Rabu, 08 Mei 2019

Gemetaran Turun ke Kelingking Beach dan Hampir Nyerah menuju Broken Beach Nusa Penida


Nusa Penida hari kedua. Kami bangun dan bersiap lebih pagi. Hari ini tujuan kami ke sebelah barat Nusa Penida yaitu Kelingking Beach, Broken Beach dan Angel Billabong. Oiya perjalanan kami kali ini hanya berbekal Maps dan tanya penduduk sekitar saja. Kalo kamu one day trip ke Nusa Penida dan ga pengen ribet, lebih baik sewa tour guide deh. Dari mulai turun ke pelabuhan, udah banyak banget jasa trip yang bisa disewa untuk nganter ke destinasi andalan Nusa Penida. Para guide ini paham medan dan bisa mengira-ngira, mau kemana dulu? Berapa lama berada di satu spot biar ga ditinggal kapal nyebrang ke Sanur, dan sebagainya. Karena saya dan Tika punya waktu yang lumayan cukup, kami berbekal Map saja (biarin deh nyasar-nyasar selama aman mah, asal ga ketemu hewan buas atau orang jahat aja).

Baca di banyak artikel, destinasi di sebelah baratnya Nusa Penida lebih dekat dan tidak memakan waktu lama untuk mencapainya. Jaraknya sih kalo liat di Maps lebih dekat jika dibandingkan tujuan kami kemarin (Pantai Atuh dan rumah pohon). Sejam kurang. Sebelum pergi, kami tanya sama Bu Siti, enaknya kemana dulu. Kata Bu Siti ke Broken Beach dulu, karena dari parkiran ga jauh udah sampe tempatnya. Sementara kalo di Kelingking, mesti turun ke bawah. (Lha kok ga nurut Bu Siti, malah akhirnya kami ke Kelingking dulu).

Bismillah, memulai pagi dengan bahagia. Jalanan dan daerah yang kami lewati sepi. Pagi-pagi udah parno aja. Nuansanya agak ngeri gimana gitu (rasain sendiri deh). Kami langsung baca zikir pagi kuat-kuat. Takut ada hawa aneh merasuk. Naudzubillah. Jalanan dari Toyapakeh menuju Kelingking sudah oke, beraspal halus. Hanya di beberapa titik yang masih jelek but it's okay ga sampe bikin mood jadi jelek juga. Oiya harus hati-hati bawa motor di Nusa Penida ya. Rata-rata jalannya menikung. Sepi pulak. Jadi kalo misalnya ngebut, kudu was-was takutnya tiba-tiba ada  apa gitu dari arah yang berbeda. Dan jalanan utamanya itu tidaklah lebar, sodara-sodara. Untuk papasan 2 mobil aja susah, satunya kudu ngalah.


Berbekal insting dan ngikutin penunjuk jalan, Alhamdulillah sampai juga di Kelingking Beach (nama lain dari Kelingking Beach adalah Pantai Karang Dawa). Gimana ya, ga sepakat kalo dibilang deket, tapi ya ga jauh banget jugak. Entahlah. Kami membayar 5K per orang. Masih pagi nih, masih sepi. Baru ada satu mobil parkir dan beberapa motor. Oiya hampir di semua tempat wisata di Nusa Penida gada parkir, kita cuma harus bayar uang masuk aja (yang itupun tergolong murah). Parkir motornya suka hati, wess. Ada kebon kosong nganggur, ya taruh aja. InsyaALLAH AMAN. Bahkan sekali kami lihat, ada pengendara bule yang markir motor dengan kunci masih terpasang (ga gitu juga kalik).


Fasilitas di Kelingking Beach sudah lebih baik jika dibandingkan 2 tempat yang kami datangi kemarin. Ada banyak warung (tapi mahal-mahal kayaknya, soalnya menunya ditulis dalam bahasa Inggris hehe). Ada juga beberapa toilet umum. Bayar kamar mandi sama kayak bayar tiket masuk, 5K -_- 

Jalan dari parkiran sampai ke spot Kelingking Beach ga sampe 5 menit. Masih sepi, asik. Baru ada beberapa rombongan bule dan wisatawan nusantara. Dan eng ing eng! Akhirnya liat dengan mata kepala sendiri kepala Tyrex eh landmark khas Kelingking yaitu pulau karang memanjang yang menyerupai kelingking (?). Lebih sepakat kalo dibilang Tyrex Beach sih. Perasaan saya doang atau gimana, diliat dari sudut manapun gada mirip-miripnya sama kelingking.

Entah darimana asalnya, ada beberapa monyet di sekitar sini. Kami langsung awas dengan barang bawaan (padahal ga bawa apa-apa juga). Ga lucu khan kalo tiba-tiba tas kami diambil terus dibawa sama doi entah kemana. Tapi mereka ucul kok, jangan dijahatin yaaa.



Jadi sebenarnya, kalo kami benar-benar mau ke Kelingking Beach-nya, kami harus turun ke bawah. Ada jalan setapak menurun yang harus dilalui. Antara penasaran dan takut, saya ajak Tika turun. Mungkin untuk bule-bule yang kakinya jenjang dan bawaannya enteng banget itu sih ringan-ringan aja turun ke bawah. Tidak dengan kami yang pake gamis dan rok. Tapi gamasalah banget sih pake rok, hanya harus lebih berhati-hati lagi (takut rok belakang keinjek orang trus kejengkang, huwaa tidaak).

Dengan hati-hati (baca: merayap-rayap) kami turun. Satu demi satu kaki menjejak pijakan yang bikin dag dig dug (takut licin dan kepleset). Hingga pada akhirnya, belum ada separuh perjalanan, saya putuskan untuk menyerah dan kembali lagi ke atas. Antara serem dan capek. Kebanyakan memang bule semua yang turun. Yang bikin tambah grogi turun ke bawah itu karena ditungguin orang yang mau turun jugak. Jalurnya cuma bisa dilewatin satu atau 2 orang. Dinding pembatasnya masih kayu. Jadi ya, harus hati-hati banget. Demi keamanan dan efisiensi waktu, foto-foto di atasnya ajadeh. 


Naik kembali ke atas, rasanya exhausted banget. Duh ya Allah, panaaas! Segera saja kami melipir ke salah satu warung yang ada di atas. Kami pesan kelapa muda. Segerrr banget airnya. Dan kesegaran ini harus kami bayar seharga 25K per buah. Muahalnya. Di Labuan Bajo aja yang udah berlipat-lipat harganya 20K. Saran, bawa makanan ringan dan minuman sendiri kalo ga pengen jajan mahal di sini. Ada sepasang bule Jerman yang tampaknya memperhatikan kami berdua (kayaknya sih Tika yang lebih diperhatiin dengan outfitnya wkwk). Entah apa yang ada di benak mereka melihat kami. Tika melempar senyum dan mereka membalas, ciyeeh (balas-balasan senyum).

Sodara se-keturunan Adam yang terpisah benua dan samudera. Masya Allah. Allah menciptakan kita berbeda; mereka mancung Tika eh kita pesek; Mereka berkulit putih, kita sawo kematengan; Mereka tinggi-tinggii, kita Alhamdulillah cukup tingginya.



Setelah cukup mengademkan kepala dengan es degan, kami melanjutkan eksplorasi lagi. Mau menuju ke tempat awal datang tadi, tapi kondisinya udah rame banget. Akhirnya kami menuju sisi lain Pantai Kelingking. Waktu lagi nyari spot yang pas buat foto, liat bule cowok sendirian manjat-manjat pohon buat naruh kamera. Abis itu bulenya turun terus pose-pose keren gitu. Wih, totalitas! Kami berdua sampe tertegun ngeliatin bule itu.

Can you see it? Jalur tangga menuju ke bawah

Memang Kelingking Beach indah luar biasa. Tapi satu yang harus diperhatikan: Keselamatan. Menurut saya keamanan seperti misalnya pagar pembatas permanen perlu dibuat, begitu juga dengan anak tangga untuk turun ke bawah. Masih bahaya banget. Jatuh ya jatuh. Kalo bawa anak-anak kesini, harus dipegang erat-erat (kayak balon aja). Semoga hal ini bisa diperhatikan pemerintah kedepannya (ayo dong jangan yang di Pulau Bali aja yang terus-terusan diperhatiin).

Dari Kelingking, kami lanjut ke Broken Beach dan Angel Billabong. Dua tempat ini berada di lokasi yang sama. Penunjuk jalan menuju 2 tempat ini cukup jelas. Lagian ya, jalan di Nusa Penida ini enggak serumit jalanan menuju hati kamu eaaak. Tapi tetep harus diperhatiin juga sih kalo pas ada cabang-cabang yang mbingungin. Tanya penduduk sekitar deh, best solution. Kalo biasanya kita temuin tempat-tempat makan atau cottage di sekitaran tempat wisata, maka di Nusa Penida bisa kita temui hampir di semua tempat. Di daerah sepi yang kebon doang, ada. Di tengah-tengah perkampungan, juga ada. Dimana-mana deh.

Ga berapa lama kemudian, ketemu deh sama jalanan jelek yang terkenal seantero travel blog. Sejelek apa jalannya sih? Bayangin aja, di jalanan kampung gitu bisa macet. Mobil yang bawa tamu banyak banget. Jalanannya berbatu dan bergelombang terus ga terlalu lebar, jadi deh kalo misal papasan harus ada yang ngalah. Saya agak parno baca review di blognya para travel blogger tentang perjalanan menuju Broken Beach. Ada yang jatuh sampe lecet-lecet, ban motor bocor dan lain-lain. Lah kejadian! Pas lagi macet, posisi kami persis berada di belakang mobil. Lalu kemudian mobilnya mundur, ditabraklah motor kami. Bagian sayap depan pecah. Ya Allah. Langsung kebayang wajah Bu Siti dan berapa banyak nanti kami harus ganti kerusakan ini.

Kalo kamu pernah main ke pantai Malang Selatan sebelum dibuat JLS, nah separah itu deh jalanan menuju Broken Beach. Bebatuan kasar, tanjakan dan turunan tajam lalu ditambah padatnya mobil yang ngelewatin jalanan ini. Tangan saya sampe kaku nahan rem. Belum lagi kena sengatan matahari (tangan kaki dan kepala yang ga pake helm). Complicated pokonya!

Tengah hari bolong kami sampai juga di Broken Beach. Berdua dan satu motor, kami membayar sebesar 11K. Begitu masuk  dan memarkirkan motor, kami langsung istighfar sebanyak-banyaknya. Ya Allah. Bekal minum yang kami bawa semakin menipis. Sungguh sebuah perjuangan. Kadang mikir juga sih, yang nyuruh untuk blusuk-blusuk sampe ke pedalaman Nusa Penida gitu sapa? Ga ada. Jadi inget pernah baca buku karangan Ust. Salim A. Fillah yang isinya kurang lebih gini...

Tidaklah seorang muslim berpayah-payah dalam melakukan perjalanan kecuali untuk ke-3 tempat. Kemana rupanya? Arab Saudi dimana terdapat Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, kemudian Palestina (Masjidil Aqsha).

"Janganlah kalian menempuh perjalanan jauh kecuali menuju ke 3 masjid: masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjid Al Haram dan Masjid Al Aqsha". (HR Bukhari dan Muslim).

"Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik daripada 1000 shalat di tempat lain, kecuali di Masjidil Haram. Shalat di Masjid Al Haram lebih baik daripada 100.000 shalat di tempat lain" (HR Ibnu Majah).

Apa kabar saya, yang malah cita-cita keluar negeri untuk first time-nya Nepal atau Maldives? Huhu. Kalo kata Tika, "niatin aja dulu Mbaaak. Emang sih mahal, tapi khan kalo yang buat maen kemana itu yang katanya lebih murah, kalo dikumpulin ya cukup juga". Iyadeeh iyaaa.

It's only about PRIORITY (!) 



Siang itu kondisi laut di sekitar Angel Billabong lagi ganas-ganasnya. Ombaknya cihuy banget. Angel Billabong yang identik dengan kolam renang alaminya (semacam infinity pool) di bebatuan karang, tidak terlihat. Diserbu bertubi-tubi sama ombak. Biasanya sih pengunjung bisa renang dan mengambang di atasnya. Kemarin itu para pengunjung yang datang hanya berada di sekitarnya saja, tidak berani masuk ke kolamnya. Dan memang terlarang sih kalo pas ombak lagi gede kayak gitu. Pernah ada yang keseret ombak dan hilang soalnya. Saya tidak lama di sini, langsung ajak Tika menuju Broken Beach.




Dari Angel Billabong menuju Broken Beach hanya sekitar 5 menit jalan kaki menyusuri jalan setapak yang sudah dipaving. Dibandingin para bule, mungkin kami berdua kelihatan sumuk banget outfit-nya (gamis dan jilbab panjang, belum lagi bawaan tas). Satu hal sih yang kurang prepare; Harusnya kami bawa topi dan kacamata hitam! Serius, bukan cuma untuk gaya-gayaan dan biar kelihatan ketce di foto (itusih bonus), tapi beneran deh berguna banget untuk menghalau panas matahari di Nusa Penida. Tanah di sini khan kering tandus gimana gitu ya, pepohonan juga ga terlalu menaungi. Pokoknya panas aja deh hawanya!


Kembali lagi mempertemukan antara apa yang kami lihat sliwar-sliwer di medsos sama kenyataannya langsung. Broken Beach di depan mata. Masya Allah. Siang hari panas gitu, bukannya semakin sepi malah tambah rame bule yang datang. Saya sama Tika cuma ngadem aja di bale-bale depan warung. Lelah. Sambil memperhatikan tiap bule yang datang. Berbagai rupa. Ada yang pakaian nyantai ala bule barat, ada yang pake hitam-hitam tertutup rapat dari Timur Tengah. Juga memperhatikan tiap guide yang menemani para bule. Mereka keren.

Minta tolong fotoin abang-abang naik pohon
Sudut lain Broken Beach

Saya akui, kurang maksimal ngambil foto di Broken Beach. Pas udah pulang dan lihat hasil tangkapan kamera, "yah cuma segini doang". Sedikit menyesal sih, tapi semoga Allah kasih rizqi untuk kesini lagi, amiiin. Jujur emang kemaren itu panas bangettt. Udahlah capek bawa motor dengan medannya yang bikin istighfar, sampe tempatnya masih harus panas-panasan lagi jalan ke satu spot kemudian ke spot yang lain. Tenaga sisa-sisaan, jadi ya gitu deh. Liat batang pohon nganggur dikit pengen didudukin aja bawaannya.

Satu hal yang benar-benar saya perhatikan saat di Nusa Penida adalah keberadaan guide. Tiap pengunjung bule didampingi oleh seorang guide (entah ya mereka ini warga lokal Nusa Penida atau dari Bali). Lewat mereka inilah secara langsung maupun ga langsung, kepuasan pengunjung ditentukan. Asik banget kalo ketemu yang ga komersil dan tahu mauknya para turis itu (misal, kalo mereka pengennya bawa motor sendiri untuk eksplor ya jangan dipaksa untuk sewa mobil). Pas di Kelingking tadi liat guide yang bisa bahasa Inggris, Jepang dan Mandarin. Orangnya humble banget kayaknya, pembawaannya luwes (memperhatikan dari jauh aja, ga kenalan).

Siang menuju sore, kami memutuskan untuk pulang ke Toyapakeh. Ngeri lah kalo sore-sore pulang lewatin jalanan jelek gitu. So, buat kamu yang mau datangin tempat wisata di baratnya Nusa Penida, bisa milih: Kalo mau capek-capek duluan, menuju Broken Beach dan Angel Billabong, sampe berdarah-darah deh ibaratnya bawa motor. Nah abis itu baru nyantai ke Kelingking. Atau kalo mau kayak kami juga gapapa, capek di akhir. Sampe penginapan tinggal tepar par par!

0 komentar:

Posting Komentar