Senin, 07 Januari 2019

Liburan Hemat Murah Meriah di Desa Sumber Brantas (Cangar) Kota Wisata Batu


Kota Batu semakin mempesona; menjadi salah satu primadona wisata di Jawa Timur. Kota kecil di kaki gunung  Arjuno - Welirang - Pegunungan Putri Tidur ini makin diminati sebagai destinasi liburan. Menurut data Radar Malang, pada tahun 2017 lalu saja pengunjung yang datang ke kota ini mencapai hampir 5 juta orang. Dapat dipastikan tahun 2018 kemarin bertambah mengingat dibukanya beberapa destinasi baru seperti Jatim Park 3 dan Wisata Edukasi Susu Batu. Belum lagi Taman Langit di Gunung Banyak juga Desa Wisata Pujon Kidul yang terkenal dengan Cafe Sawah-nya. Selain itu, destinasi lawas yang tak mau kalah dengan terus mengikuti tren wisata saat ini juga masih sangat menarik bagi wisatawan yang datang.

Kota yang bikin jatuh cinta berkali-kali, kalo kata saya mah.

Akhir tahun 2018 kemarin ini, saya rasakan beberapa kali berkunjung ke Kota Batu rasanya penuh sesak. "Udah deh ngalah dulu sama orang-orang luar kota".

Etapi, Batu bukan hanya tentang Jatim Park, Museum Angkut, Paralayang, Cafe Sawah dan beberapa destinasi hits lainnya. Kalo kamu pengen sejenak menghindari kepadatan orang-orang, butuh yang ijo seger-seger, murah bahkan ga ngeluarin duit sama sekali, bisa banget. Ayok ikut saya ke daerah sejuk dengan pemandangan yang menyejukkan hati dan mata. Nama tempatnya Desa Sumber Brantas, tapi kebanyakan menyebutnya Cangar (nama pemandian yang ada di dekat desa tersebut).

Sepanjang jalan menuju Cangar, kita akan melewati banyak perkebunan apel milik warga. Pada musim panen, kebun-kebun ini akan dibuka untuk wisata petik apel. Tidak perlu khawatir merogoh kocek yang dalam, wisata petik apel ini dibuka untuk umum mulai dari 20-25K per orang (kalo lebih dari itu tawar aja). Pengunjung bisa makan apel sepuasnya (sampe mules-mules dah).


Perjalanan menuju Cangar atau Desa Sumber Brantas searah dengan jalan ke Selecta. Bedanya, pas pertigaan Selecta arahkan kendaraan kamu terus naik ke atas. Jalan ini juga merupakan jalan alternatif Malang - Mojokerto via Pacet. Pada beberapa titik, mata kita benar-benar akan dimanjakan oleh panorama indah perpaduan kreasi penciptaan Sang Pencipta dengan gerak tekun petani menghijaukan bukit-bukit dan ladang dengan beragam tanaman. Jangan malu atau ragu untuk berhenti, karena banyak juga yang memarkirkan kendaraannya untuk sekedar menghirup udara segar :)



Tak lama kemudian, sampailah kita ke desa Sumber Brantas yang merupakan salah satu desa penghasil sayuran dan holtikultura di KWB atau Kota Wisata Batu. Sesuai namanya, di desa ini terdapat sumber mata air Sungai Brantas yang merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa (setelah Bengawan Solo). Desa yang berada di daerah ketinggian ini memiliki suhu rata-rata 12 sampai dengan 24 derajat celcius (pake jaket kalo kesini wahai meriang-ers).

Sebenarnya selain Arboretum Sumber Brantas dan Pemandian Air Panas Cangar, tidak ada wisata khusus di daerah ini. Tapi saya jamin, sensasi berada di sini lebih-lebih menyenangkan dan menyegarkan daripada berada di wisata-wisata yang lagi ramai di Kota Batu, heeu. Salah satu spot yang sedang banyak diburu oleh kaum muda pemburu tempat hitz di tempat ini adalah kebun bunga Hortensia milik warga setempat.

Kebun bunganya tidak terletak persis di pinggir jalan, agak naik bukit sedikit. Siapin tenaga, huh hah!


Bunga Hortensia memang lagi naik daun di Batu. Bunga asli dari Australia ini sedang banyak ditanam oleh para petani Batu dan sekitarnya karena permintaan yang terus meningkat. Bunga ini dikenal juga dengan bunga panca warna atau bunga Bokor. Yang paling murah yang berwarna putih dan biru, sementara yang harganya tinggi yang berwarna merah atau pink (10K per ikat). Untuk di daerah wisata, kebun bunga ini bisa kita temui di Coban Talun dan Selecta.




Daerah dimana kebun bunga Hortensia yang saya dan Tika datangi berada di daerah yang namanya Jurangkuali (Raffi Nagita pernah kesini lho nyari kentang). Konon katanya di daerah ini dulu ditemukan banyak gerabah berbentuk kuali, makanya disebut demikian. Masuk kebun bunga ini gratis. Kita tinggal memarkir kendaraan kita di tempat aman kemudian siapin amunisi untuk foto-foto! Oiya jangan brutal ya. Di samping kebun bunga ini juga terdapat tanaman kentang yang jangan sampe keinjek-injek cuma gara-gara nyari angle foto yang pas.

Di Desa Sumber Brantas ini banyak sekali spot alam untuk mengambil foto. Yang penting, kuat naik ke bukit-bukit. Dan jangan lupa bertegur sapa atau sekedar melemparkan senyum ke petani-petani yang sedang bekerja di ladangnya. Masyaallah mereka ramah-ramah sekali.

Tidak ada yang tidak ingin mengabadikan momen berada di daerah ini. Mobil, motor, keluarga, pasangan, tua, muda semua menyempatkan untuk berhenti.


Seperti tanah yang diberkahi, tidak ada yang tidak indah di daerah ini. Sayur-sayuran tumbuh dengan subur. Bunga-bungaan tumbuh dengan indahnya. Hiruplah udara bersih sebanyak-banyaknya di sini; masih terhalang dari polusi udara. Wilayah ini juga sering didatangi para pemburu milky way di malam hari. Tempatnya cocok banget karena masih belum banyak lampu-lampu seperti di kota.


Baik itu cerah maupun mendung, berawan bahkan hujan, kawasan Desa Sumber Brantas ini memiliki magnet tersendiri untuk dikunjungi. Indah pada semua cuaca. Menarik pada semua musim. Dalam 2 minggu ini saja, sudah 3 kali saya kesana. Beberapa foto di bawah ini adalah yang saya ambil ketika cuaca sedang cerah-cerahnya. See!



Bermacam jenis sayuran tumbuh dengan baik di daerah Sumber Brantas. Mulai dari tanaman wortel, kentang, kubis, bawang, seledri air dan masih banyak lagi. Coba deh kamu tanam cinta di sini, sapa tau tumbuh subur dan dipetik sama pemuda tamvan desa setempat, wkwk! Huek.

Gunung Welirang yang memberikan sumber air panas pada pemandian Cangar di bawahnya


Gimana? Udah refreshed beloom maen ke Desa Sumber Brantas?

Oiya sepanjang jalan menuju ke desa ini ada banyak warung yang menjual berbagai jenis kebutuhan perut seperti bakso (enak banget dingin-dingin makan bakso sambil liat panorama kece), jagung bakar, makanan berat dan lain sebagainya. Kalo mau buah tangan untuk keluarga di rumah juga ada beberapa kios yang menjual sayur-sayuran segar hasil panen penduduk dan buah-buahan khas seperti apel, pepino dan terong belanda.

Jadi tunggu apa lagi, kuylah budalkan main ke Desa Sumber Brantas!

Kebun bunga mawar yang qadarullah kami temukan pas lagi macet menuju pertigaan Selecta. Masyaallah keren bingittt!

Selasa, 25 Desember 2018

Outbound Seru Bersama Keluarga Besar Perpustakaan UIN Malang di Trawas Mojokerto


Akhir tahun menjelang. Bagi banyak lembaga atau perusahaan, kesempatan ini digunakan untuk menghabiskan anggaran yang masih tersisa. Bukan hanya sekedar dihabiskan, tapi digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat, salah satunya pengembangan SDM yang dikemas dalam acara outbound and gathering.

Senin sore, atasan menginformasikan via WAG bahwa kami sekeluarga besar (termasuk OB dan satpam) Perpustakaan UIN Malang diwajibkan mengikuti satu agenda yaitu Pelatihan Peningkatan Mutu dan Kepuasan Layanan Perpustakaan. Acara ini akan diadakan di Royal Hotel and Cottages di Trawas Mojokerto pada 23-24 November 2018 (Jum'at - Sabtu). Woohoo.

Hari H keberangkatan (jumat siang) kami berkumpul di meeting point, Masjid At-Tarbiyah UIN Malang. Siap-siap naik Tayoo. Hey!!! Jam 13.00 hampir semua rombongan sudah berkumpul dan siap berangkat. Tinggal menunggu satu dua orang lagi. Kurang lebih jam 13.30 bus perlahan mulai melaju diiringi doa bersama yang dipimpin oleh Pak Imam Syafi'i.



Alhamdulillah, perjalanan dilalui dengan lancar. Rute yang kami lewati menuju Trawas saat berangkat melalui daerah Mojosari. Rute ini sebenarnya lebih jauh jika dibandingkan lewat Prigen, namun jalannya lebih aman (dalam artian ga nanjak-nanjak parah). Baru kali ini saya ke Trawas. Udaranya sejuk karena terletak di kaki Gunung Arjuno - Welirang dan Gunung Penanggungan. Sepanjang jalan memasuki kawasan Trawas, hutan pinus mendominasi kanan dan kiri.

Trawas layaknya Kota Batu kalo di Malang. Daerah ini dijadikan salah satu tujuan wisata karena udaranya yang sejuk sekitar 18-20 derajat celcius dan banyak pula wisata alam maupun buatan yang terletak di wilayah ini. Bagi warga Surabaya dan sekitarnya yang ingin berlibur di daerah sejuk tanpa harus jauh-jauh ke Batu Malang, ya kesini ini deh.

Sekitar jam 16.15 bus kami sampai di parkiran Royal Trawas Hotel and Cottages. Begitu turun dari bus kami langsung disambut oleh panitia event organizer yang mengatur semua acara outbound ini. Setelah itu kami menuju lobi dan get free welcoming drink. Waw, bangunannya etnik. Sejujurnya saya kurang suka karena biasanya yang etnik-etnik itu dekat dengan klenik. Hiyyy.

Royal Hotel Trawas yang merupakan hotel bintang tiga ini termasuk salah satu penginapan legend. Beberapa perusahaan atau lembaga 'berlangganan' mengadakan acara di hotel ini. Hotelnya lumayan besar. Ada kamar dengan beberapa tipe, beberapa aula besar maupun sedang, dan area outdoor. Kamu bisa liat segala macam fasilitas miliknya Royal Trawas Hotel and Cottages di link ini.

Jam jadul yang ada di pintu masuk lobi hotel
Pertama kali tau kalo hotel tempat kami menginap ada kolam renangnya, excited juga (walaupun ga bisa dan ga bakal renang -_-). Kolam renang tersedia untuk dewasa dan anak-anak. Ga terlalu luas sih menurut saya. Di pinggiran kolam terdapat beberapa kursi yang bisa kita gunakan untuk bersantai. Adanya kolam renang ini bikin suasananya nambah adem, iya ga sih? Kamu pengen ga rumah kamu nanti ada kolam renangnya? Ya kalo ga ada budget, minimal kolam ikan gapapa deh :)



Saya menuju kamar nomor 314. Harusnya berdua dengan Mbak Ari, tapi berhubung beliau sedang ada kesibukan dan baru akan sampai sehabis maghrib, jomblo deh. Langsung saja unboxing kamar; Periksa sana-sini, terutama kamar mandi. Overall, kamarnya luas. Double bed. Ada tivi dan meja kursi seperti umumnya hotel. Saya suka warna tembok kamarnya. Keren euy, gada pendingin ruangan tapi ga panasss. Saya bukan tipe pengamat hotel, yang penting tidur enak, kamar mandi air ngalir, beres deh ga banyak protess. Tapi untuk kamar mandinya saya kurang sreg. Ga muslim friendly nih. Wudhu kaki harus ngangkat ke wastafel (bayangin dong susahnya kalo orang gemuk must do that). Area untuk mandi tergenang airnya. Gada selang dari kloset. Saya yang katrook apa memang KM-nya yang ga asik (?).

Cozy room
Koridor kamar
Salah satu sudut di lantai 3
Selesai bersih-bersih dan shalat maghrib, kami dipersilahkan untuk makan malam dilanjutkan dengan training motivasi. Acara inti baru dimulai jam 8 malam (harusnya jam 7), molor sejam karena pemateri kami yang ketjeh baru otw dari Batu jam 6 sore tadi. Mantaaap. Ada waktu sebentar untuk keliling hotel malam-malam nih. Masyaallah lagi pertengahan bulan, purnama di atas sana nampak jelas.

Acara training motivasi diisi oleh pemateri luar biasa yang sebelumnya mengisi sekitar 200-an orang dan esok paginya akan mengisi di Bandung sekitar 2000-an orang. Kami yang hanya 20 orang ini tidak kalah semangatnya dong. Ibu Umi Dayati, dosen di Universitas Negeri Malang. Bu Umi mengisi materi tentang dunia kerja secara umum; Tipe-tipe pekerja yang harus dihindari, dan segala macam tetek bengek berkaitan dengan kehidupan kerja sehari-hari.



Sepanjang materi disampaikan, saya tertawa terpingkal-pingkal. Saking hebohnya atau apa, Bu Umi sampai mendekat ke saya dan menepuk dengan keras bahu saya, "ini ketawanya paling keras". Plak. Semua peserta antusias dan ga ada yang ngantuk. Bu Ummi ini kelihatan sekali kalo sudah banyak pengalamannya ngisi training motivasi semacam ini. Gaya beliau yang khas, pembawaannya, semuanya terbaeqqq deh!



Sesi malam hari ini ditutup dengan suara-suara sumbang merdu menyanyikan lagu Kemesraan. Kemudian, dilanjutkan dengan sesi makan jagung bakar (yang ga payah-payah bakar) dan wedang angsle (dibaca biasa angsle bukan angsel). Kearifan lokal Jatim banget dah. Namanya juga udah pada sepuh, ga berlama-lama jagung bakar party-nya. Setelah menghabiskan satu buah, langsung pada balik ke kamar semua. Ngantuk.

Suhu udara Trawas yang dingin membuat tidur semakin nyenyak. Sesekali suara jangkrik atau hewan lainnya terdengar di balik jendela sana. Di kamar yang saya dan Mbak Ari tempati, gada AC-nya tapi tetap dingin. Brrr. "Jule, kamu tidurnya kayak orang mati (ya). Alarm bunyi dari tadi ga denger". Wkwk!


Jam 7 pagi, kami menuju lantai 1 untuk sarapan yang sudah disediakan oleh pihak hotel. Setelah itu langsung menuju area outdoor untuk memulai serangkaian acara outbound. Saatnya bergerak! Sesi pertama adalah warming up atau pemanasan (dan kepanasan). Menurut saya pemanasannya lumayan lama (untuk tidak dibilang 'terlalu lama'). Belum apa-apa sudah habis tenaga di sesi ini wkwkw.

Seperti layaknya outbound dimana-mana, kegiatan ini diisi oleh beberapa permainan yang mengasah kekompakan, komunikasi dalam tim, pengetahuan dan lain sebagainya. Nilai-nilai luhur dalam pekerjaan dan teamwork yang disampaikan dengan menyenangkan melalui games.

Kurang lebih jam 10.30 acara resmi ditutup oleh Bapak Kepala Perpustakaan UIN Malang, Pak Faiz. Cepet banget masih pagi udah selesai? Iyelah. Jangan sampe encok bapak-bapak kumaat! Kami memiliki waktu bebas kurang lebih sampai 12.30 sebelum check out dan dijemput bis kembali pulang ke Malang.

Memperbaharui kembali semangat, niatan bekerja, kekompakan, komunikasi. Niatkan bekerja ini bukan hanya sekedar mencari nafkah tapi juga ibadah. Rugi khan kalo waktu kita yang produktif ini habis hanya untuk sesuatu yang ga berkah. CMIIW!

Rabu, 12 Desember 2018

Ayo ke Mojokerto : Kasih Makan Ikan di Sumber Wuluh Ngoro dan Berburu Durian Trawas


Hal penting apa yang bisa kasih kamu kekuatan untuk bangun dan mandi pagi di hari libur?
Saya: Maen!

Entah sejak kapan rasa ini bermula... Yang pasti ketika melihatnya, ada rasa yang tak bisa dibendung. Ada rindu yang harus segera ditunaikan. Ada rasa lega mendalam ketika sudah bertemu. OOOH IKAN!

Semenjak jadi ikan lovers, saya selalu excited akan hal apapun yang berbau ikan. Pemburu telur ikan; Tiap ke Sumber Maron atau ngelewatin situ mesti beli telur ikan (sampe abis 50K). Di kantor, saya meletakkan 2 ikan betta atau cupang di meja kerja saya. Juga ada satu di rumah. Ketemu pasar ikan, merupakan satu kebahagiaan tersendiri. Ada satu tempat di Kuningan (Jawa Barat) sana, Situ Cicerem, yang pengen banget saya kunjungin. Danau dengan ikan-ikannya yang stunning. Save dulu deh, cita-citain. Ntar kalo Allah kasih kesempatan baru kesana. 

Suatu hari, qadarullah mata ini ngeliat aja sebuah tempat di feed Instagram yang mirip banget sama Situ Cicerem. Namanya, Sumber Wuluh. Tempatnya dekat dari Malang, di Mojokerto. So, ayo kesanaaa!

Jadilah Sabtu pagi (8/12/2018) saya dan Tika siap-siap mulai dari pagi menjelang untuk menuju Mojokerto. Kami bikin bekal untuk dimakan di sana. Sebelum berangkat, dhuha dulu gaes biar berkah mainnya. Kurang lebih jam 7 pagi kami berangkat dengan berboncengan motor dari kontrakan. Jalur yang akan kami lalui adalah jalur ramai Malang - Surabaya. Walau udah mengusahakan pergi pagi, jalanan sudah padat dengan kendaraan. Bahkan dari arah Surabaya - Malang sudah terjadi kemacetan di beberapa titik. Fiuh.


Di daerah Gempol, Pasuruan terjadi kecelakaan. Kami berhenti sebentar untuk kepo. Sudah agak lama kejadiannya. Kecelakaan diakibatkan oleh sopir mobil Avanza yang mengantuk. Mobil Avanza melewati jalur kemudian truk menghindar dan malah nyungsep di sawah (berdasarkan berita yang saya baca). Alhamdulillah ga ada korban jiwa, cuma luka aja sopir Avanza. Awal liat mah suudzhan kalo sopir truknya yang nabrak mobil kecil, hehe. Selalu hati-hati dan jangan lupa baca doa keluar rumah kalo bepergian ya!


Kurang lebih jam 8 lewat, motor kami memasuki daerah Mojokerto. Ada plang selamat datang besar menyambut kami. Tidak sulit menuju ke Sumber Wuluh ini. Setelah melalui jalanan besar kemudian masuk gang kecil, lewat rumah-rumah warga, sampailah kami di tempatnya. Alhamdulillah. Bahkan lebih cepat dibanding ke pantai di Malang Selatan yang butuh waktu paling cepat 2 jam perjalanan.

Segera saja kami memarkirkan motor di dalam area Sumber Wuluh. Belum ada pengunjung datang saat itu. Hanya ada satu dua orang penduduk setempat sedang membersihkan kolam. Saya menuju warung di dekat pintu masuk, membeli makanan ikan seharga 1K. Murah meriah. Oiya tidak ada tiket masuk di tempat ini. It's free!


Seperti halnya sumber-sumber yang ada di Malang, Sumber Wuluh ini terasa sejuk dan adem karena dinaungi oleh pepohonan besar. Dari pohon inilah mengalir sumber mata air jernih yang kemudian menjadi kolam dan dihuni oleh ikan-ikan cantik berwarna-warni. Di area sumber terdapat sebuah bale atau pendopo tidak terlalu besar yang bisa dijadikan tempat istirahat. Di sampingnya, ada bangunan kecil (awalnya saya kira mushola).

Saat kami datang ada seorang bapak (warga sekitar) yang sedang berada di dekat kolam ikan. Kami berbincang lalu dijelaskan beberapa hal terkait Sumber Wuluh ini. Tapi lama-kelamaan kok bapaknya modus -_- Males dah jadinya ngobrol-ngobrol lagi. Kabuuur. (Bedakan antara beramah-ramah dengan menjaga izzah, please).


Sumber Wuluh atau Sumber Ndhuwur (orang setempat menyebutnya) adalah sebuah sumber air yang (konon katanya) merupakan peninggalan Majapahit. Wallahu 'alam. Sumber ini terletak di Dusun Sidorejo, Wonosari, Kec. Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Tempat ini sudah lama ada. Dan lagi-lagi, media sosial memiliki peranan besar sehingga akhir-akhir ini ramai orang mengunjungi tempat ini.

Baca juga: Berkunjung ke Patung Budha Tidur di Mojokerto



Melihat ikan-ikan yang banyak ini hilir mudik kesana kemari menyejukkan hati. MasyaaAllah. Ada kepuasan tersendiri ketika kita memberi makan kemudian mereka mendekat dan berebutan pakan ikan yang kita berikan. Berasa horang kaya wkwk.


Di sampjng bangunan kecil ada bekas bakaran dan dupa-dupa. Duh, perasaan saya udah ga enak nih. Ga enaknya bukan karena ngeri ada apa-apa di sini, lebih ke..."Ya Allah ngapain sih ada beginian". Bangunan kecil yang awalnya saya kira mushola untuk shalat, ternyata adalah sebuah punden (setelah bertanya pada bapak yang modus itu).

Ada tulisan yang saya baca di Academia.edu tentang sumber air dan adanya punden atau pertirtan...
"Desa-desa pada umumnya dibangun di sekitar sumber air. Secara keruangan, terdapat jarak yang memisahkan area hunian dengan sumber air. Orang Jawa meyakini bahwa di setiap sumber air ada "penunggunya". Pemberian jarak tersebut dimaksudkan agar antara yang hidup dan yang sudah meninggal tidak saling mengganggu. Sumber air dapat berupa sungai, telaga, kolam (sendang) yang dinaungi pohon besar. Punden dibangun di dekat sumber air. Punden adalah makam leluhur pendiri desa (sing mbabat alas). Secara rutin masyarakat desa mengadakan upacara ritual ke punden dan sumber air. Terdapat banyak larangan dan mitos berkaitan dengan sumber air ini..."

Untuk menjaga kelestarian alam, menjaga kelangsungan sumber air bukan dengan cara mengadakan ritual tiap purnama lah, tiap tanggal sekian, atau perayaan-perayaan yang mengandung unsur syirik. Ada ayat dalam Al-Qur'an yang artinya "Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam". Kalo kata Ustadz Aan Chandra Thalib, bentuk rahmat itu adalah dengan menjaga lingkungan dan menghormati alam semesta. Dengan menjadi muslim yang baik maka otomatis kamu juga akan menjadi manusia yang cinta alam, sadar akan kewajiban untuk menjaga lingkungan.


Ikan-ikan yang berada di Sumber Wuluh ini terdiri dari beberapa jenis. Ada Ikan Mas, Mujair, dan lele albino. Warnanya cuma bisa bikin kagum sama penciptanya. Oiya ikan-ikan ini kalo sudah pada masa panennya, akan diambil kemudian dimasukkan lagi bibit baru.


Setelah keabisan gaya dan keabisan spot foto sana-sini, kami melipir menuju meja dan kursi sederhana yang dibuat oleh penduduk setempat. Kayu yang dibentuk menjadi meja kursi kemudian ditutup terpal. Kreatif lho. Dengan semangat, kami membongkar 'harta karun' yang kami bawa dari rumah (bekal). Bikin bekal sendiri, insyaallah lebih higienis dan terjamin kebersihannya.


Bekal yang kami bawa dari rumah. Ga terjamin juga kesehatannya karena yang kami bawa adalah mie instan wkwkw.


Kolam Sumber Wuluh ini sebenarnya lebaar sampai kesana-sana. Oleh warga, diberi batasan mana yang untuk ikan dan tidak boleh diceburin, mana yang bisa buat mandi, dan mana yang untuk kolam pelihara ikan saja. Bagian yang hanya untuk pelihara ikan, jika tiba masa panen akan dibuka untuk umum untuk diambil beramai-ramai. Syaratnya, ngambilnya gaboleh pake alat apapun, kudu pake tangan kosong. Wah! Sumber air ini mengairi persawahan yang ada di sekitarnya. Jadi kalo kita kesini bonus sawah juga. Back to nature.

Heee mau dibawa kemana sepeda orang?!?
Murnikan aqidah kamu selama traveling mengunjungi tempat-tempat baru. Yakin deh, tidak ada keburukan atau kebaikan sekecil apapun yang datang pada kita melainkan atas izinnya Allah. Menjaga perilaku dan adab di tempat yang didatangi, perlu banget! Tapi jangan lakukan itu karena takut kena tulah, pamali, atau apa dah bahasanya. Jangan ya. 

Mending baca ini nih... (doa singgah di suatu daerah)
"A'uudzu bi kalimatillahit tammaati min syarri ma khalaq"

Ayo menjaga alam dan lingkungan ini dengan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, yes!

Setelah makan bekal yang kami bawa, kami pun lanjut ke tujuan selanjutnya yaitu daerah Trawas untuk berburu durian. Jarak dari Ngoro ke Trawas kurang lebih 30-45 menit perjalanan. Kami langsung memasang Maps 'Desa Duyung'. Fyi, Desa Duyung merupakan salah satu desa penghasil durian di daerah Trawas. Qadarullah nemu tempat ini pas lagi gugling Durian Trawas (sebelumnya have no idea about this place).


Belum ada sebulan ini saya dari Trawas outbound bareng keluarga besar perpus. Ternyata jalan yang saya lalui ini berbeda dari yang waktu itu. Apakah nyasar? Ternyata tidak dan malah dapat bonus pemandangan. Kami ngelewatin jalur pendakian Gunung Penanggungan jugak. Lagi enak-enak liat pemandangan bagus, liat cowok-cewek lagi mesra banget di salah satu gubuk... Bisa ga sih orang ngebangun tempat wisata tuh ga cuma mikirin keuntungan duniawi tapi juga ada tanggungjawab akhiratnya? Kalo misal liat cowo - cewe bukan muhrim (dan jelas-jelas bukan suami istri) mesra-mesraan di pojokan diusir kek atau disiram air gituuu....wkwkwk *JombloMurka

Kami sampai di Desa Duyung tidak lama kemudian. Yang khas, durian di desa ini dijual langsung oleh warga di teras rumahnya (bukan di lapak). Jadi kalo kita beli udah kayak bertamu gitu. Suasana kekeluargaan lebih terasa pastinya ya. Ada beberapa rumah yang menjajakan durian di teras rumahnya, tapi belum banyak. Belum musim agaknya.


Kami berhenti di depan salah satu rumah dan iseng bertanya harga durian pada si empunya. "Berapa harga durennya Buk?". "Macem-macem Mbak, ada yang 20, 25, 50..." Tika gamau. Bukan karena harganya, tapi mau cari siapa tau ada yang lebih bikin greget lagi. Saya menghidupkan motor kembali kemudian terus saja kami sampai batas desa. Ga nemu lagi, yah. Akhirnya saya memutuskan untuk mengajak Tika ke Fresh Green yang berada di Desa Duyung juga.

Pas mau parkir langsung tanya sama tukang parkirnya, "Mas bisa beli duren ga di sini?". Mamasnya bilang kalo belum musim. Yasudah deh, beli Mendem Duren aja. Udah pernah nyoba belum? Dulu saya pernah nemu jualan ini di Mal Olympic Garden di Malang trus ga pernah nemu lagi setelah itu sekarang. Where are you?!

Cuma satu kata untuk deskripsiin Es Mendem Duren-nya... Enak!!! Kayak makan duren beneran, cuma ditambah es dan beberapa topping kayak meses n taburan kacang. Lebih nikmat lagi karena makannya sambil ngeliatin duren yang bergantungan. Ya Allah...*ngiler



Fresh Green adalah tempat semacam rest area. Kita ga dipungut biaya masuk ke sini, hanya membayar uang parkir saja. Sepertinya tempat ini deketan sama Duyung Trawas Hill, salah satu tempat wisata keluarga di Trawas. Pohon durian dimana-mana. Emang mantep banget nih kalo pas lagi musimnya kesini. Agendakan!


Setelah shalat Zuhur kami melanjutkan perjalanan. Kali ini menuju pulang via jalan lintas Trawas - Prigen. Rencananya mau mampir ke beberapa lapak durian yang waktu itu saya lihat. Ternyata kelebihan dan ga nemu. Yaaah. Belum rizqi. Pulang lewat lintas Trawas - Prigen nih kudu banyakin dzikir. Jalannya ngeri banget. Tanjakan dan turunannya curam. Bener-bener pastikan kendaraan kamu fit.

Lagi enak-enak bawa motor, sampai daerah Prigen nemu satu lapak penjual durian. Mampir dong, ini yang kami cari-cari hehe. Harganya variatif, mulai dari 20 sampai dengan 200K per tiga buah. Duriannya kecil-kecil kaliii. Pas nanya sama abang yang jual, ternyata duriannya bukan durian Trawas. "Ini dari Bali, Mbak. Kalo yang Trawas belum musim. Nanti sekitar bulan 2 panennya".

Hiyaah.