Monday, November 28, 2016

Menghijaukan Mata di Bukit Teletubbies dan Padang Savana Bromo : a Half Day Trip

Nid ayo main / Nanti ya Mbak aku mau pulang ke Sidoarjo dulu
Nid ayo main / Waa aku udah ada janji
Nid ayo main / Ada acara ini tanggal segitu
Nid ayo main… #nangisGulingguling
*** 

4 akhir pekan di bulan September terlewati tanpa nganar dengan si bocah ini @zharnd. Begitu pula Oktober dan (hampir) November. Baru akhirnya pada tanggal 26 November kemarin, Allah berikan kesempatan. Alhamdulillah... (Kok ribet sih, main tinggal main aja lhoo. Temen banyak khan?! Ga cuma bocah itu. Iya sih.. cuman, teringat kata-kata Aa' Gym: ini soal rasa. Susah dijelaskan kalo tidak merasakannya. Heheh-ngomongapasih-). Kalau soal tempat main, insya Allah ga pernah kehabisan daftar. Di kepala saya sudah ada deretan tempat yang ingin dikunjungi. Saya tawarkan pada Zharnd:
Z1: Mau yang ijoo-ijo apa yang biru-biru?
Z2: Ijoo apa? Biru apa?
Z1: Aih, kepo. Udah deh nurut aja.
Z2: Emoooh. Apa dulu?
Z1: Hiyaaah, ga seru dong ga surprise.
Z2: Pokonya apaaa...
Z1: Iya deh. Ke Bukit Teletubbies, Bromo.
Z2: *Tercengir 

Awal janjian kami akan berangkat subuh, karena cuaca di Kota Malang dan sekitarnya sedang berhujan. Eh jam 6 lewat dikit baru bisa jemput Zharnd di kontrakannya (udah ga serumah lagi bos). Dari Malang Kota (6.30 am) kami menuju Blimbing – Pakis – Tumpang. Alhamdulillah untuk langit yang biru. Sampai di Tumpang sekitar pukul 7.30 am. lalu masuk ke Daerah Poncokusumo, Desa Gubuklakah. Daerah ini mirip Kota Batu, penghasil apel di Malang juga. Ada banyak air terjun keren juga river tubing yang bisa kamu coba di daerah Poncokusumo ini. Semakin masuk ke daerah ini, view sepanjang jalan semakin keren (dan seremmm sebenarnya; jurang di kanan kiri). Setelah melewati loket masuk Coban pelangi, jalan semakin naik dan vegetasi hutannya semakin basah. Setelah itu terlihat loket masuk menuju TNBTS. Loket masuk TNBTS ini menjadi satu dengan loket Coban Trisula.
We welcome you...!
Tarif resmi masuk kawasan TNBTS
Kami membayar tiket masuk 60K untuk 2 orang dan 1 motor. Itu adalah harga hari kerja (padahal kalo untuk anak kuliahan, sabtu mah udah hari libur). Karena Berangkat tadi belum sempat Dhuha, saya melipir sebentar ke mushola yang ada di loket masuk TNBTS. (Ngeluyur oke, ibadah jangan terhalang lah).
Insya Allah sesuai dengan view keren yang didapat
Setelah melewati loket masuk maka kita akan memasuki salah satu desa wisata yang ada di wilayah ini yaitu Desa Wisata Ngadas. Kalau ndak salah ini adalah desa terakhir sebelum menuju Bromo, Ranu Pane dan kawan-kawannya yang indah itu. Masya Allah keren banget! perpaduan bukit-bukit hijau dan coklat! mirip daerah Argosari (desa terakhir menuju Puncak B29 Lumajang). Kami berhenti sejenak untuk menghirup udara segar disitu dan menangkap indahnya ciptaan Allah; dalam foto maupun dalam ingatan.
Semeru terlihat dari sini

Pertigaan Jemplang menuju Bromo (kiri) dan Ranu Pane (kanan)
Pukul 8.35 am kami sampai di pertigaan Jemplang. Setiap pendaki sejati mesti tau tempat ini (halah). Belok kiri ke arah Bukit Teletubbies, Padang Savana dan Gunung Bromo, sementara ke arah kanan menuju Ranu Pane untuk selanjutnya memuncaki Semeru. Dari pertigaan Jemplang ini sudah terlihat dari kejauhan perbukitan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Whoaaaa... 


Adventure is out there! -mengutip kata Ellie di film Up. Bener banget, petualangan ada di luar sana. Pemandangan keren penyembuh mata pelipur lara ada di luar. Allah sediakan cuma-cuma (tapi manusia yang mengkomersilkan -untuk kepentingan alamnya juga sih hehe). Akan kamu dapatkan kalau kamu membawa diri kamu keluar, go outside! Baru saja memasuki kawasan perbukitan, Zharnd sudah mengajak blusukan ga karuan. Ngos-ngosan. Nih badan (terutama kaki) yang udah lama ga dibuat olahraga, ngambek. Seperti biasa, ga bisa menyamai ritme dan semangat bocah itu. Biarin deh saya tertinggal jauh di belakangnya -_-



Dalam hati seperti ingin berteriak sekencang-kencangnya; This is Indonesia, men! Ga usah jauh-jauh ke Afrika atau ke Eropa (etapi kalo dikasih kesempatan Allah kesana ya jangan dilewatin!). Dari situ saya membawa motor kembali menuju spot selanjutnya. Ada yang nemu batu nganggur. Evey stone need its manequin.

Ada begitu banyak spot indah untuk berfoto maupun menghabiskan waktu menikmati alam ciptaan-Nya disini. Hakikatnya, semua keindahan itu mengingatkan kita pada Dzat Maha Indah yang menciptakannya. Masya Allah. Berlanjut ke spot selanjutnya yaitu Padang Savana Bromo. Hampir pukul 10.00 am. (Bisa dibilang, kami menghabiskan 1 jam setiap berhenti di suatu tempat. Ini nih salah satu enaknya pergi sama Zharnd, selalu sejalan untuk berhenti di suatu tempat).
Bring ur QUR'AN everytime everywhere; in ur bag (especially) in ur heart


Padang Savana Bromo di hari itu, sabtu, tidak terlalu ramai (atau kami yang kesiangan). Ada beberapa warung disini, juga penjual kaos oleh-oleh khas Bromo. Setahu saya, kalo sudah diatas jam 7 pagi akan banyak jeep berjejeran membawa rombongan wisatawan dari Penanjakan. Rute wisata Bromo umumnya: Penanjakan - Gunung Bromo - Pasir Berbisik - Padang Savana dan Bukit Teletubbies. Padang Savana ini biasanya dijadikan destinasi terakhir karena selain tempatnya yang agak jauh, juga kabut masih terlalu tebal menutupi di pagi hari. Jadi dipilihlah waktu diatas jam 8 atau 9 untuk mengeksplor tempat ini.


Kami rehat sejenak sembari memenuhi hak tubuh yang sejak berangkat tadi belum ditunaikan; sarapan! Zharnd menyantap bakso yang semalam saya beli dan saya cukup makan roti yang tadi kami beli di warung pinggir jalan. Sepetak tempat kering di rerumputan cukuplah menjadi alas untuk kami meletakkan diri, tas dan perlengkapan.

Awalnya jika memungkinkan, kami sebenarnya ingin lanjut ke Pasir Berbisik dan Gunung Bromo (nanggung euy). Namun, mendung menggelayut dan gemuruh petir sesekali terdengar. Kamipun memutuskan untuk kembali pulang. Mmh, tadi di jalan sempat mendapati jalanan yang mengerikan untuk dilewati; licin miring tinggi (aku gabisaaaa!). Eh beruntungnya ada bapak-bapak dari komunitas motor trail yang membantu menyebrangkan (makasih pak, mas) baik-baik dah pokonya mah.
Cutest pose (ever!) wkwkw
For your information, jalanan berpasir yang September lalu saya lewati (ceritanya ada disini), musim hujan gini ada enak dan enggaknya. Tapi jujur saya pribadi lebih memilih jalanan sehabis hujan ini. Debu tidak terlalu banyak dan jalanan agak lebih mudah dilewati karena tanah dan pasirnya lebih mantap untuk dipijak atau dilewati. 
Sekilas info penting (ga penting), trip kali ini saya yang jadi driver -_- eh si Zharnd sempat sih bawa, dari Malang Kota sampe Tumpang. Aloon alon asal kelakoon. Satu pesan penting kalo mau ke Bromo naik motor, berdua, "kamu harus memastikan bahwa rekan perjalananmu semalam tidak habis begadang yutuban". Entar yang ada gabisa gantian jadi driver dan mengganggu banget plus memecah konsentrasi kalo boncengin orang yang tidur itu -_- (percaya deh!)

Sekitar pukul 11 siang lebih sedikit kami sudah mengarahkan motor menuju pulang. Ditengah perjalanan ternyata hujan derasss mengguyur! Kami berteduh di sebuah masjid pinggir jalan di daerah Tumpang. Belum terlalu berhenti, kami menembus hujan toward Malang City! Nganar kami kali ini bisa dibilang nganar budiman, jam 3 sore sudah masuk Kota Malang dan sebelum maghrib sudah ada di rumah. Biasanya, ba'da Isya baru sampai rumah. Bahkan, kami sempat mampir dulu ke salah satu tempat makan baru di daerah Suhat. Alhamdulillahiladzi bini'matihi tathimusshalihaat.

***
(Dalam perjalanan pulang)
Saya : TK tahun berapa?
Zharnd : Sekitar tahun 2001. Embak lagi apa tahun segitu?
Saya : Itu saya masih Esempe
Zharnd : Berarti ibaratnya sekarang kita main ini, kayak Zahira (adiknya Zharnd yg SMP) main sama Haidar (TK)
Saya : Wih! Iya juga yaa *Ngerasa tuaaaaaa bangettttt
*** 

Pengeluaran:
Bensin full 23K
Jajan pinggir jalan 24K
Tiket masuk 2 orang plus motor 60K

0 komentar:

Post a Comment