bayangin aja, siang terik gitu nurunin anak tangga curam. Ya Allah, cobaan macam inilagih. Tiap berapa anak tangga, berhenti dan tarik napas. Duh, kenapa sih yang di-post di medsos selalu yang indah-indah. Yang kayak gini kenapa ga dikasih tahuuu. Mau pingsan akutuh.



Perjalanan turun ke bawah udah se-amazing itu pemandangannya. Lautnya biru banget. Saya pegangan kuat-kuat ke tali tambang biru yang jadi pembatas pagar. Treknya benar-benar menurun (ga kebayang kalo kesini pas musim hujan). Masihlah lebih enak trek ke Pulau Padar, Komodo. Harus pintar antara mengatur nafas dan menjaga kepala tetap dingin. Gada pelindung pohon atau apapun selama menuju turun ke bawah. Sekitar 15 menit kemudian, sampai juga kami di bawah. Udah berapa macam bule yang kami temui, mulai dari Thailand, India, USA, dan wisatawan dalam negeri.



Dari rumah pohon, kami naik lebih tinggi lagi (ga sampe 5 menit) dan sampai di satu spot dengan view yang menakjubkan. Masya Allah. Raja Ampat pindah ke Bali kah? Pura Pantai Atuh di kejauhan sana dan Diamond Beach di bawah sono terlihat dari spot ini. Kami ga berlama-lama karena puanasss dan gada tempat untuk berteduh (ada satu gubuk kecil tapi udah dikuasain sama bule Thailand).Yuklah balik lagi ke atas.



Perjuangan naik (lihat tanda panah merah pada foto di bawah terus lingkaran merah di atasnya). Biar ada kerjaan, naiknya sambil ngitung anak tangga. Ada kurang lebih 200-an anak tangga yang harus kita naikin. Saran ya, kalo mau ke Rumah Pohon Molenteng pakai alas kaki yang enak dan nyaman. Track-nya masih belum aman menurut saya. Perhatikan juga kalo bawa anak kecil atau orang tua ke tempat ini. Safety first, please. Semoga kedepannya pemerintah menaruh perhatian lebih untuk pariwisata yang lagi menggeliat-geliatnya nih di Nusa Penida. Sarana dan prasarana dilengkapi, keamanan dan kenyamanan pengunjung (baik wisman maupun wisnus) ditingkatkan kembali, amiiin.


Sampai di atas tempat kami memarkir motor, ketemu seorang bapak guide yang lagi nunggu tamunya. Ngobrol ini itu, ternyata beliau adalah Pak Rohani yang nomornya sudah saya save dari lama (nemu di artikel blog). Awalnya saya mau menghubungi beliau untuk sewa penginapan di Nusa Penida. MasyaAllah, dunia sempit. Pak Rohani menawarkan kami untuk mampir ke rumahnya sembari makan malam. Mau nyari akomodasi dan paket tur sama Bu Siti ataupun Pak Rohani, insyaAllah dua-duanya sama baiknya, sama enaknya. Beliau berdua muslim, jadi bisa kasih rekomendasi ataupun menyediakan makanan yang kita ga perlu khawatirkan kehalalannya. Asique. Nomor hape Pak Rohani 0878-6190-1447.

Biar ga nyasar ke tempat antah-berantah kayak pas berangkat tadi, Pak Rohani menawari kami untuk bareng pulang ke Toyapakeh. Kami ikut di belakang mobil yang dikendarai Pak Rohani. Pak Rohani bawa mobil ngebut banget karena tamunya ngejar kapal yang jadwal sore. Pada akhirnya, sampai di daerah yang kami lewati pas berangkat, kami merelakan Pak Rohani yang sudah hilang ditelan jalanan. InsyaAllah udah ngerti rutenya. Kami mampir ke sebuah rumah makan Padang pinggir jalan. Ada tulisan halal-nya, aman. Rencana mau beli nasi aja (karena kami sudah bawa bekal lauk dari Malang), ternyata gaboleh harus sama lauk, wkwk gagal deh misi ngirit.

Siang hari yang panas di jalanan utama Nusa Penida

Pas berangkat eksplor tadi kami ga dikasih helm sama Bu Siti (bisa aja minta sebenarnya). Satu pulau ini macam satu kampung aja. Kemana-mana gaperlu pake helm (jangan bayangin ada polisi). Banyak motor yang gak berplat nomor, tanpa spion dan rupa-rupa lainnya. Karena ga pake helm, walhasil panas matahari langsung sampe ke ubun-ubun. Panas banget sampe pusing kepala, sampe sakit matanya duh! Kami tiba di penginapan sekitar jam 4 sore, langsung lompat ke kasur. Ya Allah nikmatnya. Adem. Setelah Tika menjamak shalat zuhur dengan ashar, kami berdua tidur enak banget. Ekspektasi: Tidur sebentar aja terus main di pantai depan penginapan sambil sunset-an. Realita: Ketiduran sampe abis isya tanpa sadar ga ingat apapun -_-