Senin, 04 Mei 2020

Saya dan Cerita tentang Kucing


According to Islamic tradition, Muezza (or Muʿizza; Arabic: معزة‎) was Muhammad's favorite cat. Muhammad awoke one day to the sounds of the adhan. Preparing to attend prayer, he began to dress himself; however, he soon discovered his cat Muezza sleeping on the sleeve of his prayer robe. Rather than wake her, he used a pair of scissors to cut the sleeve off, leaving the cat undisturbed. Another story is, upon returning from the mosque, Muhammad received a bow from Muezza. He then smiled and gently stroked his beloved cat three times... (Wikipedia)

Satu cerita tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kucing di atas belumlah cukup membuka hati saya untuk peduli pada makhluk ciptaan Allah bernama kucing (Turki: Kedi). Hidup beberapa tahun berdampingan dengan beberapa orang yang cinta kucing pun, belum mampu membuat saya jatuh cinta ke kucing seperti jatuh cintanya saya ke ikan atau hewan lainnya. Hampir tiap hari melihat kucing juga tidak membuat saya lantas jadi ngefans atau gereget pada hewan yang konon sangat bersih dan higienis itu.
***

"Seumur hidup adalah waktu yang kita pergunakan untuk mengenal diri sendiri". Percaya ga dengan kalimat itu? Iya; Kalo kamu menyimpulkan bahwa apa-apa yang kamu sukai atau tidak sukai, hobi yang kamu jalani saat ini, itu bakal begitu aja sampe kita meninggal nanti, kayaknya kurang tepat deh. Nyatanya, seiring berjalan waktu, perubahan lingkungan sekitar, orang-orang terdekat, semuanya masih bisa berubah atau semakin bertambah. (Saya lebih lebih suka kalo menyebutnya bertambah, sih). Contohnya: saya. Saya yang dulunya anti banget sama kucing, sekarang suka meleleh liat kucing rebahan doang aja.

Saya dan kucing
Gak banyak hal yang bisa saya ceritakan tentang hubungan saya dan kucing. Semuanya biasa saja alias flat (untuk tidak dibilang masa bodo malah cenderung jijik). Saya gasuka ada bulu kucing menempel di baju atau di barang saya manapun (kasur dll.). Saya juga ga suka deket atau dideketin kucing. Paling anti banget sama bau pipis kucing; bener-bener bikin mood jelek. Bisa jadi relationship seperti itu dengan kucing karena ibu di rumah. Iya, bisa dibilang my mom versus cats. Mamak galak banget sama kucing; Pokonya semua kucing selalu salah di mata mamak 😠 (mungkin karena kucing yang 'nyasar' masuk rumah nakal-nakal suka nyuri makanan). Hal yang menarik tentang kucing buat saya cuma satu: video-video lucunya. Kalo lagi gabut alias ga ngapa-ngapain saya suka nonton video lucu kucing dan liat meme-nya.

Lalu kerja hijrah ke Malang; di Malang tinggal di kontrakan yang jadi tempat lalu lalang kucing. Ada yang sekedar singgah, ada yang menetap. Di kontrakan inilah saya mulai mengenal 'memperlakukan kucing dengan baik' yang dilakukan oleh bocah kontrakan. Ada banyak sekali kucing yang datang ke kontrakan Rifah. Semua berakhir dengan nasib yang sama: dibuang. Sejujurnya saya adalah orang yang punya peranan besar dalam pembuangan kucing-kucing di Rifah. Iya, karena saya khan biasa aja ke kucing, cenderung tega, makanya santuy aja kalo suruh buang *astaghfirullah. Dari puluhan kucing di Rifah, ada satu yang spesial (buat anak-anak, bukan buat saya), namanya Mar'ah.

Ar-Rifah's Truly Cat Named Mar'ah
Tidaklah afdhol membahas tentang kucing di kontrakan Rifah sebelum menceritakan tentang Mar'ah. Nama lengkapnya Mar'atus Shalihah. Nama ini diberikan oleh Zahra Annisa, salah satu penghuni kontrakan Rifah tahun 2014. Hanya sedikit itulah yang bisa saya ceritakan tentang Mar'ah. Saya gatau Mar'ah berasal dari mana; kesukaannya apa; hobinya ngapain; Saya benar-benar gada feel apapun sama Mar'ah, walau bertahun-tahun terlewati bersamanya. Saya cari foto Mar'ah di folder kontrakan pun ga ada sama sekali (parah saya ya).

Lady Mar'ah

Ada satu bocah yang sayangnya kebangetan sama Mar'ah. Qonita Wardatul Jannah namanya (sampai-sampai dijuluki Nita Ummu Mar'ah). Saya dulu kalo ngeledek dan ngusilin Nita, cukup saya 'kerjai' Mar'ah. Nita yang bakalan teriak-teriak merajuk. Menyakiti Mar'ah sama dengan menyakiti Nita wkwkw. Kalo lagi makan di luar, Nita selalu telaten membereskan bekas tulang-tulang, dibungkus rapi kemudian dibawa pulang untuk Mar'ah. Pokonya Nita yang mencurahkan kasih sayang yang banyak banget untuk Mar'ah (dengan izin Allah).

Mar'ah memang dicintai banyak orang. Terakhir kemarin ada beberapa adik yang DM saya di IG menanyakan kabar Mar'ah. Dia ini dulu suka curhat sama Mar'ah. Seingat saya, Mar'ah dibuang tahun 2017 lalu. Kenapa pada akhirnya Mar'ah dibuang? Karena dia tidak henti-hentinya bereproduksi alias beranak (jadi kayak zaman jahiliyyah gitu ya ehe) dan udah tinggal sedikit banget yang masih sayang sama Mar'ah. Maaf ya Mar'ah, semoga kamu baik-baik aja dimanapun kamu berada... (masih hidup atau sudah di surganya Allah).

A Lady Cat Named Orenji; Oren; Miss Ginger
Siang itu (10 Desember 2019) hampir jam 1 siang. Saya berniat kembali ke kantor setelah rehat siang di kontrakan. Tidak ada seorangpun di rumah (kuliah dan urusan lain-lain) saat itu. Pas mau keluar, tiba-tiba dari arah belakang muncul sesosok makhluk berwarna oren. Galak. Saya bilang ke kucing itu, "Heee kamu yang nyasar sendiri masuk sini, kok kamu yang galak?!". Saya foto kucing itu kemudian saya kirim ke grup WA kontrakan. Beberapa hari berlalu, kucing itu ga kunjung pergi. Dikasihlah nama sama Syifa; Orenji.

Pertama kali saya ketemu Oren

Saat itu Oren ga sendiri; Ada satu kucing belang (hitam putih) yang juga datang ke kontrakan. Hilang satu tumbuh seribu. Dari awal saya lebih cenderung ke Oren sih, mungkin karena si hitam putih ini ga sebersih Oren. Doi cenderung gembel dan rada jorok ehehe. Akhir tahun, tibalah waktunya bocah-bocah liburan pulang ke kampung halaman. Saya dan beberapa bocah gapulang; tapi saya dan Syifa udah punya rencana untuk ke Jogja. Saya pesan ke Sukma untuk ngurusin Oren biar ga pergi. Saya sama Syifa udah pasrah sih; Gamau terlalu berharap (takut sakit) kalo Oren ga bakalan pergi. Alhamdulillah ditinggal seminggu liburan ke Jogja, Oren tetap tinggal di kontrakan uwuwu...



Oren adalah kucing yang independen; Ga suka manja-manjaan sama hooman. Tipe kucing yang jual mahal. Cemburuan, gasuka diduain. Galak! 😼 Pemilih; Walau udah dibelikan makanan kucing yang mahal sekalipun, kalo doi bosen yaudah gabakal dimakan. Pernah juga dibelikan ikan tongkol atau bandeng (saya lupa), ga dimakan sama Oren. Ya Allah ini kucing yak, kita yang hooman aja makannya cuma tempe -_- Oren juga tipe kucing adventurous, petualang. Tau-tau ngilang main kemana. Walapun betina, naluri berburunya juga oke; Beberapa kali kami 'dihadiahi' tikus.


Kontrakan menjadi "hidup" gara-gara Oren. Dari subuh buta Oren menemani kami, rebahan sambil dengarin ta'lim pagi. Oren yang buat Fafa teriak-teriak kalo dia masuk ke kamar dalam kondisi gembel. Oren yang bikin Sukma marah-marah karena masuk kamar, tidur di kasurnya atau mencuri makanannya. Oren yang buat kami harus teriak heboh menyelamatkan piring sebelum makan karena dia mau ikutan nimbrung. Ada satu aibnya Oren yang parah banget yaitu doi suka kentuuut! Baru tahu kalo kucing juga kentut kayak manusia. Kentutnya bauk banget. Busuk! Misal kita lagi asik ngobrol di ruang tengah, terus Oren datang kemudian rebahan. Tauk-tauk kecium bau ga enak, bubar deh kita! Ya itu tuh si Oren gabisa menahan kentutnya. Saya udah puas jadi korban keganasan kentutnya; Lagi asik ngeblog di kamar ditemenin Oren yang rebahan; tiba-tiba bau busuk menyerang hidung 😠😠😠 Biasanya saya usir sebentar (biar baunya ilang) kemudian dia baru boleh masuk lagi.


Ada satu kejadian yang memorable banget sama Oren. Hari itu pukul 08.00 lewat sedikit. Saya bersiap-siap untuk berangkat ke kantor (tidak menyadari ada sesuatu berwarna oren masuk ke kamar; antara sadar dan tidak sih; saya tahu sesuatu oren itu masuk tapi setelah itu teralihkan oleh banyak hal lainnya). Kemudian saya berangkat kerja, menutup pintu kamar rapat-rapat. Biasanya tiap istirahat siang saya pulang, tapi hari itu tidak karena ada suatu keperluan. Menjelang sore bocah-bocah WA saya mengabarkan si Oren yang ga kelihatan dari pagi. Mereka khawatir kalo Oren 'minggat' (karena sehari sebelumnya kami membuang kekasihnya, si Bonny). Dicari kemana-mana hasilnya nihil, Oren ga ada. "Mbak, Oren ilang. Gada dari tadi pagi". Saat itu saya udah menyiapkan hati yang lapang; Yaudah deh, ikhlaaas. Sedih beneran tapi. Sampai rumah, buka pintu kamar agak sedikit curiga, kok kayak ada yang masuk (sedikit acak-acakan). Lalu dengan heboh bocah-bocah mengatakan kalo Oren ternyata ada di kamar saya kekunci seharian huahahaha! (beberapa saat sebelum saya pulang, mereka menyadari keberadaan Oren dari suaranya). Saya ga sengaja menguncinya pas tadi pagi berangkat kerja ehe. Semenjak peristiwa itu, saya jadi sadar betapa sayangnya saya sama Oren 😢

Suka banget sama foto ini

Oren membuat hari-hari saya berubah; Ada sesuatu yang saya rindukan ketika pulang dari kantor. Ada penghilang penat pengusir lelah hanya dengan melihatnya rebahan. Ada yang membuat saya tergelak dengan tingkah tidak dibuat-buatnya. Saya sampai rela merelakan jatah jajan saya untuk membelikan makanan dan cemilan untuknya. Oren juga kucing yang foto-able banget. Setiap gerak-geriknya bagus dan lucu untuk diabadikan. Saya suka menyebutnya Lady Cat karena gayanya yang kadang mirip nyonya-nyonya besar; Elegan.

Sebuah rumah persembahan dari bocah-bocah Rifah untuk Oren dan anaknya

Oren kucing yang mandiri; Lahirannya saja tidak menyusahkan orang. Malam itu jam 2, dia masih tidur sama Eka di kamar. Kemudian menjelang subuh kami shalat, terdengar suara bayi kucing. Oren lahiraaan! Dia pintar memilih tempat terbaik untuk proses persalinannya; lemari di ruang tengah wkwk. Anak-anak Rifah berisik ketika dia mulai berkeliling dan menggotong anak-anaknya. Fafa cerita, "aku tadi marah-marah sama Orenji gara-gara dia bawa anaknya ke kamarku". Huhu. Eka sayang sekali dengan Oren (saya tahu yang lainnya juga sayang; dengan cara yang berbeda). Waktu itu sebelum pulang ke Cilacap, hampir tiap hari Eka keluar membelikan ikan untuk Oren (Gembul juga dapat jatah). Saat yang lain masih asik di kamar, pagi-pagi Eka udah sibuk di dapur menyiapkan makanan mereka. MasyaAllah Eka, meleleh akutu. Belum lama, Oren sempat terganggu pencernaannya. Gara-gara itu poop-nya ga terkontrol alias sembarangan di dalam rumah. Hebohlah satu kontrakan. Akhirnya demi kebaikan bersama, dia diisolasi di luar rumah. Sempat hampir seminggu gaboleh masuk wkwk.  

Pencarian saya (akan kucing) berhenti di Oren. Buat saya, Oren adalah jawaban dari Allah atas keinginan saya punya kucing di kontrakan. Jadi sebulan 2 bulan sebelumnya saya sibuk kesana kemari mencari kucing untuk dipelihara (karena kalo mau beli, hukumnya dalam Islam masih belum jelas dan saya ragu). Pak Ji (rekan kantor) sampai ikutan sibuk mencarikan; Nyari di sekitaran UIN, minta ke mahasiswa yang part time di perpustakaan dan sebagainya. Lah tau-tau, gada hujan gada angin, ada kucing marble cantik berwarna oren 'nyasar' masuk ke kontrakan Rifah abis tu ga pergi-pergi lagi. Gitu juga kali yah nanti jodoh kita 😹 Dicari kemana-mana ga ketemu, tapi datang sendiri dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta'ala , uhuy.

Malam itu sebelum pulang kampung (dengan mata yang sembab habis nangis di kamar mandi grojoook!) saya bilang ke Syifa, "Yang bikin sedih banget sebenernya tuh si Oren. Gimana dia udah buat Rifah ini bener-bener hidup (berisik). Berat banget rasanya mau ninggalin Oren :(".

A Lovely Lazy Fat Cat Named Gembul; Thanos; Mr Collin
Suatu hari Syifa mengumumkan (meminta izin) di grup WA kontrakan bahwa ada temannya yang mau menitipkan kucingnya di kontrakan ar-Rifah. Tidak lama dititipkannya, hanya 7-8 hari. Saya cenderung cuek saat itu; tidak menanggapi. Kalo anak-anak yang lain setuju, yasudah silahkan. Keacuhan saya sebenarnya berawal dari sedikit kekhawatiran kalo Oren akan tersaingi (atau malah tersingkirkan). Saya khan tipe setia, ehem, cukup satu aja yang ada di hati saya, jangan banyak-banyak wkwk. Akhirnya semua setuju dan pada hari yang ditentukan, di suatu sore tanggal 13 Maret 2020, datanglah kucing itu ke Rifah. Saya biasa aja, ga excited atau apa. Syifa dan Eka heboh karena kucingnya gedeee (Syifa ngefans banget sama kucing besar). Saya ikutan lihat, eh iya besar jugak, batin saya. Nurut dan kalem. Mulailah saya sedikit tertarik, dikit aja jangan banyak-banyak, nanti Oren cemburu. Oh nooo! 

Karena pas tanya Syifa belum ada namanya, iseng saja saya bilang ke anak-anak, "panggil aja Thanos" (gara-gara liat ukurannya yang besar dan perawakannya yang gagah). Mulailah mereka memanggil dengan nama itu. Entah kenapa saya lebih suka memanggilnya Gembul. Lebih lovely, kalo menurut saya ehe. Kalo si Kenia beda lagi; gara-gara suaranya yang feminin, doi manggilnya ditambah "a" jadinya Thanosa 😹😹😹 (ada-ada ajah).

Hari pertama Gembul datang; malamnya rebahan di kasur saya nemani Syifa muraja'ah

Semenjak Gembul datang, kondisi kontrakan tak lagi sama. Gimana caranya Oren sama Gembul ga bertatap muka deh, karena si Oren pasti ngamuk; Udah beberapa bocah jadi korban kena cakaran dua makhluk ini kalo pas lagi hadap-hadapan (Oren yang menang, Gembul kalem). Datangnya Gembul saat itu bertepatan dengan Oren yang abis ngelahirin. Tampilannya Oren kucel banget; belum lagi sempat terganggu pencernaannya jadinya poop sembarangan. Jadilah untuk sementara si Gembul jadi primadona; Memenuhi sudut-sudut hati kosong yang belum sempat diisi oleh Oren, hiyaaa!


Gembul adalah kucing pertama yang benar-benar saya terima tidur di kamar dan menghilangkan rasa insecure saya tidur sama kucing. Sebelumnya saya tidak pernah mau tidur sama kucing; Syifa beberapa kali nyuruh kemudian saya jawab, "Gamau, nanti gini nanti gitu...". Iya, saya takut aja pas lagi tidur terus wajah saya dicakar; kucingnya ngompol di kasur lah, saya diduduki kemudian sesak napas kemudian ah sudahlah. Se-parno itu pikiran saya. Gembul gabisa kalem tidur di kamar anak-anak Rifah yang lain. Di kamar Bue dan Syifa, bikin rusuh sampe Bue gabisa tidur; terus gangguin Bue shalat juga. Di kamar Eka, sama aja. Sukma ngomel-ngomel karena Gembul naikin laptopnya (duh Mbul, kamu itu gede lho!). Kalo di kamar Kenia sama Fafa, kerjaannya ngeliatin ke atas aja. Fafa sama Ken malah takut sendiri, dikiranya Gembul melihat sesuatu dari alam lain, hiyyy. Hanya di kamar saya Gembul tidur kalem; dari jam 10 malam sampai subuh ga bergerak di tempat dia tidur. Sesekali bangun, pindah ke tempat yang lebih nyaman (hangat).


Beberapa kali saya bilang ke Syifa, "Syif bilangin teman Syifa, Gembul buat saya aja ya saya bawa ke Lampung". Sejatuh cinta itu saya sama Gembul. Beberapa malam berturut-turut Gembul membawakan saya kecoa ke dalam kamar. Ya Allah Mbuuul! Kata Syifa (baca dimana gitu), tanda sayangnya kucing ke hooman adalah membawakan hewan buruan. Gapapa deh, kalo masih kecoa mah (asal jangan ular aja kamu bawa masuk ke kamar, Mbul). Walhasil beberapa kali nyuci sprei dan ngepel kamar hampir tiap hari gara-gara jijique bau bekas kecoa mainannya Gembul.


Pernah suatu hari Gembul pipis di kasur saya; Dibanding marah, saya malah lebih ngerasa bersalah. Gembul bukan tipe kucing yang pipis sembarangan. Doi udah kebelet gitu dan ga saya keluar-keluarin dari kamar; Jadinya ngucur deh di kasur, huhu. 

Tiada hari tanpa tidur; kayaknya adalah motto hidup si Gembul. Bisa banget untuknya, dari pagi sampe malam kerjaannya cuma tiduuur ajah. Sibuk nyari kemana, ternyata tidur di kamar Eka. Heboh dikira dia ngeluyur ga pulang-pulang, ternyata tidur di depan balkon tetangga (sambil memandang kucing yang dia taksir). Dia punya banyak sekali gaya tidur yang bikin meleleh siapapun yang melihatnya. Gaya khasnya adalah rebahan dengan ngangkat keempat kakinya sambil nempel di pintu.

Rak (tempat tidur) favorit Gembul di kamar saya

Bisa gitu ya tidurnya (ga habis pikir)

Setiap malam Gembul tidur di kamar, setiap itu pula bikin saya meleleh dan tambah sayang masyaAllah. Pernah suatu malam, saya tidur di kasur dan sebelum tidur saya siapkan bantal dan selimut di samping kasur (sengaja nyiapin untuk Gembul siapa tahu kedinginan mau tidur di tempat yang hangat). Saat itu Gembul udah tidur duluan di lantai, mepet pintu. Tengah malam saya terbangun, lihat Gembul udah tidur di tempat yang udah saya sediakan. Huhu gumushhh! (lihat penampakannya pada foto di bawah).


Saya juga mengenalkan Gembul pada dua anak buah di Lembang sana, "Ajo punya kucing raksasa Neen, Naan". Hanan dan Haneen kalo nelpon langsung nanya, "Saksak mana?" (raksasa, maksudnya). Esy juga jatuh cinta habis-habisan sama Gembul sampe punya panggilannya sendiri, Mr Collin.

Sebelum pulang kampung kemarin, Allah ungkap satu kebenaran yang buat hati saya lega. Apa itu? Ternyata Gembul adalah kucing yang hilang. Jadi sepertinya, temannya Dani (teman Syifa) entah ga sengaja atau apa nemuin Gembul di jalan. Gembul emang nurutan banget sih, jadi dibawalah sama temannya Dani kemudian dikasihkan ke Dani (karena si Dani emang lagi nyari kucing untuk di rumahnya). Kemudian, untuk sementara karena Dani masih di pondok, Gembul dititipin dulu ke Syifa. Rumit ya? Udah deh gausah dipikirin. Jadi malam minggu sebelum kami pulkam, Dani sama temannya berniat untuk mengembalikan Gembul ke pemilik aslinya. Ah akhirnya, sedih banget aja mikirin pemilik asli Gembul keilangan dia. InsyaAllah Gembul bakalan hidup senang sehat bahagia dengan pemiliknya. Malam itu pas nyerahin Gembul untuk dikembalikan ke pemiliknya, Syifa nangis wkwkw! Padahal doi bilang, "aku mah udah biasa aja, karena dari awal kan emang udah tau Gembul cuma dititipin aja". Nyatanya, huhu hahaha! (termasuk yang nulis ini juga ikutan 😿)

GembulXOren
Pertama kali mempertemukan Oren dengan Gembul, hasilnya adalah keributan. Sepertinya Oren gamau ada yang bakal menggeser kenyamanannya di Rifah. Udah mau 3 minggu bersama, mereka belum juga bisa akur. Oren gabisa kalem kalo didekatin Gembul. Gembul juga kurang greget caranya dekatin Oren, terlalu selow wkwkw. Pada akhirnya, sampai Gembul mau dikembalikan ke pemilik aslinya, Oren belum juga tertaklukkan. Yaudah deh mau gimana lagi. Apa-apa yang dipaksakan itu hasilnya ga baik, apalagi cinta, uhuk! 🙈

True definition of kucing-kucingan

Jarak paling dekat Oren sama Gembul dalam kondisi kalem

Oren yang ngebuat sikap saya berubah ke kucing; Oren yang bikin saya mulai menyayangi dan jatuh cinta pada makhluk berbulu itu; Gembul yang buat saya merasakan feeling sebagai pemilik kucing; Manjanya; Sikap malasnya. Kalian berdua telah memenangkan hati saya  dengan cara kalian masing-masing uhuhu 💘💘💘

[...Kalau ngebahas awal mula saya bisa jatuh cinta dengan kucing, ga bisa dilepasin dari seseorang yang bersama saya di foto paling atas. Seseorang itu; menunjukkan pada saya secara utuh bagaimana sayangnya dalam memperlakukan kucing. Yang khawatir berlebihan; Yang merelakan sekujur badannya dicakar ketika memandikan kucing; Yang memasrahkan hidungnya mencium aroma tidak sedap dari poop, pipis dan huek-nya kucing; Yang menetes airmatanya...].

Gatau ya, apa saya udah pantas dibilang pecinta kucing atau cat lover, saya sih ngerasa belum pantas, masih sangat jauh dari sebutan itu. Apapun itu, kini pandangan saya udah beda kalo lihat kucing, udah berubah ga jijique kayak dulu lagi haha. Setidaknya Allah udah masukkan rasa kasih sayang di hati saya pada makhluk ciptaan-Nya yang tak henti melantunkan tasbih pada-Nya ini. Allah lembutkan hati saya dengan menyayangi mereka. Dari dulu, sebelum ketemu Oren dan Gembul, saya selalu berpikiran bahwa orang yang ngomong sama kucing (hewan) itu aneh; Dalam hati kalo ngeliat yang begitu saya selalu berucap, "Alhamdulillah saya masih cukup waras, masih cukup normal untuk ga ngomong sama kucing". Dan kini kumelakukannya Ya Allah 😭😭😭

0 komentar:

Posting Komentar