Jumat, 29 Juni 2018

Berkunjung ke Maha Vihara Patung Buddha Tidur di Mojokerto lewat Cangar

Berbahaya. Ngeri. Susah dilalui. Begitu kata-kata bikin keder yang meluncur ketika saya bertanya pada salah satu rekan kantor, "udah pernah ke Mojokerto lewat Cangar?". Sebenarnya kurang lebih setahunan yang lalu saya sudah melewati jalanan itu, tapi dalam posisi dibonceng. Dibonceng dan bawa motor sendiri, pasti beda. Sempat ga yakin, apalagi sehari sebelumnya baca di media massa, ada sebuah mobil yang terperosok ke jurang di daerah sekitaran Cangar. Pilihannya dua; lewat Cangar dengan berbagai halangan dan rintangannya (tapi berbonus view keren) atau lewat jalanan lintas Malang - Pasuruan yang puanas lagi ramai. Belum lagi kalo hari libur, mesti macet. Bismillah deh, dengan semua resiko, bawa motor matic boncengan cewek berdua doang, lewat Cangar aja.

Kurang lebih jam 7.30 pagi, saya dan Tika berangkat meninggalkan kost-an menuju Batu. Karena hari libur nasional (pilkada serentak), jalanan cukup lengang. Sepanjang jalan, saya dan Tika menghabiskan waktu dengan ngobrol sana-sini. Awal berangkat dari kost tadi, cuaca tidak terlalu cerah. Matahari ga nampak, tapi hujan ga turun. Setelah masuk daerah Sumber Brantas, masya Allah matahari mulai kelihatan diikuti langit biru cerah. Ini nih yang nambah semangat kalo lagi main. Alhamdulillah tabarakallahu.



Kalo berencana pergi lewat Cangar, saran saya berangkat lebih awal deh. Kenapa? karena kamu bakalan banyak berhenti selama lewat sini. Perkebunan apel dan jeruk terhampar di sepanjang jalan menuju kesana. Tanam-tanaman sayur berlatar bukit cantik dipenuhi pepohonan hijau. Belum lagi kabut yang turun, menambah kesan epik. Berasa berada di negeri atas awan. Cuacanya yang sejuk cenderung dingin membuat betah berlama-lama di sini. Yakin gamau mengabadikan?


Puas cekrek-cekrek ambil satu dua foto, kami melanjutkan perjalanan kembali. Ini baru permulaan, sodara-sodara. Jalan berkelok dari Batu menuju Cangar hanya pemanasan sebelum kita melewati tantangan sebenarnya: Cangar menuju Pacet. Salah satu spot yang paling bikin gemeterrr adalah jalan menurun curam beberapa meter setelah pintu masuk Pemandian Air Panas Cangar. Banyak-banyak doa dah pas lewat sini. Hati-hati. Konsentrasi. Jangan mikir aneh-aneh apalagi mikirin hutang. Ada banyak kejadian tidak mengenakkan terjadi di titik jalan ini. Sekali lagi, pastikan kendaraan kamu benar-benar fit, terutama rem.

Selanjutnya masuk kawasan hutan Tahura R. Soerjo yang bervegetasi lebat. Hati-hati pohon tumbang dan tanah longsor. Tampak kawanan monyet menyambut kami. Tika membuka tas untuk mengambil foto dan mereka husnudzan dikira kami mau memberikan makanan. Big No! Bukannya apa, nanti ujungnya ga baik untuk kita berdua, nyet... (ciyeeh, kita). Kamu semakin 'liar' kalo liat bangsaku bawa plastik, jadinya brutal bin ganas. Trus kamu bakalan keilangan insting mencari makan di alam **Ngomong sama monyet. Ada satu spot dimana kamu bisa istirahat sejenak sembari foto-foto dengan latar perbukitan serasa di Switzerland. Say hello to Sami...!


Jarak dari Pacet (daerah di Mojokerto yang pertama kita masuki jika lewat Cangar, Batu) ke Patung Buddha Tidur di Kecamatan Trowulan kurang lebih 45 menit. Tanpa Maps, bisa sebenarnya insyaallah dengan sedikit bertanya dan cermat memperhatikan papan penunjuk jalan. Kurang lebih setelah 3 jam perjalanan (ini sudah termasuk berhenti foto-foto di sepanjang jalan), sampailah kami di Trowulan. Sudah terasa aroma-aroma jaman dulu. Langsung berkelebat di memori, segala macem serial Brama Kumbara, Tutur Tinular dan Angling Dharma. Yang paling keinget, wajah teduh nan bijaksana Arya Kamandanu *uhuk (anak milenial mana tauk?!). Di kecamatan yang dahulunya merupakan ibukota Kerajaan Majapahit ini seperti tersimpan rahasia besar yang menanti dikuak oleh para ahli purbakala. Jejak-jejak kejayaan salah satu kerajaan yang pernah ada di Indonesia. Wallahu 'alam.


Yang kami setel di Maps untuk memandu perjalanan kami adalah 'Patung Buddha Tidur'. Ternyata yang duluan kami lewati adalah Petirtaan Candi Tikus. Tampak sepi. Setelah keliling nyari pintu masuknya sebelah mana, tampak jelas tulisan tutup di situ. Yaaah. Sebenarnya pagarnya tidak terlalu tinggi. Terlihat beberapa orang anak, warga setempat, yang tampak masuk dengan melompatinya. Saya ajak Tika untuk lompat juga, gamau. Hehe yaudah deh *travelerberadab.

Melanjutkan perjalanan kembali, tidak jauh dari Candi Tikus, kami melewati satu kompleks candi lagi. Namanya Candi Bajang Ratu. Dan itu tutup lagi, hwaaa! Penonton kecewa. Kembali menghidupakan motor dan kami melintasi satu kompleks besar bangunan dengan tulisan "Pusat Informasi Majapahit". Ternyata ini adalah Museum Trowulan yang berencana kami kunjungi juga hari ini. Sebagai seorang yang semasa SMA pernah punya cita-cita jadi historian atau sejarahwan, mengunjungi museum merupakan hal menyenangkan untuk saya, tidak pernah membosankan. Tapi sayangnya lagi-lagi, museumnya tutuup ya Allah...! Padahal sebelumnya saya sudah berharap bisa masuk kesini dan menapaktilas jejak-jejak sejarah Majapahit.


Museum Trowulan merupakan museum dimana hampir sebagian besar peninggalan Kerajaan Majapahit disimpan. Ada satu benda yang ingin sekali saya lihat di sini yaitu koin dari masa Kerajaan Majapahit yang berukir kalimat syahadat. Bagaimana mungkin Kerajaan Majapahit yang merupakan kerajaan Hindu menggunakan mata uang yang bertuliskan kalimat Allah tersebut? Wallahu 'alam. Kalo berkaitan sama sejarah masa lampau tuh ya, banyak nerawang dan meraba-rabanya. Belum lagi 'cekokan' di buku-buku pelajaran Sejarah yang kita pelajari di sekolah, entah benar entah engga-nya.

Saya mendatangi pos satpam, tampak ada seorang penjaga di sana. "Permisi Pak, ini museumnya tutup ya?" (padahal udah jelas tutup, basa-basi aja, sapa tau bapaknya kasian karena kita datang jauh-jauh dari seberang kabupaten). "Iya mbak mohon maaf ya. Bisa datang besok lagi atau lain kali". Yah, alamat memang gaboleh masuk nih. Baiklah. Saya berpikir udah gada harapan lagi kalo mau kesini, karena ini kantor pemerintah maka hari libur juga biasanya tutup (sabtu - minggu), sementara saya bisa main kalo pas libur kantor juga. Ternyata setelah tanya sama bapaknya, sabtu minggu buka. Yeay! Agendakan kemari lagi, insyaallah. Demi mengobati kecewa belum bisa masuk Museum Trowulan, kami beli pentol Majapahit yang jualan pas di depan museum. Enak!

Selanjutnya kami menuju salah satu candi pemujaan Majapahit, yaitu Candi Brahu. Ini juga tutup. Lalu sekitar beberapa ratus meter dari situ ada pula Candi Gentong. Kami hanya bisa menyaksikan dari luar pagar kompleks candi-candi tersebut. Setelah itu kami memasuki Desa Bejijong, desa dimana terdapat Maha Vihara Buddha Tidur. Beberapa bagian depan rumah penduduk tampak seperti replika rumah pada zaman Majapahit dulu. Kesan adem terasa ketika melihat rumah yang dibangun dengan bata khas berwarna merah ini.


Dikutip dari Brilio.net, ada 6 desa di Kecamatan Trowulan yang akan dijadikan 'Kampung Majapahit' oleh pemda setempat. Salah satunya adalah Desa Bejijong. Pembangunan replika rumah Majapahit itu dilakukan untuk 'membangkitkan' kembali suasana kampung pada masa kerajaan Majapahit di masa lalu. Desain rumah Majapahit ini merupakan hasil modifikasi dari rumah kawula (rakyat biasa) masa itu. Total ada 596 keseluruhan rumah yang akan dibangun di 6 desa di Kecamatan Trowulan demi mewujudkan Kampung Majapahit ini. Nantinya, Dinas Pariwisata setempat berharap rumah-rumah tersebut tidak hanya dijadikan 'pajangan' atau untuk beraktifitas harian saja, tetapi bisa dijadikan semacam homestay bagi wisatawan yang datang sehingga benar-benar seperti berada pada masa kejayaan pemerintahan Raden Wijaya maupun Raja Hayam Wuruk (raja-raja Majapahit). Wiiih.

Di tengah terik matahari, sampailah kami pada tujuan utama di Mojokerto ini, Patung Buddha Tidur. Jadi sebenarnya yang kami kunjungi ini bukan tempat wisata, lebih tepatnya adalah rumah ibadah umat Buddha yaitu vihara. Tarif yang dikenakan untuk pengunjung (non umat Buddha) dewasa 3K dan anak-anak 2K. Karena ini rumah ibadah, ada beberapa aturan yang harus kita patuhi antara lain tidak memakan atau membawa makanan yang mengandung daging atau ikan. Saya tidak membaca tulisan ini dengan cermat sehingga santai saja makan cilok daging di dalamnya, hihii. Lain kali lebih literat, baca aturan di suatu tempat baru ya.



Patung Buddha Tidur yang ada di Maha Vihara Majapahit ini merupakan yang terbesar ketiga di Asia setelah Thailand dan Nepal. Patung ini bukan peninggalan Kerajaan Majapahit namun buatan seorang pengrajin patung asal Trowulan bernama YM Viryanadi Maha Tera pada tahun 1993. Patung ini dibuat menggunakan beton dengan panjang mencapai 22 meter, lebar 6 meter dan tinggi 4,5 meter. Posisi patung ini menghadap ke sisi kanan. Di bawah patung terdapat relief-relief yang menggambarkan kehidupan Siddharta Gautama (sang Buddha).


Saya suka sekali dengan salah satu quote yang ada di buku Titik Nol-nya Agustinus Wibowo. "Perjalanan adalah proses menumbukkan ekspektasi dengan realita". Awalnya kami kira patung ini begitu besaaar, di area yang luas. Nyatanya, terdapat di area yang dibatasi tembok dengan dunia luar dan ramainya pengunjung membuat area itu semakin terasa sempit. Ga sesuai sama yang ada di benak kami lah. Tika sampai ga yakin, "bener ini patung Buddha Tidur yang diliat di internet?". Iyalaah, plis. Jangan bayangkan bisa foto sendiri tanpa photo bomb! (kecuali kamu mau blusuk-blusuk di sekitaran taman bunganya atau naik ke atas pohon).



Ada sedikit cerita; Jadi karena kompleksnya yang tidak terlalu luas, dan tidak ada tempat duduk untuk pengunjung sama sekali di sekitaran patung ini, saya dan Tika menaruh tas dan jaket yang kami bawa sembarangan (jangan dicontoh). Kami beranjak sebentar ambil foto, tiba-tiba ada seorang ibu yang nyeletuk dari balik punggung saya, "Itu jaketnya siapa? Ganggu pemandangan wae", komentar si ibu. Saya cuma nyengir sambil melirik Tika. Sejurus kemudian saya langsung mengambil jaket dan bawaan kami lainnya, berlalu dari si ibu. Apa yang terjadi dengan si ibu? Gatau ya, mungkin beliau ngerasa ga enak karena ternyata orang yang dimaksud si ibu ada di sekitarannya. Saya sengaja saja langsung mengambil biar si ibu nyadar. Maksud saya, biar ibu itu lebih berhati-hati lagi mengeluarkan komentar di tempat umum. Tapi saya ga bener sih, saya sadar. Coba kalo ngikut akhlaqnya Rasulullah, pasti Rasulullah nunggu dulu ibu itu pergi baru ambil barang-barangnya. Rasulullah gamau bikin ibu itu malu dan ga enak hati. Mulianya engkau, Shalallahu alaihi wassalam.

...[Tentang mulianya Rasulullah menjaga hati orang lain, ingat peristiwa di suatu hari pada saat sehabis maghrib, Rasulullah dan para shahabat seperti biasa melaksanakan taklim. Ketika taklim sedang berlangsung, tiba-tiba ada seorang peserta yang kelepasan buang angin, tut! Sahabat yang lain murka. Tapi Rasulullah dengan bijaksananya, meminta seluruh yang hadir pada majelis ilmu itu untuk memperbaharui wudhunya kembali. Jadi, aman deh ga ketahuan siapa yang tadi buang angin, sehingga ga mempermalukan sahabat yang mungkin kelepasan itu. Keren ya idola sepanjang masa kita]...

Ngeliat posisi Buddha yang lagi tidur pewe banget itu, lama kelamaan bikin ngantuk juga lho heee. Karena memang Patung Buddha itu hanya untuk dilihat saja, waktu sejam sepertinya sangat cukup berada di situ. Tidak berlama-lama kemudian kami pulang. Sebelum itu jajan dulu di area depan vihara yang menjual aneka makanan minuman dan oleh-oleh. Harganya cukup terjangkau. Tadi pas datang Tika membeli segelas es tebu dengan harga 3K. Kami juga membeli samiler, sebangsa opak, terbuat dari singkong, harganya 5K (sampe rumah nyesel ga beli lebih dari satu, huhu). Hidup jajanan rakyat!


Sebelum meninggalkan vihara Buddha Tidur, kami rehat sejenak kemudian shalat Zuhur di mushola kecil di depan area vihara. Dari sana kami melanjutkan perjalanan kembali ke sekitaran Museum Trowulan. Balik lagi. Tidak jauh dari situ, kami menuju sebuah warung makan kecil, sedikit masuk gang namun masih kelihatan dari jalan. Warung makan Sambel Wader Bu Tin asli Majapahit. Yang gaboleh terlewat kalo pas lagi pergi ke suatu tempat adalah mencicipi kuliner khas-nya. Setelah googling sana-sini, sambel wader merupakan salah satu makanan khas Mojokerto (selain onde-onde dan kerupuk rambak dari kulit sapi). Cuslah makan ke warung Bu Tin.


Warung makannya tidak terlalu luas (baca: sempit). Saat kami datang siang itu sudah penuh pengunjung sehingga untuk beberapa lamanya kami berdua menunggu di luar. Mojokerto puanasss! Bijaksananya tuh ya, kalo lagi makan di tempat makan yang rame dan tempatnya ga begitu luas, segera keluar deh kalo memang bener-bener udah selesai. Kasian yang nunggu (baca: kami berdua). Sekitar 15-20 menitan menunggu, akhirnya kami masuk dapat tempat duduk. Kami memesan sambel wader, pepes lele, nasi putih dan es jeruk. Semuanya dalam satu porsi. Dalam rangka penghematan, diet, dan menjaga perut tidak terlalu kenyang (rencana mau mampir makan lagi di Batu).


Rasanya enak (sih). Sambal terasinya segar, dipadu dengan gurihnya ikan wader. Yang bikin istimewa, karena ketika nyari di Gugel, warung makan ini yang banyak di rekomendasiin di situ. So, untuk tipe traveler yang nyari info dulu di internet sebelum pergi kulineran ke Mojokerto, insyaallah bakalan datangin tempat ini. Oiya pepes (bothok) lelenya wenaaak! Gatau kalo bothok yang lain karena ga sempet nyicipin. Saya sampai beli lagi dua bungkus untuk dibawa pulang. Rasanya pas banget di lidah. Harus beli lagi kalo ke Mojokerto! Kami membayar total 33K dengan rincian sambel wader plus nasi 15K, es jeruk 3K dan tiga pepes lele 15K. Ga menguras kantong, khan?!

Selesai makan, sambil nunggu nasi turun, kami berjalan kaki menuju Segaran Mojopahit yang berada tepat di depan gang warung Bu Tin. Menurut para ahli, kolam Segaran Majapahit ini diperkirakan merupakan kolam kuno terbesar di Indonesia. Ditemukan sekitar tahun 1926, bentuk kolam ini menyerupai persegi panjang dengan lebar 125 meter dan panjang 375 meter. Dinding kolam setinggi 3,16 meter dan lebarnya 1,6 meter. Batu bata merah yang digunakan untuk membangun kolam ini, hanya digosokkan lalu direkatkan satu sam lain, lho. Tanpa perekat (semen, dkk). Jadi inget rumah adat di Desa Beleq Lombok yang dibangun pake semen 'kotoran sapi'. Andaikan kearifan-kearifan lokal jaman dulu itu bisa kita hidupkan kembali, maka kasihanlah toko-toko bangunan masa kini, gengs.

Ada banyak asumsi mengenai keberadaan kolam segaran ini. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pada zaman Kerajaan Majapahit kolam ini digunakan untuk tempat rekreasi dan menjamu tamu kerajaan. Jika perjamuan telah usai, barang-barang dan perkakas bekas menjamu tamu dibuang ke kolam ini untuk menunjukkan betapa kaya dan makmurnya Majapahit. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kolam ini berfungsi sebagai penambah kelembaban atau kesejukan udara Majapahit. Wallahu 'alam.


Siang menjelang sore itu, tampak beberapa orang yang memancing. Katanya dulu ikan wader yang dijual di warung makan Bu Tin, ngambilnya dari sini. Sekarang udah ga sih, karena permintaan semakin banyak. Entah karena musim kemarau atau gimana, airnya kurang bersih. Dasar kolamnya kelihatan dan ada banyak sampah di situ. Kalo misal airnya bersih macam kolam renang gitu, enak kali ya buat mandi-mandian.

Btw, namanya peninggalan zaman dulu, selalu banyak mitos yang menyelimuti. Begitu pula dengan segaran ini, wallahu 'alam. So, jaga pikiran kamu, jaga aqidah kamu (itu yang paling penting!). "bahkan selembar daun tua yang jatuh, itu atas izin Allah..."


Dari Segaran Majapahit, sebenarnya ada niatan untuk sekalian ke Wisata Religi Makam Troloyo (makam salah satu penyebar Islam, Syekh Jumadil Kubro). Siapa itu Jumadil Kubro? Beliau adalah seorang penyebar ajaran Islam pada zaman Kerajaan Majapahit dahulu. Jadi, ini mematahkan pendapat yang menyatakan bahwa runtuhnya Kerajaan Hindu Majapahit karena kedatangan Islam yang masuk ke Indonesia. Bahkan sebelum Kerajaan Majapahit berdiri, Islam sudah ada di Nusantara kita tercinta ini. Wallahu 'alam. Makam Troloyo terletak ga jauh dari sekitaran Trowulan, hanya beberapa menit.

Menimbang ini itu, takutnya keasikan di sana dan nanti malah kami kesorean. Kamu putuskan untuk pulang saja ke Malang. Kalo udah lebih dari jam 5 sore, kayaknya lebih aman untuk lewat Pasuruan saja. Lebih rame. Berhubung masih belum terlalu sore, kami memilih pulang lewat Cangar lagi. Udara yang sejuk dipadu dengan sinar matahari membuat suasana perjalanan hangat sehingga mata saya sedikit terbuai, ngantuk. Kami berhenti sejenak minum es degan di pinggir jalan sesaat sebelum masuk jalanan berkelok di daerah Pacet. Pas pulang ini motor kami akan 'dipaksa' untuk terus menanjak. Tetap terus zikir dan doa ya, jangan cengengesan, kalo motor kamu macet atau abis bensin, niscaya gada bengkel atau pom di tengah hutan. Tawadhu, men.

Karena belum shalat Ashar, kami mampir sekaligus istirahat di WET Sendi. Awalnya saya kira, WET disini adalah wet (bahasanya Jawa-nya pohon) dan Sendi adalah nama sejenis pohon. Ternyata itu kependekan dari Wisata Edukasi Terpadu Sendi. Jadi, Sendi adalah nama desa adat di kawasan hutan Pacet Mojokerto dan sekitarnya. Menurut sumber di internet, masyarakat adat Desa Sendi adalah salah satu penjaga rimba terakhir kawasan hutan Jawa Timur, khususnya Mojokerto. Wiih keren ya. Dengan kearifan lokal, masyarakat ini terus menjaga keberlangsungan hubungan 'baik' antara manusia dengan alam. Oiya ada banyak warung makan maupun spot hitz di sekitaran rest area ini yang bisa kamu datangi.


Anyway, Mojokerto adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur yang penuh dengan jejak-jejak kerajaan masa lampau. Untuk kamu pecinta sejarah atau sesuatu yang berbau-bau 'tua', jangan lupa masukin kabupaten ini ke bucket list kunjungan di Jawa Timur. Kalo kamu pas lagi liburan ke Malang, perjalanan ke Mojokerto via Cangar adalah cara yang saya rekomendasikan (dengan beberapa catatan, tentunya); Pastikan kendaraan kamu fit. Kalo lelah dengan tanjakan, turunan dan tikungan yang bikin #adeklelahbang sebaiknya kamu beristirahat dulu di warung atau rest area yang banyak terdapat di sekitaran sini. Dan yang paling penting, kalo ngelewatin jalanan menurun curam, terus-terusan dzikir Subhanallah. Nah kalo pas di tanjakan, jangan berhenti mengucap Allahu Akbar. Keep traveling, keep remembering Allah yaks!

Selamat menapaktilas Sejarah di Mojokerto. Selamat mentafakkuri indahnya bumi Allah!

0 komentar:

Posting Komentar