Friday, December 25, 2015

Ayok ke Kondang Merak!

YEAYYY! ALHAMDULILLAH! ALL PRAISE IS TO ALLAH...

Hanya itu yang bisa terucap dalam hati (?) di kala akhirnya tepat ketika iqamat shalat maghrib dikumandangkan di Insan Karim, saya "berhasil" membawa Nita sampai di kontrakan. I did it!!! Setelah melalui perjalanan yang bikin termehek-mehek; masuk kubangan lumpur (kue coklaaaat, i called it), pipi "dicium" tawon nyasar, terciprat genangan air beberapa kali (sampe masuk mulut, men!) dari mobil di samping kami, bawa motor dengan lepas kacamata karena buram (se-buram saya membayangkan jodoh saya *baper Mode On), dan dingin menggigil riding on the rain (again). After it all, finally touched home. Uhmmm, hangatnya... *pelukGuling

Hari ini, demi melepas adik-adik yang akan mulai pulkam liburan, saya membersamai mereka pergi ke pantai. Dari sekian banyaknya pantai bagus yang ada di Malang, Kondang Merak menjadi pilihan. Bukan apa-apa, karena pantai itu yang mereka tahu lokasinya. Ke pantai lain, harus searching lokasi dan lain-lain dulu. Baiklah, kesana. Ba'da subuh, Nita sudah beberes apa yang akan kami bawa untuk ke laut. Disusul Nenab yang "nyubuh" ke pasar untuk membeli ikan yang akan kami bakar di pantai. Kemudian Sintya masak nasi. Saya acungkan jempol untuk arek-arek ini kalo soal nyiapin perbekalan untuk main atau pergi kemana. Mereka udah kayak emak saya dirumah, deh. Selalu gesit. Penuh inisiatif. Keren!
Berangkaaat! (abaikan sampahnya)
Kami berangkat dari kontrakan kurang lebih jam 8.00 am. Saya dibonceng Nita, Sintya dengan Nenab. Sepanjang perjalanan, langit terlihat begitu biru dengan saputan awan tipis. Tiba-tiba Nita bilang ke saya, "Mbak liat langitnya bagus ya!". Sambil cengir saya menjawab, "Lah ini dari tadi saya motoin langit, Ta". Jadi saya membawa kamera Nita dan sepanjang jalan tangan saya tidak berhenti memfoto langit yang aduhaiiii. Birunya itu lho. Kalo kata anak alay, "bikin pengen nabok!" (saking gemesnya). Kepala saya juga tidak berhenti "ndangak" (apa ya bahasa EYD nya -_-) ngeliatin langit di atas. Seperti langit paling indah yang pernah saya lihat.
Look at that blue skies!
Perjalanan berangkat kami Alhamdulillah cukup lancar dan tidak tercium aroma-aroma ngantuk walau jalan yang dilalui terbilang mulusss dan tidak terlalu ramai kendaraan. Kepanjen, Gondanglegi. Pagelaran, dan akhirnya Bantur kami lewati. Sekitar pukul 10.05 am kami sampai di perempatan yang memisahkan antara pantai Balekambang, Ngantep (Goa China, Bajul Mati) dan Pantai Kondang Merak. Saya dan Nita sampai duluan, Nenab Sintya tertinggal di belakang (ga tau nih berdua kenapa brenti-brenti mulu). Hmmm, rasa-rasanya feel ga baik nih liat jalanan ke arah Kondang Merak. Balekambang, mulusss. Ngantep dkk., lagi proses pengaspalan. Kondang Merak? Uhmmm. Begitu Nenab-Sintya sampai di perempatan, kami langsung memacu kendaraan kami masuk ke arah Kondang Merak. Beberapa menit berjalan, ah..masih bisa di lalui. Semakin masuk ke dalam, lho lho lho kok banyak orang yang balik lagi. Ada yang memang pulang dari Kondang Merak (nge-camp), ada yang karena liat jalanan yang kayak Charlie and Chocolate Factory (lumpurrr!) eh balik lagi cari destinasi lain. Bahkan kami sempat bertemu beberapa mas-mas yang menyarankan untuk kembali lagi. Ada yang bilang, "sampeyan yakin mbak?". Ah, sempat terlintas ragu. Bahkan mau ke Ngantep saja (walau sudah pernah kesana).
Ayo semangat, bocaaah...!

Liat muka stress Nenab, liat muka cengiiir saya.. eh Sintya ngapain?
Well, antara melanjutkan lagi atau berbalik arah, kami membulatkan tekad. Lanjutkaaan apa yang sudah kami mulai! Kamipun lanjut dengan segala macam rintangan di jalan yang nanti akan kami temui. Pasrah... Di pinggir jalan yang kami lewati, sempat melihat beberapa orang yang berhenti sejenak untuk sekedar membersihkan ban motor dari lumpur dan tanah. Juga ada sekumpulan mas-mas yang sedang membenarkan motor cowok milik temannya. Glek! motor gede aja tumbang, gimanalah nasib kami yang cuma bawa motor matic. Timbul keraguan kembali. Namun semakin masuk ke dalam, semakin kami temui jalanan licin berlumpur, kamipun mulai terbiasa dan "menikmati". Oh iya, dari perempatan masuk Kondang Merak, saya yang bawa motor. Agak aneh kalo saya yang "agak berat" ini nangkring dibonceng. Nita cukup "pengertian", beberapa kali turun dari motor ketika melewati jalanan yang ampuuun bikin deg-degan. Ban motor kami sering slip karena licin.
Dorong, eh tahan Sin....!!!
Semakin masuk ke dalam, melewati jalanan makadam yang tajam-tajam (tapi tidak setajam, silet!), tangan semakin kram, saya refleks berteriak (dalam hati), "mana pantainya????!!@##$% dari tadi hutan mulu -_-). Eh tidak jauh dari itu, akhirnya terlihat loket masuk Kondang Merak. Alhamdulillah... Berlumpur-lumpur dahulu, berpantai-pantai kemudian (apaseh). Saat membayar, Bapak loketnya sedikit takjub dan berkata kepada kami (dalam bahasa Jawa), "dari mana mbak? wah ini cewek-cewek semua". Sepertinya wajar bapaknya bilang seperti itu. Soalnya memang, sepanjang yang kami temui, yang datang atau habis dari situ (dengan medan yang luar biasa itu) rata-rata keluarga yang naik mobil, rombongan cowok-cowok, atau pasangan cowok-cewek. Yeay, bersama Allah, nothing's impossible. Bahkan lebih baik menghadang bahaya bersama rombongan cewek-cewek dibanding harus bepergian bersama cowok yang belum muhrim (hachim!).

Dan saksikanlah di depan kami, Kondang Merak dengan gugusan pulau karangnya yang eksotis. Kami mencari tempat pewe untuk sekedar mengendurkan otot-otot dan menikmati "hidangan jagat raya" yang tersaji indah di depan mata kami. 
Dinikmati sambil makan cilok

Yang kotor itu bukan limbah manusia, tapi rumput laut yang terbawa ombak

Where's your next step, Sandal-kuh?
Setelah rehat sejenak, kami mulai mencari tempat yang memungkinkan untuk membuat perapian. Waktunya bakar ikaaan! Tiada yang senikmat bakaran sendiri kalo lagi piknik gini. Walau capek perjalanan berangkat tadi belum hilang, juga harus batuk-batuk #melawanAsap (asap bakar-bakaran ini mah, bukan punya Riau), adik-adik shalihah dengan telatennya membakar ikan untuk makan siang kami. Udah cocok deh kalo mau buka warung sendiri. Paling ntar pelanggannya Mar'ah, Pangeran, sama Zaki (baca : kucing kontrakan).
Black is beautiful... semakin porong semakin seksi tuh ikan :-P
Selepas makan siang dan membereskan bekas perapian, kami pun berlarian turun ke pantai. Eits! nanti dulu. Stoppp! kalo kita renang dan main air semua, terus siapa yang jaga barang-barang kita? Tenang... didekat kami, ada sekumpulan mahasiswa yang tampaknya mau ngecamp. Melipir-melipir, cengar-cengir, lalu memberanikan diri, "Maaf mas, boleh nitip barang-barang? kami mau turun". "Oh iya mbak, gak apa!". Yesss! Bisa khusyu' main air kalo begini ceritanya. Lanjutttt!!!
Tutorial renang ala Nenab Sintya
Nenab dan Sintya lagi asik tutorial renang kayaknya. Saya dan Nita hanya berjalan menyusuri karang sambil nyari-nyari siapa tahu ada hewan atau tumbuhan laut apes yang nyangsang di karang. Melihat Nita yang bawa kamera, tiba-tiba saya terpikirkan untuk buat pose lompat. "Ta, fotoin saya lagi lompat ya". Satu! Dua! Tiga! Ceburrr! "Mbaaaak, hape!!!", Nenab berteriak dari kejauhan sambil berlari mengambil hape saya yang (ternyata) ikutan lompat. Saya cuma bengong demi melihat hape yang jatuh ke karang yang ada genangan air lautnya. Masuk. Terendam. Hah. Yasudahlah. Pasrah. Saya cuma bisa diam. Setelah itu? ayoo ta foto lagi! Saya udah korban hape tuh, harus berhasil dapet foto bagus! (Ini ungkapan frustasi ato menutupi kesedihan yak?! tau ah). Yang jelas, saya tidak mau merusak piknik hari itu hanya karena sesuatu yang saya sendiri penyebabnya. Lanjutkan main air!
Pose ini untuk Izzah katanya wkwkwk


Kalian lompat satu-satu yak... Ayo Nita dulu... aaah!

Lanjut, Nenaaaab! aih, sok anggun -__-

Saatnya Sintya....! pose macam apa ituh?!@#$%

Sekarang, bertiga!!! WAAAAAAAAAAAAA....! *tinggalinPergi
Jam sudah menunjukkan pukul dua lebih. Langit terlihat agak mendung. "ayo pulang yok, takutnya nanti ujan," saya mengajak mereka pulang. Masih asik mainan air sebenarnya, cuma mau bagaimana lagi. Ngeriiih membayangkan pulang hujan-hujanan dengan jalan licin berlumpur tadi. Ga ujan aja kayak gitu, apalagi ujan. Setelah menjama' qashar shalat dan membereskan perlengkapan, sembari berterima kasih pada mas-mas yang tadi kami titipkan barang-barang, kami meninggalkan Kondang Merak. Saya didepan membonceng Nita. Sintya dengan Nenab. Baru beberapa meter keluar dari loket, gedabrukkk! Nenab Sintya motornya selip. Sintya grogi mungkin bonceng Nenab (yang beratnya nambah karena main air, haha kaborrrr). Ya Allah, pelan-pelan.. Akhirnya Nenab yang didepan. Rencananya saya membonceng Nita sampai perempatan masuk Kondang Merak saja, karena jalannya yang ga stabil. Tapi kemudian saya teruskan sampai Malang. For my experince. Untuk pengalaman. Alhamdulillah, lancarrr (walau saya ga tau gimana ekspresi Nita yang saya bonceng di belakang, apakah biru pucat, dag dig dug derrr) yang penting, selamat sampe rumah. huhu.
Sumpil, ini bukan lagi nyari jodoh -,-

4 comments:

  1. Kayanya di pict pertama gak asing sama helm nya, jadinya naek motor mbak husna yah? Entah kenapa pantai yg diawali dgn nama kondang itu jalanan nya gak ada yg mulus.

    Hahaha
    Tapi seru kayanya
    Cuman sayang sm motornya
    Kalo gak kuat bs berabe di jalan..

    Ya kalo pada tau sih, bisa aja ke pantai jalanan bagus kalo via sumawe mbak..

    Wkwkw
    Eh ikan bakarnya asik banget tuh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheh! Iya itu helm-mu Bul... Awalnya mau pake mtormu khan, eh pas pinjam helm, balik2 bwa mtor Mba Husna.

      Ga recommended deh bawa matic klo ke pantai2 d Malang Selatan. Kasian mtornya -_- kecuali ya itu, lewat jln bgus Sumber Manjing Wetan aka Sumawe.

      Ikan bakarnya ga kalah sm yg di Nelongso de, lbh enak malah (kata yg bakar) *colekNenab

      Delete
  2. fotonya ada yg disimpen..tuh hp jatuh buktinya mana mba..hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan di-post lah, ntar saya keingetan terus *hahah

      Delete