Monday, January 18, 2016

Berkunjung ke Perpustakaan Japan Foundation Jakarta

Tanggal 13 Januari 2016, saya bersama bocah itu mengakhiri liburan kami di Lampung dan kembali ke Malang. Bus yang akan kami tumpangi berangkat tanggal 13 Januari malam dan sampai di Jakarta (Stasiun Gambir) pada subuh hari tanggal 14. Kami memiliki cukup banyak waktu untuk kemudian menaiki kereta Matarmaja pukul 15.15 sore yang akan membawa kami ke Malang. Dari jauh hari sudah saya rencanakan untuk mengisi jeda waktu yang kami miliki; membawa bocah itu mengunjungi Perpustakaan Japan Foundation atau naik ke atas Monumen Nasional (ini kepinginan saya dari jaman jadul). Melihat kondisi kami (atau saya?) yang sedikit lelah, akhirnya saya putuskan untuk ke Monas saja dan naik ke atasnya menyaksikan ibukota dari ketinggian.


Berdua kami berjalan menuju pintu masuk Monas yang berada di sebelah utara. Sampai disana, ternyata terowongan untuk menuju loket pembelian tiket belum dibuka dikarenakan ada apel atau upacara para penegak hukum (polisi, polantas, TNI AD, AU, AL, dsb.) di area Monas. Kami pun setia menunggu sampai berapa saat lamanya. Semakin lama menunggu, ada yang semakin sayup matanya. Bocah itu mulai bosaaan! Gawat darurat. Siaga 1. Ada saja hal aneh yang akan ia lakukan jika tidak segera "diatasi" kebosanannya. Demi melihatnya yang semakin aneh, akhirnya saya putar haluan ke rencana awal yaitu pergi mengunjungi Perpustakaan Japan Foundation. Sudah agak siang sebenarnya. Tapi biarlah. Toh, Monas juga belum dibuka-buka. Daripada menggembel tak tentu arah, Bismillah langkahkan kaki ke Senayan, ke Japan Foundation. Sebelumnya saya tidak bilang ke bocah itu kalau mau ke JF Library. Surpriseee!!! 

Dengan waktu yang menipis, tenaga yang semakin habis, napas yang memburu kembang kempis, kami melangkahkan kaki mencari halte TransJakarta terdekat. Tidak menunggu lama, bus TransJakarta membawa kami melewati beberapa halte dan kemudian berhenti di halte Gelora Bung Karno. Dari situ kami masih harus berjalan beberapa ratus meter untuk mencari gedung Kemendikbud. Menurut informasi yang saya dapat dari laman facebook, JF Library berada di gedung yang berseberangan tepat di depan gedung Kemendikbud. Sampai di depan gedung Kemendikbud, saya bertanya pada satpam yang sedang bertugas. Beliau menunjukkan Japan Foundation berada di gedung Summitmas 1 di seberang jalan.


Sampai di lobi Gedung Summitmas, kami agak bingung dan canggung tentang apa yang harus kami lakukan (daftar di mana, boleh masuk ataukah tidak, dsb.). Untungnya ada satpam yang mengarahkan kami langsung ke meja resepsionis untuk mengisi daftar pengunjung. Setelah mengisi daftar pengnjung, kami diminta untuk meninggalkan identitas  (KTP atau kartu pelajar) dan diberikan kartu tanda pengunjung. Sete;ah itu resepsionis mengarahkan kami untuk langsung menuju lantai 2 tempat dimana Japan Foundation berada.

Atas : kartu pengunjung gedung Summitmas, Bawah : kartu pengunjung JF Library
Segera kami menaiki lift menuju lantai 2. Tepat setelah lift terbuka, Japan Foundation didepan mata. Ada beberapa ruangan di lantai 2 itu. Sebelah kiri lift adalah Perpustakaan Japan Foundation. Tanpa berlama-lama kami langsung menuju ke ruangan itu. Wah! Asyik tempatnya. Kami disambut oleh seorang Mbak di bagian front office dan diminta untuk menitipkan tas serta mengisi daftar pengunjung. Se-simple itu. Setelah itu, kami langsung bisa mengeksplore perpustakaan dan memenuhi hajat kami datang kesana. Bocah itu langsung tenggelam dalam keasyikannya sendiri.

(Saya tidak tahu pasti apa yang bocah itu rasakan. Apa gerangan yang berkecamuk dalam hatinya melihat segala macam hal berbau Jepang dihadapannya. Saya hanya bisa melihat mata coklat bulatnya penuh dengan euphoria. Euphoria impian. Terlihat berbinar. Senang mengetahuinya bahagia ^_^Saya ingat ia pernah berkata pada saya, "Mbak kapan-kapan kita ke Jakarta, main ke Japan Foundation. Disana sering ada acara-acara kebudayaan Jepang gitu. Dan itu gratisss!". Kini, sudah saya tunaikan).


Perpustakaan Japan Foundation merupakan jenis perpustakaan khusus (special library). Dikutip dari laman liswiki.org, "special library is a library established and supported by a commercial firm, private association, government agency, or special interest group to meet the information needs of its employees, members, or staff in accordance with the organization's mission". Kurang lebih maksudnya perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang didirikan oleh sebuah lembaga atau instansi (milik pemerintah maupun swasta) yang menghimpun koleksi bahan pustaka guna memenuhi kebutuhan masyarakat secara khusus. Jenis perpustakaan ini memiliki fungsi yang sama dengan jenis perpustakaan lainnya yaitu fungsi edukatif, informatif maupun rekreatif. Beberapa contoh perpustakaan khusus antara lain perpustakaan penjara, perpustakaan rumah sakit, dan perpustakaan yang berada pada instansi atau lembaga tertentu. Perpustakaan khusus ada yang terbuka untuk umum, adapula yang hanya diperuntukkan bagi pegawai instansi atau lembaga induknya.

Perpustakaan Japan Foundation ini open public atau terbuka untuk masyarakat umum yang ingin berkunjung dan membaca di tempat. Untuk menjadi anggota (agar dapat melakukan transaksi peminjaman) ada syarat tertentu yang diberlakukan seperti misalnya harus memiliki kartu tanda penduduk Jabodetabek. Bagi yang tidak memiliki KTP Jabodetabek namun bekerja atau menempuh pendidikan di wilayah tersebut, dapat menjadi anggota dengan menyerahkan surat keterangan domisili.

Perpustakaan ini begitu tenang. Buka halaman buku sedikit saja, sreeet... langsung terdengar. Ketika berbicara, kami harus berbisik. Menurut pendapat bocah itu, suasana perpustakaan yang cukup tenang seperti itu cocok untuk tipikal orang Jepang yang notabene individualismenya tinggi. Tapi jujur saja untuk saya pribadi, saya kurang menyukai suasana perpustakaan yang begitu tenang. Saya menyukai suasana yang lebih dinamis; dipenuhi diskusi-diskusi; para pemustaka yang sibuk bertanya mengenai kebutuhan informasinya.


Sekilas terlihat, perpustakaan JF sudah menerapkan sistem otomasi dalam pengelolaannya. Dan software yang dipakai sama dengan yang ada di perpustakaan UIN Malang yaitu SLIMS (Senayan Library Management System) yang salah satu developer-nya tidak sengaja berpapasan pada saat kami sedang mencari gedung Summitmas tadi (Pak Hendro Wicaksono). Oia pengklasifikasian koleksi bahan pustaka di perpustakaan JF ini menggunakan Dewey Decimal Classification yang banyak diterapkan di beberapa negara. Perpustakaan-perpustakaan kampus besar di Indonesia juga banyak menggunakan sistem klasifikasi DDC ini. 

Koleksi bahan pustaka yang berbentuk buku yang dimiliki oleh JF Library ini sangat banyak dan bervariasi. Kebanyakan berbahasa Jepang (dengan huruf Kanji maupun Romaji -eh bener gak ya?). Ada pula yang berbahasa Inggris, juga Indonesia. Koleksi buku dibedakan menjadi koleksi yang dapat dipinjam dan koleksi referensi yang hanya untuk dibaca ditempat (ditandai dengan huruf R pada label buku).


Selain koleksi bahan pustaka yang berbentuk buku, ada pula koleksi bahan pustaka non-buku yang terdiri dari koleksi audio-visual, action figure, dan sebagainya. Perpustakaan ini juga dilengkapi dengan beberapa ornamen dan pernak-pernik khas Jepang yang kawai dan sugoiii.


Begitu pertama kali datang tadi, saya iseng mengambil salah satu buku yang sepertinya menarik. Kartun. Nomor klasifikasinya 336, berarti tentang sosial masyarakat. Ketika membuka satu per satu halamannya, alamaak! satu pun tidak ada yang saya mengerti. Pakai huruf Kanji! For me, it just like, @$^%^$##!#%$%^^$#$%% Hoaaaah! taruh lagi deh di rak nya. Bocah itu asyik sekali keliling sana-sini; buka buku ini itu; Lah saya? cukup mengambil buku yang berbahasa Inggris (insya Allah sedikit-sedikit masih ngerti artinya). But, No for Kanji! :3

Buku khilap salah ambil yang saya ga ngerti satupun artinya -_-
Jam menunjukkan pukul 11 lewat. Saatnya bersiap untuk kembali ke Gambir mengambil barang-barang yang kami titipkan dan bersiap untuk menuju Stasiun Pasar Senen. Saya paham bocah itu masih sangat betah berlama-lama disini. Tapi jika tidak bersegera, takutnya kami akan ketinggalan kereta karena transportasi di Jakarta sama seperti jodoh, sulit ditebak! Bisa cepat sampainya, dan sangat bisa sekali lambat. Saya berpesan pada bocah itu, "InsyaAllah nanti kesini lagi ya. Tapi ke ruangan satunya, untuk ngurusin beasiswa". Saya yakin, insya Allah, biidznillah, suatu hari saya akan melihatnya tersenyum dengan latar belakang negeri cherry blossom itu (atau negeri lain yang Allah pilihkan). Wallahu 'alam. Ganbaru, kid!

5 comments:

  1. Apa ini semacam Japan Corner tapi gede ya? Keren hahahhahha

    ReplyDelete
  2. Benar Mas, cukup luas dan nyaman. Koleksi ke-Jepang-an nya pun lengkap. Jangan lupa berkunjung kalau kebetulan singgah di Jakarta :)

    ReplyDelete
  3. Mba mau tanya masuk ke sini gratis kan ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyap, masuk sini tidak dipungut biaya alias gratis, Mba Cindy. Kita hanya diminta untuk menyerahkan kartu identitas sbg jaminan dan menuliskan data diri di bagian front office perpustakaan.

      Delete
  4. ferdian5:44 PM

    thx untuk infonya mba..
    mau nyari buku berbahasa jepang tapi ngak tau dimana.hhe

    ReplyDelete