Kamis, 19 Oktober 2017

Melali (Main) ke Pulau Bali: Trekking Ratusan Anak Tangga menuju Bukit Batu Kursi, Buleleng


Kalau kamu main ke Bali, satu bangunan yang akan terus-terusan kamu lihat, sana ada situ ada, ketemu lagi sepanjang jalan kenangan adalah, pura! Ya, sebagai provinsi dengan jumlah penganut agama Hindu terbesar di Indonesia, dengan pura sebagai tempat ibadahnya, pantaslah Bali mendapat julukan negeri seribu pura (seperti tetangganya, Lombok, dengan sebutan negeri seribu masjid). Kira-kira kenapa ya banyak sekali penganut Hindu di Bali? Bagaimana awal mulanya? Ada gak hubungannya agama Hindu di Bali dengan Hindu di negeri-nya Shahrukh Khan di India sana? *mulaiNgantuuuk. Hush! Listen to me carefully... (Jangan main aja, serap ilmu pengetahuan dari tempat-tempat yang kita datangi *pensive). Kalo menurut sumber yang saya baca, dasar teologis dari agama Hindu Bali ini ya dari India sana. Tapi praktik-praktik ritual keagamaannya lebih banyak dipengaruhi kepercayaan animisme yang memang sudah ada sebelum agama Hindu datang.

Hmmm...

Beranjak dari Pantai Karangsewu yang instagenic, kami melanjutkan perjalanan mengikuti jalan beraspal halus mulus sepi menuju Bukit Batu Kursi. Bukit ini merupakan salah satu destinasi yang sedang hitz di daerah Bali bagian utara, tepatnya terletak di Desa Pemuteran Kabupaten Buleleng, Bali. Berkendara kurang lebih sekitar satu jam perjalanan dari Gilimanuk, dengan view memanjakan mata dan hati sepanjang jalan, sampailah kami di parkiran Pura Puncak Kursi. Jadi sebenarnya tempat yang kami datangi ini adalah sebuah bukit dengan pura di atasnya. Kerennya, tidak seperti menaiki bukit pada umumnya, di Bukit Kursi ini sudah ada ratusan anak tangga yang siap 'menyambut' (dan menyengsarakan) kaki-kaki yang tidak pernah berolahraga wkwk!

Tangga selamat datang
Nafas yang memburu kembang kempis mewarnai perjalanan kami. Satu-satu, perlahan-lahan menyusuri anak tangga. Ga sampai beberapa menit, diam berhenti. Duduk lamaaa, baru lanjut lagi. Gituuu terus sampai matahari terbit dari barat semakin condong ke barat. Bukit Batu Kursi dengan view ikonik sepanjang Teluk Pemuteran dan juga perbukitan disekitarnya ini baru beberapa tahun belakang ini ngehitsss. Saya tahu tempat ini saja baru setelah diberi tahu oleh Heni. Tadi saat mau naik tangga, saya melihat ada beberapa orang (model dan fotografernya) sedang 'memantau' bukit ini dengan drone. Kereeen. Kalau kata abangnya Heni mereka mau pemotretan disini. Entahlah.

Macam gaya foto jadoel
Brother and his sister
Penasaran gak sih, kenapa pura dibangun di atas perbukitan? Atau di dekat laut atau danau? Atau di tengah perkampungan? Jadi sepanjang di Bali kemarin, saya perhatikan memang, pura-pura di Bali (dan mungkin tempat lainnya) dibangun di tiga tempat tersebut. Baca sana sini, dan inilah jawabannya *simakYaa... Sebuah pura dibangun di atas bukit atau tempat yang tinggi karena masyarakat Hindu percaya bahwa dewa-dewa mereka mendiami atau berdiam di situ. Sementara pura yang dibangun dekat pantai (di Melasti contohnya) biasanya digunakan untuk menggelar upacara keagamaan atau ritual khusus yang berkaitan dengan laut atau air. Pura yang dibangun di tengah perkampungan warga, difungsikan sebagai pusat keagamaan masyarakat Hindu Dharma Bali.

Cmiiw!

Dengan syusah payah, sampai juga kami di puncaknya. Tidak ada warung atau tempat apapun selain satu spot dengan bendera Merah Putih sebagai pelengkapnya di atas puncak Bukit Kursi ini. Itu aja. Jadi, kalau mau naik kemari jangan lupa bawa bekal untuk mengarungi ribuan tangga itu *halah lebayyy. Kami tidak mengunjungi pura karena takut mengganggu aktifitas keagamaan yang mungkin sedang berlangsung disana (gatau juga sih ada atau gak, ga kelihatan). Cukup foto-foto dan merenung menyaksikan indahnya ciptaan Allah ini. Masya Allah.

Pura Puncak Kursi dari kejauhan
Akhirnya (!) satu foto yang tidak ngeblurrr dari Bang Heru -abangnya Heni- prok! prok! prok!
Dari atas Puncak Kursi ini view lautan di kejauhan sana terlihat begitu jelas; Teluk Pemuteran. Banyak pantai keren di daerah ini. Kalau kata Tika, "kadang untuk melihat suatu keindahan, melihat sisi indah dari sesuatu, kita membutuhkan tempat yang lebih tinggi dan lebih jauh". Nah, Bukit Kursi ini salah satu spot yang bisa kita datangi untuk melihat keindahan Teluk Pemuteran dan sekitarnya. Pantai di Daerah Pemuteran ini terkenal dengan spot diving dan snorkeling-nya. Wilayah ini termasuk salah satu destinasi wisman untuk wilayah Bali Utara. Banyak penginapan berjejer di sepanjang jalan. Ada juga tempat untuk kursus diving.

Rehat sejenak bertemu dengan sepasang suami istri yang akan beribadah ke pura Bukit Kursi. Meminta tolong abangnya Heni untuk minta izin berfoto dengan mereka, hehe

Kamu harus coba datang kesini pada dua musim, kemarau dan hujan. Bukit Batu Kursi ini akan mempesonakan kamu dengan rumput keemasan (golden meadow) dan juga nuansa hijaunya. Kata Heni kalau lagi 'hijau' bagus banget. Tapi kuning keemasan saat ini juga keren kok. Alam itu selalu mempesona di semua kondisinya :) Saya pribadi lebih suka nuansa kering kuning keemasan ini.

Water is sweet but blood is thicker
Akur lagi setelah "tragedi Karangsewu" wkwk!
Masuk ke tempat ini kita cukup menuliskan nama pada buku tamu dan membayar seikhlasnya. Semua orang, semua usia bebas untuk kesini. Yang penting punya tenaga untuk menapaki ratusan anak tangga itu. Gak ada yang tanggungjawab kalau pingsan di tengah jalan. Dan satu lagi, jaga perilaku (ya) karena tempat ini pada dasarnya adalah tempat ibadah umat agama lain. Lakum diinukum waliyadiiin.


Tiada tempat yang didatangi tanpa berswafoto -_- Semenjak gaul sama dua orang ini jadi lebih sering selfie euy!

Alhamdulillah dua hari di Bali, Allah selalu berikan cuaca cerah ceria cepanjang hari *weks! Tapi ya lumayan ngebul juga ini kepala panas-panasan tanpa tedeng aling-aling alias pelindung. Kulit nambah porong, tangan nambah belang, tapi semangat ga akan ilang *halahNgomongApa. Apalagi di atas sini, yang gada tempat untuk berteduh sama sekali. Gak berlama-lama kami di atas Puncak Bukit Batu Kursi. Sudah cukup terekam keindahan ciptaan Allah ini dalam ingatan dan kamera :)

Kalo kata Om Agustinus Wibowo, perjalanan turun adalah proses melucuti ego
Terasa lebih ringan ketika 'dipikul' berdua, bukan?
Beranjak dari Bukit Batu Kursi ini, sebenarnya kami masih punya waktu kalau mau merasakan asin air laut atau bermain pasir pantai. Bali khan salah satu surganya pantai di Indonesia, di setiap sudutnya hampir bisa dipastikan akan kita temui pantai-pantai indah (yang berpenghuni maupun tak berpenghuni). Jalan menuju Bukit Kursi ini sejalur dengan Teluk Lovina yang terkenal dengan lumba-lumbanya itu. Tapi mempertimbangkan ini itu, ga mungkin kalo mau kesana. Kami manut saja deh dengan abangnya Heni mau dibawa kemana.

Masih ada nafas tersisa, gengs?
Kata umik-nya Zharnd, "jangan lupa foto di papan nama daerah yang didatangin tiap pergi ke suatu tempat baru
Kami sempat berhenti di beberapa pantai dan dilarang masuk oleh petugasnya, karena termasuk cottage mewah milik siapa entah -_- atau masih wilayah taman nasional yang tidak boleh sembarang dimasuki. Yasudah deh akhirnya motor kami berlabuh di Labuhan Lalang. Melipir-lipir masuk, nemu spot keren. Labuhan Lalang merupakan dermaga kecil starting point menuju Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat. (Semoga Allah kasih kesempatan untuk kesitu suatu hari nanti).

Gadis Tanah Rencong, uhuk!
Kira-kira Tika ngomong apa ya ke saya?
Bali mah begini banget ya. Tiap sudutnya punya nilai fotografi yang kece! Tiap sudutnya seperti punya magnet untuk kami berlama-lama disana. Sekedar duduk diam bertafakur akan indahnya alam yang sudah Allah buatkan untuk manusia ini, atau mengabadikan tempat dan momen lewat tangkapan lensa. Alhamdulillah atas semuanya, ya Allah.

Dua, tiga atau empat? Yang penting adil *lohhh
Abaikan lompatan dua orang yang tidak indah ini
Perhatikan satu orang keren ini saja 
Perjalanan 'membelah hutan' Taman Nasional Bali Barat ini mengingatkan saya pada saat melintasi jalanan Taman Nasional Baluran saat di Banyuwangi (cuma ini lebih ramai). Banyak monyet nongki-nongki sepanjang jalan. Kalau mulai ngantuk, saya iseng mengklakson menyapa mereka. Monyetnya kaget euy, ehe. Perjalanan pulang dari Bukit Kursi (Buleleng) ke Negara kurang lebih 2 jam. Masuk Kota Jembrana, terpisah dengan Heni dan abangnya. Waduh bingung! Ngikutin feeling aja deh. Alhamdulillah ketemu alun-alun Jembrana. Kalau sudah sampai sini insya Allah kami sedikit paham. Alhamdulillah lagi, sampai di rumahnya Bu Ros. Malam ini kami mau istirahat yang buanyaaak, karena besok pagi harus lanjut perjalanan motor ke Denpasar. Tika dan Hanum terlihat begitu lelah. Hanum nyeletuk di kamar, "adek lelah baang..." -__-'

Berpacu menuju hatimu, iya kamu... *eyaaak huweeek!
Oiya ada satu aturan di Bali ini yang cukup membuat saya keheranan dan wew (!) Kalau kita naik motor, dan berhijab, ga perlu pakai helm lagi dan insya Allah ga akan ditilang sama pak polisi. Lho kok gitu? Iyap, ini sudah berlangsung lama lho. Terus saya mikir keras, kenapa ya bisa gitu? Emang apa korelasi antara jilbab dengan helm? Jadi, warga Hindu Bali hampir tiap hari memakai pakaian adat untuk upacara adat atau acara keagamaan lainnya. Dibuatlah kebijakan yang memperbolehkan warga untuk tidak memakai helm ketika berkendara. Ribet sih emang kalo harus pake helm. Nah, karena jilbab termasuk 'pakaian khas' muslim, maka diberlakukanlah aturan yang sama agar tidak terjadi gesekan antarumat beragama. Kamu sepakat?

BERSAMBUNG

4 komentar:

  1. hm, masih bersambung nih :) Wah, aku harus maen kesini nih, deket ya, dr bwi, nyebrang dan motoran, eh tapi kalo ada debay menyesuaikan ding, hehe..Lanjut ke Menjangan dan Teluk Lovina asik tuh Julll..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap Mbak, dekat dan murah. Jalanannya juga halus bin mulus, jadi gausah khawatir goncangan kalo bawa bayi, hehe.

      Hapus
  2. wahh meskipun harus menaiki tangga setinggi itu, tetapi terbayarkan dengan pemandangan indah disana.. :)

    BalasHapus
  3. pemandangan senjanya benar-benar bagus, aku suka itu.. :)

    BalasHapus