Senin, 28 Mei 2018

Pergi ke Timur (1): Bermimpilah, Datangilah


Mengutip salah satu quote dari Walt Disney,
If you can dream it, you can do got it!
Berawal dari niatan seorang adik, Tika, yang sebelum kembali ke kampung halamannya di Sumatera Utara sana ingin menikmati pantai pasir laut Pulau Lombok, terucaplah sebuah janji untuk mengantarkannya #modus. Sebagai salah satu ikhtiar dan bukti kesungguhan rencana perjalanan kali ini, kami membeli sebuah celengan, Angry Bird. Kata Tika, "ini (Angry Bird) kayak Mbak. Kerjaannya marah-marah aja". -____-

Sebenarnya, selain (masih) ingin ke Lombok, saya juga punya satu tempat  yang (sangat) ingin untuk didatangi; Labuan Bajo. Tempat ini (mungkin) menjadi salah satu tempat yang harus didatangi sekali seumur hidup; cita-cita hampir semua travel blogger dan travel enthusiast yang saya ikuti. Hingga kemudian pada awal tahun 2018, di suatu sore sepulang kerja, tercetus ide untuk menyatukan dua tempat yang ingin saya dan Tika kunjungi. Dalam sebuah chat WA kami bersepakat, "Kalo gitu, sekalian ke Labuan Bajo aja". Bismillah, fix merubah haluan dan isi dalam celengan. Seperti kata pepatah: Sekali nyelengin, dua tiga pulau terlampaui (?).

Hari berganti. Tanggal ditentukan. Izin dimintakan. Niatnya pengen jadi ramadan traveler; jadi kami menentukan tanggal keberangkatan menjelang ramadan (Alhamdulillah pas ada libur dan hari kejepit, jadi total izin plus bolos plus tanggal merah dan hari libur mencapai 10 hari) wkwk!

Kamis 10 Mei 2018, pukul 18.05; Adalah hari dan jam keberangkatan pesawat kami dari Surabaya menuju Lombok. Kemas-kemas, membawa pakaian seadanya biar tidak terlalu berat dan rempong, dan yang paling penting bikin sambel tika alias teri kacang untuk bekal irit kami di sana nanti. Jam 11 siang menuju Stasiun Malang. Kami naik Kereta Penataran (12K) menuju Stasiun Gedangan. Kalo ga salah perhitungan, stasiun ini adalah stasiun yang paling dekat jaraknya ke Bandara Juanda. Dari stasiun menuju bandara, kami naik Grab Car (48K) dan membayar biaya masuk mobil (6K). Kalo misal naik travel langsung dari Malang bisa sebenarnya, 100K per orang. Pertimbangan ini itu, lebih hemat naik kereta kemudian disambung transportasi umum atau online. Ini kalo kamu punya waktu lebih longgar sih.

Datang dan pergi silih berganti
Tiket pesawat Surabaya - Lombok kami dapatkan seharga 469K per orang. Ini sudah termasuk mahal karena kalau beli lebih awal masih bisa dibawah 400K. Kurang lebih jam 3 sore kami sudah berada di Bandara Juanda, langsung menuju terminal 1B tempat kami check-in. Jam setengah 5 sore kami sudah duduk manis di ruang keberangkatan. Dasar si Raja (hutan) Delay. Dari yang seharusnya pukul 19.20 sudah sampai Lombok, nyatanya pesawat kami baru take off sekitar pukul 8 malam. Perjalanan Surabaya - Lombok ditempuh sekitar 1 jam yang berarti sampai di BIL jam 9 malam. Tapi karena ada perbedaan waktu antara WIB dengan WITA satu jam, itu berarti kami sampai di Lombok pukul 10 malam.

Mari awali perjalanan dengan yang manis-manis
Akibat miskomunikasi jadwal penerbangan, kami sedikit 'diomeli' rental motor yang sudah menunggu di bandara untuk mengantar motor sedari jam 7 malam waktu Lombok. 

"Mbak nanti tolong kasih tambahan (fee) karena kurirnya udah nunggu lama".

Sampai di bandara langsung menghubungi kurir rental motor dan kami diminta langsung ke parkiran. Dari pintu kedatangan ke parkiran motor itu lumayan jauh kalo jalan kaki. Bayangin: Dua orang perempuan, malam-malam, dengan dua tas ransel besar di gendongan, jalan krik-krik menuju tempat parkir. Karena sedang ada renovasi di BIL, tempat parkirnya berbeda dari yang dulu saya pertama datang kesini. Bertanyalah kami pada seorang bapak (petugas toilet), 
"Permisi Pak, parkiran sebelah mana ya?".
"Sebelah sana Mbak", jawab bapaknya sambil menunjuk tempat jauh dan gelap di ujung sana.
"Lagi janjian mau ambil rental-an motor"
"Sini biar saya telponkan, biar orangnya kesini. Jauh itu kalo jalan", Bapaknya peka.

Kami telpon si abang rental kemudian bapaknya yang ngomong. Kami kira tinggal duduk manis menunggu orangnya datang, eh abangnya nelpon lagi meminta kami langsung ke tempat parkir saja. Mungkin doi curiga pas yang nelpon bapak tadi itu siapa. Entahlah. Akhirnya, dengan pasrah kami jalan ke parkiran motor. Sampai di sana langsung serah terima motor berikut perangkatnya (STNK, helm, jas hujan).

Kurang lebih pukul 11 malam. Tika menyetel Map menuju daerah Ampenan. Di sana kami akan menginap selama beberapa hari di Lombok di rumah teman Tika. Fyi, jalan by pass dari BIL menuju Mataram itu sepinya pol. Kalau pagi sampai sore aja sepi, gimana coba kalo malam. Walhasil, Tika parno aja saya bonceng di belakang. Ada motor atau mobil nyalip dikit, curigaan aja bawaannya. Sebelumnya udah tanya-tanya sama teman yang Orang Lombok, "bawa motor malam-malam dari BIL ke Mataram aman khan?". Insyaallah aman. Okelah. Sebelum melaju kencang, kami isi bensin full motor Vario 125 yang kami sewa (39K) di pom bensin depan BIL (ini pom bensin the one and only sebelum nemu lagi jauh banget).

Sampai rumah Mbak Juh, teman Tika yang orang Lombok, kurang lebih jam 12 malam, kami langsung bersih-bersih diri kemudian istirahat. Alhamdulillah sampai dengan selamat tanpa drama nyasar atau kejadian yang aneh-aneh. Legaaa...

"Barakallahu ya, sudah sampai di Lombok", bisik saya pada Tika.

1 komentar:

  1. Barakallahu ya mb... Udah 2 x ke Timur.

    Awak kapan mb? Ya allah...pen nangis aja lah

    BalasHapus