Wednesday, February 7, 2018

Pulau Lombok, Kemana Kaki Harus Melangkah?

Pulau Lombok, salah satu pulau cantik yang ada di Timur Indonesia. Siapa yang tidak ingin pergi kesana? Pulau yang berjuluk "Negeri 1000 Masjid" ini seperti sebuah paket lengkap dengan berbagai pesona wisata yang dimilikinya. Gunung Rinjani yang berdiri kokoh meneguhkan pulau, perbukitan cantik nan eksotis, deretan pantai dan air terjun, belum lagi masakan maupun adat budayanya, kesemuanya itu membentuk Lombok menjadi salah satu tempat yang harus dikunjungi setidaknya sekali seumur hidup. Lalu apa saja destinasi menarik wajib kunjung ketika kamu berlibur ke pulau ini?

1. Pantai Tanjung Ann, pantai dengan panorama tidak biasa
Ada banyak pilihan pantai bagus yang bisa pengunjung pilih ketika pertama kali sampai di Lombok, salah satunya adalah Pantai Tanjung Ann. Pantai indah nan berpasir putih bersih ini hanya berjarak kurang lebih 30-45 menit dari Bandara Internasional Lombok. Tanjung Ann menawarkan panorama pantai yang akan membuat pengunjung terbius: garis pantai yang panjang, ombak yang tenang dan lautan biru berpadu dengan perbukitan kecoklatan di dekatnya. Ada juga ayunan di tepi pantai yang bisa pengunjung gunakan untuk berswafoto.

2. Bukit Mereseq, bukit eksotis nan romantis
Jika sudah ke Tanjung Ann, jangan lewatkan untuk berjalan kaki sebentar ke arah perbukitan di sebelah kanannya. Kurang lebih perjalanan kaki selama 15 menit, pengunjung akan menemukan salah satu spot yang sedang hits akhir-akhir ini, Bukit Mereseq. Pengunjung bisa berswafoto dengan satu-satunya pohon yang berdiri sendiri di bukit ini, juga bisa sekedar mengelilingi perbukitannya. Bukit Mereseq merupakan lokasi syuting video klip Isyana Sarasvati yang judulnya 'mimpi' lho. Penasaran?!

3. Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air yang mendunia
Belum lengkap rasanya pergi ke Lombok, tanpa mengunjungi tiga gili (pulau) yang tenar sampai ke mancanegara. Air laut yang jernih dipadu dengan aneka ragam biota bawah laut dan pasir putih bersih, serta lengkapnya akomodasi, tidak heran jika di musim liburan, gili-gili ini akan sangat ramai dikunjungi, baik oleh wisatawan mancanegara maupun lokal. Masing-masing gili memiliki keunikannya sendiri. Gili Trawangan dengan keramaiannya, Gili Meno dengan lokasi snorkelingnya yang menakjubkan serta Gili Air dengan panorama khas pantainya. Kendaraan bermesin dilarang di tiga gili sehingga pengunjung bisa merasakan segarnya udara tanpa polusi. Rasakan sensasi berlibur sembari berbaur dengan wisatawan mancanegara dan merasakan keramahan penduduk lokal di tiga gili!

4. Bukit Nipah, tempat terbaik menyaksikan matahari terbenam
Salah satu tempat terbaik menyaksikan matahari terbenam di Lombok yang tidak jauh dari pusat kota (Mataram) adalah Bukit Nipah. Dari Bukit Nipah ini pengunjung bisa menyaksikan matahari terbenam dengan dramatisnya -berwarna oranye keemasan- dilatarbelakangi Gunung Agung yang ada di seberang pulau sana (Bali). A must visit!

5. Sembalun, destinasi halal bulan madu terbaik
Credit pic: lomboktravelingnetwork.com
Lombok tidak hanya tentang pantainya yang indah. Ada juga perbukitan sejuk yang menawarkan panorama penyejuk hati. Arahkan tujuan anda ke Lombok bagian timur, ke salah satu destinasi yang tahun 2016 kemarin mendapat predikat "World's Best Halal Honeymoon Destination", Lembah Sembalun. Terletak persis di kaki Gunung Rinjani, wilayah ini tidak hanya menawarkan lansekap indah khas dataran tinggi tapi juga beberapa air terjun tersembunyi (hidden paradise) yang sayang untuk dilewatkan. 

6. Islamic Center Lombok, masjid termegah di Bumi NTB yang bercorak budaya
Credit pic: kicknews.today
Sebagai negeri yang memiliki julukan seribu masjid, kurang afdhal rasanya jika belum mengunjungi Islamic Center Lombok, yang merupakan masjid terbesar dan termegah yang ada di Lombok. Ikon wisata baru provinsi NTB ini berlokasi di pusat kota Mataram dan baru saja dibuka tahun 2016 lalu bersamaan dengan acara MTQ nasional yang dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo.

7. Mencicipi Ayam Taliwang di Rumah Makan Kania
Credit pic: money.id
Sebagai pelengkap kunjungan ke Lombok, pengunjung harus mencicipi salah satu masakan khasnya yaitu Ayam Taliwang. Ada banyak tempat dimana pengunjung bisa menemukan menu ini, namun salah satu tempat yang banyak direkomendasikan oleh penduduk lokal adalah Ayam Taliwang di Rumah Makan Kania. Ayam kampung berumur sedang (tidak terlalu tua dan tidak muda) dibakar dengan bumbu khas pedas yang membuat ketagihan ditemani lalapan beberuq dan satu porsi minuman es dugan, maka ni'mat mana yang anda dustakan?!

8. Phoenix Food, tempat belanja oleh-oleh khas Lombok
Credit pic: Twitter
Sebelum kembali ke tempat asal, tidak ada salahnya pengunjung berburu buah tangan untuk sanak kerabat. Phoenix Food, toko oleh-oleh yang berada di pusat kota menyediakan berbagai olahan rumput laut seperti dodol dan manisan yang segar dan menyehatkan, serta aneka jajanan khas Lombok Sumbawa. Dengan harga miring dan kualitas yang tidak diragukan, toko oleh-oleh ini menjadi tempat rujukan banyak wisatawan yang ingin membeli oleh-oleh khas Lombok.

Tuesday, February 6, 2018

Jernihnya Air di Sumber Taman, Malang Bikin Gak Mau Pulang



Kabupaten Malang terus berbenah untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Dengan modal pantai-pantai keren di Malang Selatan, juga air terjun (coban) yang tersebar di berbagai tempat serta kekayaan alamnya berupa hasil pertanian, perkebunan, sumber mata air alami dan sebagainya, hal itu tentu tidaklah sulit. Tahun 2017 kemarin, slogan 'Heart of Java' diluncurkan sebagai branding pariwisata Kabupaten Malang. Dilansir dari cnn.com, Bupati Rendra Kresna memilih brand ini karena Kabupaten Malang adalah jantungnya Jawa Timur. Semua ada di Kabupaten Malang mulai dari pertanian, perdagangan, pegunungan, adat istiadat, suku dan etnis budayanya. Paket lengkap deh pokonya; Kabupaten Malang dengan wisata alamnya dan Kota Malang dengan wisata kekinian.

Akhir pekan adalah waktu yang sangat pas untuk dihabiskan bersama orang-orang terkasih. Berbagai aktifitas dapat kita pilih untuk sekedar having fun and quality time. Kali ini saya bersama adik-adik tersayang memilih untuk quality time bersama air di salah satu wisata pemandian di Kabupaten Malang yaitu Sumber Taman. 

Lokasi dan Akses Masuk ke Sumber Taman
Wisata pemandian alam Sumber Taman terletak di Karangsuko, Pagelaran, Kabupaten Malang. Dari arah Malang Kota, arahkan kendaraan kamu ke daerah Kepanjen. Terus menuju GOR Kanjuruhan (markasnya Arema Cronus). Setelah gang masuk Sumber Maron, kira-kira 500 meter kemudian, ada Indomaret di sebelah kanan jalan. Nah, gang masuk Sumber Taman ini persis di sebelah Indomaret tersebut. Jaraknya dengan kendaraan pribadi kurang lebih satu jam perjalanan. But it's okay, jalanan yang ditempuh sampai dengan parkiran, halus mulus lancar jaya tanpa hambatan. Mobil bisa masuk sampai area parkir di sekitar pemandian. Biar lebih mudah, langsung aja buka Maps dan ketik "Sumber Taman".


Harga Tiket Masuk
Kabar gembira untuk anak kost! Masuk ke pemandian ini, selain hari minggu, ga dipungut biaya alias gratis. Kita cukup membayar uang parkir 2K per motor. Sebenarnya saat kami datang kemarin (hari Sabtu) kalau mau parkir sembarangan di sebelah mana gitu, bisa ga bayar. Tapi tak apalah, memberikan sedikit 'timbal balik' agar perekonomian warga sekitar terangkat. Cuma 2ribu doang, men.

Ngapain aja di Sumber Taman?
Banyak aktifitas yang bisa kamu lakukan di Sumber Taman. Pertama, mandi berenang sepuasnya di kolam renang anti kaporit. It's really pure water!. Crsytal Clear Water. Tapi hati-hati ya. Dengan kedalaman berkisar antara 1-1,5 meter kamu tentunya gabisa sembarangan nyemplung apalagi kalo cuma bisa gaya 'batu' doang #kayakSaya. Melipir di pinggirannya aja lah. Gak ada petugas yang ngawasin. Setiap orang bertanggungjawab atas keselamatannya masing-masing #nahLoh.

Kalau mau nyantai kayak di pantai sambil sewa ban, bisa. Kalau air di kosan mati terus kamu gapunya uang buat nge-laundry, bawa aja baju kotor kamu kesini. Ada tempat nyuci enak banget di bagian bawah kolam pemandian. Bisa nyuci sambil ngobrol sama ibu-ibu setempat (sapa tau punya anak gadis atau bujang yang masih melajang wkwk). Selain nyuci baju, terlihat juga beberapa orang yang mencuci motornya di aliran air Sumber Taman ini. Mau nyobain swafoto bawah air, juga bisa. Jangan lupa bawa underwater case dari rumah soalnya disini gada yang jualan (ga kayak di Sumber Maron, seabreg!).


Fasilitas yang Tersedia
Wisata pemandian Sumber Taman ini saya kira awalnya hanya pemandian biasa dengan pengunjung 'rutin' warga desa sekitar. Mereka memanfaatkan kolam ini untuk kegiatan sehari-hari seperti mandi, mencuci dan sebagainya. Seiring terunggahnya foto-foto dengan hastag #SumberTaman di media sosial, mulailah pengunjung berdatangan. Meski tidak seramai Sumber Maron, tempat ini worthed lho untuk dikunjungi. Sebagaimana layaknya tempat wisata, Sumber Taman juga dilengkapi beberapa fasilitas diantaranya warung-warung makanan plus jajanan, toilet tempat ganti serta mushola kecil di dekat kolam. Wudhunya langsung di aliran air di samping mushola. Asik deh. Oiya untuk kamu yang gabisa berenang, bisa sewa ban harga 2-5K tergantung ukuran, sepuasnya sampe anyep.



Fakta-fakta Menakjubkan tentang Air!
Segala ciptaan Allah di muka bumi ini pasti memiliki hikmah. Pernah gak sih berucap gini, "Ya Allah aku bersyukur atas nikmat air yang Engkau karuniakan pada hari ini". Coba deh dibayangin kalo misal nih ya, mulai dari melek mata, kucek-kucek, terus keran air mati gada air. Mau wudhu, okelah bisa tayamum. Mau mandi berangkat ke kampus, ga cuci muka? Ga sikat gigi? Uh... Kebayang jadi manusia paling gembel sedunia wkwk! Sungguh berharganya dirimu, air.

Apa aja fakta-fakta keren tentang air? Let's cekidooot!
-  70% Bumi terdiri dari air
- Hanya kurang dari 1% air di permukaan Bumi yang bisa kita konsumsi saat ini, 69% sisanya adalah air asin yang ada di lautan
- Tanpa makanan, seseorang bisa hidup sampai lebih dari sebulan. Tapi tanpa minum (air), ga lebih dari sepekan
- 70% tubuh manusia terdiri dari air (cairan)
- Sebuah keran bocor yang menetes tiap detik bisa membuang lebih dari 3.000 galon per tahun
- Air tidak hanya berada di permukaan, namun bisa kita temukan pula di dalam tanah dan udara
- Jika semua air di Bumi diibaratkan segalon air, maka air tawar yang bisa kita gunakan hanya sesendok makan saja
- Setiap hari matahari menguapkan satu triliun ton air
- Sebuah tetesan kecil dari air keran yang bocor bisa membuang sekitar 75 liter air sehari
- Dan masih buanyak lagi (!) Masya Allah...

Baca juga tulisan keren tentang air

Kisah si Air Bersih di Belahan Bumi yang Lain
Mari tengok sepenggal episode si air di belahan dunia lainnya di Benua Hitam sana... (Bayangkan!) di Tanah Afrika sono yang konon akses telpon seluler lebih mudah dibanding dengan akses ke air bersih. Dilansir dari kompas.com, Cape Town, ibukota Afrika Selatan terancam menjadi kota besar pertama di dunia yang akan kehabisan air bersih (prediksi manusia). Curah hujan yang rendah tiga tahun terakhir, kekeringan yang terus melanda, sementara konsumsi air warga terus bertambah, menjadikan krisis air berkepanjangan di kota tersebut.  Penghematan air pun dilakukan secara drastis, mulai dari ga boleh nyuci mobil, nyiram tanaman, sampai di kamar mandi aja dibatasi hanya dua menit. We o we! Menyiram toilet hanya dibolehkan jika benar-benar mendesak #gaKebayang. Betapa kita di Malang ini patut bersyukur Allah berikan begitu mudahnya bertemu dengan sumber air yang jernih, bersih dan melimpah ruah, ya. Alhamdulillahiladzi bini' matihi tathimushalihaaat.


 "Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di Bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya"
[Q.S. Al-Mukminun 18]

Thursday, February 1, 2018

Nyobain ke Bromo Pake Open Trip, Kenapa Gak?!


Berbilang belasan bulan yang lalu... "Mbak, ayoook ke Bromo". "Yaaa, insyaallah segera". Hingga kemudian Negara Api menyerang dan Bang Toyib ga juga pulang-pulang, rencana hanya menjadi rencana tanpa realisasi. Kesibukan orang yang satu berpadu dengan kesibukan orang yang lain, jadilah kesibukan yang tidak menyisakan ruang untuk bepergian bersama. Rencana ke Bromo fix ditunda. Grup WA goes to Bromo bubar.

Berucap janji dengan orang lain itu, urusannya bukan hanya tentang kita dan orang yang kita janjikan saja, tapi malaikat mencatat dan kelak Allah akan menagih apa yang sudah kita utarakan pada orang lain. Cmiiw! Belum lah tenang hati saya ini sebelum 'berhasil' membawa teman-teman ngaji yang sudah belasan bulan lalu saya janjikan untuk pergi ke Bromo. Tidak berhenti otak ini berpikir bagaimana cara membawa mereka kesana. Naik motor kah? Sewa mobil kah? Mereka sih mintanya naik motor saja, karena tidak memakan biaya terlalu banyak. Tapi berdasarkan pengalaman, terlalu beresiko naik motor ke Bromo (apalagi tanpa abang berjenggot). Bimbang.


Bagaimanapun dipikirkan, pada akhirnya, saya tidak berani untuk membawa teman-teman naik motor ke Bromo. Sudah deh, pake jasa open trip aja. Alhamdulillah, dapat yang lumayan murah. Bersama dua orang teman (Tika dan Ika) serta seorang rekan kantor (Heni), fix kami pergi ke Bromo pakai jasa open trip. Hari itu Sabtu 9 Desember 2017, sekitar jam 11 malam, saya membangunkan Tika dan Ika yang sedang enak-enaknya bermimpi. Heni juga tidak lupa saya hubungi untuk bersiap ketemuan di depan kosnya. Kurang ahsan sih, cewek malem-malem keluar tanpa muhrim. Tapi Alhamdulillah ternyata di jalanan masih ramai. Kami menuju Rumah Sakit Lavalette di daerah Malang Kota. Janjian disana. Sampai di Lavalette, Bapaknya sudah menunggu bersama seorang lagi yang satu trip dengan kami. Disini baru ngeh kalau dari Malang kami sudah naik jeep. Bapak sopir mengarahkan kemudi jeep ke arah Tumpang. Memang, kalo dari Malang Kota yang paling dekat ya lewat Tumpang.

Kami berempat umpel-umpelan di belakang. Saya suka pusing kalo naik mobil dalam posisi miring, jadinya ndeprok di bawah biar ga salah arah. Wkwk. Sejujurnya ga nyaman pake banget. Rasa suakiiit semua badan. Mobil jeep ini Subhanallah ya, langsung terasa guncangannya. Kami ibarat ikan cupang dimasukkan ke plastik kemudian dikoyak-koyak. Kepala, badan, punggung, kaki terantuk-antuk bagian dalam mobil jeep. Adek lelah baaang.... Mau turuuun (!) Sebenarnya hubungan saya dengan mobil jeep baik-baik saja. Beberapa kali 'kami' memiliki kenangan yang indah saat di Bromo. Dengan catatan: itu naik jeepnya cuma antara pintu masuk Bromo via Pasuruan dan via Probolinggo. Ga sejauh seperti kali ini (Malang Kota - Bukit Kingkong).

"Mbak, mau huek..." Waduh.

Alhamdulillah, pas banget lewat depan warung-warung yang ada toiletnya. Saya meminta bapak sopir untuk memberhentikan jeep sebentar. Heni dan Ika bergegas turun. Saya tetap di mobil bersama Tika yang dari tadi mereeem aja ga melek-melek. Sejujurnya saya juga saat itu mual ga karuan. Tahan... Dan Alhamdulillah, rasa malu mengalahkan rasa mual.

Destinasi pertama kami adalah menyaksikan sunrise di Bukit Kingkong. Lho, kok bukan di Penanjakan? Iyap, karena Penanjakan sedang ditutup untuk umum. Perbaikan sarpras. Dinginnya bukan main di atas sini. Brrr! Di Bukit Kingkong ini tersedia warung, toilet dan mushola kecil (banget). Bergegas, saya langsung menuju toilet untuk mengungkapkan rasa mual yang ada di perut. Hihi, hanya Allah dan saya yang tahu apa yang terjadi di dalam toilet. Ga tahaaan. Lama sekali sepertinya saya berada di kamar mandi. Teman-teman di luar sampai mengetuk pintu dikiranya saya pingsan di dalam. Wkwkw. Keluar dari toilet, sok cool lagi macam tidak terjadi apa-apa. Ehe.

Selesai urusan kamar mandi, shalat subuh dan lain-lain, saatnya berburu matahari terbit. Sudah banyak orang yang seperti kami; nungguin sunrise dan belum mandi (yakin deh 99%, dari banyaknya orang yang nungguin sunrise ini belum ada yang mandi!). Alhamdulillah cuaca cerah. Sebenarnya, kenikmatan suatu perjalanan itu bukan hanya dari cerahnya cuaca, tapi nomor satu yang paling penting adalah KESEHATAN yang Allah berikan (baik jasmani maupun ruhani). Walau cuaca cerah, tapi sakit gigi misalnya, ya sama aja ga menikmati. Gitu, khan?

Demi matahari dan sinarnya di pagi hari...
Bromo itu indahnya masya Allah. Beberapa kali kesini juga ga akan bosan. Pesona tempat wisata yang berada di 4 kabupaten di Jawa Timur ini (Malang, Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang) keren dari semua penjuru. Takkan habis Bromo dieksplor. Tiap sudutnya seperti punya magnet yang membuat hati terpikat (ngomong apasih). Salah satu pesona yang banyak diburu pengunjung di Bromo adalah matahari terbitnya. Beberapa spot dari ketinggian untuk menyaksikan matahari terbit antara lain di Bukit Penanjakan. Kalau penuh bisa sedikit turun ke Bukit Kingkong. Kalau tempat ini sudah penuh juga, jangan khawatir masih ada Bukit Cinta.

View dari Bukit Kingkong uu aa!
Udah mirip filsuf-filsuf Yunani belum, gaya mikirnya?
Matahari sudah mulai naik dan menyingkap kawasan Bromo dan sekitarnya. Terlihatlah jajaran Pegunungan Bromo, Gunung Batok dan si menawan nan gagah Semeru di kejauhan sana. Cukup puas mengabadikan momen di Bukit Kingkong, kami turun kemudian mampir sejenak ke Bukit Cinta. Ada tangga menuju puncaknya. Terakhir saya kemari tahun 2016 lalu, masih belum ada.

Dari Bukit Cinta, jeep yang membawa kami melaju turun menuju Kawah Bromo. Jalanan turun dari Penanjakan ke Kawah Bromo, huuu serammm! Ga nyangka dan ga kebayang waktu itu ngelewatin jalanan ini naik motor. Kalo kamu ke Bromo naik motor, jalanan ini akan sangat memacu adrenalin. Dimohon untuk sangat berhati-hati. Tapi view dari sini keren pake banget. Semacam jalanan di Swiss atau di pelosok Eropa sana lah epicnya. Bisa minta pak sopir untuk berhenti kalau mau.

Semua akan JOMBLO pada MATI-nya (tenang Hen...*puk *puk)
Cukup lautan pasir Bromo aja yang jadi persinggahan banyak jeep, hati kamu jangan eyaaak! #huwek
Yang selalu ada di tempat umum manapun di Indonesia, himbauan tentang sampah (harus pakai tanda pentung gitu ya?)
Setelah turun dari bukit tempat menyaksikan matahari terbit, lautan pasir Bromo bersiap menyambut kedatangan kami. Subuh tadi lewat sini naik jeep, gelap, badan terantuk-antuk ga karuan. Lautan pasir Bromo ini ibarat satu lapangan bermain (sangat luaaas) yang dikelilingi 'dinding hijau' perbukitan. Keseruan bisa kita mulai dari foto-foto dengan latar Gunung Batok. Oiya Gunung Batok ini sering dikira Gunung Bromo, sama kasusnya kayak Qubbah ash-Sakhrah (Dome of The Rock) yang dikira Masjidil Aqsa.

Lautan pasir Bromo tidaklah seindah gurun pasir yang ada di luar negeri sono. Akan banyak kita temui kotoran kuda berceceran sepanjang jalur menuju Gunung Bromo. Baunya mintak ampun! Kalo kamu mau cepet sampai ke puncak Bromo, bisa naik kuda dari sini 125K. Ga bisa ditawar-tawar lagi. Soalnya emang lumayan jauh. Jalan kaki biasa juga bisa sih. Tapi ya itu tadi, hati-hati banyak 'ranjau'.

Ketika di perjalanan sama'an baju dengan seseorang, mungkinkah ia jodohku?! *eyaaak
"Ika, ayok foto yok. Jangan tidur aja. Itu lho pemandangannya bagus banget di luar". Demi melihat Ika yang lemas ga karuan akibat mabok di Bukit Kingkong subuh tadi, saya menyemangatinya dengan mengambil foto. Kasian Ika. Lemas kali bagai cumi-cumi kehilangan tulang belakangnya (?) Ika mulai sedikit bersemangat. Lumayanlah. Ternyata, mengabadikan momen lewat foto-foto bisa 'sedikit' mengobati mabok perjalanan, sodara-sodara... Lupak sama mabok-nya.

Ibu-ibu ini cuma sanggup sampe sini doang
Gunung Batok dari sisi lain
Bawa rombongan emak-emak ini bikin saya galau mau naik ke Puncak Bromo atau tidak. Berdasarkan pengalaman (ke Panderman duluuu) dan melihat raut wajah mereka saat itu yang memelas-i, insya Allah melihat kawahnya dari kejauhan saja cukup -_- Kami berjalan hanya sampai di Kaki Bromo. Selanjutnya, Pasir Berbisik yang epic di depan sana sudah menanti. Ga berlama-lama di Pasir Berbisik karena batere kamera saya habis. Maaaak! Tips: kudu bawa batere cadangan kalo ke Bromo (!!!).

Perjalanan menuju destinasi terakhir, Bukit Teletubbies, dikasih bonus sangat keren sama Allah. Padang Savana yang ditumbuhi rumput ilalang yang sedang berbunga. Wiiih! Yakin deh ini keren pake banget. Serasa di belahan bumi mana gitu. Kata bapak sopirnya, fenomena ini ga selalu ada. Musim tertentu saja padang ilalang ini berbunga kemudian memberikan view se-keren ini. Kami seperti melihat harta karun, girang berlarian masuk ke kawasan ini.

Karena sudah berada di penghujung tenaga, mata juga mulai ngantuk, tidak banyak yang kami lakukan di Bukit Teletubbies. Duduk di rerumputan sambil makan cilok yang kami beli di salah satu warung disini. Waktu 'rehat sebentar' dalam sebuah perjalanan, adalah waktu dimana kita meluruskan kembali niatan-niatan; untuk apa melakukan perjalanan ini, apa hikmah yang akan kita ambil dari perjalanan ini, dan sebagainya. Juga waktu untuk menatap wajah lelah teman perjalanan kita; Sudahkah kita menjadi teman berjalan yang baik untuk mereka? Seberapa berguna kita bagi mereka dalam perjalanan ini? Dan sebagainya.

Baca juga: Menghijaukan Mata di Bukit Teletubbies Bromo

Bromo; Salah satu destinasi wajib kalo kamu hidup di Indonesia. Jangan mati sebelum ke Bromo. Banyak jalan menuju Bromo. Mau sendiri atau rame-rame. Mau pakai open trip atau privat. Mau naik kendaraan sendiri atau sewa jeep di tempat. Mau dengan mobil atau motor. Mau murah meriah atau mewah. Gak ada alasan untuk ga ke Bromo.

Formasi lengkap
Sibuk foto-foto, jangan lupa untuk mentafakuri ciptaan-Nya yaaa. Berdiam dirilah barang sejenak saja. Keren lihat indahnya Bromo, lebih Maha Indah lagi Si penciptanya. Kalo kata Ustadz Akmal Sjafril, kalo lihat pemandangan indah tuh, jangan lupa kembalikan keindahannya pada penciptanya. Jangan cuma kagum ciptaannya aja, tapi lebih kagumilah lagi penciptanya. Semoga traveling kita menambah keimanan di hati.

 ...Meskipun (santai) naik jeep, tapi tetep ada tantangannya. Kalo pas ke (Gunung) Panderman kita harus mendaki lebih dari 3 jam, beda ceritanya dengan ke Bromo. Medannya yang berbatu dan banyak tikungan, ngebuat harus nahan isi perut. Serasa diunyel-unyel. Allaaah...awak nyerah deh. Rasa mau keluar semua yang ada dalam perut. Alhamdulillah pas udah ga ketahan, pas jeepnya lewat di depan warung-warung yang ada toiletnya. Keluar semua yang meronta-ronta untuk keluar. Sampai di puncak (Bukit Kingkong) tak hentinya hati berucap syukur atas ciptaan Allah yang begitu indah ini. Tapi ada satu yang masih mengganjal, gimana nanti pulangnya? Pengen pinjam baling-baling bambunya Doraemooon!... [Ika Novira Trisna]


 ...Perjalanan yang (cukup) singkat. Dimulai di tengah malam buta untuk naik jeep pertama kalinya. Sampai di Bukit Kingkong, (kami) disambut udara dingin menusuk tulang. Tapi tidak lama. Seiring berjalan waktu, langit cerah. Udara mulai menghangat dan sesaat tampak sunrise yang menakjubkan. Pemandangan gunung, lautan pasir, hamparan padang savana, menyatu saling berunjuk keindahan. Siapapun kamu, dimanapun kamu berada, setidaknya sekali dalam hidupmu, berkunjunglah kesana, kawasan Bromo dengan segala pesona indahnya...[Heni Kurnia Ningsih]

...Keinget saat dimana badan harus bertarung dengan dinginnya udara subuh di Bromo. Kaki udah gabisa diajak rileks; beku, mati rasa. Nyaris awak nyerah, tertunduk meluk lutut dan menundukkan kepala. Tapi yang bikin heran, saat matahari mulai malu-malu menunjukkan sinarnya, udara yang dingin pun perlahan pergi berlalu. Terlihatlah pemandangan Bromo yang masya Allah, begitu mewahnya. Perlu memang, melihat sesuatu dari kejauhan agar terlihat betapa megahnya bumi Allah ini. Yang kami lihat saat itu, hanya setitik dari hebatnya ciptaan Allah. Yakin deh, di luaran sana banyak orang yang 'nyidam' untuk bisa menikmati kawasan wisata yang satu ini. Dan spot yang paling bikin hati girang serasa mau loncat, itu padang savana yang sedang ditumbuhi rumput ilalang. Masya Allah, istimewanya tempat ini. Hanyuuut sudah menikmatinya...[Tika Sari binti M. Rois]

Paket trip yang kami pakai ini adalah salah satu dari sekian banyaknya jasa open trip menuju Bromo. Hanya dengan membayar 250K per orang, kita tinggal ungkang-ungkang milih hari keberangkatan (sudah termasuk tiket masuk, jeep, antar jemput di meeting point, 7 destinasi). Berangkatnya setiap hari, ga hanya akhir pekan. Kita ga perlu repot-repot ngumpulin orang minimal sekian, satu orang tetap berangkat. Bapak driver jeepnya ramah dan sabar, membiarkan kami bereksplorasi kesana kemari. Kita minta kemana aja diturutin. Kekurangan dari open trip ini cuma gak ada dokumentasi.. Terus, kalo saya pribadi sebenarnya suka kalau dijelaskan mengenai tempat-tempat yang didatangi, tapi itu kurang kami dapat. Atau kaminya yang ga nanya kali yak?!

Pulang dari Bromo sampai di daerah Tumpang, rasa mual bersemi kembali. Ampun dah! Sepanjang jalan hanya komat-kamit ...Allahumma 'aafini fii badaniy... Sampai di RS Lavalette, Tika bergegas saya minta untuk membawa motor. Ampun dah (!) Gini ngakunya pejalan. Dikocok-kocok di dalam mobil jeep bentar doang aja keok -____-

*Narahubung open trip Bromo murah: 0823-3735-2107 (WA)
**Instagram: @pakettripbromo

Saturday, January 13, 2018

Semua Hal Tentang Cokelat di Wisata Edukasi Kampung Coklat Blitar, Jawa Timur


Coklat; Baik ia sebagai warna atau sebagai makanan, keduanya saya suka. Dikutip dari informasitips.com, coklat identik dengan warna tanah atau bumi. Warna ini melambangkan kebersahajaan, pondasi, stabilitas, kehangatan, rasa aman dan nyaman, rasa percaya, keanggunan, ketabahan, serta kejujuran. Kamu tipe orang yang tidak suka menonjolkan diri? berarti kamu sama kayak warna coklat. Disebutkan bahwa warna ini tidak mencari perhatian, ia membiarkan warna-warna lain yang bersinar #baikBanget #sayaBanget #uhuk

Coklat (sebagai makanan) juga tidak kalah keren pengaruhnya. Di dalam coklat terkandung zat phenethylamine yang memacu hormon endorfin dalam tubuh kita. Endorfin ini adalah hormon yang bertanggungjawab pada rasa bahagia. Jadi semakin banyak coklat yang kamu makan, semakin sakit gigi kamu ngerasa bahagia kayak bahagianya orang yang lagi kejatuhan cinta, bahagianya pegawai di awal bulan, bahagianya anak kost habis dapet kiriman bulanan, bahagianya seseorang yang lagi kebelet banget terus nemu toilet #eh

###

Demi memenuhi keinginan seorang nyonya yang ingin berkunjung ke Kampung Coklat yang ada di Blitar, dibuatlah rencana pergi kesana. Perjalanan dari Malang Kota ke Blitar ditempuh kurang lebih 2,5 jam. Mirip dengan perjalanan biasanya ke pantai di daerah Malang Selatan. Okelah, Insya Allah dapat ditempuh dengan sepeda motor. Dan sejujurnya saya memang lebih 'sehat' kemana pergi dengan motor daripada duduk nyaman di dalam mobil tapi tiba-tiba... huek! (ini curhat seorang pemabuk, sodara-sodara). Agak kesiangan kami memulai perjalanan. Jam 9 pagi bersama Nita dan Amel, kami ketemuan di pom bensin Sigura-gura. Seperti biasa, Rasulullah mengajarkan untuk memilih 'pemimpin' dalam setiap perjalanan yang kita lakukan agar tidak tersesat dan tak tahu arah jalan pulang #halah. Saya di depan memimpin jalan. Sejujurnya masih agak samar perjalanan menuju Kampung Coklat.

Dari Malang Kota sampai masuk gapura selamat datang di Kota Blitar, lancar jaya tanpa nyasar sana-sini. Begitu masuk Blitar, eh mulai bingung deh. Sempat kesasar lumayan jauh, balik lagi. Kira-kira setengah jam perjalanan lagi sampai di tempatnya, ban motor Nita bocor. Alhamdulillah ala kulli hal. Itu caranya Allah memberikan kami rehat. Nungguin ban motornya Nita diganti sambil shalat kemudian leyeh-leyeh di sebuah masjid di pinggir jalan.


Kurang lebih sejam kemudian kami memacu motor kembali menuju daerah Kademangan. Masih meraba-raba tujuan kami dengan bantuan Maps. Alhamdulillah sampai tepat di depannya. Lokasinya persis di pinggir jalan raya dengan beberapa rumah di sekitarnya yang membuka warung-warung dan jasa parkir. Suasananya mirip seperti di Masjid Turen Malang. Begitu masuk, langsung disambut informasi tentang coklat yang dipajang pada galeri di sepanjang dinding menuju loket tiket masuk. Keren!


Kesan pertama masuk tempat ini, i like that brown! Untuk masuk ke Kampung Coklat, pengunjung hanya harus membayar harga tiket masuk per orang 5K. Murah meriah Alhamdulillah. Bocah-bocah reek, baru sampai halaman depan sudah sibuk foto sana-sini. Apa yang kami dapat dengan tiket semurah itu? Kuy lah segera masuk daripada penasaran.





Sejarah berdirinya Wisata Edukasi Kampung Coklat yang berlokasi di Blitar ini cukup panjang (dapat dibaca pada papan informasi yang banyak terdapat di sepanjang tempat ini). Mulai dari tahun 2004 kemudian baru dibuka pada tahun 2014 (sepuluh tahun, men). Di awal berdirinya pun belum seluas saat ini. 


Kampung Coklat dibangun di area seluas 5 hektar. Besaaar. Satu hal yang saya senangi dari tempat ini adalah banyaknya kursi yang disediakan untuk pengunjung. Benar-benar mengutamakan ke-pewe-an. Ada banyak kursi untuk semua pengunjung. Jadi, ga perlu khawatir kalo ngajak orangtua atau sesepuh kemari ya. Capek jalan dikit langsung bisa duduk kok. Selain itu, ada beberapa pendopo yang bisa pengunjung 'jarak jauh' gunakan untuk tiduran maupun merebahkan kaki. Beberapa spot foto untuk penggemar swafoto juga disediakan #tenangAja


Fasilitas yang tersedia yang bisa pengunjung manfaatkan di Kampung Coklat ini antara lain live music, meeting room dan hall yang bisa pengunjung sewa untuk berbagai macam acara, cooking class, warung jajanan dan prasmanan khas Jawa Timur-an, playground, budidaya kakao, dan pengolahan cokelat. Mushola juga toilet, ada. Selain itu tersedia juga kolam terapi ikan untuk kaki-kaki kamu yang banyak kumannya hehe. Tapi ikannya kurang ganas sih #maluMalu


Kami masuk menuju Chocolate Gallery. Galeri ini sebenarnya semacam supermarket mini dimana di dalamnya dijual berbagai macam olahan coklat dan juga buah tangan khas Kampung Coklat. Harganya variatif dan terjangkau insya Allah. Terdapat juga bioskop mini yang bisa pengunjung masuki dengan membayar 5K saja.


Salah satu aktifitas menarik yang bisa dilakukan pengunjung di sini adalah memberi makan ikan. Awalnya saya agak heran, di salah satu sudut ada stand berupa meja dengan jualan makanan ikan di atasnya. Per bungkus kecil 2K. Buat apa sampai jualan makanan ikan begitu? Setelah mendekati parit buatan dan melihat sendiri banyaknya ikan dengan ukurannya yang besar-besar, terjawablah sudah keheranan saya. Ikannya masya Allah, nurut! Nyenengin banget kasih makan ikan-ikan itu sambil mendekatkan tangan kita ke mulut mereka. Kerennya, ikan-ikan ini memang sengaja disebar di sepanjang parit buatan yang mengelilingi gedung Gallery Chocolate. Buat saya, ini salah satu hal yang bikin kangen sama Kampung Coklat.


Nuansa coklat berpadu dengan hijau, adalah salah satu ciri khas Kampung Coklat. Deretan kursi-meja juga bangunan-bangunan yang menonjolkan warna coklat 'diselingi' dengan pohon coklat serta view persawahan juga tanam-tanaman dan bebungaan yang sengaja diletakkan di area ini tentu memberikan kesan sendiri bagi pengunjung. Hangat. Nyaman. Saya sebagai fans berat warna coklat, betah untuk berlama-lama menghabiskan waktu di sini.


Saya mengajak Tika untuk masuk ke bisokop mini. Di sini pengunjung akan diputarkan film pendek yang memaparkan sekilas tentang cokelat, Kampung Coklat dan juga cara pembuatan cokelat. Kamu penasaran gak sih, gimana ceritanya dari biji kakao yang pahit ungu begitu kemudian pada akhirnya bisa jadi coklat yang enak? Nah, jangan lewatkan untuk masuk ke bioskop mini ini ya. Ini salah satu bagian penting kalo pergi ke wisata edukasi, menurut saya. Ilmu baru. Kami masuk berbarengan dengan rombongan adik-adik unyu. Banyak sekali ilmu yang saya dapat yang akhirnya menjadi tambahan informasi baru untuk kelak dibagikan ke anak cucu #halah.


Tahukah kamu? 3 negara dengan produksi coklat terbanyak di dunia... Belanda, Swiss dan Jerman. Padahal mereka ini ga punya produksi biji coklat yang berasal dari pohon kakao itu. Lalu, diimpor dari mana? Biji coklat diimpor dari negara penghasil biji coklat, dong. Nih, 3 negara penghasil biji coklat terbesar di dunia... Pantai Gading, Ghana dan kemudian negara kita tercinta, Indonesia. Miris yak! Kita masuk tiga besar negara penghasil biji coklat, tapi belum bisa masuk deretan negara pemroduksi coklat. 


Sebelum pulang ke Malang, terlebih dahulu kami 'menjenguk' seorang adik yang sedang PKL di salah satu sekolah yang ada di Blitar. Haha hihi sampai waktu shalat Maghrib tiba hingga akhirnya kurang lebih sekitar pukul 6.30 pm baru memacu motor pulang kembali ke Malang. Ya Allah, lindungilah perjalanan pulang kami... Secara, udah gelap gitu masih di kota orang. Hujan pulak! Alhamdulillah tanpa hambatan berarti, hanya ngantuk dan sedikit cemas di hati, sampai kembali di Kota Malang tercinta dengan badan pegal-pegal dan perut yang keroncongan. Kasur mana kasuur!

Overall, jujur saja awalnya saya tidak terlalu tertarik pergi kemari. Biasa saja. Pasti ramai ribet dan bla bla bla lainnya. Tipe tempat 'sekali kunjung'. Tapi ternyata setelah datang langsung dan melihat bagaimana kerennya tempat ini dengan segala hal tentang coklat, manajemennya dan bagaimana pada akhirnya dengan adanya Kampung Coklat ini warga sekitar terberdayakan, saya ingin kesini lagi kapan-kapan. Sangat recommended untuk kunjungan keluarga, buat jomblo juga #tenangAja. Apalagi buat kamu pelahap coklat dan penyuka warna coklat. Mari nyoklat ke Kampung Coklat, mblo!