Wednesday, September 23, 2015

Sahabat Kecil Ku (Riuh Hati Bercerita Tentangnya)

Kawan,
Maukah dengarkan sejenak riuh hatiku bercerita?

Ini tentangnya. Tentang seorang istimewa yang Allah hadirkan untuk kukenal hatinya. Tak perlu cukup banyak waktu, namun ia sudah begitu sukses menembus lapisan hatiku dan menciptakan satu ruang khusus disana untuk ia tempati, sendiri. Dalam sejarah hidupku, ini adalah waktu tercepat aku merasa dekat dengan seseorang. Sebelumnya (bahkan sahabatku yang paling dekat sekalipun, yang tiap hari aku temui) butuh waktu berbulan-bulan dan perjuangan yang cukup "gigih" hingga akhirnya aku luluh. Kau tahu, seorang introvert punya lapisan yang cukup tebal yang sulit untuk ditembus dalam lingkaran pertemanannya. Tapi ia, ah... Aku seperti sebongkah es yang bertemu dengan bara api. Meleleh dibuatnya. (Uhmm, Aku memiliki secret name untuknya. The Fire. Api)

Kau tahu, Kawan? Hari ini tepat satu bulan persuaanku dengannya. Ya. Satu bulan lalu, diantar dengan keluarganya, ia datang sebagai penghuni baru kontrakan Ar-Rifah. Kesan pertama yang aku tangkap ketika pertama kali bertemu dengannya, "ini bocah aneeeh". Aku ingat beberapa saat sebelum ummi nya berpamitan pulang, berkata, "Semoga nanti dapat teman sekamar yang sabar. Soalnya dia ini usil sekali". Glek!

Awalnya, ia masih malu-malu mendekat pada kami. Pandangan matanya penuh selidik, bertemu dengan mbak-mbak baru. Mbak-mbak yang akan berbagi hidup dengannya. Ia seperti masih menjaga jarak dengan kami, men-scan kami satu per satu. Kemudian setelah beberapa hari berselang, waaaw hilanglah jaim nya! Let's the world see the real her, hahay! Kami dibuat geleng-geleng kepala menyaksikan segala tingkah lakunya. Diantara penghuni kontrakan, ia memang yang paling muda dan paling unyu (wek!). Selalu mampu menghidupkan suasana (alias membikin ribut) dengan teriakan menggelegar dan laku hebohnya. 

Dari mulai ku membuka mata di subuh buta, sampai kemudian rasa kantuk menyergap di malam hari, ianya selalu mendedahku (karena letak kamar kami yang berdekatan). Ia sungguh membawa keributan dalam ku menjalani hari-hari di musim baru penghuni kontrakan Ar-Rifah ini (Uh!).

Ia spontan. Terkadang tanpa pikir panjang, ia akan melakukan apa yang ingin ia lakukan. Juga sangat enerjik! Ia seperti punya cadangan energi yang sangat banyak. Beberapa kali aku melakukan perjalanan dengannya, ia seperti seseorang yang tidak punya rasa lelah (malah aku yang kelelahan melihatnya). Berlari sana, berlari sini. Naik ke tempat yang lebih tinggi, kemudian turun ke tempat lebih rendah. Tanpa rasa lelah! Ia pun terlihat seperti seseorang yang tidak pernah bersedih (aku selalu bertanya-tanya dalam hati, bahkan sempat ingin kutanyakan langsung padanya, "kapan terakhir kali ia menangis?").

Ough! Ia sungguh ramai, gaduh. Ia tidak segan berteriak. Jika sedikit saja kucing di kontrakan (namanya Mar'ah dan Pangeran) mendekat pada nya, ia akan berteriak! Setelah itu, habislah si Mar'ah dan Pangeran dikejar-kejar olehnya, diusir keluar. Bagai anak kecil, ia suka merengek dan merajuk. Ia juga keras kepala! Seperti seseorang yang tidak suka diatur. Jangan coba memaksanya untuk melakukan apa yang tidak mau ia lakukan. Apa yang ada dibenaknya, itulah yang akan ia ucapkan. Meminjam perkataan seorang teman, "ngomongnya ga pake hijab". Hahah! Sering kali aku mengingatkannya untuk menahan perkataannya.

Tapi, tunggu sebentar...

Ia memiliki pandangan mata yang dalam. Jika aku terlalu takut untuk memandang seseorang ketika berbincang, ia malah sebaliknya. Ia berusaha menyatukan pandang pada setiap orang baru yang ditemuinya. Mungkin itu cara yang ia gunakan dalam memahami orang lain. Entahlah. Yang pasti, pandangan mata itulah yang membuatku yakin untuk mengajaknya pergi ke suatu tempat waktu itu. Padahal aku adalah tipe orang yang "lebih baik sendiri" dibandingkan harus pergi "bersama dengan orang yang tidak aku inginkan".

Isi kepalanya penuh. Berloncatan kesana kemari, dari satu hal ke hal lainnya. Seperti tidak pernah berhenti berpikir. Ia selalu penuh antusias jika aku membaginya sedikit ilmu yang aku tahu tentang suatu hal. Itu terlihat jelas dari matanya. Ia begitu menyukai bahasa asing. Jika sudah berada didepan layar netbook dan menyaksikan tayangan yang menarik hatinya, matanya terlihat berbinar. Ia suka menyaksikan tayangan yang lucu (Baca: aneh).

Ia suka memaksakan kehendak. Kehendaknya yang manis. Bisa kukatakan, ia adalah pemaksa yang baik. Dan untungnya, aku memang "harus" bertemu seorang "pemaksa". Aku adalah tipe seseorang yang harus dipaksa. (Sejauh mana kau memaksaku, sejauh itu pula aku akan mengikutimu. Jika tidak, bye! Kau akan mendapatiku seorang yang abai, hehe). Semakin kau menolaknya, semakin besar rasa memaksanya. Ia tidak akan berhenti sebelum kehendaknya dituruti. Lebih banyak, aku menuruti saja apa maunya (daripada lelah sendiri).

"Berjalanlah kamu di muka bumi..." nampaknya adalah salah satu potongan ayat Al-Qur'an favoritnya. Ia begitu suka jalan-jalan! Jika kau mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat, tanpa berpikir panjang pasti ia akan mengiyakan. Ah, aku suka bertemu seorang seperti ini. Just go, and don't think (Hahay!). She's really a good travelmate. Ada sebuah quote yang bilang seperti ini, "As with any journey, who you travel with can be more important than your destination". And you know, i'm really happy to get a chance having a trip with her, don't care where to go.

Hey, ia juga memiliki sense of photography yang keren. Aku selalu terkagum hasil tangkapan kamera dan sudut pandangnya dalam melihat objek. Ssst, aku belajar banyak darinya. Kalau selama ini aku selalu pasrah hanya memfotokan orang lain dan tidak ingin difoto (karena biasanya hasilnya kurang memuaskan, hihi), semenjak ada ia, aku mau difotokan. Hasilnya, bingo! sangat tidak mengecewakan. Four thumbs up! 

Ia begitu unpredictable! Beberapa kali ia melakukan hal yang membuatku melting alias meleleh. Pernah suatu pagi, saat aku "terlihat" diam dihadapannya karena aku tidak mau melihatnya berjalan kaki, ia melakukan sesuatu yang benar-benar tidak kuduga. I wont forget the way she did it. The feeling so strong, were lasting for so long. Ah... Aku bukan orang yang terbiasa menerima hal itu. Rasanya begitu hangat. Berhari-hari aku memikirkan, ada suatu perasaan aneh yang terpancar; susah untuk diungkap; entah rasa macam apa itu. It just, warm. Seperti sebuah rasa yang sudah lama sekali tidak pernah aku dapatkan, namun aku butuhkan. 
Ia juga bisa saja tiba-tiba muncul di tempat kerjaku. "Membantuku" melayani mahasiswa mengembalikan buku. Menghabiskan waktu senjanya untuk menemaniku lembur. Aku sungguh senang dia berada didekatku. Waktu terasa berlalu cepat.

Ketiadaannya, sungguh terasa. Pernah suatu malam, sepulang lembur kerja, aku tidak mendapati keributannya. Keadaan menjadi lebih hening. Setelah aku tengok ke kamarnya, ternyata ia sudah terlelap. Tumben, batinku. Entah karena terlalu kecapekan atau sedang galau (he...). Tidak bertemu beberapa hari saja dengannya, seperti ada sudut hatiku yang sepi. Membuat rindu. Aku rindu dibuat tertawa olehnya. Aku rindu suara bisingnya. Aku rindu diperhatikan olehnya. Dibangunkan shalat. Atau diganggu tidurku oleh suaranya.

Kadang ia bagaikan anak kecil yang membuatku gemas. Pun cemas. Namun di sisi lain ia bagaikan seorang kakak dan teman yang baik. Begitu perhatian dan dewasa. Ia bisa menjadi teman perjalanan yang menyenangkan. Juga fotografer yang kece. Teman menghabiskan waktu yang baik. Ia bagaikan lembaran-lembaran buku yang tidak ada habisnya untuk dibaca. Ia seperti jawaban dari Allah akan ketakutan yang melandaku setelah seseorang "meninggalkanku". Ketakutan akan kehilangan teman perjalanan. Ketakutan akan kesepian. Kesendirian. Tidak diperhatikan. Masa-masa sulit yang Allah jawab dengan salah satunya menghadirkan ia dalam hari-hariku. 

Membersamainya, sungguh menghabiskan energiku. Mengikutinya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mengingatkannya untuk tidak berlaku aneh, untuk tidak mengatakan sembarang hal. Namun dengan membersamainya pula, membuat semangatku terbarui. Kotak tertawaku selalu tersentuh olehnya. Ia selalu punya cara membuatku tertawa lepas menyaksikan laku konyolnya, tingkah anehnya. Ia juga mencerahkan pikirku dengan penjelasannya akan berbagai macam hal. Ia memberiku sudut pandang berbeda dalam memandang sesuatu. Mengingati hari-hari dan momen yang kulalui bersamanya, membuat segurat senyum tercipta disudut bibirku. All praise to Allah.

Baru sebentar ini, dan aku merasa sudah begitu dekat dengan hatinya? Ah, how can it be?! Bagaimana mungkin?! Pastilah sepasang orang tua hebat yang mendidiknya sedemikian rupa, dengan kasih sayang yang begitu banyak, hingga menciptanya menjadi seorang bocah yang penuh kehangatan, penuh semangat, penuh kasih, penuh warna, penuh dengan hal-hal yang membuat "hidup". Jika bermalam bersama, mengadakan perjalanan bersama dan bermuamalah adalah 3 indikator yang digunakan untuk mengenal seseorang, maka dengan yakin kukatakan aku sudah mengenalnya, mengenali hatinya.

Rabb, aku harap ini tidak hanya untuk sejenak lalu.
Kuatkan simpul ukhuwah ini hingga nanti kami bertemu kembali di jannah-Mu. Ridhai dan indahkan kebersamaan ini hingga tiap detiknya menjadi berkah untuk akhirat kami.

Love ya, sister.

Thank you for giving a warmth in my cold life.

0 komentar:

Post a Comment