Saturday, July 16, 2016

Double Zed In d Floor : Saya dan Bocah Itu

Saya pernah melalui hari-hari yang tiap bergantinya itu memberikan semangat baru. Yup! itu ketika magang di UI. Ada banyak hal baru yang saya dapatkan sebagai pembelajaran tiap harinya sehingga tidak sabar untuk menjalani hari berikutnya. Begitupun dengan mengenalnya dan membersamainya! Ia, seorang bocah "aneh bin ngeselin tapi ngangenin" yang Allah takdirkan untuk masuk dalam puzzle kehidupan saya. Saya pernah menceritakan tentang awal pertemuan kami disini.

Kini seiring berjalannya hari, semakin banyak waktu yang kami habiskan bersama, semakin terurai bagaimana aselinya ia dan aselinya saya. Dan beginilah kami menjalani pertemanan (atau apapun itu namanya) yang Allah berikan.

***
Dari awal saya bertemu dengannya, Allah sudah menitipkan Rahman Rahiiim-Nya untuk saya berikan padanya. Awal ia berada di kontrakan Ar-Rifah, (entah kenapa) ia selalu flu; bersin-bersin dan ingusan (hehe). Suatu hari setelah saya pergi dari suatu tempat, saya membelikannya wedang jahe (jujur, baru itu saya bisa sepeduli itu dengan oranglain). Juga pernah, saya mengajaknya untuk berbuka puasa (ayyamul bidh) di suatu tempat. Sebelumnya, kami shalat dahulu di Masjid Muhajirin lalu baru pergi makan (ah, bahkan saya masih ingat takjil yang saya beli waktu itu, teh Ra**k dan Ri**l). Disana kami saling bercerita. Untuk ukuran seseorang yang baru kemarin saya temui, saya sudah banyak bercerita padanya dan mendengarkan banyak ceritanya. Setelah itu, hari ke hari semakin banyak waktu kami habiskan bersama.

***
Yang paling 'aneh' sebenarnya ketika saya mengajaknya untuk pergi ke Tulungagung. Kayak ga mungkin gitu… (ngapain coba ngajakin dia yang baru datang di hidup saya, sementara banyak adik-adik lain yang sebelumnya juga dekat dengan saya?!). Cerita perjalanan kami di Tulungagung bisa dibaca disini. Keesokan hari setelahnya, saya mendapati secarik kertas dan sebotol minuman (yang mungkin ia pikir itu adalah minuman kesukaan saya, karena beberapa kali ia melihat saya membelinya) di meja kerja saya. Melted!

***
Dia spontan. Apa yang ingin ia lakukan, maka ia lakukan. Kadang dan sering malah, saya tidak bisa membedakan dia sedang jujur atau bohong, bercanda atau serius.

***
Itu aneh. Disatu sisi saya sedang jengkel dengannya karena suatu hal. Namun disisi lain otak saya sedang merencanakan sebuah perjalanan, mengunjungi tempat keren dengannya. How can it be?!

***
Ia memberi saya feel baru dalam hobi fotografi saya. Memberi sudut pandang baru dalam menangkap suatu objek. Lebih utuh. Lebih luas cakrawala pandang. Memperhatikan detail kecil. Sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat menarik untuk saya, ternyata bisa jadi objek yang menarik. Ia memberi saya banyak foto-foto indah! Selalu, ia asal pose dan saya asal memotret. Jadilah foto bagus! Tak pernah saya mengarahkan ia untuk berpose macam apa (karena memang saya seorang yang kurang care dengan hal-hal seperti itu).

***
Wajahnya begitu komikal. Begitu pula dengan suaranya. Begitu banyak tawa yang ia berikan lewat wajah dan suara itu. Apalah lagi tangan hangatnya.

***
Jika ada yang bertanya-tanya, kenapa saya bisa sedekat itu dengannya, lebih banyak waktu pergi travelling berdua dengannya, padahal ia terlihat sangat 'cuek', sering mengerjai saya, biasa-biasa saja pada saya. Bagi saya, setelah semua yang ia berikan pada saya, ia sangat pantas mendapatkannya! Bahkan apa yang saya berikan, it's nothing dibanding apa yang telah ia berikan pada hidup saya.

***
Melihat sifat dan sikap nya, terkadang mengingatkan akan saya yang dulu. Ada beberapa sifat yang kami sangat (sangat) mirip, terutama sifat yang kurang baik. (tapi ada juga sih beberapa yang baik). Maka dari itu, kadang saya merasa aneh sendiri jika menasehatinya, karena saya juga seperti itu -_-

***
Ia sering sekali 'mengerjai' orang berumur ini. Ada saja hal aneh yang ia lakukan. Pernah, ia memberikan KTM nya pada saya. Ia bilang ada sesuatu untuk saya di loker, ambil aja. Ternyata apa? Buku perpus yang mau ia kembalikan. Masih banyak lagi. Ia juga pintaaaar sekali membuat saya jengkel. Hati saya mendidih. Tapi jujur, ketika sudah tidak bersamanya, bercanda dengannya, saya rindu. Jika sudah sangat ampunnya menghadapinya, hanya satu yang bisa saya lakukan. Diam, dan melihat ke dalam mata cokelat bulatnya. Lama-kelamaan akan hilang sendiri kesal saya.

***
Jika moodnya sedang baik, tidak banyak tugas dan sibuk dengan urusannya sendiri, ia sungguh bisa menjadi mood booster saya. Dari yang awalnya saya sedang mengantuk, jengkel atau kesal karena masalah kerja atau apa, begitu ia datang menemui, bertingkah aneh dan membuat saya tertawa, maka mood saya akan kembali membaik. Seringnya begitu.

***
Dia tidak pernah sukses melakukan farewell dengan saya. Entah apa yang ada dipikirannya ketika meninggalkan saya pergi. Saya hanya ingin ia normal layaknya yang lain berpamitan pada saya. Tapi tak pernah. Selalu pulang tanpa pamit, tanpa terlihat. Eh, dia hanya sukses melakukannya saat pertama kali pulang setelah masuk kontrakan. Waktu itu dia malah meminta saya untuk mengantarnya ke stasiun. Jika mengingat waktu itu, dan membandingkan caranya kini berpamitan pada saya, waaah rasanya amazing sekali. Kok bisa?!

***
Ia sering sekali "mengomeli" saya. Pernah waktu itu sehabis maghrib saya menyetel musik hingga terdengar ke kamarnya. Kemudian ia masuk ke kamar saya dan mengingatkan saya bahwa waktu itu adalah waktu yang sakral. Jadi mari diisi dengan bacaan Qur'an maupun mengaji (padahal sebelum-sebelumnya juga saya tidak pernah melakukannya. Entah malam itu lagi kesambet apa ). Ia juga sering mengomeli saya jika saya memarkir motor tidak benar. Sungguh bukan mau saya sembarangan seperti itu. Saya hanya sedang "belajar". Tapi saya selalu menuruti perkataannya. Selalu terngiang "omongannya yang pedas" itu.

***
Kami suka gunung. Kami suka laut. Kami suka jalan-jalan. Kami suka langit. Kami suka memandang matahari terbit, juga matahari tenggelam. Kami suka fotografi. Kami suka ceroboh. Kami suka saling menjengkelkan. Kami suka keukeuh dengan pendapat sendiri. Kami tidak suka mengalah. Kami tidak perduli dengan hape ketika sedang pergi keluar bersama. Kami tidak suka mall. Kami tidak suka ada orang lain di kamar kami. Kami tidak suka diatur tentang suatu hal yang tidak kami punya pengetahuan tentangnya.

***
Saat dibonceng motor olehnya, saya seperti ingin merekam mimik wajahnya. Ia begitu lihai. Walau suka grasak-grusuk, tapi saya nyaman dibonceng olehnya. Kenyamanan ini saya sadari pertama kali ketika dibonceng awal dia masuk kontrakan (saat itu motor saya dpinjam beberapa hari oleh seorang adik, saya beberapa kali minta diantarkan ke tempat kerja oleh adik-adik kontrakan, termasuk dia). Selanjutnya saat perjalanan jauh ke Tulungagung. Padahal "orang berumur" macam saya ini suka banyak maunya kalau dibonceng. Cenderung pilih-pilih karena kadang lebih memilih jalan kaki dibanding bertaruh nyawa, deg-degan dibonceng oleh bocah-bocah yang terkadang seperti preman jalanan bawa motornya.

***
Jika saya yang membonceng, maka ia akan menutup mata (alias tidur) karena lambannya saya membawa motor. Dan jika ia yang membawa motor, saya juga akan menutup mata (karena takut!).

***
Jika berapa hari saja tak bersua dengannya, saya kerap memimpikannya. Dari mulai mimpi yang seram sampai biasa-biasa saja. Aneh -__-

***
Di suatu pagi, "mbak aku ga kuliah ya? Aku di perpus aja sampe sore, mau baca. |Ya jangan lah. Kuliah sana| Tapi mbak anterin aku ke kelas| Yoek!| Saya mengikutinya ke kelas. Sampai dosennya hampir datang (setelah itu memburu langkah karena harus segera berada di layanan). Dan begitu sampai lantai 3, whoaaa mahasiswa sudah mengular untuk mengembalikan buku.

***
Pernah, saya mengirim pesan via WhatsApp padanya, "Nid, tungguin saya tidur. Nanti kalo saya udah tidur, Nida balik ke kamar Nida lagi| Yaaaa|". Saya membuka pintu kemudian ia tidur di sebelah saya. Mengajak saya berbincang hal-hal yang sebenarnya ga nyambung, saya bilang apa eh dia bilang apa (maklum sudah malam, ngantuuuk!). Ternyata malah dia tertidur sampai pagi di kamar. Itu adalah momen paling merasa dekat dengannya (she knew my weakness).

***
Ia kerap berlaku aneh pada saya. Pernah, saya ingin menjemputnya ke stasiun sepulang ia dari rumahnya. Ia tidak membalas pesan saya sama sekali, malah ia minta dijemput oleh yang lain. Entahhhlah... Ada juga di suatu hari, ia mengirim pesan pada saya di sela kesibukannya menjadi panitia di acara organisasi dan jurusannya, "Mbak ke Bumiaji tapi jangan pulang dulu ke kosan. GA BOLEH!!! TERLARANG!!!". Saya menurut saja. Ternyata apa? Dia sudah mengangkut karpet kamar dan selimut serta peralatan mandi saya! Eggghhhhhh....! Setelah itu kala fajar, kami melihat gugusan bintang dan indahnya the city of light Batu dari atas atap lantai 3. Dia mencoba untuk menunaikan janjinya mengajak saya tidur beratap langit berbintang (akhirnya benar-benar terwujud saat di Kenawa kemarin).

***
Kami pernah memiliki saat-saat yang berat (sangat sering malah!). Waktu yang kami habiskan bersama malah kebanyakan hard time dibanding warm time. Sama-sama keras kepala, kekeuh dengan pendapat sendiri. Sangat sering beradu argumen akan suatu hal, tidak ada yang mau mengalah! Bagaikan batu bertemu batu, jadinya apa hayo? Yup, percikan api. Begitulah. Dalam satu waktu kami bisa sangat akrab, tertawa bersama, beberapa menit kemudian kami bisa begitu menegang. Bisa juga kami diam-diaman tanpa membicarakan apapun selama berjam-jam, padahal cuma berdua. Hoaah.

***
Disuatu petang yang lelah, pulang dari lembur. Saya iseng berkata padanya untuk tidak dekat-dekat saya, karena saya belum mandi. Jarak 1 meter| Yaudah| Lalu ia turun dari tangga duluan| Mbak aku mau pulang jalan| Kalo sampe buka pintu itu, saya ga pulang!| Dia membuka pintu dan meninggalkan saya sendiri. Sukses 100% membuat saya merasa bersalah.... Saat itu saya benar-benar tidak ingin pulang. Namun kemudian, mem-press ego. Akhirnya saya belikan ia sesuatu, dan saya lampirkan secarik kertas didalamnya, "maaf...". Uh! benar-benar belajar sabar sama bocah satu ini.

***
Kami banyak sekali memperbincangkan banyak hal. Saya selalu nyambung membicarakan hal apapun dengannya. Ia teman bicara yang baik, walau kadang sering ngeyel. Tapi benar, dari lubuk hati yang dalam dapat saya katakan ia adalah teman bicara yang cerdas. Saya sangat jarang menemui seseorang yang saya bisa berbincang banyak hal apapun padanya. Perbedaan umur kami cukup jauh, namun kami nyambung.

***
Saya punya banyak sekali nama alias untuknya. The Fire. Lion. Smart Kid. Browny Eyes. Belantara Amazone. Bocaaah!. Werewolf. Unta. Buaya. Miss Elephant. Groot. Chicken. Aligator. Tyranosaurus. Itu adalah nama selentingan yang sembarang ia katakan dan membuat saya terbahak mendengarnya.

***
Membersamainya itu layaknya masuk ke arena gladiator... lelah. Bagaimana saya harus bersikap atas sifat dan sikapnya yang seperti ini, itu. Suka sekali berubah. Masuk ke hatinya itu seperti masuk ke belantara hutan amazone, atau Madagascar deh. Misterius. Penuh kejutan. Susah ditebak. Seperti bertemu Anaconda yang akan melilit sekujur tubuhmu, atau piranha yang akan menggigit bagian tubuhmu sedikit demi sedikit. Atau malah bertemu suku pedalaman amazone yang akan merebusmu bulat-bulat, atau dibunuh secara perlahan (seraaaam!). Atau masuk ke Kebun Raya Bogor? (jujur, sampai saat ini saya tidak bisa menebak hatinya! Orang yang sangat sulit ditebak arah pikirnya).

***
Ia adalah seorang yang cerdik, akalnya selalu bermain. Juga pintar, teman diskusi yang baik. Bahkan saya pernah berkata padanya ,"Nid, ntar kalo saya keluar negeri ikut saya aja ya. Saya angkat anak". haha! Saya tidak pernah segan untuk meminta pendapatnya atas hal-hal penting dalam hidup saya. Saya mempercayainya.

***
Ia memberi saya perspektif atau sudut pandang indah dalam memandang sesuatu. Kami punya satu kesamaan untuk satu hal ini sepertinya. Ketika saya memperlihatkan pohon berbunga misalnya, atau langit biru cerah, jika bukan dengan dia, maka (mungkin) datar saja tanggapan yang diberikan. Tapi ketika saya memperlihatkan atau menunjukkan padanya, mata coklat bulatnya selalu menunjukkan antusias. Saya suka berbagi hal indah dengannya.

***
Hey, dia paham diam saya. Dia juga penganalisa yang baik. Dia tahu ketika saya berkata tidak jujur. Dia tahu ketika saya tidak senang akan sesuatu. Dia paham ketika saya tidak setuju atau kurang sepakat atas apa yang ia lakukan.

***
Dia adalah seseorang yang sangat memegang kata-katanya. Saya selalu mendapatinya dari awal bertemu sampai dengan saat ini. Pernah waktu itu di suatu malam ia menjanjikan akan memasakkan nasi goreng untuk saya sahur. Sebelum subuh saya tunggu ia untuk mengetuk pintu kamar saya namun sampai subuh berlalu tidak juga ia lakukan. Kemudian paginya ia mengkonfirmasi. Ia tidak jadi memasakkan saya karena suatu hal.

***
Ia selalu berkata, "aku ini keras kepala, susah diomongin, bebal, blah blah blah.. tapi kenapa mbak bisa deketnya sama aku?!?;"*&¥%@". Entahlah. Saya juga bingung. Mungkin ini bisa jadi salah satu episode on the spot "kumpulan pertanyaan yang tidak terjawab (unsolved question)" hahah!

***
Saya suka mendengarkan penjelasannya akan buanyak hal. Saya benar-benar memperhatikannya layaknya murid yang sedang mengambil ilmu pada seorang guru.  

***
Saya suka caranya memberikan pengalaman berbeda pada hidup saya. Saya suka caranya memaksa saya melakukan sesuatu. Berboncengan tiga ke kampus.; Jalan kaki ngos-ngosan ke kampus (padahal ada motor); Memaksa saya tidur di kamarnya; Memaksa saya memakai "sandal kebesarannya" haha!; Memaksa saya meminum banyak minuman dan makanan 'aneh'. Masih banyak lagi.

***
Tak ada yang pernah membuat saya tertawa, sebanyak ia membuat saya tertawa. Juga, tak ada yang mampu membuat saya jengkel, kesal, menahan emosi, ego, sebanyak ia melakukannya pada saya. Entahlah... lebih banyak jengkel atau tawa yang ia berikan -_-

***
Ukhuwwah kami kadang seperti Tom and Jerry. Seperti Andy Dufresne dan Ellis Redding (film Shawshank Redemption). Seperti Ikal dan Arai. Saat paling akur bagi kami berdua adalah ketika sedang mengambil foto dan pergi ke suatu tempat baru.

***
Saya suka ketika dia mengenalkan teman-temannya pada saya. Dia membuat lingkaran pertemanan saya bertambah luas.

***
Saya ingat di suatu malam di Alun-alun Kota Batu, ia berkata, "aku ini orangnya bosenan. Aku ini orangnya ga suka didua-in. Ketika udah ada seseorang yang udah deket sama dia, yaudah aku mundur" (kurang lebih begitu deh redaksinya). Pernah di suatu siang waktu itu, 3 hari setelah perjalanan kami ke Jakarta, ia datang ke perpus. Dia tidak tahu (sepertinya) kalau saya melihat ia datang. Ia hanya ke kamar mandi sebentar, kemudian turun tanpa menyapa saya sama sekali. Tumben. Tidak pernah seperti itu. Entah kenapa. Apa karena seseorang yang ia temui di kamar mandi yang kemudian membuat moodnya hilang, atau ia memang hanya sekedar mau numpang ke kamar mandi. Setelah itu ia buat status yang menurut saya agak aneh pada bbm nya. Ah entahlah, sampai saat ini saya tidak pernah membahas hal itu langsung padanya.

***
Saya hampir bisa mengingat setiap hal hangat yang ia berikan; Mematikan lampu kamar ketika tiba-tiba saya tertidur. Membawa saya selamat sampai dirumah di setiap perjalanan kami. Menyisihkan lauk ketika saya lembur. Memberi saya lollipop. Membelikan jus untuk berbuka puasa. Menunggui saya pulang lembur. Masih banyak lagi.

***
Kini kami (akan) sudah tidak satu rumah lagi. Saya akui, akan sangat kehilangannya.

***
Maaf, sungguh maaf. Belum bisa menjadi seorang saudara, sahabat, kakak, ibu (???) mbak kontrakan, mbak perpus (atau bagaimanapun ia menganggap saya) yang baik. Yang memberikan teladan. Yang mencurahkan hangat kasih sayang.  Yang mampu ingatkan dia akan-Nya.

***
Sampai detik saya membuat tulisan ini, saya masih bertanya-tanya, "seperti apa ia menganggap saya? apakah sebagai seorang teman? kakak kah?? atau malah ibu??? (haha!). Tak pernah ia menulis tentang saya (secara personal). Yang tertulis darinya hanya sekedar, "mbak kontrakan", "mbak perpus". Biarlah. Toh apa yang ia perbuat, sudah sangat lebih dari cukup untuk sekedar dikatakan sayang. Saya bisa melihat kasih sayang dari matanya, merasakannya dari caranya memperlakukan saya.

***
Terima kasih sudah menjadi salah satu bagian dari puzzle kehidupan saya. Hadirnya yang baru sebentar ini, sudah memberikan begitu banyak pelajaran dalam hidup saya. Entah akan sampai kapan kebersamaan ini akan berakhir. Bisa besok, lusa, hitungan minggu, bulan, atau malah tahun. Namun saya berharap, surga lah yang menjadi akhir.

***
Begitu banyak perjalanan yang kami lakukan bersama. Begitu banyak hikmah yang Allah selipkan pada setiap episode kebersamaan kami. Begitu banyak cerita yang tercipta selama hampir satu tahun ini. Tak cukup rasanya satu tulisan ini untuk berbagi banyak hal yang kami lewati bersama.

***

Saya menyayangimu karena Allah, Z. Ich liebe dich weil Allah. Je t'aime parce que Allah. Te amo porque Allah. Jeg elsker deg fordi Allah. Ik hou van je omdat Allah. Mahal kita dahil ang Allah. Nakupenda kwa sababu Allah. Main Allah kyonki aap pyaar.

NB: Ditulis secara marathon dari Bulan November sampai hari ini

0 komentar:

Post a Comment