Saturday, May 30, 2015

I'm Fall in Love with Banyuwangi (Part 3 : Taman Nasional Baluran)

Sabtu, 4 April 2015. Hari ini adalah hari kedua kami berada di Banyuwangi. Setelah semalaman bermalam di hotel "milik SPBU Pertamina" (alias mushola pom) yang berada tidak jauh dari Pelabuhan Ketapang, pukul 05.00 pagi kami bersiap menuju destinasi kami selanjutnya yaitu Taman Nasional Baluran. Taman nasional ini terletak di perbatasan antara Banyuwangi dan Situbondo. Karena pagi itu perut kami belum terisi apapun dan perjalanan masih agak jauh, kami sempatkan untuk mencari sarapan terlebih dahulu. Rawon dan nasi campur menjadi menu sarapan kami pagi itu. Setelah perut terisi aman, kami melanjutkan perjalanan kembali. Dalam perjalanan tersebut kami akhirnya menyaksikan sendiri The Sunrise of Java. Matahari mulai naik dengan sinarnya yang hangat menyinari Pulau Jawa (tepatnya di Banyuwangi). Dari kejauhan nampak Pulau Bali yang hanya dipisahkan oleh Selat Bali. Indahnya Masya Allah.

Tampaknya kami datang terlalu pagi. Saat itu loket belum dibuka dan kami harus menunggu kurang lebih 1 jam sebelum loket dibuka. Kami habiskan waktu menunggu sembari gangguin monyet-monyet yang banyak berkeliaran di depan kantor Taman Nasional Baluran. Tidak berapa lama, kami bertemu dengan seorang peneliti dari Swiss yang sedang meneliti unggas (burung) yang ada di Indonesia, salah satunya di Taman Nasional Baluran ini. Peneliti tersebut datang bersama istrinya dan seorang pemandu. Mereka pasangan yang sangat ramah, bahkan sempat menjelaskan  kepada kami tentang beberapa spesies burung yang ditemui di Indonesia. Dengan menggali ingatan terdalam beberapa vocab yang pernah dihafal, Alhamdulillah nyambung juga obrolannya (lumayan sekalian ngasah English Language yang makin lama makin kekubur...).
Bertemu dengan peneliti dari Swiss
Setelah loket dibuka kami bergegas membeli karcis masuk dan memacu kendaraan agar tidak kesiangan kembali ke Malang. Mobil kamipun melaju membelah hutan (ga belantara sih). Jalan yang dilalui sudah diaspal namun agak rusak. Sepanjang perjalanan mata kami awas barangkali bisa melihat salah satu hewan yang di konservasi di taman nasional ini. Beberapa kali kami sempat tertipu, dari kejauhan nampak seperti gajah atau binatang apa, eh ternyata batu! Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 45 menit dari loket masuk, tampaklah dari kejauhan Savana Bekol yang hijauuu. Masya Allah...Sugoiii!
Welcome to Savana Bekol
Sesampai di Bekol, kami langsung blusukan ke padang savana nya daaaan... foto! foto! foto! Kalian pernah dengar Serengeti di Benua Afrika? Yup, ga salah lagi kalau penampakan Savana Bekol ini sebelas dua belas sama Serengeti yang ada di sana (cuma kurang singa sama jerapah aja kayaknya). Dikutip dari dari balurannationalpark.web.id., luas savana ini kurang lebih mencapai 300 Ha. Pada bulan-bulan tertentu (musim kemarau) padang savana di Bekol ini akan berubah menguning dan memberikan sensasi keindahan tersendiri. Di sini terdapat sejenis tanaman Acacia Nilotica (apaan tuh?) yang memiliki fungsi penting sebagai sumber pakan satwa herbivora pada saat musim kemarau. So, satwa-satwa di taman nasional ini insyaAllah terjamin rizqinya.
Savana Bekol and Mt. Baluran
Taman Nasional Baluran ini merupakan surga bagi beberapa jenis satwa dan spesies tanaman yang susah dan ga ngerti deh kalo disebutin satu-satu. Mengutip dari laman dephut.go.id., dari keluarga satwa antara lain ada Bubalus Bubalis a.k.a. kerbau liar, ada banteng, merak, rusa, kancil, kucing bakau (???) dan kawan-kawannya. Sementara jenis flora yang ada disini antara lain terdapat tumbuhan asli yang khas dan menarik yaitu widoro bukol (Ziziphus rotundifolia), mimba (Azadirachta indica), dan pilang (Acacia leucophloea). Widoro bukol, mimba, dan pilang merupakan tumbuhan yang mampu beradaptasi dalam kondisi yang sangat kering (masih kelihatan hijau), walaupun tumbuhan lainnya sudah layu dan mengering. Tumbuhan yang lain seperti asam (Tamarindus indica), gadung (Dioscorea hispida), kemiri (Aleurites moluccana), gebang (Corypha utan), api-api (Avicennia sp.), kendal (Cordia obliqua), manting (Syzygium polyanthum), dan kepuh (Sterculia foetida). Bingung khan??? Sama!

Like an Africa, right?!
We like a cool girls
Dari Savana Bekol, kami bertolak ke Pantai Bama. Jarak antara Savana Bekol dan Pantai Bama tidak terlalu jauh dengan kendaraan, tapi kalo jalan kaki ya lumayan. Setelah berganti kostum kami menyewa peralatan snorkling. Di Pantai Bama ini pengunjung bisa snorkling, namun setelah radius beberapa ratus meter dari bibir pantai. Secara keseluruhan Pantai Bama asik! Ada penginapan, ada kamar ganti dan toilet buat yang abis renang, ada penyewaan alat snorkling maupun diving, mushola dan prasarana wisata lainnya. Cuma satu yang nyebelin disini, monyet-monyetnya yang ganasss! Huaaa...siap-siap deh. Beberapa kali kami under attack, "diserang" sama monyet di Bama. Ampuuun... itu monyet-monyet kayak ga pernah liat sodaranya dari jenis manusia apa yak?!
Bama Beach
Setelah cukup puas (cukup hitam sebenernya) berendam di laut dan terbakar matahari, kami menyudahkan diri dan bersiap untuk pulang. Tepat setelah adzan zuhur mobil kami bergerak meninggalkan Pantai Bama. Main di padang savana sudah, ceburan di pantai sudah, hanya tinggal lelah yang tersisa. Selesai sudah perjalanan singkat 2 hari 3 malam kami di Banyuwangi. What a great experiences! Kota Banyuwangi dengan segala pesonanya benar-benar memiliki magnet untuk membuat kami datang kembali kesana. InsyaAllah. Suatu hari nanti. Dengan"nya" (mungkin).

0 komentar:

Post a Comment