Selasa, 05 Juni 2018

Pergi ke Timur (2): Sembalun, Destinasi Halal Bulan Madu Terbaik Dunia 2016



Setelah disuguhi sarapan oleh tuan rumah kami yang baik hati, Mbak Juh's Fam, kami siap-siap menuju destinasi pertama di Lombok: Sembalun. Mengikuti saran Mbak Juh, berangkat pergi lewat Lombok Timur, baru kemudian pulangnya lewat Lombok Utara. Perjalanan Mataram - Sembalun via Lombok Timur melewati jalanan lintas sehingga cukup padat dengan bus-bus dan truk yang menuju Pulau Sumbawa, Flores atau pulau-pulau di ujung Timur Indonesia sana. Tika yang bawa perjalanan pergi ini. Enak sih sebenarnya rutenya, tinggal ngikutin papan penunjuk jalan. Sampai di Pasar Aikmel, kami lurus saja. Jika belok kanan ke arah Pelabuhan Kayangan.

Kalau dilihat di Maps, perjalanan menuju Sembalun dari Mataram kurang lebih 3 jam. Setelah melewati jalanan lintas yang padat kendaraan, kemudian kami melewati jalanan yang padat dengan pepohonan. Sudah tampak sedikit gagahnya Rinjani di kejauhan sana. Ada kurang lebih 45 menit kami lewati jalanan hutan yang sepi mengerikan, mirip jalanan menuju Kawah Ijen Banyuwangi. Hutannya rapat; banyak monyet yang nongki di pinggir jalan. "Ini kalo dibegal, gak ada yang tau deh kayaknya", batin saya, saking sepinya jalan.

Setelah parno lewat jalanan sepi dan lumayan menantang dengan tanjakan turunan tikungan yang tajam, kami rehat sejenak di Pusuk Sembalun. Masuk sini ga gratis ternyata, bayar per orang 5K dan parkir 2K. Ngapain di Pusuk? Ya bisa ngelihat Lembah Sembalun dari ketinggian sih, itung-itung ngilangin tegang perjalanan.

Pusuk Sembalun
Dari Pusuk, kami langsung berencana menuju penginapan yang sebelumnya telah kami booking via app online; Bale Sembahulun Cottages and Tend. Harga penginapan di Sembalun ini untuk kantong kami lumayan mahal (karena perjalanan kami masih panjang, jadi harus ngirit). Harga di Bale Sembahulun lumayan terjangkau dan yang sedikit berbeda, saya pesan tenda untuk 2 orang. Mikirnya, udah jauh-jauh ke Sembalun, coba deh pengalaman berbeda tidur di dalam tenda berteman suhu dinginnya Sembalun di bawah ribuan bintang *uhuk #modusNgirit.

Di lembah Sembalun terdapat 6 desa. Desa pertama yang kita masuki kalau lewat Lombok Timur adalah Desa Sembalun Bumbung. Kesan pertama memasuki wilayah Sembalun selain kagum adalah, "ini tempat sepi banget deh". Entah karena saat itu hari Jumat dan warga di sana sedang Jum'atan atau apa, tidak banyak orang kami temui seperti di desa wisata pada umumnya. Oiya, Sembalun Bumbung adalah tempat yang pas untuk kamu yang pengen wisata petik stroberi.

Tidak terlalu sulit mencari, kami sampai di Bale Sembahulun. Bangunannya adem, didominasi kayu. Halamannya luas, tempat kami nanti akan 'ditendakan' wkwk. Jadwal check-in kami di atas jam 12. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 12-an dan penginapannya masih nampak begitu lengang. Tengok sana-sini, berusaha memanggil pemiliknya atau siapapun yang ada di situ, hasilnya nihil. Gak ada siapa-siapa, bro. Cukup rasa sabar kami menunggu, matahari semakin membakar di atas kepala, kami memutuskan untuk mencari penginapan lain.

Bale Sembahulun Cottages and Tend (perhatikan lingkaran merah)
Di tengah terik matahari, saya kembali membawa motor mencoba mencari penginapan lainnya. Belum terlalu jauh dari tempatnya, tiba-tiba Tika bilang, "Mbak, tas Tika ketinggalan. Ya Allah. Pantesan, kok kayak enteng banget bawaannya".

Kebangetan. Banget -_-

Sembalun ini beneran sepi! Seperti orang susah kami mencari penginapan. Yang harganya kemahalan lah, yang gada orangnya lah. Jadi ada satu penginapan yang (katanya) murah. Cukup lama kami berada di sana (manggilin tuan rumah, keliling sekitar), ada sekitar setengah jam, sampe saya gelesotan di saung depan rumahnya ga nongol-nongol jugak yang punya rumah. Ya Allah, ini tempat wisata apa bukan sih sebenarnya? Sepi ngettt! Ditengah kepanasan dan keputusasaan mencari penginapan *lebay, kami ketemu seorang pria tampan bapak yang kayaknya bisa membaca wajah susah kami. Dengan jujur kami berkata pada si bapak, "mau cari penginapan murah Pak. Yang kisaran harga 100".

Si bapak membawa kami ke rumahnya yang ternyata adalah sebuah geo-homestay. Kami diajak masuk untuk melihat kamar, ruangan tengah, dapur dan kamar mandi. Karena tidak cocok dengan kamarnya yang terlalu kecil, kami diajak ke rumah sampingnya yang ternyata rumah anaknya si bapak yang dijadikan homestay juga. Namanya Jani Homestay; Harga per malam 150K sudah dengan sarapan di pagi hari. Di Sembalun mah ga perlu kamar ber-AC atau fan karena udara di Sembalun sudah cukup sejuk, cenderung dingin.

Single bed di Jani Geohomestay
Fyi, Geo pada geo homestay ini bukan nama orang (saya sempat terkecoh). Geo disini sama kayak Geo-morfologi, geologi. Geo homestay di Sembalun merupakan program CSR BNI bekerjasama dengan Pemprov NTB dalam rangka mengembangkan pariwisata di Sembalun. Berdasarkan hasil ngobrol pada baiq pemilik homestay, geohomestay-nya baru dibuka pada akhir 2017 lalu dan sampai saat ini ada sekitar 15 rumah warga yang dijadikan homestay. Konsepnya keren, 'membuka' rumah warga untuk para pengunjung yang datang ke Sembalun atau Geopark Rinjani dan membuat mereka merasa like home karena berbaur dengan warga lokal pemilik rumah. Lumayan nih buat yang mau mendaki atau habis turun dari Rinjani untuk sekedar beristirahat dan sejenak menikmati suasana damai Sembalun. Dijamin harganya paling murah.

View Rinjani dari depan homestay
Sore itu setelah beristirahat, kami menuju Bukit Selong. Dari artikel yang saya baca sebelumnya, bukit ini lumayan mudah untuk didaki dibanding dengan bukit saudaranya, Pergasingan, yang butuh waktu dan tenaga ekstra. Demi mengingat tenaga Tika (dan saya), ga mungkin kayaknya mau naik Bukit Pergasingan dalam waktu sesingkat itu. Okelah kita ke bukit yang foot friendly aja. Dari homestay jaraknya ga terlalu jauh. Masuk-masuk ke gang rumah warga, kemudian lewatin jembatan yang banyak sapi pada nyantai, lalu ketemu hutan bambu lebat. Dari situ, udah kelihatan loket tiketnya. Kami membayar tiket masuk Bukit Selong per orang 5K dan parkir 2K.

Sebelum trekking sedikit ke puncak bukit, kami mampir ke Kampung Adat Beleq yang tepat berada di bawahnya. Ga ngapa-ngapain, foto doang. Sebelum matahari semakin turun di ufuk barat, kami naik ke Bukit Selong dan Wow! Dibuat takjub dengan hamparan petak sawah di depan kami. Inilah salah satu istimewanya Lembah Sembalun dibanding daerah-daerah sejuk lainnya di Indonesia. Such an amazing view. Masya Allah. Allah hamparkan bumi-Nya, agar mudah kita jelajahi, agar kita menjadi orang yang semakin bersyukur.


Sore itu kami melihat matahari tenggelam dari Bukit Selong. Syahdu syekali. Dari atas Bukit Selong, tampak di kejauhan rumah-rumah warga di Lembah Sembalun yang hampir 360 derajat dikelilingi bukit-bukit. Terbayang wajah hangat penduduknya yang 100% persen muslim, kekayaan alam adat dan budaya yang masih dijunjung tinggi. Nampak pula dari atas sini, menara-menara masjidnya yang menjulang tinggi. "Allah tidak akan menghancurkan sepetak bumi-Nya, selama masih ada yang beriman di dalamnya". Mungkin manusianya sudah tiada yang beriman, tapi bagaimana dengan semut, ulat, cacing atau makhluq-Nya yang lain yang tak pernah luput berdzikir pada-Nya, dengan bahasa yang tidak kita mengerti?!"



"Mauk lihat lagi bukitnya, warna ijoo", Tika memelas.
"Yaudah besok pagi kesini lagi".

Keesokan paginya, kami datang sepagi mungkin (tanpa mandi) dengan harapan loket tiketnya belum buka, jadi ga pake bayar. Sampai sana, yaah ternyata sudah ada abang penjaga tiketnya. Kami membayar 10K lagi. Sudah ada serombongan orang, acara kantor nampaknya. Sambil nunggu matahari terbit melewati bukit sambil berdoa orang-orang itu segera pergi, hehe. Photo boom!



Jepret sana-sini, sedikit sarapan jajan yang kami bawa, pulang deh. Pas mau pulang, ketemu abang yang jaga tiket yang kemarin kami mintai tolong untuk memfoto kami berdua. Kelihatannya abangnya sadar wisata nih. Kesempatan untuk tanya-tanya tentang sejarah Kampung Adat Beleq yang ada di bawah Bukit Selong (kemarin sore kami sudah kesini dan have no idea about this place, gada yang bisa ditanyain soalnya),
"Apa istimewanya tempat ini bang?"
"Ini kampung tertua dengan 7 rumah pertama di Sembalun"
Tanya ini itu hingga percakapan mengalir dengan ringan. Dindingnya dibangun bukan pake semen, tapi campuran tanah dengan kotoran sapi (hiy), Ga bau bang? Kenapa pake kotoran sapi? Karena di Sembalun gada gajah (krik-krik). Campuran antara tanah dengan kotoran sapi dimaksudkan untuk menghalau nyamuk (yakin gamau ganti losyen nyamuk kamu pake kotoran sapi, wkwk). Keren dah pokoknya rumah-rumah ini, dibangun dengan banyak filosofi yang mengandung nilai-nilai luhur kebaikan. Learn from the old!

Kampung Adat Beleq
Dari Bukit Selong kami mengarahkan motor ke arah Hotel Nusantara, salah satu hotel dengan view Rinjani paling epik. Jadi sedikit saran, kalo kamu mau cari penginapan atau hotel di daerah Sembalun, satu yang jadi pertimbangan adalah pemandangannya: Harus bisa sambil kepoin Rinjani dari jauh. Masuk dan terus masuk gang, kami menemukan savana dimana bisa melihat Gunung Rinjani menjulang gagah dengan cukup jelas, dari ujung kaki sampai ujung kepala. This! Kata seorang oom (mantan) pendaki yang pernah saya temui, Puncak Rinjani adalah puncak terindah kedua di Indonesia yang pernah beliau daki, setelah Puncak Cartenz di Papua sana. Insyaallah deh, trip pertama bersama pasangan halal, *grinning

Savana Rinjani
Di Sembalun, sebenarnya saya tidak terlalu menarget untuk mengunjungi tempat-tempat wisatanya. Banyak sekali wisata alam yang ada di sini. Niatnya sederhana aja kok; datang ke Sembalun, menginap semalam, lihat hamparan sawahnya yang ikonik itu, sudah cukup sebagai penanda kami sudah kesini. Oiya satu lagi, yang paling penting, foto dengan latar belakang Rinjani dong. Kalo punya waktu (dan budget) lebih, kamu bisa mengunjungi air terjun - air terjun keren yang berada di kawasan Sembalun, Senaru dan sekitarnya. Juga, muncak ke Bukit Pergasingan dan beberapa bukit indah lainnya di kawasan Geopark Rinjani.

Fyi, tahun 2016 lalu, Sembalun dinobatkan sebagai destinasi halal bulan madu terbaik dunia dalam ajang World Halal Tourism Award di Abu Dhabi. Apa sih wisata halal? Wisatanya ke tempat-tempat religi semacam masjid gitu? Berarti di Sembalun banyak masjid yang bisa dijadiin tujuan wisata? Di Sembalun (dan tempat-tempat lainnya di Lombok emang banyak masjid, tapi buat ibadah bukan untuk wisata -_-) Terus kenapa doi bisa menang?

Sedikit info tentang apa itu wisata halal, saya kutip dari sini
...Pengertiannya tentu tak melulu berwisata ke lokasi-lokasi religius seperti makam-makam Walisongo seperti yang selama ini banyak dilakukan orang. Jika wisata religi lebih mengedepankan aspek lokasi atau objek dan sejarah tempat wisata, maka wisata halal lebih mengedepankan aspek pelaku atau wisatawannya. Nah, istilah wisata halal yang kemudian muncul inipun mendunia. Wisata halal ini memiliki cakupan yang lebih luas lagi. Tak hanya soal berkunjung ke lokasi religius, namun juga ke lokasi-lokasi umum dengan tetap menjaga adab sebagai Muslim dan memberikan fasilitas serta kemudahan bagi para wisatawan Muslim.

Menurut Global Muslim Travel Index (GMTI) yang menjadi acuan standar wisata halal dunia, ada 3 kriteria sebuah destinasi bisa menjadi destinasi halal, antara lain: (1) destinasi yang ramah keluarga atau family friendly, (2) layanan dan fasilitas di destinasi yang ramah muslim, dan (3) kesadaran halal dan pemasaran destinasi. Jika sudah memenuhi kriteria tersebut, maka sebuah destinasi wisata sudah bisa menahbiskan dirinya sebagai destinasi halal. Cmiiw! Tahun 2017, Indonesia menempati peringkat tiga destinasi halal dunia diantara negara-negara OKI. Naik satu peringkat dari tahun sebelumnya.

Sembalun for World Best Halal Honeymoon Destination
Sekitar pukul 11 kurang, saatnya kami pulang menuju Mataram. Tidak ingin terlalu siang karena takut kesorean di jalan dan kami tidak paham medan yang akan kami lewati, sepi kah? seram kah? Seperti yang sudah direncanakan, kami pulang via Lombok Utara. Enaknya pulang lewat utara, ga terlalu ramai dengan kendaraan. Tapi hati-hati ya, di beberapa titik kita akan menemui tanjakan, turunan dan tikungan yang lumayan tajam. Pastikan kendaraan kamu fit! Oiya dalam perjalanan pulang ini nanti kami akan melewati Masjid Bayan Beleq. Masjid ini adalah masjid pertama yang berdiri di Pulau Lombok. The first and the oldest! 
 

Sampai di area masjid dan memarkirkan motor, kami disambut oleh seorang bapak, semacam juru kunci, dan diminta untuk mengisi buku tamu dan infaq seikhlasnya. Ada yang membuat saya bertanya-tanya, penampilan si bapak yang memakai pakaian adat mirip orang Bali dan logatnya juga seperti orang Bali. Ditambah lagi, entah kebetulan atau apa, tulisan di belakang baju si bapak yang ada bacaan Bali-nya. Lho, ini (masih) masjid atau sudah dirubah jadi tempat ibadah agama lain sih?

Skip rasa penasaran, kami berdua berkeliling kompleks Masjid Bayan yang tidak terlalu luas namun rindang dengan beberapa pohon besar. Enaknya begini nih ada yang jelasin, tapi sayangnya ga ada. Bertandang ke masjid yang kini sudah tidak dipakai lagi ini (hanya dipakai untuk acara-acara adat dan keagamaan saja), mengingatkan kami sebagai generasi saat ini, sejarah masuknya Islam ke Indonesia (khususnya Pulau Lombok). Ada banyak teori tentang siapa yang membangun masjid ini pertama kali; ada yang bilang para ulama dari Iraq, sebagai tempat mengajarkan Islam pada penduduk setempat. Buat saya, ini sekaligus bukti bahwa Islam datang di Indonesia melalui lisan para ulama yang sengaja diutus sejak zaman Rasulullah untuk menyebarkan Islam di penjuru dunia dan mematahkan teori yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pertama kali lewat pedagang Gujarat (India). Itusih, kalo nginget ceramahnya Ust. Adi Hidayat. Wallahu 'alam.



Demi rasa penasaran yang masih belum terjawab, akhirnya saya bertanya pada bapak parkir saat kami akan pergi, "Pak, bapak yang di dalam, itu muslim?". "Iya Mbak, muslim". Kok pakaiannya kayak orang Bali gitu ya Pak?". "Iyaa, itu pakaian aseli sini. Sasak. Pakaian adat yang dipake kalo lagi ada acara keagamaan". Saya ber-ooo panjang. Masya Allah. Indahnya tabayyun. Berbahagialah saya (dan kamu) yang tidak hidup dengan prasangka sendiri, heee. (Setelah itu, sibuk googling keterkaitan antara masyarakat Bali yang beragama Hindu dan Sasak yang hampir seluruhnya beragama Islam).

Dari Masjid Bayan Beleq, perjalanan kami masih panjang menuju Mataram. Sepanjang perjalanan disuguhi view keren hingga lelah tidak terlalu terasa. Saat lewat di daerah Tanjung, sebenarnya mau berhenti sebentar untuk beli sate ikan khasnya. Tiap nemu satu gerobak jualan, mikirnya "nantilah beli sanaan lagi". Hingga sudah berlalu dari wilayah Tanjung -_- dan kami belum jadi beli satupun. Sampai daerah Pemenang (sudah hampir Senggigi), kami rehat sambil memesan dua buah kelapa muda seharga 10K per buah. Segernya ya Allah. Terbayar semua lelah. Kami menikmati kelapa (yang ga terlalu) muda sambil santai di gubuk yang langsung menghadap ke laut. Must try! Perjalanan kurang lebih 5 jam Sembalun - Mataram diakhiri dengan santai di Makam Batu Layar sambil ngeleseh di pinggir jalan (kayak anak ilang) menikmati Sate Ikan Tanjung yang beli bukan di daerah Tanjung.
Kasur mana kasur? *butuhIstirahat

0 komentar:

Posting Komentar