Sunday, April 10, 2016

One Day Climbing : Mendaki Puncak Gunung Panderman, Batu, Malang

Panderman nama gunung itu. Salah satu bagian dari Pegunungan Putri Tidur. Putri Tidur terdiri dari Gunung Butak (wajah), Gunung Kawi (bagian tangan yang bersedekap) dan Gunung Panderman (bagian kaki). Dari kejauhan, ketiga gunung ini benar-benar seperti seorang putri yang sedang tidur. Pertama kali saya lihat Gunung Panderman saat melamar pekerjaan di UIN Malang tahun 2013 lalu. Waktu itu hari kedua tes kemampuan bidang yang berlokasi Perpustakaan. Dari lantai 2 perpustakaan, gunung ini terlihat begitu 'gagah' menaungi Kota Batu dan Malang. Setiap berangkat dan pulang kerja, mata ini selalu terpana melihat ke arahnya.
Pegunungan Putri Tidur di pagi hari
Saat senja
Dikutip dari Wikipedia, Panderman berasal dari nama seorang Belanda yang mengagumi gunung tersebut pada masa penjajahan, Van Der Man. Oleh 'lidah lokal' nama tersebut kemudian menjadi Panderman. Memiliki tinggi sekitar 2046 mdpl, gunung ini terlihat begitu jelas dari Kota Batu, juga dari beberapa sudut Kota Malang. Gunung ini biasanya didaki untuk pemanasan sebelum ke Semeru atau Arjuno. Gunung ini juga bisa didaki untuk family climbing.
View Gunung Panderman dari Perpustakaan UIN Maliki malang
"Ayo semangat, Ukh...! Lah ini kita baru mau mulai belum ada apa-apanya...", teriak saya pada mereka. Baru kurang lebih sekitar 15-20 menit kami berjalan dari pos pendaftaran, rombongan 'akhwat pendaki' ini sudah pada ngos-ngosan. haha! Hari sabtu itu, tepatnya tanggal 30 Januari 2016, saya bersama dengan teman-teman dari Pascasarjana UIN Malang (Indah, Tika, Ika dan Uri) serta Eni (Pascasarjana UB), Nisa (teman Ika dari Jogja) dan dua orang adik kontrakan Ar-Rifah shalihah (Qonita dan Sintya), memantapkan langkah mendaki Gunung Panderman. Rencana awal berangkat jam 5 pagi untuk berburu sunrise, namun apalah daya akhirnya baru terealisasi pukul setengah 7 lewat (hiaaa! cewek mah gitu orangnya).

Meeting point kami di kosan Ika dan Indah (daerah Batu). Setelah berkumpul semua, berangkatlah kami menuju Desa Pesanggrahan, Kota Batu. Kami sampai di pos pendaftaran pendakian sekitar pukul 7.28 pagi, setelah itu membayar Rp 7.000/orang dan menuliskan nama kami pada buku tamu (hal ini dilakukan agar terdata siapa saja pendaki yang naik jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan). Cukup sepi. Hanya beberapa orang yang akan naik ke puncak pada hari itu. Tak apalah, tetap semangat!

Trek awal yang kami lewati masih tergolong mudah, jalan setapak dengan kebun milik penduduk disamping kiri kanan. Sayuran segar nan hijau sungguh menyejukkan mata. Jalanannya pun masih tergolong landai. Semakin naik, jalan setapak yang kami lewati semakin menyempit. Jarak pandang kami terbatas karena tertutup rumput gajah yang tinggi menjulang.
Sampai di pos pertama Latar Ombo (1600 mdpl) pukul 08.30 pagi. Hanya ada sebuah tenda, diisi oleh 2 orang bule Arab dan seorang warga Indonesia. Kami rehat sejenak disini. Latar Ombo ini digunakan oleh para pendaki untuk mendirikan tenda karena berupa area datar yang lumayan luas. Biasanya pendaki menginap disini untuk kemudian melanjutkan lagi ke puncak.
Tidak berlama-lama disini, kami meneruskan perjalanan kembali. Mulai dari pos Latar Ombo sampai dengan pos selanjutnya, jalur yang kami lalui semakin sulit dan menanjak. Alhamdulillah semangat kami masih terjaga. Sambil terus mengatur nafas, menahan pegal di bagian kaki, perlahan tapi pasti kami melanjutkan langkah.
Sekitar pukul 9.30 kami sampai di pos kedua yaitu Watu Gede (1730 mdpl). Trek yang harus kami lewati semakin sulit dan kemiringannya mencapai 45 derajat. Kami berpegangan pada akar-akar pohon. Medan yang lembab dan jalur bebatuan cukup menghambat langkah kami. Saya, Ika dan Tika sempat tertinggal oleh rombongan. 

Setelah pos Watu Gede, jalanannya semakin mengerikan lagi, saudara-saudara. Amat curam, juga licin. Penting sekali membawa tongkat. Sambil jalan terlintas pikiran, bagaimana kalau tiba-tiba jatuh terpeleset kemudian langsung dipanggil Allah?! heheh.


Mendekati puncak, kami harus menyusuri bagian lereng. Terpeleset sedikit saja, aaak! tidak bisa membayangkan. Terjun bebas langsung ke bawah sana. Unidentified. Haha. Kota Batu terlihat jelas dari lereng ini namun sesekali tertutup awan dan kabut yang menyelimuti. Rombongan Indah sepertinya sudah sampai puncak terlebih dahulu. Saya, Ika, Tika dan Qonita tertinggal (bahkan mereka sudah menggelar makanan dan sempat diserbu oleh monyet-monyet, haha!).
Kurang lebih pukul 11.00 siang, Alhamdulillah Allah mampukan semua langkah-langkah lelah kami mencapai Puncak Basundara (2046 mdpl). Tidak ada yang tertinggal, personel lengkap. Saat kami sampai di atas tidak ada orang sama sekali di puncak. Kami lalu beristirahat dan sibuk dengan diri masing-masing (ada yang foto-foto, tafakur, nyari spot indah, keliling sana-sini).
Masuk waktu zuhur, kami shalat berjama'ah di puncak Panderman. Menundukkan hati, serta seluruh kesombongan yang menyelimuti. Bersyukur atas kesempatan yang Allah beri untuk sampai di puncak. Setelah shalat kami saling berbagi makanan. Beberapa dari kami tidak sempat membawa bekal nasi. Jatah nasi yang awalnya dibuat Qonita untuk porsi 3 orang (Saya, Qonita dan Sintya) cukup untuk kami ber-7. Makanan berkah insya Allah.
Lihatlah dibawah sana Kota Batu bagai serpihan genting. Rumah-rumah terlihat begitu kecil, apalah lagi manusianya. Tak terlihat sama sekali. Mungkin seperti itu pula para 'makhluk langit' memandang kita dari atas sana. Yang membuat kita 'dipandang dan didoakan' dari atas sana adalah shalawat kita atas junjungan Rasulullah SAW, serta dzikir dan istighfar yang kita panjatkan. Wallahu 'alam.
Demi memburu waktu (agar sampai di bawah sebelum maghrib), pukul 13.30 siang kami memutuskan untuk turun kembali. Trek yang kami lalui saat turun ini terasa lebih cepat dan lebih mudah dibanding saat berangkat. Sinar matahari yang masuk melalui celah-celah hutan pinus menjadikan trek dengan batuan licin yang tadi kami lewati, kering dan aman dilewati. Rombongan yang dipimpin Indah (Uri, Eni, dkk) lagi-lagi mendahului rombongan saya (Tika, Qonita dan Ika). Rombongan saya tertinggal cukup jauh. Saat turun pulang ini kami banyak bertemu pendaki yang akan naik (malam minggu).

Sekitar pukul 16.30 sore Alhamdulillah kami sampai di parkiran. Indah pulang duluan bersama mamang ojek (kesiaaan...). Kami berpisah di parkiran untuk akhirnya menuju kosan masing-masing. Tepat saat adzan maghrib, saya dan Qonita serta Sintya sampai di kontrakan tercinta Ar-Rifah. Badan serasa remuk redam (terutama bagian kaki), dibuat shalat sakitnya luar biasa, haha!

Oia beberapa tips yang mungkin bisa dipertimbangkan untuk kamu yang berencana melakukan pendakian ke Puncak Panderman:
  • Bawa perbekalan secukupnya (air minum dan makanan ringan). Saya hampir dehidrasi karena hanya bawa air minum sebotol. Bisa juga bawa roti dan coklat (makanan berenergi dan ringan dibawa).
  • Jalur yang dilewati cukup lembab, pakailah sepatu atau sandal yang nyaman dan mantap untuk melangkah. Jangan pakai sandal, please. Buahaya!
  • Pendakian Panderman bisa dilakukan dalam sehari (naik kemudian turun), siapkan fisik yang prima beberapa hari sebelum mendaki. Memang banyak yang berkata, jalur pendakian Panderman tergolong mudah, tapi tetap saja bikin klengerrr kalau modal kamu kesini cuma nekat (tanpa olahraga).
  • Istiqomah mengikuti jalur yang sudah ada, jangan buat jalan sendiri (salah-salah kamu bisa nyasar ke Blitar).
  • Tetap semangatttt!
  • Tetap tersenyum :)
  • Ambil ibrah dan hikmah dari setiap perjalanan yang dilalui, pemandangan indah yang dilihat

Dan kemudian saya belajar bahwa pendakian gunung bukan hanya tentang sampai di puncak, membuktikan "kehebatan" dirimu, kekuatanmu. Itu tentang menaklukkan diri sendiri; rasa takut, rasa lelah, rasa sombong, rasa minder, rasa tidak mampu.

Itu tentang menaklukkan ego; rasa ingin sampai puncak duluan, terlihat lebih hebat, lebih kuat dan bertenaga. Sejauh mana engkau menahan diri untuk menunggu temanmu yang masih terengah-engah mengatur nafas. Sejauh mana kau rela berbagi milikmu yang sedikit demi kebaikan bersama.

Itu tentang menaklukkan batasan diri; bahwa kaki kecil, nafas yang memburu kembang-kempis, tenaga yang senin-kamis itu (dengan izin Allah) mampu menapak tiang pancang bumi-Nya (yang membatasimu hanya tekad dalam diri, Quit or No! Lanjutkan atau hentikan!).
Setelah pendakian, kamu akan memiliki perspektif berbeda tentang kehidupan, tentang hidup, juga hidupmu. Jika kamu masih muda, masih punya cukup banyak cadangan energi untuk menjalani hari-hari, mendakilah! Mari habiskan 'masa penuh energi' dengan mendatangi puncak-puncak tinggi, yang menjadikan kita rendah. Apa yang kita lakukan saat ini, jadi bekalan cerita untuk penerus kita kemudian. So, cerita seperti apa yang sudah kamu buat?!?

"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk". QS Al-Anbiya : 31

7 comments:

  1. Muaaaaaaahhhhh
    Sip mantap.
    Track aman dan terkendali. Alhamdulillah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayok puncak mana lagi yg mau kita shalatin lg? ^_^

      Delete
  2. Kata2ny super kakak😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi makasih Mas. Sudah cocok menggantikan Mario Teguh blm?!

      Delete
  3. wrong outfit sepertinya :) mungkin bisa dipertimbangkan celana kargo, sepatu untuk tracking, biar safety.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehehe terima kasih atas sarannya :) Insya Allah dipertimbangkan

      Delete
  4. mbak itu muncak rombonganya cewek semua ?? gillee kerenn bgt dah

    ReplyDelete