Saturday, May 7, 2016

Titik Nol : a best-seller book by Agustinus Wibowo


"Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang, bersujud di samping ranjang ibunya. Dan justru dari ibunya yang tidak pernah kemana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini terabaikan".

"Sederhana, tak ada yang istimewa dari kumpulan serpihan-serpihan memori perjalanan ini. Tapi kata demi kata akan terus kubaca. Tentang tawa riang dan tangisan. Tentang kejatuhan dan kebangkitan. Tentang kehilangan dan penemuan. Tentang keputusasaan dan semangat baru. Tentang kenangan, harapan, impian, ambisi, realita". (p. 9)

"Kemonotonan memang bagian dari perjalanan. Siapa bilang kehidupan backpacker itu seperti film laga yang setiap menit menyuguhkan petualangan mendebarkan? Dalam tiga lusin jam terakhir, hidupku cuma tidur, makan mi instan, baca buku, mengobrol, mengantuk, tidur, makan mi instan… Waktu begitu berlimpah, seakan tiada habisnya". (p. 21)

"Ranjang adalah saksi dari awal sekaligus akhir perjalanan panjang. Di atas sebilah ranjang, bay merah meraung mengawali napas di alam luas. Setelah bertahun-tahun dia merambah dunia, kini di atas ranjang pula, dia menanti ujung jalan, detik untuk menghembuskan napas penghabisan". (p.155)

"Perjalanan turun adalah proses melucuti ego. Jauh lebih mudah memupuk kekayaan sepanjang hidup, daripada melepaskan semua itu menjadi pertapa hampa. Ini kebalikan dari pendakian, yang sejalan dengan logika ambisi: berjuang untuk lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Bagi trekker, setiap meter pendakian adalah proses memupuk kebanggaan. Tujuan jelas: titik tertinggi. Tapi sekarang, semua itu harus di-reset, dikembalikan ke nol. Pencapaian panjang itu harus dijebloskan begitu drastis hanya dalam sehari. Turun… turun… dan terus turun". (p. 205) 

0 komentar:

Post a Comment