Thursday, November 27, 2014

My Librarian Job Story goes on...


Mendapat pekerjaan yang layak dan sesuai dengan bidang ilmu yang diambil saat kuliah, merupakan salah satu impian bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan studinya di perguruan tinggi. Begitupun dengan saya. Dengan jurusan Ilmu Perpustakaan yang saya tekuni, saya percaya (Insya Allah) tidak terlalu sulit mencari pekerjaan. Sudah terbukti. Seorang teman (Ratih) bahkan sudah diminta bekerja oleh kepala yayasan sekolah dasar Islam Terpadu di Bandar Lampung (sekolah tersebut merupakan sekolah dasar Islam terpadu yang paling pesat perkembangannya saat ini di Bandar Lampung). Padahal kondisinya saat itu teman saya tersebut baru saja akan melaksanakan magang. Ada juga beberapa cerita dari teman seangkatan dan alumni, dimana mereka diminta langsung bekerja di tempat magangnya. Saya bisa berseloroh, saat masuk kampus FISIP Unila, (mungkin) kami kelihatan "paling culun" di banding jurusan lain (Komunikasi, Adm. Negara, Ilmu Pemerintahan, Humas, dan sebagainya). Tapi saat lulus dari kampus, kami yang paling melenggang karena biasanya sebelum wisuda dan menerima ijazah, sudah banyak yang bekerja. 90% alumni terserap oleh lapangan pekerjaan yang tersebar di area Lampung dan sekitarnya. Sebagian lagi yang memiliki kecukupan rizqi, melanjutkan kuliah S1 (baik paralel maupun ke jurusan lain). Bisa dibilang, kalau sampai ada lulusan dari jurusan D3 Ilmu Perpustakaan Unila masih ada yang mengganggur, itu biasanya terlalu selektif (atau malah terlalu malas).

Saya diwisuda pada akhir Desember 2012. Alhamdulillah Allah berikan "nice gift" sebagai Lulusan Terbaik 1 Diploma Tingkat Universitas. Ada kebahagiaan yang menyeruak dalam hati. Bukan, bukan semata karena saya secara pribadi mendapatkan predikat itu. Satu hal yang membuat saya sangat bahagia saat itu adalah ketika disebutkan jurusan D3 Ilmu Perpustakaan FISIP. Bahagia yang mendalam ketika jurusan itu bergaung di penjuru GSG Unila. Setelah wisuda, saya membantu Ratih untuk mengelola (lebih tepatnya membangun dari nol) perpustakaan SDIT yang dipercayakan padanya (selengkapnya cerita tentang ini baca di : Pengalaman Pertama Mengelola Perpustakaan SD). Belum ada niatan dalam diri untuk mencoba mencari atau melamar pekerjaan. Sempat terlintas keinginan dalam hati saya, "hmm, pengalaman pertama kerja (secara profesional) pengennya di perpustakaan universitas". Alasan saya, lebih banyak ilmu yang akan didapat. Selain itu, pengalaman akan lebih berkembang lewat kompleksnya permasalahan yang ada di sebuah perpustakaan universitas atau academic library (sebenarnya tiap jenis perpustakaan memiliki tantangannya masing-masing).

Awalnya, saya menginginkan mendapat pekerjaan di Jakarta, Bandung ataupun Jogja. Ada satu kota lagi, yaitu Surabaya. Kenapa jauh sekali sampai Surabaya? karena di kota ini terdapat Kampus Universitas Airlangga yang disana terdapat Jurusan Ilmu Perpustakaan melalui program alih jenis. Kami dari D3 bisa melanjutkan S1 disana, dengan dosen-dosen yang mumpuni tentunya. Tidak banyak saat ini kampus yang membuka program alih jenis S1 Perpustakaan, bisa dihitung dengan jari. Saya punya harapan besar bisa meneruskan kuliah S1 sambil bekerja. Saya dan Ratih mempunyai harapan yang besar bisa kembali menuntut ilmu demi mencapai impian kami. Saya sebagai Reference Librarian (pustakawan referensi) dan Ratih menjadi dosen.

Pertengahan 2013 saya dan Ratih memutuskan untuk "nekat" pergi ke Pulau Jawa dalam rangka les di Kampung Inggris Pare, Kediri. Kami berada disana sebulan lebih. Bulan Ramadhan 2013 untuk pertama kalinya dalam hidup, saya tidak menjalani puasa di rumah, jauh dari keluarga. Kami pergi ke Pulau Jawa dengan berbekal ijazah dan beberapa "amunisi" untuk melamar pekerjaan. Walaupun saat itu masih sangat samar dimana tujuan kami. Optimis sajalah!. Beberapa minggu kami habiskan dengan konsentrasi pada kursus Bahasa Inggris dan belum ada bayangan mau melamar kerja dimana (malah tidak terpikir). Hingga tibalah hari itu, sekitar minggu ke-3 atau ke-4 hari-hari terakhir kami di Pare. Ratih dan beberapa teman akan berangkat tarawih di masjid, sementara saya sedang tidak shalat. Daripada nganggur sendirian di kamp,  saya memutuskan untuk internetan di warnet dekat kamp. Saat sedang browsing itulah saya mendapatkan informasi di grup Facebook mengenai lowongan pekerjaan di UIN Maliki Malang. Dibuka lowongan untuk posisi pustakawan sebanyak 5 orang. Waw, peluang!

Masih terbayang dengan jelas bagaimana perjuangan kami pada saat itu memasukkan lamaran di UIN Malang. Itu adalah pengalaman pertama kami melamar kerja secara formal. Kami bertanya kesana kemari dengan teman-teman les. Harus ditulis tangankah lamaran pekerjaan kami? Gimana cara nulis huruf tergak bersambung? Nanti surat lamarannya ditulis di kertas apa? Sampai-sampai beli paket internet (dan nyari-nyari sinyal) untuk browsing contoh huruf tegak bersambung. Kami juga sempat izin beberapa sesi les hanya untuk menulis surat lamaran pekerjaan yang sulitnya bukan main. Salah dikit, ganti kertas. Kurang satu huruf saja, ganti lagi! Huaah benar-benar memusingkan menulis dengan huruf tegak bersambung. Sesi pusing itu akhirnya berakhir, ditandai dengan kepergian kami ke kantor pos Pare untuk mengirim surat lamaran ke UIN Malang. Disini sangat terasa sekali support dari teman satu kamp serta para pengajar kami di Pare. (Thank you for everything, guys!)

Oia, bisa dibilang proses melamar kerja di UIN Malang saat itu (walaupun kami kerjakan dengan sepenuh hati), hanya "iseng" saja. Pertimbangannya, psikotes dan wawancara kerjanya akan dilaksanakan pas kami masih berada di Kediri dan jarak Kediri - Malang tidak terlalu jauh (sekitar 2,5 jam dengan bus). Kami pun kemudian "coba-coba" memasukkan surat lamaran pekerjaan dan berharap dapat lolos. Seleksi dibagi menjadi 2, yang pertama adalah seleksi berkas dan selanjutnya wawancara dan psikotes. Beberapa hari berselang, tibalah saat pengumuman kelengkapan berkas. Nama kami tercantum dalam daftar yang lolos kelengkapan berkas dan langkah selanjutnya harus mengikuti psikotes dan wawancara. Kebimbangan kemudian timbul ketika ternyata pelaksanaan psikotes dan wawancara tersebut dimundurkan menjadi setelah lebaran (artinya setelah kami kembali ke Lampung). Jarak Lampung - Malang tentunya tidaklah dekat dan membutuhkan biaya yang banyak. Akhirnya kami pulang dari Pare dengan kebimbangan yang menggelayut dalam benak kami masing-masing (apakah akan ikut tes atau lupakan saja dan cari kerja di Lampung?).

Lebaran nan fitri kami sudah berada di rumah. Merayakan hari kemenangan bersama keluarga tercinta. Namun masih terlintas sebenak pemikiran mengenai tes kerja di Malang itu. Dengan segenap tekad (yang kami ada-adakan) didalam hati dan keyakinan yang Allah mantapkan, lebaran ke-tiga lagi-lagi kami "nekat" membeli tiket bus ke Malang. Padahal saat itu kami tidak memegang uang yang cukup untuk membeli 2 tiket ke Malang. Mau hutang dengan teman, tapi belum Allah ridhoi. Kami sempat bingung. Alhamdulillah, saat pulang ke rumah, tiba-tiba Ibu mendekati saya dan menyerahkan sejumlah uang, "ini untuk beli tiket". Hiiks. Love you so much, mom. Kalau tidak salah, lebaran keempat, berangkatlah kami menjejak Kota Malang. kota Arema ini menjadi saksi awal perjalanan kami merantau. Merantau demi ilmu, juga demi kehidupan yang lebih baik di masa datang. Hanya dengan berbekal keyakinan akan perlindungan-Nya, doa-doa orangtua yang tak henti dan sedikit kenekatan. Sama seperti berangkat magang ke UI Depok tahun 2012 lalu. Di Malang kami tinggal di kosan seorang teman (teman karena iman, karena belum pernah bertemu sebelumnya dan yang bersangkutan sedang pulang kampung).

Hari pelaksanaan psikotes dan wawancara pun tiba. Tes dibagi menjadi 3 hari. Hari pertama adalah psikotes. Cetarrr sekali psikotes ini. Kami berdua menunggu sampai jam 8 malam hanya untuk menanti giliran di wawancara. Dan saat di wawancara hanya ditanya, "coba sebutkan arti nama kamu". (Gubrak!!! Nunggu dari jam 1 siang sampai dengan jam 8 malam cuma ditanya gitu doang???). Hari kedua adalah tes kemampuan bidang. Kami di tes langsung di perpustakaan dan diberikan beberapa soal dan wawancara. Lumayan memeras otak dan bikin alis mengkerut sesi wawancara dan soal-soal yang diberikan. Di tes kemampuan bidang ini, pengalaman saat magang di UI sangat sangat berguna dalam menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan. Luar biasa! (pertanyaan yang diberikan lebih sulit dari saat ujian Tugas Akhir men!). Tes hari ketiga adalah tes khas UIN, yaitu menuliskan tulisan berbahasa Arab dan membaca Al-Qur'an serta hafalan surat pendek. Kami optimis, juga pesimis sebenarnya. "Saingan" kami bukanlah pustakawan yang cece merece (alias sembarangan). Ada yang dari S1 Unair, S1 Unpad, S1 UIN Jogja, D3 UIN Jogja (saingan terberat tentu saja dari UIN Jogja karena mereka juga belajar pengolahan koleksi berbahasa Arab), bahkan ada juga yang sudah mengajar di UT. Rata-rata pustakawan yang melamar sudah bekerja dan tentunya berpengalaman. Baiklah. Kami anggap pengalaman melamar pekerjaan itu sebagai suatu hal yang sangat berkesan, apapun hasilnya kami pasrah. Lagipula kami sudah cukup senang bertemu dan bertukar pengalaman dengan pustakawan-pustakawan dari mana-mana dan mengambil banyak pelajaran dari kisah kepustakawanan mereka.

Tes kerja pertama di UIN Malang

Hari berlalu. Dengan sikap optimis dan harapan yang besar, kami rutin mengunjungi web UIN Malang untuk menanti pengumuman. Saya cemas, begitu pula dengan Ratih. Bahkan orang tua saya bilang, "kalo misalnya satu yang keterima, mendingan ga usah di ambil aja ya". Ya, kami pun memutuskan demikian. Hingga tiba malam itu, pengumuman sudah dapat di download di website UIN. Ratih menelepon dan bilang kalau kami berdua LULUS! Alhamdulillaaah. Entah bagaimana bahagianya saya pada malam itu!!! Unbelieveable! Really unbelieveable!!! Benar-benar kuasa Allah sampai akhirnya kami berdua bisa sama-sama diterima. Saya ingat saat itu sedang berboncengan dengan Ratih pulang dari membeli tiket untuk ke Malang, Ratih berkata atas kelulusan kami, "ini berkat doa Ibu kita".

Yap! dan disinilah kami sekarang, Malang. Menjalani takdir Allah yang Indah untuk kemudian merangkai impian kembali dalam rangka menuntut ilmu. Merangkai asa, cita dan cinta. Jangan pernah berhenti bermimpi, kawan. Mimpi-mimpi akan tercapai sejauh mana kita berprasangka baik pada Yang Maha Mengatur. Satu kalimat indah ini saya temukan di sebuah poster film, "jika mimpi tidak datang padamu, kejarlah mimpimu".

0 komentar:

Post a Comment