Senin, 29 April 2019

Panas-panasan ke Pantai Atuh dan Rumah Pohon Molenteng di Nusa Penida


Saya sempatkan mandi dan rehat sejenak sebelum memulai eksplorasi hari ini. Alhamdulillah dapat penginapan murah dan nyaman di Losmen Tenang milik Bu Siti. Letaknya persis berada di pinggiran pantai, cuma sepelemparan batu dari Pelabuhan Toyapakeh. Pagi itu matahari bersinar dengan cerahnya. Laut biru di depan sana udah bikin ga sabar untuk segera keluar. Perjalanan 45 menit naik fast boat yang mengoyak iman kami tadi, langsung sembuh digantikan rasa kagum atas penciptaan Allah di salah satu sudut bumi-Nya ini. MasyaAllah.

Sekitar 30 menit siap-siap dan bersih diri, kami langsung mengambil motor yang disewakan oleh Bu Siti, pemilik Losmen Tenang. Biaya sewanya 75K sudah dengan bensin full. Rencana hari ini adalah menuju bagian timur Nusa Penida yang jaraknya lebih jauh dari tempat kami menginap. Tujuan kami: Pantai Atuh dan Rumah Pohon Molenteng. Letak Losmen Tenang termasuk strategis. Keluar sudah langsung nemu ATM dan ga sampai 1 km sudah ada pom bensin. Kami membawa motor dengan bahagia menuju Pantai Atuh.

Rasa bahagia dan syukur bisa sampai di salah satu bucket list bertambah-tambah ketika melewati jalanan yang view-nya langsung ke laut. Jadi pengen lompat. Alhamdulillah. Ingatan saya langsung melayang ke pulau indah tetangganya Bali. Yup, Pulau Lombok. Berkendara di Nusa Penida mirip sekali dengan berkendara di jalur Mataram - Senggigi. Jalanannya sepi, halus mulus dengan view langsung ke laut lepas. Tak henti berucap "MasyaAllah" bibir ini tiap beranjak dari satu titik ke titik selanjutnya. Tugas pejalan muslim: Islamkan tiap sudut Bumi Allah dengan dzikrullah. Kalo liat di Maps, jarak dari losmen ke Pantai Atuh sekitar 1 jam lebih dikit. Di beberapa spot yang sayang banget kalo ga diabadikan, kami berhenti. Sesekali kami temui perkampungan, cottages, lalu hutan lalu lautan.

Gini nih jalanan menuju bagian timur Nusa Penida, jangan ga brenti!

Nusa Penida adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Wilayah kecamatan itu meliputi Nusa Penida, Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan. Ketiga nusa (pulau) itu merupakan tujuan wisata lainnya di Bali selain yang sudah kita ketahui selama ini (Kuta, Sanur, Bedugul dan sebagainya). Akses menuju 3 pulau ini sudah oke. Transportasi, baik fast boat maupun kapal pemerintah tersedia dari pagi sampai sore hari. Ada sekitar 4 pelabuhan yang ada di Nusa Penida.

Morfologi wilayah Nusa Penida adalah perbukitan kapur. Tidak ada sungai di pulau ini, jadi penduduk setempat memanfaatkan air hujan dan sumber mata air sebagai sumber air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tanahnya kering dengan kandungan kapur yang tinggi, makanya sebagian besar penduduk mencari nafkah dengan bekerja sebagai nelayan atau petani rumput laut maupun pedagang. Selain itu, tentu saja melalui pariwisata (menjadi guide, membuka cottages dan rumah makan, dan lain sebagainya). Sarana dan prasarana, sekolah maupun instansi kesehatan sudah mencapai wilayah ini. Bahkan jalan rayanya sudah beraspal hotmix (hanya di beberapa akses tempat wisata yang masih jelek). Mayoritas penduduk Nusa Penida adalah penduduk asli yang beragama Hindu. Ada ratusan pura yang bisa kita temui di wilayah ini. Penduduk yang beragama Islam terpusat di Kampung Toyapakeh (daerah sekitar pelabuhan).

Di perjalanan, kami melewati desa yang membudidayakan rumput laut. Rahman-Mu ya Rabb, pengasih kepada tiap makhluq di seluruh penjuru dunia, baik yang beriman maupun yang mengingkari. Hebatnya, walau diambil setiap hari setiap saat, tidak pernah habis ikan yang hidup di lautan. Belum lagi sumber-sumber kehidupan lainnya seperti rumput laut, barang tambang, mineral, dan berbagai kekayaan laut lainnya. Engkau yang menjaga keseimbangan alam ini dan Engkau pula yang memastikan dan menjamin rizqi tiap mahkluk-Mu.


Kami terus percaya pada Maps hingga akhirnya merasa ada yang salah. Maps mengarahkan kami melewati jalanan yang sepiii banget. Gada rumah atau apapun. Macam gada peradaban sama sekali. Dimana ini, maaak. Tika yang panikan dan parnoan mulai gelisah. Kalo ada apa-apa ga akan ada yang tau nih. Kegelisahan kami sedikit berkurang, ketika di satu titik di kejauhan kami melihat ada rumah atau pondok gitu (ga kelihatan jelas). Kami terus mengikuti jalan.


Sampai akhirnya, jalanan itu mencapai ujungnya dan mengantarkan kami ke suatu tempat yang kami gatau itu dimana. Masak iya ini Pantai Atuh? Kok sepi amat? Kok ga kayak yang ada di medsos? Kami langsung memarkirkan motor di dekat sebuah pohon. Sudah ada beberapa motor yang sepertinya nasib mereka sama seperti kami: dibawa muter-muter oleh Maps menuju tempat ini. Usut punya usut, Pantai Atuh ada di bawah sana. Kami hanya butuh menuruni tebing untuk sampai kesana.


Di tempat yang kami datangi yang entah apa namanya ini, lebih sepi. Hanya ada beberapa bule yang datang kemudian pergi (ga berlama-lama). Bule mah gitu ya, simple. Datang ke satu tempat, cekrek! Udah. Move to another spot. Bedain sama kita yang bisa berkali-kali dengan berbagai gaya ambil foto di satu tempat. Kita kita kita kita....! (Surya Paloh mode on).

Mata kami terpana pada keindahan di depan sana. Lautan luas yang berbatasan dengan tebing kapur mengingatkan saya pada pantai yang ada di Yunani atau Italia sana. Sejauh mata memandang, pulau ini sungguh masih perawan, belum banyak terjamah. Entahlah, 5 atau 10 tahun lagi sudah akan seperti apa wajah pulau ini.

Yang di bawah itu Pantai Atuh dan di atas bukit sebelah atas sono, puranya

Pantai Atuh zoom-in

Bingung menentukan apakah akan turun ke bawah sana atau memutar jauh menuju jalur masuk yang umumnya dilewati pengunjung untuk mencapai Pantai Atuh. Lelah kali kurasa. Saya teropong pake mata batin, kayaknya bakal banyak bule pada buka aurat di bawah sana. Udah deh gausah turun. Di atas sini aja biar ga dosa mata. Penting memang cari tahu lebih banyak akan tempat yang bakal kita datangi. Kenapa? Biar lebih efektif waktunya dan lebih efisien, apalagi kalo waktu kunjungnya terbatas.



Ada satu gubuk sederhana terbuat dari kayu dan bambu tempat berteduh. Tidak jauh dari situ, ada lapak penjual yang tidak terlalu besar yang menjajakan makanan ringan dan minuman dingin. Kami mendinginkan kepala dan pikiran di bawah gubuk. Sepanas apa siang itu? Saya mau makan coklat yang saya bawa di kantong, ternyata udah meleleh tuh coklatnya. Masih di dunia udah sepanas ini, apalagi di neraka ya Allah?!


Kami bertemu seorang guide yang membawa tamu dari Bandung. Sharing dan tanya-tanya sekilas tentang Nusa Penida, juga sedikit pengalaman beliau sebagai seorang pemandu wisata. Itulah bonus perjalanan, menurut saya. Ketemu orang, sharing tentang banyak hal, kemudian meluaskan pandangan, lalu mengambil hikmah. Alhamdulillah, pengalaman saya selama melakukan perjalanan, selalu Allah pertemukan dengan orang-orang baik, peduli dan ringan tangan. Berkat doa orang tua pastinya.


Kami bertemu dengan seorang bule cewek dan kemudian dia minta tolong untuk motoin. Cekrek, cekrek, cukup. Setelah mengucapkan terimakasih dan melanjutkan perjalanan, bule itu bilang, "this is better than Kelingking Beach". Uwoow. Kami berdua yang baru saja sampai dan belum ke Kelingking Beach jadi penasaran.

Pada akhirnya, kami memutuskan untuk pergi ke sisi lain Pantai Atuh (itu tuh yang di seberang sana). Tanya jalan menuju kesana sama bapak guide yang tadi ngobrol sama kami. Jaraknya sekitar 4 kilometer, memutar perbukitan. Penanda jalan menuju Pantai Atuh belum banyak. Sinyal juga mati idup. Kami berkali-kali bertanya pada warga. Dari mulai nanya ke bapak-bapak tukang di pinggir jalan, sampe mblusuk ke rumah warga dan ketemu nenek-nenek ga pake baju yang ga ngerti bahasa kami (malu sendiri liatnya wkwk).

Akhirnya, selangkah menuju bukit Pantai Atuh. Baru mau, antrian mobil udah banyak banget. Kami putar arah mengganti tujuan, langsung ke Rumah Pohon Molenteng. Katanya sih ga jauh. Perjalanan memakan waktu sekitar 15-20 menit. Kami langsung parkir motor, lalu membayar tiket masuk 5K per orang. Ternyata harus turun dulu baru ketemu rumah pohonnya. Bayangin aja, siang terik gitu nurunin anak tangga curam. Ya Allah, cobaan macam inilagih. Tiap berapa anak tangga, berhenti dan tarik napas. Duh, kenapa sih yang di-post di medsos selalu yang indah-indah. Yang kayak gini kenapa ga dikasih tahuuu. Mau pingsan akutuh.



Perjalanan turun ke bawah udah se-amazing itu pemandangannya. Lautnya biru banget. Saya pegangan kuat-kuat ke tali tambang biru yang jadi pembatas pagar. Treknya benar-benar menurun (ga kebayang kalo kesini pas musim hujan). Masihlah lebih enak trek ke Pulau Padar, Komodo. Harus pintar antara mengatur nafas dan menjaga kepala tetap dingin. Gada pelindung pohon atau apapun selama menuju turun ke bawah. Sekitar 15 menit kemudian, sampai juga kami di bawah. Udah berapa macam bule yang kami temui, mulai dari Thailand, India, USA, dan wisatawan dalam negeri.



Dari rumah pohon, kami naik lebih tinggi lagi (ga sampe 5 menit) dan sampai di satu spot dengan view yang menakjubkan. Masya Allah. Raja Ampat pindah ke Bali kah? Pura Pantai Atuh di kejauhan sana dan Diamond Beach di bawah sono terlihat dari spot ini. Kami ga berlama-lama karena puanasss dan gada tempat untuk berteduh (ada satu gubuk kecil tapi udah dikuasain sama bule Thailand).Yuklah balik lagi ke atas.



Perjuangan naik (lihat tanda panah merah pada foto di bawah terus lingkaran merah di atasnya). Biar ada kerjaan, naiknya sambil ngitung anak tangga. Ada kurang lebih 200-an anak tangga yang harus kita naikin. Saran ya, kalo mau ke Rumah Pohon Molenteng pakai alas kaki yang enak dan nyaman. Track-nya masih belum aman menurut saya. Perhatikan juga kalo bawa anak kecil atau orang tua ke tempat ini. Safety first, please. Semoga kedepannya pemerintah menaruh perhatian lebih untuk pariwisata yang lagi menggeliat-geliatnya nih di Nusa Penida. Sarana dan prasarana dilengkapi, keamanan dan kenyamanan pengunjung (baik wisman maupun wisnus) ditingkatkan kembali, amiiin.


Sampai di atas tempat kami memarkir motor, ketemu seorang bapak guide yang lagi nunggu tamunya. Ngobrol ini itu, ternyata beliau adalah Pak Rohani yang nomornya sudah saya save dari lama (nemu di artikel blog). Awalnya saya mau menghubungi beliau untuk sewa penginapan di Nusa Penida. MasyaAllah, dunia sempit. Pak Rohani menawarkan kami untuk mampir ke rumahnya sembari makan malam. Mau nyari akomodasi dan paket tur sama Bu Siti ataupun Pak Rohani, insyaAllah dua-duanya sama baiknya, sama enaknya. Beliau berdua muslim, jadi bisa kasih rekomendasi ataupun menyediakan makanan yang kita ga perlu khawatirkan kehalalannya. Asique. Nomor hape Pak Rohani 0878-6190-1447.

Biar ga nyasar ke tempat antah-berantah kayak pas berangkat tadi, Pak Rohani menawari kami untuk bareng pulang ke Toyapakeh. Kami ikut di belakang mobil yang dikendarai Pak Rohani. Pak Rohani bawa mobil ngebut banget karena tamunya ngejar kapal yang jadwal sore. Pada akhirnya, sampai di daerah yang kami lewati pas berangkat, kami merelakan Pak Rohani yang sudah hilang ditelan jalanan. InsyaAllah udah ngerti rutenya. Kami mampir ke sebuah rumah makan Padang pinggir jalan. Ada tulisan halal-nya, aman. Rencana mau beli nasi aja (karena kami sudah bawa bekal lauk dari Malang), ternyata gaboleh harus sama lauk, wkwk gagal deh misi ngirit.

Siang hari yang panas di jalanan utama Nusa Penida

Pas berangkat eksplor tadi kami ga dikasih helm sama Bu Siti (bisa aja minta sebenarnya). Satu pulau ini macam satu kampung aja. Kemana-mana gaperlu pake helm (jangan bayangin ada polisi). Banyak motor yang gak berplat nomor, tanpa spion dan rupa-rupa lainnya. Karena ga pake helm, walhasil panas matahari langsung sampe ke ubun-ubun. Panas banget sampe pusing kepala, sampe sakit matanya duh! Kami tiba di penginapan sekitar jam 4 sore, langsung lompat ke kasur. Ya Allah nikmatnya. Adem. Setelah Tika menjamak shalat zuhur dengan ashar, kami berdua tidur enak banget. Ekspektasi: Tidur sebentar aja terus main di pantai depan penginapan sambil sunset-an. Realita: Ketiduran sampe abis isya tanpa sadar ga ingat apapun -_-

2 komentar:

  1. Gila Keren banget nusa peninda. beebrapa waktu lalu mau kesana ada acara volunteer, sayang tidak jadi berangkat karena sakit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya keren dan kebanyakan masih alami Mas. Wah semoga punya ksempatan untuk kesana lagi dalam kondisi yang lebih baik ya!

      Hapus