Sabtu, 28 September 2019

Impian di Masa Depan


Menurut kamu, seberapa penting seorang wanita memiliki impian?
Kita pahami bersama bahwa kelak ketika menjadi seorang istri, diri kita, ketaatan kita, sepenuhnya milik suami. Dalam sebuah hadits disebutkan, "Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan ramadan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya: 'masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang engkau mau'." (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin 'Auf radhiyallahu 'anhu dan dinyatakan Hasan oleh Syaikh Al-Albany). Nah, logikanya nih ya, kalo dengan ngelakuin beberapa hal di atas kita udah bisa milih pintu surga, terus ngapain kita 'capek-capek' nyari kegiatan yang lain?

Saya sempat bertanya pada seorang teman yang belum lama ini menikah, boleh (atau bisa)-kah seorang istri mempunyai mimpi-mimpi yang ingin dicapai? Gini jawabannya (panjang bett dah):

[sebagai permulaan... Memiliki dan mencapai impian adalah hak setiap manusia terlepas dari jenis kelamin, usia, agama, ras, dan status dalam masyarakat. Merupakan bagian hak "hidup" dalam HAM. Bayangkan, menjalani hari selaras dengan yang diimpikan setelah berusaha mencapainya, hidup terasa "hidup"!

Jadi jawabannya, pendapat saya, tentu saja boleh dan bisa! Tapi ada tapinya...

Tidak hanya dari faktor internal diri kita (motivasi, kemampuan, kesempatan) namun juga faktor eksternal yang tidak mungkin dikesampingkan. Sebagai wanita yang sudah menikah tentu saja: suami. Kalau sudah punya anak ya, makin panjang dan dalam lagi.

Bagaimana suami memberikan istri keleluasaan, kesempatan, kepercayaan, dukungan moril dan materiil. Menyadari bahwa sang istri selain menjadi seorang 'istri' adalah sosok individu yang berhak dan butuh untuk berkembang, mengaktualisasikan impian, hobi, kemampuan dan ilmunya. Batasannya adalah nilai-nilai dalam Islam. Apa tujuan dan bagaimana cara istri mencapai impian. Lalu bagaimana suami tetap memberikan pengarahan tidak serta-merta dibiarkan begitu saja. Bagaimanapun, suami tetaplah pemimpin keluarga. This is unpopular opinion out there- among millennials- but i'm in].

Kalau menurut pendapat saya pribadi, amatlah penting seorang wanita (yang kelak akan menikah) untuk memiliki impian atau sesuatu yang ingin dicapai atau digapai. Tentunya hal itu dapat menjadi motivasi dalam menjalani hari-hari yang dilewati. Allah saja menyiapkan surga untuk manusia jadikan cita-cita tertingginya, bukan?! So, rasanya ga salah dan ga masalah kalo kita juga memiliki impian, sebut saja "impian duniawi". Asal cita-cita atau impian itu kita niatkan untuk mencari ridho Allah dan masih di jalan-Nya, kenapa tidak? Kalo kata adik-adik Ar-Rifah, "kita gapernah tau lewat amalan mana kita masuk surga, mbak. Jangan-jangan ibadah yang disebutin di hadits tuh masih kurang untuk kita lakuin sebagai syarat masuk surganya Allah". Kompak mereka menjawab bahwa seorang wanita pun perlu untuk memiliki impian atau hal-hal yang ingin dicapai.

Mau seperti apa peranmu? InsyaAllah selama itu kamu niatkan untuk mencapai ridhonya Allah dan atas izin dari suami, lakukanlah! Dalam Al-Quran dan lewat kisah-kisah yang disabdakan oleh Rasulullah, Allah berikan semua contoh keteladanan. Mau sehebat ibunda Khadijah yang mengukir peradaban dari dalam rumah? Menjadi istri dan ibu terbaik bagi Rasulullah SAW dan anak-anaknya. Bahkan Allah kirimkan salam dan menyediakan sebuah istana di surga untuk beliau. Atau seperti Aisyah yang berkontribusi di luar rumah dan berkat kepandaian yang Allah karuniakan padanya maka sampailah pada kita hadits-hadits Rasulullah SAW. Atau seperti Fathimah Al-Fihriyyah, wanita muslim pendiri universitas tertua di dunia, Al-Qarawiyyin? Atau sehebat Ratu Balqis dalam memimpin sebuah negeri yang besar? Dan masih banyak lagi contoh lainnya jika kita ga malas untuk mencari tahu dan mengkaji.

Pernah baca pepatah ini, "If you shoot the moon, you may hit the stars". Jika kamu membidik bulan, setidaknya (kalau bidikanmu meleset) akan mengenai bintang. Sederhananya, misalkan kamu mencita-citakan bisa lanjut kuliah S2 di UK atau Norway, setidaknya kalau Allah belum memberikan rizqi ke sana, bisa jadi Allah memberikan rizqi S2 di Malaysia atau Thailand. Masih sejurus. Begitupun impian-impian yang saya tuliskan di bawah ini, semoga bisa menjadi semacam peta atau arahan dan pengingat ketika langkah sudah mulai keluar dari jalurnya. Atau menjadi semacam oase ketika diri sudah mulai lelah berjalan.

Jangka pendek (1 sampai 2 tahun ke depan)
Membaktikan diri sepenuhnya pada suami. I think it's enough. Bismillah. Tiada daya dan upaya melainkan atas izin-Nya.

Jangka menengah (5 tahun ke depan)
Melanjutkan sekolah. Selalu saya tekankan, bahwa belajar adalah bentuk penghargaan pada diri sendiri. Selain itu, untuk saya belajar adalah sebentuk rasa syukur yang atas karunia akal pikiran yang sudah Allah berikan. Hal terbaik yang bisa saya lakukan dalam rangka mensyukuri betapa hebatnya Allah ciptakan otak manusia. Dan mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Dalam Al-Quran jelas disebutkan bahwa tidak sama antara orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui. Yang harus ditekankan, belajar di sini bukan hanya dalam rangka memenuhi hasrat pribadi, rasa haus akan ilmu namun belajar itu sendiri harus memberikan kemanfaatan pada orang lain. Jadikan ilmumu untuk membuat orang lain menjadi ingat dan dekat dengan penciptanya.

Membuat artikel ilmiah dan dimuat di jurnal nasional. Saya memiliki seorang senior di kantor yang seringkali tulisan ilmiahnya menang lomba tingkat nasional atau dimuat di jurnal-jurnal perpustakaan (dalam dan luar negeri). Apa hikmah yang bisa saya ambil? Beliau selalu menggunakan waktu yang tersedia untuk berpikir dan mengkaji (dibanding scrolling media sosial atau nonton film unfaedah). Janganlah waktu yang kamu miliki terbuang melainkan ada kemanfaatan yang bisa kamu ciptakan di situ. Untuk saya, membuat artikel ilmiah sebanyak-banyaknya akan menjadi pilihan yang tepat. Bismillah.

Membuat artikel ilmiah dan dimuat di jurnal internasional. Keinginan ini bukan semata tentang prestise atau ambisi semata, melainkan agar bisa memberikan kemanfaatan yang lebih banyak dan lebih luas. Muslimah berkontribusi untuk dunia, amiiin.

Menulis buku tentang traveling dan library science. Kalau kata Ali bin Abi Thalib, ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Salah satu cara untuk meraup manfaat sebanyak-banyaknya dari 'sedikit' ilmu yang kita miliki adalah menyebarkannya lewat tulisan kemudian membukukannya. Tulisan kita akan mendapatkan pembacanya sendiri. Jadi gaperlu takut atau khawatir ga kebaca atau dibaca orang lain. Bismillah, semoga apa yang kita tulis akan Allah catat sebagai salah satu amal jariyah yaitu "ilmu yang bermanfaat".

Memiliki saluran pribadi (media sosial) untuk menyebarkan sedikit ilmu yang Allah titipkan. Saya akui, saya bukan seseorang yang pandai berbicara di depan umum. Namun meski begitu tidak ada alasan untuk tidak "berdakwah". Bukankan tiap-tiap kita Allah bebankan, Allah berikan tugas untuk menjadi seorang dai? Salah satu cara yang saya pilih adalah melalui dunia maya (virtual). Apa yang ingin saya lakukan? Saya ingin menggunakan media seperti Youtube atau Instagram dan website, dirancang dan dibuat sedemikian rupa sebagai sarana untuk mengedukasi oranglain. Dalam bidang apa? Tentunya yang saya mengerti, misal traveling (wa bil khusus halal tourism) dan dunia literasi. Sharing is caring. Berbagi itu peduli.

Pergi ke Nepal dan Maldives. Yang satu ikon pantai paling indah di dunia (Maldives), satunya lagi ikon dataran tinggi paling indah di dunia (Nepal). Biarlah ini terlihat dan terkesan "duniawi", tapi sesungguhnya saya memiliki misi pribadi untuk bisa berada di dua tempat tersebut. Bukan hanya sekedar memenuhi hasrat wanderlust, hasrat menjelajah, tapi menjalankan tugas sebagai seorang pejalan muslim: 'mengislamkan' bumi Allah di tempat di mana dia pijak. Di Nepal, saya ingin melantunkan zikir di tiap tangga menuju puncak Annapurna Base Camp. Sama halnya dengan di Maldives, yang sebenarnya adalah negara Islam, tapi kebanyakan yang datang adalah para turis yang auratnya kemana-mana.

Hafal 5 juz Al-Quran. Apalah arti hari-hari yang kita lewati tanpa membersamai Quran? Ngerasa kebangetan banget deh kalo belum memaksa diri untuk mulai menghafal Quran. Memangnya mau, nanti kalo pas shalat berjamaah sama anak-anak yang dibaca surah Al-Ikhlas mulu?! Malu dong, Ibu Pembangun Peradaban.


Jangka panjang (10 tahun ke depan)
Memiliki travel agen wisata halal. Salah satu passion yang saya miliki adalah di bidang tourism atau pariwisata. Bagaimana caranya mengemas sesuatu hal yang kita sukai menjadi sebentuk ibadah yang kita persembahkan pada Sang Rabbul Izzati? Buat saya, menjalankan dan mengembangkan bisnis wisata halal adalah jawabannya. Saya tidak hanya ingin memfasilitasi oranglain untuk berwisata, lebih dari itu, menyediakan dan memberikan akses kemudahan untuk beribadah bagi para traveler. Misal, dengan memasukkan Shalat Dhuha ke dalam itinerary yang disusun atau berwisata saat bulan Ramadan tanpa khawatir kehilangan kesempatan untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya. Saat ini bisnis wisata halal sudah mulai berkembang dan dalam beberapa tahun mendatang akan terus berkembang. Insya Allah, prospek yang baik.

Memiliki photo book hasil tangkapan kamera sendiri. Syukur-syukur bisa menyelenggarakan mini pameran foto-foto yang berhasil saya abadikan dari awal memiliki kamera sampai dengan saat ini. Amiiin.

Menyantuni anak yatim. Tak perlu berpanjang lebar, cukup hadits Rasulullah SAW ini menjadi penguat, dari Sahl bin Sa'ad radhiallahu 'anhu dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini ", kemudian beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau SAW, serta agak merenggangkan keduanya". (HR. Bukhari)


Note:
InsyaAllah tulisan tentang impian ini masih to be continue alias berlanjut

Senin, 16 September 2019

Cerita Perjalanan Malang - Madiun Naik Motor (Bagian 2)


Buat saya, semua tempat baru yang saya datangi itu menarik (atau setidaknya punya sisi menarik). Walau kota ini tidak punya pantai, atau tempat wisata wah seperti di Malang, tapi saya suka kota ini (dan semua kota wkwkw). Apa yang saya suka dari Madiun? Pertama, kotanya tenang. Tipikal "kota baik-baik" dengan penduduknya yang damai. Kedua, makananya enak-enak dan murah. I like murah!  Ketiga, walau cuacanya panas tapi udaranya adem. Mungkin pengaruh dari banyaknya sawah. Entahlah.

Hari ke-2 di Kota Brem, Madiun. Pagi ini agak santuy di rumah Bue. Dikasih sarapan sama tetangga depan rumah Bue, nasi gegok. Simple saja nasi kukus berbungkus daun, dengan lauk irisan ayam dan bumbu urap pedas. Setelah saya baca-baca, nasi gegok ini khasnya Trenggalek, bukan Madiun. Saya juga dibuatin bue seduhan minuman herbal yang semalam kami beli di alun-alun. Enaknya hidup.

Minuman herbal *entah apa namanya
Nasi Gegok
Setelah mandi, saya siap-siap menuju rumah saudara sepupu yang ada di daerah Caruban. Saya pergi sendiri saja kali ini, tidak ditemani Bue. It's okay i am strong enough. Jarak dari Madiun kota ke Caruban kurang lebih 30-40 menit. Jalan yang pernah saya lalui bersama Tika Sari anaknya Pak Rois *baper. Hiks. Kalo siang gini jalanan lintas Madiun sepiii. Sesekali ada bus Mbak Mira atau Mbak Eka yang tiba-tiba nyalip (karena Mira Eka sama kayak senior, selalu benaar).

Sudah hampir dekat rumah saudara, saya agak lupa tepatnya rumahnya yang mana. Aduuh. Celingak-celinguk. Qadarullah, mbak sepupu saya jalan pulang dari warung. Alhamdulillah.
"Kowe ngopo koyo wong ilang?"
"Aku lupa rumahmu yang mana wkwk".

Madiun Kota Sawah
Setelah melepas rindu dengan keluarga (Mba Atun dan keluarga, Pakde Rino dan Mak Ini) perbaikan gizi deh dimasakkin enak-enak. Rindu masakan rumaaah, huwaaa. Niatan saya bertemu memang hanya untuk silaturahim saja, tidak neko-neko atau mengajak pergi kemana. Sehabis Isya kami keluar menuju Taman Kota Caruban. Malam itu sedang diadakan Festival Jaranan atau Kuda Lumping. Sebenarnya, 'nontonin setan' hiyyy. Rada seram juga. Sambil ngeliat sambil banyakin istighfar. Dulu zaman saya kecil di kampung sering banget lihat jaranan di acara khitanan tetangga sekitar kampung. Sekarang udah gede gini, nontonnya dengan perspektif yang berbeda. Jadi ga nyaman gitu. Ga berlama-lama nonton, karena ruame banget juga penontonnya. Kami beli sate tahu dan beberapa jajanan ringan lainnya kemudian pulang.

Serem ih (zoom-in deh matanya ke atas)
Gerobak jualan sate tahu

Day 3
Saya adalah penganut paham bahwa sunset itu indah dimanapun adanya. Ga harus di pantai atau di puncak gunung. Jadilah sehabis shalat subuh di hari terakhir di Madiun, saya keluar menuju sawah yang ga jauh dari rumah saudara saya, untuk melihat matahari terbit. Awalnya mau ngajak krucils, eh mereka masih pada nyenyak tidur. Giliran dibangunin malah narik selimut lagi. Baiklah, pergi sendirian. Krik krik krik. Saya berhenti di pematang sawah. Matahari masih belum mau muncul. Hanya semburat keemasan yang nampak di ufuk timur. Satu dua petani melintas mengayuh sepeda menuju sawah garapannya. Saya lafazkan zikir pagi sembari menunggu. Agak awkward juga kalo pas ada petani yang lewat, terus diliatin. Ngapain mbak sendirian di pinggir sawah pagi-pagi? Jomblo ya? wkwkw. Biarin deh.

Berikut momen yang berhasil saya abadikan. Masya Allah tabarakallah.

 Sepanjang mata memandang hanya hijau persawahan yang dilihat. Hijaunya diperindah dengan gubuk kecil tempat petani sekedar melepas lelah sejenak.

 Beberapa saat sebelum matahari terbit

Dan matahari pun muncul kemudian sinarnya menerangi seluruh penjuru.

Such a magical moment! Ngeliat petani mengayuh sepedanya, menuju ke "tempat kerjanya" di alam, mengusahakan nafkah halal untuk keluarganya. Masya Allah tabarakallah. 

Pulang dari sawah, krucils udah pada ngilang. Ternyata mereka nyariin saya ke sawah -_- Rasanya baru sebentar, sudah harus siap-siap ke rumah Bue lagi. Belum ingin pergi rasanya. Siapalah yang tak ingin berlama-lama berkumpul bersama keluarga? Kali terakhir menikmati masakan bude. Saya menghabiskan lele 3 ekor, wkwk doyan apa ngefans? Lagi-lagi, perbaikan gizi.

Jadi anak shalih, shalihah ya kids
Setelah berpamitan dan dibekali buanyak sekali bawaan, saya melaju menuju Kota Madiun. Ssst, belum mandi. Rencana nanti mandinya tempet Bue aja, ehe. Karena kali ini lewat jalan belakang, bukan jalan utama seperti saat berangkat kemarin, saya diantar oleh Mbak Atun dan suaminya sampai di dekat rumah Bue. Biar ga nyasar. Ternyata jalannya lurus saja dan lebih dekat.

Sampai rumah Bue, kami menunggu Irul dan Amaliya Rahmatin alias Nona Langit yang qadarullah lagi silaturahim ke Madiun. Sekalian deh meet up. Ada beberapa destinasi yang rencananya akan kami kunjungi sebelum saya dan Bue kembali ke Malang siang (atau sore) nanti. Setelah Irul dan Liya datang, kami langsung memacu motor menuju tempat pertama yaitu Taman Trembesi yang letaknya di dalam kota. Let's go!


Jarak dari rumah Bue ke Taman Trembesi ternyata oh ternyata, deket banget! Saking deketnya sampe saya takjub, loh kok tau-tau udah sampe?! Tidak langsung masuk, kami masih menunggu satu orang lagi (Hana). Sekilas lihat, tempat ini mirip dengan tempat wisata Djawatan yang ada di Benculuk, Banyuwangi yang sedang hits. Cuma mungkin bedanya di Taman Trembesi pepohonannya tidak sebanyak seperti yang ada di Djawatan. Pohonnya besar, kokoh dan rindang. Bikin adem. Minta jodoh yang laksana pohon Trembesi ini rek, wkwk. Tidak lama kemudian Hana datang dan tanpa menunggu lama kami segera masuk untuk mulai menjelajah tempat ini.



Taman Trembesi terletak di Jalan Rimbakaya, Kartoharjo, Kota Madiun. InsyaAllah ga sulit dicari karena jalanan di kota ga terlalu sulit dihafal kok *shombhong. Taman Trembesi sebenarnya merupakan tempat penyimpanan kayu milik KPH Madiun. Luas areanya mencapai 4,5 hektar dan hanya sekitar 70 persen yang digunakan sebagai tempat penyimpanan. Maka dari itu, daripada nganggur ga menghasilkan, lebih baik dijadikan tempat wisata. Tentunya dengan ditambah dengan beberapa fasilitas dan spot selfie.

Harga tiketnya murah banget cuma 6K per orang
Nona Langit yang lagi berada di atas pohon
Saya menikmati berada di sini. Benar-benar harta karun "oksigen" di tengah kota. Tidak hanya bersantai menikmati udara di antara pepohonan trembesi, pengunjung juga bisa menikmati kuliner di cafe yang tersedia. Untuk menguji adrenalin, bisa menjajal ATV disewakan. Pagi itu ada beberapa rombongan yang datang. Santai saja, menggelar tikar di bawah pepohonan rindang sambil makan bersama keluarga. Yang belum berkeluarga mana suaranya? wkwk.





Pengalaman pertama kali seumur hidup untuk saya naik ATV. Di kafe dekat pintu masuk tadi kami sudah tanya, satu orang bayar 25K dan hanya 3 kali putaran. Kurang sreg sama medannya yang luasnya cuma selebar lapangan voli. Kami masuk lagi cari persewaan yang di dalam, dapat harga 30K untuk 2 kali putaran. Area jelajahnya lebih panjang dan lebih menantang. Hitungannya per ATV, bukan per orang (jadi 30K dibagi 2 orang). Kami pilih yang di dalam.

Bue dan Irul (yang biasa bawa motor gigi) di depan. Saya dan Liya asik aja dibonceng di belakang. Seru banget masya Allah. Sebenarnya track yang kami lewati basic banget, tapi seheboh itu. Yah namanya aja cewek, ga seru kalo ga teriak-teriak heboh. Harus nyobain ini ya kalo ke Taman Trembesi.


Ada ustadzah naik-naik kayak begini ya Allah *tepok jidat

Dari Taman Trembesi, kami lanjut ke tujuan berikutnya yaitu makan Pentol Corah. Pada kunjungan saya yang pertama tahun 2017 lalu saya sudah kemari. Rasanya memang bikin nagih. Pedasnya itu lho yang ngangenin. Uhuk. Ga sampai setengah jam kami sampai di tempatnya. Ada banyak rumah yang berjualan pentol corah di depannya. Kami menuju salah satu rumah yang ternyata tempat yang sama saat pertama kali saya datang 2 tahun lalu.




Satu piring sedang pentol corah dihargai hanya 5K. Murah khan. Pentolnya berbentuk irisan kotak, bukan bulat seperti pada umumnya. Rasanya biasa saja sebenarnya, tidak kuat dagingnya (bahkan kayak ga berbahan dasar daging deh cuma tepung aja). Yang bikin mantap membara adalah saos pedasnya. Huuham! Selain pentol ada juga ceker crispy. Favorit saya nih karena empuk banget, setulang-tulangnya bisa dimakan (kayaknya sih dipresto). Makan pentol corah pedas paling nikmat ditemani segelas es murah meriah (ada banyak pilihan).

Katanya, jangan ngaku udah ke Madiun kalo belum makan pentol corah. Sepakat?


"Mbak, masih mau es tebu?", Bue menawarkan.
"Mauk". Cepat sekali saya jawab wkwkw.

Es tebu seger banget murah cuma 2,5K
Kurang lebih jam 3 sore, perjalanan pulang menuju Malang dimulai. Sebelumnya isi bensin terlebih dahulu di daerah Saradan. Bue rada gelisah bawa motor (efek kecapekan kali ya, nonstop). Berkali-kali doi kehilangan konsentrasi sehingga motor kami masuk ke lubang-lubang jalanan (saya sengsara di belakang wkwk). Masuk Nganjuk, saya gantian yang bawa motor. Ritmenya jadi sedikit melambat karena gabisa akutuh bawa motor ngebut-ngebut, hwek (bilang aja gabisa nyalip mobil). Jadilah bawa motor ditemani angin sepoi-sepoi. Alhamdulillah saya ga ngantukan. Harusnya kami mengejar waktu karena mau mampir dulu ke tempat wisata baru di Kediri. Alhamdulillah sampai di tempatnya masih buka. Ada sekitar sejam kuranglah untuk keliling sebentar.

Jam 17.30 kami lanjutkan perjalanan lagi. Hari sudah mulai gelap. Awalnya saya yang mau bawa motor sampai daerah Kandangan (Kediri), tapi Bue meminta untuk bawa lagi. Jalur yang cukup menantang dari mulai Kasembon sampai Kota Batu. Siang aja menantang, apalagi malam hari. Sepanjang jalan saya lebih banyak memejamkan mata (bukan tidur lho ya, saking parnonya sama kepadatan jalan) dan banyak-banyak istighfar. Belum lagi kondisi jalan yang begitu gelap tanpa lampu jalan. Ga berani nengok ke belakang, hiyyy. Alhamdulillah sekitar jam 9 malam sampai di kontrakan Ar-Rifah terrindukan (kasurnya). Harusnya bisa lebih cepat, tapi tadi di Batu mampir dulu beli Burger Buto.

Kalau kondisi lancar, perjalanan Malang - Madiun dapat ditempuh sekitar 4,5 jam dengan mengendarai motor. Rute yang kami lewati: Kota Malang - Kota Batu - Pujon - Ngantang - Kasembon - Kandangan (Kediri) - Pare - Papar - Nganjuk - Saradan (Madiun Kabupaten) - Caruban - Kota Madiun. Pulang ke Malang, kami melalui rute yang sama. Selama perjalanan pulang pergi (plus keliling di kotanya) isi bensin full tank sebanyak 3 kali. Alhamdulillah ga ada drama pecah ban atau motor macet dan lain-lain.

Tips berkendara motor dari Malang ke Madiun : (1) Numero uno dan yang paling penting, bulatkan tekad teguhkan niat dan minta keselamatan sama Allah, Maha Pelindung, (2) Pastikan motor dalam kondisi fit, diservis dulu sebelum pergi lebih baik, (3) Perhatikan waktu keberangkatan, kalau bisa pilih di jam-jam yang kira-kira jalanan ga dipenuhi sama bus-bus lintas dan truk besar, (4) Istighfar sepanjang perjalanan dan berhati-hati dalam berkendara, dan (5) Mampir tempat makan atau masjid sekiranya diri sudah gabisa diajak kompromi dan konsentrasi lagi.

Sora di depan rumah Bue

Senin, 09 September 2019

Ar-Rifah goes to : Jalan-jalan Sambil Bakar Ikan ke Pantai Batu Bengkung Malang Selatan

"Pokonya di jalan nanti dzikir aja ya".

"Baca al-Matsurat petang jangan lupa".

"Jangan mikir aneh-aneh atau macem-macem selama di jalan".

"Ga usah ngebut--ngebut bawa motornya".

"Jangan ninggalin sodaranya".

Pesan saya bertubi-tubi yang di-iyakan serempak oleh bocah-bocah (baca: adik kontrakan Ar-Rifah). Matahari sudah kembali ke peraduannya di ufuk barat sana. Hanya menyisakan sedikit sinarnya sehingga masih terlihat barisan perbukitan di Jalur Lintas Selatan Malang. Konsekuensi dari niatan kami untuk melihat momen sunset di pantai Malang Selatan adalah pulangnya setelah matahari terbenam alias maghrib. Sebelum memulai perjalanan pulang ke Malang, saya hujani mereka dengan pesan yang banyak, agar aman dan diberkahi perjalanan kami menuju kontrakan tercinta. Bismillah.
***

Setiap tahun berganti, kontrakan Ar-Rifah akan mendapat penghuni baru. Dan tahun 2019 ini (dan saya masih juga di sini belum berpindah ke rumah si doi wkwkw) kami kembali kedatangan 4 personel baru. Beda asal tempat tinggal, beda budaya bahasa. Allah menciptakan kita berbeda, untuk saling mengenal. Salah satu cara untuk ta'aruf lebih mendalam adalah dengan bepergian bersama. Hari gini, siapa sih yang ga suka traveling? Akhirnya, didapatlah satu tanggal pas (walau pake drama berangkat siang karena 2 orang bocah masih harus ikut agenda kampus). Dari total 10 penghuni Ar-Rifah, hanya 6 orang yang bisa ikut. Saya, Faizah (Bue), Himmah, dan 3 ciwi-ciwi penghuni baru: Kenia, Leny dan Syifa.

Minggu (8 September 2019), Bue sudah mempersiapkan apa-apa yang akan kami bawa dari malamnya (karena niat kami bukan hanya ke pantai terus duduk-duduk manja atau ngelamun, tapi juga mau sambil bakar-bakaran ikan, makanya ada beberapa perlengkapan yang harus disiapkan). Well prepared, Buk. Jam setengah 11 siang, 3 motor sudah siap membawa kami menuju pantai Malang Selatan. Saya bonceng Leny, Bue dengan Syifa dan Himmah versus Kenia. Tujuan kami, dengan niat sambil sunset-an, tentu saja Pantai Batu Bengkung (salah satu pantai terbaik menyaksikan sunset di Malang). Ini sudah yang ke-sekian kalinya saya ke Batu Bengkung. Emang bagus sih, love it.

Baca juga: Pengalaman Pertama Kali ke Pantai Batu Bengkung, wow indah banget!

Perjalanan pergi kami lalui dengan santai, dan Alhamdulillah tanpa ada hambatan. Walau matahari sudah sampai di ubun-ubun, tidak terasa panas. Malang memang se-menyenangkan ini cuacanya. Makin cinta deh sama Malang huhu. Jalanan yang kami lewati juga tidak terlalu ramai. Menjelang jam 1 siang sudah masuk ke Jalur Lintas Selatan (JLS) Malang. View-nya juara! Pepohonan tampak mengering. Nampaknya rahmat Allah berupa hujan sudah lama belum juga turun di sini. Sabar ya, pohon...


Kami sangat menikmati berkendara di JLS. Jalannya udah kayak tol. Sesekali kami berhenti untuk mengabadikan gambar. Tujuan kami tidak langsung ke pantai tapi melipir dulu ke Tempat Pelelangan Ikan di Sendangbiru. Jam 13.20 kami sampai di sana. Tidak langsung masuk, karena Bue dan Syifa belum kelihatan di mana wujudnya wkwkw. Mungkin saya dan Kenia yang bawa motor terlalu asik menikmati jalanan JLS yang mulus atau sudah ga sabar mau milih ikan di Sendangbiru sampai lupa sodaranya ditinggalkan di belakang wkwkw.


Sambil menunggu Bue dan Syifa, Kenia dan Leny asik makan cilok di dekat parkiran. Saya dan Himmah berkeliling di sekitar pelelangan ikan Sendangbiru. Banyak kapal nelayan tertambat. Ada juga kapal yang digunakan wisatawan untuk berkeliling pulau-pulau kecil di sekitar situ. Ini kedua kalinya saya ke sini setelah dibangun gedung baru tempat penjual menjajakan ikan. Bangunan yang lama berada tidak jauh dari situ. Sudah kumuh, memang.



Pelabuhan Perikanan Pantai Pondokdadap Desa Tambakrejo Kecamatan Sumbermanjing Wetan atau lebih dikenal dengan TPI Sendangbiru dibangun pada tahun 1987. Di tempat ini para nelayan menjual langsung tangkapan lautnya sehingga harganya lebih murah dibanding kita beli di pasar. Selain murah, tentu saja segar. Yang khas dan selalu ada (insyaAllah) dijual di sini adalah ikan tuna. Dari mulai ukuran besar sampai yang sedang-sedang, tersedia. Biasanya yang banyak datang ke TPI Sendangbiru adalah keluarga atau rombongan yang sedang piknik ke pantai. Selain untuk dibakar di pantai, hasil laut yang dibeli juga untuk dibawa pulang. Tenang saja, ada banyak yang jual kotak styrofoam dan batu es di sekitar TPI untuk menjaga ikan tetap segar.

Setelah Bue dan Syifa sampai, kami berkeliling lapak mencari ikan dengan harga terbaik (baca: murah). Setelah mengelilingi hampir semua lapak, akhirnya dapat sekilo Ikan Salem harga 15K dan cumi manis dengan ukuran yang tidak seperti biasanya, lebih besar, seharga 22K (setengah kilo). Donatur of the day adalah Himmah. Doi sengaja menyisihkan uangnya untuk membeli ikan hari ini. Sekalian syukuran wisuda tanggal 5 Oktober nanti, uhuy. Semoga rizqinya berkah ya, Him.





Hati bahagia, sudah mendapatkan apa yang kami cari. Tidak berlama-lama langsung tancap gas menuju Batu Bengkung. Saat menuju TPI tadi, setelah Pantai Goa Cina kami melihat ada masjid bagus bergaya oriental di pinggir jalan. Kami memutuskan untuk mampir menjamak shalat dan istirahat sebentar. Alhamdulillah. Sekilas melihat saja, orang pasti langsung tertarik dengan gaya bangunan dan warna masjid yang kental nuansa Tionghoa-nya ini. Nama masjidnya, Masjid Cheng Ho.



Masjid Cheng Ho dibangun di beberapa tempat di Indonesia. Di Jawa Timur sendiri setahu saya ada di Pasuruan, Surabaya, Jember dan Banyuwangi. Ada yang tahu siapa beliau ini? Cheng Ho, merupakan laksamana laut tangguh yang berasal dari daratan China. Armada kapalnya ngalah-ngalahin armadanya Christopher Columbus yang konon katanya menemukan Benua Amerika (masih belum terbukti kebenarannya). Menurut sejarah, Cheng Ho adalah orang China pertama yang menyebarkan atau membawa Islam ke Indonesia, wallahu 'alam.


Kurang lebih jam 14.30 sampai juga di Pantai Batu Bengkung. Tiket masuk 1 motor (2 orang dan parkir) adalah 30K. Biaya parkirnya 10K reks, duh duh mahalnya. Terakhir saya ke sini saat camping ramadan bersama anak Ar-Rifah squad 2016. Suasana pantai sore itu tidak terlalu ramai, Alhamdulillah. Saya suka kesepian (kata benda ya, bukan kata sifat), uhuk. Ada satu rombongan besar, tapi nampaknya sudah bersiap-siap untuk pulang. Warung-warungpun sepi.



Segera saja kami membentangkan banner yang sudah disiapkan dari rumah. Kami pilih satu tempat lumayan sejuk (di bawah rindang tanaman) di pinggir pantai. Perut saya sakit melilit karena belum makan sesuap nasi dari pagi. Akhirnya melipir ke salah satu warung beli p*pMie dan tentu saja es kelapa muda yang selalu bikin kangen pantai ini. Harga satu butir kelapa muda 10K dan p*pmie 7K. Murah lah.



Sementara Saya, Syifa dan Leny ke warung, pasukan yang lain menyiapkan perapian untuk mulai bakar-membakar. Jadi rencananya, makan-makan dulu baru main-main air. Selesaikan dulu urusan perut, baru kemudian urusan hape (foto-foto untuk diupload di media sosial).

Bue membersihkan dan menyiapkan ikan dan cumi untuk dibakar, juga sosis yang udah dibeli. Himmah, Kenia dan Syifa bahu-membahu menjaga arang pembakaran agar tetap menyala. Saya? Santuy aja nontonin mereka sambil ngabisin p*pmie dan kelapa muda *enaknyaaa. Bau wangi sudah tercium. Membuat perut kami semakin meronta minta diisi. Sabar, rek. Nikmatnya bawa bekal sendiri ke pantai, apalagi bekalnya langsung disiapin di situ juga, memang gak tergantikan.



Satu jam urusan bakar-membakar selesai, saatnya merapat dan makan bareng, slurppp...! Ikan Salem  dan cumi bakar ditemani dengan bumbu kecap pedas jadi tambahan lauk nasi putih yang dibawa dari kontrakan. Wenaaak. Setelah membereskan perlengkapan bakar-bakaran tadi, saatnya turun ke pantai. Yeay!

Walau kondisi pantai sedang surut, tetap harus berhati-hati bermain air di pinggirannya yang berlumut. Bocah-bocah sebenarnya udah pada bawa salin pakaian karena niat mau mandi di pantai. Berhubung waktunya mepet, jadi deh cuma foto-foto aja. Momen sunset yang kami tunggu sepertinya akan lewat aja sore ini. Nampak awan bergulung-gulung menutupi. Alhamdulillah ala kulli hal.



Di sisi kanan ada bukit yang bisa kami naiki. Tidak terlalu tinggi tapi tetap harus berhati-hati. Pertama kali naik bukit itu sama Zharnd, sampe berdarah-darah manjat tali. Kedua dan ketiga kalinya, ada tulisan kalau pengunjung dilarang naik. Kali ini nampaknya pengunjung sudah diperbolehkan untuk naik karena sudah lebih aman treknya. Ada pagar pembatas seadanya dari tali tambang (gapapa dah daripada enggak ada sama sekali).


Kami semua naik ke atas bukit (awalnya saya sendiri saja yang naik kesana kemudian turun lagi). Bocah-bocah keasyikan berada di atas sini. Too good to be true lihat view lautan dari atas bukit. Mereka teriak-teriak meluapkan apa yang ada di hati, *maghrib heee. Karena sudah sore, tidak ada lagi orang di sini. Tak lama datang sepasang kokoh dan cicih. Walau sudah berumur tapi nampak sehat karena (sepertinya) rajin olahraga. *Salute




Menyadari hari semakin sore, semakin susah membedakan mana telapak tangan dan mana punggung tangan (wkwkw sama-sama hitam), kami siap-siap untuk pulang. Saya putuskan motor siapa yang paling depan kemudian setelahnya, biar ga saling mendahului atau malah meninggalkan. Perjalanan kami lalui dengan tawadhu', huhu. Gelapnya jalanan. Sesekali ada motor atau mobil menyalip. JLS serem banget cuy kalo malem. Ga ada lampu penerang jalan. Cahaya hanya berasal dari motor kami. Ga berani tengok kanan kiri apalagi ke arah hutan-hutan. Hiyyy. Takut ngelihat sesuatu yang seharusnya ga dilihat. Sesekali saya ajak Leny ngobrol hanya untuk memastikan dia masih ada di boncengan saya atau tidak wkwk.

Sama seperti perjalanan pergi tadi, Alhamdulillah tidak ada hambatan saat pulang. Mungkin sedikit capek dan ngantuk saja (bahkan Syifa katanya helmnya sampai terantuk-antuk ke Bue). Jam setengah 9 malam, Alhamdulillah kami semua sampai di kontrakan Ar-Rifah dengan sehat selamat sentosa tanpa kurang apapun. Kurang lebih 2,5 jam perjalanan kami tempuh. Sampai di Rifah, Himmah masih sempat-sempatnya ngolah cumi sisa bakar-bakaran tadi, luarrr biasa. Saya udah kayak ubur-ubur, ga ada tenaga.

Alhamdulillahiladzi bini'matihi tathimushalihaaat. Terima kasih ya Allah atas kesempatan perjalanan kali ini. Terima kasih untuk alammu yang indah, yang mampu memberikan ketenangan hanya dengan melihatnya saja. Next kemana lagi, teman-teman???


Kompakan pake dresscode merah marun - hitam euy! Padahal ga janjian