Selasa, 18 September 2018

Sunset di Pantai Watu Leter Ga Kalah dengan Pantai di Bali


Menurut kamu, apa yang indah dari tenggelamnya matahari?
Kalau saya, senja yang datang mengisyaratkan berakhirnya waktu satu hari yang diberikan pada seorang hamba, anak manusia, untuk mencari bekal yang akan dibawa di akhirat kelak (bekerja, menuntut ilmu, mengurus anak, dan rupa-rupa kegiatan lainnya). Ia juga mengisyaratkan waktu beristirahat untuk manusia-manusia yang dari pagi memulai aktifitasnya; Namun ada juga yang menjadikan waktu senja (terbenamnya matahari) sebagai start awal mencari nafkah (tukang martabak, nasi goreng, petugas ronda, dan sebagainya).

Dalam Islam, waktu senja berarti dimulainya satu hari yang baru (lagi). Karena satu hari baru dimulai bukan dari jam 12 malam melainkan pada waktu maghrib. Kalo Jepang dikenal sebagai Negeri Matahari Terbit, pernah tau ga Negeri Matahari Terbenam? Yep, itulah negara Maroko atau Morocco (Arab: Maghribi).

Tidak hanya mencintai momen tenggelamnya matahari, lebih dari itu, semoga dapat kita selami hikmah yang Allah berikan pada kejadian alam yang terjadi atas kehendak-Nya. "Dan ambillah hikmah pada tiap pergantian siang dan malam..."

Salah satu tempat favorit untuk menyaksikan matahari tenggelam adalah pantai. Kenapa pantai? Karena bisa dibilang, pantai adalah salah satu tempat paling sempurna, the perfect place to see the sunrise on the horizon. Mau tau indahnya sunset di Pantai Watu Leter, salah satu pantai yang berada di jajaran pantai Malang Selatan, yang ga kalah sama sunset di Pulau Bali? Let's check!

Lokasi Pantai Watu Leter
Pantai Watu Leter terletak di daerah Malang Selatan tepatnya di Dusun Rowotrate, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Letaknya persis bersebelahan dengan Pantai Goa Cina. Awalnya, pengunjung yang akan datang ke pantai ini harus melalui Pantai Goa Cina kemudian berjalan melewati perbukitan hingga sampai ke tempatnya. Tapi belum lama ini dibuat jalan masuk melalui JLS sehingga pengunjung bisa langsung menuju lokasi tanpa melalui Pantai Goa Cina.


Cara Menuju Pantai Watu Leter
Perjalanan menuju Pantai Watu Leter dapat ditempuh melalui Jalan Lintas Selatan via Balekambang maupun via Sumawe (Sumbermanjing Wetan). Untuk datang kemari menggunakan angkutan umum agak sulit (bahkan gak ada). Lebih baik sewa motor maupun mobil. Yang bawa mobil, harus hati-hati karena jalanan masuk menuju pantai masih berupa makadam dengan medan berupa tanjakan dan turunan. Ga jauh sih, cuma lumayan bikin tahan napas. Perjalanan dari Kota Malang menuju pantai ini ditempuh sekitar 2,5 - 3 jam.

Tiket Masuk Pantai Watu Leter
Biaya yang dikenakan untuk masuk ke pantai ini 30K untuk dua orang dan satu motor. Lumayan mahal sih (menurut saya). 

Fasilitas yang Tersedia
Dibandingkan dengan beberapa pantai seperti Balekambang, Goa Cina dan Bajulmati, pantai ini bisa dikatakan 'baru'. Belum terlalu banyak pengunjung yang datang, hanya beberapa muda-mudi yang 'niat'. Tidak ada banyak warung, hanya ada satu dua di dekat loket parkir. Begitu juga dengan toilet. Bahkan belum ada saung-saung ataupun gubuk tempat pengunjung bisa 'ngadem' di tengah terik matahari pantai. Kalo mau ngadem, cari perlindungan di bawah pohon-pohon yang ada di pinggiran pantai.


Aktifitas Menyenangkan yang Bisa Dilakukan
Kegiatan berwisata di pantai merupakan aktifitas yang tidak pernah tergerus oleh zaman; Tua muda miskin kaya neraka surga (lho!), semua orang suka pergi ke pantai. Ada banyak cara menikmati pantai; Ada yang menantang adrenaline dengan olahraga-olahraga air ekstrim; Ada yang hanya sekedar duduk di pasir pantainya, menikmati deburan ombak *tipeMelankolis; Ada yang snorkeling liat ikan dan hewan bawah laut yang cantik-cantik *tipePenasaran;

Di Pantai Watu Leter kamu bisa berenang sepuas hati, tapi harus tetap dalam pengawasan karena ombak di sini juga lumayan besar. Bikin istana pasir atau mengubur orang yang kamu sebelin dalam pasir? Kedengerannya menarik!


Garis pantai yang panjang dengan hamparan pasir putih bisa jadi tempat yang sangat menyenangkan untuk kamu habiskan waktu bersama keluarga atau sahabat tersayang. Saat siang menjelang sore adalah saat dimana air laut surut dan kamu bisa berenang aman di pinggiran pantainya. Tapi tetap berhati-hati dengan beberapa jenis hewan laut yang muncul (yang mungkin saja berbahaya) ketika air laut surut.


Cara lain menikmati Pantai Watu Leter adalah dengan bakar ikan di pantai. Jadi sebelum pergi ke pantai ini, arahkan dulu kendaraan kamu ke daerah Sendangbiru (yang ga terlalu jauh dari pantai-pantai sekitaran JLS). Di Sendangbiru tepatnya di tempat pelelangan ikannya, kamu bisa beli ikan segar dengan harga murah. Bukan hanya ikan, cumi-cumi serta udang juga bisa kamu cari di TPI Sendangbiru. 

Waktu Terbaik Menyaksikan Matahari Tenggelam
Kalo kamu hanya berniat untuk lihat matahari tenggelam di Pantai Watu Leter ini, datanglah sekitar jam setengah lima sore. Sambil menunggu, kamu bisa melafalkan dzikir sore hari atau sekedar berbincang hangat dengan teman dekat.


Get outside. Watch the sunrise. Watch the sunset. How does that make you feel? Does it make you feel big or tiny? Because there's something good about feeling both". -Amy Grant-

Ada (banyak) Mutiara di Timur Indonesia

Jalan panjang menuju destinasi impian untuk saya dan Tika; Labuan Bajo dan Lombok. Keinginan kuat mendatangi sebuat tempat harus diiringi dengan kemauan menabung yang dahsyat! Dimulailah hari-hari penuh semangat mengumpulkan pundi-pundi rupiah sebagai bekal di tanah jauh. Hingga (Alhamdulillah) pada akhirnya hari keberangkatan tiba; Naik kereta dari Malang menuju Surabaya, kemudian pesawat kami mengalami delay dan sampai di bandara BIL hampir tengah malam!

Tempat pertama yang kami kunjungi di Lombok; Lembah Sembalun. Sebuah tempat eksotis nan romantis di kaki Gunung Rinjani yang pada tahun 2016 lalu memperoleh predikat sebagai destinasi halal bulan madu terbaik sedunia. Di sana kami menginap di penginapan murah milik warga yang dibuat berdasarkan CSR BNI dengan konsepnya, feels like home. Setelah itu, mengunjungi beberapa tempat ikonik seperti Pusuk Sembalun, Bukit Selong dan Rumah Adat Beleq yang dindingnya terbuat dari kotoran sapi, hiyyy.

Dari Sembalun di Lombok Timur, kami kembali lagi ke Kota Mataram. Kali ini tujuan kami yang dekat saja, Bukit Nipah dan pantai di sekitar Senggigi. Ketemu satu pantai dengan banyak pohon kelapa (incaran Tika) dan sepi, yaitu Pantai Setangi. A must visit beach in town! Dari Pantai Setangi kami lanjutkan ke Bukit Nipah. Paling enak siang-siang di Bukit Nipah sambil minum es degan dan makan sate ikan yang recommended untuk dicoba. Pulangnya, mampir sebentar ke Vila Hantu Setangi yang punya view yang jangan sampe kamu lewatin.

Salah satu daerah di Lombok yang terkenal dengan deretan pantainya yang ketje baday adalah Lombok Tengah. Kami mulai perjalanan di senin pagi, berharap tidak terlalu banyak "kepadatan manusia" di pantai yang akan kami datangi. Destinasi pantai pertama kami, Tanjung Ann, yang punya ciri khas berpasir putih dan air laut yang biru kehijauan. Kemudian sedikit trekking menuju Bukit Mereseq yang jadi tempat syuting video klip Geisha dan Isyana Sarasvati. Tempat yang selalu mempesona, baik hijau maupun kuning (rumput bukitnya). Setelah itu menuju Pantai Kuta Mandalika dan dilanjut menuju Pantai Mawun. Pulang menuju Mataram, mampir ke Nasi Balap Puyung Rinjani yang terletak di jalan lintas BIL yang rasanya dijamin bikin kamu keringetan dan keingetan terus.

Kalo kamu cuma punya waktu setengah hari di Mataram, kamu mau ngapain aja? Saya dan Tika sih gini: pertama, nyari oleh-oleh di sekitaran Senggigi. Ada tempat oleh-oleh yang lumayan lengkap dan harganya terjangkau, namanya Gandrung. Kemudian, menuju salah satu ikon Lombok sebagai Negeri Seribu Masjid yaitu Islamic Center NTB yang berada di pusat kota. Masih berlanjut perburuan oleh-oleh menuju Phoenix Food untuk beli jajanan khas yaitu dodol rumput laut yang kenyal-kenyal gimana gitu. Ditutup dengan nyobain masakan khas Lombok yang terkenal se-Indonesia yaitu Ayam Taliwang di salah satu tempat makannya yang terkenal, Kania. Saking pedesnya, sampe speechless ga bisa berkata-kata.

Banyak jalan menuju Labuan Bajo; Salah satunya yang kami tempuh adalah perjalanan darat menuju Kota Bima dari Lombok, kemudian dilanjutkan dengan naik kapal laut dari Sape ke Labuan Bajo. Pahit manis selama di perjalanan kami rasakan (kebanyakan pahitnya sih, hiks). Mulai dari terguncang-guncang di dalam bus melalui jalan berliku dari Lombok menuju Bima, kemudian 3 jam yang menyiksa di bus Bima - Sape, hingga kelelahan tak berdaya di atas KMP Cakalang yang memakan perjalanan 7 jam menuju Labuan Bajo. Alhamdulillah semuanya terbayar.

Salah satu doa yang Allah jawab tahun ini, yaitu berada dalam perjalanan saat ramadan. Hari pertama menjalankan ibadah puasa di kota kecil Labuan Bajo kami lalui dengan sedikit berjalan-jalan melihat sekitar pelabuhan sambil mencari kapal untuk sailing. Kemudian, menuju bandara Komodo naik angkot yang gamau dibayar pake uang receh. Sorenya, jalan-jalan cari takjil yang banyak dijual di sepanjang jalan utama Labuan Bajo. Setelah itu, Allah hadiahi momen sunset yang syahdu pake banget; diiringi sayup-sayup suara murottal dari masjid dekat pelabuhan. Malamnya, kami mencoba kuliner di Kampung Ujung yang katanya gaboleh terlewat kalo lagi di Labuan Bajo.

Segala puji hanya milik Allah, pemilik segala keindahan semesta alam. Akhirnya hari yang dinanti tiba! Trekking ke puncak Pulau Padar, liat view yang ada di uang 50 ribuan baru. Sempat diombang-ambing ombak hingga akhirnya menepi ke another Pink Beach yang masih sepi pake banget. Viewnya juarak! Kemudian kapal kembali berlayar menuju Pulau Rinca, salah satu dari dua habitat Komodo di Taman Nasional Komodo. Dijelasin banyak banget hal tentang hewan purba itu sama bapak ranger baik hati yang membawa kami melakukan short tracking mencari komodo. Abis ketemu komodo, diakhiri dengan basah-basahan di Pulau Kanawa yang air lautnya jernih banget macam di Maldives!

Terakhir : http://www.juleebrarian.com/2018/09/pergi-ke-timur-9-perjalanan-pulang-via.html
Perjalanan pulang yang harus saya dan Tika tempuhi dengan panjang (lagi). Say goodbye untuk Labuan Bajo. Dimulai dari naik kapal laut selama 7 jam menuju Pelabuhan Sape di Bima. Setelah itu, menginap semalam di penginapan dekat terminal sambil sejenak "merasakan" Kota Bima. Esok harinya, naik pesawat dari bandara Sultan M. Shalahuddin menuju Lombok. Dari Lombok sekitar habis Maghrib dan sampai di Surabaya pukul 9 malam. Belum selesai sampai situ; Masih butuh kekuatan untuk melaju di atas mobil travel menuju kosan tercinta di kota dingin, Malang. Akhirnya.

Hope you enjoy this, guys!
Semoga beberapa tulisan di atas bisa diambil hikmah baiknya ^_^ Alih-alih memberikan inspirasi untuk kamu segera nabung, kemasin pakaian then go outside! 

Kamis, 13 September 2018

Pergi ke Timur (9): Perjalanan Pulang via Bima dan Lombok


Seminggu lebih kami berada di kampung orang. Uang semakin menipis, muka tambah porong alias item eksotik. Sebetah-betahnya kamu tinggal di suatu tempat, suatu saat kamu harus kembali ke asalmu. Sama kayak perumpamaan kita hidup di dunia ini; Mau kayak mana cintanya kita sama dunia, suatu saat kita harus kembali "pulang".

...pulang, selalu adalah kata seram yang membayangiku.
Diantara mimpi buruk yang paling menakutkan bagiku, seringkali adalah mimpi tentang musafir yang terpaksa pulang. Pulang, bagaikan merobohkan istana pasir yang selama ini dibangun dengan susah payah, lalu lenyap tak berbekas disapu ombak [Titik Nol, p. 529]

Perjalananku bukan perjalananmu, tapi perjalananku adalah perjalananmu. Masing-masing kita punya kisah Safarnama sendiri-sendiri, tapi hakikat semua Safarnama itu adalah sama.
Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri. Pulang adalah jalan yang memang harus dilalui semua pejalan. Dari titik nol kita berangkat, kepada titik nol kita kembali. Tiada kisah cinta yang tak berbubuh noktah, tiada pesta yang tanpa bubar, tiada pertemuan yang tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang. [Titik Nol, p.530-531]

Sabtu (19/5/2018) pagi-pagi kami sudah berkemas, bersiap untuk check-out penginapan. Setelah ini langsung menuju pelabuhan untuk membeli tiket menyeberang ke Bima. Kami menuju bagian pelabuhan dimana kapal-kapal kecil berlabuh. Sepi banget. Masih belum dibuka loketnya. Ini bener ga sih belinya di sini? Kok jam segini masih belum ada orang? Qadarullah, ketemu Bang John yang kemarin menyewakan kapalnya untuk sailing. Dengan ramah beliau menyapa kami dan kami bilang mau pulang. Kami sekalian tanya, kalo beli tiket untuk nyebrang ke Bima dimana.

"Mbak bukan sebelah sini kalo mau beli tiket ferry", sambil membawakan satu tentengan kami dan berjalan cepat ke arah pelabuhan tempat kapal besar bersandar. Kami mengikuti dari belakang.

"Kalo yang di sana tadi untuk beli tiket PELNI".

Ooo. Kami gatau.

Ya Allah. Selalu ada pertolongan-pertolongan dari-Nya untuk para pejalan. Ga kebayang kalo kami ketinggalan kapal nyebrang ke Bima. Harus nunggu KMP Cakalang besok pagi lagi dan berarti hangus sudah tiket pesawat yang kami pesan; harus keluar uang lagi. Belum lagi terkait izin di tempat kerja.


Bang John baik banget. Kami diantar bukan hanya sampai loket pembelian tiket, tapi sampai di dalam kapal, sampai benar-benar mendapatkan tempat duduk. Ga perlu diraguin lagi deh baiknya orang-orang Timur. Selepas berpamitan dan mengucapkan terimakasih pada Bang John, langsung saya ambil kasur busa yang sudah disediakan. Ini ga gratis lho ya, bayar lagi 10K. Penumpang di dalam ruang VIP ini tidak terlalu ramai; Ada seorang bule duduk tepat di belakang kami. Ia tempak mengobrol akrab dengan seorang bapak yang pergi bersama anaknya. Kepo jugak apa yang mereka bicarain.

"Semoga lagunya Ebiet lagi, biar enak tidur"

"Ish..."

Sebelum kapal melepas jangkar, saya keluar untuk melihat kota kecil di ujung Pulau Flores ini. Akankah ini menjadi yang pertama dan terakhir, atau yang pertama untuk kemudian kembali lagi dan lagi? Wallahu 'alam. Yang pasti, pengalaman menjejak kota ini dan menyaksikan langsung semua hal indah yang ada di sini harusnya menjadikan diri ini semakin bersyukur; Jangan pernah ragukan ke-Maha Hebat-an Allah dalam menjawab keinginan kita. Bukan Allah yang tidak mengabulkan, tapi kitanya yang kurang yakin. Bukankah Allah menjawab sesuai dengan persangkaan hamba-Nya?! 

Bye, Labuan Bajo. Insyaallah pada hari yang Allah tentukan saya kembali lagi, mari kita jelajahimu lebih dalam dan lebih jauh.


Perjalanan laut saat pulang ini masih lebih baik dibanding saat berangkat. Efek minum obat anti mabuk, jadinya tidur sepanjang perjalanan. Kami berdua masih belum bisa puasa, jadinya masih bisa sembunyi-sembunyi ngisi tenaga (baca: minum). Alhamdulillah tanpa ada kendala, KMP Cakalang merapat di Pelabuhan Sape sesuai jadwal. Dibanding Pelabuhan Pototano, pelabuhan ini jauh lebih semrawut. Kotor. Tipikal orang Bima yang 'keras', membuat pelabuhan ini lebih ramai dengan suara-suara. Kami keluar dari kapal dan berniat mencari bus menuju Kota Bima. Eh masyaallah, ketemu abang sopir bus Bima - Sape yang tiga hari lalu membawa kami ke pelabuhan ini. Kami langsung saja mengikuti dia dari belakang menuju bus. Dalam perjalanan dan bertemu orang-orang, kepercayaan dapat tumbuh dalam sekejap. Ada beberapa bus yang sudah menunggu penumpang turun dari KMP Cakalang. Sepertinya pekerjaan sopir bus ini memang sudah "terjadwal rapi" sedemikian rupa. Pagi hari berangkat dari Terminal Dara menuju Sape; Sorenya menjemput penumpang dari Sape menuju Bima. Kalo sudah merasakan langsung rute Bima - Sape, sebenarnya pekerjaan mereka tidak "sesederhana" itu. Bayangkan harus mengebut di jalanan sempit yang berkelok-kelok, membelah perbukitan, mengantar nyawa orang lain. Saya yang cuma jadi penumpangnya aja lelah membayangkannya.

Kami naik ke dalam bus, kemudian memilih tempat duduk terbaik (baca: tidak bikin mual). Sedang fokus pada sekitar tiba-tiba ada yang nyolek saya dari belakang,

"Mbak minta tolong ambilkan plastik itu dong", sambil menunjuk ke atas di bagian depan dekat kemudi sopir.

Saya kira Orang Bima dan sekitarnya  setrong-setrong karena 'kuat' berkendara di jalur yang aduhai. Ternyata oh ternyata, terbongkar sudah semua ini hanya dengan satu colekan yang menyadarkan saya; Banyak korban bermabukan. Sudah disediakan plastik di bagian depan dan belakang bus untuk mengantisipasi kemabukan. Karena lebih prepare, Alhamdulillah kami berdua sehat-sehat aja sepanjang bus membawa kami menuju Kota Bima. Lelap dalam buaian bus.


Menjelang sore kami sampai di Terminal Dara. Karena jalurnya menurun, perjalanan dari Sape ke Bima kami lewati kurang lebih sekitar 1,5 jam. Di terminal, kami bertanya pada seorang petugas dimana letak Hotel Favorit, tempat dimana kami akan menginap malam ini. Sekalian sambil tanya transportasi menuju bandara Bima besok. Kelihatan sekali bagaimana pedulinya bapak petugas itu menjelaskan dengan detail ini dan itu hal-hal yang kami tanyakan.

Hotel Favorit terletak di samping terminal pas. Kami direkomendasikan hotel ini oleh Mbak Juh yang keluarganya memang sering pergi ke Bima dan menginap di sini kalau kemalaman. Hotel ini memang bisa dikatakan favorit bagi pejalan yang kemalaman dan butuh tempat transit sekitar terminal. Harganya standar; bisa dikatakan paling murah (125K per malam) dengan fasilitas 2 bed kecil, fan dan kamar mandi dalam (plus ratusan nyamuk haus darah wkwk!). Ada tivinya juga lho. Letaknya sangat strategis, hanya berjalan kaki kurang dari 5 menit dari terminal. Di sekitarnya juga kita bisa temui toko-toko maupun warung makan. Setelah rehat sebentar, menjelang maghrib saya dan Tika keluar penginapan untuk membeli makan. Kami jajan takjil dan makan Bakso Solo di dekat terminal. Harganya Alhamdulillah sudah lebih ramah kantong jika dibandingkan dengan di Labuan Bajo.

Besoknya, Minggu (20/5/2018) perjalanan pulang jilid 2 dimulai. Jadwal pesawat kami dari Bandara Bima, Sultan M. Salahuddin tertera pukul 11.20 menuju Lombok. Dari terminal, kami naik bus yang menuju Dompu. Bayar 10K per orang. Dilihat di Maps, jarak dari terminal ke bandara tidak terlalu jauh, kurang lebih 20 menit berkendara. Tapi entah kenapa, bus Rajawali yang membawa kami ini sungguh menguji kesabaran. Nungguin emak-emak yang abis jualan di pasar. Lamaaa banget.

Pas lagi nunggu bus kami jalan, ngeliat sebuah bus yang baru datang langsung dikerubungi oleh calo. See, lebih banyakan calo dibanding penumpang yang turun -_-

Setelah lama nunggu ibu-ibu, ada lagi masalah pada bus kami. Ban busnya kempes dan harus isi angin dulu. Aduh, ga kebayang kalo tadi kami perginya mepet, bisa-bisa ketinggalan pesawat kayak gini nih. Perjalanan yang harusnya hanya sekitar 20-30 menit, molor menjadi satu jam lebih. Sampai di bandara, kami berkeliling sebentar. Gak ada yang bisa diliat lebih lama, sepi banget bandaranya. Bandara Bima ini hanya bandara kecil yang melayani rute pesawat baling-baling atau ATR menuju beberapa kota seperti Lombok dan Makassar. Eh dari Juanda juga ada lho penerbangan kesini, transit dulu tapi di Lombok (paling murah 600 ribuan).


Pesawat NAM Air membawa kami melintasi Pulau Sumbawa menuju Pulau Lombok. Perjalanan yang kami tempuh lewat darat beberapa hari lalu yang menghabiskan waktu kurang lebih 15 jam, dengan kemajuan teknologi ini hanya berjarak 40 menit. Pengalaman pertama naik pesawat baling-baling nih. Pesawat ini berkapasitas ga sampe 100 orang. Karena ukurannya lebih kecil, goncangan ketika pesawat bertabrakan dengan awan lebih kerasa. Deg deg serrr rasanya jantung!


Jam 12 siang kami sampai di BIL. Penerbangan kami ke Surabaya kurang lebih jam 6 sore nanti. Niatnya, mau cari oleh-oleh dulu dan beli Nasi Balap Puyung Rinjani yang waktu itu enak sekali kami makan. Awalnya banyak rencana kami; dari mulai minjam atau sewa motor bapak petugas toilet yang waktu malam-malam itu menolong kami atau pinjam motor petugas parkir yang ramah, kemudian jalan-jalan membeli oleh-oleh. Pertimbangan ini itu, akhirnya saya coba-coba memesan GrabCar. Eh ternyata ada. Jarak dari BIL ke tujuan kami, tempat oleh-oleh terdekat, biayanya 18K potongan 5K jadinya cuma bayar 13K. Karena harga oleh-oleh yang dekat bandara muahal-muahal dua kali lipat, sopir Grab menawari kami untuk diantar ke Mataram atau Senggigi. Setelah dicek, biayanya 100K lebih. Wuiih ga jadi daah. Mahal kali. Oiya Grab di sekitar bandara ini ga banyak. Rata-rata sopirnya pun orang lokal. Grab belum terlalu "diterima" di sini. Batal pergi ke Mataram membuat kami terdampar dan terkapar di masjid bandara pada akhirnya. Lumayan, bisa numpang tidur dan mandi sore.

Pesawat Lombok - Surabaya yang membawa kami mendarat kurang lebih jam 9 malam di Bandara Juanda. Kami langsung cari travel menuju Malang, dapat harga 90K per orang. Entahlah, udah ga kerasa lagi perjalanan darat ini saking capeknya. Tau-tau udah sampe mana. Kurang lebih jam 1 malam, sampe di kost tercinta dan terindu. Perjalanan panjang sabtu pagi yang berakhir di minggu tengah malam.

Alhamdulillahiladzi bini'matihi tathimushalihaaat :)


Alhamdulillah ya Allah atas perjalanan ini. Begitu banyak hal yang sangat kami syukuri; Kalo udah ke Labuan Bajo, besok-besok kamu bakal sangat bersyukur ketemu jus yang harga 5K (di LB paling murah 15K, bro!). Merasakan kebaikan hati dibalik fisik yang mungkin terlihat 'mengerikan'. Merasakan kebaikan hati orang-orang yang berbeda suku, agama. Kebaikan hati dari orang-orang yang baru pertama kali berjumpa. Dan masih banyak lagi hal keren yang kami dapat: makanan khas; bangunan tua bersejarah; para ranger dengan pekerjaan yang tidak biasa; ombak ganas Laut Flores; sengatan matahari Bukit Mereseq; es degan tanpa gula di Bukit Nipah; Sembalun dan semua hal indah yang meliputinya!

Perjalanan panjang yang bukan hanya membutuhkan biaya yang banyak, tapi juga rasa saling pengertian yang tinggi.


Terimakasih untuk teman terbaik perjalanan Lombok - Labuan Bajo ini, Tika Sari anaknya Pak Rois. Bermalam-malam di perjalanan BIL - Mataram. Berlelah-lelah puluhan kilometer di boncengan motor Mataram - Sembalun - Mataram. Berpanas-panas di deretan pantai Lombok Tengah. Berguncang-guncang dalam bus melintas Pulau Lombok - Sumbawa menuju Bima. Beririt-irit hidup di Labuan Bajo. Berdebar-debar antara hidup dan tenggelam di atas gulungan ombak bertubi-tubi laut Flores. Berseri-seri menjejak eksostisme Taman Nasional Komodo dan gugusan pulau indah di sekitarnya. Bersabar-sabar melalui perjalanan pulang yang panjang (Labuan Bajo - Bima - Lombok - Surabaya - Malang). Dan akhirnya, bermanis-manis mengingati tiap detail momen yang terjadi selama perjalanan 10 hari kita di sana. Sooo, are you ready for the next adventure?!

Selasa, 04 September 2018

Enjoy Jakarta : Dari Asian Games Sampe Lihat Wajah Baru Kali Besar di Kota Tua


Tepat pukul 15.00 lewat 15 menit, Kereta Matarmaja yang membawa kami berdua pulang menuju kota tercinta, Malang, berangkat. Dua hari menjadi 'pejuang kaki' di ibukota, menyisakan kram dan pegal pada sekujur badan, terlebih kaki. Semoga lelah yang berfaedah, yang tidak hanya meninggalkan kesakitan di fisik, tapi juga meninggalkan banyak hikmah atau pengalaman di jiwa.

Riuh terdengar suara-suara di gerbong ini; mereka yang akan memulai kembali masa studinya di salah satu sudut kota di Jawa Timur, atau nada excited mereka yang akan menghabiskan liburan mengunjungi tempat-tempat wisata kekinian di Malang; atau wajah harap-harap cemas namun bahagia para pecinta alam yang akan menuju salah satu puncak tertinggi Indonesia (Semeru).

Kereta Matarmaja menjadi teman setia para pelajar atau mahasiswa Malang yang ingin menunaikan rindu pada keluarga tercinta di Jabodetabek sana. Mulai beroperasi pada tahun  1983, istilah Matarmaja merupakan singkatan dari kota-kota yang dilalui yaitu Malang, Blitar, Madiun, Jakarta. Baru tau ya? Sama!


Hanya tinggal menunggu waktu sampai akhirnya kami tepar tertidur dalam perjalanan panjang ini.  Dalam lelah, mengingati "perjalanan panjang yang pendek"- yang kami lalui, bermula dari siang itu di hari Jum'at (24/08/2018)...

Sebelum menuju pintu masuk keberangkatan, saya dan Tika menuju salah satu bagian depan Stasiun Malang untuk menitipkan motor (menginap). 15K untuk tiga kali dua puluh empat jam. Tepat pukul 11.45, Kereta Jayabaya yang kami naiki berangkat. Perjalanannya menuju Jakarta lebih cepat dibanding Matarmaja, sekitar 13 jam. Kereta ini melewati rute pantura seperti Lamongan, Bojonegoro, Tuban dan sebagainya. Terlambat setengah jam, pukul 2.00 malam kereta tiba di perhentian terakhir, Stasiun Pasar Senen. Jakarta adalah kota yang tidak pernah tidur, the city that never sleep. Tidak terlalu sulit kami mendapatkan transportasi online untuk mengantar ke tujuan kami yaitu Thamrin Residence. Sampe sana udah disambut adek kontrakan paling unyu, si Ade alias Abul.

"Wah parah banget si Mbak bikin aku gabisa tidur dari tadi wkwk". Welcome to Jekardah.

Dasar si Ade, udah menjelang jam 4 subuh juga masih aja ngajakin ngobrol. Walhasil, sedikit kesiangan untuk pergi ke Gelora Bung Karno. Matahari udah naik lumayan tinggi. Ternyata kece badai juga nih sunrise di antara gedung tinggi di Jakarta. Ga kalah sama di pantai atau gunung. Kami berada di lantai 37 Apartemen Thamrin Residence. Wih beneran deh ya, dari dulu yang bikin saya kagum sama Jakarta adalah gedung-gedung pencakar langitnya yang menjulang tinggi seperti mau menyentuh langit (apakabar Burj Khalifa?)


Semingguan sebelumnya, kita udah sepakat untuk beli tiket Asian Games via online di Kiostix.com. Gampang-gampang susah karena web-nya sempet trouble. Dapet deh 3 tiket Asian Games cabor atletik. Sebenernya, Ade pengen liat berkuda atau panahan dan badminton. "Kenapa Mbak pengen liat atletik?", Ade tanya. Simple jawabnya: pengen masuk GBK ajah. Pengen liat megahnya stadion terbesar kebanggaan Indonesia yang dibangun dalam rangka menyambut Asian Games yang diadakan di Jakarta pada tahun 1962 lalu itu tuh. Whuiii.

Nonton Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno (GBK)
Ada beberapa temen yang geleng-geleng kepala; Jauh-jauh ke Jakarta cuma mau liat Asian Games doang? Kayak gada kerjaan. Jangan diliat 'kurang kerjaannya', tapi liat deh pengalamannya. Event 4 tahunan sekali yang qadarullah, tahun 2018 ini Indonesia jadi tuan rumahnya. Terakhir kali Indonesia jadi tuan rumah tahun 1962. Udah 50 tahunan yang lalu banget. Asian Games ini event olahraga terbesar kedua setelah olimpiade, lho. So, mumpung Allah kasih kesempatan waktu dan rizqi, berangkatlah. Juga kelak di masa depan pengen ngomong gini sama my kids...

"Ummi dulu nonton Asian Games 2018 di Jakarta". Langsung.

Jam 7 pagi kami masih di apartemen, padahal jadwal atletik jam 6 pagi. Kira-kira masih boleh masuk gak ya kalo telat? Siap-siap kurang lebih sejam, kemudian kami pesan transportasi online biar ga ribet dan langsung sampe tempatnya. Sambil nunggu, eh masih sempetnya melipir liat kolam renang di apartemen (hoorang kaya).


Kami naik Grab dari Thamres ke GBK. Bayar pake OVO, sangat bermanfaat tapi ga keliatan bentuknya. e-money. Mudahnya hiduup. Tapi kadang saya mikir deh, pernah baca kalo salah satu ciri negara maju adalah negara dengan transportasi publik yang baik. Kalo kita mudah banget naik transportasi online sekarang ini, mungkin lama-kelamaan jadi males naik transportasi publik dong (semoga engga). Terus juga mikir, kalo semakin banyak kendaraan di jalan, semakin tinggi tingkat polusi yang kita berikan pada bumi tercinta ini. Kemudahan ini, akankah menghilangkan kemanusiaan kita?

Abaikan pikiran saya (!)

Sampe GBK, kami bingung nih masuk lewat gate mana. Akhirnya brenti aja sampe ketemunya loket masuk. Volunteer yang bertugas langsung men-scan barcode tiket pesanan kami kemudian kami diperbolehkan masuk melalui security gate. Oleh seorang relawan, kami diarahkan untuk menunggu TransJakarta di shelter bus dekat sana untuk menuju venue atletik. Akan ada bus Transjakarta yang stand by mengantar-jemput penumpang dari satu shelter ke shelter lainnya menuju venue cabor yang dipertandingkan di kompleks GBK. Jaraknya kalo jalan kaki lumayan sih. Belum lagi ngadepin panas teriknya Jakarta yang bikin burket *iiih.


Asik menikmati 'perjalanan' di dalam kawasan GBK. Berdesakan dalam satu suhu; mendukung perjuangan para atlet demi kebanggaan bangsa. Ada yang turun untuk liat tenis, juga panahan. Kemudian lewat JCC dan Istora Senayan. Lah, busnya udah mau balik ke tempat awal kami naik tapi kok ga ketemu-ketemu sama pintu masuk atletik. Usut punya usut, sebenernya dari tempat kami masuk awal banget tadi ke venue atletik ga perlu naik Tije. Langsung jalan kaki aja nyampe. Baiklaaah. *pensive


Begitu sampai di bagian depan stadion utama GBK, langsung disambut sama api Asian Games yang membara gagah di atas kaldron. Kaldron apaan sih? Itu tuh, semacam kuali besar tempat untuk memasak makanan dan minuman di zaman tembaga dan zaman besi duluuu. Zaman now, kaldron biasanya dipake di upacara pembukaan olahraga untuk menyalakan api simbol dimulainya sebuah ajang olahraga. Kaldron yang ada di depan GBK ini sengaja dibangun demi menyambut Asian Games 2018 lho. Dinding kaldron dan motifnya tersusun dari lempeng tembaga. Kaldron ini kalo diliat miring, berbentuk bilah keris yang melambangkan keindahan, keragaman dan kebudayaan nusantara. Nama kaldronnya, Bilah Nusantara.

Fyi, api yang dinyalakan sebagai simbol Asian Games ini dibawa langsung dari India sono, negara pertama tempat diselenggarakannya Asian Games. Di India, api diserahkan oleh Mary Kom (salah satu petinju wanita terkenal dunia asal India *ada film tentang doi lho) dan diterima oleh legenda bulutangkis wanita Indonesia, Susi Susanti. Dari India, api yang dijaga agar tidak pernah padam ini "terbang" menuju Yogyakarta untuk disatukan dengan api abadi dari Gunung Merapi, kemudian baru diarak melewati beberapa kota di Indonesia.


Ada banyak volunteer atau relawan dalam ajang dunia bergengsi ini. Kurang lebih untuk di Jakarta, sekitar 17 ribu orang. Woow! Mereka ini berada dimana-mana untuk membantu siapa saja. Ngeliat orang bingung dikit, langsung disamperin dah. Pagi ini adalah kejuaraan atletik hari pertama. Ngarep liat Zohri sih, tapi kalo gak ada juga ya ga papa dah. Sebenernya kalo boleh jujur, ga terlalu paham aturan main atletik tu gimana. Lebih familiar banget sama badminton -_- yang penting masuk GBK!

Pagi menjelang siang itu yang dipertandingkan adalah Decathlon Men 400 M. Siapapun atletnya, dari negara manapun, ketika dia berhasil melompati rintangan pada cabang lompat tinggi, kami bersorak. Terlebih ketika ada atlet dari Indonesia, makin kencanglah yel-yel IN-DO-NE-SIA!!! diteriakkan.

Dari pengeras suara terdengar, "selamat datang kami ucapkan kepada Bapak Wakil Presiden yang sudah berada di tengah-tengah kita saat ini untuk menyaksikan langsung pertandingan atletik". Jauh banget ga keliatan di tribun VVIP sana -__-


Pas cabor lari 100 meter men dan gada wakil Indonesia,

"Mbak dukung yang mana?"

"Yang nomer 3 itulah, yang kulitnya paling item"

"Kenapa?"

"Iya, setahu saya, orang-orang kulit hitam macam Kenya, Zimbabwe, Jamaika, Ghana dan sebangsanya gitu larinya kuat-kuat banget. Mereka sering banget menang di kejuaraan dunia atletik".


Dari Kompasiana...
[Adrian Bejan, seorang Profesor Teknik Duke University mengatakan orang kulit hitam cenderung memiliki kaki dengan lingkaran lebih kecil, yang berarti pusat gravitasi mereka lebih tinggi dibandingkan dengan kulit putih dalam ukuran tinggi yang sama. Asia dan kulit putih cenderung memiliki torso lebih lama, sehingga pusat gravitasi mereka lebih rendah. Tinggi pusat gravitasi seseorang mempengaruhi seberapa cepat kakinya bergerak ketika mereka menyentuh tanah. Jadi kaki orang dengan pusat gravitasi yang lebih tinggi akan menyentuh tanah lebih cepat dibandingkan dengan orang dengan pusat gravitasi yang lebih rendah].

Nonton langsung di tempatnya gini jadi banyak nyadar; Untuk jadi sebuah tayangan atau berita yang baik di layar kaca dan media massa, ada begitu banyak pihak yang terlibat. Yang jadi perhatian kita hanya 'aktor utama'. Kerja-kerja yang 'kelihatan remeh' seakan terlupakan begitu saja. Selain memperhatikan para atlet yang berlomba, saya juga fokus pada para juru foto dan panitia yang sibuk dengan tetek bengek ini itu. Ekspresi penonton juga tidak luput dari bidikan kamera. Cekrek!


Kami berbaur dengan penonton lain; Ada yang jauh-jauh mendukung datang dari negaranya (kami sempat terpana dengan beberapa pengunjung dari Korsel yang memunguti sampah sebelum pergi, huhu maluu); Ada yang datang menonton membawa keluarganya, best quality time. Ada guru yang membawa puluhan muridnya untuk menunjukkan langsung pelajaran olahraga yang selama ini hanya dipraktikkan sederhana di lapangan sekolah; Ada yang datang rame-rame bareng temen untuk jadi suporter garis keras; Ada juga yang ga ngerti aturan main cabor yang dipertandingkan yang penting nonton langsung di GBK *ituaaakuuu.

Semoga semangat Asian Games 'Energy of Asia' bisa kami bawa pulang. Stop deh mempolitisir olahraga biar enak menikmatinya. Mari jadikan momen Asian Games ini untuk 'bersatu' dibawah satu naungan bendera Merah Putih. Mari menjadi tuan rumah yang memuliakan tamunya. Bhin-bhin, Atung, Kaka, Bhineka Tunggal Ika. Berbeda namun satu.


Sebelum pulang, kami keliling dulu liat Asian Fest yang diadain di beberapa pintu utama Stadion GBK. Asian Fest ini selain berisi bazaar puluhan tenant juga diisi hiburan yang menampilkan beberapa artis ibukota. Masuk GBK untuk ke Asian Fest aja bayar per orang 10K. Pas mau nyari merchandise Asian Games, langsung shock liat antriannya yang mengular puanjang banget. Enggak deh. Gabiasa akutuh *huek. Heran aja, kenapa penjualan merchandise-nya mesti terpusat di satu tempat gitu? Kenapa ga disebar di beberapa zona Asian Fest aja jadinya khan ga sampe hampir 1 kilometer gitu antriannya. Ampun deh. Pulang ajah menuju destinasi selanjutnya.

Berkunjung ke Gedung Perpustakaan Tertinggi di Dunia
Dari GBK kami menuju Jalan Merdeka Selatan, ke lokasi sebuah tempat yang ga asing banget untuk seorang pustakawan. Apa itu? Yup, perpustakaan. Dari awal sudah saya agendakan, bahwa main kami ke Jakarta harus pula mengandung 'manfaat'. Jadilah mengunjungi Perpustakaan Nasional masuk ke dalam list to do. Gedung perpustakaan yang pada hari kunjung perpustakaan (14 September 2017) lalu diresmikan oleh presiden ini merupakan yang tertinggi di dunia lho. Tingginya mencapai 126, 3 meter, mengalahkan yang sebelumnya yaitu perpustakaan di Shanghai, China (106 meter).

Zaman internet gini, kalo perpus ga ngikutin apa maunya dan apa butuhnya pemustaka, ya siap aja ditinggalin. In my opinion, pembangunan gedung perpustakaan dengan segala fasilitas yang bisa dimanfaatkan oleh seluruh warga negara ini adalah bentuk meningkatkan layanan dalam rangka menunaikan hak-hak warga negara atas informasi *ngomongapasih.

Jujur saya pribadi suka ngiri sama negara maju kayak Amerika, Aussie, England, Finland, yang tingkat kunjungan masyarakat ke public library-nya tinggi banget. Kita di Indonesia, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, gimana minat baca kita? Hmm, cuma 0,01 persen (data tahun 2016). Bandingkan dengan negara-negara Eropa atau Amerika yang mencapai 25-27 persen. Padahal sesungguhnya tradisi Islam tidak lepas dari membaca dan menulis.


Jadi minder sendiri deh kalo tau gimana hebatnya para ulama begitu memanfaatkan waktunya untuk membaca. Ada seorang ulama yang bahkan ketika beliau berada di WC, meminta anaknya untuk membacakan buku dari luar dan dia di dalam mendengarkannya (saya juga gitu dulu sih, suka baca buku di WC, hehe).  Perkataan Ibnu Al-Jauzi dalam masterpiece-nya yaitu Shaid Al-Khatir ini layak juga kita simak, “Aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika menemukan buku yang belum pernah aku lihat, maka seolah-olah aku mendapatkan harta karun. Aku pernah melihat katalog buku-buku wakaf di madrasah An-Nidhamiyyah yang terdiri dari 6.000 jilid buku. Aku juga melihat katalog buku Abu Hanifah, Al-Humaidi, Abdul Wahhab bin Nashir dan terakhir Abu Muhammad bin Khassyab. Aku pernah membaca semua buku tersebut serta buku lainnya. Sampai sekarang aku terus mencari ilmu". Kemudian, mempraktikkan apa yang pernah dikatakan Ibnu al-Jauzi masih di buku masterpiece-nya, Shaid al-Khatir, “Sebaiknya kamu mempunyai tempat yang khusus di rumahmu untuk menyendiri. Di sana kamu bisa membaca lembaran-lembaran bukumu, dan menikmati indahnya petualangan pikiranmu".
Sumber : blognya Mas Ridho

Mukjizat yang Allah turunkan pada umat akhir zaman inipun harusnya membuat kita berpikir; kok Allah nurunin sebuah "buku" ya untuk kita? Padahal teknologi semakin maju, bahkan sekarang kita bisa menjangkau luar angkasa, membuat bom nuklir, transportasi super cepat, dan ribuan penemuan inovatif lainnya. Dulu, Nabi Isa diberi mukjizat tongkat yang bisa berubah menjadi ular; menghidupkan orang mati. Nabi Nuh, diberikan kemampuan untuk membuat bahtera super besar yang menyelamatkan dari banjir bandang, dan sebagainya. Setiap nabi dan rasul diberikan mukjizat yang sesuai dengan keadaan umatnya. Kita, umat akhir zaman, bisa dibilang umat literasi, maka dari itu diwariskanlah sebuah 'buku', yang bukan sekedar buku. Al-Qur'an. IQRA! Bacalah... Membacalah... Wallahu 'alam.

Setelah menitipkan tas, kami menuju lantai 4, ke kantin Perpusnas. Si Ade udah ga tahan dari pagi belum sarapan. Udah ga menarik apapun yang ada di hadapan kalo perut belum keisi. Padahal, kami bisa langsung ke lantai 2 untuk buat kartu anggota. Kalo udah punya kartu anggota ini, bebas deh memanfaatkan semua layanan yang ada di Perpusnas. Bikinnya gratis tis. Ga pake nunggu lama. Gampang banget caranya: input data mandiri di komputer yang udah disediain, terus pemotretan, tunggu sebentar jadi deh. Bentuknya kayak KTP gitu kartunya kalo udah jadi.


Institusi perpustakaan adalah salah satu institusi yang mengawal peradaban manusia. Dan pustakawan, kalo pernah baca tuh ya, adalah salah satu profesi paling tua di dunia. Dari zaman duluu banget udah ada. Fyi, Perpustakaan paling tua di dunia adalah perpustakaan Al-Qarawiyyin yang ada di Maroko. Tempat ini menurut UNESCO adalah perpustakaan tertua di dunia yang masih berjalan sejak dibuka. Terletak di bekas ibu kota Maroko, Fez, Al Qarawiyyin adalah rumah bagi beberapa manuskrip paling langka dan unik di dunia, dan selama ini hanya bisa diakses oleh kurator dalam beberapa kasus istimewa. Pada 2016 pengurus lembaga ini membangun laboratorium untuk melindungi dan mengubah 4.000 manuskrip klasik dan penting mereka ke bentuk digital. (tirto.id)

Gara-gara ga cocok sama menu di kantin, Ade ngajak Tika ke bawah ke kafe yang ada di lantai 1. Kafe di lobby Perpusnas ni asik. Selain nyaman untuk makan, nyaman juga buat ngerjain tugas. Ada beberapa majalah dan bacaan nyantai yang juga nemenin kita makan. Isi perut, isi otak. Sambil makan Tika tanya,
"berarti perpustakaan ini lengkap ya?"
"Gada istilah perpustakaan paling lengkap. Tiap perpus punya kekuatan koleksinya masing-masing. Misal dalam skala kecil aja, perpustakaan kampus UIN punya banyak koleksi tentang keagamaan, sementara misalnya Binus, punya koleksi lengkap tentang ekonomi, manajemen dan sebagainya. Saling melengkapi dah intinya", kata saya sok tau.

Dari kafe di lobby lantai 1 kami menuju lantai 6 untuk shalat di mushola Perpusnas. Nyaman nih musholanya; lumayan luas dan bersih. Kamar mandi dan tempat wudhunya juga oke. Sip dah kalo sebuah tempat udah ada mushola dan tempat makannya, dijamin betah.


Selesai shalat, 30 menit menuju jam tutup layanan, kami langsung menuju ke lantai 24 yang merupakan lantai tertinggi dan terdapat executive lounge. Selain itu, terdapat juga layanan Koleksi Budaya Nusantara yang melayankan koleksi-koleksi kebudayaan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Ada beberapa lukisan dan visual yang dipajang di lounge-nya. Ada juga satu sudut dimana dipajang buku-buku tentang presiden Indonesia dari yang pertama sampai yang sekarang. Di lantai paling atas ini pemustaka bisa keluar ke balkonnya dan melihat Monas dan bangunan-bangunan lainnya dengan jelas. Cakep banget.


Di lantai paling atas Perpusnas juga tersedia banyak tempat duduk empuk yang bisa kita buat nyantai *awasketiduran. Selain itu, kebutuhan mendesak kaum milenial bisa kita temui disini #colokan. WiFi Perpusnas juga kenceeng banget. Mantap. Passwordnya: smartlibrary. Gapapa ya dikasih tau, hak seluruh warga negara wkwk.

"We are a beeper generation in a smartphone world" - Jen Lancaster

Salah satu pe-er besar perpus umum yang ada di Indonesia adalah mengubah mindset orang pergi ke perpus tuh kayak pergi ke mall atau tempat nyenengin lainnya. Mengubah pikiran orang-orang kalo denger kata perpus: dari belajar, something hard, menjadi have fun, something fun to do. Saya pernah baca, di Taiwan, perpustakaan umumnya menyediakan semacam music player atau movie player. Gimana gak betah tuh?

Tampak beberapa pemustaka sedang serius belajar atau sekedar menikmati sore dari lantai paling atas Perpusnas

Tampak dua pemustaka tepar kelelahan gara-gara kebanyakan jalan dan makan

Entah karena kekenyangan atau kecapekan, Ade keliatan "damai" banget di salah satu sofa. Damainya Ade adalah matanya yang terpejam alias tidur. Selalu senang mempertemukan seseorang dengan sudut favoritnya di perpustakaan. Walaupun tukang ngeluyur gini, jiwa librarian saya masih tinggi juga lho. Mungkin bisa deh kapan-kapan bikin open trip wisata literasi, siapa mau?


Jam 4 tepat terdengar pengumuman bahwa perpustakaan sudah menutup layanannya. Saya membangunkan Ade mengajak turun. Yaah, sayang banget. Padahal masih banyak lantai yang belum kami datangi dan kami manfaatkan layanannya. So guys, kalo ke Jakarta sekalian agendain untuk visit Perpustakaan Nasional ya. Jangan males jangan minder karena perpustakaan ini terbuka lebar untuk seluruh masyarakat Indonesia. Mau kamu mahasiswa, direktur perusahaan, pekerja kantoran, tukang kain, tukang asongan, sok atuuh masuk aja.

"Keren nih. Aku bakal sering kesini kalo weekend", kata Ade.

Main Ke Monas Liat Video Mapping dan Air Mancur Menari
Jam 5 sore, pak satpam Perpusnas keliling untuk mempersilahkan para pengunjung yang masih berada di area Perpusnas untuk keluar (bahasa halus dari: ngusir). Kami jalan kaki menuju Monas. Awalnya mau naik bus City Tour yang haltenya deket pintu masuk Monas, tapi ga datang-datang, keburu sore. Kami langsung menuju pusat kuliner untuk mencari sesuap jajan. Kini pedagang sudah terpusat di sini, tidak bisa sembarangan berjualan di dalam area Monas. Plus minus sih. Di satu sisi, kawasan Monas menjadi lebih tertib. Di sisi lain, kita harus jalan jauh untuk sekedar beli makanan atau minuman. Baru kali ini mendapati Monas seramai sore ini. Ribuan masyarakat memadati, baik yang memang sudah rutin, atau baru pertama kali datang dan ingin mengabadikan momen di sini. Belum afdhol ke Jakarta kalo belum foto bekgronnya Monas.


Mumpung di Jakarta, menyempatkan diri silaturahim dengan adik tersayang yang lagi lanjut studi di Jakarta (May your life always blessed by Allah, Esy Andriyani).

Setelah ketemu Esy dan bercanda haha hihi, mulailah drama nyari toilet. Tak tahan lagi. Sayang  banget deh, untuk area seluas Monas, tidak banyak tersedia toilet di titik-titik keramaian (biasanya ada mobil toilet tapi malam itu kami ga liat sama sekali). Mau shalat juga nyari musholanya kebingungan. Saya mau beli air minum? antri di vending machine sampe setengah jam lebih! Giliran udah depan mesinnya, eh mesinnya trouble -_-


Lupakan urusan toilet dan nyari minum yang bikin lelah. Saatnya fokus ke video mapping yang bentar lagi tayang, yeay! Video mapping, laser show dan air mancur menari adalah event yang dipersembahkan oleh Pemprov DKI Jakarta dalam rangka memeriahkan Asian Games 2018. Acara ini berlangsung selama periode 16 Agustus - 2 September 2018. Tema yang diangkat dalam video mapping Monas adalah "Dari Jakarta untuk Asia". Tiap sesi berlangsung dalam durasi 25 menit dengan 3 segmen tema dan diiringi oleh digital surround sound system yang atraktif. Gratisss gaesss. Update paling baru, pertunjukan di Monas ini udah dinikmati kurang lebih 300 ribu pengunjung lho.

Belum ada info lebih lanjut nih ya, setelah gelaran Asian Games kelar apa video mapping ini bakal masih ditayangin lagi. Mungkin kalo animo masyarakat untuk menyaksikan tinggi, bakal diadain rutin. Tentunya dengan tema yang lebih variatif lagi. Keren pisan!


Di Jakarta mah suka ga sadar sama jam malam. Udah hampir jam 8 dan kami masih 'kelayapan' di Monas. Saatnya berpisah dengan Esy. Kami naik Grab ke halte Grogol, sementara Esy nyari halte terdekat untuk naik Tije. Rumah Ade lumayan jauh dari Monas. Setelah naik Grab, masih harus lanjut naik Tije. Belum lagi jalan ke halte terdekat dan menyusuri feeder busway yang udah kayak naik turun bukit *lebay.

Pas naik Tije dari Grogol 2 menuju halte Sumur Bor (halte terdekat ke rumah Ade), Tika lemes. Telah habis sudah, tenaga ini, tak lagi tersisa untuk berdiri... Ada seorang mbak yang menawarkan minyak angin. Yakin deh, dibalik wajah pekat individualisme warga Jakarta, masih banyak orang yang peduli. Kata Ade, kita itu bakal nemuin atau ditemuin orang yang kayak kita juga (ciyee). Intinya, the more you give the more you get. Dunia akan kembali dengan wajah yang kita berikan padanya *ehem.

Turun dari Tije, masih naik Grab lagi ke rumah Ade. Okefix tenaga habis. Ada warung nasi uduk enak deket rumah Ade. Kami mampir kesana dulu buat balas dendam ngisi tenaga yang udah dihambur-hamburin sepanjang perjalanan sampe malem ini. Beli pecel lele plus es jeruk dan es teh. Tika yang tadi udah hampir pingsan di Tije, Alhamdulillah udah bisa ketawa lagi dan menikmati kol gorengnya wkwk.

Sampe rumah Ade sekitar jam 11 malem. Satu hari penuh perjuangan berlalu. Ade pake smart watch yang bisa buat ngukur langkah, dan tercatat langkahnya hari itu kurleb 13.000 langkah. We o We. Kalo hari biasanya sih cuma sekitar 2000-3000 langkah katanya. Alamak.

Panas-panasan di Kota Tua Sambil Liat #KaliBesarKini
Menurut saya, belum beneran temenan kalo belum nginep di rumah temen kita dan ketemu sama keluarganya. Dimuliakan oleh Ade dan keluarga sebagai tamu, hanya doa tulus yang bisa kami panjatkan untuk keberkahan Ade sekeluarga *amieeen. Minggu pagi (26/8/2018) kami berencana untuk berkunjung ke Kota Tua. Karena mau langsung ke stasiun siang harinya, kami langsung pamitan sama mamah dan ayuknya Ade (bye Fathan cute!). Dari rumah Ade di daerah Pegadungan Jakarta Barat, kami naik TransJakarta menuju Kota Tua transit di Halte Harmoni. Sebenernya sabtu minggu gratis naik Tije, tapi tetep harus nempel kartunya untuk masuk. Ada dua mbak-mbak yang mau masuk, lalu Tika mendekat #modus
"Mbak, ini khan masih gratis ya. Boleh pinjam kartunya untuk lewat?"

"Iya ini pake aja".

Tuh. Masih banyak orang baik di Jakarta.

Sampai di Halte Kota, kami jalan kaki melewati terowongan penyeberangan orang menuju ke arah Museum Mandiri. Sekilas melihat anak-anak seusia SD atau SMP awal; Agak miris. Style-nya sudah sangat jauh melampaui usianya. Dulu, usia sekalian itu saya masih mainan di kali sambil nyuci sepeda, kids (solilokui).

Kawasan Kota Tua paling pas dinikmati dengan berjalan kaki. Sambil ngobrol, sambil menyusuri satu per satu bangunan dan museum-museumnya yang bersejarah. Waktu yang paling pas untuk menikmati kawasan ini? Pagi hari atau sore menjelang malam. Siang bisa sih, tapi harus siap dengan segala amunisi tabir surya. Panasnya ga ketulungan!



Bukan hanya berwisata sejarah, di kawasan Kota Tua kita juga bisa sekalian kulineran. Ada beberapa kafe atau tempat makan di sekitar kawasan ini yang tetap mempertahankan 'ketuaannya'. Awalnya kami mau masuk ke Museum Sejarah untuk menapaktilas ibukota di masa lalu. Demi melihat antriannya yang lumayan panjang, sudah deh mengundurkan diri. Pergi ke depan Museum Fatahillah juga ramenya bikin males. Ada yang foto-foto, lebih banyak lagi yang main sepeda warna-warni yang disewakan di area sekitar situ. Kalo apes bisa ketabrak sepeda yang dikemudikan sembarangan sama bocah-bocah.

Di depan Museum Fatahillah dengan banyaknya photo boom!

Terik matahari dan crowded-nya orang-orang adalah perpaduan yang pas untuk jelekkin mood #saya. Dari depan Museum Fatahillah saya ajak Tika menelusuri kawasan Kali Besar yang sudah direvitalisasi dan dibuka secara resmi oleh (mantan terindah) Wagub DKI Jakarta Sandiaga Uno sekitar dua bulan lalu. Setelah direnovasi, perbaikan dan penambahan sarana prasarana, kawasan Kali Besar kini ga kalah sama kota-kota besar Eropa. Coba deh buka IG terus cari hastag #kalibesarkini, niscaya kamu bakal susah bedain mana Jakarta mana Venice (Italy) *woohoo.

Kawasan Kali Besar kini

Infrastruktur hanyalah infrastruktur; Gedung, bangunan, prasarana, yang memudahkan manusia untuk beraktifitas, memperoleh kesenangan, dan rupa-rupa aktifitas sosial lainnya. Mahakarya buatan manusia. Itu sangat penting, namun bukan segalanya. Kadang digunakan oleh "pecinta dunia" untuk berbangga-bangga, padahal sekali Allah berkehendak untuk memporak-porandakannya, maka tidak akan tersisa setitikpun kesombongan itu dihadap-Nya. Wallahu 'alam.


Pengalaman berkali-kali ke Jakarta selalu dipenuhi dengan ke-hectic-an, buru-buru, dikejar waktu dan keriuhan lainnya. Pengen rasanya sekali-kali 'menikmati' kota ini seperti city branding-nya, ENJOY JAKARTA. Ibukota tidak selalu sekejam ibu tiri. Ada kalanya ia berubah bagaikan ibu peri yang memberikan janji-janji manis kehidupan dan penghidupan yang lebih baik. Sayonara, Jakarta. Semoga menjadi kota yang semakin maju, bahagia sejahtera warganya dan diberkahi Allah selalu ^_^