Tuesday, September 12, 2017

Melali (Main) ke Pulau Bali: Keberangkatan


Pernah kepikiran gak sih, kenapa bule dan paklek doyan banget pergi ke Bali? Kenapa Bali masih selalu menjadi pilihan utama mereka untuk berlibur dibanding tempat-tempat indah lainnya di Indonesia? Padahal, kita masih punya Raja Ampat, Pulau Sabang, Pulau Padar, Kawah Ijen, Coban Rais *uhuk dan ribuan destinasi indah lainnya. Dikutip dari sebuah media online milik tetangga dekat kita, Australia, Reasons why you should go to Bali: (a) penduduk lokal yang ramah dan most welcoming in the world, (b) kaya akan budaya dan warisan leluhur, (c) Bali seperti sebuah paket lengkap yang akan memenuhi semua kebutuhan wisata anda, (d) akomodasi mudah dan murah (untuk bule-bule itu pastinya), (e) dekat dan mudah dijangkau, serta (f) there's something for everyone! Yang mau liburan sekelas seleb kelas dunia, bisa. Yang mau backpacker murah meriah, ada. Yang mau duduk manis menikmati sajian budaya, boleh banget. Lengkap dah pokonya mah!

Kurang lebih setelah lebaran Idul Fitri 2017 kemarin, Tika (seorang teman baik :) mengajak saya berlebaran haji di Bali. Sudah dari awal tahunan yang lalu Tika merencanakan silaturahim ini. Beberapa kali ia menawarkan, namun saya masih bimbang dan belum yakin. Hingga akhirnya menemukan momen dan tanggal yang cocok, jadilah akhirnya saya memutuskan untuk ikut serta. Tidak ada yang kebetulan di muka bumi ini, ternyata tempat yang akan Tika tuju satu kampung dengan rekan kantor yang akan pulkam ke Bali (Heni). Selain Tika, ada juga Hanum yang akan bergabung bersama kami.

Dari sebulan sebelumnya, kami sudah sibuk berburu tiket dan menentukan rute perjalanan terbaik (baca: termurah), naik kereta api atau bus. Ke Bali bisa naik kereta api?! Bukan, bukan. Naik kereta api itu nanti berhentinya di Stasiun Banyuwangi Baru (yang dekat dengan Pelabuhan Ketapang). Dari sana kemudian melanjutkan kembali naik angkutan lainnya. Tiket kereta Malang - Banyuwangi 62K.

Hari keberangkatan tiba, kami sudah mengantongi tiket masing-masing. Kereta berangkat dari Stasiun Malang pukul 16.05 sore. Sengaja dari jauh hari saya pesankan pada Tika untuk membeli tiket pada bangku D dan E agar berhadap-hadapan. Benar sih, D dan E. Tapi ternyata beda gerbong! wkwkw! Gini nih kalo ga dicek dulu masing-masing. Saya dan Tika se-sampingan di gerbong 1, sementara Hanum dan Heni masing-masing di gerbong 3 dan 4 (pengen garuk tembok rasanya). Kami hanya bisa berharap penumpang yang akan duduk di bangku depan kami ini nanti mamas atau mbak jomblo atau bapak ibu baik hati yang mau merelakan kursinya untuk ditukar, hiks.
Sebelum Negara Api menyerang
Hari keberangkatan kami waktu itu adalah hari Arafah, hari dimana kalo kita puasa, insyaAllah diampuni dosa-dosa kita setahun lalu dan akan datang (asiiik). Alhamdulillah masih Allah karuniakan kesehatan sehingga kami bisa berpuasa. Kami membawa bekal untuk berbuka di perjalanan. Menurut info yang kami dapat dari petugas KAI, penumpang pada bangku yang diduduki Hanum dan Heni akan naik di Stasiun Pasuruan. Masih satu stasiun lagi dan masih sempat untuk berbuka bareng. Sampai di Stasiun Pasuruan, hati kami makin deg-degan (aduh siapa nih...) Baru saja selesai makan, bahkan saya masih enak-enaknya menikmati lele, buyarlah harapan kami untuk bertukar kursi. Pasangan muda rek, sudahlah -_- Cukup tahu diri untuk tidak mengganggu kemesraan perjalanan mereka.
Pertemuan kembali setelah beberapa jam sempat terpisah wkwk!
Sekitar jam 12 tengah malam kami berhenti di Stasiun Banyuwangi Baru. Kami menjama' shalat kemudian melanjutkan dengan berjalan kaki menuju Pelabuhan Ketapang. Dekat (kok), ga sampai setengah jam. Kami menuju jalur pejalan kaki yang langsung terhubung dengan loket tiket. Penyeberangan Pelabuhan Ketapang - Gilimanuk murah kali, euy, (6,5K untuk dewasa dan 4,5K untuk anak-anak). Tidak menunggu terlalu lama, kami sudah diarahkan petugas untuk naik ke kapal laut. Lesssgooo!
Alhamdulillah masih bisa nyengir *tengahMalamButa
Bayangan saya malam itu, akan ramai sekali di Pelabuhan Ketapang (karena malam lebaran). Ternyata saya salah. Untuk saya yang terbiasa mendapati pelabuhan sangat ramai pada musim mudik dan kala normal, ini sepiii banget! Bangku penumpang banyak yang kosong. Perjalanan malam bergelombang itu saya nikmati sambil tidur *efekAntimo. Ngeri euy gelombang lautnya, serasa dikocok-kocok perut ini. Tika sudah dari tadi terbang ke alam mimpi, menyusul tepar kemudian si Hanum. Heni? Belum sempat saya memperhatikan, sudah hilang kesadaran duluan. Setelah 1 jam terombang-ambing di tengah Selat Bali, kapal kami pun merapat di bagian indah lainnya Indonesia, Pulau Bali.
Pelabuhan yang sepi, sesepi hati kam...eits!
Sampai di Pelabuhan Gilimanuk, kami dijemput oleh abangnya Heni. Jarak dari Gilimanuk ke rumah Heni (dan rumah Bu Ros yang kami tuju) di daerah Negara, sekitar 45 menit. Perjalanan lancar jaya tanpa hambatan, secara, itu malam lebaran dan hampir jam 3 malam, bro. Sampai dirumah Bu Ros kami lanjut tidur karena ternyata shalat subuh disini jam 5.15 am. Alhamdulillah. Masih ada waktu mengobati mata yang kurang kasih sayang tidur ini ya Allah... Ba'da shalat subuh kami langsung bersiap mandi untuk shalat Ied. Baru ini seumur-umur merayakan lebaran di tempat orang (selain Malang, tanah rantau). And this is, Baliii...! Sampai di Bali subuh buta tadi, membuat kami tidak sabaran untuk melihat pulau indah ciptaan Allah ini dalam versi "terang".

BERSAMBUNG

2 comments:

  1. Asik banget perjalannya nih, Teh. Serasa kendaraan priadi aja ya, habisnya sepi ya penumpangnya..hehe

    Memang bagusnya gitu sih buat berburu tiket baiknya jauh-jauh hari biar gak ribet..

    Aku jadi penasaran sama cerita kelanjutannya. Sepertinya seru deh..he

    Btw, sepertinya aku baru pertama kali maen kesini, salam kenal ya..

    ReplyDelete
  2. seru banget ya liburan bareng teman, jadi gak sepi pas di perjalanan.. :)

    ReplyDelete