Kamis, 19 April 2018

Kediri Lagi, Lagi-lagi Kediri: Jelajah Tempat Wisata Hits di Kediri


Setiap orang memiliki kota kenangan, kota titik balik; kota kembali; kota yang akan ia ingat selalu di sepanjang hidupnya, walau itu adalah kota tempat lahirnya sendiri. Untuk saya, Kediri adalah kota dimana semua mimpi saya bermula. Kota yang saya akan selalu memiliki ikatan yang kuat dengannya. Sebagai salah satu kota terbesar di Jawa Timur (setelah Surabaya dan Malang), kota ini banyak dikunjungi oleh wisatawan. "Kediri Lagi" menjadi brand pariwisata yang diusung oleh kota asal Tahu Takwa ini. Konsep bahasa 'Kediri Lagi' dipilih karena bagian kebanggaan berbahasa Indonesia. Berarti juga merepresentasikan ungkapan ramah, sederhana dan keyakinan yang kuat mengenai Kabupaten Kediri yang akan terus menggali potensi yang dimilikinya. 'Lagi' diartikan sebagai ungkapan mengajak kembali wisatawan maupun investor (sumber Kompas travel).
Konsep bahasa "Kediri Lagi" dipilih karena bagian kebanggaan berbahasa Indonesia. Berarti juga merepresentasikan ungkapan ramah, sederhana, dan keyakinan yang kuat mengenai Kabupaten Kediri yang akan terus menerus menggali potensi dirinya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Kediri Lagi", Logo Pariwisata Terbaru Kediri ", https://travel.kompas.com/read/2015/03/18/180900827/.Kediri.Lagi.Logo.Pariwisata.Terbaru.Kediri..
Penulis : Kontributor Kediri, M Agus Fauzul Hakim
Konsep bahasa "Kediri Lagi" dipilih karena bagian kebanggaan berbahasa Indonesia. Berarti juga merepresentasikan ungkapan ramah, sederhana, dan keyakinan yang kuat mengenai Kabupaten Kediri yang akan terus menerus menggali potensi dirinya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Kediri Lagi", Logo Pariwisata Terbaru Kediri ", https://travel.kompas.com/read/2015/03/18/180900827/.Kediri.Lagi.Logo.Pariwisata.Terbaru.Kediri..
Penulis : Kontributor Kediri, M Agus Fauzul Hakim

Bolos Kerja Setengah Hari
Laut ga akan indah tanpa ombak yang nabrak kerasnya batu karang. Begitu juga dengan kerja, ga akan dinamis tanpa bolos-bolos dikiiit ajah. Ehe. Jumat siang (13/4/2018) sekitar pukul 13.30 saya dan Tika sudah siap melaju motor menuju Kota Tahu Kediri. Sengaja perjalanan kami lakukan siang ini, agar hari Minggu ada jeda waktu untuk istirahat sebelum Senin kembali bekerja. Sebelum memulai perjalanan panjang, isi bensin dulu full 30K. 

Perjalanan kami lalui dengan senang hati sampai pada satu titik (daerah Ngantang), saya merasa rizqi saya di dunia sudah habis sehingga Allah akan mencabut nyawa saya (dan Tika) saat itu, hiyyy!. Saat akan menyalip truk, tepat di depan kami ada motor melaju kencang dan kurang awas. P-A-S-R-A-H. Inikah akhir dari perjalanan saya di dunia? Alhamdulillah, masih Allah berikan kesempatan (lagi). Kurang sepersekian detik motor di hadapan kami itu tidak minggir, dan truk yang kami salip lebih kencang atau lebih lambat, habislah sudah. Lemas seluruh badan. Tika mencengkeram badan saya kencaaang. Alangkah dekatnya nyawa ini dengan malaikat maut jika sedang berkendara di jalan raya (ya).


Perjalanan kurang lebih 3 jam Malang - Kediri sungguh membuat urat-urat kaku dan tegang. Mampirlah kami sejenak di salah satu swalayan di Kampung Inggris. Istirahat tipis-tipis sambil sedikit nostalgi zaman les dulu. Kurang lebih jam 16.30 sampai di Kediri Kota. Sebelum pergi ke penginapan, kasih kejutan dulu untuk seseorang di boncengan saya yang tadi nyawanya sempat saya bahayakan, huhu.

Check-in Penginapan di Hotel Bismo Kediri
Menjelang maghrib kami menuju penginapan yang sebelumnya sudah saya cari infonya lewat Google Maps. Jadi enaknya kalau nyari lewat Maps itu, ada banyak review dan ulasan dari pengunjung. Ya ga terlalu update sih memang, cuma lumayanlah untuk informasi tambahan. Ada info lengkap tentang penginapan yang kita cari (nomor telpon, alamat, foto dan sebagainya). Penginapan yang kami tuju adalah Hotel Bismo yang letaknya cukup strategis di pusat kota, samping Alun-alun Kediri. Depan hotel pas, terdapat sentra wisata kuliner. Mau makan apa tinggal pilih. Mau kemana-mana juga ga terlalu jauh. Strategis dah pokonya mah.


Kalo untuk gembel traveler or budget traveler, hotel ini lumayan banget buat nginap. Salah satu yang paling murah setelah saya cari sana-sini. Awalnya pengen nyobain yang 'mewah' sekalian (punya cita-cita mulia; sebelum nikah bisa staycation di hotel yang handuk sama sandalnya bisa dibawa pulang hohoh!). Tapi kata Tika, "Mbak, kita khan cuma butuh buat tidur malam aja. Besoknya udah pergi pagi-pagi terus pulang ke Malang. Yang murah aja lah". Iyasih. Nurut.


Harga kamar junior 80K. Fasilitasnya single bed, kamar mandi dalam yang udah ada sabunnya, kipas angin (tua dan berisik bunyinya), serta roti dan segelas teh manis di pagi hari. Kamar standard B 120K, standard A 165K, VIP 225K, dan Family 265K (harga per Maret 2018). Kalo mau yang nyaman, mending pilih kamar AC sekalian. Kediri ini sungguh panasnya subhanallah.

Ke Simpang Lima Gumul Malam-Malam
Setelah mandi-yang tetep kepanasan itu, kami bersiap untuk keluar lagi. Kasian Tika sebenarnya. Terlihat jelas gurat-gurat kelelahan di wajahnya, uhuk. Belum lagi dismenore yang menyerangnya siang tadi sebelum berangkat. Tapi saya sudah menyusun invisible itinerary yang dia tidak tahu dan katanya ngikut aja, yaudah deh harus nurut hihi. Tujuan malam ini adalah Monumen SLG. Epik kayaknya lihat monumen gagah ini malam-malam. Sebelum ke Gumul, saya berencana mampir sebentar ngeliat pabrik rokok Gudang Garam.

Muter sana-sini, akhirnya ketemu juga kompleksnya. Duh, besarnya. Fyi, pabrik ini dibangun dari tahun 1958 lho. Sampai dengan sekarang, pabrik ini 'menghidupi' sebagian besar masyarakat Kediri. Pros dan Kons juga sih ya. Dari dulu perdebatan tentang rokok ga pernah ada habisnya. Pusing aing! Ga sempet berhenti atau moto pabriknya, takut disemprit sama satpam karena tindakan mencurigakan.

Sampai di Simpang Lima Gumul, bingung cari parkiran masuk. Berkali-kali kesini, dan berkali-kali pula bingung. Nemu deh tempat parkir, yang ke arah Kediri kota. Bukannya masuk dan memarkirkan motor, saya mengarahkan motor ke median jalan. Ada beberapa anak muda yang sedang nongkrong disitu (berarti aman dari polisi). Kami parkir motor di situ dan menikmati Arc de Triomphe-nya Kediri ini dengan jelas dari kejauhan. Tak lama asik mengabadikan momen, "Mbak, pulang yuk", ajak Tika dengan memelas dan ngantuk. Iyelaaah -_-


Pulang dari Gumul kami beli makan di pojokan trotoar samping alun-alun. Saya membeli lalapan wader (12K) dan Tika lalapan Nila (15K). Wiih, porsinya kuli. Susah payah kami menghabiskan. Tapi enak sih, recommended lah kalo pas kebetulan nyari makan di deket alun-alun. Apalagi makannya pas kelaperan #kayakKami.

Kenyang. Ngantuk.
Saatnya istirahat, saatnya menikmati hotel harga 80K yang kami pesan. Panasnya kota ini ya Allah. Kami buka jendela hotel yang berada di lantai 2 itu. Tika sudah tertidur sedari tadi. Saya masih asik main hape sambil awas memperhatikan semut gatal yang satu dua nongol di atas kasur. Tidur kurang nyenyak karena udara panas dan suara kipas angin tuwek.


Sunrise yang indah dari jendela hotel. Sinarnya yang cerah membangkitkan kembali semangat kami dan mengobati lelah hari kemarin. Demi keefektifan waktu, pagi-pagi kami langsung cek-out agar bisa langsung menuju tempat yang kami tuju, hiyaaah. Jatah kami berada di kota ini hanya sampai Sabtu sore ini saja. Serem banget kiranya harus lewat jalanan Kediri - Malang pada malam hari.

Giving Surprise ke Kebun Bunga Matahari Kediri
Salah satu akhlak yang paling baik adalah, menyenangkan hati oranglain (masih dalam koridor syar'i dong pastinya). Demi menyenangkan hati seseorang, saya tahu harus membawanya kemana.
"Mauk kemana aja di Kediri?", tanya saya pada Tika, demokratis.
"Ikut Mbak aja", jawabnya.
"Yakin?", berulang kali saya meyakinkan bahwa saya gapapa kok di-request-in ingin pergi kemana.
"Iya".
Oke berarti fix Tika belum tahu kalo ada kebun Bunga Matahari di Kediri. Tapi sengaja tidak saya beritahukan terlebih dahulu, karena belum pasti apakah sedang berbunga atau tidak. Daripada kecewa di awal, lebih baik bahagia di akhir (?). Sebenarnya sore kemarin sebelum cek-in ke Hotel Bismo, kami sudah sempat kesini. Berhubung sudah kesorean, Tika minta pokonya besok balik lagi kesini!. Okey, nurut aja deh.

Penjaga kebun *mauknya
Ada yang butuh kehangatan? Sok kesini aja atuh
Kebun Bunga Matahari di Kediri ini masuk 5 besar daftar kebun Bunga Matahari yang ada di Indonesia. Lumayan luas. Masuk sini gratis tanpa tiket masuk dan gada parkir. Sore pas kesini kemarin hanya ada satu dua orang, begitupun pagi ini. Kebun Bunga Matahari ini berada persis di sebelah kantor BNN Kota Kediri. Lahan kosong milik pemerintah yang sengaja ditanami Bunga Matahari. Keren ya.


Sebahagia Tika melihat kebun Bunga Matahari ini, sebahagia itu pula saya bisa membawanya kemari. Bunganya sedang mekar semua. Seneng banget liatnya. Itu seperti kamu melihat semua orang tersenyum cerah dan hangat padamu. Cobain deh.


Makan Siang Serba Lele di Wisata Kampung Lele Kediri
Yang suka makan lele, ngacuung! Untuk kamu lele lovers harus banget mampir ke Wisata Kampung Lele di Desa Ngadiluwih, Kediri. Berbagai olahan lele siap menjawab penasaran kamu, 'lele bisa diolah jadi apa aja sih?'. Jarak dari Kota Kediri ke Kampung Lele ini sekitar 20 menit perjalanan (dengan asumsi langsung sampai, ga pake nyasar-nyasar). Sampai di tempatnya, sudah ramai motor terparkir. Wih. Karena akhir pekan dan tanggal merah, banyak keluarga yang datang membawa anak-anak untuk berenang. Tidak ada biaya masuk, hanya parkir 2K.


Perkiraan saya, tempat ini masih ramai oleh penduduk setempat saja, belum banyak yang datang dari luar kota atau tempat jauh. Masih baru sih memang, saya kepoin tempat ini lewat IG. Suasananya 'ndeso' banget dan ini yang bikin betah. Sembari menunggui anaknya berenang, para orang tua bisa bersantai di saung-saung yang sudah disediakan sambil memesan olahan serba lele. Tapi kalo pas lagi liburan gini kurang banyak saungnya; kami sempat terlunta-lunta nyari tempat buat duduk dan ngadem. Pohonnya masih pendek-pendek, belum rimbun karena masih belum lama ditanam. Oke saatnya fokus ke tujuan awal kami kesini: makan! Langsung pesan dan bayar di kasir. Murah meriah Alhamdulillah harganya. Menu yang kami pesan sate lele plus nasi (17K), lele terbang (10K), dua gelas es jeruk (6K), nugget lele (5K) dan sempol lele (5K). Nikmatnya, sodara-sodara! Baru kali ini makan lele yang dijadiin sate. Perpaduan antara lembutnya daging lele, dibakar dengan baluran kecap yang manis, dimakan pakai bumbu kacang gurih, wiiih. Ngangenin! Nugget dan sempolnya juga recommended. Kerasa banget ikan lelenya. Teksturnya juga lembut.


Overall, semoga kedepannya Wisata Kampung Lele ini terus berbenah. Lahannya dilebarkan, saung-saung ditambah, dan wisata edukasinya benar-benar diberikan kepada pengunjung. Saya sempat lihat di banner sudah dikunjungi oleh Ibu Bupati Kediri saat pembukaannya. Harapannya, tempat semacam ini bisa membantu mengangkat perekonomian warga sekitar, seperti Kampung Coklat di Blitar.

Baca juga: Serba Cokelat di Wisata Edukasi Kampung Coklat

Perjalanan Panjang dan Penuh Liku Menuju Gunung Kelud
Biarlah judulnya selebay itu; sepadan dengan perjalanan yang kami lalui -_- Kenyang makan sepiring sate lele dan prentelan-prentelannya, saatnya menuju destinasi terakhir kami di Kediri sebelum pulang ke Malang. Salah satu destinasi andalan Jatim yang kepemilikannya jadi sengketa antara Kediri dan Blitar; Gunung Kelud. Daripada bolak-balik kalo misalkan berangkat lewat Gumul, saya menyetel Maps menuju Kelud dari Desa Ngadiluwih Kediri. Estimasi perjalanan sekitar 1 jam lewat 20 menit. Kami berangkat dari Kampung Lele sekitar pukul 11.30 siang. Membaca Maps, meraba-raba perjalanan. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada mobil menyalip kemudian seorang ibu sedikit berteriak memberitahu kamu, "Mbaak, jaketnya". Ternyata jaket Tika mau jatuh -_- Kirain apa, masih trauma perjalanan pergi kemarin. Ya Allah, semoga Engkau berikan keberkahan kepada ibu itu (dan seluruh keluarganya) yang sudah peduli pada kami.

Jalanan aspal halus mulus lalu kemudian rusak-rusak kami lewati. Semakin diikuti, kok semakin masuk ke pelosok-pelosok desa. Karena bensin sudah mau habis, mampirlah kami di sebuah warung, isi bensin. Setelah bertanya sedikit dengan ibu warung, baru nyadar kalo kami berada di Blitar (lho?). Apakah kami nyasar sehingga sampai di Blitar? Kamipun tak tahu, yang pasti Maps mengarahkan kami sampai di tempat ini. Masih bingung, dan mengikuti terus saja apa maunya Maps ini. Hingga tiba pada satu titik dimana arah Maps dan penunjuk jalan berbeda. Bingung lah mana pulak yang mau kami ikuti ini. Belum lagi capek, belum lagi puanas cuacanya. Ya Allah... tunjukilah kami jalan yang lurus, bukan jalan yang nyasar dan bukan pula jalan yang mentok.


Apakah ini yang dinamakan istiqomah membawa sesat? Patuh mengikuti Maps malah membawa kami sampai ke pinggir sungai! Ya Allah... Emosi rasanya. Menenangkan diri sebentar. Akhirnya pakai Gunakan Penduduk Setempat (GPS). Dijelaskan ini itu, ya masih pusing juga, karena benar-benar ga ngerti sedang dimana kami saat ini. Kami seperti tersasar di Planet Namex. Rasanya pengen ngajak duet Cakra Khan...aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang....ou woooo! -__-

Baca juga: Kunjungan ke Kediri Lagi

(Bukan) Menjejak Gunung Kelud
Dari yang seharusnya pukul 12.30 sudah sampai, nyatanya kami baru masuk gerbang loket tiket Gunung Kelud sekitar pukul 13.30. Molor sejam wasting time ngikutin Maps yang entah maunya kemana. Sudahlah lupakan perjalanan yang bikin keringetan dan emosi tadi. Ada yang lebih penting untuk disyukuri; Gunung Kelud di depan mata. Oiya tiket masuk Gunung Kelud per orang 10K plus parkir motor 3K.

Dari parkiran motor terakhir, perlahan-lahan kami 'mendaki' jalanan aspal menuju titik terdekat ke Gunung Kelud. Sebelumnya, jalanan ini masih bisa dilalui kendaraan, namun karena beberapa bagian rusak dan membahayakan yang diakibatkan letusan tahun 2014, jadilah hanya sampai titik tertentu mobil dan motor boleh naik. Lumayanlah 'olah kaki'. Walau kelihatannya melelahkan, nyatanya banyak anak-anak, kakek-nenek dan ibu-ibu yang tampak santai 'mendaki'. Saya sih teteup, jarak sekian meter berhenti mengatur nafas, hosh hosh...


Jadi sebenarnya kalau sebelum tahun 2014, sebelum meletus, pengunjung akan benar-benar melihat Gunung Kelud dari dekat. Setelah meletus itu, pengunjung hanya diperbolehkan sampai di titik tertentu saja karena kawasan Gunung Kelud dan sekitarnya masih dalam tahap perbaikan dan rehabilitasi. 


Yang selalu keren dari kawasan Gunung Kelud ini adalah bebukitan hijau di sekitarnya yang tampak mistik dan eksotik. Dari atas sini bisa kita saksikan Kota Kediri di kejauhan sana. Vegetasi hijau tampak me-recovery perbukitan yang terdampak oleh letusan hebat tahun 2014 silam. Fyi, sebenarnya Gunung Kelud ini adalah gunung aktif paling friendly yang bisa disaksikan dari dekat oleh pengunjung. Namun semua berubah semenjak lahar dan lava Kelud menyerang. Letusan tahun 2014 telah merubah hampir 100% wajah Kelud.

Sampai di atas, ada himbauan dilarang masuk. Hanya sampai di situ saja akhir dari perjalanan ngos-ngosan kami. Meski himbauan untuk tidak melewati pagar dapat pengunjung baca dengan sangat jelas, masih ada saja yang nekat menerobos melalui celah-celah yang ada. Percayalah guys, keindahan itu hanya akan diberikan pada orang-orang yang sabar, ciyeh #qotd.


Entah mulai kapan kawasan Gunung Kelud (yang sebenarnya) akan dibuka untuk umum. Tapi sebenarnya kalau lewat Blitar, bisa melihat ke danau kawahnya langsung namun treknya lebih terjal dan tidak mungkin dilalui oleh keluarga. Kalo kamu tipe traveler pemburu spot-spot selfie, kini di jalanan masuk menuju Kelud banyak tempat wisata seperti Rumah Durian, Rumah Coklat, Rumah Madu, Taman Bunga, dan beberapa tempat menarik lainnya. Tinggal pilih deh. Oiya kalo berkunjung ke Kelud, jangan lupa untuk membeli nanas yang dijual sepanjang jalur menuju Kelud. Jalan-jalan belum lengkap bila belum membawakan jajanan khas sebagai buah tangan, cmiiw!

Malang, Home Sweet Home
Mendung tampak menggelayut di bawah sana. Saatnya pulang. Belum ada setengah jam perjalanan, hujan mengguyur lebat. Ya Allah, tak pernah tertinggal kisah 'kehujanan' di setiap episode traveling yang kami lewati, uhuy. Sampai di Pasar Wates Kediri, ada dua pilihan jalan terbentang. Langsung menuju Pare atau lewat Simpang Lima Gumul. Rencana awal, lewat Gumul kemudian mampir sebentar ke Monumen SLG (lagian saya taunya jalan lewat situ). Bismillah, setelah melobi Tika, ('insyaallah nanti ke Gumul-nya lain kali kalo ada kesempatan lagi ya') kami lewat jalan yang langsung menuju Pare. Isi bensin full sekali lagi sebelum perjalanan pulang (28K). Ternyata lebih dekat, karena kami tidak perlu memutar lewat Gumul. Tau-tau langsung di Pare.

Jalanan menantang adalah sepanjang Kasembon sampai dengan Kota Batu. Untung saja Tika yang bawa. Walau hanya bisa jadi buntutnya mobil-mobil, setidaknya kami aman. Sampai daerah bawah paralayang, macet ga karuan. Kebayang gak sih macet di turunan tajam nan curam? Kota Batu selalu padat tiap akhir pekan dan liburan panjang. Sedikit lebih lama karena padatnya kendaraan, Alhamdulillah biidznillah sekitar habis Isya, berakhirlah perjalanan panjang Malang - Kediri - Malang.
Welcome home Malang-ku yang sejuk (namun sekarang mulai puanasss).
Konsep bahasa "Kediri Lagi" dipilih karena bagian kebanggaan berbahasa Indonesia. Berarti juga merepresentasikan ungkapan ramah, sederhana, dan keyakinan yang kuat mengenai Kabupaten Kediri yang akan terus menerus menggali potensi dirinya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Kediri Lagi", Logo Pariwisata Terbaru Kediri ", https://travel.kompas.com/read/2015/03/18/180900827/.Kediri.Lagi.Logo.Pariwisata.Terbaru.Kediri..
Penulis : Kontributor Kediri, M Agus Fauzul Hakim
Konsep bahasa "Kediri Lagi" dipilih karena bagian kebanggaan berbahasa Indonesia. Berarti juga merepresentasikan ungkapan ramah, sederhana, dan keyakinan yang kuat mengenai Kabupaten Kediri yang akan terus menerus menggali potensi dirinya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Kediri Lagi", Logo Pariwisata Terbaru Kediri ", https://travel.kompas.com/read/2015/03/18/180900827/.Kediri.Lagi.Logo.Pariwisata.Terbaru.Kediri..
Penulis : Kontributor Kediri, M Agus Fauzul Hakim
Konsep bahasa "Kediri Lagi" dipilih karena bagian kebanggaan berbahasa Indonesia. Berarti juga merepresentasikan ungkapan ramah, sederhana, dan keyakinan yang kuat mengenai Kabupaten Kediri yang akan terus menerus menggali potensi dirinya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Kediri Lagi", Logo Pariwisata Terbaru Kediri ", https://travel.kompas.com/read/2015/03/18/180900827/.Kediri.Lagi.Logo.Pariwisata.Terbaru.Kediri..
Penulis : Kontributor Kediri, M Agus Fauzul Hakim
Konsep bahasa "Kediri Lagi" dipilih karena bagian kebanggaan berbahasa Indonesia. Berarti juga merepresentasikan ungkapan ramah, sederhana, dan keyakinan yang kuat mengenai Kabupaten Kediri yang akan terus menerus menggali potensi dirinya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Kediri Lagi", Logo Pariwisata Terbaru Kediri ", https://travel.kompas.com/read/2015/03/18/180900827/.Kediri.Lagi.Logo.Pariwisata.Terbaru.Kediri..
Penulis : Kontributor Kediri, M Agus Fauzul Hakim
Konsep bahasa "Kediri Lagi" dipilih karena bagian kebanggaan berbahasa Indonesia. Berarti juga merepresentasikan ungkapan ramah, sederhana, dan keyakinan yang kuat mengenai Kabupaten Kediri yang akan terus menerus menggali potensi dirinya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Kediri Lagi", Logo Pariwisata Terbaru Kediri ", https://travel.kompas.com/read/2015/03/18/180900827/.Kediri.Lagi.Logo.Pariwisata.Terbaru.Kediri..
Penulis : Kontributor Kediri, M Agus Fauzul Hakim

Senin, 19 Maret 2018

Escape to Dieng Plateau: Tempat-tempat yang Harus Dikunjungi di Dataran Tinggi Dieng


Ada satu tempat yang saya impikan dari zaman dahulu kala; sebelum suka main kesana-sini, sebelum Allah berikan kesempatan untuk 'berani' menjelajah bumi-Nya. Tempat yang saya saksikan keelokannya pertama kali lewat layar kaca dan seiring waktu berganti belum terpikirkan bagaimana caranya saya untuk bisa kesana. Dataran Tinggi Dieng. Tanah Dewa Dewi. Terletak diantara dua kota besar di Jawa Tengah, Wonosobo dan Banjarnegara. Hingga pada suatu waktu, sembari 'mengantar' seorang adik mengunjungi temannya di Jogja, wanderlust saya memberikan sebuah ide: sekali jalan, dua tempat terlampaui. Saya ajak Tika sekalian untuk ke Dieng.

"Sebelumnya tau gak tempat ini (Dieng)?", tanya saya pada Tika.

"Engga Mbak", jawabnya polos.

Gubrak. 

Perjalanan kami mulai dari Jogja (ternyata setelah saya cari-cari, dari daerah timur banyak yang ke Jogja dulu untuk transit kemudian melanjutkan perjalanan ke Wonosobo). Di jogja, tak lupa bersilaturahim dengan seorang mbak yang baiknya kebangetan (uhuk!) yang dulu sekantor di Malang. Sebut saja ia Mbak Muna. Beliau jadi abdi negara di Jogja. Niatnya sewa motor untuk keliling Jogja dan Dieng, Alhamdulillah dipinjamkan si Ucup, motor Mio Scoopy kesayangan beliau.

Dataran Tinggi Dieng adalah kawasan vulkanik aktif di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Dieng memiliki ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000 m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 12—20 °C di siang hari dan 6—10 °C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian. Secara administrasi, Dieng merupakan wilayah Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng ("Dieng Wetan"), Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Wilayah ini merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah. [Wikipedia]

Berbekal mengucap nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan tenaga tambahan setelah sebelumnya 'numpang' tidur siang di kost teman Tika, dimulailah perjalanan kami mengarungi jalanan lintas Jateng (kurang lebih pukul setengah 2 siang). Jalanan padat kendaraan, jalanan sepi dengan view memanjakan mata, sampai jalanan curam nan terjal terlewati. Sekitar Maghrib menjelang, Alhamdulillah sampailah kami di daerah Kejajar, Dieng Wonosobo. Langsung check-in ke Penginapan Bu Djono yang beberapa hari sebelumnya sudah saya booking. Saatnya rehat dan mengendurkan urat-urat. Hanya satu pikiran yang terlintas saat itu, "males mandi (!)". Dinginnya ya Allah...

Rute yang kami lewati: Kota Jogja - Sleman - Tempel - Magelang - Secang - Temanggung - Parakan - Kertek - Wonosobo - Garung - Kejajar - Dieng.

Transportasi ke Dieng
Seperti halnya menuju Roma, banyak juga jalan menuju Dieng. Kalau mau naik pesawat, bandara terdekat adalah Bandara Adi Sucipto di Jogja. Dari sini kamu bisa lanjut dengan bus atau sewa mobil/motor. Mau naik kereta jugak bisa. Ambil kereta jurusan Purwokerto atau Jogja kemudian lanjut naik angkutan umum (bus). Pada dasarnya, semakin mutus-mutus berarti biayanya semakin murah. Dan sebaliknya.

Penginapan?
Sebagai salah satu tempat wisata yang tersohor di Indonesia sejak zaman dulu kala, penginapan tumbuh subur di wilayah ini. Selain kamu bisa cari di agen booking hotel online dengan pilihan budget yang bisa disesuaikan, kamu juga bisa cari review-nya di blog orang (saya pilih yang kedua). 

Setelah cari sana-sini di internet, saya japri langsung via WA di Penginapan Bu Djono yang murah meriah. Review penginapan ini juga bagus dan cukup memuaskan. Tersedia air panas (awalnya ga terlalu mentingin, ternyata baru sampai disana langsung terjawab betapa harusnya kamu cari penginapan yang ada fasilitas air panasnya). Mamasnya ramah, baik hati tidak sombong. Kami diberikan pengarahan harus kemana saja dan mana tempat untuk didatangi terlebih dahulu (agar efektif). Kalo mau nginap di sini, jangan lupa booking dari jauh-jauh hari ya.

Naik apa selama di Dieng?
Daerah Dataran Tinggi Dieng semacam satu kawasan yang lokasi wisatanya saling berdekatan. Saran saya untuk benar-benar bisa menikmati berlibur di tempat ini, ada baiknya untuk sewa mobil (untuk banyak orang atau keluarga) atau motor. Selain lebih fleksibel, mau kemana-mana juga mudah. Jangan berharap banyak pada angkutan umum di daerah sini. Ribet, men.

Dataran tinggi Dieng (DTD) adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, seperti Yellowstone ataupun Dataran Tinggi Tengger. Sesungguhnya ia adalah kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya. Terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya. Keadaan ini sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah itu, terbukti dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979. Tidak hanya gas beracun, tetapi juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi, letusan lumpur, tanah longsor, dan banjir. Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan. Secara biologi, aktivitas vulkanik di Dieng menarik karena ditemukan di air-air panas di dekat kawah beberapa spesies bakteri termofilik ("suka panas") yang dapat dipakai untuk menyingkap kehidupan awal di bumi. [Wikipedia]

Ngapain aja di Dieng?
Kawasan Dataran Tinggi Dieng layaknya tempat berlibur keluarga yang sangat pas dengan keindahan dan kekayaan alamnya, udara yang sejuk, fenomena alam serta warisan cagar budaya untuk menambah ilmu pengetahuan serta mengenang masa lalu dan mengambil ibrah dan hikmah dari bencana dan fenomena alam yang pernah terjadi di sana. Lalu apa saja aktifitas menyenangkan yang bisa kita lakukan di sana? Cekidot, yak!

Catching golden sunrise on Puncak Sikunir dan menyaksikan deretan pegunungan di Jawa Tengah dari Negeri Atas Awan
Kalau kamu ketik di Google, 'best golden sunrise in Indonesia' maka jawaban pertama yang muncul adalah Dieng (Sikunir atau Gunung Prau). Menurut beberapa ulasan website perjalanan, Puncak Sikunir adalah salah satu tempat menyaksikan golden sunrise terbaik di Indonesia. So, how to catch the sun? Di tengah nyenyaknya tidur malam kamu karena udara yang begitu dingin, setel alarm jam 3 malam (atau untuk berjaga-jaga bisa pesan pada penjaga penginapan untuk membangunkan). Jangan lupa pakai jaket tebalmu karena dibutuhkan perjuangan ekstra melawan udara dingin yang minus sekian derajat celcius (apalagi kalau naik motor dan agak gelap karena kabut lumayan tebal). Untuk sampai ke Puncak Sikunir, siapkan stamina untuk trekking yang lumayan, tapi banyak ibu-ibu yang masih bisa sampai atas kok (patokannya ibu-ibu!). Jangan lupa shalat subuh dulu, bisa di tempat parkir sebelum naik, atau jaga wudhu terus shalat di puncak (kalo khawatir ga keburu).

Sekitar 1 jam trekking, sampai di atas, akan sudah banyak orang-orang yang juga menunggu sunrise. Pilih tempat terbaik. Dan kemudian sabar. Maha Baik Allah dengan segala keindahan yang Ia ciptakan. Perlahan semburat jingga mulai terlihat di ufuk timur. Ada awan hitam sisa semalam yang masih menaungi; bertanya-tanya dalam hati: ini mendung atau memang belum waktunya sang surya untuk menampakkan diri? Detik ke menit, menit ke jam; sang surya yang tidak pernah lebih lambat atau lebih cepat datang; selalu tepat waktu, persis seperti yang diperintahkan oleh Rabb-nya. 

That's sunrise!
The golden one.


Setelah sampai Puncak Sikunir dan menyaksikan matahari terbit, jangan terlena atau hanya berleha-leha ya. Banyak spot ketje yang bisa kamu eksplor keindahannya. Naik dan terus naik ke atas dimana ada bekas jalan setapak, ikutin aja terus. Kamu bakal nemu gardu pandang Dieng yang epik banget di foto dari kejauhan. Gunung Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, dan beberapa puncak gunung lainnya terlihat jelas dari sini. Menikmati matahari bersinar dari atas sini, dengan udara yang sejuk tak terlalu menyengat, maka ni'mat dari Allah mana lagi yang bisa didustakan?!


Panas-panasan uap di Kawah Sikidang
Dataran Tinggi Dieng adalah wilayah epik dengan kawah-kawah yang tersebar di wilayahnya. Salah satu yang lumayan 'jinak' dan ramai dikunjungi adalah Kawah Sikidang. Sewaktu saya kemari, hari sudah sangat sore, after rain. Tidak ada pengunjung lain selain saya dengan Tika. Mistis-mistis gimana gitu (jadi inget film Kera Sakti episode lagi di kayangan). Asap menyembul dari dalam tanah. Ada juga semacam kawah dengan air belerang yang mendidih (telor rebus mode on). Tidak berlama-lama di tempat ini, karena asap belerang yang pekat mengganggu fungsi pernapasan kami. Sudah cukup waktu beberapa saat untuk mengagumi ciptaan Allah yang begitu keren ini. Masya Allah!

Sikidang adalah kawah di DTD yang paling populer dikunjungi wisatawan karena paling mudah dicapai. Kawah ini terkenal karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah di dalam suatu kawasan luas. Dari karakter inilah namanya berasal karena penduduk setempat melihatnya berpindah-pindah seperti kijang (kidang dalam bahasa Jawa). [Wikipedia]


Flashback Dieng masa lampau di Dieng Plateau Theater
Walaupun terkenal sebagai daerah yang indah, ternyata Dieng di masa lampau banyak menyimpan kenangan pilu. Sudah berapa nyawa yang melayang akibat gas beracun ataupun kawah yang meletus di kawasan ini. Dieng seperti sebuah wilayah yang memiliki bom waktu, yang bisa meletus kapan saja. Dalam gedung teater mini ini kita akan disuguhkan selayang pandang Dieng Plateau; kekayaan alamnya, adat budaya, keunikan, serta bencana alam yang pernah terjadi dan sampai saat ini masih terus mengancam penduduk Dieng.
  

Nyobain kentang khas Dieng
Dataran Tinggi Dieng merupakan salah satu daerah penghasil kentang tertinggi di Indonesia. Jadi kalo kamu ke Dieng, wajib banget namanya makan kentang. Kentang disini banyak olahannya. Everyday kentang lah pokonyaaa. Surganya kentang lover. Harganya variatif. Bisa beli kentang goreng di tiap warung makan yang ada di sana. Ada juga yang berupa jajanan pinggir jalan. Beli kentang mentah untuk dibawa sebagai oleh-oleh juga bisa. Jangan terlewat untuk cobain juga kentang mini yang dijual sepanjang jalur naik ke Sikunir.
 

Napaktilas sejarah di Kompleks Candi Arjuna
Selain berwisata alam, di Dieng kita juga bisa belajar sejarah masa lampau lewat beberapa situs candi yang tersebar di beberapa titik. Salah satu yang harus dikunjungi adalah kawasan Candi Arjuna yang letaknya cukup strategis. Situs candi yang merupakan bekas peninggalan kerajaan Hindu ini merupakan salah satu bukti tertua masuknya agama Hindu di Indonesia. Tapi yang menakjubkan, menurut informasi penduduk sekitar, saat ini hampir seluruh masyarakat Dieng beragama Islam.
 

Jangan lupa nyobain makanan khas Wonosobo, Mie Ongklok
Salah satu yang ngebuat kita pengen balik lagi ke suatu tempat yang udah kita datengin itu apa? saya: kulinernya! Jadi kalo pergi kemana-mana, selalu cari makanan khasnya. Mie ongklok- agak aneh terdengar- mirip mie ayam, cuma ini lebih kental kuahnya. Istimewanya, makannya ditambah dengan seporsi sate sapi dan tempe kemul (kemul = selimut). Salah satu kedai Mie Ongklok yang harus pake banget kamu cobain adalah Mie Ongklok Longkrang yang ada di Kota Wonosobo. Sekitar 45 menit dari Dieng. Kalo perjalanan pulang ke arah Jogja, insyaallah ngelewatin. Jangan lupa cobain dan siap-siap kangen deh sama rasanya. (Harga seporsi Mie Ongklok Longkrang = gatau, karena ditraktir oleh seorang teman yang rumahnya di Wonosobo)
 

Trekking santai ke Bukit Batu Pandang Ratapan Angin; tempat menyaksikan Telaga Warna dan Telaga Pengilon
Ada sesuatu yang terlihat indahnya ketika dipandang dari kejauhan. Untuk tujuan itulah saya dan Tika 'mendaki' Bukit Batu Pandang Ratapan Angin untuk menyaksikan Telaga Warna dari kejauhan. Ada beberapa spot cantik tempat kamu bisa mengabadikan momen dengan latar belakang Telaga Warna dan Telaga Pengilon di kejauhan sana. Walau judulnya 'bukit', tenang saja, untuk orang yang sudah berumur bisa kok mendatangi tempat ini. yang penting ati-atiii aja.


Telaga Warna yang suka berubah-ubah warna
Turun dari Bukit Batu Pandang Ratapan Angin, saatnya mendekat langsung pada Telaga Warna. Whiii masya Allah. Telaga yang kadang warnanya hijau, lalu biru kemudian kuning ini menjadi beda-beda warnanya karena kandungan sulfur yang tinggi berpadu dengan sinar matahari. Di sisi telaga, ada jogging track yang bisa kamu ikutin sembari jalan santai sambil mengobrol mengelilingi telaga ini.

Telaga Warna, sebuah telaga yang sering memunculkan nuansa warna merah, hijau, biru, putih, dan lembayung, Telaga Pengilon, yang letaknya bersebelahan persis dengan Telaga Warna, uniknya warna air di telaga ini bening seperti tidak tercampur belerang. Keunikan lain adalah yang membatasi Telaga Warna dengan Telaga Pengilon hanyalah rerumputan yang terbentuk seperti rawa kecil. Telaga Merdada, adalah merupakan yang terbesar di antara telaga yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Airnya yang tidak pernah surut dijadikan sebagai pengairan untuk ladang pertanian. Bahkan Telaga ini juga digunakan para pemancing untuk menyalurkan hobi atau juga wisatawan yang sekadar berkeliling dengan perahu kecil yang disewakan oleh penduduk setempat. [Wikipedia]


Visiting Desa Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa
Sembungan merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa yang ga perlu payah kamu daki, bisa didatangi dengan naik kendaraan. Desa sejuk yang menawarkan panorama khas pedesaan ini berada pada ketinggian 2.306 mdpl ini (masih lebih tinggi dari Desa Argosari Lumajang (2.000 mdpl), Desa Ranu Pani (2.100 mdpl). Kalo kamu berencana untuk berburu golden sunrise Sikunir, bisa menginap di desa ini. Tersedia banyak homestay yang bisa kamu sesuaikan dengan budget. Mau coba untuk merasakan berbaur bersama penduduk asli Dieng, melihat keseharian mereka beraktifitas, cobalah untuk berada lebih lama di desa ini. 


Well, Perjalanan di atas adalah gambaran trip selama 3 hari 2 malam. Jika kamu memiliki lebih banyak waktu (saya rasa 3 hari 3 malam cukup), kamu bisa mengeksplor lebih banyak lagi tempat yang ada di kawasan Dataran Tinggi Dieng ini. Selain itu, waktu yang lebih banyak juga bisa kamu gunakan untuk berburu golden sunrise Sikunir yang cuacanya ga selalu cerah. Pertimbangan lainnya, ada banyak waktu untuk mengeksplor, merenungi, mentafakkuri berbagai fenomena alam yang ada di sini sehingga bisa kita ambil hikmah maupun ibrahnya (ga cuma main- main dan liburan aja).

Dieng adalah salah satu 'tanda' betapa kerennya Allah menciptakan bumi yang kita diami ini. Dengan rahmat dan sayang-Nya, Dia jadikan bumi ini seimbang; Adanya Dataran Tinggi Dieng yang rawan bencana namun begitu subur, kaya akan sumber daya alam, memberikan penghidupan dan kehidupan bagi penduduk di sekitarnya. Tempat yang eksotis, dimana hawa dingin berpadu dengan panas bumi, ladang-ladang hijau milik petani menyatu dengan lubang uap panas yang mengepulkan asap tebal. Kawasan wisata yang berdampingan dengan pipa-pipa besar milik pemerintah yang mengolah uap panas menjadi sumber daya bermanfaat untuk kemaslahatan banyak orang.

Dieng, the best place to escape. Tempat terbaik untuk 'melarikan diri'; Melarikan diri dari kepenatan, melarikan diri dari kesibukan tiada henti, melarikan diri dari kepanasan, dan melarikan diri dari pak bos #eh #bolosKerja #tidakUntukDitiru.


**Credit thanks to Mbak Muna yang udah 'merelakan' si Ucup berada di tangan saya (kapan si Ucup diajakin ke Malang, Mbak?), untuk Fida yang memberikan tumpangan di kost-nya selama di Jogja (semoga Allah memuliakan orang-orang yang memuliakan tamunya), untuk Annas yang udah traktir Mie Ongklok dan beliin oleh-oleh khas Dieng, dan untuk Tika :)