Friday, April 14, 2017

Seberapa Dalam Kamu Kenal? : Nadiah Nur Lathifah

It's okay coz i know, you shine even on a rainy day...

Beberapa tahun kebelakang ini merupakan tahun yang amat berharga untuk saya. Karena apa? Karena Allah bukakan pintu hati saya, untuk menerima hikmah dari orang-orang baru yang datang di kehidupan saya. Zulaikha saat ini, bukan hanya Zulaikha yang dididik dalam sebuah keluarga yang seperti ini dan itu, yang membawa nilai-nilai didikan orangtua berupa ini dan itu. Tapi Zulaikha yang saat ini, adalah Zulaikha dengan hasil didikan dari kedua orangtua yang amat mencintainya, juga pelajaran-pelajaran yang ia dapat dari orang-orang disekitarnya yang Allah datangkan untuk menunjukkannya ini dan itu, membuatnya merasakan ini dan itu, melakukan ini dan itu. Tulisan ini adalah salah satu tulisan berseri, tentang orang-orang baik -yang semoga Allah selalu mendekapnya dalam Rahman dan Rahiiim- yang menghampiri kehidupan saya. Mari kita mulai :)

Lembut dan penyayang. Kesan itu yang akan kamu tangkap dan simpan dalam memori ketika bertemu dengan adik shalihah satu ini. Nadiah Nur Lathifah.

Nadiah seorang yang "sangat amat" hangat. Jika bertemu, sebuah pelukan erat pasti akan kamu dapatkan (etapi ini buat yang muhrim aja lho ya). Caranya menghadapi orang lain, masya Allaaah... kadang pegel sendiri lihatnya, wkwkw! Kalo dianalogikan disinetron-sinetron, Nadiah ini tipe tokoh protagonis penyabar, penyayang, ramah.

Nadiah ini "kadang" (atau sering ya), ramahnya kebangetan. Tapi gapapa sih, keep being you, sister -selama itu suatu kebaikan. Saya ketemu Nadiah itu ibaratnya, mentega ketemu wajan panas, melt melt melt... Ia seorang yang mudah terharu, juga mudah tertawa lepas dan tersenyum.

"kalo aku cowok aja, tak jadiin istri itu", pernah salah seorang teman berkata pada saya tentangnya.

Dia suka berbicara, bukan tipe pendiam, saya pikir. Jika mengajaknya keluar makan atau sekedar berbincang, saya lebih suka menjadi pendengar setianya; Mendengarkan tiap untaian hikmah yang mengalir darinya, mendengar ceritanya tentang semua hal. Oiya! Jangan coba membicarakan semua hal yang berbau, KUCING! padanya. Trust me, kamu ga akan bisa membedakan antara dia sedang membicarakan kucing atau anggota keluarganya. Kamu akan dibawa masuk ke "kingdom of cat" dan tersesat dan tak tahu arah jalan pulang #halah. Pernah suatu malam saya "keceplosan" berbincang tentang kucing dengannya. Dia panjang lebar menjelaskan kucing-kucing yang ada di rumahnya, mulai dari Neymar, Azzam (eh! ini mah adiknya benerang sih), Raef, Maher Zain, bla bla bla -ga hafal saking banyaknya. Saya cuma bisa mengernyitkan alis, bingung, lucu, sedih, nano nano dah!.

Adik satu ini, masya Allah! begitu terpaut dahsyat hatinya pada rumah, pada Ummi dan Abi, pada Hanun dan Miskha (eh ini adeknya beneran lho, bukan kucing) dan dua saudara laki-lakinya. Saya pernah menantangnya, "kalo Nadiah ga pulang selama sebulan ini, insya Allah nanti saya ajakin ke Jatim Park". Dan ternyata tiket Jatim Park itu tidak ada nilainya dibandingkan dengan pulang ke rumah, bertemu Ummi dan Abinya. Gagal deh T_T

Juga, kalau sudah menyangkut soal akademik, adoooh! Nyeraaah!! Beberapa kali saya punya niatan untuk mengajaknya keluar, agar dia tidak ngedate aja sama buku dan laptopnya. Sekali dua kali berhasil, lainnya sungkan. Ya, kadang saya greget liat Nadiah belajar mulu hehe #jahatnya. Kadang ingin bilang padanya, "Nadiah, ketika Nadiah pusing dengan semua tugas-tugas kuliah dan ingin refresh sejenak, Nadiah tahu siapa yang harus Nadiah hubungin *sambil nunjuk diri sendiri". Wkwk.

Tapi saya juga bisa merasakan bahwa adik shalihah ini punya sisi-sisi manusiawi lainnya. Dia akan bosan, dia akan abai dengan oranglain. Ya, dia seorang yang 'normal'. Saya tahu, ketika ia "menahan diri" untuk tidak mengatakan apa yang sebenarnya, bukan berarti dia terlalu tidak enak untuk menolak oranglain, tidak sedang membohongi diri sendiri, namun itu adalah buah pekerti dari kedua orangtuanya yang mengajarkan bahwa menahan diri untuk tidak melukai hati oranglain itu lebih mulia.

Pada akhirnya, adik shalihah ini mengajarkan saya untuk iri hati, sangat iri, akan hubungannya dengan orang tuanya, ummi abinya. Juga, dengan saudara-saudaranya. Iri hati akan kelembutan yang ia miliki (masya Allah). Semoga Allah jagakan selalu hatimu.

Nadiah, dan segala impiannya, -menjadi anak yang berbakti, melanjutkan sekolah ke luar negeri, menjadi seorang istri shalihah, dan impian indah lainnya, semoga Allah limpahkan segala kebaikanNya untukmu.

Afwan ya Nadiah, baru sebatas ini saya mengenalmu. saya yakin, ada banyak 'mutiara hikmah' tersimpan indah dalam dirimu. Allah tahu, saya menyayangimu karena-Nya :)

***  

2 comments:

  1. 100% agree with this post. i adore nadia too, because she like a diamond in the sea. wkwkw
    -titip nadia ya mba <3

    ReplyDelete