Senin, 13 November 2017

Melali (Main) ke Pulau Bali: Jelajah Eksotisme Tanah Lot & Pantai Pandawa


Hari ini, minggu 3 September 2017, sejak dari habis shalat subuh kami bersiap. Semalam sudah bilang dengan Bu Ros bahwa pagi ini kami akan menuju Denpasar. Masya Allah, dari jam 3 subuh sudah terdengar suara berisik dari dapur; Bu ros memasak nasi untuk kami. Lah kami masih asyik di kasur, menikmati sisa-sisa kelelahan dari Pantai Karangsewu dan Bukit Kursi kemarin. Bu Ros membuatkan bekal yang kelak ternyata itu sangat sangat sangat menolong perut kami di Denpasar. (Ya Allah, muliakanlah orang-orang yang memuliakan tamunya).

Lepas berpamitan dengan Bu Ros, kami memacu motor menuju jalanan lintas Gilimanuk - Denpasar. Saya dibonceng Tika terlebih dahulu, Hanum sendirian. Perlahan namun pasti motor kami melawan dinosaurus (baca: truk-truk besar nan lambat). Kok jauh amat ga sampe-sampe yaa, batin saya. Di tengah perjalanan, tiba-tiba Hanum mengklakson kami berdua. "Kak, motor Hanum kok macet-macet. Kenapa ya?". Sempat panik, ini motor rusak atau kenapa ya? Perasaan kemarin baik-baik aja gada masalah. Setelah diselidiki ternyata bensinnya habis -____- yaelaaah! Dikira indikator bensinnya rusak, padahal emang bensinnya kosong. Ngekek dan ngenes jadi satu! Jadilah Hanum kami tinggalkan di pinggir jalanan sepi sendirian untuk mencari bensin.

Perjalanan dari Jembrana ke Denpasar itu mudah, tinggal ikuti saja jalanan utama. Papan penunjuk juga cukup jelas untuk diikuti. Tapi ya itu, ketemu truk-truk besar nan banyak. Kemungkinan besar truk atau bus yang melintas ini menuju ke daerah Timur jauh sana (Lombok Sumbawa Bima dan sekitarnya). Kudu hati-hati dan pinter-pinter nyalip biar ga 'dikentutin' asap hitam truk-truk itu. Keluar dari Jembrana kemudian masuk daerah Tabanan dan sekitarnya, ga lihat masjid satupun! Howaw! Sepanjang jalan yang terlihat hanya rumah-rumah dengan pura didepannya. Satu lagi, yang buat langsung ga nafsu makan; Banyak Ti Pat Kai guling 'dipajang' depan warung-warung sepanjang perjalanan *duh! Ampun maaak!

Jembrana, Tabanan, Badung terlewati dengan lancar tanpa nyasar yang berarti. Setelah berjibaku di jalanan utama Bali, 3 jam kemudian kami sampai di Tanah Lot. Wah, tempat ikonik banget ini mah. Tiket masuknya lumayan mahal, 20K per orang. Okay mari masuk, untuk memastikan bahwa tiket masuk segitu sesuai dengan keindahan yang akan kami dapat. Tempat yang kami lihat pertama kali begitu masuk adalah Pura Batu Bolong.

Pura Batu Bolong
Baru datang *kayakOrangBingungLagiDimana
Hanum dan Tika memiliki perasaan yang sama begitu menjejakkan kaki pertama kali masuk area Tanah Lot ini. "Kayak bukan lagi di Indonesia". Asing di tengah bule-bule. Gapapa lah ya, berbagi keindahan alam Indonesia dengan bule-bule itu. Yang penting mereka gajadi tuan rumah di negerinya orang lain ajah (kayak negara apa hayoo). 

Cuma bisa lihat dari kejauhan (digembok gaboleh masuk)
Ada beberapa pura yang berada di kompleks Tanah Lot ini. Yang jadi ciri khasnya, Pura Luhur Tanah Lot yang terletak di bebatuan karang besar tepat di pinggir laut dan Pura Batu Bolong yang terletak di atas tebing yang menjorok ke laut. Sekilas lihat tebing Pura Batu Bolong, sedikit mirip sama Pasih Uug-nya Nusa Penida *baper. Kompleks wisata Pantai Tanah Lot ini sudah tertata dengan sedemikian rapinya. Sudah cocok memang sebagai destinasi internasional. Semua sarana dan prasarana yang ada sudah sangat memadai; tempat belanja lengkap, tempat makan beraneka rupa, dan kelengkapan akomodasi lainnya.

Anak jaman sekarang *BikinVlog
Di Tanah Lot ini ada banyak spot yang bisa kamu kunjungi. Yang penting mau eksplore dan mau capek ajah. Kalo mau santai dan biasa aja kayak nenek-nenek, yaudah view-nya jugak yang bisa dijangkau sama nenek-nenek, hidup nenek! Baru tahu kalau Tanah Lot juga merupakan salah satu tempat keren untuk lihat sunset. Saya lihat di salah satu sudut dekat pantainya sedang dibangun semacam tempat untuk pertunjukan Tari Kecak sambil melihat sunset (kayak di Pura Uluwatu).

Udah nenek-nenek aja masih mancung *eh **pegangHidungSendiri
Banyaknya turis yang datang ke Tanah Lot menjadi bentuk tafakur tersendiri. Masya Allaaah, Allah ciptakan manusia itu berbeda warna rambut, warna kulit, bentuk hidung, apa coba maksudnya? *seriusNanya. Dan yang paling keren dari berbeda-beda itu, tidak ada yang lebih unggul atau lebih rendah. Yang membedakan hanya keimanan yang ada di dalam hati yang hanya Allah saja yang tahu. Kalo pernah baca, sandal emasnya Fir'aun ada di neraka sementara sandal jepitnya Bilal Bin Rabah berada di surga (apa hubungannya? hubungin sendiri yak, wkwk!)

Dialog imajiner...
Saya : Umik dulu pas muda pernah ke Tanah Lot lho, sayang
Anak : Mana coba lihat fotonya mik? No pict, hoax!
Saya : Inih
Anak : Mana? ga kelihatan mukanya umik... Adek ga yakin deh kalo itu umik
Saya : Hhhhh...! (anaknya sapa ini...?)

Pernah gak pergi ke suatu tempat yang itu biar kalo ditanya jawabnya, "udah pernah kesana". Nah untuk saya pribadi, pergi ke Tanah Lot ya dengan alasan itu. Rasanya kurang afdol gitu kunjungan ke Bali kalo ga kesini. Oke ini subjektif, tapi untuk saya pribadi gak ada alasan yang buat pengen banget kesini (maap). Biasa saja. Ada kesempatan Alhamdulillah, gak ada juga ya ga apa. Ehe.

Minggu yang ramai
Ngeliat yang begini ini yang bikin baper (JUJUR!) *mupengDibelakangnya
Ada tiga objek yang bisa kita nikmati di Tanah Lot ini; pemandangan alam, sajian adat budaya, dan turis-turis asing yang datang. Sama kayak ke Bromo atau Kawah Ijen, turis asing yang datang ke Tanah Lot ini mendominasi hampir 75%. Apa cuma saya disini yang selalu excited kalo ngelihat atau ketemu bule?! Seneeeng aja bawaannya... O, Allah, semoga nanti jodohku bule #EHHH!

Namaste, aunty
Oleh para bule dari India ini, kami dikira turis dari Malaysia. Itu karena jilbab yang kami kenakan. Sempat mikir, kenapa Malaysia ya? Lah Indonesia khan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Entahlah. Oiya sepakat gak sih, kalau senyuman itu adalah bahasa universal yang bisa dimengerti oleh semua orang, walau berbeda bangsa dan bahasa. Modal senyum doang, kami bisa minta foto dengan buanyak bule di sini, hehe.

Entah karena hari minggu atau momen apa, di salah satu pura di Tanah Lot saat itu sedang dilaksanakan upacara keagamaan. Ramai sekali orang berkerumun, baik yang mengikuti upacara maupun pengunjung yang menonton. Kami bertiga penasaran mau lihat juga, ikutan nyempil ah. Pura yang ada di Tanah Lot ini terletak persis di pinggir laut; biasanya pura untuk pemujaan dewa-dewa yang bersemayam di laut.
 
Berbaris merayap menuju pura
Bukannya menikmati menyaksikan upacara adat, saya sibuk memperhatikan orang-orang yang asyik mengabadikan momen saat itu. Banyak orang, banyak kepala, berbeda-beda satu dengan yang lain apa yang ada di pikiran mereka. Mungkin saja ada yang memikirkan hutang, memikirkan keluarganya di belahan bumi yang lain, memikirkan besok akan masuk kerja kembali, memikirkan jodohnya akan datang dari sebelah Barat atau Timur kah... (halah ini mah curhatan yang nulis) wkwk!

Amit, bude, kulo nyuwun foto njenengan nggeh...
Turis dari Jerman (eh apa Prancis ya? Lupak!)
Sudah menjadi rahasia umum, bule-bule itu suka sekali dengan keramahan orang Indonesia. Kalo meminjam istilah Spongebob, "kotak senyum"-nya orang Indonesia itu mudah sekali kesentuh. Hehe. Jadi, yang buat para bule itu mau datang dan betah berlama-lama di Indonesia selain keindahan alamnya, juga kesumringahan senyum penduduk lokal. Tetaplah selalu tersenyum, Indonesiaku :)

Kami Indonesia kami Pancasila :-P
Dari Tanah Lot di Tabanan, kami mengarahkan motor ke Denpasar, tepatnya ke daerah Legian menuju Losmen Arthawan. Letaknya ternyata di dekat lokasi Bom Bali. Daerah Legian ini sangat amat padat dengan hotel serta tempat belanja dan tempat maksiat wkwk! Karena saya pesan losmen dengan berbekal baca artikel di blog, ga nyangka banget kalo ternyata losmennya 'nyempil' diantara padatnya tempat buat bule-bule itu dugem. Losmen murah meriah dengan fasilitas 'lumayan' untuk para gembeltraveler seperti kami #eh saya. Letaknya strategis menurut saya, untuk menuju destinasi-destinasi andalan di Bali seperti Pantai Kuta, Sanur, tempat oleh-oleh Krisna maupun kaos Joger Bali.

Kami tidur siang untuk mengumpulkan tenaga kembali. Saya kira saya saja yang tidur, ternyata ada dua orang yang ikutan jugak -__- Pulas sekali tidur siang kami, sampai akhirnya bangun kesorean. Langsung buka gugel, "tempat menyaksikan sunset keren di Bali". Pantai Pandawa jadi salah satu saran. Meluncur lagi dengan Maps di tangan. Hanum dan Tika, saya "kerjai" untuk baca Maps. Mereka saya beri tanggungjawab untuk membawa kami ke tempat-tempat yang mau kami kunjungi selama di Bali ini. Wkwk!

Foto depan monumen around Bandara Ngurah Rai
Jarak dari Kuta ke daerah Pantai Pandawa sekitar satu jam. Lumayan padat di beberapa titik. Agak tersendat-sendat juga, karena yang baca Maps baru belajar -_- *ngelirikTikaHanum. Seperti yang sudah saya bilang di postingan-postingan sebelumnya, merasai traveling ke suatu tempat itu paling afdhol dengan naik motor. Lebih fleksibel kalo misal nemu tempat keren atau ikonik terus mau berswafoto, tinggal parkirin aja deh motornya di pinggir jalan. Kayak kami, nemu monumen gagah menjulang depan Bandara Ngurah Rai, sempetin turun dulu foto-foto.

Sampai di Pantai Pandawa yang terletak di Kuta Selatan, tepatnya daerah Badung, kami kesorean. Sudahlah. Menikmati sisa-sisa senja sembari doing activity gajelas. Lagian sunset-nya ga terlalu kelihatan, tertutup bukit gitu. Mataharinya sudah jauh meninggalkan kami -_- Masuk Pantai Pandawa  dikenai tiket masuk per orang 8K. Pantai Pandawa ini keren dengan warnanya yang tosca. Juga, ukiran-ukiran pada tebing kapur yang tidak sempat kami abadikan karena kesorean mengacaukan segalanya. Padahal dari segi estetik, ukiran patung-patung itu keren banget hoaaaa!

Kelihatan gak bulannya di atas sana?
Senja yang syahdu
Di Pantai Pandawa (atau penduduk setempat biasa menyebutnya dengan Pantai Kutuh) pengunjung bisa melakukan begitu banyak aktifitas 'kelaut-lautan'. Berjemur, gegulingan di pasir putihnya, berenang sampe item, juga bermain kano. Tidak seperti pantai-pantai di Malang Selatan, di Pantai Pandawa ini insyaAllah pengunjung aman untuk berenang. Sopan banget ombaknya, ga sampai ke bibir pantai. Tipe pantai 'baik-baik' lah pokonya.

Let's go JUMP!
Lihat langit dengan awan-awannya itu (!)
Mau deh kalo misal Allah kasih kesempatan lagi ke Bali, mengunjungi tempat ini. Udah sore aja masih kelihatan jejak-jejak bening tosca lautnya, apalagi kalo pas cerah. Di semua tempat yang kami bertiga kunjungi di Bali (dan dimanapun pas main, sebenarnya) selalu saya katakan pada Tika dan Hanum, "Semoga Allah kasih kesempatan kalian untuk kesini lagi dengan orang-orang dan kondisi yang lebih baik (terutama dalam hal akomodasi, ga kayak #gembeltraveler)". 

Kalo lagi cerah (credit picture: mediapijar.com)

Pakai kamera DSLR
Ini hasil di hapenya wkwkw
Dilihat dari sudut manapun, Pantai Pandawa ini udah keren dari sononya. Terutama jangan lewatkan untuk mengeksplore tebing-tebing kapur dengan view lautnya, cadasz! Sebenarnya, (harusnya) gausah jauh-jauh kalo mau lihat sunset mah. Cukup ke Kuta saja yang ternyata letaknya di belakang losmen kami. Yah biidznillah, semua sudah tertulis di lauhul mahfudz, ehe.

Ayok Num pulang aja lah gausah liat Tari Kecak, mahal!
Di Pantai Pandawa ini tersedia juga pertunjukan Tari Kecak. Mau nonton, muahahal bingit untuk kantong kami saat itu, 100 ribu per orang. Yah, pulang aja deh. Pakai Maps di malam hari lumayan bikin pusing dibanding pas hari terang. Sambil meraba-raba jalanan lah bahasa lebay-nya mah. Habis isya di Bali, masih kayak jam 4 sore di daerah lain. Kami tidak langsung pulang ke penginapan tetapi mampir tidak sengaja ke salah satu pantai sejuta ummat-nya Bali. Pantai apa hayo??? 

BERSAMBUNG

2 komentar:

  1. pemandangan pantainya benar-benar sangat indah..

    BalasHapus
  2. Bikin ngences mb. Hueeeeee

    BalasHapus