Sunday, June 26, 2016

Discover East (Part 7) : Sumbawa Barat, (Ga Nyangka) ke Mantar naik Montor!

(Jumat, 17 Juni 2016) Sehabis shalat subuh, saya dan Zahrah langsung bersiap meninggalkan rumah Pak Cau, tanpa mandi, karena air di sekitar desa nelayan ini sepertinya terbatas. Rencananya kami akan mandi di pom bensin atau masjid yang kami temui saat menuju Desa Mantar nanti. Setelah berpamitan dan mengucapkan banyak terima kasih atas tumpangan bermalam, Zahrah memacu motor ke arah Daerah Seteluk, KSB (Kabupaten Sumbawa Barat). Oiya kalau jarak dari Pelabuhan Pototano ke Kota Sumbawa Besar itu masih sekitar 1-1,5 jam lagi. Lumayan jauh.
Lurus ke Kota Sumbawa, belok kanan ke Mantar
Desa Mantar terletak di atas sono tuh!
Tujuan kami adalah Pasar Seteluk, karena menurut beberapa info yang saya dapat jika mau naik ke Desa Mantar harus menggunakan Ranger (atau land rover) karena medan yang cukup berat dan jalan menanjak. Ranger itu berangkat dari Pasar Seteluk. Biayanya 50K per orang untuk antar jemput menuju Desa Mantar. Tanya dengan beberapa orang, (ternyata diakhir kami baru ngeh) bahwa jalan itu langsung menuju Desa Mantar. Entah kalimat tanya saya yang salah, atau apa deh ga ngerti. Jadi sepanjang perjalanan kesana itu saya terus bertanya dalam hati (karena belum ngeh bahwa itu jalan langsung ke Mantar), ini pasarnya sebelah mana yak kok ga nemu-nemu?! Masa' ada pasar di tengah pegunungan sepiii begini?! Ternyata oh ternyata... Terima kasih Ya Allah.
Kalo udah nemu ini berarti kamu udah langsung menuju Desa Mantar
Jalanannya benar-benar bikin banyak dzikir. Mirip jalan menuju pantai-pantai di Malang Selatan, cuma bedanya itu menanjak. Bebatuannya tidak ajeg sehingga rawan membuat motor slip. Beberapa kali saya turun dari boncengan karena kondisi jalan yang menyulitkan. Motor berat, ditambah barang bawaan kami juga. Tanjakan dan tikungan curam turut mewarnai 'perjalanan ga sengaja' kami naik motor ke Mantar.
Batunya ga bersatu teguh tapi bercerai rontok
Tikungannya tajam banget, setajam..silet!
Ga semua jalan udah disemen begini, lebih banyak yang belum
Tidak ada sama sekali dalam bayangan saya naik motor ke Mantar. Bukannya apa, tapi menurut beberapa artikel yang saya baca, satu-satunya moda transportasi menuju kesana adalah mobil Ranger yang beroperasi di Pasar Seteluk itu. Medannya sulit bro! Such an impossible thing! Kayak ga mungkin gitu. Tapi ga ada yang ga mungkin kalo Allah berkehendak. Zahrah i love youuuu! Ups.
Begitu sampai, langsung kelesotan di saung ini. exhausted! Zahrah mah biasa aja -_-
Nama puncaknya O. Pamanto, 585 mdpl
Just love this <3
Bekgronnya itu asli loh, bukan lukisan
How 'tipis' i am -_- (credit pic : Zharnd)
Jauh-jauh dari Malang, nyebrang ke Lombok, nyebrang lagi ke Sumbawa, sebenarnya kenapa kami memasukkan desa ini sebagai salah satu tempat yang dikunjungi? Baca disini dan disini juga disini yak, heheh. Kalau kamu googling sendiri juga bakalan banyak tulisan tentang desa adat ini.
View Selat Alas, Pelabuhan Pototano dan pulau-pulau kecil disekitarnya
Speechless dah mau ngomong apa lagi (credit pic : Zharnd)
Itu baliho event paralayang internasional yang bakal diadain di Mantar
Tidak lama berada di Mantar, jam 11.00 WITA kami memutuskan untuk turun. Saya tawarkan untuk eksplor pantai di daerah Maluk atau Taliwang (sekitar 1 jam dari Pototano) tetapi Zahrah bilang langsung kembali saja ke Lombok. Yasudah kami langsung menuju Pelabuhan Pototano. Lelah juga sepertinya. Jalanan turun tidak lebih baik dari saat naik tadi, tapi setidaknya kami sudah punya gambaran jalan yang akan dilalui.
Udah cocok belum buat ngiklan motor?!
Suasana Desa Mantar
Kembali perjalanan dengan ferry selama kurang lebih 3 jam kami lewati. Setelah itu masih harus menempuh perjalanan 2,5 jam lagi ke Kota Mataram. Sebenarnya sayang sih, ke Sumbawa (cuma) mengunjungi Kenawa dan Desa Mantar aja, karena sesungguhnya buanyak banget destinasi wisata menarik di Pulau 1000 Bukit ini. Ada Pulau Moyo, ada Gunung Tambora, belum lagi deretan pantai indah juga air terjun. Apalah daya, waktu dan tenaga yang terbatas. Insya Allah suatu hari, kesini lageee!



Pulau Kenawa terlihat dari atas kapal ferry
Karena bingung mau bermalam dimana, kami check in ke Wisma Nusantara II lagi. Saat pulang ini kami kehujanan (bahkan sudah sampai di Lombok pun, tidak lepas dari namanya kehujanan@#$^). Alhamdulillah ala kulli hal. Sampai di penginapan, shalat, rehat dan memanjakan diri (nonton film, ngemil, santaiiii).

Bersambung kesini
Cerita Zahrah ada disini ^_^

###

Bensin 8K
Tiket penyebrangan Sumbawa Lombok 50K

0 komentar:

Post a Comment