Sunday, July 10, 2016

Di Toko Buku Kita (selalu) Bertemu

Udara hangat kota ini menerpa pori-pori kulit saya yang terlindung jaket. Walau malam hari, masih saja tak terasa dinginnya. Benar-benar hangat. Jalanan tampak ramai dipenuhi puluhan bahkan ratusan kendaraan yang berlalu lalang; entah akan kembali pulang dari mudik lebaran atau sekedar menghabiskan waktu malam minggu bersama handai taulan. Saya santai mengendarai motor sambil menikmati kota ini. Kota melabuh rindu. Bandarlampung. Saya menikmati melihat orang-orang duduk di lesehan pinggir jalan menikmati pecel lele maupun nasi goreng; saya menikmati melihat toko-toko dan warung makan yang sudah buka kembali walau lebaran baru lewat berbilang hari; saya menikmati melihat lampu-lampu jalan dengan hiasan Siger pada tiangnya; saya menikmati apa yang diberikan oleh kota ini: rindu yang tunai pada orangtua, saudara, kerabat dan sahabat-sahabat terkasih.

***

Sudah hampir maghrib, di salah satu sudut foodcourt sebuah mall besar di Kota Bandarlampung. Saya dan Ayu beberapa kali melihat hape, barangkali ada pesan masuk dari Esy. Sudah dari jam 5 sore tadi kami janji bertemu, namun sampai menjelang Maghrib Esy belum juga muncul. Tampaknya ibu satu itu masih ada kesibukan yang harus dikerjakan. Tak lama berselang masuk pesan WA,

"mami aku shalat dulu ya. Mami kita ketemu di gramed aja sih. Tapi kalo ribet ga papa kita ketemu di CP, semoga diijinin *emotCrying"

Saya dan Ayu hanya saling pandang… "hiaaah Esy lho mestiiii"

"Ayu balesin pesan Esy ya. Yaudah gapapa ketemu di Gramed"

"Pulangnya malem mi"

"Yaudah gapapa tho, ga tiap hari ini"

Setelah itu kami beranjak untuk mencari tempat shalat. Sebuah masjid besar di pinggir jalan menjadi pilihan kami. Kami shalat kemudian meluncur langsung ke Gramedia menemui Esy. Ternyata dia sudah berada disana. Beberapa kali Esy menghubungi tapi saya tidak dengar, heheh. Akhirnya, ketemu deh! Seperti halnya Ayu, Esy masih sama dari terakhir (itu hampir setahun lalu) kami bertemu. Masih shalihah, masih ceria dan menceriakan, walau statusnya kini sudah menjadi nyonya. Tak ada yang berubah dari dua adik shalihah ini.

Hmm, entah kenapa, padahal tidak pernah kami rencanakan, pertemuan saya dengan dua adik shalihah ini seringkali terjadi di toko buku. Toko buku, seperti menjadi tempat yang sangat nyaman untuk kami meluruh rindu. Tempat terbaik (dengan bau-bauan kertas dan musik relaksasi, serta suasana yang cozy) bercerita kehidupan kami saat ini maupun mengenang kembali hal-hal indah yang pernah kami lalui bersama.
Waktu bertemu yang tidak sampai 1 jam itu, sesungguhnya sangat tidak sebanding dengan tumpukan rindu yang sudah berbulan-bulan lamanya saya kumpulkan. Ada banyak cerita yang masing-masing ingin kami sampaikan. Ada banyak mimpi yang ingin kami bagi. Ada banyak doa yang akan kami amini bersama. Namun waktu selalu tegas, tak pernah ia melambat walau hanya sepersekian detik.

Ah.
Tak apalah.

Melihat wajah shalihah mereka saja sudah menentramkan hati. Allah tahu kita saling rindu, Shalihah. Biarlah Allah yang membebat rindu-rindu kita. Walau hati masih berat untuk tak berjumpa kembali, walau tangan masih ingin terus saling menggenggam, ikhlaskan. Semoga Allah memberikan kembali kesempatan untuk bersua.

Menyayangi kalian karena Allah <3

2 comments:

  1. Huahahaha ternyata mami yang cool diluar dalemnya bikin MELELEH !!!

    ReplyDelete