Rabu, 04 September 2019

Cerita Perjalanan Malang - Madiun Naik Motor (Bagian 1)

Bismillah...
Pengalaman kedua silaturahim ke Madiun naik motor. Sejujurnya, saya mau puasa traveling dulu untuk beberapa bulan ke depan. Memulihkan diri (dan kantong) setelah perjalanan ke Medan sebelumnya. Qadarullah, bude dari Lampung datang ke Madiun, ke rumah anaknya (mbak sepupu saya). Berhubung mamak nitip sesuatu yang harus saya ambil, yaudah bismillah. Traveling tipis-tipis (teteup yah niatnya). Orang rumah khawatir kalau saya pergi ke Madiun naik motor sendirian, jadi disuruh naik kereta api atau naik travel. Emmh, ga enak ga mau. Saya memutar otak bagaimana caranya agar dibolehkan naik motor. Akhirnya saya ajak atau lebih tepatnya merayu atau memaksa Faizah atau biasa saya panggil Bue (adik kontrakan) untuk menemani saya, "Buk, minggu depan mau ga ke Madiun?". Walau minggu sebelumnya Bue udah pulang ke Madiun, Alhamdulillah Bue bisa dan mau nemani saya. Asique!

Jumat (30/08/2019). Jam 11 siang, saat rehat kantor saya pulang (dan ga balik lagi wkwk). Menyiapkan apa-apa yang mau dibawa, kemudian dengar azan langsung shalat Zuhur sekaligus dijamak. Pas mau berangkat kok bocah-bocah pada ke depan dan melepas saya dan Bue pergi (seumur-umur baru kali ini digituin wkwk). Sebelum memulai perjalanan mampir dulu beli bekal ke Rich**se (ada yang pengen, yodahlah). Kurang lebih jam 1 langsung start toward Madiun, Bismillah. Bue di depan membawa motor, sementara saya enak makan Cake in Cup-nya Rich**se di boncengan belakang. Ehe.

Dilepas bocah-bocah hiks *terharu
Kota pertama yang kami lewati adalah Kota Wisata Batu. Walau matahari sedang terik-teriknya, tidak terlalu mengganggu perjalanan kami karena udara di KWB yang memang sejuk. Kami putuskan untuk lewat jalan di bawah paralayang, bukan lewat 'payung' (jalur kelok-kelok dari Songgoriti menuju Pujon). Lewat jalur bawah paralayang ini lumayan mempersingkat waktu banget. Tapi hati-hati, kalo ga kuat bisa-bisa mundur ke belakang kendaraan kita. Hiyyy. Jalurnya yang begitu menanjak otomatis bikin ngucap Allahu Akbar terus-terusan.

Jalur bawah paralayang
Jalanan Pujon yang menyejukkan mata dan pikiran
Siang itu jalanan lintas Malang - Kandangan (Kediri) Alhamdulillah tidak terlalu padat. Ga perlu ada manuver-manuver mengerikan untuk menyalip mobil atau Bus Bagong si raja jalanan Malang - kediri. Bue bawa motor dengan (ngantuk) eh lancar. Sepanjang jalan kami disuguhi sajian alam yang sedikit mengganggu konsentrasi karena terlalu indah dilihat. Masya Allah. Sekitar jam 3 sore, kami masuk daerah Pare. Kalo ngomongin Pare identik sama sayuran pahit atau gak Kampung Inggris, yekan? Kami rehat sebentar depan Megamart (sodaranya Indomaret kali yak) di depan Masjid An-Nur, Pare. Ga lama, nunggu Bue menghabiskan satu botol Kopi** kemudian lanjut lagi. Pare memang pas kalo dijadiin tempat istirahat di perjalanan antara Malang - Madiun karena letaknya yang berada di tengah-tengah antara hatiku dan hatimu.

Ngadem bentar depan Megamart depan Masjid An-Nur Pare
Suasana jalanan Kota Pare (kampung Inggris)
Kediri ini salah satu kota favorit saya. Secara, tempat merantau pertama kali. Udaranya panas tapi sejuk, eh gimana ya? Sepanjang jalan di kiri kanan kami temui perkebunan jagung dan persawahan luas. Jalanan ga ramai cenderung sepi. Damai banget ya hidup di sini. Masuk daerah Papar menuju Nganjuk, jalan sempat dialihkan karena ada karnaval. Di Jawa Timur (khususnya), kalo udah masuk bulan Agustus bakal diadain acara karnaval di mana-mana. Siap-siap deh kejebak macet atau nyasar-nyasar nyari jalan lain karena jalan utama ditutup.

Polisi mengarahkan untuk mencari jalan lain
Karnaval desa
Masuk Kabupaten Nganjuk, kondisi jalanannya ga jauh beda sama jalanan di Kediri. Sepanjang jalan masih ditemani ladang jagung dan persawahan luas. Rasanya kalo ga ngejar sebelum maghrib harus sampai Madiun, pengen turun dan foto-foto kalo pas nemu view ketje. Tapi yasudahlah. Lebih cepat sampai lebih baik. Pengalaman pertama ke Madiun tahun 2017 lalu, jam 8 malam baru sampai gara-gara kejebak mobil-mobil besar dan bus lintas di jalanan Saradan. Jangan sampe keulang lagi deh. Kapok.

Lagi fokus membonceng dan dibonceng, ada mobil putih yang menyalip tiba-tiba, membuat motor kami sedikit oleng. Astaghfirullah. Kasihani kami yang belum nikah ini, ya Allah... Jangan cabut dulu nyawa kami. Hwaaa.

Sibuk sendiri
Jam 16.21 sudah nampak di depan mata gapura selamat datang di Kabupaten Madiun. Alhamdulillah sudah di Saradan. One step closer. Jalanan lintas yang biasanya dipadati kendaraan besar dan bus jurusan Yogyakarta - Surabaya yang ngebut ga karuan ini masih belum terlalu ramai. Bue bisa mengemudi dengan sedikit santai ditemani matahari yang bersiap-siap untuk tenggelam di ufuk barat sana. Saya takjub dengan pemandangan di sisi kiri dan kanan jalan. Pohon Jati sedang meranggas. Perpaduan langit biru menuju senja dengan barisan pepohonan kering kecoklatan sungguh menyejukkan mata dan hati. Eh kamu, bahagia banget sih hidup kamu, liat pohon jati meranggas aja udah seneng?

Gapura selamat datang di Kabupaten Madiun
Pohon-pohon Jati yang sedang meranggas cantik sekali
Alhamdulillah, kurang lebih jam 5 sore lebih dikit, ditemani langit sore yang cantik, sampai juga kami di Kota Madiun. Kota yang punya banyak julukan; Kota Pecel, Kota Brem, Kota Sepur (baca: kereta), Kota Gadis (akronim dari Perdagangan, Pendidikan dan Industri). Harusnya ditambah satu lagi julukannya, Kota Seribu Sawah hehe. Rumah mbak sepupu yang akan saya datangi sebenarnya berada di Caruban (tadi sempat kami lewati). Tetapi karena saya mau menginap semalam dulu di rumah Bue, jadinya bablas aja langsung ke kota. Sekalian eksplor deh.

Tiang lampu jalan estetis yang menarik hati saya
Pintu masuk jalan tol menuju Kertosono, Nganjuk
Total perjalanan ditempuh kurang lebih 4,5 jam. Hanya berhenti sekali pas di Pare tadi selebihnya tidak mampir kemana-mana. Rumah Bue (atau lebih tepatnya rumah mbah ti-nya) letaknya ga jauh dari Stasiun Madiun. Jalan kaki cuma 5 menit. Pas udah mau sampe belokan rumah Bue, lihat matahari tenggelam bagus banget warnanya. Padahal rumah bue udah di depan mata, saya ajak bue keluar lihat sunset dulu. Kita ke Stasiun Madiun, stasiun dimana semua kereta yang menuju dan dari Jawa Timur, berhenti (eksekutif, bisnis, ekonomi).

Di kota ini terdapat PT INKA atau Industri Kereta Api, BUMN yang berdiri tahun 1981. Kalau kamu pecinta dan penikmat perjalanan dengan kereta api, maka kamu harus tahu kalo semua gerbong dan rangkaian keretanya itu diproduksi di sini. Selain memproduksi untuk kebutuhan dalam negeri, PT Inka ini mengekspor untuk keluar Indonesia, misalnya Malaysia. Letak PT Inka persis berada di samping Stasiun Madiun.

Jika dibandingkan dengan Surabaya atau Malang, kota ini tidak terlalu ramai. Tipe kota kecil yang tenang dan damai. MasyaAllah. Infrastruktur jalannya sudah bagus di mana-mana.

Kota Madiun, markas-nya KAI
Setelah cekrek-cekrek sebentar di Stasiun Madiun, jam 17.30 sampai juga di rumahnya Bue. Alhamdulillah. Istirahat sebentar sambil nunggu Irul, adik kontrakan dulu di Malang yang sekarang jadi ustadzah di salah satu pondok di Madiun. Setelah Irul datang, ga lama kami keluar. Pemburu tempat nongkrong instagramable dan hitz, eaaak. Sempat skeptis, mau nongkrong dimana di Madiun, emangnya ada? wkwkw ngenyek kalo bahasa Jawanya. Astaghfirullah.

Dua tuan rumah akhirnya memutuskan mengajak saya ke 2 Fat Guys. Tempat makan kekinian yang belum lama buka. Letaknya di depan Plaza Lawu. Seperti tempat-tempat nongkrong lainnya yang disukai anak muda, 2 Fat Guys menyediakan menu makanan dan minuman yang cocok untuk kantong. Ada beberapa spot menarik yang bisa dijadikan bekgron foto hitsss. Satu lagi, Wi-Fi gratis! Untuk malam ini, bye program diet! Saya dan Irul khilap wkwkw. Saya pesan salad buah, wedges kentang dan es Milo. Sampe pulang, kenyangnya ga ilang-ilang. Adoeeh *megangin perut.





Perjalanan berlanjut ke Alun-alun Kota Madiun. Dekat saja jaraknya ga sampai 15 menit. Niatnya mau nyari tahu petis dan tempe mendoan. Saya juga ngelirik sate tahu. Entah kenapa perut kami seperti terisi penuuh. Udah ga terlalu tertarik liat apa-apa yang dijual. Kenyang ya Rabb. Abis beli tahu petis dan sate tahu, ga berlama-lama langsung pulang. Saat menuju parkiran, mata saya tertuju pada lapak penjual minuman hangat, yang di depannya berjejer macam-macam rimpang. Saya berhenti, begitu pula Irul. Walau kenyang, karena penasaran, akhirnya kami beli juga. Saya beli bir pletok dan Irul beli minuman herbal namanya jancrok. Isinya hampir-hampir mirip antara satu jenis minuman dengan jenis lainnya. Bahan utamanya: jahe, kapulaga, kayu secang, dll wkwkw saya ga tau apa aja namanya. Seger banget dah pokonya. Satu gelas minuman herbal dijual seharga 10K.

Detik-detik menuju jam 10 malam, kami pulang ke rumah Bue. Tidur yang enak malam ini yak, obat lelah perjalanan tadi... (bersambung).

Yang tamu siapa, yang tuan rumah siapa *tuan rumah narsis rek
Lapak jualan rupa-rupa minuman hangat dan herbal di sebelah kanan Alun-alun Madiun

4 komentar:

  1. itu bokong kayak apa ya hihihi.panasss. langsung pijet .
    ke jombang aja mandek 2 kali.

    BalasHapus
  2. hasil fotonya keren-keren mbak,emang gak pernah bosen kalo lewat Pujon, pemandangannya cantik sekali, banyak tanaman-tanaman perkebunan dan masih asri.. keren..

    BalasHapus
  3. ke madiun memang selalu seru kalau naik motor. pegel pegel ngantuk hahaha

    BalasHapus
  4. Jalur kota batu--kandangan-kediri(pare),,,,,????
    Lewatan saya setiap minggu jika pulang ke rumah mertua πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„
    Indah banget pemandangannya,,,gak ada bosen bosennya bila lewat jalan ini😊😊😊😊😊

    BalasHapus