Monday, November 13, 2017

Melali (Main) ke Pulau Bali: Jelajah Eksotisme Tanah Lot & Pantai Pandawa


Hari ini, minggu 3 September 2017, sejak dari habis shalat subuh kami bersiap. Semalam sudah bilang dengan Bu Ros bahwa pagi ini kami akan menuju Denpasar. Masya Allah, dari jam 3 subuh sudah terdengar suara berisik dari dapur; Bu ros memasak nasi untuk kami. Lah kami masih asyik di kasur, menikmati sisa-sisa kelelahan dari Pantai Karangsewu dan Bukit Kursi kemarin. Bu Ros membuatkan bekal yang kelak ternyata itu sangat sangat sangat menolong perut kami di Denpasar. (Ya Allah, muliakanlah orang-orang yang memuliakan tamunya).

Lepas berpamitan dengan Bu Ros, kami memacu motor menuju jalanan lintas Gilimanuk - Denpasar. Saya dibonceng Tika terlebih dahulu, Hanum sendirian. Perlahan namun pasti motor kami melawan dinosaurus (baca: truk-truk besar nan lambat). Kok jauh amat ga sampe-sampe yaa, batin saya. Di tengah perjalanan, tiba-tiba Hanum mengklakson kami berdua. "Kak, motor Hanum kok macet-macet. Kenapa ya?". Sempat panik, ini motor rusak atau kenapa ya? Perasaan kemarin baik-baik aja gada masalah. Setelah diselidiki ternyata bensinnya habis -____- yaelaaah! Dikira indikator bensinnya rusak, padahal emang bensinnya kosong. Ngekek dan ngenes jadi satu! Jadilah Hanum kami tinggalkan di pinggir jalanan sepi sendirian untuk mencari bensin.

Perjalanan dari Jembrana ke Denpasar itu mudah, tinggal ikuti saja jalanan utama. Papan penunjuk juga cukup jelas untuk diikuti. Tapi ya itu, ketemu truk-truk besar nan banyak. Kemungkinan besar truk atau bus yang melintas ini menuju ke daerah Timur jauh sana (Lombok Sumbawa Bima dan sekitarnya). Kudu hati-hati dan pinter-pinter nyalip biar ga 'dikentutin' asap hitam truk-truk itu. Keluar dari Jembrana kemudian masuk daerah Tabanan dan sekitarnya, ga lihat masjid satupun! Howaw! Sepanjang jalan yang terlihat hanya rumah-rumah dengan pura didepannya. Satu lagi, yang buat langsung ga nafsu makan; Banyak Ti Pat Kai guling 'dipajang' depan warung-warung sepanjang perjalanan *duh! Ampun maaak!

Jembrana, Tabanan, Badung terlewati dengan lancar tanpa nyasar yang berarti. Setelah berjibaku di jalanan utama Bali, 3 jam kemudian kami sampai di Tanah Lot. Wah, tempat ikonik banget ini mah. Tiket masuknya lumayan mahal, 20K per orang. Okay mari masuk, untuk memastikan bahwa tiket masuk segitu sesuai dengan keindahan yang akan kami dapat. Tempat yang kami lihat pertama kali begitu masuk adalah Pura Batu Bolong.

Pura Batu Bolong
Baru datang *kayakOrangBingungLagiDimana
Hanum dan Tika memiliki perasaan yang sama begitu menjejakkan kaki pertama kali masuk area Tanah Lot ini. "Kayak bukan lagi di Indonesia". Asing di tengah bule-bule. Gapapa lah ya, berbagi keindahan alam Indonesia dengan bule-bule itu. Yang penting mereka gajadi tuan rumah di negerinya orang lain ajah (kayak negara apa hayoo). 

Cuma bisa lihat dari kejauhan (digembok gaboleh masuk)
Ada beberapa pura yang berada di kompleks Tanah Lot ini. Yang jadi ciri khasnya, Pura Luhur Tanah Lot yang terletak di bebatuan karang besar tepat di pinggir laut dan Pura Batu Bolong yang terletak di atas tebing yang menjorok ke laut. Sekilas lihat tebing Pura Batu Bolong, sedikit mirip sama Pasih Uug-nya Nusa Penida *baper. Kompleks wisata Pantai Tanah Lot ini sudah tertata dengan sedemikian rapinya. Sudah cocok memang sebagai destinasi internasional. Semua sarana dan prasarana yang ada sudah sangat memadai; tempat belanja lengkap, tempat makan beraneka rupa, dan kelengkapan akomodasi lainnya.

Anak jaman sekarang *BikinVlog
Di Tanah Lot ini ada banyak spot yang bisa kamu kunjungi. Yang penting mau eksplore dan mau capek ajah. Kalo mau santai dan biasa aja kayak nenek-nenek, yaudah view-nya jugak yang bisa dijangkau sama nenek-nenek, hidup nenek! Baru tahu kalau Tanah Lot juga merupakan salah satu tempat keren untuk lihat sunset. Saya lihat di salah satu sudut dekat pantainya sedang dibangun semacam tempat untuk pertunjukan Tari Kecak sambil melihat sunset (kayak di Pura Uluwatu).

Udah nenek-nenek aja masih mancung *eh **pegangHidungSendiri
Banyaknya turis yang datang ke Tanah Lot menjadi bentuk tafakur tersendiri. Masya Allaaah, Allah ciptakan manusia itu berbeda warna rambut, warna kulit, bentuk hidung, apa coba maksudnya? *seriusNanya. Dan yang paling keren dari berbeda-beda itu, tidak ada yang lebih unggul atau lebih rendah. Yang membedakan hanya keimanan yang ada di dalam hati yang hanya Allah saja yang tahu. Kalo pernah baca, sandal emasnya Fir'aun ada di neraka sementara sandal jepitnya Bilal Bin Rabah berada di surga (apa hubungannya? hubungin sendiri yak, wkwk!)

Dialog imajiner...
Saya : Umik dulu pas muda pernah ke Tanah Lot lho, sayang
Anak : Mana coba lihat fotonya mik? No pict, hoax!
Saya : Inih
Anak : Mana? ga kelihatan mukanya umik... Adek ga yakin deh kalo itu umik
Saya : Hhhhh...! (anaknya sapa ini...?)

Pernah gak pergi ke suatu tempat yang itu biar kalo ditanya jawabnya, "udah pernah kesana". Nah untuk saya pribadi, pergi ke Tanah Lot ya dengan alasan itu. Rasanya kurang afdol gitu kunjungan ke Bali kalo ga kesini. Oke ini subjektif, tapi untuk saya pribadi gak ada alasan yang buat pengen banget kesini (maap). Biasa saja. Ada kesempatan Alhamdulillah, gak ada juga ya ga apa. Ehe.

Minggu yang ramai
Ngeliat yang begini ini yang bikin baper (JUJUR!) *mupengDibelakangnya
Ada tiga objek yang bisa kita nikmati di Tanah Lot ini; pemandangan alam, sajian adat budaya, dan turis-turis asing yang datang. Sama kayak ke Bromo atau Kawah Ijen, turis asing yang datang ke Tanah Lot ini mendominasi hampir 75%. Apa cuma saya disini yang selalu excited kalo ngelihat atau ketemu bule?! Seneeeng aja bawaannya... O, Allah, semoga nanti jodohku bule #EHHH!

Namaste, aunty
Oleh para bule dari India ini, kami dikira turis dari Malaysia. Itu karena jilbab yang kami kenakan. Sempat mikir, kenapa Malaysia ya? Lah Indonesia khan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Entahlah. Oiya sepakat gak sih, kalau senyuman itu adalah bahasa universal yang bisa dimengerti oleh semua orang, walau berbeda bangsa dan bahasa. Modal senyum doang, kami bisa minta foto dengan buanyak bule di sini, hehe.

Entah karena hari minggu atau momen apa, di salah satu pura di Tanah Lot saat itu sedang dilaksanakan upacara keagamaan. Ramai sekali orang berkerumun, baik yang mengikuti upacara maupun pengunjung yang menonton. Kami bertiga penasaran mau lihat juga, ikutan nyempil ah. Pura yang ada di Tanah Lot ini terletak persis di pinggir laut; biasanya pura untuk pemujaan dewa-dewa yang bersemayam di laut.
 
Berbaris merayap menuju pura
Bukannya menikmati menyaksikan upacara adat, saya sibuk memperhatikan orang-orang yang asyik mengabadikan momen saat itu. Banyak orang, banyak kepala, berbeda-beda satu dengan yang lain apa yang ada di pikiran mereka. Mungkin saja ada yang memikirkan hutang, memikirkan keluarganya di belahan bumi yang lain, memikirkan besok akan masuk kerja kembali, memikirkan jodohnya akan datang dari sebelah Barat atau Timur kah... (halah ini mah curhatan yang nulis) wkwk!

Amit, bude, kulo nyuwun foto njenengan nggeh...
Turis dari Jerman (eh apa Prancis ya? Lupak!)
Sudah menjadi rahasia umum, bule-bule itu suka sekali dengan keramahan orang Indonesia. Kalo meminjam istilah Spongebob, "kotak senyum"-nya orang Indonesia itu mudah sekali kesentuh. Hehe. Jadi, yang buat para bule itu mau datang dan betah berlama-lama di Indonesia selain keindahan alamnya, juga kesumringahan senyum penduduk lokal. Tetaplah selalu tersenyum, Indonesiaku :)

Kami Indonesia kami Pancasila :-P
Dari Tanah Lot di Tabanan, kami mengarahkan motor ke Denpasar, tepatnya ke daerah Legian menuju Losmen Arthawan. Letaknya ternyata di dekat lokasi Bom Bali. Daerah Legian ini sangat amat padat dengan hotel serta tempat belanja dan tempat maksiat wkwk! Karena saya pesan losmen dengan berbekal baca artikel di blog, ga nyangka banget kalo ternyata losmennya 'nyempil' diantara padatnya tempat buat bule-bule itu dugem. Losmen murah meriah dengan fasilitas 'lumayan' untuk para gembeltraveler seperti kami #eh saya. Letaknya strategis menurut saya, untuk menuju destinasi-destinasi andalan di Bali seperti Pantai Kuta, Sanur, tempat oleh-oleh Krisna maupun kaos Joger Bali.

Kami tidur siang untuk mengumpulkan tenaga kembali. Saya kira saya saja yang tidur, ternyata ada dua orang yang ikutan jugak -__- Pulas sekali tidur siang kami, sampai akhirnya bangun kesorean. Langsung buka gugel, "tempat menyaksikan sunset keren di Bali". Pantai Pandawa jadi salah satu saran. Meluncur lagi dengan Maps di tangan. Hanum dan Tika, saya "kerjai" untuk baca Maps. Mereka saya beri tanggungjawab untuk membawa kami ke tempat-tempat yang mau kami kunjungi selama di Bali ini. Wkwk!

Foto depan monumen around Bandara Ngurah Rai
Jarak dari Kuta ke daerah Pantai Pandawa sekitar satu jam. Lumayan padat di beberapa titik. Agak tersendat-sendat juga, karena yang baca Maps baru belajar -_- *ngelirikTikaHanum. Seperti yang sudah saya bilang di postingan-postingan sebelumnya, merasai traveling ke suatu tempat itu paling afdhol dengan naik motor. Lebih fleksibel kalo misal nemu tempat keren atau ikonik terus mau berswafoto, tinggal parkirin aja deh motornya di pinggir jalan. Kayak kami, nemu monumen gagah menjulang depan Bandara Ngurah Rai, sempetin turun dulu foto-foto.

Sampai di Pantai Pandawa yang terletak di Kuta Selatan, tepatnya daerah Badung, kami kesorean. Sudahlah. Menikmati sisa-sisa senja sembari doing activity gajelas. Lagian sunset-nya ga terlalu kelihatan, tertutup bukit gitu. Mataharinya sudah jauh meninggalkan kami -_- Masuk Pantai Pandawa  dikenai tiket masuk per orang 8K. Pantai Pandawa ini keren dengan warnanya yang tosca. Juga, ukiran-ukiran pada tebing kapur yang tidak sempat kami abadikan karena kesorean mengacaukan segalanya. Padahal dari segi estetik, ukiran patung-patung itu keren banget hoaaaa!

Kelihatan gak bulannya di atas sana?
Senja yang syahdu
Di Pantai Pandawa (atau penduduk setempat biasa menyebutnya dengan Pantai Kutuh) pengunjung bisa melakukan begitu banyak aktifitas 'kelaut-lautan'. Berjemur, gegulingan di pasir putihnya, berenang sampe item, juga bermain kano. Tidak seperti pantai-pantai di Malang Selatan, di Pantai Pandawa ini insyaAllah pengunjung aman untuk berenang. Sopan banget ombaknya, ga sampai ke bibir pantai. Tipe pantai 'baik-baik' lah pokonya.

Let's go JUMP!
Lihat langit dengan awan-awannya itu (!)
Mau deh kalo misal Allah kasih kesempatan lagi ke Bali, mengunjungi tempat ini. Udah sore aja masih kelihatan jejak-jejak bening tosca lautnya, apalagi kalo pas cerah. Di semua tempat yang kami bertiga kunjungi di Bali (dan dimanapun pas main, sebenarnya) selalu saya katakan pada Tika dan Hanum, "Semoga Allah kasih kesempatan kalian untuk kesini lagi dengan orang-orang dan kondisi yang lebih baik (terutama dalam hal akomodasi, ga kayak #gembeltraveler)". 

Kalo lagi cerah (credit picture: mediapijar.com)

Pakai kamera DSLR
Ini hasil di hapenya wkwkw
Dilihat dari sudut manapun, Pantai Pandawa ini udah keren dari sononya. Terutama jangan lewatkan untuk mengeksplore tebing-tebing kapur dengan view lautnya, cadasz! Sebenarnya, (harusnya) gausah jauh-jauh kalo mau lihat sunset mah. Cukup ke Kuta saja yang ternyata letaknya di belakang losmen kami. Yah biidznillah, semua sudah tertulis di lauhul mahfudz, ehe.

Ayok Num pulang aja lah gausah liat Tari Kecak, mahal!
Di Pantai Pandawa ini tersedia juga pertunjukan Tari Kecak. Mau nonton, muahahal bingit untuk kantong kami saat itu, 100 ribu per orang. Yah, pulang aja deh. Pakai Maps di malam hari lumayan bikin pusing dibanding pas hari terang. Sambil meraba-raba jalanan lah bahasa lebay-nya mah. Habis isya di Bali, masih kayak jam 4 sore di daerah lain. Kami tidak langsung pulang ke penginapan tetapi mampir tidak sengaja ke salah satu pantai sejuta ummat-nya Bali. Pantai apa hayo??? 

BERSAMBUNG

Thursday, October 19, 2017

Melali (Main) ke Pulau Bali: Trekking Ratusan Anak Tangga menuju Bukit Batu Kursi, Buleleng


Kalau kamu main ke Bali, satu bangunan yang akan terus-terusan kamu lihat, sana ada situ ada, ketemu lagi sepanjang jalan kenangan adalah, pura! Ya, sebagai provinsi dengan jumlah penganut agama Hindu terbesar di Indonesia, dengan pura sebagai tempat ibadahnya, pantaslah Bali mendapat julukan negeri seribu pura (seperti tetangganya, Lombok, dengan sebutan negeri seribu masjid). Kira-kira kenapa ya banyak sekali penganut Hindu di Bali? Bagaimana awal mulanya? Ada gak hubungannya agama Hindu di Bali dengan Hindu di negeri-nya Shahrukh Khan di India sana? *mulaiNgantuuuk. Hush! Listen to me carefully... (Jangan main aja, serap ilmu pengetahuan dari tempat-tempat yang kita datangi *pensive). Kalo menurut sumber yang saya baca, dasar teologis dari agama Hindu Bali ini ya dari India sana. Tapi praktik-praktik ritual keagamaannya lebih banyak dipengaruhi kepercayaan animisme yang memang sudah ada sebelum agama Hindu datang.

Hmmm...

Beranjak dari Pantai Karangsewu yang instagenic, kami melanjutkan perjalanan mengikuti jalan beraspal halus mulus sepi menuju Bukit Batu Kursi. Bukit ini merupakan salah satu destinasi yang sedang hitz di daerah Bali bagian utara, tepatnya terletak di Desa Pemuteran Kabupaten Buleleng, Bali. Berkendara kurang lebih sekitar satu jam perjalanan dari Gilimanuk, dengan view memanjakan mata dan hati sepanjang jalan, sampailah kami di parkiran Pura Puncak Kursi. Jadi sebenarnya tempat yang kami datangi ini adalah sebuah bukit dengan pura di atasnya. Kerennya, tidak seperti menaiki bukit pada umumnya, di Bukit Kursi ini sudah ada ratusan anak tangga yang siap 'menyambut' (dan menyengsarakan) kaki-kaki yang tidak pernah berolahraga wkwk!

Tangga selamat datang
Nafas yang memburu kembang kempis mewarnai perjalanan kami. Satu-satu, perlahan-pahan menyusuri anak tangga. Ga sampai beberapa menit, diam berhenti. Duduk lamaaa, baru lanjut lagi. Gituuu terus sampai matahari terbit dari barat semakin condong ke barat. Bukit Batu Kursi dengan view ikonik sepanjang Teluk Pemuteran dan juga perbukitan disekitarnya ini baru beberapa tahun belakang ini ngehitsss. Saya tahu tempat ini saja baru setelah diberi tahu oleh Heni. Tadi saat mau naik tangga, saya melihat ada beberapa orang (model dan fotografernya) sedang 'memantau' bukit ini dengan drone. Kereeen. Kalau kata abangnya Heni mereka mau pemotretan disini. Entahlah.

Macam gaya foto jadoel
Brother and his sister
Penasaran gak sih, kenapa pura dibangun di atas perbukitan? Atau di dekat laut atau danau? Atau di tengah perkampungan? Jadi sepanjang di Bali kemarin, saya perhatikan memang, pura-pura di Bali (dan mungkin tempat lainnya) dibangun di tiga tempat tersebut. Baca sana sini, dan inilah jawabannya *simakYaa... Sebuah pura dibangun di atas bukit atau tempat yang tinggi karena masyarakat Hindu percaya bahwa dewa-dewa mereka mendiami atau berdiam di situ. Sementara pura yang dibangun dekat pantai (di Melasti contohnya) biasanya digunakan untuk menggelar upacara keagamaan atau ritual khusus yang berkaitan dengan laut atau air. Pura yang dibangun di tengah perkampungan warga, difungsikan sebagai pusat keagamaan masyarakat Hindu Dharma Bali.

Cmiiw!

Dengan syusah payah, sampai juga kami di puncaknya. Tidak ada warung atau tempat apapun selain satu spot dengan bendera Merah Putih sebagai pelengkapnya di atas puncak Bukit Kursi ini. Itu aja. Jadi, kalau mau naik kemari jangan lupa bawa bekal untuk mengarungi ribuan tangga itu *halah lebayyy. Kami tidak mengunjungi pura karena takut mengganggu aktifitas keagamaan yang mungkin sedang berlangsung disana (gatau juga sih ada atau gak, ga kelihatan). Cukup foto-foto dan merenung menyaksikan indahnya ciptaan Allah ini. Masya Allah.

Pura Puncak Kursi dari kejauhan
Akhirnya (!) satu foto yang tidak ngeblurrr dari Bang Heru -abangnya Heni- prok! prok! prok!
Dari atas Puncak Kursi ini view lautan di kejauhan sana terlihat begitu jelas; Teluk Pemuteran. Banyak pantai keren di daerah ini. Kalau kata Tika, "kadang untuk melihat suatu keindahan, melihat sisi indah dari sesuatu, kita membutuhkan tempat yang lebih tinggi dan lebih jauh". Nah, Bukit Kursi ini salah satu spot yang bisa kita datangi untuk melihat keindahan Teluk Pemuteran dan sekitarnya. Pantai di Daerah Pemuteran ini terkenal dengan spot diving dan snorkeling-nya. Wilayah ini termasuk salah satu destinasi wisman untuk wilayah Bali Utara. Banyak penginapan berjejer di sepanjang jalan. Ada juga tempat untuk kursus diving.

Rehat sejenak bertemu dengan sepasang suami istri yang akan beribadah ke pura Bukit Kursi. Meminta tolong abangnya Heni untuk minta izin berfoto dengan mereka, hehe

Kamu harus coba datang kesini pada dua musim, kemarau dan hujan. Bukit Batu Kursi ini akan mempesonakan kamu dengan rumput keemasan (golden meadow) dan juga nuansa hijaunya. Kata Heni kalau lagi 'hijau' bagus banget. Tapi kuning keemasan saat ini juga keren kok. Alam itu selalu mempesona di semua kondisinya :) Saya pribadi lebih suka nuansa kering kuning keemasan ini.

Water is sweet but blood is thicker
Akur lagi setelah "tragedi Karangsewu" wkwk!
Masuk ke tempat ini kita cukup menuliskan nama pada buku tamu dan membayar seikhlasnya. Semua orang, semua usia bebas untuk kesini. Yang penting punya tenaga untuk menapaki ratusan anak tangga itu. Gak ada yang tanggungjawab kalau pingsan di tengah jalan. Dan satu lagi, jaga perilaku (ya) karena tempat ini pada dasarnya adalah tempat ibadah umat agama lain. Lakum diinukum waliyadiiin.


Tiada tempat yang didatangi tanpa berswafoto -_- Semenjak gaul sama dua orang ini jadi lebih sering selfie euy!

Alhamdulillah dua hari di Bali, Allah selalu berikan cuaca cerah ceria cepanjang hari *weks! Tapi ya lumayan ngebul juga ini kepala panas-panasan tanpa tedeng aling-aling alias pelindung. Kulit nambah porong, tangan nambah belang, tapi semangat ga akan ilang *halahNgomongApa. Apalagi di atas sini, yang gada tempat untuk berteduh sama sekali. Gak berlama-lama kami di atas Puncak Bukit Batu Kursi. Sudah cukup terekam keindahan ciptaan Allah ini dalam ingatan dan kamera :)

Kalo kata Om Agustinus Wibowo, perjalanan turun adalah proses melucuti ego
Terasa lebih ringan ketika 'dipikul' berdua, bukan?
Beranjak dari Bukit Batu Kursi ini, sebenarnya kami masih punya waktu kalau mau merasakan asin air laut atau bermain pasir pantai. Bali khan salah satu surganya pantai di Indonesia, di setiap sudutnya hampir bisa dipastikan akan kita temui pantai-pantai indah (yang berpenghuni maupun tak berpenghuni). Jalan menuju Bukit Kursi ini sejalur dengan Teluk Lovina yang terkenal dengan lumba-lumbanya itu. Tapi mempertimbangkan ini itu, ga mungkin kalo mau kesana. Kami manut saja deh dengan abangnya Heni mau dibawa kemana.

Masih ada nafas tersisa, gengs?
Kata umik-nya Zharnd, "jangan lupa foto di papan nama daerah yang didatangin tiap pergi ke suatu tempat baru
Kami sempat berhenti di beberapa pantai dan dilarang masuk oleh petugasnya, karena termasuk cottage mewah milik siapa entah -_- atau masih wilayah taman nasional yang tidak boleh sembarang dimasuki. Yasudah deh akhirnya motor kami berlabuh di Labuhan Lalang. Melipir-lipir masuk, nemu spot keren. Labuhan Lalang merupakan dermaga kecil starting point menuju Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat. (Semoga Allah kasih kesempatan untuk kesitu suatu hari nanti).

Gadis Tanah Rencong, uhuk!
Kira-kira Tika ngomong apa ya ke saya?
Bali mah begini banget ya. Tiap sudutnya punya nilai fotografi yang kece! Tiap sudutnya seperti punya magnet untuk kami berlama-lama disana. Sekedar duduk diam bertafakur akan indahnya alam yang sudah Allah buatkan untuk manusia ini, atau mengabadikan tempat dan momen lewat tangkapan lensa. Alhamdulillah atas semuanya, ya Allah.

Dua, tiga atau empat? Yang penting adil *lohhh
Abaikan lompatan dua orang yang tidak indah ini
Perhatikan satu orang keren ini saja 
Perjalanan 'membelah hutan' Taman Nasional Bali Barat ini mengingatkan saya pada saat melintasi jalanan Taman Nasional Baluran saat di Banyuwangi (cuma ini lebih ramai). Banyak monyet nongki-nongki sepanjang jalan. Kalau mulai ngantuk, saya iseng mengklakson menyapa mereka. Monyetnya kaget euy, ehe. Perjalanan pulang dari Bukit Kursi (Buleleng) ke Negara kurang lebih 2 jam. Masuk Kota Jembrana, terpisah dengan Heni dan abangnya. Waduh bingung! Ngikutin feeling aja deh. Alhamdulillah ketemu alun-alun Jembrana. Kalau sudah sampai sini insya Allah kami sedikit paham. Alhamdulillah lagi, sampai di rumahnya Bu Ros. Malam ini kami mau istirahat yang buanyaaak, karena besok pagi harus lanjut perjalanan motor ke Denpasar. Tika dan Hanum terlihat begitu lelah. Hanum nyeletuk di kamar, "adek lelah baang..." -__-'

Berpacu menuju hatimu, iya kamu... *eyaaak huweeek!
Oiya ada satu aturan di Bali ini yang cukup membuat saya keheranan dan wew (!) Kalau kita naik motor, dan berhijab, ga perlu pakai helm lagi dan insya Allah ga akan ditilang sama pak polisi. Lho kok gitu? Iyap, ini sudah berlangsung lama lho. Terus saya mikir keras, kenapa ya bisa gitu? Emang apa korelasi antara jilbab dengan helm? Jadi, warga Hindu Bali hampir tiap hari memakai pakaian adat untuk upacara adat atau acara keagamaan lainnya. Dibuatlah kebijakan yang memperbolehkan warga untuk tidak memakai helm ketika berkendara. Ribet sih emang kalo harus pake helm. Nah, karena jilbab termasuk 'pakaian khas' muslim, maka diberlakukanlah aturan yang sama agar tidak terjadi gesekan antarumat beragama. Kamu sepakat?

BERSAMBUNG

Monday, October 9, 2017

Melali (Main) ke Pulau Bali: Pantai Karangsewu yang Instagramable



Hari kedua di pulau nan indah, Bali. Hari ini kami sudah membuat janji dengan si empunya Bali, Heni, untuk eksplor daerah Bali Barat, tepatnya Gilimanuk dan sekitarnya. Rencana awal, kami akan diantar keliling oleh abangnya Heni naik mobil. Tapi ada sedikit 'tragedi' yang membuat mobil abangnya Heni tidak jadi dibawa. Jadi, di lingkungan sekitar rumah Heni ada yang sedang hajatan. Entah gimana ceritanya, pada akhirnya karena hajatan itu mobilnya Heni gabisa keluar kompleks. Walhasil, kami pergi dengan motor. Heni dibonceng abangnya, Tika dan Hanum bawa motor Bu Ros yang Alhamdulillah sudah bisa dipinjam full sampai kami pulang senin nanti. Dan saya? Naik angkutan sendirian terlebih dahulu menuju Gilimanuk untuk mengambil motor yang akan disewa (jarak Negara - Gilimanuk kurang lebih 45 menit). Rencana sebelumnya, naik mobil barengan baru ambil motor. Kemudian semua rencana berubah setelah negara api menyerang ada hajatan.

Sampai di Gilimanuk, ternyata mamas yang mau menyewakan motor belum bisa dihubungi. Susah euy cari sewaan motor disini. Menunggu tak kunjung datang, jadilah kami ke Pantai Karangsewu dahulu. Jarak dari Gilimanuk ke Pantai Karangsewu sekitar 15 menit. Melewati Ayam Betutu Bu Lina, yang harus pake banget kamu cobain. Mampir beli dulu buat makan siang nanti. Lanjut perjalanan, melewati belakang rumah orang, padang rumput tempat kerbau-kerbau digembalakan, serasa di Afrika. Ikut saja kami di belakang abangnya Heni. Lewat jalan ini ternyata tidak ketemu loket masuk, hihi. Kalo bahasa gaulnya, jalan trabasan (?).
Wanita penggembala kerbau, wkwk!
Sepi sekali saat kami sampai. Lumayan puanasss cuacanya! Hari itu masya Allah, matahari sedang bersinar dengan cerah-cerahnya. Menyambut orang-orang keren dari Malang. ehe. Tak berapa lama, mamas yang mau menyewakan motor menghubungi saya. Alhamdulillah. Motornya bisa diantar  ke Karangsewu. Baik banget dah (cek langsung IG-nya @exploregilimanuk).

Pantai Karangsewu ini keren pake banget loh. Epic! Perpaduan antara padang rumput gersang dengan air laut, mengingatkan pada Lombok. Ombaknya tenang, macam di danau-danau di Kanada sana! *Kayak pernah aja. Bu Ros bercerita, beliau bersama keluarga sering piknik dan berenang disini. Pantai ini insya Allah aman untuk berenang. Juga, ada perahu yang disewakan kalo mau keliling sekitar. Ada satu dua warung tersedia untuk sekedar membeli minuman dingin atau snack.
Such an epic view! Woohoo
Dermaga kecil yang fotogenic!
Pantai Karangsewu ini termasuk dalam wilayah Taman Nasional Bali Barat. Jenis pohon yang tumbuh disini mirip (atau malah sama ya?) dengan pohon yang banyak terdapat di Lombok dan Sumbawa. Padang rumputnya, lagi hijau atau lagi mengering kuning, sama kerennya! Feels like Lombok-Sumbawa deh pokonya mah!
Ada yang merajuk setelah foto ini, hatchim!
Awalnya belum yakin kalo ini 'laut'. Tenang banget airnya, tanpa ombak. Ini danau kali yak. Saking ga yakinnya, sampai saya 'cicipin' airnya. Eh, beneran asin ternyata. Masya Allah! Kenapa bisa setenang ini? Pastinya karena barisan mangrove yang mengelilingi pantai ini.
Menungguimu seperti menunggu durian runtuh dari pohon ini *lho
Macam di padang savana Afrika (ya). Deretan pegunungan di kejauhan sana mirip Table Mountain-nya Cape Town. Ada banyak spot foto yang keren banget disini. Foto dengan background air laut yang tenang, padang rumput yang sedang menguning, di jembatan, di bawah pohon. Semua keren! Pokoknya kudu dijadiin wishlist kalo ke Bali.
Si Manis Jembatan Ancol, eh Karangsewu
Nungguin siapa, Neng?
Tidak berlama-lama di Karangsewu, karena panasnya ga udah-udah. Lanjut perjalanan lagi. Alhamdulillah, masih nemu masjid di pinggir jalan. Mampir sejenak dalam rangka menjama' shalat kemudian makan Ayam Betutu Bu Lina. Enaaak! Kalo sama Ayam Taliwang, ga bisa dibandingkan. Dua hal yang sama-sama enaaaak! Pedes mantap. Thanks so much lho Heen, udah dikenalin sama salah satu warung Ayam Betutu paling laris di Gilimanuk. Eit! tapi buat yang muslim, jangan sembarang beli di pinggir jalan ya, mending cari infonya dulu (baca: kehalalannya). Ga semua warung Ayam Betutu ini memenuhi standar kehalalan.
Ayam Betutu paket lengkap
Mohon bersabar, ini ujian.
Ayam Betutu ini ada dua jenisnya; Betutu basah dan Betutu kering. Beda cara masak aja, (satu digoreng dan satunya lagi dikukus). Selain ayam, bebek juga biasanya dimasak Betutu. Ayam Betutu ini kaya banget rempahnya. Sambelnya pun ada beberapa jenis. Maknyusss banget lah pokonya! Jadi menurut saya, cara keren traveling ke suatu tempat baru, selain jelajah tempat-tempatnya, juga mencicipi makanan khasnya. Yakin deh, itu salah satu hal yang paling bikin kangen dan pengen balik lagi. Kenyang makan dan kepedesan ga karuan, kami kembali berpacu di jalanan sepi Bali menuju destinasi selanjutnya.