Senin, 16 Juli 2018

Pergi ke Timur (6): Jalan Panjang Lombok - Labuan Bajo via Bima

Alunan suara Ariel dengan karakternya yang khas turut mengalun seiring bis yang membawa kami melintasi jalanan Lombok Tengah kemudian Lombok Timur menuju Pelabuhan Kayangan. Belum ada setengah perjalanan, mata saya sudah siap terpejam. Begitu terbangun, suara Ariel sudah digantikan oleh Sera (arek Jatim tau banget ini) dan bis sudah mengantri masuk ferry yang akan membawa kami melintasi Selat Alas menuju Pulau Sumbawa. Efek obat anti mabuk; terjaga dan terpejam sepanjang jalan. Lebih banyak meremnya sih.

Demi menghemat biaya, kami melalui perjalanan darat dari Lombok menuju Labuan Bajo. Ini adalah plan B karena rencana awal kami yang gagal untuk membeli tiket langsung Surabaya - Labuan Bajo yang awalnya berkisar 900K sampai dengan 1 jutaaan, naik menjadi 1,5 jutaan. Putar otak untuk menyusun itinerary, apakah ke Labuan Bajo dulu baru pulangnya ke Lombok atau sebaliknya. Nah, jadilah seperti ini dengan biaya yang bisa kami siasati. Yah, harus berkorban 'dikit' lah. Korban tenaga.

Bus yang akan membawa kami menuju Kota Bima berangkat pukul 3 sore. Hanya membayar 360K untuk dua orang @180K. Harga tersebut adalah hasil lobi ayahnya Mbak Juh dengan sopir bus langganannya tiap pulang kampung ke Bima. Harusnya kami membayar per orang 200K naik Bus Surabaya Indah (yang tidak pernah sampai Surabaya) ini. Ada beberapa bus yang menuju Bima dari Terminal Mandalika. Kami seperti berjalan beriringan. Sampe pelabuhan, ketemu. Sampe tempat istirahat makan, ketemu lagi (bahkan sampe terminal di Bima).

Sekitar habis maghrib, satu per satu penumpang dan kendaraan masuk ke dalam kapal penyeberangan. Kapal ini akan membawa kami melintasi Selat Alas menuju Pelabuhan Pototano. Ada sedikit tragedi 'konyol' dalam perjalanan kapal laut kami malam ini. Saat kapal masih sandar, baru siap-siap akan berangkat, terdengar kepanikan dari bawah. Awalnya kami sudah duduk rapi di tempat duduk yang kami pilih, pada akhirnya berhamburan. Dikira alarm kebakaran, padahal sirine tanda kapan akan berlayar. Fiuhhh. Bikin panik aja dah. Tika udah keburu pucat, saya biasa aja sih. Saya kira ada perkelahian antar geng -_- Hadeuh, sedikit pelajaran ya; Jangan cepat tersulut 'api' sampai benar-benar tahu apa yang terjadi. Pun, kalo memang terjadi musibah, dibanding panik, lebih baik lakuin sesuatu yang berguna, misal: lindungi diri dengan alat-alat keselamatan yang sudah disediakan.

Jalanan dari Sumbawa Barat menuju Bima sungguh membuat seluruh badan tergoncang. Belum habis belokan yang satu, sudah menunggu belokan yang lain. Entah berapa ratus belokan yang bus ini lalui. Saya ga lepas dari Antimo, konsekuensinya ya ga bisa ngelihat jalanan yang dilewati karena mata tak sanggup terjaga, uhuk. Tiduuur aja. Ga sanggup, ya Allah.

Tengah malam, bus kami singgah di pinggir jalan untuk istirahat makan. Yakali makan tengah malam buta di tengah serbuan rasa ngantuk. Saya hanya ke toiletnya lalu minum anti mabuk lagi. Ada beberapa rombongan bule yang juga naik bus dari Lombok. Entahlah, tujuan mereka mau ke Sumbawa atau ke Labuan Bajo, sama seperti kami. Masih samar. Tika cerita, sewaktu dia mau masuk kamar mandi, ada seorang bule cewek yang juga mau masuk; Dengan gaya khasnya bule itu bilang, "This is toilet?!" wkwkwk. Anda terlalu jujur, miss.

Subuh sekitar pukul 5 pagi, bus sampai di Terminal Dara di Kota Bima. Masih gelap. Begitu turun dari Bus Surabaya Indah, kami langsung naik bus kecil tujuan Sape. Ga perlu bingung cari kendaraan ke Sape karena sudah ada bus yang stand by tiap hari siap mengantar penumpang ke Pelabuhan Sape (busnya doang, sopirnya mah kagak ada). Busnya tidak langsung berangkat, jadi kalau mau cari sarapan atau mandi di sekitar terminal bisa banget. Saya dan Tika duduk manis aja di dalam bus, ga kemana-mana. Lelaah. Sebenarnya harap-harap cemas juga, takut ketinggalan kapal untuk nyebrang ke Labuan Bajo.


Berjam-jam menunggu. Digigitin nyamuk pulak! suwerrr banyak banget nyamuknya dalam bus ini. Akhirnya, datang seorang abang (yang seperti baru bangun tidur) memanaskan mesin bus. Feeling saya, abang itu hanya mengusap wajahnya dengan air saja *suudzhan.

"Berangkat jam berapa ya? Keburu ga naik ferry ke Labuan Bajo", tanya saya.

"Keburu. Ferry-nya jam setengah 10", abang itu menjawab seperti sudah biasa.

Kurang lebih 1-2 jam menunggu, pada akhirnya bus berangkat. Alhamdulillah. Ngebutnya euy! Bus melaju kencang melintasi kota sampai kemudian naik ke daerah tinggi melewati desa-desa kecil di daerah perbukitan. Tanjakan, turunan dan jalan berkelok terus kami lalui. Saya pikir, ini hanya sesaat, ntar juga di depan bakal ketemu jalan 'normal'. Nyatanya sampai sejam lebih tidak juga kami temui. Tika sibuk mencari plastik dalam godie bag yang kami bawa. Sekali huek. Dua kali huek. Aduh duh. Menguji keteguhan saya. Alih-alih ingin menolong, saya sendiri ga tahan dan tiba-tiba ikutan mual. Tahaan, bentar lagi sampe... Itu aja yang terus saya rapal dalam hati. Allahuma aafini fi badani... Sampai akhirnya jalan berkelok itu habis dan memasuki daerah Sape. Yes!

Belum stabil dari goncangan naik bus Bima - Sape yang bikin oleng itu, kami buru-buru membeli tiket penyeberangan menuju Labuan Bajo. Per orang 60K. Ini akan menjadi perjalanan laut yang puanjaaang. Sebelum masuk, kami membeli sebungkus nasi 10K yang dijual ibu-ibu di dekat dermaga. Saya dan Tika menuju ruang vip yang ber-AC dan menyewa kasur yang bisa kami gunakan untuk tidur ataupun lesehan. Aman. Saya menuju kamar mandi untuk menuntaskan hasrat mual yang terpendam. Whoaaa. Kalo lagi mabok gitu, ngerasa kayak jadi orang paling sengsara di dunia #lebay. Btw kamar mandinya bersih dan nyaman, euy. Bisa buat mandi juga nih.


KMP Cakalang melayani rute Sape - Labuan Bajo dan sebaliknya. Kapal ini beroperasi setiap hari. Berangkat kurang lebih jam 9 pagi dari Sape dan Labuan Bajo. Mengingat kondisi yang ga stabil, ga sempat untuk berkeliling melihat-lihat ke dalam kapal. Tapi secara sekilas, bersih dan nyaman insyaallah. Hari itu penumpang tidak terlalu padat. Balik dari kamar mandi, kami mempersiapkan posisi terbaik untuk menikmati perjalanan yang panjang ini. Lagi-lagi, minum obat anti mabuk dulu. Saatnya tidur lagi. Zzz.

Izinkanlah aku kenang sejenak perjalanan ho ho ho
Dan biarkan kumengerti apa yang tersimpan di matamu ho hoo

Suara merdu Om Ebiet G. Ade membawakan lagu Elegi Esok Pagi lumayan membuat rileks. Kapal ini tidak sepi. Dari mulai berangkat tadi, nonstop diputar lagu-lagu tembang kenangan yang mungkin hanya bisa dinikmati oleh orang-orang zaman old. Menikmati alunan lagu sembari menikmati goyangan ombak besar yang menerpa KMP Cakalang melintasi Laut Flores. Tika tidak sepenuhnya tertidur. Saya bolak-balik terbangun dan melihat ke luar jendela kapal. Ya Allah, masih laut aja. Belum ada tanda-tanda kehidupan di luar sana. Perasaan kayak lamaaaa banget naik kapal ini. Sabaaar.


Jam menunjukkan pukul 15.00 lewat; di ujung sana sudah terlihat gugusan pulau dengan titik-titik kecil bangunan. Pertanda tujuan sudah semakin dekat. Excited! Terlihat juga beberapa kapal berbentuk phinisi lewat menuju salah satu pulau di gugusan itu. Whoaa, itu pasti kapal yang lagi LoB, tebak saya. Semakin mendekat ke daratan, ombaknya sudah tidak sebesar tadi. Badan saya mulai stabil dan bisa 'bangkit' menyaksikan dari jendela, kapal kami ini mendekat ke daratan Labuan Bajo.

Tepat seperti yang sudah terjadwal, kurang lebih pukul 4 sore kapal merapat ke pelabuhan. And this is Labuan Bajo! Ya Allah, di depan mata. Tak hentinya bersyukur. If you can dream it, call it, imagine it, you can do it. Cita-citain dulu aja deh, apapun itu, biar Allah yang memberikan jalannya. Yakin! Sejujurnya saya ga nyangka akan secepat ini Allah kasih untuk kemari. Mengingat biaya yang besar dan butuh keluangan waktu yang cukup banyak, kok rasa-rasanya entah bakal berapa tahun lagi bisa ke Komodo. But, Allah Maha Kaya. Kalo niat, ada aja rizqinya.

Bersama penumpang yang lain, perlahan kami turun dari kapal. Owww, this is will be amazing! Menjejakkan langkah pertama kali di tanah yang baru, tanah yang diimpikan. Seperti langsung hilang semua susah-susah perjalanan dari Lombok kemarin sampai akhirnya tiba di Labuan Bajo sore ini...

"Kalo udah masuk surga, penduduk surga tuh bakalan lupa sama semua kesusahan-kesusahan yang dialaminya di dunia. Lupa banget! Ga kepikir lagi, ga keinget lagi sedikitpun (walau susahnya kayak apa). Saking ni'matnya surga. Jadi gapapaaa, kalo di dunia Allah terus kasih kesusahan. Nyatanya, itu untuk menaikkan derajat dan kemuliaan kita".


Saat akan keluar pelabuhan, sudah ada beberapa petugas dari jajaran Kepolisian dan tentara yang memeriksa identitas penumpang yang baru saja sampai. Maklum, lagi santer isu teroris. Kami ditanya dalam rangka apa datang ke Labuan Bajo, dengan bangga saya menjawab, "wisata Pak!". Bapaknya tanya lagi, "udah ada tempat menginap di sini?". "Udah Pak".

Sedikit oleng dan kelelahan, dengan tas dan bawaan yang kayaknya rada beratan, langsung menuju Hotel Mutiara tempat kami akan menginap. Bisa ditempuh dengan jalan kaki, hanya beberapa menit dari pelabuhan. Kamar yang saya pesan sebelumnya via app online adalah kamar paling murah dengan fasilitas 2 bed dengan fan dan kamar mandi dalam (150K). Begitu sampai, kami disambut ramah oleh seorang bapak (keturunan Tionghoa, namun rada medhok bahasanya). Bapak pemilik penginapan itu menawarkan untuk upgrade kamar AC dengan single bed besar dan kamar mandi dalam. Hanya tambah 25K jadinya total 175K (padahal pas lihat di situs booking, harganya 200K). Yasudah deh untuk malam ini, sebagai obat perjalanan dua hari bikin jelek di jalan, kami pilih kamar AC. Ugh, nyamannya. Pas banget pilih kamar AC karena udara di sini lumayan panas. Maklum lah pinggir laut.

Malam pertama di Labuan Bajo; Malam tarawih pertama. Karena kami sedang tidak bisa berpuasa, kami hanya menghabiskan waktu istirahat di dalam kamar. Terdengar sedikit hiruk-pikuk di luar sana. Penasaran seperti apa 'kehidupan malam' di Labuan Bajo. Insyaallah, besok akan kami jelajahi 'mutiara' di ujung Flores ini.

Kamis, 12 Juli 2018

Pergi ke Timur (5): Punya Waktu Setengah Hari di Mataram


Selain memesona dengan keindahan alam dan adat budayanya, Pulau Lombok juga dikenal dengan pulau yang memiliki ribuan masjid. Hasil googling, ada lebih dari 5000 masjid yang tersebar di seluruh pulau. Masya Allah, banyak ya. Ketika kamu datang langsung ke pulau ini, kamu akan merasakan sendiri aura keislaman yang kuat. Belakangan, dengan berbagai macam potensi yang dmilikinya, pulau ini terus mengembangakan wisata halal-nya. Fyi, perda wisata halal pertama di Indonesia terbit di NTB lho.

Hari Selasa siang itu, adalah waktu terakhir kami di Lombok, sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Waktu setengah hari yang begitu mepet untuk dibuat jalan-jalan, membuat saya dan Tika harus berpikir efektif dan efisien agar setengah hari yang kami punya di Mataram tidak berlalu begitu saja. Lalu pergi kemana saja kami? Oke simak perjalanan berikut ini ya!

Mampir Sebentar ke Kota Tua Ampenan
Rumah teman Tika (Mbak Juh) tempat dimana kami tinggal selama di Lombok berada di daerah Ampenan. Ga sampai 5 menit, kami sampai di komplek Kota Tua Ampenan dan langsung menuju pantainya. Walau berada di pinggiran kota, bisa dibilang pantai ini cukup bersih dari sampah-sampah masyarakat wkwk. Pagi itu lumayan sepi. Pantai Ampenan dengan tipikal pasirnya yang berwarna hitam memang lebih ramai di kala sore. Terlihat beberapa warung makan ikan bakar (yang masih tutup) berjejer di pinggiran pantai. Asyik sekali nampaknya datang kemari menunggu matahari tenggelam sambil kuliner-an ikan bakar dan plecing kangkung *ngiler. Masuk sini gratis, dan mungkin karena masih pagi, tidak ada parkir.

Selain pantai dan wisata kulinernya, daerah Ampenan juga terkenal dengan kota tuanya. Bangunan-bangunan khas zaman dulu peninggalan Belanda berjejer di sekitar pelabuhan menuju pantai. Tempat ini banyak dijadikan sebagai bekgron foto lho. Epic! Seperti Kota Tua yang ada di ibukota.


Hunting oleh-oleh di Gandrung dan Phoenix Food
Pergi ke suatu tempat baru (dan jauh) kayaknya sayang banget kalo ga beli oleh-oleh khasnya. Things to remember lah. Dari daerah Ampenan kami mengarahkan motor lurus ke arah Senggigi. Ga jauh, mungkin sekitar 15-20 menit. Tujuan kami adalah Pusat Oleh-oleh Gandrung. Di sini dijual berbagai macam kerajinan kain juga pakaian dan bermacam kerajinan tangan khas Lombok. Lumayan sih harganya, ga mahal-mahal banget, tapi juga ga murah. Tika membeli 2 kopiah tenun oleh-oleh untuk penyokong dana terbesarnya dalam perjalanan ke Lombok kali ini (baca: bapak).


Credit pic: penikmat dunia
Perjalanan berburu oleh-oleh berlanjut ke daerah Cakranegara, tepatnya di gerai Phoenix Food. Kalo kamu punya teman orang Lombok dan pernah dikasih oleh-oleh dodol rumput laut, itu biasanya belinya di Phoenix Food ini. Tempatnya tidak terlalu besar, tapi sepertinya ini adalah tempat produksinya. Kami membeli jajanan khas Lombok, dodol rumput laut untuk dibawa sebagai buah tangan, juga kacang mete untuk dicemil pas perjalanan ke Bima nanti.

Wisata Religi ke Islamic Center Kebanggaan Warga NTB


Sebagai pulau yang berjuluk Seribu Masjid, nampaknya Lombok harus memiliki satu ikon masjid yang bisa jadi jujugan wisatawan yang datang kesana. Selain untuk berwisata religi juga untuk mengenal pulau tersebut lebih dalam, tentunya. Kalau Aceh punya Masjid Raya Baiturrahman, maka warga NTB mempunyai Masjid Raya Hubbul Wathan yang lebih dikenal dengan sebutan Islamic Center NTB sebagai kebanggaannya.

Masjid yang diresmikan langsung oleh gubernur NTB, Tuan Guru Bajang, selepas pelaksanaan Shalat Idul Adha tahun 2016 lalu ini diberi nama Hubbul Wathan yang berarti 'cinta tanah air'. TGB menjelaskan kenapa dinamakan itu, "untuk mengingatkan kita semua bahwa bumi yang kita pijak ini, merupakan amanah dari Allah, sehingga sudah menjadi kewajiban kita untuk mencintainya".

Masjid yang memiliki desain yang menggambarkan dua adat budaya (Lombok dan Sumbawa) ini diharapkan tidak hanya berfungsi tempat ibadah melainkan sebagai pusat kegiatan masyarakat NTB. Berbagai acara dilangsungkan di masjid ini seperti menyelenggarakan pameran kebudayaan, pengenalan wisata halal, acara keagamaan, dan rupa-rupa kegiatan positif lainnya.

Warnanya yang cantik, dominasi kuning dan hijau tosca (warna kesukaan Tika) bikin Tika betah lama-lama disini uwoww. Selain ramai oleh pengunjung dari luar pulau, masjid ini juga dipenuhi oleh masyarakat lokal yang menghabiskan waktunya di sini baik untuk ibadah, sekedar melihat-lihat atau berwisata religi.





Kami naik ke menara yang tingginya mencapai 99 meter. Menara ini biasa disebut dengan Menara Asmaul Husna. Kami membayar 5K per orang (kalo ga salah inget ye) dan dipandu seorang petugas naik ke atas melalui lift. Kalo kamu penasaran kenapa Lombok disebut sebagai Negeri Seribu Masjid, niscaya penasaran kamu bakal kejawab pas naik ke menaranya. Dari atas menara dapat kita lihat langsung, sejauh mata memandang, puluhan kubah masjid di Kota Mataram. Hampir tiap beberapa petak pemukiman, ada satu masjid. Itu aja yang keliatan ya (karena besar) belum lagi masjid yang kecil-kecil atau mushola.

Islamic Center NTB letaknya sangat strategis di pusat kota. Dari sini kalo mau jalan-jalan ke rumah dinas gubernur atau main ke taman-taman di Kota Mataram sambil berburu kuliner, bisa banget. Jaraknya dekeet. Oiya pas lagi keliling Islamic Center ini, kami ketemu seorang tokoh besar dari NTB yang sedang syuting untuk kajian ramadan, sapa hayooo?

Mencicipi Ayam Taliwang Kania yang Pedesnya Ga Ketulungan


Jangan ngences, plis
Salah satu diantara sekian banyak makanan khas Lombok yang enak-enak adalah Ayam Taliwang. Banyak sekali warung makan dengan menu ini, salah satunya yang terkenal dan banyak direkomendasikan adalah Ayam Taliwang Kania. Kenapa di Kania? Ini rekomendasi dari orang Lombok aseli (Gili Air) saat tahun 2016 lalu saya pergi ke sana. "Ibuk kalo ke Mataram nyarinya pasti di Ayam Taliwang Kania. Ga mau kalo gak disana". Setelah googling juga, ternyata banyak travel blogger yang udah mampir kesini. Cocoklah kalo gitu.


Beberuq atau lalapan terong
Ayam Bakar Taliwang Plecing Kangkung level Pedas Membahanaaa!
Tidak lama menunggu, menu-menu yang kami pesan sudah terhidang dengan cantiknya di atas meja. Satu porsi Ayam Taliwang bakar pedas yang kami pesan seharga 45K. Lumayan mahal, wajar karena ini ayam kampung (satu ekor kecil) dan bisa dimakan untuk 2 orang. Kami juga memesan satu porsi plecing kangkung 10K dan beberuq 3K atau lalapan terong. Es degan di Kania ini juaraaak! Segernya pas banget nemenin makan ayam bakar yang pedesnya bikin bibir jontor. Satu gelas es degan 10K. Total untuk semua makanan dan minuman yang kami pesan adalah 90K.

Oiya, jangan menyepelekan kata-kata, "mbak ini pedes lho" orang Lombok ya. Emang beneran pedesz ga karuan. Pedesnya bener-bener bikin diem, ga mampu berkata-kata. Beda deh sama indikator pedesnya orang Jawa. Tika, ratunya pedes aja cuma speechless menikmati tiap gigitan ayamnya. Tapi pedesnya keren, karena ga bikin perut mules. Serius. Ayam Taliwang Kania terletak di pusat kota Mataram dan mudah untuk dicari. Tinggal pasang Maps atau tanya penduduk lokal sekitar Cakranegara, insyaallah ketemu. Kalo ga ketemu juga, berarti belum rizqi.


a must try!
Well, Mataram kota yang tidak terlalu besar. Dalam waktu setengah hari saja kita sudah bisa mendatangi beberapa tempat, mulai dari pantai, taman, pusat oleh-oleh dan sebagainya. Setelah menghabiskan 5 hari menyenangkan di Lombok, tunai sudah tugas saya menemani Tika. Saatnya memulai perjalanan panjang menuju tempat yang saya inginkan. Gantian weee. Sangat berterimakasih pada Mbak Juh dan keluarga yang sudah menerima dan memperlakukan kami dengan sangat baik. Lumayan ngirit untuk penginapan dan makan selama di Lombok, hehe. Allah, muliakanlah orang-orang yang memuliakan tamunya. Kurang lebih pukul 13.00 kami menuju Terminal Mandalika dengan motor sewaan. Rencananya motor yang sudah habis masa sewanya ini akan serah terima di sana. Karena masih area Mataram, tidak ada biaya tambahan untuk pengambilan.

Siang menjelang sore itu Terminal Mandalika lumayan ramai di area keberangkatan bus menuju Pulau Sumbawa. Langit nampak mendung. Kurang lebih pukul 15.00, kami sudah duduk manis di atas bus Surabaya Indah. Bus ini yang akan membawa kami melintasi Pulau Lombok - Sumbawa menuju Kota Bima. Belum terbayang perjalanan seperti apa yang akan kami lalui.

"Sekarang giliran Tika nemenin Mbak", :)

Pergi ke Timur (4): Seharian Keliling Pantai di Lombok Tengah


"Mbak ayok nyebrang. Nanti diantar ke 4 tempat. Bukit Mereseq, Batu Payung, Tanjung Bongo terus ke Goa ini. Nanti waktunya Mbak yang atur sendiri. Bisa lama", si abang promosi.

"Berapa?", saya iseng nanya, mau tau aja.

"250", kata abangnya.

"Enggak (lah) bang makasih". Mundur teratur.

Baru saja motor yang saya dan Tika kendarai sampai di parkiran Pantai Tanjung Aan, sudah 'riuh' beberapa orang menghampiri kami untuk menawarkan jasa menyeberang. Belum juga napas bang, batin saya. Agak tergiur sebenarnya. Tika pengen ke Pantai Batu Payung. Tapi kemudian meluruskan niat kembali dan mengingat bahwa perjalanan kami masih akan panjang nantinya dan masih membutuhkan banyak biaya. Abangnya ga nyerah, kami terus diikuti sampai duduk di sebuah gubuk. Hadeuh harus pake bahasa apa lagi nih bilang Enggak!

Senin (13/05/2018) pagi itu, Mbak Juh memulai aktifitasnya dengan bersiap untuk mengajar, sementara saya dan Tika dari pagi udah mandi udah necis, bersiap menuju Lombok Tengah, mengeksplor pantai-pantai eksotik yang ada di sana. Sengaja kami jadwalkan di hari Senin untuk menghindari keramaian publik di tempat wisata. Perjalanan di mulai dari daerah Ampenan, menuju jalan by pass BIL, kemudian melewati beberapa wilayah sepi di Lombok Tengah. Sampai daerah Rembitan, kami berhenti sebentar untuk foto depan plang Desa Adat Sade. Ga pengen mampir karena takut kesiangan, next time kalo ada rizqi ke Lombok lagi insyaallah.


Deretan pantai kece badai bisa kita temui di wilayah Lombok Tengah. Semua pantai ini rata-rata masih belum banyak terjamah dan terjaga keindahannya. Biasanya, kita hanya perlu membayar tiket masuk saja atau uang parkir saja (ga dua-duanya). Gubuk yang disediakan untuk berteduh pun tak perlu bayar (kecuali payung untuk berjemur yang memang disewakan). Eksplor pantai kali ini tidak terlalu kami paksakan. Tidak menarget harus datang ke berapa pantai; sesanggupnya saja. Pantai pertama yang kami datangi adalah Pantai Tanjung Ann. Kami membayar tiket masuk untuk dua orang 5K.

Sampai di Tanjung Ann, banyak yang menawari kami sewa perahu untuk menyeberang. Beda seperti pertama kali saya kemari tahun 2016 lalu, pantai ini cukup ramai saat kami datang pagi itu, padahal week day. Kami berencana istirahat sejenak sambil mencari gubuk kosong. Ada seorang inaq yang menghampiri kami di gubuk, menawarkan kain. Ingat kata-kata Mbak Juh, kalo mau beli kain di sekitaran pantai gapapa, tapi jangan lupa ditawar. Harganya lumayan murah kok, ga kalah kualitasnya sama yang di Sade.

Setelah cukup tenaga terkumpul kembali, yuk saatnya beraksi. Pantai Tanjung Ann diliat dari mana-mana emang bagus. Pasir putihnya kontras banget sama air laut yang biru kehijauan atau hijau kebiruan (?). Tidak hanya pasir sehalus tepung, di bagian pantai yang lain (sebelah kanan) ada juga pasir merica-nya. Coba deh lepas alas kaki kamu injak langsung pasir mericanya, geli-geli gimana gitu. Pantai Tanjung Ann ini keliatan 'agak' sedikit kotor, tapi bukan kotoran limbah manusia melainkan semacam rumput-rumputan laut gitu. Mungkin karena letaknya yang seperti teluk (ya), jadinya ombak atau arus laut yang membawa sampah-sampah ini terdampar di pantai. Agak ngerusak view, sih.


Pas dulu kesini, saya melihat banyak bule dan hanya beberapa pengunjung lokal (soalnya pas bulan puasa). Hari ini pantai ini ramai sekali oleh orang lokal dan hanya ada beberapa orang wisatawan asing. Kami menyusuri Pantai Tanjung Ann menuju ke bukit di sebelah kanannya, Bukit Mereseq. Matahari tidak terlalu terik tapi cukup membuat kepala kami ngebul kepanasan. Angin yang bertiup kencang sedikit membuat kesal karena menerbangkan jilbab dan pakaian sehingga kami harus waspada #auratterbuka. Kenceng banget dah, suer!


Bukit Mereseq dapat dicapai dari Pantai Tanjung Ann kurang lebih 20-30 menit berjalan kaki. Semakin ekstrem medan yang kita tempuh (dalam artian manjat-manjat dengan kemiringan sampai 45 derajat), maka semakin cepat kita sampai. Ini untuk anak-anak muda aja deh. Kalo bawa anak kecil atau orang tua, lebih baik lewat jalan yang udah disediain. Bukit Mereseq lagi peralihan nih, dari hijau ke kuning. Belum sepenuhnya kuning, masih ada yang hijau-hijau di beberapa titik. Adilnya Allah memberi; saya suka kuning, Tika ingin hijau. Kamu team mana? Golkar apa PPP *lhooo.

Di bawah terik matahari, perlahan-lahan kami menyusuri jalan setapak untuk naik ke atas. Ini adalah bagian 'ngenes' dari sebuah perjalanan yang jarang orang pikirkan; tauknya foto bagus aja gitu, gatau perjalanan menuju kesana. Sebentar jalan, sebentar duduk, tarik napas, jalan lagi. Gitu terus sampe kulit manggis ada ekstraknya (eh khan udah ya?).

Bukit Mereseq memang eksotis. Wajar jika band kenamaan Indonesia, Geisha dan Isyana Sarasvati membuat lokasi syuting video klipnya di sini. Belum lagi puluhan bahkan ratusan video dokumenter atau semacam video motivasi dengan latar belakang bukit ini. Emang bagus sih. Dan yang bagus ini, ga sulit mencapainya, cuma sekitar sejam dari bandara. Ga perlu payah-payah trekking, jugak. Harus kesini ya pokonya kalo ke Lombok (!).

Kain tenun khas Desa Sade yang tadi kami beli seharga 45K per kain. Ini udah tawar-menawar alot banget, inaq-nya gamau kurang lagi. Boleh ditawar sampe setengah harga (kalo kamu tega, hihi).
Insyaallah kualitasnya ga kalah sama yang ada di desa-desa tenun di Lombok Tengah, karena pada dasarnya mereka yang berjualan ini asalnya ya dari sana. Mereka yang berjualan di sekitar pantai yang ada di Lombok Tengah ini menjemput bola deh, istilahnya.


Tips kalo naik ke Bukit Mereseq siang-siang: pakai topi atau bawa payung ya. Panasnyaaa! Tidak ada tempat ngadem sama sekali. Saya dan Tika mencari tempat perlindungan dari matahari di bawah sebuah batu besar. Sambil ngadem, sambil kupas mangga yang tadi kami beli di pinggir jalan. Pisaunya dari mana? ya mampirlah di ***maret. Di atas bukit ini tidak terlalu ramai jika dibandingkan dengan banyaknya pengunjung di Pantai Tanjung Ann. Hanya ada serombongan atau satu dua orang datang, foto-foto kemudian pergi. Mungkin kalo ada beberapa gubuk di sini, orang-orang bakalan betah. Tapi jangaaan! Biar bukit ini indah begitu adanya.


Bukit Mereseq selalu mempesona, as always. View perbukitan di sini ga kalah sama di Flores, lho. Kalo tabungan belum cukup ke Pulau Padar, kesini dulu ga kalah kerennya kok. Asalkan mau capek jalan dan kepanasan, kamu bisa eksplor bukitnya sejauh mata memandang. Siap-siap kulit kamu hitam porong ya, bukitnya beneran gundul gada pohon atau gubuk-gubuk yang bisa buat berteduh. Kalo mau dapat view hijau, kesini deh sekitar akhir tahun sampe Maret atau April. Nah kalo mau dapet nuansa kuning perbukitan, mulai dari Mei sampe September atau Oktober.


Turun dari Bukit Mereseq, kami didatangi (lagi) abang yang tadi nawarin kami untuk sewa perahu. Wiiih, gigih banget yak. Dari mulai harga 250K sampe turun ke 150K, bahkan boleh kurang lagi katanya. Bisa lebih murah kalau kami bareng rombongan yang lain. Enggak deh bang, maapkeun. Kami tidak bergeming dan berlalu. Ada saatnya memang kamu harus belajar menjadi 'tega' di depan orang; Bukan jahat atau tidak menghargai, tapi itu lebih baik daripada pe-ha-pe. Ehe.

Dari Tanjung Ann, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Kuta. Ga jauh, sekitar 15-20 menit dengan jalanan yang sudah beraspal halus. Sebelum sampai, kami mampir di sebuah masjid pinggir jalan di gang masuk Kuta, Masjid Nurul Bilad namanya. Bangunannya keren. Sepertinya masjid ini belum lama ini dibangun. Toiletnya bersih. Pilihan yang tepat untuk shalat dan istirahat ketika kamu berkunjung ke pantai-pantai di kawasan Kuta Mandalika.


Motor kami melambat di area parkir Pantai Kuta Mandalika. Ramai sekali ya Allah, padahal hari senin. Mungkin karena menjelang puasa jadi banyak orang yang mau mandi-mandi di laut. Semacam tradisi sebelum puasa. Kami membayar 5K untuk berdua. Pantai Kuta yang ada di Lombok ini tidak kalah cantik dari yang ada di Bali lho. Kalo di Bali juara dengan sunset-nya, di sini view pantai, warna dan pasir mericanya. Pantai Kuta Mandalika ini merupakan pantai yang paling ramai di deretan pantai Lombok Tengah, paling lengkap akomodasinya.


Kalo saya jujur sih, lebih suka Pantai Kuta yang di Lombok. Keduanya baguss dan punya sisi indahnya masing-masing, pasti. Tapi kalo di sini setidaknya mata kita lebih terjaga dari ngelihat yang 'terbuka-buka' dibanding yang di Bali, hehe. Hanya sekitar setengah jam kami berada di Kuta. Kurang lebih pukul 3 sore saya mengarahkan motor menuju Pantai Mawun. Jalan menuju Pantai Mawun sudah bagus hanya ada satu titik dimana kita akan melewati tikungan tajam dan menanjak. Oiya masih ada pengaspalan juga di beberapa titik tapi tidak sampai mengganggu perjalanan kamu insyaallah. Baju kerja putih saya lumayan dah, kena percikan 'adonan' aspal; suruh sapa main pake baju kerja?!


Masuk ke Pantai Mawun, kami membayar per orang 5K. Langsung ada yang menawarkan kursi santai. Enggaklah, bukan tipe kami banget pake begituan. Biasanya juga ngemper di pasir. Itumah buat bule-bule aja yang suka berjemur. Kami memesan satu buah kelapa muda (harga 10K) untuk dinikmati sambil menghabiskan sore di Mawun yang sepi itu *alah.

Pantai Mawun memiliki ciri garis pantai yang melengkung. Pantainya seperti diapit oleh dua bukit. Ombak yang datang tidak terlalu besar. Ada satu dua orang bule yang sekedar berjemur dan berenang di pantai sore itu. Garis pantainya kelihatannya pendek, tapi kalo ditelusuri sambil berjalan, lumayan juga. Jauh bro. Seperti di Tanjung Ann, ada beberapa buah perahu nelayan yang sandar di pantainya.

Memang ya, matahari dan pantai itu adalah salah satu perpaduan paling indah di muka bumi. Kalo misal ke pantai lagi ga begitu cerah mataharinya, ya jujur aja kurang semangat (harusnya ga gitu, bersyukuuur...). Alhamdulillah ala kulli hal. Ini pantai bakalan stunning banget kalo mataharinya cerah. Kebayang khan perpaduan bukit hijau, pasir pantai dan laut birunya? Aaak!


Tidak banyak yang kami lakukan di Mawun, hanya minum es degan kemudian duduk santai di atas pasir. Menunggu matahari muncul dari balik awan. Demi satu tangkapan kamera, oh come on! Sampai jatah waktu main kami berakhir hari itu, mataharinya malah semakin asyik ngumpet di balik awan. Yasudah deh, kami pulang. Kalau bisa sebelum jam 5 kami sudah perjalanan pulang ke Mataram. Lebih ahsan. Sore menjelang maghrib, perjalanan pulang lebih ramai dibanding saat berangkat pagi tadi.


Kurang lebih beberapa ratus meter depan BIL, kami temui beberapa lapak penjual semangka. Kalo saya sih nyebutnya ini di Lampung, 'semangka inul'. Bentuknya panjang, ada yang warna daging buahnya merah juga kuning. Kami mampir sebentar liat-liat. Kalo harganya cocok ya sekalian beli. Seger bangettt. Dapat dua semangka dengan harga 5K dan 15K. Murah ya. Bisa lebih murah lagi kalo pake bahasa Sasak (kata abang Grab yang mengantar kami beberapa hari kemudian).

Sudah menjelang Maghrib ketika kami sampai di Warung Nasi Balap Puyung Rinjani yang berada di jalan by pass BIL, kurang lebih 15 menit dari  bandara. Kami memesan dua porsi Nasi Balap dan seporsi Plecing Kangkung. Nasi balap adalah salah satu makanan khas Lombok yang kudu kamu cobain kalo kesini. Entah karena efek lelah atau kelaparan karena cuma makan sarapan pagi tadi, Nasi Balap itu terasa sangat nikmat. Kenikmatan yang haqiqi!

Seporsi nasi hangat ditemani kentang yang diiris kecil-kecil kemudian digoreng, lalu kacang kedelai, dan suwiran ayam (bisa pilih ayam kampung, tapi lebih mahal) yang disambel dengan bumbu khas, enaaak banget! Plecingnya seger, sambelnya juarak! Kangkungnya beda, hanya ada di Lombok dah pokonya. Soalnya pas beli di Malang, belum nemu yang serenyah di Lombok. Fyi, sepengamatan mata saya, tanaman kangkung di Lombok ini dibudidayakan seperti tanaman padi. Banyak sekali yang menanam. Semacam sayuran wajib.

Awalnya kami berencana makan di Nasi Balap Inaq Esun, yang namanya lebih tersohor. tapi lokasinya harus masuk-masuk lagi di daerah Praya. Jadi kami pilih yang sekalian jalan pulang, di Nasi Balap Rinjani ini. Rasanya ga kalah enakkk! Oiya dua porsi Nasi Balap, Plecing Kangkung dan minum ini cuma 33K. Aduh, beneran ngangenin banget dah rasanya. Mauk lagiii, huhu.


Banyaknya pantai yang bisa kamu pilih di Lombok, ga cukup satu hari ngelilinginnya. Atur waktu kunjung kamu sebaik mungkin biar semua pantai yang masuk list to visit bisa kamu kunjungin semuanya. Oiya pertimbangkan harinya juga ya; Kalo pas high season bakalan penuh dan macet di jalan. Ada juga beberapa tipe pantai yang mirip, misal Mawun dan Selong Belanak, kamu bisa pilih salah satu aja. Dan ada beberapa pantai yang jalan masuknya masih ehem, jadi siapkan kendaraan yang prima. Kalo kamu naik motor, jangan pulang kemaleman ntar dicari emak soalnya di beberapa titik lumayan sepi banget.

Btw, walaupun keliatannya mainstream banget ke Lombok main di pantai-pantainya, but it recommended! Beda deh pokonya sama pantai di bagian Indonesia lainnya. Pantai di Lombok selalu bikin pengen balik lagi. Ada yang mirip Planet Krypton, ada yang mirip pantai di Aussie, ada yang memang khas Lombok banget, bukit dan pantai. Sebelum pergi jauh-jauh main ke luar negeri, gak ada salahnya Pulau Lombok masuk bucket list kamu duluan.

Selamat main di pantai Lombok!

Rabu, 11 Juli 2018

Habiskan Liburanmu Di Coban Parang Tejo Yang Masih Sepi Ini

Tali pengaman carabiner yang menghimpit perut terasa menyesakkan (entah karena saya gendutan atau memang sempit talinya, hehe). Sambil terus meyakinkan diri, pura-pura berani. Okay, i can handle it. Tidak jauh dari saya, Nita dan Tika sibuk mengabadikan momen lewat kamera dan video. Puas sekali mereka melihat saya, sementara saya parno sendiri di atas sini. Hiyyy! Tukang ngeluyur yang parno sama ketinggian, gabisa renang dan paling anti sama namanya maenan-maenan ekstrim, itu aakuuu (ala Duta So7). Ayunan maut yang ada di Bukit Terbang ini adalah salah satu fasilitas yang tersedia di Coban Parang Tejo, coban indah nan masih sepi dengan banyak spot foto yang tidak kalah dengan tempat kekinian lainnya yang lebih dahulu populer.

Sabtu pagi (16/12/2017) saya, Tika, Nita dan Faizah berkesempatan untuk mengunjungi Coban Parang Tejo. Penasaran sama salah satu air terjun yang berada di daerah Dau ini. Kalau lihat di Maps, jarak dari kost Ar-Rifah ke tempat ini hanya 31 menit. Deket lah. Kamipun cusss. Disuguhi pemandangan 'enak' sepanjang perjalanan kesana. Kok enak? iya, ada kebun jeruk, kebun tomat, kebun sayuran bermacam rupa, enak-enaklah pokonya. Sekitar 2 kilometer hampir sampai tempatnya, jalannya masih belum beraspal. Makadam gitu, tapi insyaallah masih aman untuk dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat (semoga sekarang udah alus mulus).

Kami membayar parkir 3K (roda dua) dan tiket masuk 15K per orang. Lumayan murah, karena dengan tiket segitu udah bisa menikmati semua fasilitas yang disediakan maupun foto-foto di semua spot swafoto. Ga ada bayar-bayar lagi. Seriusan!


Masih sangat sepi pas kami datang hari itu. Hanya ada beberapa motor terparkir di tempat yang sudah disediakan. Sejenak menarik napas dan memperhatikan sekitar. Ternyata Coban Parang Tejo ini merupakan salah satu starting point pendakian Gunung Butak. Oke, mari kita masuk mengeksplor tempat ini...!


Beranjak dari parkiran dan loket masuk, kita akan langsung disuguhi udara sejuk hutan pinus. Ada semacam jembatan kayu memanjang yang bisa kita gunakan untuk berjalan-jalan mengitari hutan pinus tersebut, mirip kayak yang di Lembang (liat deh salah satu video klip terbarunya Gen Halilintar). Duduk santai sambil ngobrol sama temen atau keluarga (no pacar lho ya!), boleh juga. Hirup deh oksigen bersih sepuasnya di sini. Kamu bisa istirahat sebentar sambil minum atau makan jajanan yang kamu bawa (kalo gabawa ya makan angin aja gapapa), sebelum trekking ke spot-spot selanjutnya.

Mau kemana kita?
Fasilitas dan wahana yang ada di Coban Parang Tejo ini buanyak! Kelihatannya kecil, namun menyimpan tempat-tempat misterius yang menanti kamu sibak *halah. Beberapa spot yang bisa kamu pilih sesuai kebutuhan antara lain, camping ground, Taman Peter Pan, Rumah Kulu-kulu, Bukit Terbang, Cafe Forest dan area outbound untuk anak-anak. Tempat ini recommended gak hanya untuk kaum pemburu tempat-tempat hitz, tapi juga untuk rekreasi bersama keluarga tercintah (ciyeeeh, yang belum berkeluarga mana suaranyaaa?).

Taman kupu-kupu 'palsu'

Oiya yang bikin tambah asik, ada banyak ayunan di sini yang tersebar di beberapa titik. Ada banyak ayunan untuk semua orang jadi ga perlu ngantri apalagi singut-singutan rebutan ayunan, mainan masa kecil yang disuka semua usia ini. Selain hutan pinus, beberapa jenis bunga juga sengaja ditanam untuk menambah keasrian dan keelokan tempat ini. 

Mengapa bersedih? mengapa melamun?
Kulu-kulunya yang lagi jalan pake baju merah tuh #eh
Mendatangi tiap spot di Coban Parang Tejo ini butuh trekking yang lumayan (kalo buat orangtua dan orang yang ga pernah olahraga). Dari satu spot ke spot berikutnya kita harus mendaki bukit dan lewati lembah. Tapi hijaunya sekitar, udara sejuk dari hutan pinus yang tumbuh di sepanjang tempat wisata ini, membuat lelah menjadi tidak begitu terasa *tapiboong. Ya tetep capek sih, cuma abis itu ilang lagi ketutup view di depan mata atau excited di spot tertentu.


Rumah Kulu-kulu yang gada Kulu-kulunya
Yang sedikit buat saya keheranan adalah spot Rumah Kulu-kulu. Sampai detik saya menulis ini belum terjawab apa itu Kulu-kulu? Sebangsa hobbit kah? Apa sejenis kura-kura? Atau sodaranya kupu-kupu? Entahlah. Rumah Kulu-kulu ini terbuat dari ranting-ranting besar yang disusun sedemikan rupa hingga menyerupai 'rumah'. Kreatif, ya.

Dari rumahnya si Kulu-kulu kami beranjak menuju spot yang dari mikirinnya aja udah bikin saya deg-degan, ayunan maut. Naik ga ya? Sebelum sampe di ayunan maut, kami nemu satu tempat yang keren banget. Dari sini bisa melihat langsung ke air terjun yang di ada bawah sana juga hijaunya pepohonan di perbukitan sebelah sono. Buat bekgron foto juga ketjeh.


Di area Bukit Terbang, ada beberapa spot kekinian yang bisa kamu coba. Ada ayunan maut dengan view perbukitan hijau dan air terjun. Hati-hati dengan kata 'maut' yang mengikutinya yak. Kalo udah naik dan ngeliat ke bawah, emang kerasa deket banget sih si maut itu, hihi. Tapi ga perlu khawatir, safety first. Pengaman insyaallah udah oke. Ada juga spot bunga matahari, kamu bisa naik di atasnya jadi kumbang ala-ala *huek. Ada spot sayap malaikat (kecil banget tapi yak, khan katanya sayapnya terbentang dari barat ke timur?), dan ada rumah pohon. Masih sepi, jadi ga perlu antri dan tinggal pilih mau ke yang mana dulu.


Kami berempat mencoba spot ayunan maut. Awalnya saya gamau, pada akhirnya rasa gengsi sama bocah-bocah yang menang. Bismillah deh, mumpung sepi dan ga ada yang ngeliat kalo tiba-tiba berperilaku norak karena ketakutan. Nita dan Tika seperti biasa, cool gitu aja. Tiba giliran Bu'e, eeh kasian doi. Tali pengamannya ga muat, wkwkw! Tapi Bu'e mah nyalinya sebesar tekadnya, jadi santai aja gitu walau ga pake pengaman. Keren Bu'e. Aku padamuuu! wkwk.

Suka kelupaan sama rencana-rencana yang udah kamu buat? Atau kamu tipe orang 'rapi' yang apa-apanya harus ditulis n disusun dengan baik? Okefix, berarti kamu mesti perlu punya planner yang satu ini. Mau tau apa aja kelebihannya? Juga mau kepoin harganya, jom langsung ngobrol-ngobrol sama ce-pe yang ada di gambar. Mbaknya insyaallah ramah, baik hati dan suka kasih promo lho. Sapa tau jodoh, eh.


Jalan-jalan ke Coban Parang Tejo ini emang asiknya bawa bekal sendiri. Warung yang tersedia hanya di dekat loket masuk saja. Lumayan khan kalo udah trekking jauh ke dalam terus laper dan musti balik lagi. So, bawa makanan dan minuman sendiri dari rumah bisa jadi pilihan. Apalagi sekalian bawa alas, terus digelar di bawah pohon pinus, piknik wanna be deh.  Kalau untuk toilet, selain ada di dekat loket, ada juga di dekat spot kupu-kupu. Ga perlu khawatir, beser mania.

Sejujurnya saya pribadi bukan tipe wisatawan yang suka datang ke tempat wisata yang banyak dibuat spot-spot untuk selfie or wefie. Tapi menurut saya Coban Parang Tejo ini pas untuk yang suka ataupun ga suka begituan. Kenapa? karena tempatnya bisa mengakomodir keduanya; untuk yang kayak saya ini, bisa jalan-jalan santai sambil nikmatin sekitar atau hanya duduk-duduk manjha *huek di beberapa saung atau tempat duduk yang disediain, sambil merenung atau ngapain deh terserah. Untuk yang suka selfie, tinggal pilih dah mau ke spot mana yang disuka. Bebasss!



Sebenarnya, ada beberapa fasilitas yang masih dalam tahap pembangunan, belum jadi seutuhnya. Tapi itu ga mempengaruhi keasikan liburan kamu kok. Sibuk kesana kemari, malah lupa untuk trekking ke air terjunnya. Gini nih tantangan pergi ke air terjun yang banyak spotnya. Keasyikan, malah jadinya males untuk turun. Dilihat dari jauh aja, hehe.



Sebelum melangkahkan kaki untuk pulang, kami shalat zuhur terlebih dahulu di mushola yang ada di sini. Saya suka tempat shalatnya. Lokasinya di belakang loket tiket. Ini termasuk salah satu mushola di tempat wisata paling nyaman yang pernah saya datangi. Tempatnya ga terlalu luas. Toiletnya bersih. Musholanya berdinding kaca jadinya hijau-hijau di luar kelihatan dari dalam. Pas banget, abis trekking kecapekan, terus mampir shalat kesini. Apalagi ditambah sejuknya udara dari hutan pinus, dijamin ngantukkk! But, tahaaan ya! Seenak-enaknya mushola ini buat tidur, tetep aja ini adalah tempat buat ibadah. Jangan sampe ganggu yang mau shalat. Hush, hush, pulang sana! iyeelah *alaMail

Untuk kamu yang merencanakan liburan ke Malang atau Batu, coban ini bisa kamu jadikan pilihan untuk didatangi disamping coban-coban lainnya yang sudah lebih dulu kesohor. Trust me, worthed it!