Selasa, 30 Oktober 2018

Bucket List Tour De Sumatera 2019 (Insyaa Allah)

Bismillah... Dengan menyebut namaMu ya Allah, Yang Maha Pengasih Penyayang, Maha Kaya lagi Maha Mencukupi hambaNya (ini ceritanya lagi ngerayu Allah biar dicukupin ke trip selanjutnya). Sungguh tiada daya dan upaya melainkan atas kehendakNya...

Pembaca yang budiman dan budiwoman,
Kalo di luar sana lagi kisruh tagar 2019 ganti presiden (bukan hal yang perlu dikisruhin sih sebenernya harusnya. Wajar toh di negara dengan iklim demokrasi?!). Saya sih pengennya, biidznillah, #2019TripSumatera. Apa banget gitu, udah jauh ke timur Indonesia sana, tapi pulau sendiri belum dijelajahi. So, mau kemana dan ngapain aja nantinya di sana, here they are list to do and to eat... (Insyaallah bisa nambah seiring budget dan usulan temen-temen yang ada di sana).

Sumatera Barat!
Silaturahim ke rumah saudara shalihah, Nike Gustia Afrima
Main ke Pantai Taplau 
Wisata kuliner Kota Padang (makan Randang, Itiak Lado Mudo, Teh Talua, dan masih banyak lagi yang enak lainnya)
Shalat di Masjid Raya yang arsitekturnya masyaallah 
Ke Pulau Pasumpahan, kudu!

Si kece masyaallah Pulau Pasumpahan (source: di sini)
Gulai Itiak Lado Mudo (source: Om cumilebay)
Masjid Raya Sumatera Barat (source: ganaislamika)
***

Sumatera Utara
Numpang makan dan tidur di rumah mamak Tika
Makan Mie Aceh Titi Bobrok
Main ke Danau Toba, nyebrang ke Pulau Samosir
Keliling Kota Medan (Istana Maimun, Masjid Raya, dsb)
Makan duren di Ucok Durian (WAJIBBUN, wkwk)
Main ke kampus Tika, Indah dan Ika
Ketemu Indah, dilanjutkan dengan trip ke Sabang
Nyobain naik bus double decker Sempati Star jurusan Medan - Aceh

Kelas VIP Bus Sempati Star double decker (source: blognya Kak Satya Winnie
Kampus UIN-SU (source: di sini)
Paropo dengan view danau terbesar di Indonesia (source: anakmandiri)
***

Nangroe Aceh Darussalam
Silaturahim sama saudara shalihah, putri Aceh (wek!) Moetia Hanoem
Shalat di masjid kebanggaan rakyat Aceh, Baiturrahman
Makan Mie Aceh di Banda Aceh
Mengunjungi Museum Tsunami
Main ke Sabang dong (Titik Nol Kilometer Indonesia dsb)
Makan Sate Gurita sama Rujak Nol Kilometer di Sabang
Tinggal di bungalow yang view-nya langsung ngadep ke laut dan ada hammock-nya, mantap!

Rujak 0 Kilometer Sabang *ngiler (source: phinemo)
Penginapan dengan sea-view (source: hikersbay)

Masjid Raya Baiturrahman (source: steemit.com)
***

Kamis, 11 Oktober 2018

Traveling Yuk! Ke Malang (Jilid 2)

Tidak salah jika Malang menjadi salah satu destinasi wisata idaman bagi penduduk Indonesia. Tercatat pada 2016, sebanyak kurang lebih 3,9 juta wisatawan (dalam negeri) mengunjungi kota berudara sejuk ini. Belum lagi setahun berikutnya, tahun 2017, jumlah kunjungan naik menjadi sekitar 4,5 jutaan orang. Whoooa. Kota asal salah satu penyanyi kenamaan Indonesia (Krisdayanti) ini memiliki banyak julukan antara lain kota pendidikan, kota pelajar, kota Paris van East Java, kota sejarah, kota wisata, dan kota bunga. Berudara sejuk, kota ini dikelilingi oleh beberapa gunung antara lain Semeru, Bromo, Welirang, Arjuno dan Kawi. 

If I ever were to emigrate to Indonesia, Malang would definitely be in the top 5 cities to move to. (Dutch people, quora.com "what is it like to live in Malang?"

Mulai dari wisata alam (air terjun, pantai, pemandian alami, pemandian air panas dan sebagainya), wisata tematik sampai wisata religi tersaji semua di kota ini. Tidak hanya lengkap dengan destinasi wisatanya, wisatawan yang datang ke Malang akan dimanjakan dengan udaranya yang sejuk, biaya hidup dan akomodasi yang tidak menguras kantong dan kemacetan yang masih bisa diantisipasi. Selain itu kemudahan transportasi dari Jakarta maupun kota besar lainnya menjadikan kota ini mudah dan murah untuk dikunjungi. Lalu apa saja tempat-tempat wisata menarik yang bisa dijelajahi di Malang? Let's go around...!

*Kampung Warna Jodipan*
Kampung penuh warna ini bermula dari pengerjaan tugas praktikum Hubungan Masyarakat oleh sekelompok mahasiswa Komunikasi UMM. Mereka memilih Kampung Jodipan yang menurut mereka (sebenarnya) letaknya sangat strategis dan bisa dibuat 'atraktif'. Muncullah ide untuk menyulap kampung kumuh di pinggir sungai itu menjadi kampung tematik yang indah dan menarik banyak orang untuk datang. Ide itu didukung oleh beberapa pihak sehingga jadilah Jodipan menjadi kampung yang colorfull seperti saat ini. Selain rumah penduduk berwarna-warni dengan beberapa lukisan 3D, ada juga jembatan kaca (satu-satunya di Indonesia) yang terbentang di bantaran sungai di pinggir Kampung Jodipan ini. Kalau kamu ke Malang naik kereta api, kampung ini hanya berjarak sekitar 5 menit berjalan kaki dari Stasiun Malang (Kota Baru). Masuk ke kampung ini cukup membayar 3K per orang dan parkir 2K (roda dua), 5K (roda empat). Kampung ini buka mulai pukul 6 pagi sampai dengan pukul 6 sore.

*Pemandian alam Sumber Taman*
Berada di Malang, tidak ada salahnya mencoba sumber mata air jernih yang banyak terdapat disana. Salah satunya, dengan ciri khas airnya yang jernih berwarna tosca, adalah Sumber Taman. Pemandian alami Sumber Taman berada di Kabupaten Malang, hanya berjarak kurang lebih 1,5 jam perjalanan dari pusat kota. Cukup dengan membayar parkir 3K kamu udah bisa mandi-mandian segar di sumber mata air alami tanpa kaporit ini. Untuk kamu yang kurang lancar berenang, tenang saja ada penyewaan ban kok disana. Sumber Taman sudah dilengkapi dengan beberapa fasilitas seperti mushola, toilet dan beberapa warung yang menjual jajanan murah meriah.

*Pantai Sendiki*
Kalo kamu udah nonton film 'Kulari ke Pantai', ingat ga kata-kata si bule Dani yang mau nyari ombak di Malang Selatan? Yup, ada begitu banyak pantai yang bisa kamu jadikan pilihan untuk berlibur selama berada di Malang. Dalam satu kawasan saja, kita bisa mendapati beberapa pantai. Untuk kamu pecinta pantai dengan banyak ayunan, Pantai Sendiki adalah pilihan yang pas. Jarak dari Kota Malang ke pantai ini kurang lebih 3 jam perjalanan dengan kendaraan pribadi. Akses jalan cukup baik namun beberapa ratus meter menuju pintu masuk jalannya masih belum beraspal sehingga menjadi becek ketika musim hujan. Tiket masuk ke Pantai Sendiki 5K per orang dan parkirnya (muahalll) 10K per motor. Fasilitas yang ada di pantai ini sudah lengkap. Ada banyak ayunan yang bisa kamu pilih untuk foto-foto. Di pinggiran pantainya juga masih banyak pohon untuk kamu yang mau pasang hammock. Juga, mandi-mandian sambil main pasir bisa kamu pilih untuk menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman tercinta.

*Air terjun Sumberpitu Tumpang*
Mau coba rasain segarnya mandi di sumber mata air? Gak cuma satu sumber tapi tujuh! Arahkan kendaraan kamu ke daerah Tumpang yang merupakan daerah sejuk lainnya di Malang selain Kota Batu. Kurang lebih 2 jam perjalanan dari Kota Malang, kita akan main-main ke Sumber Pitu Tumpang. Menuju kesana, kita harus trekking terlebih dahulu kurang lebih 30-45 menit melewati kebun-kebun warga dan naik turun bukit. Jangan kuatir, lelahnya trekking tidak terasa karena dimanjakan view hijau sepanjang perjalanan. Tanaman Labu Siam yang menggantung di sepanjang jalur masuk beberapa meter sebelum tempatnya juga menjadi hiburan mata tersendiri. Setelah memasuki area Sumber Pitu, yang pertama kali kita lihat adalah Coban Ringin Gantung yang letaknya berdekatan dengan Sumber Pitu. Naik ke atas sedikit dan kamu akan menemukan sumber yang menawarkan kesegaran dan mengalir dari tujuh mata air alami. Sumber Pitu ini cocok untuk kamu yang berjiwa petualang atau ingin mengolahragakan kaki kamu. Tiket masuk 5K per motor.

*Bukit Teletubbies*
Bukit Teletubbies bisa jadi alternatif kalo kamu pengen ke Bromo tapi ga mau ribet ngumpulin rombongan atau patungan untuk sewa jeep kesana. Bisa naik motor atau kendaraan pribadi lainnya, kamu bebas milih mau datangin tempat ini baik pagi siang maupun sore. Arahin kendaraan kamu ke daerah Tumpang kemudian lurus saja mengikuti rute yang tersedia. Pemandangan sepanjang jalan menuju ke sana beneran gada duanya. Apa yang istimewa dari Bukit Teletubbies? Tentunya padang savana yang menghampar luas sejauh mata memandang. Dalam perjalanan pergi dan pulang, kamu bakal melewati Desa Wisata Ngadas, desa terakhir sebelum masuk ke Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ada juga beberapa coban seperti Coban Pelangi, Coban Bidadari dan Coban Trisula yang bisa kamu datangi sebelum atau setelah puas mengeksplor Bukit Teletubbies. Tinggal pilih! Sekali jalan, dua tiga empat wisata didatangi.

*Air terjun Tumpak Sewu*
Salah satu air terjun paling indah yang dimiliki negeri kita tercinta (menurut saya) adalah Air Terjun Tumpaksewu yang berada di perbatasan Malang dengan Lumajang. Berjarak kurang lebih 2,5 jam perjalanan melewati jalur lintas Malang - Lumajang yang ramai, dengan kontur jalan yang berkelok-kelok. Lelahnya perjalanan menuju ke sana terbayar langsung ketika sudah sampai di tempatnya, menyaksikan dengan mata kepala sendiri eloknya ciptaan Allah. Kamu juga bisa menantang adrenaline dengan trekking menuju ke bawah air terjun. Tapi hati-hati ya, licin!

*Coban Rais*
Selain pantai, ada banyak air terjun atau coban yang ada di Malang. Salah satu yang lumayan dekat dari Kota Malang dan mudah untuk didatangi dengan spot-spot kekinian adalah Coban Rais. Mau ke Rumah Hobbit? Atau bukit penuh bunga warna-warni? Atau sepeda udara seperti di Tebing Keraton Bandung? Semua ada di sini. Kawasan wisata yang sedang naik daun ini hanya berjarak kurang lebih setengah jam dari Kota Malang. Selain wisata penuh spot selfie kekinian, kamu juga bisa nemuin segernya air terjun yang mengalir dari lereng Gunung Panderman. Tempat wisata ini selalu ramai di akhir pekan. Kalo gamau banyak photobomb, jadwalkan kunjungan kamu ke tempat ini saat hari kerja ya gaes.

*Pantai Ngudel*
Kawasan Malang Selatan tidak habis dieksplor pesona wisata pantainya. Salah satunya adalah Pantai Ngudel (bukan udel ya). Pantai berpasir putih bersih, dengan warna lautnya yang biru bergradasi dan kadang berwarna tosca. Walau terdapat larangan berenang, pengunjung masih bisa bermain air ala-ala di bagian pantai sebelah kiri yang cukup aman. Bakar ikan sembari bersantai bersama keluarga dan teman terkasih menjadi salah satu pilihan paling cocok untuk dilakukan di pantai ini. Kalo datang di waktu yang pas, insyaallah pantai ini sepi dan private serasa milik sendiri. Sarana dan prasarana sudah lengkap. Akses jalan menuju pantai ini juga okepunya. Kenapa pilih pantai ini dari banyak pantai di Malang Selatan? Jawabannya karena... datangi sendiri! Hehee.

Udah baca artikel ini, yakin belum pengen nabung buat ke Malang?

Rabu, 10 Oktober 2018

Benchmarking Pustakawan UIN Maliki Malang (2) : Perpustakaan Universitas Indonesia


Tantangan perpustakaan (kampus) di era digital semakin kompleks. Mahasiswa tidak hanya dihadapkan pada banyaknya informasi tapi juga kesulitan untuk memilah dan memilih informasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Kalo perpus ga peka sama perkembangan zaman dan kebutuhan mahasiswa saat ini, siap-siap deh ditinggalin. Mahasiswa lebih milih apa yang ada di genggaman (gadget) dibanding capek-capek jalan kaki ke perpus.

"I don't need the library, it's too big, too complicated, and anyway, everything worth having is on the Internet," the bright eager undergraduate answered the ancient faculty member who recommended using the library.

"Anyway, the library's catalog is on-line, and I can look at it if I need stuff," she concluded.

"But maybe you'll need one of the real books that they have in the library," the old professor suggested.

"Maybe," she conceded, "but probably not, and anyway, if there's a source on line, I'll always use it before anything in the library."
Sumberklik di sini

Kamis pagi (20/09/2018), setelah berdandan rapi kami berjalan dari penginapan menuju perpustakaan. Rencananya, mau cari sarapan dulu karena jadwal sharing sesion kami di perpus jam 9 pagi. Mampir deh pada akhirnya setelah muter-muter, di kantin Fasilkom. Makanan dan minuman yang dijual di sini enak- enak dan murah untuk ukuran anak UI. Zaman magang dulu dikasih tau sama pegawai perpus, "kalo mau makan di kantin Fasilkom aja. Jangan di perpus, mahal-mahal. Bukan selera Indonesia". Wkwk.

Depan perpustakaan UI (pintu arah rektorat) terdapat Pohon Baobab yang punya julukan 'pohon abadi' (Ariel mode on...tak ada yang abadi...ooo). Pohon ini langsung didatangkan dari Afrika lho. Batangnya besaaar sekali, ga cukup dipeluk beberapa orang. Bapak-bapak antusias dan menyempatkan berfoto di depannya sebelum masuk perpus.

Kurang lebih pukul 9.00 pagi, rombongan kami diterima oleh bagian Humas di ruangan kepala perpustakaan. Acara berlangsung santai. Kami dijelaskan sekilas tentang Perpustakaan UI secara garis besar. Layaknya perpustakaan kampus besar pada umumnya, kami dibuat takjub pada berbagai jenis layanan dan kegiatan yang dilakukan di Perpustakaan UI.

...(Di ruangan yang sama tahun 2012 lalu, saya dan seorang teman disambut langsung oleh Kepala Perpustakaan UI, Ibu Luki Wijayanti. Jadi pada awalnya, saat kami datang Bu Luki sedang kunjungan ke Korsel. Begitu beliau sudah pulang, kami diberitahu oleh Bu Ambar, "dipanggil ibuk ke ruangannya". Kami diajak berbincang dan diberi oleh-oleh permen dari Korea, woohoo. Sempet foto-foto jugak. Merasa tersanjung; apalah kami dua mahasiswa Diploma 3 dari pelosok Lampung. Perpus universitas berkelas dengan sambutan berkelas pula).

###
 
Sesi selanjutnya adalah tanya jawab seputar manajemen dan pelayanan perpustakaan. Pada awalnya dipandu oleh Bu Mariyah karena Bu Etty sebagai koordinator administrasi dan layanan sedang ada acara di rektorat. Ada beberapa pertanyaan terkait hal teknis yang tertunda karena yang memiliki pengetahuan dan kewenangan untuk menjelaskannya yaitu Bu Etty, belum datang. Setelah Bu Etty datang, acara dilanjutkan kembali.

Struktur organisasi Perpustakaan UI saat ini dengan kepala perpusnya Bapak Fuad Gani, lebih ramping. Hanya ada 3 koordinator yaitu: Koordinator Layanan Perpustakaan (Bu Mariyah), Koordinator Manajemen Pengetahuan (Bu Laely Wahyuli) dan Koordinator Administrasi Umum dan Fasilitas (Bu Etty Setyawati). Hal ini membuat saya bertanya-tanya, soalnya pas tahun 2012 dulu, ada kurang lebih 9 orang koordinator (mulai dari TI, layanan, fasilitas umum dan sebagainya). Beda yang mimpin, beda cara. Apapun itu, semoga tetap kereeen!

Tentang pengelolaan denda di Perpustakaan UI. Fyi, denda keterlambatan buku di Perpus UI adalah Rp 1000 per buku per hari. Mihil bingit yak! Sebenarnya masuk kategori "kebangetan" kalo sampe didenda soalnya pihak perpus udah ngasih kemudahan banget buat perpanjangan, bisa via telpon ataupun email. Masa pinjamnya juga lama banget, 2 minggu plus 2 kali masa perpanjangan.

Nah kalo mahasiswa dendanya sampe digitnya 6 dan mereka ga sanggup bayar, perpus bisa kasih keringanan berupa pertukaran 'tenaga'. Apa itu? Jadi, mahasiswa yang ga sanggup membayar dendanya itu 'bekerja' di perpus sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan jumlah nominal denda mereka. "Hukuman" yang diberikan itu semata-mata untuk memberikan pelajaran karena terlambat mengembalikan buku = menutup kesempatan pemustaka lain untuk mendapatkan informasi.

Terkait denda, Bu Etty melontarkan pertanyaan yang cukup membuka cara berpikir kami, "denda itu pendapatan atau bukan? Kalo iya, berarti perpustakaan dituntut untuk meningkatkan pendapatannya tiap tahun. Ayo dong mahasiswa pada telat balikin bukunya biar dendanya banyak, biar pendapatan perpus meningkat tiap tahunnya. masa' githu?! Khan enggak. Receh banget kalo kita ambil pendapatan dari denda mahasiswa. Kantong mahasiswa itu berapa sih, bapak ibu, ga kasian kah? Kalo di sini kami menyebutnya 'penerimaan'.

Di UI, pengelolaan denda dilakukan oleh pihak perpustakaan sendiri; ga semua perpus begini lho. Sebagai gambaran, Perpustakaan UIN Maliki Malang menyerahkan semua denda yang didapat ke rektorat (bahkan uang fotokopi yang didapat per hari). Ketika pengelolaan denda dilakukan oleh perpus sendiri maka tentu saja untuk kebaikan perpus dan pemustaka. Denda digunakan antara lain untuk menyekolahkan pegawai; membayar tenaga lepas bagian shelving, dan hal sederhana seperti membelikan oleh-oleh misal ada salah satu staf yang diutus keluar kota (atau luar negeri), ini bikin melting!

Sebagai non-profit organization atau lembaga yang tidak mengumpulkan laba (keuntungan) dalam melakukan layanannya, UI tetap menargetkan pemasukan. Dari mana? dari kunjungan non civa UI. Pengunjung Non UI dan alumni harus membayar sebesar Rp 5000 dan pelajar (menunjukkan kartu pelajar aktif) Rp 2000. Pustakawan harus pula pintar 'berbisnis'.

(Ketika sedang menjelaskan, Mbak Cempaka (atau Mbak Mutia ya, lupak) 'keceplosan' mengucapkan kata "ayah" untuk menyebut bapak kepala perpus. Ga terlalu heran, di Perpustakaan UI ini hubungan kekeluargaan dijaga sebagaimana menjaga hubungan profesionalitas kerja). 

In my opinion, sesi sharing yang ga sampe 2 jam ini lebih bermanfaat dan kerasa dibanding seminar atau workshop seharian.

###

Berfoto di jembatan yang menghubungkan antara gedung perpustakaan dan ruang pimpinan. Keren banget ukiran yang ada di jembatan (kata BACA dalam berbagai bahasa)
###

Yang bikin iri dari manajemen SDM Perpus UI adalah bagaimana mereka 'memperlakukan' para staf (pustakawan maupun non). Semua staf diberi kesempatan yang sama untuk berkembang; untuk menambah kompetensi pribadi, tua maupun muda. Maka diadakanlah pelatihan desain, diikutkan seminar non perpustakaan (tentang kecakapan diri, dll), dan diberikan KEPERCAYAAN untuk menjadi panitia kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh perpustakaan.

Pimpinan TIDAK selalu benar; Ada kalanya mengambil keputusan atau membuat suatu kebijakan namun tidak sesuai dengan yang terjadi di lapangan. Disitulah saatnya musyawarah dilakukan. Pimpinan menerima masukan dari bawahan, dan bawahan merasa dihargai karena pendapatnya didengar.


Konsep yang diusung di Perpustakaan UI adalah konsep perpus abad 21 yang memberikan lebih banyak space untuk 'orang' dibanding 'koleksi'. Perpustakaan difungsikan sebagai learning common. Ruang pembelajaran. Meeting point berbagai disiplin ilmu. Diharapkan dengan diskusi-diskusi yang dilakukan di perpustakaan, terlahirlah ide-ide yang berguna bagi pembangunan bangsa dan negara. Fasilitas belajar mandiri, meja diskusi dan ruang diskusi tertutup disediakan FREE bagi mahasiswa. Pokonya dibikin gimana caranya mahasiswa tuh pada betah deh ngabisin waktu di perpus. Colokan diperbanyak di semua tempat, WIFI oke, tempat buat lesehan atau jajan, ada. Nikmat perpus mana yang kamu dustakan, wahai?

###

Salah satu layanan baru Perpustakaan UI- Ruang baca dosen dan mahasiswa pascasarjana. Semacam klinik yang 'dokternya' adalah Bu Clara, salah satu pustakawan terbaik yang dimiliki oleh Perpus UI. Layanan ini membantu dosen atau mahasiswa yang bingung menentukan topik penelitian atau membantu hal-hal lain yang berkaitan dengan akademik. Keren ya! Lebih private dan mendalam.

###

Ruang komputer atau anak UI biasa menyebutnya 'Kebun Apel'. Ruang internet yang berisi 100 sekian PC dengan kecepatan-nya yang disukai milenial. Merk PC yang digunakan tidak terkait dengan lembaga yang disponsori oleh salah satu perusahaan gadget terbesar di dunia itu, melainkan karena pertimbangan operasional like lebih bebas virus dll. Mahasiswa bebas mengakses situs apapun (Youtube, Twitter dan lain sebagainya). Layanan komputer ini buka mulai pukul 8.00 sampai dengan 21.00. Oiya yang bisa memanfaatkan layanan ini hanya civitas akademik UI aja lho ya.

###

Tas tenteng transparan milik perpustakaan. Digunakan untuk memudahkan pemustaka membawa barang-barang pribadi seperti buku catatan atau netbook. Juga, untuk membawa buku yang dipinjam atau akan dikembalikan. Idealnya, tiap perpustakaan (besar) menyediakan tas ini untuk pemustaka. Tas tersebut sengaja dibuat transparan demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan berkaitan dengan keamanan bahan pustaka (menghindari pencurian atau mencegah mahasiswa membawa barang-barang yang tidak perbolehkan semisal makanan dan minuman).

###

Galeri karya Perpustakaan UI yang memamerkan buku karya civa UI dan tentang UI. Selain itu, di-display juga beberapa buku yang bakalan menarik minat pemustaka; Apa definisi "buku menarik" itu? Buku-buku bertema tertentu, misal lagi musim Piala Dunia, dipajang deh buku yang berkaitan dengan itu. Buku yang unik (bentuknya) misalkan berbentuk cake, rokok cerutu dan bola gepeng. Dari mana dapatnya? Beberapa ada yang dibeli di event BBWB atau Big Bad Wolf Book (udah pernah kesitu? seru lhoh!).

###

Dengan lugas dan hangat, Mbak Mutia dan Mbak Cempaka memandu kami ke ruang kerja pustakawan dimana semua staf berkantor di sini (kecuali yang memiliki ruang layanan sendiri seperti misalnya Bu Clara). Dulunya, semua staf mulai dari humas, keuangan, TI, dan lainnya ada di ruangan ini. Namun saat ini, demi efisiensi dan kemudahan pendelegasian tugas, ada beberapa staf (bagian administrasi) yang berkantor di lantai 2 di ruangan kepala perpustakaan. Tidak ada sekat tinggi antar meja di sini; semua terlihat sedang mengerjakan apa. Jadi inget dulu; kalo pas abis ada yang kunjungan luar kota atau luar negeri, Bu Ambar dengan tekun membagi oleh-oleh ke tiap meja staf. Saya pernah dikasih Beng-beng. Sederhana si, cuma kena banget! Bisa dibilang ruangan ini adalah meeting point para pustakawan dan staf. Ada meja kursi untuk makan, tempat shalat dan juga toilet.

###


Kalo mau liat salah satu sample perpustakaan universitas yang ketje ya Perpustakaan UI ini. Tidak hanya keren dari sisi jasmani (gedung perpustakaan, koleksi, sarana dan prasarana), tapi juga ruhani (manajemen SDM, profesionalitas kerja, pengembangan kompetensi staf perpustakaan, dll). UI gitu lhooo. Harapannya sepulang dari sini, tidak hanya euforia sesaat (kagum dengan segala ke-wah-an yang ada di Perpustakaan UI) namun dapat "membawa pulang dan mengaplikasikan" semua hal baik yang kami terima dalam kunjungan kali ini demi terwujudnya layanan prima kepada civitas akademik UIN Maliki Malang. Amin-kan.


Alamat lengkap:
Perpustakaan Universitas Indonesia
Gedung The Crystal of Knowledge, Perpustakaan UI
Kampus UI, Depok 16424.
Telepon: (021) 7270751, 7270159, 7864134.
Faks: (021) 7863469.
Fb: Universitas Indonesia Library
Twitter & Instagram: @UI_library

Selasa, 02 Oktober 2018

Benchmarking Pustakawan UIN Maliki Malang (1) : Keberangkatan

Benchmarking adalah suatu proses membandingkan dan mengukur suatu kegiatan perusahaan/organisasi terhadap proses operasi yang terbaik di kelasnya sebagai inspirasi dalam meningkatkan kinerja (performance) perusahaan/organisasi (Benchmarking The Primer; Benchmarking for Continuous Environmental Improvement, GEMI, 1994).
Belum ada sebulan yang lalu ke Jakarta, ga lama kemudian dapat kabar kalo kantor bakal ngadain kunjungan ke Jakarta dalam rangka benchmarking. Tujuannya: Perpustakaan Universitas Indonesia di Depok dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta Pusat. Rada excited untuk tujuan kali ini karena: Perpustakaan UI merupakan tempat saya magang pas kuliah dulu dan tak terhitung betapa banyaknya ilmu yang saya dapat selama berada di sana dan kedua, belum ada sebulan lalu berkunjung ke Perpusnas tapi belum sempet keliling lihat layanannya so here is the time!

Benchmarking tahun ini dilakukan dalam bentuk pelatihan peningkatan kompetensi pustakawan dan staf perpustakaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Menurut Wakil Kepala Perpustakaan UIN Maliki Malang sekaligus team leader rombongan kali ini, Pak Mufid, benchmarking merupakan bagian dari program CPD (Continuing Professional Development) pustakawan dan staf perpustakaan yang dilaksanakan setiap tahun (?). Melalui program ini diharapkan dampaknya akan terlihat pada peningkatan kompetensi pustakawan dan staf perpustakaan yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan pelayanan Perpustakaan UIN Maliki Malang kepada pemustaka ke arah yang lebih baik.

Dengan persiapan yang lumayan mepet oleh para panitia yang luar biasa, berangkatlah kami hari rabu tanggal 19 September 2018. Ga kayak 2 tahun lalu yang pake bus kampus ke Jogja (saking lebarnya sampe duduknya satu satu, men), kali ini kami naik kereta. Ada 13 orang pustakawan dan staf perpustakaan yang ikut dalam kunjungan kali ini. Pengennya sih semuanya bisa ikut (satpam dan office boy) biar tambah rasa kekeluargaan namun apa daya #alotnyabirokrasi.

Baca juga : http://www.juleebrarian.com/2018/09/enjoy-jakarta-dari-asian-games-sampe.html

Jam 10.30 para bapak dan ibu yang mau berangkat kumpul di perpustakaan terlebih dahulu sebagai meeting point. Sedikit briefing dan pembekalan (alat mandi dan uang saku awal, Alhamdulillah). Jam 11 kurang rombongan menuju Stasiun Malang. Saya kabur duluan ke stasiun naik motor #takutMabok. Kereta yang kami tumpangi adalah Jayabaya yang berangkat pukul 11.45 siang. Sampai di stasiun, sudah menunggu Alex, kemudian membagikan tiket pada kami satu-satu.


Awalnya agak kasian juga nih sama bapak-bapak dan emak-emak yang harus 'tahan badan' naik kereta ekonomi (tempat duduk 2 -2, berhadapan) belasan jam. Saya sih, biasa susah. Kebutuhan perut insyaallah aman. Obat-obatan dan keperluan lain-lain, siap. Bisa jadi ini pengalaman pertama para tetua menuju Jakarta atau naik kereta atau keduanya. Beliau-beliau terlihat bersemangat walau pegal, gabisa selonjoran, dan bermacam kesabaran lainnya. The power of togetherness, kebersamaan membuat semuanya lebih mudah diatasi. Naik kereta belasan jam yang biasanya selalu bikin bosen dan tidur melulu, kali ini bisa lebih dinikmati. Rasa sebagai 'satu keluarga' dan saling melindungi, membuat perasaan "feel save" selama dalam perjalanan.


Karena tujuan pertama kami ke Depok, maka diputuskan berhenti di Stasiun Jatinegara biar lebih dekat. Kalo turunnya di Pasar Senen, bakalan jauh dan muter-muter. Rencananya setelah itu, baru naik Grab menuju kampus UI. Kereta Jayabaya yang membawa kami sampai tepat waktu jam 1.30 malam di Stasiun Jatinegara. Bayangin, masih enak-enaknya tidur malam, harus bangun dan jalan nyari kendaraan. Begitu keluar stasiun, hawa sumuk langsung menyergap. Suhu rata-rata di Jakarta yang mencapai 30 derajat celsius membuat rombongan kami yang terbiasa tinggal di Malang dengan udara sejuk, langsung keringetan.


Walau sudah tengah malam hampir pagi, masih ramai orang mencari nafkah. Take a rest for a while. Bapak-bapak melipir ke warung kopi tenda yang ada di depan stasiun. Lumayan bikin melek mata dan mengembalikan kesadaran. Bu Tyas pesen teh panas; Kurang pas sebenarnya di hawa panas Jakarta macam ini, ehe. Sekitar jam 2 malam, kami naik Grab menuju kampus UI Depok. Mayan nih biayanya, 100K ke atas. Kalo bayar pake OVO lebih murah, actually. Bisa lebih murah lagi kalo mau naik KRL atau Tije, tapi harus luntang-lantung dulu nunggu sampe jam 5 pagi baru ada. Jakarta di malam hari tidak sekejam saat siang. Mobil kami melaju tanpa hambatan. Kurang lebih 30 menit sudah masuk ke area kampus UI.

Sampai di area kampus UI, kami langsung menuju masjid UI (Ukhuwwah Islamiyah). Agak khawatir juga kalo misal gerbangnya digembok, lengkaplah sudah jadi gembel traveler. Alhamdulillah bisa masuk. Tips kalo ke UI dan kemaleman, bisa numpang tidur di masjidnya (tapi siap-siap dengan serbuan makhluk haus darah #nyamuk). Kami langsung ambil arah berbeda; bagian laki-laki dan perempuan. Lumayan bisa ngeleseh sebentar sebelum subuh. Tersedia kamar mandi bersih yang bisa buat mandi juga, yesss!

Masjid UI letaknya strategis banget mengelilingi danau, bersama 3 gedung pusat lainnya yaitu PAU, balairung dan perpustakaan (nambah satu gedung lagi sekarang, Makara Art Centrum yang baru diresmikan tahun lalu). Masjidnya luas dan terbuka. Tempat ini jadi salah satu tempat favorit mahasiswa untuk ngadem (jasmani dan ruhani).


Setelah shalat subuh berjama'ah, kami langsung berkemas kembali menuju penginapan yang sudah dipesan yaitu di Pusat Studi Jepang. PSJ berada di kompleks Fakultas Ilmu Budaya atau FIB. Dari masjid UI kami jalan menuju penginapan, itung-itung olahraga pagi sambil lihat-lihat kampus UI yang besar banget ini.

Kampus the yellow-jacket kebanggaan Indonesia. Luas kampus ini sekitar 320 hektar. Dan boleh banget kampus UI Depok menobatkan diri menjadi green campus karena hampir 75% areanya berupa hutan kota dan terdapat 6 danau alam. Demi mengurangi banyaknya kendaraan dalam kampus, disediakan bis kuning (bikun) dan sepeda (spekun) yang bisa dimanfaatkan gratis oleh civa UI. Masih terngiang dengan jelas tulisan di bikun yang dulu setia menemani perjalanan selama magang di Perpustakaan UI; "Use public transportation to reduce air pollutions". Bener banget, ya.


Setelah berjalan kurang lebih 20 menit muter-muter nyari lokasinya, akhirnya kami sampai di penginapan PSJ. Penginapan di Pusat Studi Jepang ini bisa dijadikan alternatif selain di Wisma Makara UI (kalo lagi penuh). Harga kamar berkisar antara 300 - 575K. Kami menempati kamar tipe 'Twin' dengan fasilitas yang didapat antara lain 2 single bed, pendingin ruangan atau AC, handuk plus sabun, dan sarapan di pagi hari (harga 370K). Keluar dari balkon kamar, view-nya langsung menghadap ke danau. Damai dan menentramkan #halah. Menurut saya, letak penginapan ini cukup strategis; Ga jauh dari halte bikun, perpustakaan dan gedung rektorat.


Harusnya kami belum bisa check-in dibawah jam 12. Tapi, demi melihat bapak-bapak dan emak-emak berwajah kelelahan dan kurang tidur, Alhamdulillah bisa check-in pagi itu. Sebelum menuju perpustakaan, kami diberikan waktu kurang lebih 1,5 jam untuk mandi dan siap-siap (atau yang mau balas dendam tidur sebentar).

Menjejak kampus ini, mengulang kembali memori awal tahun 2012 lalu ketika jadi mahasiswa magang pertama setelah Perpustakaan UI pindah ke gedung baru, gedung yang saat ini ditempati (Crystal of Knowledge). Sambutan hangat, ilmu bermanfaat, membaranya semangat, semua itu dan banyak hal lainnya pernah saya dapat dari salah satu perpustakaan universitas terbaik di Indonesia ini.